Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
Tiga Tikus Got
Fantasy
23 Jan 2026

Tiga Tikus Got

Lorong gelap terowongan di dasar jalan raya selalu padat dengan mobilisasi lalu-lalang. Hal itu menimbulkan getaran hingga ke bawah—di mana terdapat kehidupan lain yang keberadaannya tak pernah terbesit di pikiran siapa pun yang tinggal di atas. Kita bisa menyebut tempat yang terdapat jalan raya tersebut adalah dunia atas, sedangkan di bawah yang katanya tempat dari “kebusukan” berada adalah dunia bawah.Dunia atas yang ingar bingar, mengalir dengan glamour, berbeda dengan dunia sebaliknya. Memang peribahasa yang tepat adalah “bagaikan langit dan bumi” artinya sungguh jauh berbeda. Dunia bawah yang kumuh, becek, berbau tak sedap, kotor, menjijikkan, serta semuanya yang tak menyedapkan indra.Dalam lingkupan hal menjijikkan ini, ada secuil kisah dari penghuni bawah tanah yang terlupakan. Hidup tiga ekor tikus yang sudah seperti keluarga. Sebuah ikatan keluarga yang tercipta dari nasib yang sama, sesama makhluk terbuang yang kehadirannya tak diharapkan siapa pun.Arel—tikus malang yang semenjak kecil telah ditinggal mati orang tuanya hingga menjadi trauma. Reli—tikus gemuk yang sedari kecil telah menghabiskan banyak makanan dibanding tikus mana pun, hingga tubuhnya gemuk. Yang terakhir adalah Rey—tikus perempuan yang pernah hampir mati karena kelaparan. Nasib baik ketika Rey bertemu dua tikus yang sekarang menjadi keluarganya.Kala itu, Rey sedang merintih kesakitan, meringkuk di dalam sebuah kaleng bekas ikan sarden yang nyaris berkarat sepenuhnya. Ia bertemu Arel dan Reli yang sedang berjalan-jalan menjelajahi penjuru gorong-gorong. Nyawa Rey berhasil terselamatkan berkat Arel yang merebut paksa makanan di mulut Reli, lantas memberikannya pada Rey yang sekarat. Semenjak saat itu, mereka bertiga memutuskan untuk bersatu, melakukan petualangan, menghadapi kehidupan bersama sama dan menciptakan sebuah keluarga buatan.* * *Pagi cerah dimulai kembali. Angin berdesis kalem, embun perlahan tertepis sinar mentari hangat, udara bersahaja untuk menjalankan rutinitas. Namun, semua itu hanya terjadi di dunia atas. Dunia bawah terjadi sebaliknya.Pagi yang tetap gelap, sinar matahari hanya secercah—hasil menembus lubang-lubang kecil penutup gorong-gorong. Udara yang dingin, lembab, aroma buruk yang tidak jelas muncul dari benda apa, serta keadaan yang sepi, hanya terdengar tetesan limbah air dari atas. Suasana yang membuat siapa pun merasakan lebih baik mati saja. Namun, bukan itu penyelesaianya. Justru ketika seseorang yang berkata lebih baik mati saja dalam keadaan yang serba buruk, ia tak pernah merasakan bahwa sebenarnya hidup yang begini itu indah. Bukankah ada semacam fenomena yang berisi orang-orang dengan kekayaan berlebih, hidup bergelimang kecukupan yang kadang berlebihan? Akan tetapi, menjalani kehidupan dengan mengeluh terus-menerus, merasa kekurangan dan sangat haus akan kekuasaan, hingga nekat mengambil rezeki insan lain sekalipun. Saking hausnya, sampai lidahnya terjulur tak bisa kembali meneteskan air liur yang menjadi saksi kedustaan mulutnya. Lidah terjulur, menggonggongkan kebenaran hasil pencitraan tanpa kenyataan, mirip seekor paling hina di dunia ini. Kita semua tahu apa itu.Hari masih pagi, Arel sudah di pinggir sungai dasar gorong-gorong, sibuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Si besar Reli masih tidur. Sementara itu, Rey layaknya perempuan. Mungkin ia jalan-jalan atau pergi berbelanja. Konyol, tidak mungkin ada tikus yang berbelanja walalupun tikus berdasi sekalipun.Di mana pun tikus berada, nalurinya tetaplah mencuri. Mengapa seorang Arel tidak mencuri layaknya teman-temannya? Malahan, ia lebih memilih mengais sisa makanan di tempat sampah? Inilah trauma yang dialami Arel. Nyawa orang tuanya terenggut akibat mencuri di sebuah rumah besar. Kedua orang tuanya dikejar, lalu pada akhirnya diterkam seekor kucing penjaga rumah tersebut. Arel menyaksikan sendiri dengan mata mungilnya."Guys! Ada kabar gembira nih!" Suara mengagetkan Rey tiba-tiba muncul entah dari mana. Arel yang terkaget, hampir tersungkur ke dalam aliran limbah masyarakat. Sementara itu, Reli tetap melanjutkan dengkurannya setelah beberapa saat terdiam pasca Rey berteriak."Ada apa sih Rey? Kalem dikit kenapa?""Ya maklumlah, berita bagus nih.""Iya-iya, katakan aja.""Tadi, pas lagi jalan-jalan di atas, aku lihat ada sekumpulan makanan dekat tong sampah di sebuah rumah.""Makanan?" Reli langsung bangkit dari mimpinya setelah sebuah kata "makanan" terlontar dari ujung lidah Rey."Bukan berita bagus. Setiap hari kan memang selalu ada sisa makanan di tong sampah. Manusia kan emang gitu," ucap Arel biasa saja."Iya. Tapi, ini tempatnya dekat dan sepi," balas Rey tetap kukuh."Kesempatan nih, yuk!" ujar Reli dengan liurnya mulai menetes."Terakhir kapan kita makan?""Tiga hari lalu. Tapi, aku punya beberapa lalat, mau coba satu?" tawar Reli." .... "Arel tampak berpikir keras untuk sebuah pilihan yang sulit. Di antara trauma yang masih bersarang di dalam tubuhnya, juga karena perutnya kini benar-benar berteriak keras minta diisi."Kalau kamu masih saja berpikir terus tak melakukan apa pun, aku akan lakukan sendiri," kata Rey sambil berlalu."Rey! Aku ikut!" teriak Reli ketika sudah agak jauh berlalu.Sementara itu, Arel tetap merenung, memikirkan sesuatu dengan dalam. Menimbang apa yang harus ia lakukan saat ini. Bagaimanapun ia sudah sangat kelaparan."Untuk kali ini saja, aku ikut." Arel sudah membulatkan keputusannya."Nah, gitu dong," ujar Rey dengan riang, lalu melakukan tos dengan dua sahabatnya sambil berjalan menuju rumah tersebut.Ketiga sahabat ini pun lantas mengendap-endap di balik sebuah sapu ijuk. Rey sedang mengawasi keadaan, barangkali kucing itu sedang tidak ada atau pun tidur. Reli masih mengunyah makanannya sembari menunggu instruksi dari Rey. Sementara itu, Arel gemetaran karena hidungnya mencium sebuah aroma ikan asin dan nafas yang memburu di belakangnya. Rey berada di depan, Reli di tengah, dan Arel di urutan ketiga. Di urutan paling belakang, seekor hewan berkumis telah membuka cakarnya yang tajam, hendak menerkam mangsanya.T A M A T

Sang Malam
Fantasy
23 Jan 2026

Sang Malam

Angin berhembus kencang kala senja mulai meredup, digantikan langit tanpa mentari yang mendinginkan suasana. Di angkasa yang luas itu, sang Malam di dalam kegelapan tengah tersenyum manis sembari menunggu Bulan menyapa. Sudah saatnya Sang Malam menghabiskan waktu bersama Bulan hari ini.Ketika siang telah usai, Sang Malam akan bertemu Bulan indah yang tak ada duanya itu. Ia sudah rindu kepada Bulan yang selalu menemani malamnya.Bulan juga tak kalah merindukan Sang Malam yang menjadi semangat untuknya bersinar. Hanya cahaya Bulan yang selalu ada dan menemani ketika Sang Malam datang. Biarlah waktu berlalu, Bulan akan menghabiskan sisa sinarnya hanya untuk Sang Malam. Mereka akan selalu bersama hingga waktu dunia telah usai.Kala itu, sang Malam tersenyum menghampiri bulan sembari berkata, "Aku merindukanmu."Bulan pun tersipu malu, ia juga tak kalah merindu. "Aku juga merindukanmu."Sang Malam semakin tersenyum, menatap cinta kepada Bulan yang tengah memerah seperti tomat. Bulan memang selalu cantik meskipun merah menghiasi, terlihat sangat menggemaskan.Ia pun berbisik. "Malam ini, kau sangat indah."Kemudian Bulan buru-buru mengulum senyum, sang Malam memang selalu bisa membuatnya malu. Tiada malam tanpa merayu, Bulan akan selalu tersipu karena rayuan yang langka itu. Begitupun sang Malam yang hanya bisa terkekeh pelan.Setiap hari, sang Malam mengirim syair-syair indah tentang Bulan yang selalu cantik. Bulan semakin jatuh cinta kala sang Malam mengukir kisah mereka bersama pada syair-syair langka dari pujaan hati yang tampan. Meskipun malam menjadi sangat dingin, tapi Bulan selalu hangat dengan syair indah itu.Sebelum malam tiba, senja selalu menjadi pertanda bahwa sang Malam akan datang. Terkadang Bulan yang menunggu, dan tak jarang sang Malam juga menunggu Bulan. Mereka saling menunggu dengan tenang meskipun waktu berjalan. Kemudian berakhir dengan senyuman bahagia kala mereka bertemu melepas rindu.Bagi Bulan, sang Malam adalah kenyamanan. Mereka saling berkeluh kesah sembari tersenyum bahagia. Semua dilalui dengan tersenyum, meskipun terkadang rasa lelah datang. Namun, Bulan mengerti sang Malam selalu kuat melewati gelap yang mencekam pada dini hari karena sang Malam akan menghabiskan waktu dengan Bulan lebih lama.Ketika Sang Malam terkekeh, tiba-tiba sinar kilat datang diikuti Petir yang menyambar. Langit berubah mendung dan semakin hitam, mereka sangat terkejut menatap langit di hiasi sinar petir. Tidak jauh dari mereka berada, suara petir menggelegar seolah siapapun yang dekat dengannya akan habis saat itu juga.CETARRR!Sang Malam mencemaskan Bulan sehingga bertanya, "Apa kau baik-baik saja?"Bulan terlihat cemas dan takut, Petir sangat menyeramkan di antara gelap."Bagaimana aku bisa tenang? Petir itu sangat menyeramkan," ujarnya. Bahkan Petir tak segan hampir mengenai Bulan jika saja sang Malam tidak menghalangi."Aku akan melindungimu," ucap sang Malam di tengah kegaduhan Petir di antara mereka.Petir menyambar dengan tiba-tiba sungguh mengganggu kebersamaan mereka. Ketika mereka mulai tersenyum bersama, diikuti cepatnya kilat petir datang dengan seramnya. Ditambah langit mendung yang mendukung bahwa keadaan cuaca akan berubah buruk.CETAAAR!"Wahai Bulan, menjauhlah darinya!"Di kala Bulan tengah ketakutan, suara oetir terdengar menggelegar menyebut namanya. Hingga Bulan berpaling, menatap tak suka pada Petir yang berbicara seenaknya itu."Apa yang sudah kau katakan?""Kau harus meninggalkan sang Malam!""Kenapa aku harus meninggalkannya?" Bulan terdengar sangat ketus.Petir menguar tertawa, kemudian berkata, "Sang Malam tidak akan bisa melindungimu dari cambukan petirku!""Tidak, aku tidak akan meninggalkan sang Malam." Bulan menatap sang Malam dengan gurat sedih bercampur cemas.Digantikan Petir yang masih menggelegar dengan cambukan panas penuh kekuatan, lantas memandang Bulan yang terlihat begitu menatap cinta pada sang Malam."Bulan, tenanglah. Meskipun bukan aku pemenangnya, tapi percayalah bahwa aku akan selalu ada bersamamu." sang Malam menenangkan Bulan dengan lembut.CETAAAR!Lagi-lagi Petir menyambar dengan kuat, sinar kilat tak henti menakuti. Namun, sang Malam tetap berada di depan Bulan. Ia akan melindungi Bulan apa pun yang terjadi. Meskipun cambukan petir itu menyapa, ia akan tetap melindungi Bulan hingga waktunya telah habis. Dengan sekuat tenaga sang Malam merentangkan tongkat sakti pada Petir."Lawan aku, sebelum kau menyakiti Bulanku!" teriaknya.Petir yang masih sibuk akan cambukan, lantas ia menatap remeh sang Malam. "Wahai sang Malam, kau hanyalah kegelapan yang mencekam! Tidak akan ada yang mencintai kegelapan sepertimu!"Sang Malam menatap marah, ia merasa bahwa petir menghina kegelapan yang ada dalam dirinya."Wahai Petir, aku tidak butuh pengakuan cinta. Karena siapa pun yang berada dalam kegelapan sepertiku adalah yang paling kuat untuk melawan Petir seperti dirimu!"Petir terkekeh. "Lebih baik kau menyerah, sebelum aku mencambukmu dengan petir panasku ini!"Sang Malam mengeluarkan kekuatan dari tongkat sakti, melawan Petir yang dengan sombong meremehkan kegelapan. Mereka bertengkar di tengah angkasa hingga menimbulkan gemuruh kencang.CETAAAR! WUSSH!Sang Malam sekuat tenaga mengalahkan Petir panas itu hingga menghilang. Tongkat sakti miliknya kembali pada tangan dengan tenang. Berbalik melihat Bulan yang masih meringkuk takut, ia menghampiri dengan perlahan."Bulan, kita sudah aman. Petir telah menghilang."Bulan menatap dan bertanya, "Apa kau baik-baik saja?"Sang Malam mengangguk yakin. "Aku berhasil."Mendengar itu, Bulan tersenyum bahagia. Ia memeluk sang Malam yang sudah berhasil mengalahkan petir dengan hebatnya dan sang Malam pun berbalik memeluk Bulan dengan begitu erat."Aku akan selalu ada bersamamu, karena cahaya Bulanmu yang membuatku kuat."Dahulu, sang Malam terlalu sepi akan kegelapan. Namun, hadirnya Bulan mengubah sang Malam menjadi sangat kuat. Cahaya Bulan telah membangkitkan sang Malam untuk mengetahui arti dari tersenyum. Ia merasa nyaman bersama Bulan hingga mereka saling jatuh hati.Terkadang kegelapan memang menyeramkan, tetapi masih ada cahaya di dalamnya yang tak akan pernah.

Pepo, Oh Pepo
Fantasy
22 Jan 2026

Pepo, Oh Pepo

Di suatu hari, riuh suasana mengisi hari seekor kura-kura. Tempurungnya yang cacat, menjadi bahan elokan para hewan di hutan. Sedih dan rapuh, mengisi hati sang kura-kura. Setiap harinya, berbagai ejekan dia terima dengan sebuah senyuman.Kala itu, petir menyambar rumahnya yang cukup sederhana dengan balok kayu sebagai papah. Reruntuhannya menghancurkan barang-barang yang dimiliki sang kura-kura.Biar aku kenalkan namanya pada kalian semua. Hewan-hewan di sekitarnya, kerap memanggilnya dengan sebutan Pepo. Seekor kura-kura yang begitu cekatan dan pandai.Saat ini, dia hanya tinggal seorang diri. Tanpa keluarga, teman atau pun saudara. Di setiap paginya, dia selalu pergi untuk mencari bahan makanan yang bisa dia gunakan atau simpan sebagai cadangan makanan di rumah. Mulai dari ujung ke ujung, selalu dia tempuh tanpa ada keluh kesah sedikit pun.Lalu pada hari itu, seekor kelinci bernama Rai mendekatinya dan bertanya padanya, "Hai, Pepo. Kau sedang apa di sini?""Aku sedang mencari bahan makanan, Rai. Aku harus mencari untuk menyimpan cadangan makanan di rumah," jawab Pepo."Wah, pas sekali. Aku juga ingin mencari makanan. Apakah aku boleh ikut?" tanya Rai."Tentu, Rai. Ayo!" jawab Pepo, lalu mereka berjalan beriringan bersama.-o0o-Di tengah perjalanan, seekor harimau tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Harimau itu tampak ganas dan mengerikan. Sampai-sampai, kelinci gemetar dan berlindung di belakang kura-kura.Saat harimau itu semakin dekat dengan jarak mereka berdua, seekor burung elang datang, mengepakkan sayapnya. Elang itu tak lain adalah Heri. Seekor elang yang memiliki sayap yang indah dan lebar. Elang itu pun bertanya, "Hai Remo. Kau sedang apa di sini?""Aku ingin mencari mangsa," jawab Remo—harimau tadi."Oh, Remo. Kau tak boleh memakan Pepo dan Rai. Mereka adalah teman kita, Remo," ujar Heri."Tidak! Mereka adalah mangsaku. Mangsaku! Bukan teman," tukas Remo tak sudi menganggap kura-kura cacat dan kelinci itu sebagai temannya."Kenapa? Bukankah mereka adalah warga di hutan ini? Kita sudah sepantasnya menganggap mereka teman, bukan?" tanya Heri."Aku tidak peduli. Aku hanya ingin makan," jawab Heri semakin mendekati kelinci dan kura-kura dengan wajah mengerikannya."Hm, baiklah. Aku pergi," ucap Heri kembali terbang jauh, menjauhi mereka bertiga."Haha. Kalian tak akan bisa selamat dariku," seru Remo semakin dekat--lima sentimeter dari jarak mangsanya.Saat harimau itu hendak menerkam mereka bertiga, segerombolan orang utan datang mendekati mereka. Orang utan itu tampak memberi perlawanan pada sang harimau. Kelinci dan kura-kura yang melihatnya, hanya bisa mengernyitkan dahi mereka—bingung. Entah apa yang sebenarnya terjadi hingga banyak hewan yang melindungi mereka saat ini. Mereka hanya bisa diam dan melihatnya dengan saksama."Hei, Remo! Jangan berani-berani mendekati mereka. Mereka itu teman kami. Kau tak berhak untuk memangsa mereka. Tak berhak sedikit pun!" gertak salah satu orang utan, yang tak lain adalah Derel."Apa kau bilang? Teman? Haha," ujar Remi tertawa keras."Ya. Mereka adalah teman kami. Kau tak bisa mendekati mereka, selama kami masih ada di sini," tukas orang utan lainnya."Oh, ya? Memangnya kalian bisa mengalahkanku? Hah!" tanya Remo menantang."Tentu saja kami bisa," ujar Derel dengan percaya dirinya.Aksi perkelahian terjadi di antara dua kubu dengan sangat seriusnya. Mereka tampak saling marah dan melampiaskan segala emosi yang ada. Saat nabastala berubah menjadi jingga, perkelahian mereka usai dengan orang utan sebagai pemenangnya. Kepintaran dan kehebatan mereka berhasil mengalahkan seekor harimau yang gagah dan perkasa. Baru itulah sang kura-kura mendekati mereka dan bertanya, "Kenapa kalian menyelamatkan kami?""Karena kamu sudah menyelamatkan nyawa kami. Ingat kejadian beberapa hari yang lalu?" jawab Derel, lalu bertanya balik.Wesh! Angin bertiup dengan sangat kencangnya. Tak seperti biasanya keadaan hutan dipenuhi dengan rasa takut akan kehancuran. Kala itu, semua rumah-rumah dan pepohonan milik para hewan, hancur berkeping-keping bak kaca yang bersemai. Namun, anehnya, rumah kura-kura menjadi satu-satunya yang masih utuh dan hanya atapnya yang runtuh.Semua hewan heran. Mengapa semua itu bisa terjadi? Padahal rumah kura-kura paling kecil dan berpotensi hancur pertama dari rumah yang lainnya. Semua itu mengundang pertanyaan di benak para hewan.Saat itulah, kura-kura membantu semua hewan dalam membangun kembali rumah mereka. Mulai dari nol, hingga menjadi rumah seutuhnya. Tak hanya itu, kura-kura juga berbagi makanan dengan mereka.Padahal, dia selalu menjadi bahan hinaan dan selalu dijauhi khalayak ramai. Dia tak pernah menyimpan dendam sekali pun pada mereka. Di saat itulah, mereka menyadari, bahwa hal yang tak sempurna, tak seburuk kelihatannya. Begitu pun sebaliknya."Jadi, begitu. Terima kasih karena sudah menyelamatkan kami," ucap Pepo mengembangkan senyumannya."Tidak. Harusnya kami yang berterima kasih," tukas salah satu orang utan bernama Lei."Hehe. Ya, sudah. Aku dan Rei harus mencari makanan.""Wah, kalau begitu, datanglah ke rumah kami. Kami punya banyak persediaan," ucap Derel menawarkan dengan senang hati."Benarkah?" tanya Rei."Iya, benar," jawab Derel."Hm, tidak. Terima kasih. Aku akan mencari sendiri. Tak enak jika harus merepotkanmu," ujar Pepo."Tak apa. Mari!" ajak Derel.Kura-kura pun menerimanya. Mereka pergi bersama dan saling merangkul satu sama lain hingga sampai di rumah orang utan. Sejak kejadian itu, semua hewan berjanji tak akan pernah mengulangi semua hal itu lagi. Mereka akan menjadi teman kura-kura, untuk selamanya.

Manusia dan Alam
Fantasy
22 Jan 2026

Manusia dan Alam

Pada aman dahulu, seorang manusia yang merupakan Kepala Suku di suatu tempat di dunia ini, sudah membawa kesejahteraan pada para penduduknya. Kepala suku ini mempunyai jiwa kepemimpinan yang besar. Dia begitu tegas, ramah, dan menebarkan rasa kasih sayang kepada para penduduknya.Namanya Raja Mala. Raja Mala bukanlah seorang raja biasa. Dia mempunyai kemampuan untuk berbicara pada Alam. Itulah kenapa, kemakmuran menghampiri para rakyatnya. Bahkan, dia menamai semua alam itu dengan berbagai macam nama, seperti Pantai, Pasir, Samudera, Gunung, Tanah dan lain sebagainya.Kehidupan kerajaan ini dan rakyatnya tidak jauh dari Alam. Mereka begitu bersahabat pada alam. Begitu pun dengan Alam yang senang berdampingan dengan para manusia itu. Karena hubungan kedua makhluk hidup ini mulai tercipta, ketika Raja Mala dan para Alam membuat perjanjian untuk saling menjaga dan memberi.Manusia menjaga alam dengan merawat dan menanam mereka, dan juga memanfaatkan sumber daya mereka dengan secukupnya. Alam pun berjanji untuk tidak akan mengusik peradaban ini dengan bencana, dan akan terus memberi kenyamanan serta kebutuhan mereka tanpa pamrih.Sudah ratusan tahun hubungan ini terjalin dengan baik. Hingga pada suatu ketika, Raja Mala termenung di atas gunung sambil melihat suasana kampungnya dari atas sana. Terdapat sedikit perbincangan dari Raja Mala dengan Alam di sekitarnya."Hei, Mala. Apa yang sedang kamu pikirkan seharian di atas ini?” tanya Gunung.“Aku memikirkan tentang banyak hal yang berhubungan dengan kita,” jawab Raja Mala.“Kita?” seru Gunung kebingungan.“Sepertinya aku akan sedikit memberi perubahan pada wilayah kekuasaanku ini,” lanjut Raja Mala.“Apa maksudmu, Mala?” tanya Gunung kembali.“Kalau dilihat. Selama ini, rakyatku menanam dan merawat kalian dengan baik, memanfaatkan Alam ini dengan secukupnya. Rakyatku juga yang memetik hasilnya sendiri, semua mereka lakukan sendiri. Tanpa bantuan sedikit pun dari kalian,” jelas Raja Mala."Jadi, apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan?” tanya Gunung kembali."Yah, sepertinya sudah merupakan hal yang wajar jika mereka dapat memanen lebih dari kata cukup seperti biasanya. Karena merekalah yang melakukan semua hal itu sendiri dan itu adalah hak rakyatku untuk menikmatinya sendiri,” jelas Raja Mala lagi.Para Alam terlihat ricuh saat mendengar perkataan Raja Mala yang mengejutkan itu. Mereka semua meneriaki Raja Mala untuk menarik kembali ucapannya karena bisa merusak perjanjian mereka yang sudah terjalin lama."Hei, Mala. Tarik ucapanmu itu,”teriak Pohon.“Kamu tidak akan tumbuh, jika rakyatku tidak menanammu," balas Raja Mala.“Jangan terlalu angkuh, Mala. Kalian tidak bisa hidup tanpa kami!” sahut Air sungai.“Kalian terdapat banyak di belahan Bumi ini, kalian tidak akan pernah habis walaupun rakyatku terus mengambil. Menurutku, sudah tugas kalian untuk mencukupi segala sesuatu yang diperlukan oleh rakyatku," jawab Raja Mala membalas ucapan Air.“Hati-hati Mala. Kalian tidak akan hidup makmur jika tanpa kami,” seru Gunung.“Diamlah, Gunung. Jika tidak ada kami, kalian akan merasa kesepian di dunia ini. Dengan adanya kami, adalah bukti bahwa kalian sudah tugasnya melayani segala kebutuhan kami," balas Raja Mala dengan penuh amarah.Alam tidak berhenti meneriaki Raja Mala. Namun, dia mengabaikan semua itu dan turun dari Gunung. Semenjak kejadian itu, Raja Mala juga menjelaskan pada semua Alam tentang pemikirannya. Semua Alam tidak ada yang menyetujui sama sekali pemikirannya karena dapat merusak keseimbangan dan perjanjian yang sudah terjalin bertahun-tahun.Raja Mala Pulang ke Singgasananya dengan wajah yang kusut dan terlihat marah karena apa yang dia pikirkan tidak diterima oleh Alam. Para penasihat melihat ekspresi Raja Mala yang sangat memprihatinkan itu."Ada apa, Tuanku?” tanya Penasihat.“Penasihatku, pemikiranku sama sekali tidak disetujui oleh mereka. Kalau terus begini, eakyatku tidak dapat mengambil sumber daya alam dengan jumlah yang lebih dari cukup untuk kebutuhan mereka. Dan kemakmuran kerajaan ini," jelas Raja Mala.“Lupakan kritik mereka, Tuanku. Mereka melupakan apa yang sudah kita lakukan bertahun-tahun untuk generasi mereka. Dan mereka membalasnya dengan tidak mau memberikan sedikit lebih banyak hasil mereka. Tuanku bukan Raja bagi rakyat ini saja, tapi sudah termasuk Raja bagi Bumi ini. Semua keputusan Tuanku adalah perintah mutlak,” jelas Penasihat.Mendengar penjelasan penasihat itu, Raja Mala pun merasa mendapat persetujuan dari para rakyat tercintanya. Hingga akhirnya, para rakyat mulai memproduksi sedikit lebih banyak dari hasil yang mereka tanam sebelumnya. Mereka menebang banyak pohon sekaligus untuk pembangunan desa, mengambil air, sayur dan buah dalam jumlah yang besar. Sehingga, beberapa kali Raja Mala mengadakan Pesta besar-besaran atas kemakmuran desa ini.Alam merasa sangat marah saat itu, mereka selalu mengkritik dan berteriak sekencang-kencangnya pada para manusia. Namun, hanya Raja Mala saja yang dapat mendengarnya. Dan ia hanya mengabaikan hal itu. Selama Rakyatnya bisa bahagia dengan apa yang sudah mereka hasilkan bertahun-tahun ini.Gunung sudah tidak tahan lagi dengan sikap Raja Mala, Gunung pun berteriak dengan sangat kencang sambil berkata, “Mala, ini sudah keterlaluan. Terimalah akibatnya!" teriaknya.Teriakan Gunung membuat gemuruh yang sangat besar, hingga mengagetkan para rakyat yang sedang berpesta. Tanah saat itu bergetar, para rakyat takut dan kebingungan. Tiba-tiba, puncak Gunung itu pecah mengeluarkan asap dan api dalam jumlah yang begitu banyak. Mereka semua kaget dengan apa yang terjadi pada Gunung itu. Hingga Raja Mala membawa mereka menuju ke pesisir Pantai.Namun, gemuruh tidak hanya terjadi di Gunung. Gemuruh juga terjadi di dalam Laut. Air tiba-tiba saja menyurut sedikit dari Pantai dan mereka tidak tahu sama sekali apa yang akan terjadi. Hingga pada akhirnya, sebuah gelombang setinggi dua puluh meter menuju ke arah mereka. Raja Mala begitu kebingungan dan gelisah melihat keadaan rakyatnya yang panik, mereka sudah terkepung.Lava turun perlahan menuju kaki Gunung, dan Air Laut menghampiri mereka dengan kecepatan yang tinggi. Karena dataran mereka yang sudah sedikit gundul, membuat gelombang itu dengan mudah menghancurkan dataran dan banyak rakyat Raja Mala yang tewas karena hal itu.Raja Mala sendiri yang selamat dalam bencana itu. Dia begitu menyesal dengan keputusannya. Namun, yang terjadi sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Alam berhenti percaya kepada Raja Mala. Dataran dia hancur dan mengalami kekeringan setelah itu, hingga memutuskan Raja Mala untuk berlabuh ke dataran lain dan mencari peradaban.Sampai sekarang ini, bencana tidak berhenti menghantui manusia. Di mana pun kita bersembunyi saat ini. Alam memberikan hukuman yang setimpal untuk manusia serakah seperti Raja Mala. Namun, tetap mentoleransi pada manusia yang masih ada bentuk rasa kepedulian terhadap kelangsungan hidup Alam.

