Pengantin Padi
Folklore
25 Nov 2025

Pengantin Padi

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2025-11-25T162222.681.jpeg

download - 2025-11-25T162222.681.jpeg

25 Nov 2025, 09:22

= Beberapa tahun sebelumnya=

Aura marah dan kecewa terasa menguar dari Sang Hyang Prabu Bawanapraba, Penguasa Bawanapraba. Betapa tidak! Saat ini ia terpaksa mengadili putri kesayangannya sendiri di Balairung Istana Cahaya.

Nyi Pohaci Sanghyang Sri, bidadari paling cantik di seantero Bawanapraba, telah menyalahi aturan takdir dengan jatuh cinta kepada seorang makhluk fana: manusia biasa. Sanghyang Sri telah jatuh cinta pada Raden Bagus Sadhana, pangeran dari Kerajaan Purwacarita.

Cinta mereka tidak boleh berlanjut! Tidak boleh ada yang menentang kehendak takdir yang telah digariskan semenjak semesta diciptakan bahwa dua entitas yang berbeda dunia, tidak akan bisa disatukan.

Maka di sinilah Sang Penguasa Bawanapraba menghadapi dilema. Ia harus menegakkan keadilan, sekalipun bagi putri yang paling disayanginya.

"Kenapa kau berani melanggar perintah Romo dengan jatuh hati pada seorang manusia, N duk ?!" Ia bertanya dengan gusar, sementara putri kesayangannya tidak tampak merasa bersalah sedikit pun!

Dewi Sri duduk bersimpuh di lantai seperti seorang pesakitan. Tapi raut mukanya tidak menunjukkan demikian. Alih-alih menunduk, ia malah sedikit mendongakkan wajahnya dan menatap langsung ke arah ayahandanya, seolah menantang!

Melihat putrinya tak kunjung menjawab, Penguasa Bawanapraba semakin geram.

"Kau kan sudah tahu bahwa sejak dunia ini diciptakan, telah digariskan bahwa makhluk abadi semacam kita, tidak akan mungkin bersatu dengan makhluk fana seperti manusia!"

"Jadi, apa maksud dan tujuanmu telah jatuh cinta dan mengikat janji setia dengan seorang manusia, hah?! Jawab!"

"Ampun Romo Prabu, memangnya yang namanya jatuh cinta itu bisa pilih-pilih dan direncanakan?"

"Ananda akui, ananda memang telah melanggar aturan dengan jatuh hati pada seorang manusia. Tapi yah, mau bagaimana lagi? Yang namanya perasaan, memangnya bisa dikendalikan?"

"Sudah lah, tidak perlu berpanjang kata. Nanda akan terima apa saja hukuman Romo Prabu, asal jangan panjenengan bunuh dia."

Romo Prabu boleh saja mencoba memisahkan kami, namun ikrar setia yang telah terucapkan sungguh tidak akan terbatalkan. Biar Sang Penjaga Waktu menjadi saksi!"

Deg! Merasa namanya disebut, Sang Penjaga Waktu yang semula hanya diam menunduk mengikuti perdebatan antara ayah dan anak di sidang istana kali ini, sontak memandang Dewi Sri dengan wajah berkerut.

Aduuuh, Dewi... tolong jangan libatkan aku dalam masalahmu!

Mentang-mentang kau tahu aku naksir padamu

--yah siapa sih, yang tidak? Semua penghuni istana ini yang masih single ya pasti naksir lah ke kamu, secara dirimu kan yang paling cantik di sini--

sekarang kau berusaha menarik sekutu untuk menjamin kelangsungan hidup kekasihmu, agar Sang Pencabut Nyawa tidak bisa mendekatinya!

Kebayang gak sih, sama kamu gimana perasaanku? Sakitnya tuh, di sini! !

Sang Penjaga Waktu mengeja sesaknya tanpa suara.

Sedangkan Sang Bawanapraba terpaksa mendesah gundah, inilah akibatnya kalau punya anak terlalu dimanja! Anak perempuan yang seharusnya lemah-lembut pun bisa berani terang-terangan menentang ayahnya!

"Baiklah kalau memang itu maumu! Romo tidak akan membunuh pemuda itu, namun Romo tetap tidak akan membiarkan kalian bersatu!"

"Kau dihukum untuk turun dari Bawanapraba ini ke bumi, tidak... tidak, jangan gembira dahulu!"

Sang Penguasa Bawanapraba sontak memotong kata-katanya sendiri saat melihat putrinya yang sedang dijatuhi hukuman justru tersenyum bahagia!

"Jangan kau pikir dengan diturunkan ke bumi, kau jadi punya lebih banyak kesempatan untuk bertemu pemuda itu. Tidak akan!"

Romo akan mengubah wujud cantikmu menjadi seekor ular sawah, sehingga bila pun kau tak sengaja bertemu pemuda itu, ia tak kan lagi mengenalimu! Biar kau rasa bagaimana sakitnya diabaikan nanti!"

