Dulu aku bukan orang yang seperti ini. Yang mengatakan iya semudah air mengalirkan daun kering.
1
"Bisakah kau membantu membawakan koperku ke dalam?" tanya Emma Vanity. Ia menyodorkan koper kayu yang kutebak berisi perlengkapan quidditchnya. Koper itu nampak berat. Aku enggan membawa itu.
Seolah digerakkan, aku menjawab, "Bisa."
Shit!
Seharusnya aku menolak, namun nasi telah menjadi bubur.
Aku mengangkat koper Emma Vanity yang, demi uban Salazar, amat berat! Aku mengekor pada Emma ke dalam kereta dan membantunya meletakkan koper di atas kursi.
"Terimakasih," tuturnya padaku.
Setidaknya ia berterimakasih.
Aku memberikan senyum setengah hati pada Emma. "Sama-sama."
Aku keluar dari kompartemen yang ditempati Emma Vanity menuju gerbong paling belakang yang tak mempunyai kompartemen. Hanya jejeran bangku dan meja yang berhadap-hadapan. Aku duduk di salah satu bangku dan menatap ke luar jendela. Murid Hogwarts berlalu-lalang dengan kopernya, bersiap kembali ke Hogwarts, musim panas telah usai.
Teman-teman satu asramaku terlihat di luar. Banyak dari mereka menyendiri entah hanya berdiri dengan tas tersampir atau membaca di satu bangku. Yang lain berdiskusi seperti Black satu itu.
Sirius Black?
Aku menyipitkan mataku. Berusaha melihat dengan jelas apakah itu benar Sirius atau.... oh itu adiknya, Regulus Black. Karena tak mungkin Sirius berkerumun dengan Slytherin. Bodohnya aku!
Aku bernapas lega. Menyenderkan tubuh di kursi. Sebenarnya aku tidak begitu lapang. Kepalaku selalu dihantui oleh Sirius Orion Black semenjak tahun lalu. Bukan karena Sirius tampan, namun karena tabiatnya sekarang.
Kupejamkan mata. Mengingat hari-hari yang kuhabiskan dengan Sirius. Sebelum ia disortir ke dalam Gryffindor, sebelum ia membenci keseluruhan Slytherin, dan sebelum ia menjauh seperti ia adalah bintang yang berpindah setiap malamnya, dan aku bulan yang duduk menunggu.
Aku tak bisa mengingat pertemuan pertamaku dengan Sirius. Orang tua kami berkata, kami sudah dipertemukan meski sejak dalam kandungan. Dan rupanya kami juga bertemu meski kedua kaki kecil kami belum dapat menopang tubuh kami sendiri.
Pertemuan pertama yang kuingat kala itu, rambut Sirius masih rapi. Persis seperti Regulus saat ini. Ia juga memakai baju bewarna hijau atau hitam yang dipilihkan Peri Rumahnya.
Orang tua kami dekat dan mereka gemar menggoda. Sirius dan aku tidak mengindahkan mereka. Dia dan diriku masih terlampau dini untuk memahami arti dari senyuman mereka kala kami bersentuhan ataupun bertengkar karena hal kecil.
Kami teman dekat, mungkin lebih dari itu. Aku tahu semua keluarga Sirius, dan ia tahu semua keluargaku, termasuk boneka yang kupunya.
Selayaknya teman pada umumnya, kami berbeda pendapat. Sirius entah mengapa selalu tidak setuju dengan apa yang diucapkan para orang tua. Bahkan apa yang dikatakannya terkadang membuatku versi cilik tidak paham.
"Jangan memanggil mereka darah lumpur! Itu tidak baik," omel Sirius. Ia masih delapan tahun kala itu.
Aku menatapnya bingung. "Harus kupanggil apa?"
"Muggleborn," jawabnya.
Aku hanya mengangguk-angguk, aku sendiri tidak tahu dari mana ia mempelajari kata itu. Aku tidak peduli dan mulai memerkenalkan boneka baruku pada Sirius. Sedangkan lelaki itu hanya mendengarkan. Setelah itu, ia akan mengejek bonekaku jika suasana hatinya baik. Kalau suasana hatinya lebih baik lagi, ia akan merebut boneka itu dan aku harus bermain kejar-kejaran dengannya.
Hari-hari lalu yang indah.
Sampai semua pertemanan kami menjadi canggung ketika orang tua kami memutuskan untuk menjodohkanku dan Sirius. Saat itu kami hendak menginjak sepuluh tahun, dan surat dari Hogwarts sudah ada di tangan masing-masing.
"Apa kau masih mau berteman denganku?" tanyaku pada Sirius setelah terlalu lama diam dan saling lirik.
Kami duduk di lantai kamar Sirius setelah ikut mendengarkan para orang tua yang berencana menjodohkan kami.
"Mengapa tidak?" Sirius balas bertanya.
2
"Kau seperti menjauhiku," kataku dengan intonasi semakin menurun.
Aku bersumpah dapat mendengar angin dari jendela yang mengelus rambutku dengan lembut. Begitupula dengan degup jantungku yang teratur.