Hasian dan Gogo
Fantasy
22 Jan 2026

Hasian dan Gogo

Di Huta Siantar Standuk, ada seorang ompung bermarga Hasugian. Ia punya banyak ternak. Ia menyayangi ternak-ternaknya. Dari semua ternak, yang paling disayanginya ialah Hasian, seekor ayam betina.Hasian berbulu indah. Badannya besar. Rajin bertelur. Karena itu, Ompung Hasugian merasa senang dengan Hasian. Apabila hendak pergi, Ompung Hasugian selalu membawa Hasian. Ia tak peduli orang menertawakannya. Baginya, Hasian pembawa keberuntungan. Lebih-lebih, kalau sedang memancing.Suatu ketika, Ompung Hasugian pergi ke dekat kaki gunung untuk memancing. Di situ, ada sungai yang jernih. Tak lupa, ia membawa Hasian.Saat Ompung Hasugian asyik memancing, Hasian berjalan ke arah gunung untuk mencari cacing. Tak sadar, ia telah masuk jauh ke dalam. Namun, Hasian tidak merasa takut. Ia justru penasaran.Hasian menemukan sebuah telur besar. Ia heran melihat besarnya telur itu. Saat asyik mengamati, tiba-tiba telur itu retak.‘Ciap? Ciap Ciap!’Seru anak burung yang baru menetas. Melihat si anak burung sendirian, Hasian merasa iba. Ia mematuknya dan membawanya pergi.Di sungai, Ompung Hasugian mencari-cari Hasian. Ia hampir menangis ketika melihat Hasian kembali. Dengan cepat, ia mengangkat Hasian.“Ke mana saja kau, Nang? Aku takut kali kehilangan kau! Eh, apa yang kau bawa itu?” katanya memperhatikan paruh Hasian.Ia menurunkan Hasian. Diambilnya si anak burung dengan hati-hati. “Ini kan anak elang? Dari mana dapatmu?” tanya Ompung Hasugian.Hasian berkotek-kotek ke arah kaki gunung. “Ini harus dikembalikan. Nanti dicari induknya,” kata Ompung HasugianHasian berkotek-kotek lebih keras. Bahkan, mematuk-matuk kaki Ompung Hasugian. Ia tak rela si anak burung dikembalikan.“Aduh, baiklah kalau itu maumu. Kita bawa saja ke rumah. Kau jaga baik-baik. Tapi, ingat! Kalau sudah besar, dia harus dilepaskan!” tegas Ompung Hasugian.Mendengar itu, Hasian meluapkan kebahagiaannya. Ia mengepak-ngepakkan sayap. Berlari-lari mengelilingi Ompung Hasugian.Ompung Hasugian geleng-geleng kepala melihat kelakuan Hasian.“Kita kasi namalah anak elang ini. Bagaimana kalau Gogo? Karena elang itu kuat,” kata Ompung Hasugian.Demikianlah Gogo menjadi keluarga baru di peternakan Ompung Hasugian. Hasian membawa Gogo pulang dengan bangga. Sesampainya di peternakan, ternak-ternak lain melihat Gogo penasaran.Bunyi ribut terdengar di seluruh peternakan manakala Hasian membawa Gogo jalan-jalan. Mereka belum pernah melihat elang. Walau demikian, mereka senang. Gogo tidak terlihat buas. Hasian mendidik Gogo seperti mendidik anak ayam.Hari demi hari, bulan demi bulan, Gogo bertambah besar. Paruhnya semakin tajam. Cakarnya semakin kokoh. Sayapnya semakin lebar. Melihat itu, Ompung Hasugian mendekati Hasian.“Sudah saatnya Gogo dilepaskan,” kata Ompung Hasugian.Hasian tertunduk. Ia terlihat tak rela. Tapi, ia ingat janjinya. Dengan berat hati, ia berkotek pelan.Esoknya, Ompung Hasugian membawa Gogo kembali ke kaki gunung. “Gogo, di sini rumahmu. Pulanglah pada keluargamu,” kata Ompung Hasugian melepas Gogo.“Selamat tinggal, Gogo!” pamit Ompung Hasugian. Ia berbalik. Sebenarnya, ia merasa sedih kehilangan Gogo. Namun, ia sadar bahwa peternakan bukan tempat Gogo.Tiba-tiba, Gogo mengepakkan sayapnya. Ia terbang dan hinggap di bahu Ompung Hasugian. Ompung Hasugian terkejut.“Gogo? Sejak kapan kamu bisa terbang?” tanya Ompung Hasugian heran.Gogo mengelus kepalanya ke kepala Ompung Hasugian. Kemudian, berteriak pelan. Ompung Hasugian tersenyum.“Gogo, Ompung tidak mengusirmu. Hanya saja, peternakan bukanlah rumahmu. Rumahmu ialah alam liar. Kalau rindu, kamu boleh pulang kapan pun kamu mau. Kami akan tetap menerimamu,” kata Ompung Hasugian“Ingatlah selalu mereka yang membesarkanmu dengan baik,” pesan Ompung Hasugian.Gogo menjawab dengan mengelus kepala Ompung Hasugian. Ia pun terbang menghilang. Ompung Hasugian merasa lega atas pengertian Gogo. Ia pulang dengan air mata kebahagiaan.Di peternakan, Hasian terlihat murung. Ia tidak mau makan. Pikirannya terus pada Gogo. Ompung Hasugian bersedih melihat keadaan ternak kesayangannya itu.Berulang kali, ia membujuk Hasian makan. Namun, Hasian tetap tidak mau makan. Hasian membiarkan saja makanannya sampai berhari-hari.Hasian menjadi semakin kurus. Tubuhnya semakin lemah. Saat itulah, Gogo datang ke peternakan. Badannya terlihat gagah. Semua hewan ternak memandangnya dengan kagumIa mengetuk paruhnya di pintu rumah Ompung Hasugian.Melihat Gogo, Ompung Hasugian bergegas memeluknya. Ia menangis. Mengadu keadaan Hasian.Gogo mengerti. Ia pun terbang menjumpai ibu angkatnya. Hasian terlihat menyedihkan. Napasnya berat. Gogo merasa sedih.“Hasian, anakmu datang,” kata Ompung Hasugian.Melihat Gogo, Hasian mencoba berdiri. Tapi, ia tidak kuat. Dengan lembut, Gogo mengangkat Hasian dengan paruhnya. Ia teringat masa lalu. Saat itu, Hasian yang membawanya ke peternakan.Hasian merasa senang. Gogo masih mau kembali. Padahal, Hasian hanya ibu angkat. Hasian pun kembali bersemangat dan mau makan.Sejak saat itu, Gogo sering berkunjung ke peternakan. Ia tidak pernah lupa mereka yang telah membesarkan dan mendidiknya dengan baik. Demikianlah peternakan Ompung Hasugian menjadi penuh sukacita karena kebaikan-kebaikan yang ditabur oleh Hasian dan Gogo.

Keajaiban Si Marmut
Fantasy
22 Jan 2026

Keajaiban Si Marmut

Suatu pagi yang cerah, ada si Marmut yang sedang mandi di tepi sungai. Pagi-pagi buta, si Marmut melakukan rutinitasnya seperti biasa yaitu bekerja di pasar dengan giat untuk menyambung hidupnya. Ketika berangkat, si Marmut tidak sarapan karena bahan pangan si Marmut sudah habis. Akhirnya pun si Marmut lekas berangkat kerja supaya tidak terlambat.Si Marmut adalah kaum yang sangat tampan di antara kaum yang lain, tetapi sayang hidup si Marmut ini bukanlah kaum yang kaya. Ia tergolong kaum yang miskin atau kurang mampu. Si Marmut hidup sebatang kara. Keluarganya sudah tiada. Kedua orang tua si Marmut sudah meninggal dan si Marmut adalah anak tunggal.Si Marmut belum mempunyai pendamping hidup yang tulus, banyak calon wanita-wanita yang mendekatinya karena memang Marmut tampan. Namun, setelah wanita-wanita tersebut tahu bahwa Marmut adalah orang yang kurang mampu dan hidup sebatang kara, wanita-wanita tersebut menjauhi Marmut dan bahkan tidak pernah menemui Marmut lagi.Terkadang bertemu di jalan tak pernah bertegur sapa sama sekali dan Marmut pun sangat sedih. Dia tetap bersabar. Marmut selalu berdoa kepada Tuhan."Ya Allah, pertemukanlah hamba dengan jodoh hamba yang sholeh dan menerima saya dengan apa adanya. Hamba janji ya Allah, hamba akan berusaha lebih keras lagi untuk kehidupan ini hingga hamba memiliki keluarga kecil," ujar Marmut dalam doanya.Sesampainya di pasar, seperti biasanya Marmut langsung memutari semua pedagang untuk menarikan biaya tempat sewa perdagangan mereka. Marmut di sini bekerja sebagai asisten yang kerjaannya hanya sebagai pesuruh dan gajinya pun juga tidak seberapa, tetapi Marmut tetap bersyukur atas karunia yang telah Allah berikan kepadanya.Marmut tidak sendiri, ia bersama shohibnya yaitu Kelinci. Kelinci adalah sahabat baik Marmut dari kecil hingga sekarang.Usai menarik uang pedagang mereka pun beristirahat, Marmut mengajak Kelinci untuk makan."Makan, yuk. Laper nih, belum sarapan," ujar Marmut yang lelah karena kelaparan dan juga capek seharian mutar di pasar."Ya, udah. Ayo, aku temenin kebiasaan emang jarang sarapan," ujar Kelinci yang sangat kasian dengan Marmut."Iya, kamu tau kan aku hidup sebatang kara. Boro-boro ada yang nyiapin makanan," ujar Marmut yang sudah sangat kelaparan."Ya udah yang sabar aja, ya. Terus berdoa biar cepet punya pendamping yang nerima apa adanya supaya besok ada yang nyiapin makanan," ujar Kelinci mendoakan Marmut."Aamiin, baik banget di doain. Hihi," ujar Marmut bahagia."Udah lah, nggak usah lebay. Mau es teh dua sama nasi goreng buat Marmut satu," ujar Kelinci sembari memesan untuk keduanya."Nggak makan?" tanya Marmut."Udah kenyang, tadi Ibu kan nyiapin sarapan," ujar Kelinci menjelaskan Marmut."Oke," jawab Marmut singkat."Gini Mut, nggak usah khawatir. Jodoh dah ada yang ngatur. Tuhan nggak asal kok milihnya karena jodoh itu cerminan dari kita. Kalau kita baik pasti kita juga dapet calon yang baik juga sebaliknya, tapi semisal kita buruk, ya udah tinggal bayangin aja jodohnya kayak apa," canda Kelinci sembari memberi sedikit ilmu pada Marmut."Coba mau nanya kalau semisal udah baik, tapi jodohnya kita buruk gimana tuh. Meraka nggak cocok cerai cari baru atau selingk ... " ujar Marmut terpotong"Sst, jangan dilanjutin. Itu mah kitanya aja yang nggak introspeksi diri ngaku-ngaku baik. Semisal udah terlanjur, lebih baik perbaiki, bicara dengan baik, pecahkan masalah dengan kepala dingin. Intinya kita cari jodoh itu yang bener lah, nggak perlu cantik deh, ya. Walapun kau sangat tampan, penting nerima apa adanya. Udah cukup itu pun sudah bersyukur," ujar Kelinci menjelaskan lebih lengkap.“Iya juga kebanyakan zaman sekarang ciwi-ciwi pada matre sih,” ujar Marmut sebagai penutup obrolan di siang itu.Usai istirahat meraka kembali bekerja hingga sore, dan setelah mereka selelsai Marmut menghampiri si Kelinci."Allhamdulillah selesai, ayok pulang," ujar Marmut dengan lelah."Yuk, siap." Semangat Kelinci menjawab."Besok libur," ujar Marmut senang."Iya, eh besok mandi di sungai sekalian nangkep ikan daripada bosen di rumah," ujar Kelinci seraya mengajak Marmut."Wah, ide bagus. Aku suka banget idemu," ujar Marmut senang."Ya, emang ideku bagus. Aku kan cermelang." Lagak sombongnya Kelinci yang penuh canda pun keluar.“Iya deh, iya. Besok ke rumahku dulu, ya jemput,” ujar Marmut."Oke, sip,” singkat Kelinci.Pagi pun tiba dan si Kelinci sudah sampai di rumah Marmut."Mut ....""Eh, iya. Cepet banget, masih pagi ini,” ujar Marmut yang masih mengantuk."Ayo cepetan kebetulan masih pagi nih, ikannya masih fresh,” ujar Kelinci semangat.Ketika si Marmut udah selesai buang air tiba-tiba, di pertengahan jalan ada buah beri yang jatuh.“Alhamdullilah, rezeki nih. Makan ah, kebetulan belum sarapan," ujar Marmut seraya melahapnya.Tiba-tiba ...."Wahai anak muda, apakah kau sedang makan buah beri milikku?” ujar paman Kucing.Si Marmut pun ketakutan seraya menjawab, “Ma ... maafkan saya, Paman. Tadi saya makan karena kelaparan, tapi saya janji Paman akan bertanggung jawab atas semua ini. Saya hanya kaum yang miskin Paman, mungkin saya bisa membantu paman berkebun,” kata Marmut yang sangat ketakutan dan ia juga bertanggung jawab atas semua yang ia perbuat.“Oke, baiklah. Kamu harus bertangung jawab, kau harus menikahi putriku. Putriku seorang gadis yang cacat tidak bisa melihat tidak bisa berjalan. Terserah, mau tidak mau kau harus bertanggung jawab atas yang kau perbuat,” ujar tegas paman Kucing.Setelah bepikir panjang Marmut pun menyetujui karena ia harus bertanggung jawab.“Baik, Paman. Aku akan menikahi putrimu."Akhirnya mereka berjalan menuju rumah paman Kucing untuk melihatnya. Sampai di ruang tamu, Paman ke dalam kamar putrinya dan memanggil. Saat putrinya datang, Marmut pun kaget."Ma'syaa Allah, cantiknya” ujar Marmut kagum karena putrinya tidak cacat sama sekali."Iya, ini putriku. Ketika aku bilang cacat menguji kesetiaanmu, ia tidak pernah keluar rumah untuk itu aku carikan jodoh yang pas,” ujar Paman.Akhirnya Marmut mendapat pasangan yang diidamkan. Marmut pun memberitahu sahabatnya yang berada di sungai atas kejadian tadi. Marmut hidup bahagia dan tak sebatang kara lagi.

ORANG-ORANGAN MONOPOLI, DADU, DAN UANG DOLAR YANG MENEMANI LEGO
Fantasy
20 Jan 2026

ORANG-ORANGAN MONOPOLI, DADU, DAN UANG DOLAR YANG MENEMANI LEGO

"Sudah lama aku terbaring di kotak ini."Orang-orangan hijau terbangun dari tidurnya yang sudah sangat lama setelah merasakan kotak tempatnya tidur bergerak."Lego lebih suka ponsel pintarnya. Jangankan kita, mainan murahan yang menemani masa kecilnya ... lihat saja buku-buku mahal yang ada di rak itu juga tidak disentuhnya," kata si Merah galak."Tahu dari mana kamu soal itu?" tanya si Kuning."Aku tahu dari Dadu yang suka menggelinding tiap kali Lego memindahkan kita. Dia mudah mengintip!" tuding si Merah."Apa Lego akan memindahkan kita lagi?" tanya Dadu yang menggelinding ke salah satu sudut kotak, mengenai si Kuning yang kakinya tersangkut di celah kotak yang sudah bolong."Lihat hotel-hotel itu. Dulu mereka mahal sekali! Sekarang nasibnya sama dengan rumah-rumah dan kartu dana umum dan kesempatan. Tergeletak di dalam kotak, tidak tersentuh sama sekali." Kali ini si Hitam yang bersuara. Dia melihat sekeliling."Aku ... andai saja aku jadi dadu yang ada di meja bar permainan para mafia di TV. Orang-orang kaya dan perempuan-perempuan cantik di sana akan lebih baik daripada kotak ini," keluh Dadu. "Awas ... awas!!!" teriaknya pada si Kuning yang masih saja tertidur, hampir saja keluar dari kotak yang sudutnya sudah menipis, sedikit berlubang karena kaki runcing si kuning yang menyangkut."Tahu dari mana kamu kalau dadu bisa ada di meja mafia?" tanya si Kuning yang terbangun karena Dadu yang mengimpitnya."Aku mengintip Lego yang menonton film mafia waktu itu," Dadu menjawab. "Coba saja kamu lihat dari celah tempat kakimu tersangkut itu. Ah, Lego akan memindahkan kita ke mana lagi?!" teriak Dadu saat merasakan kotak tempat mereka tinggal kembali bergerak." Issshhhhh , rumah-rumah dan hotel itu berisik sekali!" seru si Biru yang paling pendiam. "Waaahhhhh! Awas ... awas! Dana umum dan kesempatan akan mengenai kalian," katanya melihat kartu berwarna hijau dan pink itu terlepas dari ikatannya."Uang-uang itu juga. Aku senang mereka semakin kelihatan sedikit, tapi tetap mereka yang paling banyak. Awas, Dadu!" teriak si Hijau.Tiba-tiba cahaya menyorot ke seisi kotak. Lego dewasa memperhatikan semua isi kotak dengan bahu menurun. Dia membenarkan posisi si Kuning, melepaskan kakinya yang tersangkut pada sudut kotak."Ah, terima kasih Lego!" seru si Kuning yang kini bergabung dengan si Merah, Hijau dan Biru."Berlebihan sekali, kau, Kuning!" kata si Hitam kesal karena tempatnya sempit dengan si Kuning di sebelahnya."Aku masih berharap kalau Lego bisa mendengarkan kita."Suara berat dari gambar uang-uangan Dolar menarik perhatian seluruh isi kotak."Konyol sekali, kau, Dolar!" tawa Dadu meledek. "Kau tahu, ada film anak-anak yang sering ditonton Lego. Di sana mainan seorang anak juga bercakap-cakap seperti kita.""Lalu?" tanya si Biru. "Apa hubungannya dengan kita?""Di sana mainan-mainan itu juga tidak bisa bicara dengan pemiliknya. Mereka berinteraksi satu sama lain. Menjadi saksi si pemilik yang tumbuh dewasa.""Seharusnya kalau Lego ingat kita, dia akan tersentuh dengan film itu. Mungkin dia akan merapikan kita, membiarkan kita berkumpul dengan mainan lain atau ...." Dolar menggantungkan ucapannya."Membuang kita. Aku mengerti itu." Si Biru tidak ambil pusing dengan perkataan Dolar. "Tapi buktinya, Lego tidak pernah membuang kita. Ke mana pun dia pergi, kita akan selalu dibawanya. Saat dia pindah rumah, tinggal di asrama, tinggal di kosan, sampai sekarang tinggal di apartemen. Sebatas itu. Sudah cukup. Tidak perlulah dia mendengarkan kita.""Tapi aku bosan hidup di kotak hanya dengan kalian," kata si Hitam. "Lego! Aku ingin keluar!""Hai, apa kalian yang jadi ide cerita Lego yang tidak punya lego dalam buku yang terpisah sendiri di sana?" tanya perempuan yang datang bersama Lego, mengabaikan sejenak benda pintar yang semula ditekuninya. "Hebat! Kamu masih punya monopoli. Aku ... waktu kecil aku membelinya setiap tahun untuk dimainkan di bulan puasa."Lego tertawa. "Hampir aja lupa, mau aku pindahin," kata Lego yang sedang menuangkan air. "Kotaknya udah rusak.""Ini monopoli edisi lama banget, Lego!" seru perempuan itu riang. "Aku dulu kalau main ini suka pakai orang yang warna biru."Si Biru tercengang begitu perempuan itu mengangkatnya, meletakkannya di telapak tangannya, menelitinya lebih dekat."Kalau aku malah enggak pernah pakai yang biru, Cita," kata Lego, menyerahkan air minum untuk temannya itu.Si Merah, Kuning, Hijau dan Hitam, semuanya bergantian melihat si Biru."Apa karena Biru itu melambangkan kesedihan?" tanya Cita, meletakkan si Biru lagi ke tempatnya. "Ah, berarti novel pertamamu itu kisahmu sendiri?""Novel apa? Apa Lego penulis?" Dadu berisik bertanya.Lego terangguk dengan senyum manisnya, kembali menekuni kotak usang yang hendak digantinya. Semua isi kotak itu meluncur ke atas meja, mendekat pada laptop yang terbuka."Sebenarnya dulu kalau pakai si Biru itu aku enggak pernah menang. Aku miskin," kekeh Lego. "Saat besar, baru aku tahu makna biru itu apa ... sampai aku jadikan tambahan buat pelengkap cerita di novelku. Biru enggak selalu berarti sedih, Cita ...."Si Biru yang ikut menyimak percakapan itu, tersenyum. Si Hitam, Merah, Kuning dan Hijau ikut melihatnya."Biru itu punya banyak makna. Menjadi simbol banyak macam perasaan. Mungkin karena Biru mewakili warna langit, laut."" Feeling the blue, out of the blue ," Cita menyebutkan dua kalimat terkenal. "Kita lihat langit di saat sedih, melamun, tapi langit cerah juga yang bikin kita senang dan tenang. Suara angin, suara air laut.""Atau karena kita senang yang bikin langit jadi terlihat indah karena kita butuh tenang yang bikin laut jadi menenangkan," lanjut Lego."Enggak tahu, ah! Capek ngomong sama penulis. Enggak ngerti," keluh Cita yang ditertawai Lego. "Tapi itu semua yang bikin kita lebih merasa. Jadi teman kita buat berpikir lebih dalam. Benar kan kalau dengan itu semua pikiran kita lebih mudah dirasa?""Sekarang aku yang enggak ngerti sama omongan kamu," ledek Lego."Hih!" Hampir saja Cita mengambil rumah-rumahan, melemparkannya pada Lego saking kesalnya. "Apa berarti kamu juga enggak punya mainan lain waktu kecil? Seperti dalam novel itu?" tanya Cita penasaran. Kembali dia mengambil si Hitam, Merah, Kuning, Hijau dan Biru, meletakkannya semua di telapak tangannya. "Kamu sungguh enggak punya Lego walaupun namamu Lego, tapi kamu punya monopoli ini yang sekarang mungkin udah beda edisi.""Iya, jangankan lego yang mahal. Monopoli itu pun aku beli pakai uang jajanku. Ibuku pernah bilang kalau dia enggak akan membelikan aku mainan, apa pun, karena aku akan lupa belajar. Aku jadi malas nantinya, tapi ...." Lego menaikkan bahunya, tidak melanjutkan ucapannya."Kenapa?""Dulu aku enggak cukup mampu buat beli lego," terang Lego, mengingat masa kecilnya. "Mungkin karena tahu lego itu mahal, aku jadi enggak punya keinginan buat beli."Cita yang mendengarnya ikut bersedih melihat Lego."Tapi monopoli yang bisa kamu beli itu yang bikin kamu banyak belajar sampai jadi juara di sekolah, jadi jenius sampai sekarang akhirnya jadi penulis sukses!" Cita menjabarkannya dengan bangga. "Kalau kamu suka lego, punya, mungkin kamu juga akan punya cerita dengan lego.""Mungkin." Lego terangguk-angguk. Dia langsung menuliskan apa kata Cita tadi. Siapa tahu bisa jadi ide untuk cerita berikutnya."Aku suka buku-buku, sampai sekarang aku koleksi. Kalau lagi beres-beres, selalu aku ingat waktu aku beli buku itu," cerita Cita, kembali ke masa kecilnya. "Kamu juga, kan, Lego?""Persis. Aku dan monopoli punya cerita panjang. Karena monopoli, aku jadi mau tahu negara-negara itu. Aku cari tahu soal Jepang, Spanyol, negara-negara di Komplek H, Pelabuhan dan Bandara. Semuanya! Itu karena monopoli," cerita Lego yang juga seperti kembali ke masa lalu."Dan cerita itu udah kamu tuliskan. Kenapa kamu menuliskannya, Lego?" tanya Cita, merapikan semua isi kotaknya; orang-orangan, rumah-rumahan, hotel, dadu, uang, dan semua kartunya. "Kamu juga merawat mereka dengan baik, masih menyimpannya.""Mereka itu temanku, Cita," kata Lego, memberikan kotak kayu yang tampak seperti peti harta karun. "Aku mau mereka terus menemaniku, jadi cerita sampai aku tua nanti."Orang-orangan, Dadu, dan Dolar tercenung mendengarnya."Apa semua penulis memang perasa seperti kamu, Lego?" tanya Cita, membuat Lego terbahak. "Aku jadi berpikiran kenapa orang-orang suka menulis. Waktu ke waktu otak kita akan terus diisi dengan ingatan yang baru. Menulis jadi salah satu cara buat kita ingat.""Menulis itu magis, Cita ... aku enggak pernah peduli orang bilang aku melankolis, sensitif atau seperti perempuan," terang Lego bangga."Aku baru tahu kalau cita-cita itu punya jenis kelamin," sindir Cita. "Jangan ambil hati omongan seperti itu!""Tolong susun semuanya di sini," kata Lego yang sudah selesai menyusun sebagian kartu dan uang dolar, tidak mau menanggapi apa kata Cita.Cita menurutinya. Orang-orangan yang tadi dimainkannya semua berpindah ke kotak kayu besar."Ah, tempat ini lebih nyaman!" seru Dadu yang menggelinding ke bagian sudut. "Kotak ini ada celahnya. Aku bisa dengan mudah mengintip Lego.""Untuk apa kamu mengintipnya? Tidak sopan!" kata Dolar. "Andai Lego membayangkan kalau kita hidup. Andai dia bisa mendengar kita juga. Mungkin dia akan membuang kita karena kita berisik sekali membicarakannya.""Tapi itu yang selalu kamu bayangkan," timpal si Hitam."Kamu, kok, bisa masih nyimpan ini?" tanya Cita masih heran di tengah-tengah kegiatannya merapikan isi kotak kayu yang sudah ditempati semua penduduk monopoli. "Selain kamu mau terus sama mereka, menjadikan mereka cerita di hari tua. Kenapa juga kamu menuliskannya jadi cerita?" tanya Cita, masih belum selesai dengan keingintahuannya."Aku mau mereka dapat aku kenang waktu aku pikun sekalipun," jelas Lego. "Aku baca mereka, aku jadi ingat mereka. Aku punya cerita panjang soal kenapa monopoli ini penting buat aku. Kalau aku ceritakan bisa jadi satu buku.""Dan kamu sudah menjadikannya sebuah cerita, menjualnya dalam bentuk buku.""Lebih dari cerita di buku. Aku mau orang-orang juga punya perasaan atas apa yang mereka punya, Cita. Berpikir sebelum membeli. Apa kegunaannya, apa bisa menjaganya?" Lego memulai khotbahnya. "Aku juga ingin orang tahu kalau apa-apa yang kita punya akan selalu punya cerita. Enggak peduli berapa harganya, gimana bentuknya. Yang penting gimana kita suka sama benda itu," jelas Lego dengan senyum. "Walaupun mereka hilang, rusak atau aku yang pikun, aku akan tetap punya cerita dengan mereka."" Ugh , Lego romantis sekali!" Dadu berseru, terkagum dengan Lego, terharu dengan ceritanya."Itu pesan yang aku dapat dari buku pertamamu itu, Lego," ungkap Cita. "Kamu berhasil!""Terima kasih Cita!" Lego senang mengetahuinya."Oh iya, si Putih enggak ada di sini." Cita menyusun uang-uangan yang berceceran.Ucapan Cita menarik perhatian semua penduduk monopoli yang tengah menikmati rumah baru mereka."Dia patah. Kalau kamu lihat di sana, aku menempelkannya di depan buku catatanku."Cita meraih buku catatan yang ditunjuk Lego. Si Merah dan kawan-kawannya, Dadu dan Uang Dolar bersorak begitu melihat si Putih masih ada."Putih, kukira kamu mati!" seru Dolar, tertawa membahana. "Atau menghilang.""Tidak. Aku hanya sulit bergerak saja, tidak bisa bertemu kalian juga.""Kasihan dia sendirian," kata Cita, mengusap si Putih."Hahaha benar juga," Lego berpikir sebentar, melihat buku catatannya. "Masukan saja ke kotak itu nanti.""Apa bukunya enggak akan kamu pakai lagi?" tanya Cita, menutup buku tersebut."Buku itu satu kesatuan dengan monopoli," ucap Lego mulai yang tidak Cita mengerti. "Seperti kata kamu tadi, kasihan si Putih sendirian."Cita menggeleng-gelengkan kepalanya. Meski aneh dengan jawaban Lego, dia memasukkan buku itu ke kotak.Semua penduduk monopoli menyambut hangat kembalinya si Putih dengan sorak-sorai."Putih ... Putih, kamu tahu apa yang ditulis Lego di sana?" tanya si Kuning penasaran."Ya, apa yang ditulisnya? Aku sering melihatnya menulis di sana!" seru Dadu si tukang intip."Menuliskan kita semua," kata si Putih. "Aku tidak peduli lagi soal kehancuranku yang ditempelkannya di sampul buku yang membuatku terimpit saat dia menulis, tapi karena itulah aku mendengar banyak cerita Lego.""Apa ceritanya? Apa Putih? Katakan pada kami!" si Hijau penasaran sekali."Ceritanya ....""Lego suka membacakan apa yang sudah ditulisnya. Aku pernah melihatnya," jawab Dadu."Iya, tapi apa yang dia katakan?" tanya si Hitam mulai kesal."Apa yang dituliskannya?" tanya si Biru yang juga tidak sabar.Kotak kayu yang mereka tempati kembali bergerak. Lego mengangkatnya."Akan dibawa ke mana lagi kita sekarang?" tanya si Dolar yang dari tadi diam.Orang-orangan, Dadu, dan Dolar yang berpencar, mengintip lewat celah kayu."Kamu yakin mau bawa mereka? Rak bukumu penuh sekali, Lego. Ada bukuku juga. Kamu juga sibuk. Aku pun sama. Kita tidak akan sempat merawat mereka," Cita mengingatkan."Apa dua puluh tahun mereka yang tetap ada tidak cukup jadi bukti kalau aku bisa menjaga mereka?" tanya Lego.Semua penduduk monopoli di dalam kotak terharu mendengarnya."Bukan cuma Lego yang semakin tua ...," kata si Merah bijaksana."Aku yang menguning," kata si Dolar. "Mereka yang menipis dan memudar," ia melihat semua kartu yang bertumpuk jadi satu; dana umum, kesempatan, kartu kepemilikan."Kita yang berdebu," si Putih melanjutkan."Waktu kecil mereka yang membawaku ke banyak tempat di dunia, Cita. Sekarang, aku yang akan bawa mereka ke mana-mana," tutup Lego.