"Kau juga Romo bebani tugas untuk mengendalikan panen serta menjadi dewi penjaga kesuburan dan kemakmuran di muka bumi, dengan nyawa kasihmu, sebagai taruhannya!"

"Bila kau gagal, kasihmu akan langsung menemui ajalnya!"

Sendhiko dawuh, Romo. Siaaap!"

Senyum kemenangan tetap terukir di bibir Dewi Sri.

Menyebalkan! Putriku ini pasti sedang merencanakan sesuatu!

Batin Penguasa Bawanapraba, kesal pada kelakuan putrinya.

Bukankah perkataan Romo bermakna ganda? Jika aku berhasil menjalankan tugas dengan baik, itu artinya kekasihku akan berumur panjang, bukan?

Dan selama nyawa masih di kandung badan, kesempatan untuk bertemu dengannya tentu saja tetap terbuka lebar. Bukankah kami kini akan menatap langit dan memijak bumi yang sama ?

Perkara kata Romo, dia tak kan lagi mengenaliku sih gampang. Aku yakin hal itu tidak akan terjadi! Cinta kami yang kuat, pasti akan sanggup membuat kami tetap sanggup saling mengenali satu sama lain meskipun rupa telah berganti .

Dewi Sri menggemakan sorak-sorai kegembiraan atas keputusan hukuman dari Sang Romo dalam hatinya. Dipikir dari segi manapun, menurutnya, ia tidak rugi sama sekali!

+++

=Beberapa tahun kemudian=

Sang Penguasa Bawanapraba kembali menghadirkan putrinya, Sanghyang Sri di balairung istana.

Karena posisinya masih sebagai pesakitan yang sedang menjalani masa hukuman, Dewi Sri kembali duduk bersimpuh di lantai.

Tapi tetap saja, tidak ada rasa bersalah sedikit pun yang terukir di raut wajah Dewi Sri yang kini kembali ke wujudnya semula sebagai bidadari paling cantik di seantero Bawanapraba. Sihir dan magi tidak berlaku di istana ini. Penampakan ularnya hanya mewujud di bumi.

Mana bisa jatuh cinta dianggap sebagai suatu kesalahan?

Perinsip itu, ia pegang kuat-kuat dalam hati! Ia tidak salah, maka tidak perlu merasa bersalah.

Oleh karena itu, bahkan sebelum Sang Penguasa Bawanapraba mengatakan apa-apa, Dewi Sri justru berani lebih dulu bertanya!

"Kali ini ada apa lagi tho, Romo? Ananda telah berusaha menjalankan tugas eh, hukuman dink, dengan baik, tanpa melakukan kesalahan apapun!" ujarnya.

Aduuuuh, putrinya ini kok ya semakin menjadi-jadi kelakuannya! Di mana sopan-santunnya?! Belum ditanya orang tua, malah sudah mendahului bertanya!

Tapi mau tidak mau, ia harus menjawab pertanyaan putrinya. Ia memang ada perlu memanggil putrinya kembali ke Istana Cahaya.

"Begini N duk, kau kan tahu, dalam pertempuran terakhir melawan Raja Iblis, tongkat mustika Romo ini pecah kristalnya...," kata Penguasa Bawanapraba sambil menunjukkan ujung tongkatnya yang menganga kepada sang putri.


"Oh yaaa? Romo Prabu habis bertempur ya? Menang apa kalah? Wah, ananda tidak tahu tuh karena sedang sibuk bekerja, eh dihukum dink, di bumi!"

Dewi Sri menunjukkan wajah antusiasnya yang palsu. Tentu saja, ia sedang menyindir ayahnya!

"Ya menang, lah! Kalau tidak mana mungkin Romo masih berdiri menemuimu di sini!" sahut Penguasa Bawanapraba kesal. Ia tahu anaknya itu sedang mengolok-oloknya!

"Oh, syukur deh kalau gitu. Tapi apa hubungannya denganku? Apa ananda dipanggil pulang hanya untuk dipameri kristal Romo yang pecah?"


Nyi Pohaci Sanghyang Sri yang sebelumnya merupakan bidadari tercantik di seantero Bawanapraba telah dinyatakan bersalah, karena jatuh cinta pada seorang manusia.

Ia pun dihukum turun ke bumi dalam wujud ular sawah, yang diberi tugas untuk mengendalikan panen dan kemakmuran.

Tetapi hari ini, Penguasa Bawanapraba memanggilnya kembali ke Istana Cahaya. Kira-kira ada urusan apa ya?

Cuss... silakan dibaca.

+++

"Oh, syukur deh kalau gitu. Tapi apa hubungannya denganku? Apa ananda dipanggil pulang hanya untuk dipameri kristal Romo yang pecah?"

Aduh, anak ini! Lagi-lagi omongannya selalu bikin orang tua naik darah!

"Dengarkan dulu, kalau orang tua bicara! Jangan dipotong terus!" Penguasa Bawanapraba mau tidak mau jadi nyinyir, menghadapi kelakuan putrinya.

"Ya maap, tapi masalahnya Romo Prabu kan suka lama kalau cerita, sementara 'nanda kan sibuk bekerja, eh dihukum dink, untuk mengendalikan panen....

Kalau ananda kelamaan di sini dan mengakibatkan masalah perpanenan di bumi tidak ada yang mengurusi, takutnya penduduk bumi tar banyak yang gagal panen trus nanda lagi yang disalahin!

Sudah deh, Rom, to the point saja. Maunya Romo, ananda itu harus gimana?"

Haaaaah....

Penguasa Bawanapraba menghembuskan nafas dengan sebal!

Sabar, sabar, kalau punya anak terlalu pintar bikin orang tua kesal!

Terkadang hampir-hampir, ia tidak mampu membalas lidah tajam anaknya!

"Ya sudah!" Penguasa Bawanapraba terpaksa mengalah dan meringkas ceritanya.

"Intinya begini, kau kuberi tugas tambahan. Romo mau kau carikan pecahan kristal tongkat mustika yang jatuh di wilayah yang ada dalam penguasaanmu!"

Sebagaimana permintaan putri kesayangannya, Sang Hyang Prabu Bawanapraba berusaha menjelaskan sesingkat mungkin. 'Berusaha' sih, tapi....

"Dan bukan kau saja! Sebelumnya Romo juga telah memerintahkan delapan penjaga mata angin, enam penunggu alam, tiga pengendali elemen, dan pengendali musim yang lain untuk mulai mencari pecahan kristal tersebut di...."

Tuh kaaan, to the point apaan! Alamat bakalan lama ini mah! Batin Dewi Sri.

Karena itu, sebelum Penguasa Bawanapraba menyelesaikan penjelasannya, lagi-lagi Dewi Sri telah memotong perkataannya dengan tidak sabar. Ia mencoba merajuk untuk mengelak dari tugas barunya.

Whaaaat?! Please, dunk Rom, tugas hukuman ananda tuh sudah banyak dan bikin sibuk. Kok malah ditambah-tambahin lagi, sih? Romo tega amaaat...."

Romo sudah tahu kau akan bilang begitu! Makanya dengarkan dulu cerita Romo !" Jawab Penguasa Bawanapraba sambil memberungut.

"Jadi pecahan kristal tongkat mustika itu masih punya cukup kekuatan untuk membuat siapa pun penemunya menjadi sakti." lanjutnya.

"Bayangkan, kalau kristal itu jatuh ke tangan makhluk yang salah, Banaspati misalnya, tentu kekuatannya akan meningkat berkali-kali lipat sehingga mampu membumihanguskan seluruh persawahan yang ada dalam pengawasanmu!

Apa kau sanggup bertanggung jawab kalau hal itu sampai terjadi?!" Penguasa Bawanapraba mencoba menggertak putrinya.

"Ya enggak gitu juga kali, Roooooom ," Dewi Sri berusaha berdiplomasi.

"Tapi memangnya ananda bisa apa, kalau sampai seperti itu? Segala kesaktian, kekuasaan, dan pesona kecantikan yang semula nanda miliki 'kan sudah Romo lucuti!

Yang tersisa cuma tinggal kemampuan untuk main perintah ke pengendali hujan dan pengendali (hewan) hama doank, demi mensukseskan masalah perpanenan. Memangnya bisa tuh, kemampuan gak penting macam itu dipakai untuk menemukan kristal mustika?"

"Makanya kau dipanggil pulang! Dengarkan dulu tah, kalau orang tua mau menjelaskan. Jangan dipotong melulu!"

Okay, Rom, okay. Cuss, silakan dilanjut ceritanya. Tapi pakai kilat khusus saja, ya.... Ga pake lama!"

A mpuuun, ampuuun! Lama tinggal di bumi ternyata juga membuat kemampuan berbahasa anaknya jadi amburadul! Ke mana sisa budi bahasa luhur yang dulu diajarkan para orang tua?

Lagi-lagi Sang Hyang Prabu Bawanapraba hanya bisa membatin kesalnya.

"Jadi begini Nduk, sebenarnya, segala kesaktianmu itu tidak dihilangkan, melainkan disegel dalam Kristal Nagini, yang Romo simpan baik-baik."

"Oh, ya? Kalau ada kristal itu, ananda bisa balik sakti lagi, ya Rom?

Kalau itu, sini balikin kristalnya, Rom ! Biar hidup ananda, ga sengsara-sengsara banget!

Repot tau jadi ular sawah.... Kalau perutnya mules harus BAB. Kalau lapar, terpaksa harus makan kodok atau tikus--yang gak enak banget rasanya, sumpah! Nha kalau makannya kebanyakan, tar perutnya jadi gendut pulak!"

Ssssshht!

Penguasa Bawanapraba menggeram pelan, memperingatkan anaknya agar kembali diam, mendengarkan.

Dewi Sri pun memberikan isyarat angkat tangan, tanda menyerah dan paham.