MENGENAL SEBELUM MEMULAI
Fantasy
20 Jan 2026

MENGENAL SEBELUM MEMULAI

"Andai kata memang waktu adalah jawabannya, apa benar? Pada akhirnya, bahagia bisa ditemukan?"Pertanyaan itu kembali berputar di kepala seorang anak berkepribadian melankolis, dengan tubuh dibalut penuh kepingan es. Sebuah pertanyaan semu, yang sebab semakin sering munculnya, kini telah menjelma bagai teman sejatinya.Jika ada yang ingin tahu, mengapa sebuah pertanyaan bisa dijadikan seorang teman baginya, jawabannya adalah, karena dia tidak dikelilingi oleh siapa pun selain kesendirian. Harinya diselimuti kesepian.Namanya Shiver, pemilik jiwa yang sulit untuk berkembang karena sewaktu kecil, anak-anak di sekitarnya enggan membawanya jalan.Katanya, Shiver terlalu dingin, tidak menyenangkan, cenderung membosankan, kaku, sehingga tidak cocok dengan kelompok mereka. Melalui ucapan yang kian menyakiti hati tersebut, Shiver jadi paham kehadirannya tidak diterima.Oleh karena itu, ketika waktunya hadir di saat anak-anak berkumpul untuk bermain di tengah hamparan ilalang kuning, Shiver hanya memangku lututnya erat di bawah pohon rindang demi menutupi keberadaannya. Duduk, mengamati tiap gelak tawa yang terpancar di antara anak-anak yang sibuk bercengkerama bersama, namun ia tidak ikut meramaikannya.Demi sebuah alasan yang sesulit itu untuk ia petik, Shiver menyimpulkan jika ia bergabung, kebahagiaan yang terpancar di depannya akan serempak menghilang begitu saja. Presensinya seburuk itu dalam menghancurkan suasana. Anak-anak membenci dirinya. Wajar ia perlu menghilang.Satu-satunya hal yang biasa ia lakukan untuk menghibur diri ketika itu terjadi adalah, Shiver akan membayangkan sebuah skema dalam benak di mana dirinya turut berlari mengitari ilalang kuning dengan senyum terbaiknya. Membaringkan tubuh, sejajar lurus di atas rerumputan, sedang tangannya digerakkan melayang seakan ia tengah bermain kejar-kejaran.Nahas, ketika ia tersadar bahwa imaji hanyalah gambaran semu yang sulit menjadi nyata, Shiver biasanya akan segera pulang ke rumah dan menangis seharian. Iya, bayangannya tidaklah nyata. Begitu seterusnya, hari demi hari, hingga waktu memakan usianya tanpa memancarkan kebahagiaan.Lantaran kehidupan Shiver sangatlah muram, di suatu malam seorang nenek sihir datang mengunjungi kediamannya. Sesumbar dengan tongkat kayu yang ujungnya memercik cahaya gelap menakutkan, Nenek Sihir itu berkata, "Kau terlalu menyedihkan Shiver! Anak-anak seumurmu, seharusnya hidup bahagia dalam masanya. Jika kau tidak segera merasakan itu, maaf, maka setiap air mata yang menggenang jatuh dari pelupukmu, akan menjelma bagai es batu yang semakin lama ia beku, ia dapat membunuh jiwamu."Kala itu, Shiver tidak melawan. Ia secara sukarela menerima kutukan tersebut. Namun, selepas semua mantra habis diucapkan, Shiver mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Nenek Sihir terdiam menimbang jawaban."Jika memang hidupku menyedihkan dan begitu berbeda dari yang lainnya, apa yang mungkin sebenarnya hilang dalam diriku ini?" kata Shiver berani mendongakkan kepalanya menghadap Nenek Sihir. Matanya yang kelam tidak menyorotkan sedikit pun ketakutan, Shiver hanya ingin mendengar sebuah alasan. "Apa waktu bisa menjadi jawabannya? Banyak orang bertaruh pada waktu untuk mengubah nasib buruk. Apa itu juga berlaku untukku?""Itu merupakan sesuatu yang perlu kau temukan sendiri, Shiver. Barangkali, waktu bisa jadi musuh terbesarmu. Ingat, kutukan ini mengikat jiwamu bersamanya." Melalui kalimat terakhir itu, bayangan Nenek Sihir pun hilang bagai debu yang begitu mudahnya diterpa udara malam.Hari itu, adalah hari pertama di mana air mata Shiver yang biasa datang menemani kesendirian, berubah selayaknya musuh yang tidak segan mengikis usianya.Bertahun-tahun pun cepat berlalu semenjak kejadian tersebut. Kabar Shiver masih tidak baik-baik saja. Tubuhnya semakin berat menopang padatan es akibat tumpahan air mata sementara ia belum bisa menemukan bahagianya.Selama itu pula, Shiver belum lagi keluar rumah. Ia takut, rasa sepi yang menyelimuti akibat sakitnya sebuah penolakan akan membuat air matanya turun deras memadati tubuh. Jadilah, untuk mengingat bentuk rupanya sebuah canda tawa yang begitu ia dambakan, Shiver mencurinya dengan cara mengintip ke luar jendela yang mengarah tepat ke hamparan ilalang kuning tempat anak-anak biasa berkumpul. Pecahan tangisnya tidak akan seburuk ketika ia melihatnya langsung dari jarak yang lebih dekat.Kutukan yang dimilikinya saat ini, mungkin hanya memberinya kesempatan satu kali seumur hidup untuk dipatahkan. Pilihannya hanya ada dua, Shiver bisa memperpanjang hidupnya dengan terus membekukan diri di dalam rumah sampai nanti waktunya tiba, atau Shiver bisa pergi mengangkat kakinya ke luar sana, dengan catatan, jiwanya menjadi taruhan atas rasa sakit dalam perjalanan mencari kebahagiaan.Demikian, tepat pada hari ini, Shiver memutuskan untuk mengambil risiko kesempatan satu kali seumur hidupnya.Shiver menarik napas panjang. Ia bergegas menarik daun pintu dengan jantung menggebu-gebu, siap kembali memasuki dunianya yang nyata. Hilir embusan angin yang menderu, menjadi sobat pertama yang menyambut kedatangannya. Kupu-kupu pun beterbangan, daun-daun jatuh bebas berkeliaran, Shiver rindu semua tentang dunia luar yang memberinya kehangatan.Tak lama kemudian, anomali sekejap berubah. Tiba-tiba, cerahnya cuaca yang dikibarkan mentari, mendadak dingin akibat kehadiran Shiver. Shiver memeluk dirinya dengan erat. Berharap apa? Alam pun menghindari sebuah kutukan. Namun, Shiver sudah terlanjur keluar, tidak mungkin ia kembali masuk ke dalam.Berbekal kutukan Nenek Sihir yang sangatlah ingin ia patahkan, Shiver tetap menapakkan kakinya maju menuju hamparan ilalang kuning. Ia tidak mau menerima nasib buruknya begitu saja. Shiver ingin mengakhirinya sekarang juga.Sesampainya di tempat tujuan tempat anak-anak biasa berkumpul, Shiver mendapati kolam kebahagiaannya terpancar dari sana. Mungkin, selama waktu telah berjalan, mereka telah berubah. Barangkali di masa kini, Shiver akan diterima."Hai, boleh aku ikut bergabung?" batin Shiver berucap. Belum benar-benar diucapkan, melainkan masih sebatas angan-angan di kepala.Meski begitu, keberadaan Shiver tetaplah kentara. Kumpulan pasang mata berbalik menghadap Shiver. Shiver terpaku. Ada rasa sakit yang ia tidak mengerti, hadirnya selalu muncul di dalam sana. Tatapan yang diterimanya saat ini, bukanlah tatapan yang menyenangkan. Shiver tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."Jelek sekali? Siapa manusia es batu itu?""Aku tidak menyukainya.""Dia sangat berbeda dari kita semua.""Kutukan Nenek Sihir? Dia pasti melakukan sesuatu yang sangat buruk!""Menyusahkan! Lebih baik pergi saja!""Iya, pergi yang jauh sekalian!"Mendengar banyaknya untaian kata yang menyusun kalimat penuh lara, Shiver menggenggam kedua tangannya erat. Ia tidak membalas. Sebaliknya, ia menuruti permintaan mereka semua. Bedanya, kali ini ia tidak kembali ke rumah. Ia benar-benar pergi jauh sekali melewati perbatasan kampung halamannya."Aku tidak akan pernah bisa bahagia," ucap Shiver di sela-sela pelariannya. Kutukan tentu tidak mengingkari janji. Tubuhnya tidak mampu lagi menahan padatnya kepingan es yang meninggi. Air mata Shiver terus bercucuran, rasa sakit itu tidak bisa ia lupakan."Sampai di sini." Pada akhirnya, Shiver tidak bisa melanjutkan perjalanan. Ia menggigil berat. Terjatuh begitu saja di tengah hamparan salju entah sejauh mana ia telah berkelana.Di penghujung sisa-sisa waktu terakhirnya, Shiver mendongakkan kepala mengamati bola air berbentuk kapas yang melayang di udara. Shiver pikir, setidaknya jika ia menghilang hari ini, cukuplah keberadaannya ditemani kerumunan salju berwarna putih."Hei! Kau tidak apa-apa?"Shiver tersentak. Ada seseorang yang berusaha menopangnya dari belakang."Kau bisa mati jika menyerah di sini. Ayo, ikut aku!" ujarnya menggendong Shiver secara sukarela.Shiver terperanjat. "Kenapa kau menolongku?" Sedikit rona kehangatan muncul dari dasar hatinya."Kenapa? Bukankah sudah seharusnya sebagai sesama makhluk hidup, kita perlu saling menolong?" jawabnya terhadap Shiver. "Apa yang kau lakukan di tengah badai salju seperti ini?""Aku sedang mencari seorang teman," balas Shiver kepada sang penyelamat."Teman?""Iya, teman. Aku butuh teman untuk saling berbagi kisah mengenai kebahagiaan."Sang penyelamat termenung. Ia terus membawa Shiver menuju gubuk tempatnya tinggal. Sembari menyalakan api unggun dan memberi Shiver pakaian berjahit tebal, ia menyambung percakapan. "Aku bisa menjadi temanmu.""Hm ... tapi kita adalah dua orang asing yang tidak saling mengenal.""Kalau begitu, ayo, saling berkenalan." Sang penyelamat tersenyum."Kau tidak takut dengan penampilanku yang seperti ini?" Shiver memindai perawakannya yang tampak sangat kacau. "Di sisi lain, banyak yang bilang aku membosankan."Sang penyelamat duduk mendekati Shiver. "Aku tidak percaya kata orang-orang. Sebagian besar dari mereka, hanya terpaku pada apa yang terlihat di luar. Buta sebelum menilik ke arah dalam." Ia mengucapkan hal tersebut dengan lugas. "Aku ingin memastikan, bahwa aku bukanlah salah satu dari orang-orang itu. Oleh karenanya, mari kita berteman. Aku yakin, kau pun tidak seburuk apa yang dibicarakan orang-orang."Untuk pertama kalinya, Shiver menemukan sesosok manusia yang mau menerimanya begitu sempurna. Tak terasa, balok-balok es yang menutupi tubuhnya mulai mencair sebagaimana hatinya pun menghangat. Bukan dari panasnya api unggun, bukan juga dari pakaian berjahit tebal, melainkan berdasar atas kebaikan sang penyelamat."Baik, mari kita berteman." Shiver tersenyum ceria. "Akan kupastikan, aku tidak seburuk apa yang dibicarakan orang-orang."Hari itu, sebuah kutukan kejam yang diberikan Nenek Sihir pun terangkat dari kelamnya jiwa Shiver. Selama terjadinya, Shiver telah banyak menderita sebab orang-orang enggan mengenalnya sebelum memulai. Bahagianya bergantung pada penilaian massa. Namun, berkat keajaiban sang penyelamat, Shiver percaya, waktu akan terus memberikan kesempatan untuknya menemukan seseorang yang tepat.Shiver hanya perlu terus mencari. Pula memercayai, suatu saat nanti layaknya hari ini, akan ada masa di mana dunia kembali membagi hangatnya pertemanan yang turut menyertai.

PUTRI TIRTA WUNGU
Fantasy
19 Jan 2026

PUTRI TIRTA WUNGU

"Oalah ... ndableg! Sulit sekali dibilangi. Jelas-jelas dilarang memancing dan memakan ikan dari goa itu, kenapa si Rinto itu masih kekeh, sih? Kan, ngadep Gusti Pangeran sekarang. (Oalah ... bebal !) "Aku mendengar orang-orang mulai bergosip soal kematian Pakde Rinto malam kemarin. Pakde Rinto adalah warga di desa kami, semalam ia ditemukan meninggal setelah mengonsumsi ikan yang ia tangkap di Goa Tirta Wungu. Goa tersebut terletak di desa kami, tepatnya di area hutan selatan, salah satu hutan mistis yang sering dijadikan tempat untuk persembahan. Konon katanya, di hutan itu juga terdapat banyak hewan buas dan hal-hal yang menyeramkan. Ibu selalu menakutiku soal itu." Eee ... mboh Yu, lak yo mesakne anake iseh cilik-cilik kae? Wonge ki ancene ngeyelan, wes dindari karo wong-wong , tapi ora digatek. (Entahlah, Mbak, kan, kasihan dengan anaknya yang masih kecil-kecil. Orangnya memang suka ngeyel, sudah dikasih tahu , tapi tidak dihiraukan.) "Aku memeras kain yang baru saja kucuci. Aku memang sedang berada di kali Wungu untuk mencuci pakaian. Sudah menjadi rutinitas setiap pagi, para warga di desa ini juga melakukan hal yang sama. Desa kami adalah Desa Tirta Wungu, letaknya ada di Pulau Jawa bagian timur. Mayoritas warga di sini bekerja sebagai petani tebu. Dulunya, kami menanam padi, tapi semenjak Pemerintah Hindia Belanda menetapkan sistem tanam paksa, sebagian besar dari petani di sini harus menanam tebu, termasuk bapakku. Memang tidak semua lahan, tapi karena warga desa ingin mendapatkan aman, mereka memilih untuk menjadi petani tebu seutuhnya."Muning, enggak pulang, toh , Nduk? Sudah siang ini, loh." Yu Sari membuat pemikiranku buyar, aku lalu mendongak, melihat wajahnya yang sudah dipenuhi keriput di sudut-sudut matanya."Bentar lagi, Yu. Aku masih ada sisa satu kain lagi."" Yowes, Nduk, tapi jangan lama-lama, loh, ya, cepat pulang. Keburu ada kompeni lewat," katanya seraya khawatir."Iya, Yu. Duluan saja.""Hmm, aku pulang dulu, yo. Salam kanggo ibumu.""Iya, Yu Sari."Sepeninggal Yu Sari, aku buru-buru menyelesaikan sisa cucian yang belum selesai. Yang dibilang Yu Sari memang ada benarnya, para pegawai Pemerintah Hindia Belanda itu sering datang ke desa kami, lalu biasanya akan mengambil beberapa gadis untuk dijadikan pasangan. Biasanya, mereka akan dipanggil Nyai. Anak-anaknya akan menjadi peranakan Indo-Belanda dan sebagian dari mereka selalu merasa tinggi derajatnya dibanding kami para kaum pribumi. Walau sejatinya, para Belanda Totok tidak pernah mengakui mereka sebagai kaum Eropa.Oh, perkenalkan ... aku adalah Kemuning. Hanya Kemuning, tidak ada nama panjang. Biasanya, orang-orang akan memanggilku Muning atau Ning. Tahun ini aku berusia lima belas tahun. Di Desa Tirta Wungu, anak-anak seusiaku sudah banyak yang menikah, termasuk teman baikku—Arum. Ia dijadikan pasangan oleh seorang pegawai Pemerintah Hindia-Belanda dan dibawa ke kota. Sampai saat ini, tidak ada yang tahu bagaimana kabarnya, hubungannya dengan keluarga juga telah diputus. Arum dianggap telah mati sejak hari itu. Memang begitu kenyataannya, terdengar menyedihkan bukan?"Ayo, pulang. Bantu Ibu masak," ibuku berteriak dari tepi kali."Iya, Bu. Sebentar."Aku mengambil bakul yang kujadikan tempat untuk menampung beberapa pakaian yang kucuci, lalu berjalan mendekati Ibu yang sudah menunggu."Bu, tadi aku mendengar soal Goa Tirta Wungu. Aku jadi penasaran, kenapa ikan-ikan di goa itu tidak boleh dimakan?"Ibu menghela napasnya, kami berjalan bersisian, menyusuri jalanan yang dipenuhi lumpur sehabis hujan semalaman suntuk. Ibu hanya diam, belum menjawab pertanyaanku, sementara itu beberapa orang yang bersinggungan dengan kami, melempar senyum atau sekadar menyapa."Kau mau tahu ceritanya?"Aku mengangguk dengan antusias. Sudah lama sekali aku penasaran, tapi setiap kali kutanya pada Ibu dan Bapak, mereka selalu bungkam. Tidak pernah mau menjawab atau bercerita soal Goa Tirta Wungu."Nanti akan Ibu ceritakan, setelah kau membantu Ibu memasak. Bagaimana?""Ayo, segera memasak kalau begitu, aku tidak sabar." Aku sangat antusias dan segera mempercepat langkah kakiku, mendahului Ibu.***Tirta Wungu Sekartadji berlari tak tentu arah, gadis hampir berusia lima belas tahun itu lari tunggang langgang saat dikejar oleh prajurit kerajaan. Putri Tirta Wungu terancam hukuman penjara oleh ayahnya sendiri. Ibu tirinya, Kanjeng Ratu Batari Dewi telah melemparkan fitnah keji padanya. Tirta Wungu dituduh telah membunuh adik tirinya sendiri, anak dari Ratu Batari, padahal kala itu Tirta Wungu hanya mencoba menyelamatkan adiknya Pangeran Seno Adhiyaksa yang tergelincir ke jurang saat mereka tengah bermain bersama.Napas sang putri hampir putus rasanya, ia masuk ke tengah-tengah hutan belantara yang jarang terjangkau oleh penduduk sekitar. Tirta Wungu tidak tahu apakah ia bisa selamat setelah ini, yang ada di pikirannya hanya lari dan mencari keselamatan."Tirta ... berhentilah di depan batu besar itu. Berdiam diri di sana, Ibu akan menolongmu."Suara itu ... Tirta Wungu tidak asing dengan suara-suara yang terus menghantui isi kepalanya. Suara itu sering ia dengar saat ia sedang terdesak karena sesuatu, atau saat ia sedang bermuram durja. Tirta Wungu tidak tahu siapa pemilik suara yang selalu memanggil dirinya ibu. Apakah benar itu ibunya? Tapi ... mana mungkin? Bukankah ibunya sudah meninggal sejak ia lahir ke dunia?"Tirta Wungu, segera ... cepatlah."Bisikan itu lagi. Tirta Wungu merasa tidak punya pilihan, gadis itu mempercepat langkahnya dengan sisa tenaga yang ada. Menuruti perintah dari suara tanpa tuan yang mampir di indra pendengarannya, Tirta Wungu lalu berhenti di sebuah batu besar yang ada di depannya. Batu itu tampak seperti batu biasa, dipenuhi lumut berwarna hijau kekuningan, ada beberapa semak belukar di sisi bawahnya. Tirta Wungu memejamkan matanya sejenak, ia mengumpulkan sisa kekuatan yang ada, tubuhnya gemetaran, Tirta Wungu sangat takut bahwa ini hari terakhir ia hidup."Tirta ... bukalah matamu, Nak."Tirta Wungu terkejut bukan main, ketika ia membuka mata, gadis itu menemukan sosok wanita berbaju biru tua tengah tersenyum padanya. Wanita itu sangat cantik, matanya berbinar-binar, dengan bibir semerah darah yang tampak alami. Selendang berwarna senada membalut tubuhnya yang semampai. Tirta Wungu tidak pernah menemui wanita secantik sosok yang ada di depannya ini. Aromanya juga sangat harum, wangi, dan segar seperti tetesan air di atas tanah kering."Si—siapa? Aku di mana?"Wanita itu tersenyum, membuat Tirta Wungu sedikit tenang. "Perkenalkan Tirta Wungu, aku adalah Dewi Anahita, ibumu.""Bagaimana bisa? Ibuku sudah meninggal." Tirta Wungu tersentak, ia benar-benar terkejut dengan kehadiran wanita yang mengaku ibunya itu."Aku masih hidup anakku, aku mengawasimu dari jauh. Jika kau mendengar suara-suara yang ada di kepalamu, itu adalah aku.""Lalu kenapa Ayah bilang ibuku sudah meninggal?"Dewi Anahita tersenyum, ia berjalan mendekat, mengelus rambut panjang milik Putri Tirta Wungu yang tampak berantakan karena tadi berkejaran dengan prajurit istana."Aku dan ayahmu, Baginda Raja Sri Adji Bratawirya, bertemu saat beliau melakukan pertapaan di salah satu pantai di daerah selatan. Aku adalah salah satu dari pemilik kerajaan di pantai selatan. Di sana ada banyak kerajaan, termasuk kerajaanku. Singkatnya, kami jatuh cinta dan memutuskan untuk bersama, hingga akhirnya kau terlahir."Tirta Wungu terdiam, ia berusaha mencerna perkataan Dewi Anahita. "Kau serius? Masih sulit kupercaya.""Kau boleh saja tidak percaya, tetapi di dalam dirimu tersimpan kekuatan yang hebat, yang mungkin akan kau lihat sebentar lagi. Kau adalah anakku, Tirta Wungu Sekartadji.""Lalu kenapa I—bu meninggalkanku?"Ada senyum sedih yang menghiasi wajah sang Dewi. Wanita itu tampak menarik napasnya sebelum melanjutkan perkataannya, "Ibu terpaksa, sang Penguasa Alam Semesta tidak menghendaki manusia biasa seperti ayahmu dan Ratu dari Kerajaan Pantai Selatan sepertiku untuk bersama dan aku juga tidak bisa membawamu karena saat itu kau masih manusia biasa. Nanti, di usia lima belas tahun, kau bisa memilih untuk menjadi sepertiku atau tetap menjadi manusia biasa seperti ayahmu.""Maksud Ibu, aku punya pilihan untuk itu?""Iya, anakku. Kau Tirta Wungu, terlahir saat ombak sedang besar di lautan, saat badai sedang menghantam bumi dan saat bulan sedang terang di atas langit. Kau adalah sumber kekuatan besar, terlalu banyak orang yang mengancam, sehingga selama ini aku dan ayahmu harus menyembunyikanmu, Nak."Tirta Wungu tertunduk menyedihkan, ia menekuri tanah berbatu yang sedang ia pijak, tak sadar bahwa dirinya saat ini ada di dalam sebuah goa yang indah. Goa yang dipenuhi oleh ukiran-ukiran bebatuan cantik yang membentuk seperti selendang yang panjang."Tapi, kenapa Ayah ingin membunuhku sekarang?"Dewi Anahita tersenyum tipis, ia menggenggam tangan Tirta Wungu erat. "Anakku, manusia biasa tidak akan pernah bisa benar-benar bijak. Seperti ayahmu, beliau mengingkari janjinya pada Ibu untuk menjagamu. Ayahmu berubah, ia lupa untuk bersyukur dan tidak lagi memedulikanmu, kekuasaan jugalah yang membuatnya berubah.""Lalu, apa yang harus kulakukan?""Tirta, kau tunggulah di sini. Ibu akan menyediakan banyak makanan dan keperluan untuk kehidupanmu sampai kau berusia lima belas tahun, hanya tinggal beberapa waktu. Tidak akan lama. Setelah itu, ikutlah Ibu pulang ke istana Ibu. Ibu yang akan merawatmu, Anakku.""Tapi, aku tidak berani di sini sendiri Ibu. Lihatlah tempat ini."Dewi Anahita tertawa pelan. "Ibu akan mengirimkan satu dayang untuk bersamamu, tapi ingat, jangan biarkan banyak orang melihatnya, atau ia akan menghilang.""Sungguh?"Dewi Anahita mengangguk. "Tentu. Ibu akan pastikan itu.""Dan ... goa ini?""Goa ini akan menghubungkanmu dengan istana Ibu, goa ini sangat panjang dan besar, Tirta. Ini semua milik Ibu, kau tidak perlu khawatir.""Baiklah, aku akan menuruti perkataan Ibu.""Ibu tahu kau anak yang baik."***Hari berganti hari, awalnya Tirta Wungu cukup sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan goa yang lembab. Namun, kini ia mulai terbiasa. Apalagi keberadaan Dayang Winarsih sangat membantu, Tirta Wungu merasa lebih damai hidup di dalam goa ini ketimbang saat ia berada di istana. Karena jujur saja, keberadaannya memang tidak disukai oleh ibu tirinya."Dayang Winarsih, aku akan berjalan-jalan sebentar. Kau tunggulah di sini.""Tapi Putri Tirta, hamba ditugaskan menjaga Anda, dan hamba harus mengikuti Anda ke mana pun Anda pergi.""Tidak, hanya sebentar. Aku ingin mencari beberapa buah untuk kumakan, hanya di sekitar goa ini, tidak akan lama. Aku akan marah kalau kau mengikutiku," Tirta Wungu mengancam, membuat Dayang Winarsih mau tak mau menurutinya."Baiklah, Putri."Tirta Wungu lalu berjalan, meninggalkan goa itu sambil tersenyum lebar. Ia sudah tahu cara keluar dari goa, setelah Dewi Anihita memberitahu caranya. Mata sang putri menelusuri beberapa pepohonan, mencari keberadaan buah-buah liar yang tumbuh di sekitar goa. Namun, tiba-tiba ia mendengar suara-suara berisik yang membuatnya waspada. Suara tangisan seseorang, tidak salah lagi. Ia lalu mencari sumber suara itu."Hei, kenapa kau di sini?" panggilnya pada seorang gadis seusia dirinya, Tirta Wungu menemukan gadis itu sedang berlari ketakutan."Siapa kau?""Aku Tirta, kau sedang apa di sini?""Aku tersesat, aku sedang mencari buah-buahan dan tersesat sampai ke dalam hutan ini karena tadi aku melihat burung yang sangat cantik masuk ke dalam hutan.""Aku tahu jalan keluar, kau mau kuantar?" Tirta Wungu menawarkan bantuan."Kau bersungguh-sungguh?""Ya, tapi siapa namamu?""Nara, panggil aku Nara.""Baiklah, Nara ... apa kau lapar?"Nara menunduk malu, sejujurnya ia sangat kelaparan, sejak tadi pagi ia belum makan. "Hm, iya.""Kau mau mampir ke rumahku?""Rumah?""Ya, kau akan tahu.""Baiklah kalau kau tidak keberatan."Tirta Wungu tersenyum lebar lalu mempersilakan Nara untuk masuk ke dalam goanya, sambil menceritakan sedikit mengenai dirinya yang seorang putri raja. Entah mengapa, Tirta sangat percaya pada Nara, padahal baru saja mereka bertemu."Jadi, kau adalah sang putri yang hilang?""Ya, tapi kumohon, jangan ceritakan pada siapa pun bahwa aku ada di sini."Nara menggeleng yakin. "Tidak, aku akan menjaga keberadaanmu. Jangan khawatir."Tirta tersenyum lebar, ia merasa senang dengan keberadaan Nara karena memang ia sudah merasa sangat kesepian beberapa bulan ini."Putri Tirta, berhati-hatilah terhadap orang asing," nasihat Dayang Winarsih saat ia melihat keakraban Tirta dan Nara."Aku percaya pada Nara, jangan khawatir.""Hamba hanya takut akan ada hal yang membahayakan Anda, Putri.""Kau, tenanglah, Dayang. Dan, kau Nara ... kau bisa main ke sini kalau kau mau, aku akan dengan hati menerimamu, lalu ... oh ya, bawalah makanan ini untuk keluargamu."Nara memandang Putri Tirta dengan penuh haru, gadis berpakaian sederhana itu tak pernah mendapatkan kebaikan sebanyak yang Putri Tirta berikan. "Terima kasih, Putri. Ibuku memang sedang sakit dan aku tadi mencarikannya buah-buahan untuk ia makan. Terima kasih atas kebaikan hatimu.""Tidak masalah, sekarang ... pulanglah sebelum petang. Mari kutunjukkan arahnya."Nara bangkit dari duduknya, gadis itu mengucapkan terima kasih kepada Putri Tirta dan Dayang Winarsih karena mau menyelamatkannya. Nara berjanji akan menjaga rahasia sang putri rapat-rapat.***Sejak saat itu, Nara dan Putri Tirta sering bertemu. Tiga hari sekali mereka akan bermain bersama di sekitar goa dan sampai saat ini Putri Tirta masih aman, ia masih belum ditemukan oleh pasukan kerajaan. Nara menjaga rahasianya dengan baik. Meski sebenarnya sang putri sedih karena beberapa hari lagi ia akan berusia lima belas tahun dan harus meninggalkan goa itu untuk pergi ke istana Dewi Anahita."Penyakit Ibu semakin parah, tapi aku tidak punya uang untuk pergi ke tabib," Nara bermonolog, ia bingung bagaimana harus mengobati ibunya."Nara, kau tahu ... ada sayembara untuk mencari keberadaan sang putri. Dan yang mengetahuinya, akan diberi satu peti emas sebagai imbalan. Bagaimana kalau kita ikut? Kau bisa mengobati ibumu dan aku bisa membeli pakaian bagus untukku." Kenanga—temannya memberi tahu Nara mengenai sayembara yang dilakukan oleh pihak istana."Tapi, bagaimana caranya? Mencari sang putri? Terdengar mustahil," kata Nara mengelak, meski ia mengetahui keberadaan Putri Tirta."Ayolah Nara, kita usahakan saja dulu.""Hmmm ... akan kupikirkan." Nara menarik napasnya sedih. Haruskah ia mengkhianati persahabatannya dengan Putri Tirta? Namun, ibunya juga membutuhkan pertolongan.Nara terus memikirkan soal sayembara itu, ia bimbang antara mengingkari janjinya pada sang putri atau menyelamatkan ibunya. Namun, Nara hanya manusia biasa, ia tidak bisa terus menerus melihat ibunya menderita. Nara menghela napasnya berat. Keputusan sudah ia ambil, Nara tidak memiliki pilihan lain. Hari itu juga, ia pergi ke istana, melaporkan pada prajurit istana tentang keberadaan sang putri yang bersembunyi di dalam goa. Berulang kali, Nara meminta maaf pada sang putri dalam hati, berharap sang putri bisa memberi pemakluman padannya."Kau yakin, di ada di sana?""Ya, tentu saja," kata Nara yakin."Tapi di sana hanya batu biasa," kata salah seorang prajurit tidak percaya dengan perkataan Nara."Kau tunggulah di sini, aku akan memanggilnya.""Awas kalau kau berbohong.""Tidak, percayalah padaku."Nara lalu berjalan menuju goa, ia bahkan sudah tahu cara masuk ke dalam goa karena Putri Tirta telah memberitahunya. Berkali-kali Nara harus menghela napasnya, saat bertemu sang putri, Nara merasa sangat bersalah."Nara, aku merindukanmu.""Aku juga, Putri."Putri Tirta tersenyum. "Ayo, kita bermain lagi.""Bagaimana kalau kita mencari pisang?" Nara memberi penawaran dan Putri Tirta mengangguk dengan antusias.Mereka lalu memutuskan untuk keluar dari dalam goa, dan saat itulah pasukan prajurit telah mengepung sang putri yang tampak terkejut, tidak menyangka bahwa ia akan tertangkap."Nara ...," lirihnya pelan."Maafkan aku, Putri. Ibuku sedang sakit dan aku membutuhkan biaya untuk pengobatan.""Apa, Nara? Kau bahkan tidak pernah meminta bantuanku, padahal kita adalah teman.""Maafkan aku, Putri, sekali lagi maafkan aku.""Kau mengkhianatiku! Dayang Winarsih," teriak sang putri membuat Dayang Winarsih datang tergopoh-gopoh dengan wajah paniknya."Sampaikan pada Ibu bahwa aku menyayanginya. Maaf sudah tidak mempercayai perkataanmu.""Putri, hamba akan meminta bantuan pada Kanjeng Dewi.""Tidak perlu, ini adalah risiko yang harus kuterima.""Diamlah, Putri, mari ikut kami ke istana, Raja akan segera memberikan hukuman pada Anda karena Anda telah membunuh Putra Mahkota."Hati Putri Tirta terasa perih, fitnah dan pengkhianatan telah terlampau keji untuknya. Dayang Winarsih tiba-tiba menghilang, Putri Tirta hanya pasrah, meski kemarahan dan rasa sakit hati terasa sesak memenuhinya. Teringat perkataan Dewi Anahita tempo hari tentang keberadaan Dayang Winarsih."Ibunda Ratu telah memfitnahku, Ayahanda tidak lagi menyayangiku, dan sahabatku juga melakukan hal yang sama. Bukankah dunia ini tidak adil?" Putri Tirta berteriak kencang.Ia marah pada ayahnya, pada sang ibu tiri, ia juga kecewa pada Nara. Rasa amarah dan dendam itu menyelimuti dirinya, membuat hawa panas mulai terasa. Sang Putri lalu berteriak kencang, otot-otot tubuhnya mengencang, rambutnya tiba-tiba bertambah panjang, menjadi warna perak yang berkilau, pakaian yang ia kenakan menjadi warna ungu yang berpendar-pendar. Sang Putri telah kehilangan kendali.Angin kencang melanda hutan dan kerajaan ayahnya, memorakporandakan bangunan. Air dari lautan tiba-tiba menenggelamkan daratan di sekitar. Nara, para prajurit, dan penghuni istana telah tenggelam. Kecuali goa itu, hanya goa itu yang terselamatkan. Goa tempatnya berlindung selama ini, tempat paling aman yang bisa dijangkau oleh sang putri."Kalian akan menerima akibat karena telah melakukan kejahatan, aku bersumpah, barang siapa yang mengambil apa pun dari dalam goa itu, ia akan celaka."Angin menerbangkan tubuh sang putri ke dalam goa. Putri Tirta menghilang dan tidak lagi ditemukan oleh siapa pun. Sejak saat itu, goa tempat sang putri mengalirkan air hingga membentuk sungai sepanjang area hutan dan kerajaan. Sungai itu kemudian dikenal dengan nama Sungai Wungu dan Goa itu dinamai sesuai nama sang putri, Goa Tirta Wungu yang sangat cantik dan indah.***"Jadi, begitu ceritanya?" aku bertanya pada Ibu yang baru saja menyelesaikan ceritanya soal Putri Tirta Wungu."Ya, sejak saat itu sang putri dipercaya moksa di dalam goa. Kau harus bisa mengambil pelajaran dari itu semua. Jangan mengingkari janji dan tamak, Anakku."Aku tersenyum lebar lalu menggeleng. "Tidak akan, Ibu. Aku tidak akan menjadi seperti Nara.""Bagus. Sejujurnya, sebelum hamil kamu, Ibu pernah bertemu dengan sosok yang sangat cantik di hutan selatan sana, katanya ... ia bernama Putri Tirta Wungu Sekartadji. Setelah itu, Ibu memilikimu. Kata Mbah Buyutmu, kau adalah titisan sang putri.""Benarkah?""Ya, mungkin saja. Jadilah anak yang suka menolong seperti sang putri, tapi ingat jangan jadi pendendam. Kau harus bisa memaafkan dengan mudah."Aku mengangguk, adat di tempatku memang masih mempercayai hal-hal seperti itu dan aku mencintai budayaku. Aku berjanji akan menjadi anak yang baik, berbakti pada Ibu dan Bapak tanpa harus mengorbankan orang lain, seperti yang Nara lakukan. Untuk Putri Tirta, aku berharap bahwa Putri Tirta bisa bahagia di mana pun ia berada saat ini."Ayo, masuk ke dalam rumah!" Ibu memerintahku untuk masuk."Ya, Bu. Sebentar lagi," balasku.Tiba-tiba ada angin sepoi-sepoi yang membelai tubuhku dan aroma yang harum menyeruak memasuki hidungku. Di ujung pepohonan, aku melihat sosok cantik yang memakai pakaian berwarna ungu, tersenyum manis padaku sambil melambaikan tangan. Benarkah itu Putri Tirta Wungu Sekartadji?