"Nah karena Kristal Nagini itu sejenis tetapi berbeda jenis dengan Kristal Tongkat Mustika...."

"Bentar, bentar, Rom," lagi-lagi Dewi Sri memotong perkataan ayahandanya.

"Sejenis tetapi berbeda jenis itu maksudnya gimana, ya? Ananda gagal paham!"

"Ihh..., baru saja diomongin, jangan motong omongan Romo melulu, eh... terus saja dilanggar! Ini juga baru mau dijelaskan, makanya dengarkan dulu!"

Dewi Sri tidak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepala dan memberi isyarat 'hormat grak' dengan tangannya, tanda siap melaksanakan perintah ayahandanya untuk tidak memotong pembiaraan lagi.

"Kristalmu dan Kristal Tongkat Mustika Romo itu laksana dua magnet yang berbeda. Mereka akan saling tarik-menarik.

Dan berhubung Kristal Naginimu itu sekarang ukurannya lebih besar, dia akan menarik keberadaan pecahan kristal tongkat mustika mendekat sehingga memudahkanmu untuk menemukannya.

Kalau pemegang pecahan kristal tongkat mustika sudah dekat denganmu, kau akan merasakan auranya. Kristal Naginimu akan bercahaya."

Nanti kau tinggal arahkan Kristal Nagini padanya, dia akan menarik pecahan kristal tongkat mustika keluar dari tubuh pembawanya, kemudian menyerap pecahan kristal tersebut.

Mudah sekali kan, tugasmu kali ini? Kau tinggal ongkang-ongkang kaki, e... tau-tau sudah beres sendiri!"

E h busyet, enak banget Romo ngomongnya!

Bukannya tadi Romo sendiri yang bilang, kalau pecahan kristal mustika itu bikin siapapun pemegangnya jadi sakti?

Emangnya ada makhluk yang sudah terlanjur sakti rela kesaktiannya dilucuti begitu saja?

Ya kali, makhluk itu bakal tinggal diam kalau pecahan kristal mustika yang dikuasainya ditarik paksa sama ular sawah bertampang degil macam wujudku di bumi !

Pasti aku bakalan dihajar, diburu, dan diserang mati-matian sama makhluk itu, lah!

Lha aku bisa apa, coba?! Mo melawan bagaimana, kalau kaki sama tangan saja gak punya!

Dewi sibuk berpikir dan berdebat sendiri dalam pikirannya.

Lain halnya dengan Sang Penguasa Bawanapraba. Ia yang semula diserobot terus omongannya lalu sekarang justru diabaikan oleh putrinya, kini jadi kesal. Ia pun bertanya dengan nada memerintah pada putrinya.

"Jadi bagaimana?! Kau setuju saja kan, dengan tugas tambahan dari Romo ?

Kalau setuju, nih Romo kembalikan Kristal Naginimu!"

Hari ini aku, Raden Bagus Sadhana, Pangeran Pati Kerajaan Purwacarita, sangat gembira!

Akhirnya, setelah selametan hari lahirku yang ke-17, Kanjeng Romo Prabu dan Bunda Ratu Prameswari memberiku izin untuk melangkahkan kedua kakiku keluar gerbang istana.

Kebayang gak sih, ada ABG tampan sebesar ini tidak punya pengalaman apa-apa untuk menghadapi dunia luar karena seumur hidupnya terkungkung di istana?

Ada tho, anak laki-laki yang dipingit gak boleh keluar rumah?

Ada! Itulah diriku, sebelumnya!

Yah, sebetulnya aku lumayan paham sih alasannya.

Jadi, berhubung Kanjeng Prabu Mahapunggung dan Prameswari Dewi Gemi, ayah-bundaku hanya memiliki anak tunggal, yaitu diriku. Maka mau tidak mau, segala tumpuan harapan penerus takhta satu-satunya pun dibebankan ke pundakku.

Sebetulnya, katanya, dulu Bunda Ratu dan Eyang Ibu Suri sempat mengusulkan kepada Kanjeng Romo Prabu untuk mengambil garwo selir -- soalnya kan wajar saja tuh para raja di zaman ini punya beberapa istri-- agar dapat memiliki beberapa putra lagi sebagai cadangan kalau sampai ada apa-apa yang terjadi padaku.

Idih, amit-amit! Jangan sampai ada apa-apa juga kali!

Tapi ya begitu, katanya karena Kanjeng Romo terlalu cinta sama Bunda Ratu, maka ia bersetia dan tidak sudi untuk melirik perempuan lainnya.

Duh so sweet banget ya, kisah cinta ayah-bundaku yang membara? Bisa gak, kira-kira aku nanti ketemu sama belahan jiwaku sendiri yang akan aku cintai sampai nanti, seperti mereka, kalau selama ini aku terus terkurung di istana?!

Yup, literally dari bayi sampai sebesar ini aku memang gak dibolehin ke luar istana sama sekali! Ya itu tadi, gara-gara diriku calon penerus takhta tunggal, ayah-bundaku takut kalau aku bakal diculik, disakiti, atau bahkan dibunuh oleh musuh-musuh kerajaan.

So begitulah, selama ini aku terpaksa belajar tata negara, strategi perang, ekonomi dan hubungan bilateral antar negara, serta sejarah silsilah leluhur, cukup dari dalam tembok istana.

Romo Prabu dan Bunda Ratu telah mengundang guru-guru terbaik dari segenap penjuru negeri untuk memberi pelajaran khusus kepadaku.

Mungkin sistem pembelajaran macam inilah yang kelak menjadi cikal-bakal home schooling yang di masa depan nanti akan banyak dipilih oleh para orang tua kaya dari generasi penerusku.

Katanya, demi mencegah agar anaknya tidak diculik or salah gaul sehinggga bisa jatuh cinta sama orang kere yang tidak keren.

Well , pada salah kaprah tuh! Bukannya yang namanya cinta itu tak memandang kasta?

Kanjeng Romo aja waktu mudanya jatuh cinta sama Bunda Ratu yang cuma anak rakyat jelata dan menikahinya!

--Ini juga kali ya, yang bakal jadi inspirasi mayoritas cerita romance wattpad di masa depan: kisah cinta CEO dan gadis biasa. CEO, apaan? Katanya dia itu sebangsa raja kerajaan bisnis, saat nanti raja kerajaan beneran udah langka...--

Kembali ke soal pelajaran, begitu pun dengan berkuda, memanah, dan berenang

--nih tiga pelajaran katanya penting banget loh--

juga bermain pedang dan olah kanuragan lainnya, cukup kupelajari di lingkungan dalam istana tanpa praktik luar alias PPL sama sekali.

Kebayang dunk, betapa kuper dan gak punya temannya diriku?

Untung diriku anaknya manis dan sabar, jadi gak pernah mengeluh *lah yang barusan namanya apa coba(?)* or melakukan pemberontakan semacam berusaha kabur dari istana. Gak pernah sama sekali!

Udah gitu diriku juga pintar, jadi semua pelajaran yang disampaikan oleh guru-guruku, dapat aku kusai dengan sangat baik. Minimal secara teori, sih.

Oleh karenanya, ketika kemarin aku berulang tahun ke tujuh belas dan Romo Prabu memberiku perkenan untuk meminta apa saja sebagai hadiahnya, aku langsung sontak minta diizinkan jalan-jalan ke luar istana.

Aku mau mengamati keadaan rakyatku dari dekat a.k.a blusukan , juga mau mempraktikkan pelajaran berkuda dan memanahku untuk berburu rusa di hutan larangan yang katanya telah over-poppulated sehingga sering menyerang huma dan sawah penduduk.

Lalu ya siapa tahu, siapa tahu aja loh ya, bisa jadi aku akan bertemu gadis idamanku sebagaimana Kanjeng Romo yang bertemu Bunda Ratu, saat Kanjeng Romo berburu dan menyelamatkan Bunda Ratu dari harimau yang hendak menerkamnya. Langsung deh mereka jatuh cinta pada pandangan pertama....

Mauku sih bisa me- remake kisah cinta mereka, biar ga pusing bikin skenario kisah cinta sendiri. Tapi mau bagaimana lagi..., harimau sekarang sudah langka dan dilarang untuk diburu.

Makanya alih-alih berburu harimau, kini aku tepaksa berburu rusa!

Dan kenapa harus di hutan larangan? Well, selain karena populasi rusa di sama katanya telah meraja lela, tentu saja ada alasan lainnya!

Hutan Larangan itu meskipun kabarnya wingit sarang demit, tapi kemungkinan masih ada harimaunya sebab jarang dijamah manusia.

Jadi kalau nanti ada gadis cantik yang mau diterkam harimau aku akan tetap bisa menyelamatkannya!

Bukan, bukan dengan cara membunuh si harimau, kan udah dilarang. Lagian aku mana tega, secara harimau kan unyu bingitz macam kucing raksasa.

Karena itu aku berburu rusa! Rencanaku nanti kalau ada harimau hendak menerkam gadisku, aku umpan saja harimaunya dengan rusa hasil buruanku!

Setelah harimau itu teralihkan perhatiannya, aku tinggal menyelamatkan gadisku, deh. Pasti nanti dia akan berterima kasih, trus jatuh cinta kepadaku, dan mencium lembut pipiku... kyaaa...! Aduh jadi malu aku membayangkannya!

Kanjeng Romo dan Bunda Ratu, dulu gitu gak ya? Maksudku, sampai bagian cium-cium pipi juga gak sih? Duh, gak lengkap tuh ceritanya! Kapan-kapan aku korek-korek lagi ah, cerita masa muda mereka....

Strategi berlapis ciptaanku oke banget, kan? Sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui!

Sambil jalan-jalan, aku dapat mempelajari kehidupan rakyat. Sambil mempraktikkan pelajaran berkuda dan memanah, aku bisa berburu gadis idaman!

+++

Persiapan program blusukan pertamaku yang proposalnya sudah di- acc Kanjeng Romo tampaknya berlangsung terlalu heboh!