REMY DAN BURUNG GAGAK
Fantasy
19 Jan 2026

REMY DAN BURUNG GAGAK

Remy hanyalah sebutir biji jagung di ladang petani. Dia tinggal dalam bonggol jagung tua yang mulai keras dan mengering di bawah sinar matahari. Semua saudaranya sudah pasrah karena ketinggalan dipanen. Mungkin Pak Tani yang sudah tua, lupa memakai kacamatanya ketika memetik jagung minggu lalu sehingga bonggol jagung itu terlewatkan oleh matanya yang renta.Jagung yang terlalu tua sudah tidak enak dimakan dan tidak akan laku di pasar. Padahal Pak Tani sudah merawat mereka sampai gemuk dan Remy yakin kalau rasa mereka manis dan legit."Sayang sekali, padahal kita enak dibuat jagung rebus.""Atau sayur asem.""Nasi jagung juga sedap."Para biji jagung lain mengeluh. Mereka semakin keras dan berubah kecokelatan.Tidak lama lagi, mungkin musang atau babi hutan akan mengendus dan menggigit mereka. Para biji jagung itu pun akan singgah di perut para hewan yang lapar.Namun, Remy tidak suka. Walau dia hanya sebutir biji jagung yang kecil, dia merasa bisa melakukan hal yang lebih besar. Dia sudah dirawat sepenuh hati oleh Pak Tani dan akan terasa sangat lezat di piring makan para manusia. Kenapa dia harus terlupakan?Seekor anjing penjaga ladang tampak berjalan mendekati pohon jagung tempat Remy tinggal dan mengendusnya."Makan kami! Makan kami!" Para biji jagung itu berkata. Jagung dan tanaman lainnya adalah makhluk hidup dan sesekali berbicara dengan sesamanya. Sayangnya, tidak ada yang bisa mendengar mereka.Anjing ladang itu hanya mengangkat telinganya dan mengabaikan pohon jagung itu."Ah, dia pergi.""Mungkin anjing tidak makan jagung.""Bagaimana ini? Kalau kita sudah semakin tua tidak akan ada yang mau memakan kita."Para biji jagung itu mulai bersedih. Kalau mereka tidak dimakan dan disia-siakan maka mereka akan sangat bersedih. Mereka butuh waktu berbulan-bulan untuk tumbuh di ladang Pak Tani dan tidak mau jadi makanan yang terbuang.Semua makanan seperti jagung dan nasi akan menangis kalau mereka tidak dihabiskan. Mereka tahu kalau banyak orang kelaparan di Afrika dan negara lainnya. Sebutir nasi dan biji jagung saja sangat berharga bagi perut anak yang kelaparan. Namun, kenapa masih banyak anak yang suka membuang makanan? Para anak yang baik seharusnya ambil makanan secukupnya dan habiskan isi piringnya.Remy dan para biji jagung lainnya kini melihat lagi. Ada terwelu yang mengintai mereka. Dia biasanya suka jagung."Makan kami! Ayo makan kami!"Sayangnya, si terwelu merasa pohon jagung Remy terlalu tinggi dan dia pun pergi.Remy dan para biji jagung semakin gelisah. Tangkai mereka akan mengering dan menjatuhkan bonggolnya ke tanah. Kalau hujan turun, mereka bisa membusuk. Kalau cuaca terik, mereka bisa mengering dan menjadi sangat keras untuk bisa dikunyah.Menjadi busuk dan terbuang adalah mimpi buruk setiap makanan.Kemudian mereka mendengar suara keras dari langit. Ada beberapa ekor gagak terbang berputar mencari apa pun yang tersisa di ladang."Makan kami! Makan kami!" Para biji jagung itu berharap.Salah seekor gagak terbang ke arah mereka dan mulai mematuki bonggol jagungnya. Dia makan dengan lahap sebutir demi sebutir dengan suka cita.Para biji jagung itu senang karena bisa bermanfaat mengenyangkan perut gagak yang lapar. Burung gagak itu pun sudah kenyang dan menyisakan Remy. Dia pun akan terbang kembali. Remy tidak suka ini. Dia akan menjadi satu-satunya biji jagung yang terlupakan dan dibuang?"Hei! Makan aku! Kenapa kau sisakan aku?" teriak Remy putus asa.Di luar dugaan, burung gagak itu seperti mendengarnya dan batal terbang."Apa biji jagung ini bicara padaku?" tanyanya bingung."Aku Remy dan aku minta padamu untuk memakanku," katanya."Tapi aku sudah kenyang dan kamu tampak berbeda. Kamu lebih tua dan keras, selain itu warnamu lebih coklat dari yang lain. Kamu tidak akan enak dimakan," si gagak beralasan."Tapi kamu tidak boleh membuangku, aku harus dimakan atau aku akan sangat bersedih karena menjadi biji jagung yang mubazir." Remy menangis."Kasihan, baiklah aku akan membantumu. Mungkin gagak lain bersedia memakanmu."Sang gagak berkaok, kemudian memetik Remy dari bonggolnya dengan paruh kuatnya. Dia lalu mengepakkan sayap hitamnya yang indah dan pergi ke angkasa.Si gagak bertengger di sebuah atap rumah di mana banyak gagak lain bertengger."Hei! Apa ada yang lapar? Aku membawa biji jagung untuk kalian." Gagak itu menawarkan dan meletakkan biji jagung itu di antara mereka."Biji jagung ini sudah terlalu tua!""Paruhku tidak akan kuat memakannya.""Perutku bisa sakit karenanya."Para gagak itu menolak. Remy semakin bersedih. Apakah sudah terlambat baginya? Apakah dia ditakdirkan menjadi biji jagung yang terbuang?Si gagak memungut Remy lagi dan kembali terbang ke angkasa."Jangan cemas, aku akan mencari hewan lain yang mau memakanmu."Remy merasakan angin yang sejuk di sekitarnya. Dia bisa melihat ladang dari langit. Sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Remy bersemangat. Desa ini sangat luas. Pasti ada yang mau memakannya.Si gagak memasuki bangunan mirip gudang dan mematuk pagarnya untuk memberitahu keberadaannya.Remy melihat sekumpulan domba sedang merumput dan mengembik."Ada yang lapar? Aku bawa sebutir jagung untuk kalian," kata si gagak."Jagung? Aku tidak akan kenyang dengan hanya sebutir," kata seekor domba yang berbulu putih."Kami biasa makan jagung dengan bonggolnya. Biji ini akan menyangkut di gigi kami dan mengganggu hari kami." Domba lain pun menolak.Remy bersedih lagi, bahkan para domba itu menolaknya. Dia merasa putus asa dan ingin menyerah saja, tapi gagak itu merasa tertantang dan masih bersemangat untuk membantunya."Tidak usah cemas, aku akan mencari hewan lain untuk memakanmu," gagak itu berkata."Aku akan memastikan mereka menelanmu sebelum aku pergi." Dia meyakinkan Remy lagi.Burung gagak yang cantik itu terbang kembali ke angkasa. Dia berputar-putar ceria untuk menghibur si jagung yang bersedih."Pasti menyenangkan ya terlahir sebagai burung.""Kenapa?""Kau bisa terbang bebas dan melihat pemandangan indah setiap harinya. Sementara aku hanya berdiam di bonggolku dan berharap seseorang akan memakanku," Remy berkata muram."Tidak perlu bersedih, setiap makhluk hidup terlahir dengan tujuan mulia. Kalian para jagung berjasa untuk mengenyangkan perut kami dan memberi kami tenaga untuk bekerja.""Tapi kalau aku menjadi gagak—" Remy ingin membantah."Jadi gagak juga tidak selalu enak.""Kenapa?"Dor!Suara tembakan senapan angin terdengar. Remy memekik kaget dan sang gagak terbang panik menjauh. Hampir saja tembakan itu mengenai sayapnya. Si gagak bersembunyi ke balik daun pohon yang rimbun menunggu aman."Lihat, kan, sekarang? Menjadi gagak juga tidak selalu enak. Kami dianggap hama dan sesekali para manusia akan memburu kami dengan senapan atau racun," kata si gagak.Dua makhluk itu melihat langit berubah kemerahan pertanda hampir waktunya petang."Pada jam ini, para istri petani akan memasak makan malam," kata si gagak."Kenapa memangnya?""Aku punya rencana. Ayo, ikut aku!"Si gagak memungut Remy lagi dan terbang ke rumah Pak Tani.Di sana mereka melihat Pak Tani duduk di teras dengan memakai sarung sambil memakan singkong rebus dan membaca koran. Ada segelas kopi di dekatnya yang masih mengepulkan asap.Si gagak terbang diam-diam ke jendela dapur. Dia bisa melihat kalau istri Pak Tani sudah menggoreng tempe dan sedang mencuci lalapan. Ada aroma sambal terasi yang digoreng serta ikan asin yang sedap.Burung gagak itu menyelinap ke dapur dan diam-diam bersembunyi di balik rak piring. Dia mencoba tidak bersuara dan berhati-hati karena Bu Tani bisa saja kaget melihatnya dan memukulnya dengan cobek.Si gagak menaruh Remy diam-diam di Periuk nasi. Istri Pak Tani sudah menakar beras dan akan mencucinya. Si gagak berpikir kalau sebutir jagung itu akan lolos dan dimasak bersama nasi dan dimakan bersama keluarga Pak Tani.Istri Pak Tani yang sudah selesai masak lauk kini mau mengolah nasinya. Dia menyalakan air keran dan mulai mencuci berasnya sambil bersenandung. Dia mengaduk berasnya dan membuang airnya lalu menyiramnya dengan air lagi. Dia melakukannya berulang kali sampai airnya tidak lagi terlalu keruh."Apa ini? Kenapa bisa ada biji jagung di periuk nasiku?" keluh istri Pak Tani.Remy ketahuan!Istri Pak Tani melempar Remy si biji jagung yang sudah basah keluar jendela.Si gagak bersuara prihatin mengetahui Remy lagi-lagi ditolak. Dia gagal mengisi perut keluarga petani. Dia merasa sial dan tidak berguna.Biji jagung itu menangis."Mungkin aku tidak ditakdirkan untuk dimakan," keluhnya."Jangan bersedih, masih ada waktu.""Kau tidak lihat? Tubuhku sudah basah dan aku akan membusuk esok pagi," Remy mengeluh."Tidak! Tidak! Aku sudah berjanji padamu, aku tidak akan membiarkanmu membusuk," kata si gagak tegas dan sekali lagi memungut Remy dan terbang ke langit."Mau ke mana?""Tidak ada yang mau memakanmu karena kamu sudah terlalu tua dan keras, tapi aku pernah melihat biji jagung sepertimu di kantong Pak Tani. Aku pernah melihat Pak Tani melakukannya, mungkin itu akan membuatmu kembali empuk dan enak dimakan," si gagak bercerita."Maksudnya apa?""Apakah kamu percaya padaku?" tanya si gagak."Kamu sudah membantuku sampai sini, aku akan terus mempercayaimu, Tuan Gagak," sahut Remy tulus."Baiklah, ini tempatnya. Tanahnya gembur seperti ladang Pak Tani. Aku akan menggali di sini."Gagak dan Remy tiba di pekarangan rumah seseorang. Si gagak meletakkan Remy dan mulai menggali lubang dengan paruhnya. Dia lalu memasukkan Remy ke dalamnya."Pak Tani melakukan ini pada biji-biji jagung yang tua. Mungkin ini akan membuatmu kembali enak dan empuk."Gagak adalah burung yang cerdas. Malah dia katanya bisa berhitung karena itu si gagak bisa meniru apa yang dilakukan oleh Pak Tani. Gagak menanam Remy di bawah tanah yang subur kemudian menyiramnya dengan air yang dibawanya menggunakan gelas plastik yang ditemukannya di tempat sampah.Remy hanya melihat kegelapan di sekitarnya. Rasanya hangat dan sesekali dia merasa dingin pada tubuhnya. Dia tahu kalau si gagak selalu berkunjung setiap harinya untuk menyiram tanahnya. Dia bersyukur punya teman seperti sang gagak yang tidak ingkar pada janjinya.Dalam beberapa hari, Remy merasa gatal pada tubuhnya. Kemudian dia menyadari kalau akar mulai muncul dari bawah tubuhnya. Remy yang hanya sebutir jagung kini bisa menghisap nutrisi tanah dengan kakinya yang berakar.Dia merasa semakin besar dan dirinya terbelah. Ada dua helai daun jagung muda tumbuh darinya. Tubuhnya semakin memanjang dan mendesak tanah di atasnya.Remy pun muncul ke permukaan tanah dan kembali melihat cahaya."Aku tumbuh! Aku menjadi pohon jagung!"Remy si pohon jagung kecil sangat bahagia. Walaupun dia gagal dimakan. Dia lebih bersyukur karena berkat bantuan si gagak dia malah menjadi pohon jagung.Remy mendengar suara kepak sayap si gagak dan melihatnya membawa air."Hei gagak! Ini aku, Remy!" serunya ceria."Remy? Bukan. Temanku itu adalah sebutir biji jagung. Dia berada di bawah tanah.""Iya, itu aku. Aku kini tumbuh menjadi pohon jagung. Terima kasih wahai gagak. Semoga Tuhan akan membalas budimu suatu hari nanti," kata Remy penuh syukur."Sesama makhluk hidup memang harus saling membantu. Sampai kamu tumbuh besar dan kuat aku akan terus memberimu air," kata gagak turut senang.Empat bulan sudah berlalu sejak saat itu. Si gagak menanam Remy di rumah dua orang anak yatim yang girang karena sebatang pohon jagung tumbuh dengan misterius di rumah mereka.Ketika waktunya panen, para yatim itu memetik semua bonggolnya yang ranum dan memasaknya.Remy si pohon jagung sangat bahagia karena dia bisa berguna bagi kehidupan para anak yatim itu. Hidupnya yang singkat akan segera berakhir karena dia merasa kalau daunnya mulai kering dan batangnya semakin rapuh. Jagung adalah tanaman yang akan segera layu jika sudah dipanen."Sudah mau pergi, sahabatku?" si gagak bertanya pada Remy yang hampir layu."Sebentar lagi, Gagak. Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"Si gagak berkicau senang dan menunjukkan isi paruhnya bangga. Remy si pohon jagung melihat sebutir biji jagung tua dan keras di paruhnya."Aku membawa sebutir biji dari bonggolmu dan akan kembali menanamnya. Tidurlah yang tenang Remy. Hidupmu bermanfaat dan para anak yatim itu tidur dengan perut kenyang berkat dirimu. Berbangga dan bersyukurlah," kata si gagak tatkala Remy si pohon jagung berubah layu untuk selamanya.Sebagai makhluk hidup, kita pernah mengalami kesusahan hidup. Apa yang kita harapkan belum tentu terwujud dan terpaksa harus kita relakan, tapi kita mungkin akan bertemu orang baru yang bisa menuntun diri kita pada takdir yang lebih baik. Percayalah kalau kegagalan bisa berubah menjadi kesuksesan jika kita tetap berusaha dan berdoa.Selalu habiskan makanan di piringmu dan jangan menyia-nyiakannya, ya, karena mereka akan bersedih kalau tidak dimakan.

RIAN DAN PENYU
Fantasy
19 Jan 2026

RIAN DAN PENYU

Sepanjang akhir pekan ini, Rian diajak ayahnya untuk menghabiskan waktu di pantai. Ke rumah kakek dan neneknya yang selama enam bulan belum dia temui. Sejak sudah dekat, Rian tak mampu memalingkan matanya dari pemandangan air laut yang memantulkan matahari hangat berkelap-kelip. Kedua tangan menempel di kaca mobil dengan wajah tak mampu menahan rasa sabar.Begitu saat mobil ayahnya sampai di ujung aspal, Rian cepat-cepat turun dan berlari di atas pasir menuju rumah kakeknya yang di bagian teras hanya ditopang oleh tiang-tiang kayu.Baru saja Rian ingin menaiki tangga, kakeknya bersamaan keluar, sembari memakaikan kepalanya sebuah topi nelayan berwarna hijau yang biasa dipakainya jika ingin ke laut agar terlindung dari panas."Kakek!" Rian langsung melesat dan memeluk kakeknya."Eh! Cucu Kakek yang ganteng udah datang!" Rian disambut dengan ramah, pipinya dicubit pelan, dan rambutnya dielus lembut. Kebiasaan kakeknya.Setelah Rian diturunkan barulah terlihat ayah dan ibunya menyusul, naik ke teras membawa barang-barang bawaan. Membuat kakek Rian berkacak pinggang menatap Rian."Lah, kenapa enggak bantu bawa barang, Rian?""Hehe, udah kangen banget pengin ketemu Kakek. Jadi, lupa, deh." Rian menyeringai menahan malu."Enggak papa, Pa. barangnya dikit, kok," balas ayahnya Rian. Kemudian lanjut menyalami tangan Bapak sekaligus kakek dari cucu anak tunggalnya itu."Kirain kalian mau datang hari Minggu. Kan, rumah belum diberesin, makanan juga enggak disiapin. Hari ini juga mau pergi saya.""Enggak papa, kok, Pa. Nanti Neneng bantu Ibu masak." Wanita yang ada di sana, Ibunya Rian menyahut."Kakek mau ke mana? Mau naik kapal, yah?" sambung Rian bertanya."Iya. Udah janji ke Pak Munthu, mau ke penangkaran sore ini.""Rian boleh ikut?!" ucap Rian langsung. Menaruh kedua tangan tanda harapnya."Memang Rian enggak capek habis jalan? Lagian nenekmu ada di dalam, loh, enggak mau ketemu?""Enggak papa, kok, Pa. Lagian pulangnya enggak malam, kan?" tanya balik ayahnya Rian."Enggak. Sebelum magrib pulang, kok. Pak Munthu cuman sebentar.""Udah. Rian boleh ikut. Tapi jangan nakal, ya? Dengar kata Kakek sama Paman Munthu.""Beneran? Yey! Makasih, Yah!" Saking senangnya Rian sampai melompat-melompat dan membuat papan-papan kayu yang menjadi teras rumah kakeknya ikut berderak-derak."Udah, Rian. Ayo, kita pergi! Kapalnya Pak Munthu juga udah siap dari tadi.""Pamit dulu, Bu, Yah." Rian cepat-cepat turun setelah itu, menyusul kakeknya yang sudah turun lebih dahulu.Pak Munthu adalah tetangga dari kakeknya Rian. Dia punya tanggung jawab untuk mengurus penangkaran penyu yang berada di pulau kecil yang jaraknya kurang lebih 20 menit dari pantai. Di atas kapal sudah ada beliau yang sejak tadi sudah menunggu."Pak Munthu!""Pak Alif, eh, ada Rian! Kapan datang?" sahut Pak Munthu."Barusan, Paman," jawab Rian sopan. "Paman, Rian boleh ikut ke penangkaran bareng Kakek?""Eh, boleh. Nanti Rian juga bisa bantu Paman kalau mau.""Asyik! Terima kasih, Paman," ulang Rian lagi kegirangan. Kemudian dia dinaikkan ke atas kapal yang mesinnya sudah berisik sebelum berjalan.Setelah akhirnya tali yang menahan kapal dari tiang dermaga dilepas, Kakek Rian duduk di kursi kemudi untuk menjalankan kapal. Sementara Rian duduk di belakang bersama Pak Munthu. Hingga kapal akhirnya bergerak, angin laut yang selama ini Rian rindukan kembali menerpanya.Dia juga tak akan mampu memalingkan pemandangan di bawah air dangkal yang jernih itu. terlihat banyak batu-batu karang cantik dengan warna-warni seperti pelangi bawah laut. Ikan-ikan yang berenang bersama dengan kapal juga memberikan keindahannya. Sesekali Rian akan menurunkan tangannya dan melambaikan tangan ke makhluk-makhluk laut itu."Paman, nanti di penangkaran mau ngapain?" tanya lagi Rian."Buat mendata. Jadi telur-telur penyu baru menetas. Nanti kita mau hitung ada berapa mereka.""Bayi penyu, ya. Wah! Rian enggak sabar mau lihat. Pasti mereka lucu-lucu," riang kembali Rian. "Kalau Rian pelihara satu boleh?" sambungnya."Haha! Enggak boleh, Nak. Rian tau enggak, kenapa ada penyu yang ditaruh di penangkaran?"Ekspresi Rian kini berubah, menggelengkan kepalanya kebingungan, dan itu membuat Pak Munthu berusaha menahan tawa pelannya, melihat sifat anak-anak yang masih dimiliki cucu sahabatnya."Jadi, penyu sekarang udah terancam punah. Banyak yang mati dan semuanya juga karena ulah manusia. Penyu enggak cuman diburu, tapi lingkungannya juga dirusak. Itu makanya penyu ditaruh di penangkaran, biar mereka terjaga," jelas Pak Munthu. Rian yang paham membalas dengan anggukan, tetapi kini memasang wajah murung."Kasihan banget penyunya. Emang kenapa penyu diburu, Paman?""Ya, buat dipelihara, kayak Rian tadi," jawab Pak Munthu. "Enggak cuman itu, ada juga yang memburu penyu karena mau dimakan.""Hah?! Memangnya ada yang makan penyu. Hih! Emang rasanya enak apa?""Yah, Paman enggak tau, sih," balas Pak Munthu, "tapi Rian coba bayangin. Nanti kalau Rian udah besar, terus anak-anak kayak Rian nanti enggak bisa lihat penyu."Rian mulai terdiam dan semakin murung. Dirinya sendiri juga belum pernah melihat penyu secara langsung dan akan sangat sedih jika beberapa tahun lagi manusia sudah tidak bisa melihat penyu seperti dirinya.Tanpa dia rasa, kapal memelan hingga berhenti. Mereka sudah sampai di pulau tempat penangkaran. Semangat Rian kembali saat dia diturunkan dari kapal dan berjalan bersama kakeknya masuk ke dalam gedung penangkaran yang berada di tengah-tengah daratan.Kembali Rian menemukan keindahan-keindahan makhluk laut di dalam sana. Bukan hanya penyu, di dalam akuarium kaca berukuran besar terdapat ikan-ikan mungil dan kuda laut yang juga belum pernah Rian lihat, dan semua itu tak henti-hentinya membuat Rian terkagum. Tangannya menempel erat di akuarium kaca memperhatikan gerakan lucu dari hewan-hewan kecil itu."Rian, sini," panggil kakeknya. Rian ke sana dan menemukan ada orang lain. "Ini namanya Kak Toni, dia yang bantu Pak Munthu di sini.""Hai, Kak Toni!" sapa Rian."Halo, Rian. Kamu mau kenalan sama penyu-penyu di sini, enggak?""Mau! Mau!" balas Rian semangat.Rian dibawa pergi sedikit lebih ke dalam gedung penangkaran dan menemukan ada tiga penyu besar dalam sebuah kotak yang dialiri air laut."Kak Toni, yang ini siapa?" tanya Rian menunjuk salah satunya."Yang itu Retno. Dia itu termasuk penyu sisik," jawab Toni. Kemudian lanjut memperkenalkan sisanya, "Ini Liana, penyu hijau. Kalau yang itu Dian, dia penyu belimbing. Kemarin telur-telur mereka baru aja menetas. Rian mau lihat?"Rian mengangguk semangat dan kembali di bawa ke akuarium lainnya untuk melihat bayi-bayi penyu yang sudah diceritakan Pak Munthu saat masih dalam perjalanan menuju pulau."Wah, banyak! Kak Toni, penyu-penyu ini bakalan disimpan terus di penangkaran, ya?""Eh, enggak. Nanti semuanya dilepas, kok," jawab Toni. "Di penangkaran mereka cuman sementara aja dirawat. Kalau udah siap, nanti penyu-penyu ini bakalan dikembalikan ke laut, kok.""Oh, Rian kira bakalan disimpan terus. Soalnya mau lihat lagi kalau ada waktu, hehe."Tangan Rian dimasukkan ke dalam sana. Jarinya berusaha mengusap-usap lembut cangkang dari bayi penyu dan sesekali berpindah ke siripnya. Memperhatikan bagaimana saat mereka berjalan pelan di bagian berpasir dan kecepatan berenangnya begitu memasuki air.***Hari-hari menyenangkan dirasakan Rian. Bertemu dengan kakeknya, pergi ke penangkaran, dan melihat banyak sekali bayi-bayi penyu yang lucu. Ingin Rian kembali lagi untuk melihat saat bayi penyu itu dilepaskan ke laut, tetapi Pak Munthu bilang kalau masih ada sekitar beberapa hari lagi sebelum mereka dikembalikan."Gimana, Rian. Senang?" tanya Pak Munthu."Senang, Paman, tapi sekarang Rian lapar. Mau cepat-cepat balik buat makan," jawabnya menyeringai malu."Oh, hahaha! Enggak lama lagi, kok, tapi kalau memang lapar banget, ini ada roti, buat mengganjal."Tanpa mengatakan apa pun Rian mengambil roti dengan selai coklat itu. Membuka kemasan plastiknya dan mulai mengunyah. Tangannya bergerak ke samping dan kemudian membuang kemasan plastik itu ke laut."Eh, jangan!" Seketika Pak Munthu berteriak, mengagetkan Rian yang baru saja menelan makanannya."Rian, plastiknya jangan dibuang ke laut. Laut, kan, bukan tempat sampah," lanjut Pak Munthu.Rian sontak membalikkan kepalanya, tetapi melihat plastik itu sudah jauh darinya, perlahan-lahan mulai tak mampu lagi Rian lihat."M—minta maaf, Paman. Rian enggak tau mau taruh di mana," balas Rian, "t—tapi, kan, cuman satu bungkus. Enggak papa, kan?""Eits! Mau satu pun enggak boleh. Coba bayangin, kalau kamu buang satu sampah ke laut, terus Paman buang satu, terus kakekmu buang satu juga. Jadi, semua orang buang satu sampah ke laut, jadi semuanya menumpuk jadi sepuluh ribu sampah."Rian kembali terdiam mendengar kalimat Pak Munthu itu."T—tapi, Paman. Memangnya kenapa kalau buang sampah plastik ke laut?""Yah, pasti lautnya tercemar. Terus bisa bahaya buat ikan-ikan dan makhluk lain yang tinggal di laut. Bisa bayangin, kalau laut udah tercemar, terus nelayan menangkap ikan di laut. Ikannya, kan, udah enggak bersih." Pak Munthu menjeda sebentar penjelasannya."Terus, kamu tau enggak kalau penyu bisa aja makan plastik kamu tadi?""Hah?! Emang penyu bisa makan plastik?" kaget Rian."Iya. Jadi, sebenarnya penyu makan ubur-ubur, tapi penyu enggak bisa bedain makanannya dengan plastik. Nah, sekarang gimana? Rian udah buang satu, nanti kalau penyu makan terus mati?! Hayooo! "Rian terdiam, bergidik ketakutan. Dia benar-benar tak menyangka kalau satu sampah plastik saja bisa berdampak seperti itu pada laut dan yang tinggal di dalamnya. Pikiran Rian terus dipenuhi dengan kemasan roti yang baru saja dia buang itu, membayangkan ada penyu yang sudah memakannya dan kemudian mati karena ulah Rian.Di sisa perjalanan Rian sudah tidak seperti sebelumnya, bahkan saat sudah sampai di pantai Rian tak lagi mengeluarkan suara yang sama, dia hanya terdiam. Begitu berpamitan dengan Pak Munthu juga hanya melambaikan tangan.Di dalam rumah pun masih sama. Rian bahkan ragu-ragu menyantap ikan yang sudah dimasak ibu dan neneknya tadi. Mendengar cerita Pak Munthu sebelumnya membuat Rian takut dan berpikir kalau ikan itu sudah tercemar sampah plastik di laut. Pada akhirnya, Rian lebih memilih memakan sayur yang sebenarnya tidak terlalu dia sukai.Saat waktu tidur pun Rian masih kepikiran dengan apa yang sudah dilakukannya. Kepalanya dipenuhi dengan bayang-bayang dari penyu-penyu yang ditemuinya hari ini, mati karena memakan sampah plastik. Bayi-bayi penyu itu tidak pernah tumbuh besar karena tidak mengonsumsi makanan yang sebenarnya. Pada akhirnya, malam Rian menjadi panjang, dari kesulitan tidur dan kemudian berujung jadi mimpi buruk.Rian bermimpi sedang berjalan di pantai yang penuh dengan sampah-sampah berbau busuk di sana-sini. Air laut tak lagi berwarna biru, tetapi hitam pekat dan tidak lagi mampu memantulkan sinar matahari. Ikan-ikan mati terdampar di sekitar langkah kaki Rian, pemandangan yang hanya membuatnya jijik.Lalu tak lama dia berhenti saat menemukan ada banyak penyu yang terdampar di tepi pantai, dalam keadaan sudah mati berada di hadapannya. Di salah satu mulut penyu-penyu itu masih tercapit sebuah plastik kemasan roti, kemasan sama seperti yang pernah Rian buang ke laut." Tidaaaaaaaak! "Rian tanpa sadar akhirnya berteriak dalam tidurnya, mengagetkan seisi rumah. Semuanya cepat-cepat masuk ke kamarnya dan berusaha membangunkan Rian."Rian, Nak. Udah, bangun. Enggak papa."Rian terbangun dan langsung memeluk erat ibunya, menangis dengan keringat yang mulai membasahi tubuhnya karena sangat ketakutan."Ibu, penyu itu mati, Bu. Penyu itu mati karena Rian!" Pada akhirnya, Rian menceritakan mimpi itu dan rasa khawatir ibunya sedikit menghilang."Udah, Rian. Mana mungkin Penyu bisa mati karena Rian?""Iya, soalnya kemarin Rian udah buang sampah ke laut, terus penyu makan sampah itu." Seisi rumah hanya bernapas lega mendengar cerita Rian. Kemudian meninggalkan dia dengan ibunya agar bisa ditenangkan."Udah, enggak papa. Yang penting nanti Rian enggak buang sampah lagi ke laut, ya," ucap Ibunya Rian, berusaha menenangkan anaknya. Namun, Rian masih terdengar sendu, walau tidak terlalu kencang."Nah, Rian. Nanti Pak Munthu, Kakek, sama warga-warga di sini bakalan bersih-bersih pantai. Jadi, nanti udah enggak ada sampah terus lautnya bersih dan penyu-penyu bisa hidup tanpa sampah plastik."Rian menyeka matanya saat pelukan dia dilepas. Memberikan anggukan pelan sebagai tanda setujunya. Berpikir kalau dengan membersihkan pantai setidaknya akan mampu mempertahankan penyu-penyu lain agar tetap hidup.Sejak saat itu, setiap kali dia melihat sampah maka tangan Rian akan langsung mengambil dan membuangnya ke tempat sampah. Di rumah, tidak pernah ada sampah plastik yang lolos dari matanya. Rian bahkan meminta ke ayah dan ibunya untuk dibelikan buku tentang laut agar dia bisa semakin memahami tentang lingkungan yang harus dia jaga.Di sekolah, Rian akan selalu memarahi teman-temannya yang membuang sampah sembarangan. Kemudian mengatakan kalau sampah plastik akan berbahaya untuk lingkungan."Eits! Jangan di buang ke laut!"Terlebih saat di pantai, Rian akan sigap. Seperti hari ini, saat ada anak sebayanya yang membuang sampah di tepi laut. Rian langsung mengambilnya, dan membuangnya sebelum dihanyutkan oleh ombak."Kamu tau enggak, kalau kamu buang sampah ke laut nanti penyu bisa makan.""Ups, maaf. Aku enggak tau. Aku minta maaf," ucap anak itu malu-malu. Namun, tidak lama Rian memberikannya sebuah senyuman ramah dan dibalas dengan cara yang sama oleh anak itu.Rian sudah berjanji akan menjaga laut, dia ingin agar saat sudah besar nanti keindahan laut yang dia lihat sekarang masih bisa Rian nikmati dan rasakan lagi.