Ya kali, cuma untuk jalan-jalan dan berburu doank, Kanjeng Romo memerintahkan sekompi pasukan yang dipimpin langsung sama Panglima Jendral Kerajaan?!

Apa kata dunia? Tidakkah aku nanti jadi dirasani oleh seluruh penduduk bumi bahwa Pangeran Kerajaan Purwacarita manja kali ya, mo jalan-jalan aja baby sitter- nya segudang!

Namun Romo Prabu, Bunda Ratu, maupun Panglima Jayanata bergeming pada pendiriannya bahwa kalau sampai terjadi apa-apa padaku, seluruh kerajaan tak kan sanggup menahan dukanya!

Ya sudahlah, daripada berdebat panjang lebar malah gak jadi-jadi berangkat, terpaksa lah aku mengalah.

Padahal dalam hati aku menyesalkan keputusan ini, karena tidak mendukung agendaku!

Kanjeng Romo dulu bisa berkesempatan jumpa Bunda Ratu karena saat berburu hanya ditemani lima orang pengawal terdekatnya!

Lha kalau aku berburunya dikawal ratusan orang begini, bagaimana aku bisa bertemu gadis harimauku?

Maksudku, bagaimana mungkin aku bisa bertemu dengan gadis impian yang akan kuselamatkan dari harimau? Yang ada harimaunya bakal kabur duluan dan gadisku langsung ngumpet!

Tipis sudah kemungkinanku untuk bisa mengulang kembali legenda cinta orang tuaku! Ataukah nanti akan ada jalan lain?


Malam itu, untuk pertama kalinya, Sadhana tidak dapat tidur nyenyak.

Bukan karena biasanya ia tidur di atas kasur kapuk empuk sedangkan malam ini ia terpaksa tidur dalam tenda berlapis tikar tipis di tanah keras. Sama sekali bukan. Ia bukan pangeran manja.

Sadhana sulit tidur karena jantungnya belum netral juga selepas bertemu Sang Dewi. Otak, juga matanya jadi agak konslet. Ia merasa melihat Sang Dewi di mana-mana, sedang tersenyum kepadanya.

Ih, halu banget gak sih, Si Sadhana? Perasaan tadi Sang Dewi itu bukan tersenyum, melainkan menertawakannya!

+++

"Duh, siapa ya nama Dewi itu?" Sadhana berguman dalam lamunan.

"Cantiiiiiiiik, sekali!" Sadhana tersenyum sendiri membayangkan Sang Dewi.

"Belum pernah aku bertemu gadis secantik dia! Aku ingin ... bertemu lagi dengannya," lanjutnya setengah tak sadar.

"Aku merasa ... apa ya, namanya? Rindu ataukah jatuh cinta?"

Sebersit perasaan asing mulai menyusup di hati Sadhana. Ia sibuk berharap dan menerka-nerka, gadis itukah yang akan menjadi takdirnya?

Saat dihantam perasaan asing ini, logika dan segala kepintaran Sadhana yang di atas rata-rata seolah terkunci. Ia sama sekali tidak merasa ada yang aneh dengan gadis yang ditemuinya tadi.

Memangnya ada, gadis beneran yang bakal diizinkan keluyuran sore-sore ke tengah hutan sendirian untuk mandi?

Otak Sadhana menyangkal. D ulu juga Bunda Ratu berkeliaran sendiri cari kayu bakar di tengah hutan sehingga bertemu Kajeng Romo . Tapi kan ya, gak mo maghrib gitu!?

Terus apa tidak Sadhana perhatikan, bahwa gadis tadi sebetulnya terlalu cantik? Kecantikan dan segala tindak-tanduk gadis itu nyaris tidak manusiawi!

Lah, memangnya kecantikan yang manusiawi itu yang bagaimana? Mana kutahu, soalnya kan baru pertama kali ini aku bertemu secara pribadi dengan seorang perempuan selain Bunda Ratu dan Eyang Ibu Suri .

Dayang-dayang gak masuk hitungan loh! Mereka selalu datang bergerombol dengan wajah yang tampak nyaris sama(?).

Otak Sadhana lagi-lagi berusaha mengeluarkan sanggahan yang menurutnya masuk akal.

+++

Demikianlah, sepanjang malam Raden Sadhana sibuk berpikir sambil menghayal. Tahu-tahu pagi telah hampir menjelang....

"Aduh gawat!" ucapnya sambil menepok jidat, "aku belum tidur! Tar kalau mataku kayak panda dan tampangku jadi jelek pas ketemu Dewi, gimana?" lanjutnya gusar.

"Aduh gawat kuadrat!!" Sadhana menepok jidatnya lagi dua kali.

"Semalam aku ngapain aja sih, kok malah belum mikir, kalau nanti ketemu Dewi lagi, aku harus ngomong apa?

Masa' aku langsung nembak: maukah dikau jadi anu-ku, gitu?"

"Aduuuh, kan malu!" Pipi Sadhana bersemu merah. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang bebas ketombe dan tidak gatal untuk mengurangi resahnya.

"Ya sudahlah, dipikir karo mlaku!"

Mending aku berangkat ke telaga sekarang saja daripada telat bertemu Sang Dewi. Biarin deh, aku yang nunggu tanpa batas waktu...."

Sadhana pun bergegas pergi menuju telaga. Tak lupa, agar tidak dicari ataupun diikuti prajuritnya, ia berpamitan langsung pada Panglima Jayanata.

"Panglima, saya mau ke telaga. Panggilan alam, sekaligus mau mandi dan berenang. 2-3 jam-an lah. Jangan diintipin loh ya!

Tar aja kalau lewat 3 jam saya belum kembali, tolong dicari, barangkali saya ketiduran di sana. Oke?"

+++

Sadhana menunggu Sang Dewi sambil terkantuk-kantuk di tepi telaga. Jelas saja, semalam ia belum sempat tidur. Ia akhirnya benar-benar tertidur dan masuk ke alam mimpi.

Dalam mimpinya Sadhana merasa Sang Dewi menggenggam tangannya, kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Sadhana dan berbisik mesra... " Aku padamu...."

Ceesss... Byuuurrr!

Tiba-tiba Sadhana merasakan ada yang 'dingin dan basah' mengenainya.

Ahh!

Rupanya Dewi itu sudah datang dan dengan sengaja melompat ke dalam telaga tepat di depan wajah Sadhana sehingga cipratan air mengenainya.

"Dewi, kau datang!" serunya kencang.

"Terima kasih karena tidak mengingkari janji untuk bertemu denganku lagi," ujarnya riang.

Dewi itu tidak merespon ucapan Sadhana, malah asyik berenang sendiri. Sama seperti kemarin, ia masih tetap berenang dengan baju lengkapnya! Sadhana mati kutu. Ia bingung hendak bicara apalagi.

Lalu tiba-tiba Dewi itu menyelam dan meluncur cepat ke tepi telaga. Ia memunculkan kepalanya dari dalam air persis di hadapan muka Sadhana, dan berkata, "kapan aku berjanji padamu, Bocah?!"

Sadhana terkejut dan terjengkang dari posisi duduknya di atas batu. Ia reflek menggenggam lengan Dewi itu sebagai pegangan untuk menghentikan jatuhnya.

Halus dan dingin.

Sadhana tergoda untuk merengkuh lengan itu di dadanya, untuk menghangatkannya.

"Eh, anu, maaf," ucap Sadhana dengan wajah memerah. Setelah posisinya seimbang kembali, ia baru sadar telah menggenggam lengan Dewi itu terlalu lama. Ia pun berdiri dan melepas genggaman tangannya.

Sadhana merasa menyesal harus melepas lengan Sang Dewi demi tata krama, tapi tak urung dalam hati ia bersorak: tadi Sang Dewi tidak berusaha menepis tangannya meskipun ia menggenggamnya cukup lama! Itu kan artinya....

"Dewi, beritahukanlah kepadaku nama indahmu...," Sadhana bertanya malu-malu.

Dewi itu keluar dari telaga dan duduk ke batu besar yang tadi diduduki Sadhana, dengan posisi membelakanginya. Ia memeras air dari rambut panjangnya yang tergerai basah, seolah tak peduli akan kehadiran Sadhana yang berdiri di belakangnya dengan resah.

Sadhana meneguk ludah, ia ingin sekali turut membantu Sang Dewi meremas rambut basahnya!

"Kenapa aku harus?!" Ucap Dewi itu, tiba-tiba.

Sadhana yang sedang membayangkan membelai rambut basah Sang Dewi pun tersentak kaget dan berseru, "eh, apa?"

"Cih! Bocah, ternyata otakmu mesum juga! Hwakakakakakak!" Ia tetawa keras dan melirik Sadhana dengan pandangan mencibir, seolah tahu apa yang baru saja terlintas dalam benak Sadhana.

"Aku tidak...." Sadhana menangkupkan dua tangan di wajahnya karena malu. Kenapa Dewi itu seolah tahu apa yang dipikirkannya, ya?

Setelah tawa Sang Dewi mereda dan harga dirinya kembali, Sadhana mencoba mengulang kembali pertanyaannya yang terbaikan.

"Anu Dewi, nama...."

"Kenapa aku harus memberitahumu?!" Dewi itu menoleh cepat sehingga berhadapan langsung dengan wajah Sadhana.

Wajah Sadhana langsung memerah lagi, tapi ia menguatkan diri agar tidak berpaling. Tatapan mata Dewi itu pun membiusnya, Sadhana terperangkap dalam manik indahnya.

"Agar aku dapat senantiasa menyebut namamu dalam do'a," Sadhana menjawab dengan suara parau. Setengah tak sadar, tangan Sadhana terulur hendak menyentuh lentik bulu mata Sang Dewi.