DUNIA MIMPI
Fantasy
19 Jan 2026

DUNIA MIMPI

Nadia memeluk tubuh Rara lama. "Selamat, ya, Ra, kamu akhirnya lulus sebagai siswa terbaik dan dapat beasiswa di kampus impian kamu. Aku senang, sih, mimpi kamu tercapai, tapi sedih juga karena kita bakal berpisah," ujar gadis itu dengan ekspresi sedih.Rara membalas pelukan Nadia lalu menepuk-nepuk punggungnya. "Ih, cengeng, deh, kamu, Nad. Kan, kita bisa tetap berkirim pesan atau melakukan panggilan video. Lagi pula, nanti setiap liburan aku juga pulang."Nadia mengangkat jari kelingkingnya. "Janji, ya?"Rara mengangguk lalu menautkan kelingkingnya dengan kelingking Nadia. "Iya, janji Nadnad!" Kemudian mereka tertawa bersama.Rara dan Nadia kemudian saling bernostalgia tentang masa lalu sambil sesekali tertawa. Dulu mereka hanyalah bocah ingusan yang suka menangis sembari berebut boneka, tapi sekarang mereka sudah dewasa. Sudah lulus sekolah dan Rara akan kuliah di luar negeri.Nadia mengambil Bubu, si boneka beruang yang pintar mendongeng. Dulu waktu kecil Bubu sudah seperti ibu pengganti bagi Rara karena Mama terlalu sibuk di kantor."Eh, Ra, nanti kalau kamu kuliah ke Negeri Panda, Bubu kesepian di sini, dong, ya?" kata Nadia sambil menyalakan tombol on di punggung Bubu dan boneka beruang itu otomatis mendongeng tentang Maling Kundang.Rara memandang Bubu cukup lama, sebelum mengalihkan pandangannya menatap bonekanya yang lain; Sisy si penyihir cilik yang cerdas, Bibi si boneka cantik yang bisa mengubah bentuk benda, Henry si pangeran pemberani, dan terakhir Toro si boneka monyet yang cerdik. Mereka berlima adalah teman Rara saat Rara kecil kesepian.Namun, waktu terus berjalan dan Rara semakin sibuk sehingga tak bisa bermain bersama mereka lagi. Rara paling hanya menyapa mainan kesayangannya itu saat debu mulai menempel di tubuh Bubu dan yang lainnya untuk dibersihkan.Rara menutup matanya. "Ya, gimana lagi, Nad? Kan, aku enggak mungkin bawa mereka semua ke China . Paling nanti jadi pajangan di ruang tamu, terus sesekali dibersihin sama Mbak Lala."Setelah mengatakan itu Rara seperti tersedot ke dalam kegelapan yang sangat pekat. Tubuhnya seakan masuk ke dalam lubang yang sangat dalam dan tak berujung. Hingga saat ia bangun, kini ia tengah duduk bersama Sisy, Toro, Henry, dan Bibi. Mereka semua tengah mendengarkan Bubu yang sedang berdongeng tentang si Kancil dan Buaya.Entah bagaimana, Rara kembali ke masa lalu. Saat gadis itu berumur 5 tahun. Waktu itu Mama dan Papa tidak pulang karena ada pekerjaan di luar kota. Rara kecil yang kesepian hanya bisa mendengar Bubu mendongeng hingga larut malam.Bocah itu mendesah saat Bubu menyebutkan kata tamat di akhir cerita. Ini sudah cerita ketiga Bubu yang ia dengar, tapi mata kecilnya belum mau terpejam. Ia mengangkat Bubu, lalu mendudukkan boneka beruang itu di tengah-tengah Bibi dan Henry."Pasti seru, deh, kalau kalian berlima bisa ngomong. Aku pasti enggak kesepian lagi," oceh Rara cemberut.Toro bangkit dari duduknya. "Kita emang bisa ngomong, kok, Ra," kata Toro yang sontak membuat Rara terlonjak kaget dan turun dari ranjangnya.Pangeran Henry yang pemberani menghunus pedang plastiknya ke leher Toro. "Tor, kan, kita udah sepakat enggak bikin Rara kaget. Kamu malah ngajakin Rara ngomong tiba-tiba. Dasar monyet ceroboh! Lihat Rara jadi takut, kan!" seru Henry."Enak aja kamu panggil aku monyet ceroboh! Ngaca, dong, Hen! Kamu itu bukan pangeran pemberani, tapi pangeran penakut!" ejek Toro lalu boneka monyet itu menatap mata Rara. "Ra, Henry itu enggak sepemberani yang kamu kira tau. Dia takut gelap. Makanya kalau kamu matiin lampu, Henry bakal pucet terus minta dipeluk sama Bubu."Wajah Henry tampak memerah. "Punya rasa takut itu wajar tau, Tor. Enggak ada makhluk yang sempurna. Iya, kan, Ra?" Kali ini Henry menatap Rara. Sedangkan Rara hanya diam tak bergerak. Bocah lima tahun itu masih sangat terkejut. Semua mainan kesayangannya yang dia kira tak bernyawa, kini dapat berbicara. Apa ia sedang bermimpi?Bubu bangkit dari duduknya dan menengahi pertengkaran Toro dan Henry. "Eh, kok, kalian malah berantem sih, Tor, Hen? Liat tuh Rara jadi takut. Ra, kamu takut, ya?" tanya Bubu pada Rara.Rara mengerjapkan matanya. Bibir mungilnya terbuka. Masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Gadis lima tahun itu mengucek matanya dua kali sebelum mulai berbicara, "Aku enggak takut, Bu. Cuma ini mimpi, ya?"Kali ini Bibi yang bicara, "Kamu enggak mimpi, kok, Ra. Kami beneran ngomong sama kamu sekarang," ujarnya seraya tersenyum anggun."Tapi gimana bisa?""Ra, kadang sesuatu enggak harus ada jawabannya sekarang. Kalau kamu emang penasaran, mau ikut kami berpetualang?" tanya Bubu."Berpetualang ke mana, Bu? Aku mau! Aku mau! Apa bakal seseru petualangan Peterpan sama Alice yang sering kamu ceritain?" tanya Rara antusias. Seolah melupakan fakta jika mainannya baru saja berbicara. Ya, begitulah bocah lima tahun, begitu mudah teralihkan. Bubu tersenyum misterius. "Tentu. Dijamin kamu bakal suka, Ra, tapi Sisy enggak bakal bisa nerbangin kamu kalau kamu segede itu. Kamu harus kecil dulu seukuran kami," jelas boneka beruang pendongeng itu.Rara memindai tubuhnya sendiri dari atas sampai bawah. "Eh, tapi gimana caranya tubuhku jadi kecil, Bu?"Bibi menggerakkan jari telunjuknya. "Hoho ... kamu lupa, ya, Ra, kalau aku bisa mengubah bentuk sesuatu?"Rara kembali antusias. "Oh, iya! Bi, kamu, kan, punya kemampuan mengubah bentuk. Ayo, ubah aku, Bi! Ubah aku!"Rara naik ke tempat tidur, merentangkan kedua tangannya, dan menutup kedua mata. Bibi lantas menggoyangkan jari telunjuknya, membaca mantra, dan boom ! Rara berubah menjadi manusia kerdil.Tubuh Rara kini seukuran dengan Toro dan yang lainnya.Rara menatap takjub ke sekeliling. Semua tampak begitu besar dan tinggi. Kipas angin di samping ranjangnya sudah seperti raksasa!"Wah, semuanya jadi gede banget, Bu! Apa ini yang dirasain Alice pas jadi manusia kerdil?""Tentu, Alice juga ngerasa takjub kayak kamu sekarang. Udah siap terbang ke dunia mimpi, Ra?""Siap banget, Bu! Eh, tapi gimana caranya aku bisa terbang? Aku, kan, enggak punya sayap," ujar Rara kecewa.Sisy maju seraya mengacungkan tongkat tinggi-tinggi. "Tenang, Ra ... kan, ada aku. Si penyihir cilik yang cerdas," ujar Sisy sombong.Sisy mengatur semua teman-temannya termasuk Rara dalam satu baris lalu penyihir cilik itu menggoyangkan tongkatnya. " Abakadabra puspuspuspus ! Terbang!" seru Sisy seraya tersenyum sombong.Rara dan yang lain memang terbang. Namun, baru terbang satu meter tubuh mereka kembali terhempas ke kasur. Mencipta suara debum dan rintihan sakit yang khas." Uwah !" teriak mereka bersamaan."Sy, kamu pasti salah mantra lagi, kan!" protes Toro. "Ra, gara-gara kamu puji-puji Sisy sebagai penyihir cilik yang cerdas dia jadi sombong banget tau. Padahal suka lupa ngucap mantra dengan benar," adu Toro.Sisy meringis. "Iya, maaf-maaf. Kali ini aku ngucapinnya bener, deh. Maaf, ya, Ra? Ada yang sakit enggak?""Enggak ada, kok, Sy. Inget, ya, kamu itu penyihir cilik yang cerdas. Bukan penyihir cilik yang sombong. Kalau mantra terbang, pus -nya tiga kali. Jangan lupa ngitung. Kan, udah aku kasih tau," nasihat Rara.Harusnya Sisy ingat karena penyihir itu yang selalu menemani Rara belajar matematika bareng Mbak Lala."Iya, Ra, maaf aku lupa. Sekarang aku bakal ngitung pus -nya dengan benar dan enggak bakal sombong lagi."Sisy berkonsentrasi sebelum menggoyangkan tongkatnya. " Abakadabra puspuspus ! Terbang!" Kali ini sihir Sisy berhasil. Rara dan kelima mainannya terbang melewati jendela. Namun, bedanya jendela itu seperti pintu ke mana saja milik Doraemon karena sekarang Rara terbang di atas taman penuh bunga, bukan halaman rumahnya yang ada kolam ikan.Mata gadis lima tahun itu menatap hamparan bunga dengan kagum. Ia seperti ada di negeri dongeng. Rara terbang sambil tertawa riang. Memutar tubuhnya di udara dan berbaring di bunga-bunga raksasa.Ia juga berbicara dengan nona kupu-kupu lalu memetik bunga dandelion. Bubu dan yang lain juga memetik bunga dandelion lalu menerbangkannya tinggi-tinggi. Membuat bunga itu terbang dibawa angin. Itu tampak sangat indah.Rara juga terbang bersama tuan merpati. Lomba balap panjat pohon dengan tuan tupai dan mencicipi madu milik nona lebah. Petualangan di dunia mimpi ini sangat menyenangkan. Toro, Bubu, Bibi, Sisy, dan pangeran Henry juga bersenang-senang.Hingga akhirnya mereka berenam singgah di sebuah rumah kayu yang hangat. Aroma kue jahe menguar dan musik khas anak-anak diputar. Rara dan kelima mainannya masuk ke dalam sebuah rak kaca. Di sini Rara berubah menjadi mainan. Gadis cilik itu tak lagi terbang dan bersenang-senang. Kini ia hanya duduk kaku di dalam rak tanpa bisa menggerakkan tubuhnya.Rara berusaha memanggil-manggil Bubu dan yang lain. Namun, semua mainannya juga hanya diam. Semua seolah tak lagi bernyawa. Rara sangat kesepian. Hanya terpajang di rak rasanya sangat membosankan. Gadis itu seperti terpenjara. Ia ingin terus bermain.Hingga akhirnya sekitar sepuluh anak kecil masuk ke dalam rumah lalu mengambil mainan yang ada di rak. Rumah yang sepi ini kembali terasa hidup. Rara rasanya kembali mendapat kesenangannya."Lang, cepetan pencet tombol di punggungnya Bubu! Aku pengin dengerin kisah Keong Mas!" seru anak kecil berkepang dua.Gilang menuruti perintah Liana. Bocah itu memencet tombol on dan Bubu mulai bercerita dengan semangat. Rara dapat melihat itu.Sisy juga sedang dimainkan oleh dua orang anak. Penyihir cilik itu tampak antusias saat seorang anak menyuruhnya menghafalkan mantra mengubah suatu benda menjadi kodok. Sisy memang dapat menirukan suara orang. Penyihir cilik cerdas itu tampak belajar dengan sungguh-sungguh.Toro dan pangeran Henry juga sedang bertarung. Seorang anak memegang Toro dan seorang anak memegang pangeran Henry. Toro begitu semangat melawan Henry dengan ekor saktinya, sedangkan Henry menggunakan pedangnya dengan lihai. Mereka berdua memang musuh bebuyutan sejati.Sedangkan Rara dan Bibi kini tengah didandani. Rambut Rara dikepang ke samping seperti princess Elsa. Sedangkan Bibi dikepang dua seperti Anna. Lalu kedua anak yang memainkan Rara mengganti baju Rara dengan gaun yang sangat cantik. Mereka menyanyikan lagu Do You Want to Build a Snowman dengan agak cadel. Mereka berdua menuntun Rara dan Bibi menari lalu berputar di udara. Rara sangat senang. Gadis kecil itu tak berhenti tersenyum lebar. Jadi, begini rasanya bahagia saat sebuah mainan dimainkan?Lonceng berbunyi tiga kali. Menandakan semua anak harus kembali ke kamar masing-masing karena hari sudah pagi. Semua anak pergi meninggalkan rumah dunia mimpi. Namun, sebelum pergi, mereka kembali mengatur semua mainan ke rak. Mengembalikannya ke posisi semula.Rumah hangat dengan aroma kue jahe ini kembali terasa hening. Rara kembali kesepian. Diam duduk di dalam rak rasanya tidak enak. Sebagai mainan, ia ingin terus dimainkan. Ia ingin terus membuat semua anak tertawa dan bahagia. Ia ingin menemani mereka yang kesepian. Karena hanya anak-anak kesepian yang bisa masuk ke dunia mimpi.Sisy lompat dari dalam rak. Diikuti oleh Bubu dan yang lainnya. Rara juga ikut turun. "Gimana, Ra, rasanya pergi ke dunia mimpi dan jadi mainan? Seru enggak?" tanya Bubu."Seru banget, Bu! Aku suka jadi mainan dan bisa dimainkan anak-anak, tapi aku enggak suka terus-terusan di rak. Enggak enak cuma jadi pajangan," ujar gadis lima tahun itu sedih.Bubu hanya mengangguk mengerti lalu boneka pendongeng itu melirik ke arah Sisy. Seperti mengerti kode Bubu, Sisy langsung maju ke depan.Sisy membenarkan topi lancip khas penyihirnya. "Ra, aku tau di sini menyenangkan, tapi sekarang waktunya pulang! Kalian siap-siap, ya. Kali ini aku pake sihir teleportasi. Hoho! Mungkin kalian bakal sedikit mual.""Sy, kali ini bener-bener, ya, bilang mantranya! Jangan sampe salah lagi!" ujar Toro memperingatkan.Sisy mengangguk. "Iya, Tor, ini aku konsentrasi, kok! Siap-siap, ya! Abrakadabra puspus ! Pulang!"Rara mengucek matanya dua kali sebelum membuka mata. Wajah gadis cilik itu tampak muram. Saat ini Bubu dan yang lain sudah tidak dapat berbicara. Semua sudah kembali seperti semula. Namun, petualangan Rara rasanya begitu nyata. Entah itu hanya mimpi atau memang keajaiban yang datang sesekali.Rara masih merasakan senang luar biasa saat bisa terbang dan berbicara dengan berbagai hewan. Gadis itu juga senang saat menjadi mainan dan dimainkan oleh anak-anak. Ia senang bernyanyi, rambutnya dikepang, dan menari di udara.Namun, Rara juga sangat sedih. Ia begitu sedih saat di dunia mimpi ia hanya dijadikan pajangan. Rasanya hampa saat tidak ada yang memainkan.Rara kecil memeluk Bubu. "Bu, apa kamu dan yang lainnya juga kesepian kalau cuma dipajang di rak? Aku janji bakal mainin kalian terus. Enggak bakal bikin kalian semua kesepian," janji Rara kecil dengan polosnya.Lalu bocah cilik itu kembali menutup matanya. Kali ini rasanya ia seperti disedot ke lubang tanpa dasar. Begitu dalam, begitu gelap, seperti tiada akhir.Hingga akhirnya ia membuka mata, dekorasi kamarnya sudah berbeda. Bukan lagi serba pink seperti saat ia berumur lima tahun. Dekorasinya kamarnya kali ini berwarna putih gading."Ra, udah bangun kamu? Diajakin ngobrol, kok, malah ketiduran," protes Nadia. "Makan malam dulu, yuk! Ibu tadi udah manggil-manggil!""Nad," panggil Rara sebelum Nadia membuka pintu."Apa?" tanya gadis itu."Besok temenin aku ke panti asuhan, ya!""Eh, ngapain?""Nyumbangin mainan," ujar Rara seraya tersenyum pada Bubu dan entah Rara yang gila atau apa, ia juga dapat melihat Bubu balas tersenyum.Mimpinya tadi sangat nyata. Dunia mimpi itu sangat nyata. Kebahagiaan itu sangat nyata. Rasa kosong itu juga sangat nyata. Mungkin, Rara berumur lima tahun benar-benar pergi ke dunia ajaib seperti Alice. Rara dewasa hanya perlu meyakininya.Dan besok ia akan menepati janjinya pada Bubu. Ia tidak akan membuat Bubu dan yang lainnya kesepian karena hanya menjadi pajangan di rak. Rara akan menyumbangkan semua mainannya ke panti asuhan."Lho, kok, tiba-tiba, Ra? Katanya mau dipajang aja tadi."Rara tersenyum lagi pada Bubu.Bu, terima kasih karena udah jadi temanku dari kecil."Aku berubah pikiran. Udahlah, Nad. Ayo, kita makan! Lapar, kan?"Besok Rara bisa pergi dengan tenang karena semua mainannya bakal ada yang merawat, yaitu anak-anak kesepian yang datang ke dunia mimpi.

MERRIE SI KUCING PELIT
Fantasy
19 Jan 2026

MERRIE SI KUCING PELIT

Di sebuah rumah keluarga seorang petani timun yang makmur. Mereka memelihara kucing dan kelinci yang dirawat oleh sosok anak perempuan lembut dan cantik bernama Marsha. Merrie, si kucing betina menyukai namanya yang sangat bagus dan manis. Tidak seperti temannya, si kelinci yang diberikan nama Kici.Hanya Merrie yang bisa menjadi tempat mengeluh kelinci jantan yang lebih suka memiliki nama Ricky itu. "Aku yakin nama Ricky lebih keren dibandingkan Kici!" keluh Kici setiap kali teringat namanya yang jelek dan tak disukai olehnya. Walaupun begitu, di lain waktu dia akan lupa pada kejengkelannya.Mereka hidup berdampingan hanya memiliki satu sama lain untuk menjadi kawan bermain dan berbicara. Selalu disayangi, dirawat, dan dibersihkan. Merrie si kucing cantik yang sedikit sombong, memiliki bulu putih bersih pada bagian kaki dan perut, sedangkan dari buntut, punggung hingga ke wajah bulunya berwarna abu-abu tua. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk tidur daripada bermain. Di tengah tidurnya, Merrie akan segera bangun saat mengendus aroma makanan, seperti saat ini dia mencium aroma wangi ayam goreng. Begitu melihat Marsha yang berjalan cepat menuju ke arah depan rumah, dia menyusul dengan berlari cepat-cepat amat penasaran.Saat tiba di pintu, Merrie melihat Marsha memberikan potongan ayam itu kepada kucing jalanan yang jelek, kurus, bulunya kotor, dan mukanya menyedihkan—seakan-akan tengah memohon-mohon pemberian. Merrie tahu kucing jelek itu sedang meminta makanan dan dia menjaga matanya tertuju pada makanan yang dibawa oleh Marsha. Kemunculan Merrie bagai menimbulkan hawa persaingan yang tak diinginkan.Merrie mendengkus kesal, jatah makanan yang bisa diberikan kepadanya malah dibuang-buang untuk kucing jalanan. Dia bersiap mau menyerobot potongan daging ayam yang diletakkan Marsha pada tempat makanan. Namun, belum sempat merebut dan membawa kabur potongan ayam itu, tubuhnya sudah ditarik lalu digendong oleh Marsha. Perempuan itu menasihati dengan suara lembut yang dibuat sok imutnya. Merrie hanya bisa pasrah saat mendengar suara Marsha yang berbicara akan memberikan makanan kemasan khusus untuknya.Sebelum Marsha kembali dari mengambil makanan di gudang penyimpanan, Merrie kembali ke halaman depan dengan gerakan gagah. Wajahnya sombong terangkat tinggi-tinggi, sorotnya menampilkan kekesalan saat mendapati kucing jalanan itu sudah menyelesaikan makanannya dan memberikan tatapan waswas."Gara-gara ada kamu, makanan itu tidak diberikan padaku! Pergi sana, jangan datang ke sini lagi merebut makananku!" maki Merrie pada si kucing berwarna putih kumal yang warnanya nyaris menyamakan bercak oren di ujung kepalanya sendiri. Jika tidak dilihat seksama, kucing itu terlihat seperti kucing berwarna oren muda sepenuhnya, bukan percampuran."Apa aku tidak boleh menerima sedikit makanan? Bukankah makananmu sudah banyak dan terjamin diberikan oleh gadis baik itu?" tanya si kucing jalanan dengan suara lirih dan mata sendu."Ini rumahku. Daerahku. Kamu mengambil jatah yang harusnya adalah milikku! Cepat pergi!!!" Merrie mulai marah membuat geraman dan bulu-bulu serta buntutnya menegak menyeramkan. Kucing jalanan itu pun segera pergi berlari cepat-cepat.Kemudian Merrie dipanggil oleh Marsha dengan suara merdu untuk masuk ke rumah dan menikmati makanannya, Marsha juga mengelusi badan Merrie yang empuk, hangat, dan dilapisi bulu-bulu yang lembut." Miaw !"***Setiap hari Merrie dan Kici hanya bisa melihat segalanya dari halaman depan rumah. Menyaksikan binatang-binatang lain diajak para pemiliknya bekerja ke kebun, sawah, atau hutan. Terkadang dari mencuri dengar cerita para binatang yang baru kembali, mereka dapat bermain di kebun, sungai, atau parit-parit.Merrie dan Kici sering mendengar cerita dari Marsha dan Pak Beni, mereka semakin penasaran pada tempat-tempat yang kerap kali didatangi oleh para teman binatangnya. Mereka mengharapkan kebebasan karena hanya bisa mengintip dunia luar. Iri pada binatang lain yang bisa melihat keindahan dan bermain bersama-sama dengan yang lainnya.Merrie iri melihat burung yang berseru ramai di angkasa saat terbang. Para gerombolan kambing, sapi, dan kerbau yang bercerita satu sama lain tentang pengalaman dilepas di lapangan untuk makan rumput, lalu bebek yang berkata betapa segarnya air parit dan sungai yang mengalir, terlebih untuk mandi. Rasanya seakan hanya Merrie dan Kici yang tidak tahu bagaimana suasana selain di halaman rumah Marsha dan tak pernah melihat pemandangan langit yang menakjubkan tanpa penghalang pepohonan.Rasanya bagai ada kabar baik saat Marsha berceloteh tentang kontes binatang yang diadakan di kantor desa setempat. Kici dan Merrie sangat antusias menguping Marsha yang berbincang dengan para temannya, bahkan orang tuanya. Ini salah satu cara agar mereka dibawa keluar rumah. Merrie sangat bahagia saat membayangkan dirinya akan melihat lingkungan luar.Beberapa hari Merrie bersikap kelewat manja pada Marsha agar disayang-sayang dan dibawa pergi. Sayang sekali, hari itu hanya Kici yang dimandikan sampai putih kinclong. Kandang untuk membawa Kici pergi juga sudah dibersihkan dari beberapa hari lalu. Merrie iri dan cemburu karena hanya Kici yang akan dibawa ke kantor desa. Selama beberapa jam dia menunggu Kici dan Marsha kembali dengan amat gelisah dan sedih di atas kain keset depan pintu rumah. Merrie selalu menahan kantuknya agar tidak tertidur.Sekembalinya Kici ke rumah, dia tersenyum dengan sombong karena merasa ditunggu dan dia berniat membuat Merrie semakin iri sekaligus penasaran."Kamu dari mana saja?" Nada suara Merrie meninggi."Marsha menyuruhku lari-lari bersaing dengan para kelinci lainnya," tutur Kici usai Marsha memasukkannya ke dalam kandang yang biasa ditempatinya."Lalu? Kamu menang?" Merrie menatap penasaran. "Bukankah langkah larimu pendek sekali?""Tidak, tapi itu bukan masalah." Kici tertawa menggoda."Payah. Marsha sangat bodoh membawamu untuk berkompetisi. Larimu, kan, lelet. Andai aku yang dibawa ke sana pasti bisa menang!" seru Merrie berapi-api.Seketika Kici tertawa terpingkal. "Kamu tahu alasan kenapa dirimu tak dibawa? Pantas saja kamu tidak diajak pergi ke sana. Kucing-kucing yang dibawa ke sana sangat cantik-cantik, bulunya lebat, halus, dan matanya berwarna-warni. Sangat lucu dengan pita dan baju cantik. Tak ada yang seperti kamu. Aku baru tahu bahwa bangsamu ada yang secantik itu."Merrie menggeram kesal, dia memang hanya kucing betina domestik berwarna gelap pada bagian atas tubuhnya, yang beruntung dipelihara oleh manusia sehingga kini terawat bersih dan gemuk. Kalau tidak dirawat Marsha, dia akan sama saja seperti kucing jalanan lainnya. Dia iri pada Kici yang jantan, tetapi sangat lucu dan indah. Bulu putihnya panjang dan halus. Matanya berwarna merah.Kici bercerita, "Lapangan itu luas sekali untuk melihat langit yang luas. Aku bisa melihat gunung yang indah walau dari jauh dan ada tempat yang rindang namanya hutan. Aku melihat para kambing, sapi, dan kerbau bergerak bebas di padang rumput sedang makan, sementara majikan mereka bekerja memotong dan mengumpulkan makanan mereka."Merrie langsung membayangkannya, bagaimana rasanya bisa berjalan-jalan di luar dengan bebas seperti binatang lainnya?"Kamu mau pergi keluar? Ayo, kita buat suatu rencana!" pekik Kici tiba-tiba dengan penuh semangat dan matanya berbinar memberikan harapan cerah untuk Merrie."Kamu bisa melakukannya?" Kucing itu tersenyum meremehkan.Merrie menjadi amat yakin kala Kici menyipitkan matanya dengan mimik serius. "Kita buktikan! Ikuti saja rencanaku!"***Suatu hari Merrie dan Kici mengatur rencana, ingin kabur saat Marsha lengah. Merrie diperintah Kici untuk membuat gaduh suasana rumah. Dengan sengaja Merrie melompat naik ke atas meja makan dan saat melihat piring kecil yang berisikan sisa makanan, dia menendang dengan kaki belakangnya hingga piring-piring itu terjatuh.Untuk sesaat Merrie ikut terlonjak saat mendengar suara pecahannya yang begitu nyaring. Dia segera melompat untuk mencari posisi aman agar jauh dari lokasi pecahan piring yang berserakan."Merrie!" Suara teriakan Marsha menggelegar dari pintu depan saat berpapasan dengannya.Berakting ketakutan, Merrie segera berlari cepat-cepat ke halaman samping, pergi menuju kandang Kici. Setibanya di sana, dia segera berusaha membuka pintu kandang Kici dengan tangan bulatnya.Pintu berhasil dibuka, Kici segera meloncat keluar dan tersenyum bangga, matanya bersinar-sinar licik. "Ayo, kita segera pergi selagi Marsha masih mengomel dan dimarahi oleh Bu Lyly!" ajak kelinci itu sembari berusaha berjalan cepat.Merrie melangkah riang mengikuti Kici, bahkan berhasil melampaui langkah lompatan Kici yang pendek. Keduanya berjalan beriringan melewati pagar rumah yang beruntungnya kini sedang terbuka, kalau saja pagarnya tertutup maka hanya Merrie yang akan mampu melompati pagar tinggi itu.Inilah kali pertama Merrie melihat indahnya dunia luar. Kebebasan di lingkungan yang luas. Dia merasa bagai burung yang terbang di langit dan bagai bebek, kambing, dan sapi yang tak pernah hidup bosan karena terkurung terlalu lama di kandang. Kici juga merasakan hal yang sama. Sesungguhnya dia bosan sekali karena paling sering berada di dalam kandang, sedangkan Merrie bisa bebas bergerak bahkan masuk ke dalam kamar Marsha.Sudah lama berjalan-jalan, Merrie dan Kici menyatu dengan dua ekor kambing dan satu ekor sapi yang sedang diikat pada pohon di kebun, dijaga oleh sosok manusia yang sedang bekerja memotong rumput. Merrie dan Kici menatap takjub pada asap yang membumbung tinggi akibat pembakaran sisa-sisa rumput dan sampah."Kalian sedang apa di sini wahai para anak kecil?" Sosok sapi menatap Merrie dan Kici dari atas. Keberadaan mereka disadari oleh makhluk lain."Main. Melihat-lihat saja. Kami bosan di rumah," jawab Kici."Berhati-hatilah!"Namun, saat sedang bermain di padang rumput dekat hutan, ada teriakan panik yang mengejutkan semua yang mendengarnya."Ada kebakaran!" Teriakan itu berasal dari para kambing dan sapi yang sedang dibuka tali ikatannya, mereka akan dibawa pergi oleh para majikan masing-masing yang ketakutan.Merrie dan Kici terkejut bukan main saat melihat ada kobaran api tinggi yang membakar salah satu tumpukan sampah dan sedang berusaha dipadamkan oleh seorang manusia. Hawa panasnya terasa menyergap, mereka membayangkan bagaimana jika mereka sampai dilalap api tanpa ada pertolongan manusia.Teriakan para kambing dan sapi serta kepanikan seorang manusia yang akan membawa para hewan itu pergi membuat Merrie dan Kici lari kocar-kacir tanpa peduli arah. Mereka takut terbakar oleh api. Tanpa tahu jika kebakaran kecil itu sudah berusaha dipadamkan.Terlalu jauh pergi dari kebun mengakibatkan mereka lupa jalan kembali. Ketika pergi ke sebuah saung dekat ladang jagung. Mereka lapar ingin mencari makanan, tetapi diusir oleh binatang lain, seekor burung gagak. Mereka lantas pergi ke sebuah rumah di tepi hutan, tetapi kembali diusir lagi. Saat menemukan kebun petani wortel. Kici berhasil menyelinap dan memakan wortel di sana.Merrie memintanya agar tidak mencuri. "Jangan makan yang bukan milikmu!"Kici melirik kesal. "Kalau ada ayam atau ikan goreng, kamu juga pasti akan mencurinya. Kalau lapar masuk saja ke dalam rumah itu dan carilah sesuatu."Merrie hanya bisa iri dan kesal. Dia tak bisa makan wortel yang masih utuh. Biasanya Marsha akan mencampurkan wortel dengan daging ayam untuk pakannya. Nekat karena sudah sangat kelaparan, dia pun masuk ke rumah itu, tetapi perasaan takut hinggap di hatinya, dia ragu akan berhasil mengambil makanan. Merrie mencoba mengintip dengan harapan ada manusia baik seperti Marsha, yang akan menyukainya dan memberinya makan. Dia mengendap pelan-pelan masuk ke rumah saat mencium aroma ikan goreng yang menggoda hidungnya. Kala sudah berada di dalam, tiba-tiba muncul sosok manusia yang langsung menghardiknya."Husssss! Pergi!!!" serunya keras membuat Merrie lari kencang ketika dikejar oleh manusia yang membawa sapu kayu."Pergi! Jangan maling makanan!" pekik sosok wanita itu dengan amat seramnya.Merrie berlari kencang ke halaman depan, membuat Kici yang ketahuan mencuri ikut berlari menghindar, padahal dia sedang asyik menikmati wortelnya. Karena larinya jauh lebih cepat, Merrie kini menunggu kemunculan Kici di tepi hutan.Kelinci itu marah pada Merrie. "Kamu membuatku jadi terkena imbas ikut dikejar, padahal aku sedang asyik menikmati makanan!""Rasakan itu! Kamu enak sendiri, sedangkan aku harus kesusahan tak dapat makanan!" balas Merrie menatap sinis, matanya menyorotkan kekesalan.Mereka masih berdebat panjang di tepi hutan, sampai tiba-tiba ada suara mesin penebang pohon yang sangat keras dan mengejutkan Merrie. Kucing itu merasa asing dan ketakutan mendengar suara keras yang membuatnya seketika panik karena merasa nyawanya terancam. Merrie sangat ketakutan. Tanpa peduli apa pun, kucing panik itu berlari kencang, bahkan meninggalkan Kici. Kelinci itu sangat lambat , pikirnya. Dia terus berlari tak tentu arah hingga akhirnya jatuh terpeleset ke dalam kubangan air hujan, kini tubuhnya basah dan kotor.Terpisah. Merrie tersesat. Di sisi kanan dan kirinya yang ada hanyalah pepohonan tinggi dan beberapa batang yang tumbang. Dia mengamati sekitar dengan gelisah dan menunduk lesu. Telinganya bergerak untuk berusaha mengenali suara-suara asing.Beberapa puluh langkah saat masuk semakin dalam ke hutan, ada kucing hitam muncul menghardiknya, "Kucing baru, ya! Aku tak pernah melihatmu! Ini bukan daerahmu, ini daerahku! Pergi sana! Kalau tidak, kamu akan bertemu anjing dan babi. Kamu mau dimakan sama mereka?"Merrie tahu dari televisi, binatang bernama anjing sangatlah galak dan mampu bergerak cepat. Giginya yang tajam mampu mengoyak. Merrie makin mengkeret takut membayangkan dirinya akan dimakan oleh anjing. Dia berjalan berbalik arah sambil mengendus aroma. Sampai hari mulai gelap, tak kunjung juga dia sampai di rumah Marsha.Di tengah perjalanannya Merrie melihat seekor anjing muncul dari tengah hutan, dari balik pohon-pohon tinggi itu. Merrie bersembunyi di balik batang pohon tumbang yang sudah sangat lapuk, bersembunyi dengan ketakutan sambil menahan bau tubuhnya karena basah dan kotor. Sampai akhirnya anjing itu pergi menjauh bersama sekelompok manusia menyerukan kalimat, "Ada Babi di sana!"Lega berhasil sembunyi, Merrie keluar dari tempatnya bersembunyi. Namun, itu tidak serta merta membuatnya aman, Merrie dihadang oleh seekor kucing oren yang langsung mengibarkan permusuhan. Kucing oren itu menyerangnya dengan cakaran hingga lengan Merrie terluka, berdarah, dan terasa perih. Merrie ingin membalas, tetapi setiap ingin mengeluarkan cakarnya, selalu saja kucing oren itu bergerak lebih ganas. Merrie hanya bisa berusaha berteriak dengan suara keras dan berlari menghindar sekencang-kencangnya. Ternyata yang melukainya justru bangsa sesamanya."Perih, lenganku terluka dan berdarah." Merrie menahan tangis, merintih menatap suasana sekitar yang semakin asing dan menyeramkan. Langit sudah semakin gelap.***Merrie semakin lapar dengan perutnya yang terus berbunyi. Dia hanya bisa minum dari air sisa hujan yang tertampung pada kubangan. Dia lemas tak mampu menemukan jalan sampai hari benar-benar sudah gelap. Tanpa cahaya, dalam kesunyian, kedinginan, kelaparan, dan juga haus mendambakan air bersih. Tempat baru yang dia datangi tak lagi memiliki sisa-sisa air hujan. Lukanya terasa semakin sakit. Sambil merenungi, dia menyesali perbuatannya. Andai saja dia tidak pergi keluar dari rumah, dia juga sangat merindukan Marsha.Kucing itu mencari tempat yang aman, tidur bersembunyi di atas dahan pohon. Hanya suara jangkrik dan burung hantu yang menemaninya. Terkadang ada suara kodok dan tokek saling bersahutan.Waktu berjalan cepat, di pagi hari si kucing hitam membangunkannya. Merrie bisa bangun, tetapi kesulitan untuk turun. Si hitam memaksanya turun dengan menyusul naik ke atas dan mendorong Merrie untuk melompat ke tanah. Si hitam memberikan informasi yang beredar di kalangan para binatang, khususnya dari kelompok kucing yang mengatakan bahwa ada seekor kucing bernama Merrie yang sedang hilang dan diminta untuk cepat pulang. Pemiliknya yang bernama Marsha sedang mencarinya."Jika kamu bertemu dengan binatang lain, tolong katakan bahwa kucing bernama Merrie sedang dicari oleh Marsha!" titah si kucing hitam itu."Merrie itu aku! Oh, Marsha! Cepat temukan aku di sini," ratap Merrie dengan mata berkaca-kaca."Sudah aku duga, kamu adalah kucing yang dicari. Kenalkan, aku Black. Kamu terluka?""Diserang kucing oren. Aku benci padanya!" geram Merrie."Dia memang musuh semua kucing di sini. Tukang bikin keributan.""Oh ya, apa kamu bertemu dengan Kelinci bernama Kici?""Tidak. Marsha hanya menyebut nama Merrie," jawab Black.Merrie akhirnya mengaku, "Aku tak tahu jalan pulang kembali ke rumah Marsha." Nada suaranya penuh penyesalan dan lirih. Dia menahan diri untuk tidak menangis."Mari aku antarkan ke kawanan kucing pinggir hutan, di sana asal beritamu tadi beredar. Pasti semakin dekat dengan Marsha."Black mengarahkan jalan menuju keluar hutan, sampai Merrie akhirnya melihat kebun pertama yang dia kunjungi bersama Kici. Sayangnya, dia tak ingat jalan menuju rumah Marsha. Black kemudian menitipkan Merrie agar dijaga oleh kucing lainnya, yang rupanya sosok kucing jalanan jelek yang sering dihina olehnya. Kucing dengan warna putih dan oren di bagian kepala yang dulu dia benci."Marsha memberiku nama Abi. Kau pasti sudah tidak asing denganku!" pekik Abi, wajahnya sudah tak semenyedihkan waktu itu. "Mari aku antar ke rumah gadis baik itu!" ajaknya.Merrie menjadi malu karena diperlakukan baik dan dibantu oleh kucing yang dulu dia benci, usir, dan marahi. Merrie mengikuti Abi dari belakang dengan penuh rasa bersalah. Dalam perjalanan mereka, Merrie akhirnya mengatakan sesuatu."Maaf, aku pernah mengusirmu. Kamu tidak marah dan dendam? Kenapa mau membantuku?" tanya Merrie menatap dengan mata berkaca-kaca sedih, hampir menangis."Kalau kamu hilang selamanya, gadis itu akan sedih sekali. Aku sangat menyayanginya. Aku merasa cukup dengan pemberiannya, tak pernah iri padamu." Abi membuat Merrie semakin kagum dan terpana.Merrie merasa malu. Baru juga sehari dia menjadi kucing liar, dia sudah nekat mencuri makanan, tetapi Abi bahkan tak pernah masuk ke rumah Marsha. Hanya menunggu manis di halaman menanti makanan sisa.Perjalanan itu terasa begitu jauh dan daerah itu masih asing untuknya. Namun, tiba-tiba dia mendengar pekikan lantang. Marsha sudah berada di dekatnya dan meneriakkan namanya, gadis itu langsung menggendong dan tanpa ragu memeluk kucingnya yang kini jelek, kotor, dan bau itu."Jelek dan bau sekali! Kamu pergi ke mana saja?" omel Marsha sambil mengendus tubuh Merrie, sedangkan kucing itu ingin menangis terharu. "Kamu terluka Merrie. Terima kasih Abi sudah kembali bersama Merrie!"Sembari digendong Marsha, Merrie melihat ke arah Abi yang sedang menyenggolkan punggungnya pada betis kaki Marsha lalu mengeong."Kamu takut karena habis memecahkan piring, ya, Merrie? Jangan kabur lagi." Marsha semakin memeluk Merrie dengan amat erat.Merrie memandang gadis itu dengan tatapan berkaca-kaca. Dia merasa bersalah atas segala perbuatannya. Dia amat beruntung disayangi oleh Marsha."Terima kasih, aku pulang dulu!" seru Merrie pada Abi."Jangan pergi jauh lagi!" balas Abi."Datanglah ke rumah Marsha kapan pun. Aku akan menunggu kamu datang bermain!" seru Merrie.Di rumah, Merrie melihat Kici sudah berada di kandang memakan wortel. Ternyata Kici ditemukan lebih cepat karena kaburnya tak jauh. Usai dimandikan, Merrie menyambangi kandang Kici. "Kapan kamu kembali ke sini? Kamu sudah sempat makan wortel dan kembalinya cepat sekali!"Kici mengomel, "Kenapa kamu lari kencang sekali hanya karena takut suara keras?" Kici juga ketakutan, tetapi kakinya yang pendek tak bisa membuatnya pergi terlalu jauh. Dia tak bisa menyusul Merrie yang berlari kencang sekali."Dasar lelet!" ledek Merrie."Kamu jadi nyasar dan sengsara saat pergi jauh. Rasakan itu kucing bodoh." Kici tertawa nyaring.Merrie merasa sedih dan langsung tertunduk lesu, tubuhnya kini berbaring di lantai."Hei ... kok, lesu? Kamu sedih? Maaf, aku hanya bercanda." Kici seketika panik dan berubah serius."Maafkan aku yang meninggalkanmu karena sangat ketakutan, Kici." Merrie memandangi Kici dengan tatapan bersalah."Tak apa-apa kalau memang kekuatanmu lebih besar dibanding aku. Maafkan aku juga yang selalu membuatmu sedih." Kici tersenyum hangat, tidak menyebalkan dan sinis seperti biasanya.Keduanya kini berbaikan, tetap menjadi teman bermain dan berbicara. Merrie sangat menyayangi Kici yang mungil. Merrie seketika teringat akan satu hal yang tak pernah dia lakukan, yaitu bersyukur.Dia tak mau membuat Marsha bersedih lagi karena dirinya yang hilang dan terluka. Merrie jadi harus membuat Marsha mengurus luka-lukanya dan membawanya ke dokter hewan di kota untuk mengecek kesehatannya.Merrie berjanji tak akan nakal lagi pada Marsha, apalagi sampai merepotkan dan membuat rumah berantakan. Meskipun mengurus Merrie itu merepotkan, Marsha tak pernah marah dan mengeluh.Lain hari Merrie tak akan marah lagi jika kucing jalanan yang bernama Abi itu main ke rumah Marsha dan dia berjanji akan berbagi makanannya. Kini Merrie bahkan sering mengintip di pintu menunggu kedatangan Abi.