Sebelum berhasil niatnya, Dewi itu sigap menangkap tangan Sadhana. Sadhana merasakan sensasi aneh di perutnya. Seperti ... ada ratusan kupu-kupu beraneka warna yang terbang di dalamnya?

"Dengar ya Bocah, aku ini bukan jenis makhluk yang perlu kau do'akan! Hwahahahaha." Ia tertawa dan melepaskan tangan Sadhana.

Jari-jari Sadhana langsung merasakan kerinduan.

"Tapi aku mencintaimu dan butuh selalu menyebut namamu dalam do'aku," sembur Sadhana cepat, takut kehilangan momentum.

"Hwakakakakak!" Dewi itu lagi-lagi terbahak dengan keras hingga bahunya terguncang. Sadhana teringin meredam guncangan bahu itu di dada bidangnya.

Lalu tiba-tiba Dewi itu berdiri di atas batu sehingga tampak menjulang tinggi bagi Sadhana. Ia menunjuk Sadhana tepat di muka.

"Cinta kau bilang? Hahaha, itu lucu sekali!"

Kemudian ia menunjuk dirinya sendiri dan berkata, "lihat baik-baik diriku! Dibandingkan dengan diriku, kau ini tidak ada apa-apanya, Bocah!"

Sadhana mengangguk patuh. Dewi itu benar, pasti dalam benaknya ia tak lebih dari seorang bocah yang jatuh cinta pada wanita dewasa. Berapa ya usia Dewi itu? 24, mungkin?

"Benar Dewi, mungkin bagimu aku memang masih bocah. Tapi perasaanku ini nyata, dan aku bersumpah akan bersetia kepadamu!" Sadhana menangkap jemari tangan kanan Sang Dewi dengan tangannya. Kemudian mengecupnya lembut.

Ia lalu menatap langsung ke manik mata Sang Dewi untuk menegaskan sumpahnya.

Sebentuk ekspresi takjub di wajah Sang Dewi sempat terekam di mata Sadhana, sebelum ia kembali tertawa.

"Hahaha, jangan mengumbar janji yang tak kan mampu kau tepati, Bocah!"

"Mari kita lihat, 2-3 tahun lagi, masihkah perasaanmu sama?!"

"Baik, tunggu aku 2-3 tahun lagi! Aku pasti akan langsung membawa Romo dan Bundaku ke sini untuk melamarmu!"

"Sekarang berilah aku nama, agar dapat mengikrarkan sumpah setia dan menyebutkan selalu namamu dalam do'a." Sadhana sungguh mengharapkan jawaban Sang Dewi.

"Sri." Dewi itu hanya mengucapkan satu kata, lalu memalingkan wajahnya dari Sadhana.

Sadhana segara menangkap kelingking Dewi Sri dan mengaitkannya ke kelingkingnya sendiri. Ia kemudian mengikrarkan sumpahnya.

"Aku Bagus Sadhana bersumpah untuk bersetia kepada Dewi Sri. Aku akan datang dua atau tiga tahun lagi untuk melamarnya di tempat ini, di hari yang sama."

Tepat seusai ikrar sumpah Sadhana terucap, langit yang semula cerah tiba-tiba tertutup awan hitam! Guntur dan petir pun bersahutan!

Dewi Sri menatap langit dan wajah Sadhana bergantian dengan ekspresi tak terbaca. Tapi ia belum melepas kaitan kelingking mereka.

"Kita lihat saja nanti," ucapnya pelan.

"Sekarang pulanglah ke istanamu! Sebentar lagi badai akan memporak-porandakan tempat ini.

Rusa dan harimau telah merasakan firasat buruknya sedari kemarin dan bersembunyi. Kau tidak akan mungkin berjumpa dengan mereka sekarang."

Dewi Sri kemudian melepaskan kaitan kelingking mereka dan melangkah ke arah yang berlawanan dari perkemahan Sadhana.

Sejenak Sadhana termangu. Bagaimana Dewi Sri bisa tahu, kalau dirinya berasal dari istana? Ia kan tidak memberitahunya? Tapi suara Dewi Sri yang beranjak pergi kemudian menyadarkannya.

"Pulang sekarang Sadhana! Atau kau akan habis dihajar badai!"

Eh, apa? Ia tidak salah dengar, kan? Barusan Dewi Sri menyebut namanya dan bukan 'Bocah' lagi, kan? Mungkinkah Dewi Sri mulai menganggapnya sebagai seorang kekasih?

Hati Sadhana sontak berseru gembira.

"Iya Dewi, aku akan selalu mematuhimu," ucap Sadhana dengan senyum secerah mentari.

Sadhana segera kembali ke pekemahannya dan disambut dengan wajah-wajah cemas. Ia telah pergi terlalu lama, sementara firasat akan datangnya badai rupanya telah tercium oleh Panglima Jayanata.

Panglima Jayanata sudah memerintahkan pasukan membongkar tenda agar dapat segera berangkat begitu pangeran mereka tiba untuk menghindari badai ini, ke pemukiman terdekat.



Kembali ke Beranda