ALITA DAN PUTRI KUBIS
Fantasy
19 Jan 2026

ALITA DAN PUTRI KUBIS

Alita senang sekali bermain boneka. Bonekanya berbentuk anak perempuan berambut merah. Dia biasa bermain boneka itu sepanjang hari.Orang tua Alita adalah seorang petani kubis. Sering kali, Ibu mengingatkan Alita untuk berhenti bermain boneka dan membantunya di ladang. Alita sering jengkel kalau ibunya sudah memerintahnya bekerja di ladang."Ibu saja yang membantu Ayah. Aku tidak mau mengotori tanganku," tolak Alita saat Ibu mengajak ke ladang."Alita, uhuk ... Ibu tidak bisa memanen kubis hari ini. Uhuk ! Tolong bantu Ayah," mohon Ibu. Pagi itu Ibu terserang flu. Dia tidak bisa berangkat membantu Ayah yang akan memanen kubis.Alita tidak suka berada di ladang yang panas. Dia juga tidak mau berkeringat dan kotor akibat memanen kubis. Karena kesal, dia kabur dari rumah bersama bonekanya. Ibu berteriak memanggilnya, tetapi Alita terus berlari.Alita berlari ke bukit di belakang rumah. Dia letih dan beristirahat di bawah pohon yang rindang. "Aku tidak mau pulang ke rumah kalau masih disuruh membantu memanen kubis," gumamnya sambil mendekap bonekanya erat-erat.Angin berembus lembut. Suasana yang tenang dan sejuk menyebabkan Alita tertidur di bawah pohon.Cip! Cip! Cip!Alita terbangun oleh suara burung di dahan pohon. Matahari mulai terbenam. Langit berwarna kemerahan. Alita segera bangun dan berlari pulang. Dia sudah tertidur lama.Setibanya di rumah, Alita terkejut melihat ada anak perempuan di meja makan. Anak itu mempunyai rambut berwarna hijau dan mengenakan gaun yang sama hijaunya."Siapa dia?" tanya Alita pada sang Ibu."Dia adalah Putri Kubis. Putri Kubis membantu Ayah di ladang. Dia juga yang membuatkan Ibu bubur supaya lekas sembuh," jawab Ibu."Nama yang aneh," ejek Alita."Kamu tidak boleh menghina nama orang lain. Itu tidak baik," Ayah menasihati."Sebaiknya kamu bersikap baik dengan Putri Kubis sebab mulai sekarang Putri Kubis akan tinggal bersama kita," kata Ibu."Kenapa Putri Kubis harus tinggal bersama kita? Memangnya dia tidak punya rumah?" Alita melirik Putri Kubis dengan jengkel."Aku tidak mempunyai rumah," jawab Putri Kubis dengan tenang."Ayah dan Ibu yang memberikan izin pada Putri Kubis untuk tinggal bersama kita. Kamu harus menerimanya. Nah, sekarang kamu mandi, lalu makan malam," kata Ayah tegas.Alita tidak suka akan kedatangan Putri Kubis. Dia bertambah kesal saat makan malam. Ayah dan ibunya terus saja mencurahkan perhatian kepada Putri Kubis.Putri Kubis diberikan kamar di ujung lorong. Alita senang karena kamar Putri Kubis jauh dari kamarnya dan kamar orang tuanya. Namun, Alita kembali jengkel saat Ibu menyuruhnya membantu Putri Kubis membereskan kamar itu.Esok harinya, Alita bangun kesiangan. Dia terkejut mengetahui Ayah dan Ibu sudah berangkat ke ladang bersama Putri Kubis, padahal semalam dia sudah membuat rencana akan membantu orang tuanya. Alita segera pergi menuju ladang. Tidak lupa dia membawa bonekanya.Alita terkejut melihat Ayah, Ibu, dan Putri Kubis sedang beristirahat di tepi ladang. Mereka bercengkerama dengan akrab. Ibu menyuapi Putri Kubis. Ayah mengelap keringat di dahi Putri Kubis, sementara Putri Kubis tampak bahagia di antara orang tua Alita."Ayah! Ibu!" Alita berteriak. Sayangnya Ayah dan Ibu tidak mendengarnya. Alita berlari mendekat supaya terdengar, tetapi kakinya tergelincir, lantas dia terjatuh ke dalam lumpur. Badannya tersedot lumpur itu. Astaga, itu adalah lumpur hidup yang berbahaya. Alita meronta-ronta meminta tolong. "Ayah! Tolong aku! Ibu! Aku terjatuh! Ibu! Ayah! Tolong aku!"Badan Alita semakin tenggelam. Dia takut. Bonekanya ada di tepian, akan tetapi bonekanya adalah benda mati yang tidak bisa menolongnya. Alita menangis meraung-raung dan tidak seorang pun yang datang menolongnya."Apakah kamu menyesal karena tidak pernah membantu orang tuamu?"Alita membelalak. Putri Kubis tahu-tahu sudah ada di dekatnya."Tolong aku!" pinta Alita."Aku akan menolongmu asalkan kau mau menyadari kesalahanmu selama ini. Apakah kau tahu apa kesalahan terbesarmu?" balas Putri Kubis.Alita teringat perbuatan nakalnya yang menolak membantu orang tua. Dia menangis dan menyesal. "Aku telah menolak permintaan tolong orang tuaku. Aku sangat menyesal," dia mengakui kesalahannya."Baguslah kau sudah menyadari kesalahanmu. Apakah kau akan mengubah sikapmu jika aku menyelamatkanmu?" tanya Putri Kubis."Iya, aku akan berubah. Aku sangat menyesal dan aku tidak mau orang tuaku tidak mengacuhkanku lagi," sahut Alita.Putri Kubis tersenyum. Dia mengambil boneka milik Alita, kemudian melemparnya ke dekat Alita. "Ambil boneka itu dan peluk erat-erat. Aku akan menolongmu." Alita menurut. Dia mengambil bonekanya, lalu memeluknya erat-erat."Ingat baik-baik untuk meminta maaf dan membantu orang tuamu begitu kau selamat. Sekarang tutup matamu dan hitung sampai sepuluh, setelah itu buka matamu perlahan," lanjut Putri Kubis.Alita menutup matanya dan berhitung keras-keras, "Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh." Dia membuka matanya perlahan. Alita terkejut melihat dia tidak lagi tenggelam lumpur, melainkan sedang duduk di bawah pohon yang ada di atas bukit."Aku harus menemui Ibu," gumam Alita. Dia segera pulang ke rumah."Ibu! Ibu!" Alita berteriak."Ada apa, Nak?" tanya Ibu keheranan.Alita memeluk Ibu. "Aku meminta maaf karena tidak mau membantu di ladang. Aku berjanji akan membantu kalian mulai sekarang. Putri Kubis telah mengingatkanku untuk berbuat baik pada orang tua."Di balik jendela, diam-diam Putri Kubis mengintip. Dia mendekatkan telunjuknya ke dekat bibir, memberikan pesan pada Alita untuk tidak memberi tahu Ibu soal dirinya. Alita mengangguk sambil tersenyum."Putri Kubis? Siapa dia?" tanya Ibu. Dia bertambah bingung."Seorang teman. Temanku, Bu," jawab Alita.Sejak saat itu, Alita tidak pernah lagi menolak permintaan untuk membantu orang tuanya. Putri Kubis juga tidak pernah datang lagi. Alita tidak pernah memberi tahu siapa pun soal Putri Kubis.

SI KUCING DAN SI SEMUT
Fantasy
19 Jan 2026

SI KUCING DAN SI SEMUT

Alkisah, terdapat sebuah kota di mana penduduknya sangat menyukai kucing. Hampir seluruh rumah memelihara setidaknya seekor kucing. Di kota ini, tidak ada seekor pun kucing yang hidup di jalanan—seluruh kucing yang berada di sana merupakan kucing peliharaan. Tentu saja, para kucing ini dipelihara dengan sangat baik. Mereka diberi makanan kucing bermerek, diberi minum, bahkan memiliki jadwal khusus bermain. Tidak hanya itu. Mereka juga memiliki kamar tidur sendiri, walau berukuran lebih kecil dari kamar manusia.Berawal dari kecintaan terhadap kucing, perlahan tapi pasti para kucing ini beralih menjadi simbol kekayaan pemiliknya. Tiap penduduk seolah berlomba untuk memamerkan kekayaannya melalui kucing peliharaan mereka. Mereka sibuk mengunggah potret kucing peliharaan mereka mengenakan pakaian mahal, bermain di tempat bermain yang didesain khusus, medali yang dimenangkan dari berbagai perlombaan antarkucing, atau bahkan saat mereka membawa kucing mereka berjalan-jalan ke luar negeri.Seorang saudagar kaya di kota itu bukan pengecualian.Saudagar itu mendiami sebuah rumah megah di tengah kota. Dia merupakan salah satu orang paling kaya di kota tersebut dan sebagai salah satu bukti kekayaannya, dia memelihara lima ekor kucing. Semua merupakan kucing ras yang harganya terbilang mahal. Masing-masing kucing memiliki kamar dan asisten yang bertugas merawat mereka. Tiap kucing bahkan memiliki akun media sosial yang dikelola oleh seseorang yang dipekerjakan oleh si saudagar.Kelima ekor kucing itu juga diberi nama. Salah satunya, yaitu seekor kucing gendut berbulu putih dan cokelat keemasan, bernama Dino dan baru berumur satu tahun. Dino merupakan kucing kesayangan putri si saudagar, oleh karena itu kerap mendapatkan perlakuan istimewa. Hal ini pun membuat Dino tumbuh menjadi kucing yang manja dan sering berperilaku buruk terhadap keempat kucing yang lain. Alhasil, Dino tidak memiliki teman dan lebih sering bermain sendirian. Namun, tentu saja Dino tidak peduli. Dia memiliki banyak mainan dan tidak kekurangan apa pun. Ditambah lagi, jadwalnya cukup padat lantaran baru-baru ini Dino didapuk menjadi model untuk salah satu merek makanan kucing ternama.Sore itu, Dino baru saja pulang setelah menjalani sesi pemotretan. Ketika hendak duduk di kamarnya, dia melihat seekor semut berjalan keluar dari piring makannya. Sebelum ini, Dino tidak pernah melihat semut di piring makannya lantaran sang asisten selalu telaten membersihkan piring makan mereka. Akan tetapi, hari ini sang asisten tengah keluar sebentar akibat suatu urusan mendadak, dan tidak sempat membersihkan sisa-sisa makanan di piring Dino.Terkejut, Dino hanya dapat membelalak selama sepersekian detik. Kemudian, dia sadar apa yang sedang terjadi. Semut itu sedang mengangkut remah-remah. Semut itu mencuri makananku! pikir Dino. Dia pun menjulurkan cakarnya, berusaha menggapai si semut. Dino berhasil. Semut itu terguling dan menjatuhkan remah-remah yang dia bawa."Ha! Rasakan itu!" seru Dino penuh kemenangan.Si semut bangkit dengan susah payah dan balas berteriak, "Kenapa kau melakukan itu?"Dino mengeluarkan dengusan kesal. "Kau sedang mencuri makananku. Seharusnya kau meminta maaf. Dasar semut tidak tahu malu!"Si semut menatap Dino sejenak. Kelihatannya dia baru menyadari siapa yang tengah berbicara dengannya. "Oh, jadi kau pemilik kamar ini?"Itu benar-benar pertanyaan bodoh. Siapa lagi kucing yang akan memiliki kamar sebesar ini selain aku? pikirnya. Dino mengangguk. Dadanya membusung penuh kebanggaan. "Benar," jawabnya.Dino mengira si semut akan menatapnya penuh kekaguman begitu mengetahui identitasnya. Namun, alih-alih terpukau, semut itu malah memberinya tatapan datar seraya menunjuk remah-remah yang tadi dia jatuhkan. "Kalau begitu ... boleh, kan, aku membawa itu? Kau memiliki banyak makanan, jadi permintaanku pasti bukan masalah besar," pintanya.Ucapan si semut benar. Dino bahkan tidak akan memakan sisa-sisa makanan di piringnya lantaran asistennya akan mengganti makanan itu dengan yang baru, tapi nada bicara si semut membuat Dino kesal. Seharusnya semut itu memohon dengan lebih rendah hati, bukannya dengan nada arogan begitu. Bagaimanapun, dia sedang meminta makanan Dino."Kau tidak tahu bagaimana cara meminta dengan lebih sopan?" tukas Dino.Semut itu menatapnya lama hingga Dino menjadi tidak nyaman. "Bukankah aku sudah bertanya dengan cukup sopan?" balas si semut.Dino menyimpulkan bahwa semut itu tidak pernah diajarkan sopan santun. "Seharusnya kau bertanya seperti ini. Dino yang baik, bolehkah aku meminta makananmu?"Semut itu terhenyak kaget. "Oh, jadi kau kucing bernama Dino?Dino lagi-lagi membusungkan dada dengan bangga. Rupanya dia populer! Sudah sepantasnya. Bagaimanapun, dia memiliki paling banyak pengikut di media sosial ketimbang keempat kucing lain di rumahnya. "Benar," jawabnya. "Namaku Dino. Kau pasti sering mendengar tentangku, kan?""Ya. Kudengar kau kucing yang sombong, egois, dan tidak punya teman."Kini ganti Dino yang terhenyak kaget hingga nyaris terjerembap. Tidak punya teman barangkali benar, tapi sombong dan egois? Dino tidak merasa pernah bersikap seperti itu. Bukankah dia selalu menyapa setiap kucing yang dia temui? Merekalah yang tidak pernah balas menyapa. Bukankah itu berarti merekalah yang seharusnya disebut sombong?"Pasti ada kesalahan," tukas Dino, sedikit gusar. "Katakan, dari mana kau mendengarnya?""Dari banyak sumber," jawab si semut santai, kelihatannya tidak menyadari kegundahan Dino. Dia mengangkut remah yang tadi dia jatuhkan. "Kalau kau tidak keberatan, Dino yang baik, bolehkah aku membawa ini?"Kendati si semut mengucapkannya sesuai dengan yang diinginkan Dino, entah kenapa kalimat itu lebih terdengar seperti sindiran. Dino berusaha menyibukkan diri dengan menjilat-jilat bulunya, akan tetapi dia tak bisa mengenyahkan ucapan semut tadi dari benaknya. Ini pertama kalinya Dino mendengar dia dikatai sombong dan egois. Dan Dino benar-benar terganggu akan hal itu.Dino terus merasa terganggu hingga keesokan harinya tidak menghabiskan sarapannya. Dino juga tidak terlalu merespons ajakan bermain dari putri si saudagar, sampai-sampai gadis cilik itu duduk di sampingnya dengan wajah cemas lantaran mengira Dino sedang tidak enak badan. Tentu saja, Dino berusaha menjelaskan bahwa dia baik-baik saja. Akan tetapi, bagi manusia yang terdengar hanyalah bunyi mengeong yang tidak mereka pahami. Akhirnya, Dino pun menyerah dan memilih untuk bergelung diam-diam di atas kasur empuknya.Setelah beberapa hari, Dino berhasil melupakan kata-kata si semut dan kembali menjalani aktivitas normalnya seperti biasa. Ketika baru saja menghabiskan makan siangnya, Dino lagi-lagi bertemu dengan si semut. Hanya saja, kali ini semut itu khusus datang untuk mengobrol dengan Dino, bukannya untuk meminta makanan."Hai," sapa si semut.Dino menjilat-jilat cakarnya, dan baru sadar kalau dia belum tahu nama si semut. "Kau belum memberitahuku namamu," ucap Dino.Si semut tertawa. "Aku kaget kau masih mengingatku. Namaku Mumut. Apa kabar, Dino?""Baik," jawab Dino, meski suasana hatinya kembali memburuk lantaran pertemuan dengan Mumut membuatnya teringat lagi akan ucapan Mumut beberapa hari yang lalu.Mumut mengamati raut wajah Dino. "Tidak terlihat begitu. Jangan-jangan ... akibat ucapanku waktu itu?" godanya.Dino memberengutkan wajahnya. Tebakan Mumut benar dan dia tidak suka itu. Dino tidak suka jika pikirannya terlalu mudah ditebak. Namun, di sisi lain, Dino tidak pandai berbohong, jadi dia tidak dapat menyangkal perkataan Mumut. Akhirnya, dia hanya bergelung dengan malas di kasurnya."Kau tahu kenapa mereka mengataimu sombong?" tanya si semut."Karena mereka iri, barangkali," jawab Dino asal-asalan.Mumut mengangguk. "Separuh benar. Mereka memang sedikit iri karena kau lebih populer ketimbang mereka di media sosial, tapi masalahnya, mereka memang tidak terlalu menyukaimu bahkan sebelum kau dibuatkan akun media sosial."Dino menguap lebar-lebar. Ini sudah hampir jam tidur siangnya. "Bukan salahku jika aku menjadi kucing kesayangan.""Memang," Mumut mengiakan. "Masalahnya terletak pada sikapmu. Sebagai contoh, bukankah kau tidak pernah membiarkan mereka ikut mencicipi makananmu? Padahal kau tahu betul kalau putri si saudagar membelikanmu makanan yang paling mahal."Dino terdiam. Apa yang dikatakan oleh Mumut benar. Kendati makanan mereka semua merupakan makanan bermerek, tapi Dino tahu kalau makanan yang diberikan padanya lebih mahal daripada makanan keempat kucing yang lain dan dia memang tidak pernah bersedia membaginya dengan mereka sebab Dino berpendapat bahwa miliknya adalah miliknya. Bukan untuk dibagi-bagi."Jika aku membaginya dengan mereka, lalu bagaimana denganku?" protes Dino."Yah, kau tak perlu membagi seluruhnya. Seperlunya saja. Hanya agar mereka juga dapat merasakan seperti apa rasanya makanan yang lebih mahal dari makanan mereka. Lagi pula, kau juga jarang menghabiskan makananmu.""Bagaimana jika mereka menghabiskannya?""Menurutku, mereka kucing yang baik. Jadi, mereka tidak akan melakukannya. Kalau tidak percaya, kau coba saja."Dengan serius, Dino mempertimbangkan kata-kata Mumut. Keesokan harinya, Dino mengundang keempat kucing yang lain ke kamarnya dan menawarkan mereka untuk mencicipi makanannya. Mereka tampak terkejut dan untuk sesaat mereka saling bertukar pandang, tapi kemudian mereka menerima tawaran Dino dengan senang hati. Tepat seperti ucapan Mumut, mereka tidak menghabiskan makanan Dino, melainkan hanya mencicipinya sedikit, kemudian kembali ke kamar mereka masing-masing setelah mengucapkan terima kasih."Kau benar," kata Dino ke Mumut ketika mereka bertemu lagi—entah untuk ke berapa kalinya. Sekarang Mumut cukup sering berkunjung ke kamar Dino untuk berbincang-bincang, bukan hanya sekadar untuk meminta remah makanan Dino. Sejujurnya, kini Dino sangat tidak keberatan untuk berbagi makanannya dengan Mumut. Sering kali, dia bahkan mempersilakan Mumut untuk mengajak teman-temannya datang agar dapat membawa lebih banyak remah-remah makanan ke sarang mereka."Benar tentang apa?" tanya Mumut."Tentang banyak hal," balas Dino dengan riang. Dia mendapat banyak nasihat dari Mumut tentang bagaimana menjadi kucing (atau pribadi) yang baik dan setelah mengikutinya, kini Dino sudah berteman akrab dengan empat kucing yang lain. Mereka bahkan kerap mengajak Dino bermain bersama setelah sesi pemotretan Dino selesai.Mumut tertawa. "Sekarang tidak ada lagi yang mengataimu egois dan sombong. Kelihatannya kau mengikuti petunjukku dengan baik," ucapnya."Sebenarnya, sulit untuk melakukannya," sahut Dino jujur. Selama ini Dino sudah terbiasa menjadi kucing yang seluruh kemauannya diikuti. Dia terbiasa bersikap seenaknya tanpa memedulikan perasaan kucing yang lain. Jadi, untuk mengubah itu terasa sangat berat, bahkan Dino dulu merasa tak rela sewaktu harus menawarkan makanannya pada kucing yang lain.Salah satu faktor yang mendorong Dino untuk terus mengikuti saran Mumut adalah, karena melakukannya memberikan Dino perasaan nyaman. Ketika untuk pertama kalinya membagi makanannya, Dino merasa bahagia. Ketika melihat teman-temannya dapat turut mencicipi makanan favoritnya, Dino merasa senang. Itu adalah perasaan yang sebelumnya tak pernah Dino rasakan.Sekarang Dino menyadari kalau dulu dia tak bahagia. Meski Dino tak kekurangan apa pun, bahkan memiliki jadwal yang padat setiap harinya, tapi dia tak merasa senang. Dino tahu ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Namun, dia tak tahu apa itu. Akan tetapi, dengan bantuan Mumut, kini Dino pun menjadi jauh lebih bahagia."Berbagi dengan yang lain memang dapat memberikan perasaan menyenangkan," kata Mumut. "Selama kau melakukannya dengan tulus. Hal-hal baik akan menjadi semakin baik bila dibagi."Dino mendengarkan dengan saksama. "Terima kasih banyak atas bantuanmu selama ini, Mumut," katanya. "Jika bukan karenamu, hari ini aku pasti masih menjadi kucing egois dan sombong yang tak suka berbagi."Mumut tertawa. "Jangan berterima kasih padaku. Itu semua karena kau sendiri yang mau berusaha untuk menjadi lebih baik. Peranku hanyalah memberitahumu beberapa hal."Dino melipat kedua kaki depannya ke bawah tubuh. Itu benar, tapi justru di situlah bagian yang paling penting.Selama ini, tidak pernah ada yang mengatakan pada Dino bahwa perilakunya buruk. Mereka semua lebih memilih untuk menjauhinya, tanpa memberi Dino kesempatan untuk menjadi lebih baik atau bahkan untuk menyadari kalau dia belum menjadi kucing yang baik, sedangkan putri si saudagar selalu memuji-muji Dino. Demikian juga halnya dengan orang-orang serta kucing-kucing lain yang dia temui di lokasi pemotretan. Mereka semua selalu memuji betapa bagusnya bulu Dino serta betapa manis Dino.Dari Mumut-lah untuk pertama kalinya Dino menyadari kalau perilakunya selama ini terbilang buruk.Dan, Mumut tidak hanya berhenti sampai di situ. Dia juga membantu Dino untuk memperbaikinya. Jika tadinya Mumut tidak membantu, Dino yakin kalau hingga hari ini dia pasti masih menjadi Dino yang sama. Dia tahu kalau kelakuannya buruk, tapi tidak tahu bagaimana cara mengubahnya. Pada akhirnya, hal tersebut hanya akan membuat Dino frustrasi dan malah menjadi pribadi yang lebih buruk."Kau adalah teman yang baik, Mumut. Terima kasih," ucap Dino dengan tulus.Itulah kesimpulan akhir yang didapat oleh Dino. Teman yang baik bukan teman yang selalu memujimu, melainkan berani untuk mengungkapkan kekuranganmu serta membantumu untuk memperbaikinya. Memang benar, selalu mendapat pujian itu menyenangkan, tapi itu tidak membantunya untuk menjadi lebih baik. Pujian malah membuatnya selalu merasa lebih tinggi daripada kucing yang lain tanpa menyadari kalau dia masih bisa berkembang menjadi lebih baik lagi.Sebaliknya, kritikan tidak selalu mengenakkan untuk didengar. Malah Dino merasa kesal mendengarnya. Kejujuran selalu menyakitkan. Itu benar. Akan tetapi, dari kejujuran Mumut-lah Dino mendapat kesempatan untuk menyadari kekurangannya dan pada akhirnya kesadaran diri itu membawa Dino ke arah yang lebih baik—tidak hanya bagi dirinya tapi juga bagi lingkungan di sekitarnya.Demikianlah, pada akhirnya Dino pun hidup berbahagia di rumah si saudagar bersama empat kucing temannya, serta Mumut si semut.

LEGENDA SITU AGENG
Fantasy
19 Jan 2026

LEGENDA SITU AGENG

Ribuan tahun silam, di sebelah selatan kota Garut, terdapat desa bernama Desa Damai. Nama desa tersebut merepresentasikan keadaan di sana. Penduduknya ramah, mereka saling membantu, dan penuh toleransi. Mereka hidup tenteram dan penuh suka.Desa Damai juga punya tanah yang subur sehingga mampu membantu para petani untuk menghasilkan banyak buah-buahan, sayuran, dan padi yang berkualitas. Sumber penghasilan terbesar penduduk Desa Damai adalah dari hasil panen dan karena hal itu, jumlah petani di desa tersebut cukup banyak. Biasanya mereka akan menjual hasil panen ke tengkulak untuk kebutuhan makan sehari-hari.Namun, semuanya berubah saat Juragan Ageng mulai menguasai laju perekonomian penduduk Desa Damai. Tubuhnya jangkung dengan tinggi 175 cm membuatnya tampak gagah dan berwibawa. Pakaian yang dikenakannya selalu yang terbagus dan termahal. Tak lupa, untuk menyempurnakan penampilannya, Juragan Ageng selalu memakai perhiasan di tubuhnya, seperti gelang dan cincin. Semuanya berbahan dasar emas murni.Usai istrinya—Nyai Asri—meninggal, Juragan Ageng mengambil alih pekerjaan Nyai Asri sebagai tengkulak. Tidak seperti sang istri, Juragan Ageng menjadi tengkulak yang semena-mena. Padahal ia mempunyai banyak warisan dari istrinya yang kebetulan sudah tidak punya siapa-siapa termasuk anak. Kendati demikian, Juragan Ageng masih belum puas dengan harta yang ia miliki.Tak hanya terkenal pelit, Juragan Ageng adalah orang yang sombong. Ia kerap kali memaksa para penduduk agar menjual hasil panen mereka kepadanya dengan harga yang sangat murah dan setelah persediaan hasil panen penduduk sudah habis, Juragan Ageng bisa memanfaatkannya. Ia membalik keadaan dengan cara menjualnya kepada mereka, dan mengambil keuntungan yang sangat besar. Juragan Ageng menjual dengan harga yang meroket tinggi.Penduduk tidak bisa menolak dan hanya bisa pasrah. Tiap kali penduduk menolak menjual hasil panennya, Juragan Ageng akan menyuruh anak buahnya memukuli mereka. Penduduk Desa Damai memilih diam dan hidup sengsara daripada kehilangan salah satu anggota keluarga."Juragan, saya mohon naikkan lagi harga penjualan hasil panen saya. Kalau hanya segitu saya tidak bisa membeli keperluan rumah tangga lainnya.""Ini sudah harga sepadan. Kau lihatlah itu sayuranmu, wortelnya saja tidak terlihat segar. Jangan-jangan sayuran ini sudah lama dipanen," tuduh Juragan Ageng sekenanya. Penduduk bernama Wawan itu mendesah pelan, peluh di dahinya seakan tidak bermakna di depan lawan bicaranya. Juragan Ageng hanya mencari alasan agar bisa menjual dengan harga rendah."Tidak, Juragan. Sayuran ini baru tadi pagi saya panen lalu saya bersihkan. Mana mungkin layu. Lihatlah ini, masih sangat segar, Juragan." Perlahan Wawan mengeluarkan sayuran tersebut agar Juragan Ageng melihatnya dengan benar."Baiklah, aku percaya. Jadi, apa kau masih mau menjualnya padaku? Kalau kau masih keberatan, tidak masalah. Kau juga yang akan rugi sendiri," ujar Juragan Ageng jemawa dan Wawan pun hanya bisa setuju dengan keputusan semena-mena Juragan Ageng.Hari demi hari, kelakuan Juragan Ageng makin kikir dan sombong. Bukannya menolong dan memberikan sedikit saja harta yang dimilikinya kepada penduduk miskin, Juragan Ageng justru berfoya-foya dengan mengadakan pesta di rumahnya. Ia menghambur-hamburkan uang dengan membeli keperluan pesta, seperti baju-baju mahal dan makanan yang berlebihan.Juragan Ageng juga mengundang beberapa biduan yang turut memeriahkan acara pestanya. Riuh rendah alunan musik menggema memenuhi telinga para penduduk sekitar. Tidak ada yang berani menghentikan kelakuan Juragan Ageng, meskipun mereka begitu terganggu karena malam makin larut. Juragan Ageng sungguh bersenang-senang di atas kesengsaraan penduduk Desa Damai.Setiap ada yang meminta sedekah atau sekadar meminjam uang, Juragan Ageng tidak segan-segan mengusir mereka, bahkan mencaci makinya. Juragan Ageng bahkan tidak merasa bersalah sudah mengucapkan kata-kata menyakitkan kepada mereka."Ini harta milikku. Enak saja mereka tinggal minta dan pinjam. Kalau mau punya harta melimpah sepertiku, harusnya mereka kerja keras bukannya malah meminta-minta! Memangnya harta yang kupunya dari hasil memetik di pohon? Macam-macam saja permintaan mereka itu."Begitulah omelan yang sering Juragan Ageng ucapkan ketika ada penduduk yang meminta bantuan darinya. Padahal di setiap pesta yang diadakannya, Juragan Ageng selalu memamerkan harta kekayaannya secara sombong kepada penduduk setempat. Tak ayal penduduk merasa sedih dengan polah orang terkaya di Desa Damai itu."Pak, persediaan beras kita makin menipis. Bahan makanan juga sudah habis. Bagaimana untuk makan besok?" tanya Ratna kepada suaminya, Wawan."Bapak juga bingung, Bu. Juragan Ageng menaikkan harga bahan makanan enam kali lipat. Dari mana kita punya uang sebanyak itu?" Wawan tampak lesu mengetahui fakta yang baru saja dibagikan penduduk lain kepadanya siang tadi."Kenapa Juragan Ageng begitu kejam, ya, Pak?" Wawan hanya bisa menggeleng pelan. Dalam hatinya, ia pun sependapat dengan sang istri."Kita berdoa saja, Bu, semoga Tuhan memberikan kita keringanan atas beban yang sedang kita pikul ini dan semoga Juragan Ageng dibukakan pintu hatinya agar bisa peduli kepada penduduk di desa ini.""Iya, Pak, amin," Ratna berujar dengan raut wajah penuh belas.Setiap hari penduduk Desa Damai makin bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup mereka, dan mereka juga menjual hasil panen kepada Juragan Ageng. Sebagai orang paling kaya di desa ini, Juragan Ageng merasa bangga karena mau tidak mau dan suka tidak suka, para penduduk akan datang kepadanya jika butuh uang dan bahan makanan.Tiap harinya, Juragan Ageng sibuk memantau persediaan lumbung padi dan bahan makanan di kediamannya. Tak lupa, ia juga terus menghitung seberapa banyak harta kekayaannya, mulai dari uang dan perhiasan yang jumlahnya sudah sangat banyak. Juragan Ageng menyimpan semua hartanya di rumah megahnya, di sebuah kamar khusus. Ia juga menyewa pengawal terbaik agar tempat tinggal serta dirinya selalu aman dari orang jahat.Musim hujan berganti musim kemarau berkepanjangan. Penduduk Desa Damai benar-benar dilanda kelaparan. Tumbuhan yang mereka tanam kekurangan curah air dan akhirnya mati. Kabar buruknya, para petani mengalami gagal panen. Dengan terpaksa, penduduk berbondong-bondong menjual harta yang mereka punya kepada Juragan Ageng. Meskipun dihargai dengan jumlah yang sangat murah, mereka tidak bisa menolak demi bertahan hidup.Suatu hari, ada seorang perempuan paruh baya membawa anak dalam gendongannya datang ke rumah Juragan Ageng. Perempuan itu berniat meminta sedekah, atau sekadar air minum demi melepas dahaga. Namun, belum sempat memberikan alasannya meminta-minta, Juragan Ageng sudah mengusir perempuan itu diikuti makian ketus.Tidak ada rasa iba sedikit pun di dalam hati Juragan Ageng."Juragan, saya mohon beri kami air minum. Kami sangat kehausan setelah berjalan jauh." Perempuan itu memohon dengan wajah lelah. Anak dalam gendongannya kini tengah menangis. Juragan sangat terganggu dengan tangisan anak perempuan itu. "Tolonglah, Juragan. Kasihan anak saya.""Pergi kau dari rumahku, dasar pengemis jelek! Berani-beraninya kau menginjakkan kaki di rumahku. Gara-gara kau, rumahku jadi kotor dan bau," Juragan Ageng berteriak diliputi rasa jengkel tak berkesudahan. "Suara tangisan anakmu juga membuat telingaku sakit. Pergi sana!"Perempuan itu menunduk lesu. Ia begitu iba dengan anak dalam gendongannya yang pasti sedang kelaparan dan kehausan. Meskipun ucapan Juragan Ageng melukai harga dirinya dan membuatnya sakit hati, ia tidak mampu menyangkal. Ia memang seorang pengemis.Juragan Ageng yang makin terganggu langsung memanggil para pengawalnya untuk mengusir mereka dari rumahnya, dan perempuan itu pun pergi dengan tangan kosong. Perempuan itu sampai menahan sesak di dada saat melihat sang anak tidak berhenti menangis dalam gendongannya.Beberapa hari setelah itu, Juragan Ageng kembali kedatangan pengemis. Kali ini pengemis tersebut datang di tengah pesta yang sedang Juragan Ageng adakan. Tentu saja hal itu membuat Juragan Ageng murka karena merasa pengemis itu sudah mengacaukan kebahagiaannya. Lagi dan lagi, Juragan Ageng berhasil mengusir pengemis berkat bantuan pengawalnya. Ia kaya dan berkuasa. Apa pun bisa dilakukannya dengan mudah.Waktu berlalu, tetapi musim kemarau masih belum ingin pergi. Daun kering berguguran. Tanah makin gersang dan udara makin panas. Sebagian penduduk kekurangan air. Lantas, para penduduk di Desa Damai bahu-membahu saling membantu sebisa mungkin demi kelangsungan hidup mereka.Ketika sedang berkumpul di lumbung padi, para penduduk desa kedatangan seorang kakek tua dengan membawa tongkat. Pakaiannya lusuh dengan wajah keriput. Tubuhnya ringkih, tetapi terlihat sangat berani pergi sendirian di desa ini."Di mana rumah orang yang paling kaya di desa ini?" si Kakek bertanya sembari memperhatikan para penduduk di depannya."Maksud Kakek, Juragan Ageng?" Si Kakek mengangguk pelan dan Ratna kembali berkata, "Di ujung jalan itu, ada pertigaan. Nanti Kakek belok kiri, ya. Rumahnya berwarna kuning gading, pasti Kakek tidak akan salah. Rumah Juragan Ageng paling besar di sana.""Terima kasih," jawab si Kakek lalu kembali berjalan menuju rumah Juragan Ageng. Namun, sesaat Ratna menghentikan langkahnya."Kakek ada perlu apa pergi ke sana?" Raut khawatir tak luput dari wajah Ratna."Saya mau minta sedekah.""Percuma, Kek. Kakek tidak akan mendapatkannya. Juragan Ageng sangat pelit.""Saya akan mencobanya.""Kalau Kakek mau makan, ke rumah saya saja, tapi makan dengan lauk seadanya. Apa Kakek mau?""Terima kasih banyak, tapi saya hanya ingin pergi ke rumah itu." Si Kakek masih bersikukuh. Meskipun khawatir, Ratna tidak bisa menghentikan niatan si Kakek yang terlihat pantang menyerah."Kalau begitu, terserah Kakek saja." Ratna hanya bisa berdoa, semoga saja si Kakek tidak sakit hati karena ditolak oleh Juragan Ageng.Sebelum melanjutkan langkahnya, si Kakek berujar pada Ratna, "Tiga hari lagi akan ada bencana besar di desa ini. Kau harus memberi tahu seluruh penduduk untuk meninggalkan desa ini dan mencari tempat yang aman. Ingatlah kata-kataku ini!"Kendati merasa aneh, Ratna tetap memercayai ucapan si Kakek. Setelahnya, Ratna langsung menyebarkan berita tersebut kepada penduduk desa. Mereka mulai berkemas dan pergi dengan keluarga masing-masing.Sesampainya si Kakek di rumah Juragan Ageng, ia langsung memanggil pemilik rumah dengan mengetuk-ngetuk pintu menggunakan tongkat miliknya. Merasa kesal karena tidur siangnya terganggu, Juragan Ageng ke luar seraya memelotot tajam. Ia terkejut mendapati kedatangan kakek tua di depan rumahnya. Lusuh dan kotor, pikirnya."Siapa kau? Berani-beraninya pengemis tua dan lusuh sepertimu mengganggu tidur siangku!""Aku ingin meminta sedekah kepadamu," ujar si Kakek tanpa basa-basi.Juragan Ageng tersenyum sinis lalu berkata, "Hah, sedekah? Enak saja minta-minta padaku. Kau hanya mengacaukan tidur siangku demi meminta sedekah. Di mana otakmu, wahai Kakek Tua?""Jadi, kau tidak akan memberiku sedekah, wahai Ageng?""Tentu saja tidak. Pergi sana, aku tidak akan memberikan apa pun kepadamu, bahkan setetes air. Jadi, jangan bermimpi!" Kakek tua itu langsung pergi tanpa mengucapkan apa pun lagi kepada Juragan Ageng. Kendati merasa aneh, Juragan Ageng tidak peduli. Ia justru senang dan berniat melanjutkan tidur siangnya.Sementara itu, dalam perjalanan meninggalkan rumah Juragan Ageng, si Kakek tersenyum penuh arti.Kehadiran kakek tua kemarin cukup mengganggu pikiran Juragan Ageng, ditambah ia menemukan sesuatu yang aneh di depan rumahnya.Tongkat.Juragan Ageng berusaha mengingat siapa yang datang dan berani menancapkan tongkat itu di depan rumahnya?Juragan Ageng lalu memerintahkan para pengawalnya untuk mencabut tongkat tersebut, tetapi tidak ada yang berhasil. Setiap ada penduduk yang lewat, ia juga minta untuk mencabut tongkat tersebut, tetapi sama saja. Mereka gagal mencabutnya. Akhirnya, Juragan Ageng turun tangan. Dengan rasa kesal memuncak, Juragan Ageng menarik tongkat tersebut.Hap.Dengan sekali tarikan saja, tongkat itu berhasil dicabutnya."Begini saja kalian tidak bisa mencabutnya. Payah!" sindir Juragan Ageng kepada para pengawalnya. Selintas ia menyayangkan, kenapa tidak sejak awal ia mencabutnya sendiri?Juragan Ageng lalu membuang tongkat itu ke sembarang tempat. Dan tiba-tiba saja air muncul dari lubang bekas cabutan tongkat tersebut.Tak lama, si Kakek tua kembali mendatangi Juragan Ageng. Melihat kehadiran si Kakek, Juragan Ageng kesal lalu memaki-makinya, "Hei, Kakek Tua. Itu tongkat milikmu, kan? Ambil sana. Tongkatmu sudah mengotori halaman rumahku, bahkan ada air keluar dari sana.""Itu hukuman untukmu, wahai Ageng. Air itu adalah bentuk kemarahan dan kesedihan para penduduk Desa Damai atas sikap kikir dan sombongmu. Maka, nikmatilah apa yang kau perbuat selama ini. Manusia akan menuai hasil dari apa yang mereka tanam di hidupnya. Baik dan buruknya."Makin hari aliran air makin deras, Juragan Ageng mulai panik dan memerintahkan seluruh pengawalnya menyumbat aliran tersebut dengan apa pun. Mereka menutupnya dengan kain besar, tetapi gagal. Mereka juga menggali lubang besar di suatu tempat agar air hanya mengalir ke sana, tetapi tetap saja gagal.Air itu makin besar alirannya dan sulit untuk dihentikan. Bahkan kini setengah rumah Juragan Ageng sudah terendam air. Pengawal pun tidak bisa berbuat apa-apa. Melihat situasi seperti itu, para pengawal justru segera berkemas untuk meninggalkan Desa Damai beserta keluarga mereka, tak terkecuali para penduduk. Mereka sudah mulai pindah ke desa seberang demi menyelamatkan diri."Hei, mau ke mana kalian?" teriak Juragan Ageng yang masih berada di rumahnya."Kami akan pergi ke desa seberang, Juragan. Ayo, Juragan, kita harus menyelamatkan diri. Air sudah makin tinggi.""Tidak. Aku akan tetap di sini menjaga hartaku dari orang-orang miskin.""Baiklah kalau itu kemauan Juragan."Luapan air makin tinggi, tetapi itu tak membuat Juragan Ageng meninggalkan rumahnya. Ia bersikukuh ingin tetap tinggal bersama kekayaannya. Sampai akhirnya, Juragan Ageng ikut tenggelam bersama hartanya.

Kisah Ubur ubur yang dijahui oleh temannya
Fantasy
15 Jan 2026

Kisah Ubur ubur yang dijahui oleh temannya

Suatu hari didalam laut yang sangat dalam hiduplah seekor ubur ubur Kakak beradik, Suatu ketika adik Ubur ubur bertanya kepada Kakaknya"Kak? Kenapa kita dilahirkan dengan kekuatan untuk menyetrum binatang lain" KatanyaLalu sang Kakak menjawab dengan bangga "Kita diberikan kekuatan seperti itu oleh Dewa untuk melindungi diri kita dari predator yang lain"Lalu si adik membalas dendam "Tetapi kekuatan seperti ini hanya membuat diriku tidak memiliki teman disekolah"Sang Kakak hanya bisa memberikan kata-kata semangat. Keesokan harinya di kelas Ubur Ubur tidak sengaja menyentuh seekor Ikan BuntalIkan buntal yang terkejut lantas dirinya mengembang hingga terlihat seperti bola. Ikan buntal sangat marah kepada ubur ubur karena dia menyentuh Ikan Buntal walaupun tidak disengajaAkhirnya Sang Ubur-ubur pulang kerumah dengan suasana hati yang sadih. Disaat yang bersamaan Sang kakak memberikan sebuah Jaket Khusus berwana kuningJaket itu dirajut oleh Sang Kakak salama 2 hari satu malam tanpa henti "dengar Adikku. Ini adalah Jaket khusus yang dapat menghilang kekuatan kita, apakah kamu ingin menggunakannya? " Tanya Sang kakakUbur ubur terlihat sangat senang ia tersenyum lebar dan bahagia sambil berkata "ya, dengan begini aku akan mendapatkan teman"Akhirnya Sang Kakak memberikan jaket tersebut dan Ubur-ubur menggunakannya.... Keesokan harinya Sang Ubur Ubur sudah tidak menyengat teman sekelasnyaIa bahkan berhasil berteman dengan beberapa ikan disana, akan tetapi suatu saat temannya Ikan Terima dalam bahayaIa sedang dikejar oleh Predator ganas yaitu Hiu. Hiu berkata kepada Sang Ubur ubur "hahahaha.... Kemana kekuatan mu Ubur ubur? Apakah kamu tidak ingin menyelamatkan temanmu" KatanyaIkan teri tersebut begitu ketakutan dan gemetar di terumbu karang melihat Ikan Hiu yang akan menyantapnya. Dengan berani Ubur ubur ingin melindungi temannyaAkan tetapi kekuatan tersebut tidak dapat digunakan. Pada akhirnya Ubur ubur tidak dapat melindungi siapapun termasuk dirinyaHingga Seekor Paus besar menghampiri Hiu. Sang Paus dengan kekuatan membuka mulut selebar lebarnya untuk menakuti Sang HiuHiu pun lari terbirit-birit melihat Ikan Paus dibelakangnya. Lau Sang Paus berkata "Hei Anak Kecil.... Aku akan memberikan mu suatu nasihat penting dari keluarga ku""Kamu tidak perlu mengikuti apa yang di inginkan orang lain, ikutilah dirimu sendiri. Karena kamu sendiri tau mana yang terbaik untuk dirimu" LanjutnyaSang Ubur-ubur sangat menyesal menggunakan jaket tersebut hingga pada akhirnya ia melepaskan jaket tersebut dan kekuatan nya kembaliKeesokan harinya Sang Ubur ubur begitu Populer karena melindungi Ikan Teri dari santapan Hiu. Walaupun sekarang Ubur-ubur memiliki kekuatan itu kembaliIa bertekad untuk menjadi dirinya sendiri dan melindungi teman-temannya dengan kekuatan tersebut....Akhirnya Ubur-ubur hidup bahagia selamanyaTamat... .......

Samuetang dan Jume
Fantasy
15 Jan 2026

Samuetang dan Jume

Samuetang adalah seorang raja dari kerajaan yang terletak sangat jauh di barat, di tanah yang jarang tersentuh oleh makhluk selain manusia. Kerajaannya makmur, tentaranya kuat, dan namanya dikenal luas sebagai raja yang berani. Namun di balik keberaniannya, tersembunyi sifat yang perlahan tumbuh: kesombongan.Pada suatu hari, Samuetang melakukan perjalanan jauh hingga ke wilayah terlarang—tempat yang menurut legenda dihuni oleh makhluk terkuat di dunia, para naga. Di sanalah ia bertemu dengan Jume, Raja dari segala naga, makhluk kuno yang telah hidup jauh sebelum kerajaan manusia pertama berdiri.Tanpa rasa takut, Samuetang melangkah maju. Dadanya dibusungkan, wajahnya penuh keyakinan, seolah-olah di hadapannya bukanlah makhluk legendaris, melainkan musuh biasa.Dengan suara lantang ia menantang Jume.Kesombongan telah membutakan hatinya. Dalam pikirannya, tidak ada satu pun makhluk yang mampu mengalahkannya, bahkan naga yang dikenal sebagai makhluk terkuat sekalipun.Jume menundukkan kepalanya, menatap Samuetang dengan mata yang menyimpan ribuan tahun kebijaksanaan. Dengan suara berat namun tenang, ia berkata, “Wahai makhluk kecil, mengapa engkau begitu sombong hingga berani menantangku?”Samuetang tertawa kecil. Keberaniannya bukan tanpa alasan. Ia mengangkat tongkat yang digenggamnya erat-erat—sebuah tongkat ajaib yang diberikan oleh teman-temannya. “Aku telah diberikan kekuatan yang dapat mengalahkan apa pun dan siapa pun,” jawabnya dengan nada penuh keangkuhan.Raja para naga itu perlahan melangkah mendekat. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar, namun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan amarah. “Sebenarnya,” ucap Jume dengan suara rendah, “engkau telah dibodohi oleh teman-temanmu sendiri.”Ucapan itu menusuk harga diri Samuetang. Dengan emosi meluap, ia membantah keras. Berkali-kali tongkat ajaib itu dihantamkan ke tanah, seolah ingin membuktikan bahwa dirinya benar-benar kuat.Namun saat itulah Jume menghembuskan napas api dari mulutnya. Api itu bukan semburan amarah, melainkan peringatan—panasnya cukup membuat udara bergetar, cahayanya menyinari wajah Samuetang yang perlahan kehilangan keberanian.Jume tidak murka. Yang ia rasakan hanyalah rasa iba. Baginya, Samuetang hanyalah seorang raja manusia yang tertipu oleh sesamanya, yang menggantungkan harga dirinya pada sesuatu yang bukan miliknya sendiri.Melihat kekuatan sejati Jume, tubuh Samuetang gemetar. Kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya. Ia terjatuh, dan pada saat yang sama, tongkat yang selama ini ia banggakan retak, lalu hancur menjadi serpihan tak berarti.Dengan suara lembut namun tegas, Jume berkata, “Ingatlah ini, Samuetang. Janganlah mempercayai kekuatan yang kau miliki, karena nyatanya kekuatan itu tidak selamanya menjadi milikmu.”Setelah mengucapkan kata-kata itu, Jume berbalik dan kembali merebahkan tubuhnya, melanjutkan tidurnya seolah peristiwa itu hanyalah pelajaran kecil bagi dunia.Samuetang pulang ke kerajaannya bukan sebagai raja yang menang, melainkan sebagai manusia yang sadar. Ia belajar bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari benda, bukan pula dari pujian orang lain, melainkan dari kerendahan hati dan kebijaksanaan.Makna cerita ini adalah bahwa manusia tidak diciptakan untuk menyombongkan apa yang ia miliki. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.Samuetang memiliki tongkat ajaib yang tidak dimiliki oleh Jume. Namun Jume memiliki napas api yang tidak dimiliki oleh Samuetang.Tidak ada yang sepenuhnya lebih tinggi, dan tidak ada yang sepenuhnya lebih rendah. Kesombongan hanya akan membuat kita lupa, bahwa apa yang kita banggakan hari ini bisa saja hilang esok hari.

Burung yang sangat indah
Fantasy
14 Jan 2026

Burung yang sangat indah

Suatu ketika Merak sedang beristirahat di bawah pohon yang lebat, Sang Merak disana kelelahan karena telah menghibur banyak Manusia dengan keindahannyaSemua manusia terpukau dengan bulu Merak yang sangat indah, bahkan melebihi permata seperti emas yang mengkilap. Sang Merak merasa bangga bahwa dirinya sangat indahBahkan Sang Merak begitu sombong dengan keindahan bulunya tersebut. Ketika Merak bertemu dengan Ayam, Sang Ayam bercerita bahwa dirinya tak sepesial Merak"Hei Merak, bagaimana caranya agar aku memiliki bulu seindah dirimu" Kata Si AyamSang Merak menjawab dengan penuh kesombongan "Hahahaha, Ayam. Kamu tidak bisa menjadi seindah seperti ku ini" Kata Merak ituAyam terlihat sangat sedih dengan kelakuan Merak, Ayam meninggalkan Merak dengan penuh kesedihan. Ayam lebih memilih untuk bersedih daripada marahBaginya walaupun marah atau sedih tidak dapat mengubah apapun, tetap seperti itu. Beberapa hari kemudian Manusia berbondong-bondong datang kembali untuk melihat Merak melakukan AtraksiSang Merak dengan Bangga memperlihatkan bulunya yang indah itu, sedangkan ayam hanya bisa melihat Merak melakukan atraksi di sampingnyaSemakin hari Merak semakin sombong, bahkan Sang Raja Hutan Singa memuji dengan keindahan bulunya. Itu membuat Sang Merak semakin banggaSuatu ketika, beberapa manusia mencurigakan masuk kedalam hutan tanpa sepengetahuan penjaga. Disana Merak sedang tertidur pulas bersama AyamManusia itu membawa senapan, seakan-akan terlihat ingin memburu sesuatu, Sang Merak terbangun saat ia terbangun ia begitu ketakukanIa takut dirinya akan di buru oleh manusia karena keindahannya. Sang Merak memanggil ayam yang tidur disampingnya"Hei Ayam, bangunlah. Manusia itu ingin memburuku" Kata Merak dengan penuh ketakutanAyam terbangun, tetapi ayam tak menanggapi si Merak, Merak disana begitu ketakutan tidak ada Seekor Hewan yang ingin menyelamatkan nyaSang Merak akhirnya Pasrah untuk diburu oleh manusia tiba-tiba manusia itu melewati Sang Merak begitu saja, ternyata manusia yang membawa senapan itu adalah Penjaga hutan yang mengelola hutan dan menjaga hutan dari Hewan Liar yang tidak terdaftar pada Hewan wisataAkhirnya Merak begitu lega, Tiba-tiba Singa dan Ayam mendekati Merak. Ayam berkata "Ingat Merak, keindahan bulumu itu tidak bisa menyelamatkan dirimu bahkan itu bisa membawamu kedalam masalah" Kata Ayam dengan menasehati Merak"Hei Merak, Kesombongan mu itu sebagai Hewan yang cantik hanya sebatas itu. Percuma indah bila keindahan itu hanya bisa memikat orang bukan untuk melindungi orang" Kata Singa ituPada akhirnya Sang Merak meminta maaf dengan semua kesombongannya. Keesokan harinya Merak, Singa dan ayam melakukan atraksi bersamaanAkhirnya mereka bertiga menjadi sahabat yang tak terpisahkan dan memiliki kekurangan dan kelebihan. Tugas mereka adalah saling menutupi kekurangan satu sama lain....

kisah ular yang tak berbisa
Fantasy
14 Jan 2026

kisah ular yang tak berbisa

Di hutan yang lebat, terdapat seekor Ular yang tak berbisa. Sang ular itu selalu diganggu oleh hewan hewan yang lain bahkan mangsa ular tak berbisa ini sering di ambil oleh hewan hewan yang lainSang ular itu merasa sedih sekaligus kesal karena selalu direndahkan oleh hewan yang lain, namun seuatu hari datang Seekor ular yang mematikan, ia bisa membunuh badak dengan sekali gigit dengan racun ituSang ular yang tak punya racun itu sangat iri dengan si ular yang memiliki racun itu"Hay, ular berbisa bagaimana cara kamu mendapatkan racun tersebut" Sahut si ular yang tak berbisa"Aku memiliki racun ini dari keturunan" Jawab si Ular berbisa"Apakah saya bisa memiliki racun seperti kamu? " Ujar si ular tak berbisa"Kamu bisa saja memiliki racun yang ada di taringmu itu" Ujar ular berbisa"Bagaimana caranya" Ujar ular yang tak berbisaUlar itu langsung mengeluarkan racunnya dari mulut lalu ia berkata"Kamu harus meminum racun itu, tenang kamu akan baik baik saja"Ular yang tak berbisa itu menuruti kata ular yang berbisa, ular itu meminum racun yang telah dikeluarkan dari mulut ular yang berbisaNamun si ular yang tak berbisa itu mengalami sakit perut yang parah selama 1 minggu lalu ular itu berkata "Ular berbisa itu telah membohongi ku"Lalu Sang ular itu menemui ular yang berbisa dan berkata "Wahai ular berbisa, apakah kamu menipuku? ""Tidak, aku tidak menipumu" Ujar sang ular yang berbisa"Lalu kenapa aku mengalami sakit perut" Sahut si ular yang tak berbisa"Kamu akan mengalami rasa sakit yang luar biasa sebelum kamu mendapatkan kekuatan yang besar" Ujar sang ular berbisaAkhirnya si ular tak berbisa itu bersabar dan menunggu agar sakitnya itu hilang, akhirnya rasa sakit sang ular tak berbisa itu sembuhIa mulai berburu rusa dengan racunnya tersebut, sang ular itu merasa senang dan bergembira, lalu sang ular itu mengancam hawan hewan yang adaSang ular itu merasa sombong dengan kekuatan baru itu, ia terus mengigit para hewan yang menentangnya, hingga suatu saat ular itu merasa kesepian, karena tidak ada temen sama sekaliSang ular itu merasa bahwa dirinya telah berubah karena racun itu, dulu sang ular itu memiliki teman namun semenjak sang ular menerima racun itu ia tidak memiliki teman sama sekaliIa terus menjalani hidupnya dengan kesepian, hingga suatu saat ia mengalami penyakit yang mematikan karena racun tersebut, sang ular itu meronta ronta kesakitan, ia meminta maaf kepada hewan hewan yang telah ia sakitiNamun hewan itu tidak memafkan ular itu, di saat itu datanglah seekor Belalang yang berkata "Wahai ular, kamu telah memakan sahabatku, tapi aku memafkan mu, karena sahabat ku pasti akan melakukan hal yang sama jika aku dimakan"Hewan hewan lain yang mendengar perkataan si Belalang itu langsung ikut memafkan Sang ular, akhirnya sang ular memiliki teman lagi sebelum ia meninggalAkhirnya sang ular itu meninggal, hewan hewan yang lain merasakan sedih sekaligus senang.____________________________________

bintang untuk sang adik kecil
Fantasy
14 Jan 2026

bintang untuk sang adik kecil

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan hutan bambu, hiduplah sepasang kakak beradik bernama Dika dan Rani. Dika adalah kakak yang berusia sepuluh tahun, sedangkan Rani adiknya yang baru berusia tujuh tahun. Mereka tinggal bersama Ayah dan Ibu di rumah kayu sederhana.Dika selalu merasa dirinya harus menjadi yang paling hebat. Kalau bermain, ia ingin selalu menang. Kalau membantu Ibu, ia ingin dipuji lebih dulu. Sementara itu, Rani adalah gadis kecil yang ceria, tapi sering kali merasa tersisih karena kakaknya terlalu ingin jadi yang utama.Suatu sore, setelah membantu Ibu menjemur pakaian, Dika dan Rani duduk di teras rumah. Langit mulai berwarna jingga, menandakan matahari akan tenggelam. Rani berkata sambil menunjuk ke langit,“Kak Dika, lihat! Nanti kalau malam, bintang-bintangnya akan banyak sekali. Rani ingin sekali punya bintang.”Dika tertawa kecil.“Bintang itu jauh sekali, Ran. Kakak saja belum tentu bisa mengambilnya.”“Tapi pasti ada cara,” balas Rani dengan mata berbinar.Keesokan harinya, mereka mendengar kabar dari Pak Seno, kakek tua di desa yang suka bercerita, bahwa ada sebuah bintang jatuh yang terperangkap di dalam hutan bambu. Bintang itu konon bersinar lembut dan bisa memberi kebahagiaan bagi siapa pun yang menemukannya.Rani langsung menatap kakaknya dengan penuh harap.“Kak… kita cari bintangnya, ya?”Dika mengangguk. Ia juga penasaran, dan dalam hatinya ia ingin menjadi orang pertama yang menemukan bintang itu, supaya bisa membanggakan diri di depan teman-temannya.Mereka pun berangkat sore itu juga. Hutan bambu di tepi desa terasa sejuk, tapi makin lama semakin gelap. Angin bertiup pelan, membuat suara dedaunan bergesekan seperti bisikan rahasia.“Ran, jangan jauh-jauh dari kakak,” kata Dika sambil melangkah cepat.Rani berusaha mengikuti, tapi langkah kakaknya terlalu cepat. Ia terhenti sejenak, memandangi cahaya kecil yang berkelip di kejauhan.“Kak! Aku lihat sinarnya!” seru Rani.Namun Dika tidak menoleh. Ia terus berjalan mengikuti jalan setapak lain yang ia pikir lebih cepat. Rani akhirnya memberanikan diri berjalan menuju cahaya itu sendirian.Ternyata cahaya itu berasal dari sebuah bintang kecil, sebesar kepalan tangan, yang tersangkut di rumpun bambu. Sinarnya hangat dan membuat hati terasa damai. Rani mengulurkan tangannya, dan bintang itu seperti menyambutnya, mengapung di telapak tangan kecilnya.Di saat yang sama, Dika malah tersesat. Jalan yang ia pilih ternyata buntu. Ia mulai panik ketika matahari benar-benar tenggelam. “Rani! Rani!” panggilnya.Tak lama kemudian, dari balik rumpun bambu, muncul Rani dengan wajah lega.“Kak Dika! Aku menemukan bintangnya!” katanya sambil menunjukkan cahaya hangat itu.Dika terdiam. Ia merasa campur aduk—antara kagum dan malu. Selama ini ia selalu ingin menjadi yang paling hebat, tapi ternyata adiknya yang menemukannya.“Bagaimana kalau bintangnya untuk Kakak saja?” tanya Rani tulus.Dika menggeleng. “Tidak, Ran… Kamu yang menemukannya. Kakak malah meninggalkan kamu. Maaf, ya.”Rani tersenyum. “Tapi kita bisa memegangnya sama-sama, Kak.”Mereka pun memegang bintang itu bersama. Cahaya hangatnya semakin terang, dan entah bagaimana, bintang itu perlahan terbang ke langit malam, meninggalkan jejak cahaya seperti pelangi. Meski bintang itu pergi, hati mereka terasa penuh kebahagiaan.Sesampainya di rumah, Dika tidak menceritakan bahwa adiknya yang menemukannya. Ia hanya berkata kepada Ayah dan Ibu bahwa mereka menemukan bintang itu bersama-sama.Sejak malam itu, Dika berubah. Ia tidak lagi ingin selalu menjadi yang utama. Ia mulai belajar mendengarkan Rani, bermain bersama, dan membiarkan adiknya mencoba hal-hal baru lebih dulu.Sementara itu, Rani merasa kakaknya kini lebih hangat dan perhatian. Mereka menjadi kakak beradik yang saling membantu, bukan saling mendahului.Dan di malam yang cerah, saat mereka duduk di teras rumah, Rani terkadang berkata sambil menunjuk ke langit,“Kak, lihat… itu bintang kita.”Dika tersenyum, karena ia tahu, bintang itu bukan hanya milik Rani atau dirinya, tetapi milik mereka berdua—simbol bahwa kebahagiaan lebih indah jika dibagi bersama.---Pesan yang bisa di ambil:Kadang, menjadi hebat bukan berarti selalu menjadi yang pertama atau paling pintar, tetapi mau berbagi, saling menghargai, dan menjaga orang yang kita sayangi. 🤗

Anak ayam
Fantasy
14 Jan 2026

Anak ayam

Pada zaman dahulu ada sebuah keluarga ayam yang sederhana dan hidup bahagia di sebuah hutan lebatMereka hidup bahagia tanpa di ganggu oleh manusia, mereka hidup berdua saja anak ayam dan ibu ayamNamun suatu hari ibu dari anak ayam itu di culik oleh sebuah Elang yang jahat."Wahai anak ayam, akan ku bawa ibumu" Sahut sang Elang"Untuk apa kamu membawa ibuku" Jawab anak ayam dengan panikElang itu pun pergi membawa ibunya si anak ayam tersebut tanpa menjawab pertanyaan Si anak ayam ituAnak ayam itu merasa sedih dan menangis, lalu semut itu menghampiri anak ayam yang sedang menangis"Wahai ayam kecil, Ada apa?kenapa kamu menangis" Sahut si semut itu"Ibu ku di bawa oleh Elang" Jawab si Anak ayam tersebut dengan sedih"Wahai anak kecil, janganlah engkau menangis, karena tangisanmu itu tidak membuat Ibumu kembali kepada mu" Ujar si semut itu"Lalu apa yang harus kulakukan" Ujar anak ayam"Pergilah, carilah ibumu. Aku melihat Elang itu membawa seekor ayam. Mungkin saja itu ibumu. Pergi lah ke arah barat" Ujar sang semutAnak ayan itu pun pergi meninggalkan semut kecil itu, Di perjalanan Anak ayam itu merasa sedih karena ditinggalkan oleh ibu tercintanyaSaat lagi berjalan anak ayam itu terhenti karena ia harus melewati sungai yang besar, Saat itu datanglah seekor burung yang sombong"Wahai ayam kecil, apa yang kamu lakukan itu" Sahut burung itu"Aku ingin menyebrangi sungai tersebut wahai burung" Jawab anak ayam tersebut"Hahahaha, kamu adalah anak ayam tidak bisa terbang bagaimana caranya kamu bisa melewati sungai ini" Ujar si Burung itu dengan sombong.Namun datanglah seekor ikan dari sungai itu dan berkata "Wahai burung, cobalah untuk berenang di sungai ini" Ujar ikan"Akan kuterima tantangan mu itu" Jawab si burungBurung itu bisa berenang dengan hebat di atas air, namun badai pun datang menerjang sang burung ituIkan itu tidak terbawa arus karena ikan ahli dalam berenang sedangkan anak ayam bersembunyi di bawah pohon dekat sungaiNamun Burung itu terbawa oleh arus air, Burung itu tidak bisa terbang karena bulu bulunya yang basah terkena air.Akhirnya badai pun berhenti burung itu terdampar di sebuah pinggiran sungai, Ikan dan anak ayam segera menuju kesanaIkan pun berkata "Wahai Burung kamu telah sombong terhadap binatang yang lemah, ini akibat dari kesombongan mu" Ujar sang ikan"Aku minta maaf wahai ikan" Ujar sang burung sambil menangis"Wahai anak ayam, jadikanlah ini pelajaran untuk mu, karena Sehebat-hebatnya hewan ia memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing" Ujar ikan ituAnak ayam itu mengambil pelajaran dari kejadian tersebut dan meminta si ikan untuk mengantarkannya ke sebrang sungaiAkhirnya ikan mencari kayu untuk di gunakan anak ayam agar bisa menyeberangi sungai ituAkhirnya anak ayam menaiki kayu itu dan di dorong oleh ikan tersebut"Wahai ikan, aku sangat berterima kasih kepada mu karena telah membantu ku" Ujar sang anak ayam"Wahai teman ku, tidak usah berterima kasih. Berhati hatilah di jalan" Ujar sang ikan kepada Anak ayamAnak ayam itu langsung melanjutkan perjalanannya menuju arah barat. Anak ayam itu mempelajari dari kejadian kemarin bahwa setiap binatang memiliki kelebihan masing-masingAnak ayam itu terus berjalan hingga waktu malam pun tiba, saat malam anak ayam itu melihat seekor ular yang lagi memakan Ayam di sekitaran sanaAyam itu pun terkejut dan ingin berlari, namun anak ayam itu diketahui keberadaannya oleh ular tersebutSang ular sudah siap memakan anak ayam itu, anak ayam itu ketakutan namun seekor singa membantu anak ayam tersebut"Ular, temanku. Jangan makan ini" Ujar Sang singa"Kenapa kamu melarangnya?" Jawab ular itu dengan terheran heran"Wahai ular, kamu tidak berhak memakan ini" Ujar singa tersebutUlar itu tidak mendengarkan si singa itu dan memakan anak ayam itu, ular langsung memakan anak ayam namun setelah beberapa menit ular itu mengalami sakit perutTernyata yang ia makan itu adalah Cacing beracun, Sangking rakusnya si ular itu sampai sampai ular tersebut berkhayal bahwa yang ia lihat itu adalah ayam ternyata itu adalah cacingSang singa itu berkata kepada anak ayam "Inilah akibatnya tidak mendengarkan kata orang lain""Apa yang terjadi dengan dia" Ujar sang ayam"Sangking rakusnya ular itu, ia tidak mendengarkan peringatan ku" Ujar sang singaSinga itu telah memperingati si ular agar tidak memakan apa yang ia lihat itu.Akhirnya anak ayam itu mendapatkan pelajaran yang sangat berharga bagi dirinyaAkhirnya anak ayam itu berjalan kembali hingga suatu saat ia melihat Seekor Elang yang membawa ibunya itu"Heiii, Elang kemana ibuku" Sahut anak ayam"Anak ayam, lihatlah kebawah" Ujar Elang ituAkhirnya anak ayam tersebut melihat ibunya yang sedang menanam jagungTernyata Elang itu meminta agar ibu dari anak ayam itu menanam jagung untuknya"Ibuu" Ujar anak ayam itu sambil terharu"Anaku" Jawab ibu dari anak ayam ituElang tersebut tersenyum dan berkata "wahai anak ayam, kamu pasti telah melewati banyak pelajaran yang penting""Ya" Ujar anak ayam____________________________________Pelajaran yang bisa kita ambil dari kesombongan burung adalah:Jangan pernah sombong sampai merendahkan orang lain. Karena setiap manusia memiliki kehebatannya dalam berbagai bidangContohnya:Ikan pandai berenang tapi tidak bisa terbang tinggi, Burung pandai terbang namun tidak bisa berenang sepandai ikan.Pelajaran yang bisa kita ambil dari ular yang rakus adalah: dengarkan lah kata orang lain, karena setiap kata dari orang lain ada yang terbaik untuk kita, apalagi kata dari orang tuaPelajaran dari anak ayam. Janganlah kalian berprasangka Buruk terhadap orang lain karena prasangka kita tidak sesuai dengan apa yang kita lihat nantinya.

Rain, Ame - [雨, あめ]
Fantasy
12 Jan 2026

Rain, Ame - [雨, あめ]

Cerita ini dibuat untuk menyelesaikan misi duel tournament royale yang diadakan oleh NPC sebulan yang lalu dengan tema permen dan genre teen fiction . Namun aku merasa harus membagikan beberapa cerita tournament yang kutulis dalam 30 menit, dalam keadaan panik dan terburu-buru. Tentu, aku hanya akan mempublikasikan beberapa cerita yang menurutku berkesan.Jika kalian adalah orang-orang yang sudah pernah membaca semua bacotan randomku di Daydream , mungkin kalian bakalan merasa, "Eh? Kok kayaknya aku familiar sama judul ini?"Ya, ini cerita Ame & Sun . Aku hanya teringat dengan kisah ini ketika menyangkut permen dan teenfict, hahah. Sayangnya, aku tidak bisa menuliskan terlalu banyak, karena ini hanya dibatasi 500 kata (ini pun kutambah sedikit agar lebih mengesankan).Hmm, tapi bagaimana caranya aku menegaskan bahwa ini bukan romance ?Oh, dengan cara seperti ini.Genre: Slice of Life, School Life. Non-Fantasy (only in this case) .***雨, あめ***" Hello, Sun-San, my name is Ame !"Aku tersenyum di depannya, memperkenalkan diri.Namanya Sun, dia anak baru pindahan Amerika yang bergabung di kelas 6-2 hari ini karena ikut ayahnya di kota kecil ini untuk keperluan pekerjaan. Rambut pirangnya yang terpantul cahaya matahari dari jendela tampak bersinar dan mata birunya menatapku penasaran.Banyak teman sekelasku yang penasaran dengannya, tetapi mereka tidak berani mengajaknya berbicara. Soalnya, kami semua tidak ada yang fasih Bahasa Inggris."Ame ...," gumam Sun pelan, sebelum akhirnya tersenyum ramah. "Hai, Ame. Bahasa Jepang, okay ."...Kami berteman sejak hari itu. Teman-temanku perlahan juga mulai memberanikan diri untuk berbicara dengannya dan kami sering mengajaknya bermain dodgeball bersama. Sun cukup bersahabat, berteman dengan semua orang dan masih mencoba beradaptasi di Jepang.Kabarnya, Sun tidak akan lama di sini, karena ayahnya memang kerap berpindah-pindah tempat untuk bekerja, tetapi kuharap Sun punya banyak kenangan indah selama di sini!Jam olahraga cukup melelahkan sekaligus mengasikan. Kami baru saja selesai bermain dodgeball . Tim-ku kalah hari ini, tapi tidak apa-apa, masih ada minggu depan untuk menang.Kupandangi awan gelap yang berkumpul. Untungnya, ketakutan kami akan hujan deras tidak terjadi. Dodgeball lebih seru dimainkan di ruang terbuka, bukan di lapangan indoor tempat lapangan voli. Aku duduk di tangga, mengoroh saku dan mengeluarkan permen untuk memakannya.Ibuku menjatahku permen perhari karena katanya aku terlalu menggemari permen, padahal aku sudah kelas enam dan tahu cara membersihkan gigiku dengan benar."Ame!" Sun melangkah mendekatiku, lalu duduk di sampingku."Sun- San ! Bagus sekali permainanmu hari ini. Minggu depan tim-ku akan menang, lihat saja yaaa!"Sun hanya melihatku sambil tersenyum. Entahlah dia mengerti aku baru saja memujinya atau tidak."Ame," katanya lagi."Iya, kenapa, Sun- San ?"Sun menunjuk permenku. " Ame .""Oh, kau mau?" Aku menyodorkan permen, meskipun aku hanya punya satu.Sun menggeleng, aku memaksanya menerimanya dan menerimanya. Sun menunjuk permen dan ke arahku. "Ame."Ame punya dua arti yang berbeda; hujan dan permen. Tulisannya berbeda, tetapi pelafalannya hampir sama. Betul juga. Sun baru mempelajari Bahasa Jepang, dia tidak mengerti."Namaku bukan permen." Aku menunjuk permen sambil menggeleng-geleng. "Namaku hujan."Sun tampak kebingungan.Aku menunjuk langit, tapi itu tidak membantu.Aduh, apa Bahasa Inggris-nya hujan?" No sun , hujan, byur ."" No Sun ?" Sun menunjuk dirinya sendiri, membuatku panik." No, no, no ! Bukan begitu."Tolong, seseorang bantu aku, agar aku tidak kelihatan seperti sedang menindasnya!Untungnya, sebelum salah paham semakin panjang, ketakutan kami tadi akhirnya terjadi. Hujan turun dengan lebat dan kami berdua segera berlari ke bangunan terdekat untuk berteduh."Nah, ini dia! Arti namaku hujan. Ini!" ceritaku dengan semangat.Sun tampak mengangguk mengerti. " No sun, rain ?" tanyanya.Aku mengangguk sebagai balasan. Sun hanya tertawa."Sun- San ," panggilku. Dia menoleh."Ya, Ame-Ame ?" balasnya, tersenyum.Aku menaikkan sebelah alis. "Kenapa Ame-Ame?""Ame memanggilku Sun-Sun ."Kali ini aku yang tertawa."Kau tidak akan lama ya, di sini?"Sun tampak sedikit heran, tapi ia membalasku dengan tersenyum."Hm?""Kurasa aku akan terus mengingatmu setiap melihat matahari," ucapku sambil menghela napas. "Apa kau akan mengingatku setiap hujan turun?"Sun memperhatikanku agak lama, tersenyum tipis dan memiringkan kepala. "Apa?" tanyanya.Oh, tentu saja, Sun tidak akan mengerti.Aku tertawa kecil, tak menjawab pertanyaannya. "Ayo, kita kembali ke kelas.""Ame," panggilnya lagi.Kutolehkan kepalaku padanya. Dia melemparkan permen yang kuberikan kepadanya tadi dan tertawa ringan sambil berlari. "Ame makan Ame."Sepertinya itu ledekan, karena itu aku mengejarnya sampai ke kelas. "Sun- San !"*** 雨, あめ***fin—ish..Lagi dan lagi, aku harus ngingetin, jangan dikapalin. Kalian kan udah tau endingnya bejimana.

Floating Days
Fantasy
12 Jan 2026

Floating Days

Apa yang lebih menyebalkan daripada melihat jendela dan menemukan matahari bersinar cerah di luar dan kau yang harus terkurung di dalam rumahmu lagi?Kau mengembungkan pipi dengan cemberut.Padahal Ibu selalu bilang padamu kalau dia hanya akan melarang jika akan ada badai, tetapi saat ini cuacanya begitu cerah seperti itu. Teman-teman sepermainanmu pasti sedang bermain sepak bola, atau mungkin mereka sedang bermain kejar-kejaran. Kau jelas tidak bisa memainkannya seorang diri, di rumah mungil ini."Ah!"Kau menghentakkan kakimu, baru saja teringat dengan sesuatu. Bagaimana bisa kau melupakannya?! Kemarin mereka sudah berjanji untuk bermain petak umpet! Permainan yang tak mungkin kau lewatkan begitu saja."Ibu..." rengekmu sambil melangkah menuju halaman belakang.Di sana Ibumu sedang menyikat pakaian putih dengan sikat. Kau ingat pernah menanyakan mengapa tidak disatukan saja dengan cucian yang lain di mesin cuci, tapi Ibumu menjawab pakaian putih memanglah harus dicuci sendiri. Pakaian putih tidak boleh bermanja-manja, setidaknya itu yang kau pikirkan.Ibu berjanji akan masak makanan kesukaanmu kalau kau tetap di rumah dan tidak keluar. Awalnya kau pikir kau bisa melakukannya, tapi sepertinya, tidak."Kamu ini, sesekali temani Ibu bersih-bersih, kenapa?" tanya Ibumu terdengar protes. Kau bahkan yakin kalau saja Ibumu tak sedang menyikat kemeja putih itu, telingamu bisa-bisa menjadi korbannya. "Ibu kan capek, bersih-bersih sendirian."Kau cemberut. "Ibu kan juga tau kalau aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku masih kecil, umurku memang untuk main-main."Ibumu mendesah lelah, "ya sudahlah, sana, main. Jangan lama-lama," pesannya.Kau kegirangan sampai lupa bahwa halaman belakang rumahmu basah. Kalau saja Ibu tidak buru-buru menggerakan tangannya, kepalamu mungkin akan bocor. Sejak kau belum lahir, halaman belakang telah ditutupi oleh ubin dan semen. Sebenarnya tak pantas juga disebut halaman, apalagi ruangannya tertutup dan hanya ada saluran pembuangan air di sudut halaman. Praktis juga sebagai tempat menjemur pakaian dan mencuci alat-alat masak."Oh iya!" Ibumu teringat sesuatu. "Jangan bercerita yang aneh-aneh, cukup sama Ibu, ya."Kau mengerutkan kening. Ah, sungguh, Ibumu tak pernah mempercayaimu dan selalu, selalu, selalu, SELALU mengulang kata yang sama sebelum kau pergi bermain. Kau paham bahwa sebenarnya Ibumu tidak ingin kau dijauhi teman-teman barumu, apalagi kalian baru berteman kurang dari tiga bulan. Tentu saja kau tersinggung jika Ibumu sendiri tak mempercayaimu, kan?Begini, kau tentu saja ingat soal kejadian dua bulan yang lalu saat di lantai dua? Saat itu Ibumu memintamu memasukkan pakaian ke mesin cuci dan pergi berbelanja karena ada bahan makanan yang kurang. Ia berjanji akan segera pulang dan di saat itulah kau boleh keluar bermain.Ibumu sudah mengajarimu cara kerjanya, tapi saat kau tengah menunggunya pulang, mesin cuci rumahmu mati sendiri. Kaca pintu yang menghubungkan balkon untuk menjemur pakaian keluargamu tiba-tiba saja terbuka sendiri.Tubuhmu melayang bersama pakaian-pakaian yang baru saja keluar dari mesin cuci. Masih sedikit lembab, tapi kau lebih takjub dan penasaran kemana angin akan membawamu.Kau melayang bersama pakaian-pakaian, sepertinya kau terlihat seperti kumpulan burung dari bawah sana. Kau tertawa riang, itu sungguh mengasikkan.Lalu, kau mendarat bersama pakaian-pakaian itu, kebetulan pula kau bertemu dengan Ibumu.Ibumu menjewelmu dan terus berceramah soal tanggung jawab dan bagaimana kau melupakan pesannya untuk memisahkan pakaian putih dan berwarna. Pakaian putih sudah luntur menjadi warna merah pucat. Selanjutnya, Ibu marah karena kau meninggalkan rumah dan membawa semua pakaian jemurannya sampai di sana.Kau terus menerus membantah dan mencoba menjelaskan apa yang terjadi, tapi ia tidak mempercayaimu. Mungkin sejak itu, Ibumu terus-menerus menasehatimu untuk tidak bercerita apapun soal kejadian itu.Setelah selesai memainkan petak umpet, kau dan kawan-kawanmu akhirnya berkumpul di markas. Markas terletak di bawah perosotan yang tertutup. Kalian bisa di sana karena mereka berlomba-lomba bercerita cerita terseram yang pernah ada."Ibuku melarang ke sungai, katanya akan ada nenek-nenek yang sedang mencuci pakaiannya. Sebenarnya memang aneh kalau benar-benar ada yang mencuci pakaian di bawah jembatan itu, kan? Apalagi ini bukan di desa. Tapi kalau kalian menyadarinya, kalian akan sadar bahwa itu bukan selendang merah. Melainkan ... organ tubuh yang masih bersimbah darah."Kau menatapnya bosan. Selalu saja itu yang ia ceritakan setiap ritual permainan petak umpet selesai dan dia selalu menceritakan hal yang sama. Membosankan, tentu saja."Kemarin temanku membeli layang-layang. Kira-kira setelah sebulan, Ayahnya menemukan layang-layangnya yang sudah sobek dan ternyata itu berasal dari kulit manusia."Kau merinding, tapi bukan merinding karena takut. Melainkan karena tiba-tiba saja kau melihat sebuah layang-layang tanpa benang terlihat dari kejauhan. Mereka semua heboh dan berlomba-lomba mengejar layangan. Kau bersumpah dalam hati bahwa kau yang akan mendapatkannya hari ini.Tengah mengejar, tiba-tiba langkah mereka semua terhenti. Hanya kau yang masih berusaha mengejar. Kau berhenti melangkah dan membalikan kepalamu, bertanya."Kenapa?""Mungkin lebih baik kita kembali, layangannya masuk ke rumah kosong itu."Kau bertanya lagi, "bukankah bagus? Berarti kita bisa mengambilnya tanpa harus takut ada anjing penjaga yang galak."Tapi mereka tidak mendengarkan. Kau tersinggung, tapi akhirnya mengikuti mereka kembali ke markas. Mereka melanjutkan cerita seram itu lagi."Kau mungkin tidak tahu soal cerita rumah itu.""Apakah rumah itu angker?" tanyamu."Katanya ada penyihir di sana." Temanmu seolah mendapatkan ide. "Sekarang aku akan cerita tentang penyihir yang suka menculik anak-anak. Kata Ibuku, dia hanya akan menculik anak yang nakal dan suka berbohong! Dia suka makan anak-anak!"Kau ingat, kau pernah mendengar cerita ini dari Ibumu."Kalau aku ketemu dengan penyihirnya, akan kutendang kakinya keras-keras!"Kau merasakan hawa dingin di belakangmu. Tubuhmu bergetar dan kau mengintip arah di mana kau masuk di dalam perosotan itu. Kau melihat seseorang berpakaian hitam dengan latar langit senja. Mata kalian terkunci dan dia mengancungkan telunjuknya di depan bibir, memintamu diam."Ku-kurasa kalian harus diam, sebelum dia marah!" Kau berdiri dengan cepat, sampai-sampai kepalamu terbentur bagian atas perosotan. Kau meringis, sementara yang lainnya menertawakan kebodohanmu."Kau takut? Pulang sana! Kami tidak bermain dengan seorang penakut!"Kau keluar dari markas, berusaha menjauhi orang berpakaian hitam tadi. Dia mengikutimu, kau tahu dan makin mempercepat langkahmu. Namun, selalu ada rasa penasaran di hatimu; seberapa dekat orang itu denganmu. Jadi, kau berbalik untuk memeriksanya."Ibumu sudah menunggumu di rumah," ucapnya. "Sana, pulang."Kau menatapnya takut-takut. "Kau tidak akan menyakiti mereka?"Ia tersenyum, "Aku tidak akan menyakiti anak baik, jadi pulanglah. Ibumu sudah memasak makan malam."Kau sudah bermaksud pulang begitu mendengarkannya mengatakan soal makan malam. Menu hari ini adalah menu kesukaanmu. Kau tahu Ibumu tetap akan memasaknya meskipun kau tidak dapat menepati janjimu hari ini untuk tetap di rumah. Tapi akhirnya kau penasaran dan berbalik lagi."Jadi...," Kau menjeda selama beberapa saat, "kau suka makan anak-anak?"Orang itu tertawa renyah. "Bagaimana denganmu?"Lalu ia melangkah menuju tempat teman-temanmu tadi, meninggalkanmu yang masih menyimpan pertanyaan di kepalamu. Namun pada akhirnya kau memilih pulang untuk dapat menyantap makan malammu.Kau akan mencoba untuk meyakinkan mereka lagi besok, pikirmu.Namun besoknya, kau datang lagi ke markas, dan mereka semua tidak pernah datang lagi.***Oke, karena aku tidak pernah punya kesempatan untuk menjelaskannya di work NPC, jadi aku akan menggunakan kesempatan ini untuk menjelaskannya di sini.Fun Fact! Cerita ini ditulis dengan sangat buru-buru dan kelar dalam 30 menit untuk ide dan eksekusinya. Ni otak mau tewas ahahaha.Judul FLOATING DAYS di sini hanya direferensikan untuk scene saat 'Kamu' terbang bersama baju-bajunya yang keluar dari mesin cuci. Tapi karena aku menambahkan huruf S, itu artinya 'Kamu' bukan hanya akan melayang sekali, tapi mungkin akan berkali-kali.Ibu 'Kamu' tidak pernah bilang kepadanya bahwa mereka juga adalah penyihir. Well, sebenarnya aku sudah memberikan petunjuk selama di cerita, apakah kalian menangkapnya?Jadi pertama ibunya bilang untuk tidak menceritakan apapun. Awalnya mungkin pembaca mengira bahwa si 'Kamu' ini adalah indigo, tetapi begitu ada kejadian si 'Kamu' melayang bersama pakaian-pakaiannya, kalian mungkin mulai paham apa yang tidak boleh diceritakan oleh 'Kamu'.Nah, sebenarnya kekuatannya muncul karena dia ingin keluar rumah. Ibunya juga sebenarnya ingin 'Kamu' menemaninya bersih-bersih sesekali karena ingin menceritakan tentang identitas mereka, tapi karena 'Kamu' selalu ingin main dan bilang bahwa dia masih kecil, ibunya selalu menunda pembicaraan ini.Oh, soal pakaian putih yang luntur menjadi merah pekat, kalian mungkin paham bahwa si 'Kamu' tidak sengaja mencampur semua pakaian berwarna yang sudah dinodai darah dengan pakaian putih. Pakaian korban atau pakaian mereka? Gatau.Mereka baru pindah 3 bulan yang lalu dan akan pindah terus untuk mencari stok makanan. Nenek tua itu tahu bahwa 'kamu' juga penyihir.

Menampilkan 24 dari 166 cerita Halaman 1 dari 7
Menampilkan 24 cerita