"Kuharap kita selalu berteman, Sirius. Kau dan aku akan menjadi keluarga," lanjutku.
Sirius tidak membalas perkataanku, bahkan sampai aku mengucapkan pamit untuk kembali pulang.
Aku terkejut saat pertamakali memasuki Hogwarts. Sirius tidak menyapa maupun tersenyum padaku. Sepertinya ia terlalu sibuk dengan temam barunya yang ia temui di kereta.
Keadaan semakin memburuk terlebih saat Sirius diseleksi di Gryffindor. Terlebih ia sangat cepat berbaur dengan teman-temannya, James Potter, Remus Lupin, dan Peter Pettigrew. Pemikiran dan sifat Sirius cocok dengan mereka, dengan kebanyakan Gryffindor. Bagaimana ia tidak menyetujui supremasi darah murni, sangat berkebalikan dengan apa yang kupelajari di rumah sejak kecil. Dengan apa yang seharusnya Sirius pelajari saat kecil.
Yang membuat hatiku hancur, Sirius membenciku karena dasi hijau yang kukenakan.
Apa Sirius mau berteman denganku jika ia disortir ke Slytherin?
Setidaknya Sirius selalu bertemu denganku kala libur. Entah aku yang datang ke rumah mewahnya, atau ia yang dipaksa berkunjung ke rumahku yang tak kalah megah. Ini semua ide orang tua Sirius.
Hari libur adalah masa-masa di mana aku dan Sirius lupa bahwa merah dan hijau bermusuhan. Ia seperti orang yang benar-benar berbeda ketika menghabiskan musim panasnya denganku. Ia tetap usil dan cerdik, namun ia lebih perhatian, manis, dan sedikit protektif. Seperti udara canggung yang dulu memeluk kami telah hilang entah kemana.
Suatu saat ia pernah tak sengaja tidur di sampingku. Entah malam apa yang ia lalui di Grimmauld Place sampai ia kelelahan di siang harinya. Pada saat itu aku sadar bahwa Sirius Black amat tampan.
"Apa aku ketiduran?" tanya Sirius.
Aku yang hendak mengelus kepalanya langsung tersadar bahwa tindakanku akan merugikan.
"Ya, kau Putri Tidur," balasku dengan ejekkan.
Sirius terkekeh lalu mendudukkan badannya. Aku masih bersandar nyaman dengan bantal sebagai pengganjal. Aku terkagum-kagum dengan setiap gerak-gerik Sirius yang elegan khas Keluarga Black.
"Apa kau sudah makan dan minum obat?" tanya Sirius cepat ketika ia tersadar jika tugasnya adalah menemaniku yang tengah sakit ketika orang tuaku sengaja meninggalkan kami.
1
"Sudah," jawabku. "Kau bisa tidur di kamar tamu. Sepertinya orang tuaku akan pulang besok."
"Aku di sini saja. Lagipula aku tidak akan bisa tidur lagi setelah tidur panjangku tadi."
Sirius berpindah ke sofa di kamarku. Ia membuka-buka buku musik di meja kecil sebelahnya. Kami mengobrol singkat dan ia malah tertidur di sofa dengan posisi terduduk.
1
Aku terkekeh. Tidak bisa tidur lagi, katanya. Kuambil selimut di dalam lemari meski kakiku terasa sakit setiap melangkah. Kusampirkan selimut itu pada tubuh Sirius. Kasihan. Ia pasti kelelahan entah dengan apa itu. Mungkin ia terlalu sibuk menunjukkan diri pada semua orang bahwa ia masih pantas disebut Black.
Berbeda kala Sirius mengunjungiku, aku tak senang mengunjunginya. Pemandangan yang kudapatkan tak pernah membahagiakan. Sirius selalu adu mulut dengan orang tuanya, terutama dengan Nyonya Walburga. Kedua orang itu sama-sama keras kepala, tak ayal mereka ibu dan anak.
Semua pertengkaran mereka akan berakhir dengan Sirius yang mengunci diri di kamar dan Tuan Black akan mengantarkanku pulang. Entah apa yang terjadi di rumah mereka ketika aku sampai rumah. Apa Tuan Black akan memarahi Sirius lebih parah? Apa Nyonya Black akan main tangan?
Di setiap akhir liburan, aku mengira Sirius dan aku akan berteman kembali di sekolah, barangkali menyapa, namun Sirius masih berlaku dingin terhadapku di Hogwarts. Tentu ia tak ingin merusak citranya sebagai Gryffindor.
Mungkin yang salah ada padaku. Aku juga tak berusaha menyapanya. Karena aku juga tak ingin merusak citraku sebagai Slytherin.
1
Tahun keempat, Sirius dan kawan-kawannya semakin menggila.
Ia terkena banyak detensi. Kurasa ia malah bangga dengan itu. Sirius dan kawan-kawannya terbahak di koridor, berlari saat pergantian jam samai dimarahi oleh Tuan Filch, dan hal-hal menyenangkan lain yang dilakukan sekelompok teman.
Jika Sirius dan aku dekat, apakah aku akan menjadi bagian petualangannya?
Liburan kenaikan dari tahun empat ke lima, aku dan Sirius kembali berteman. Ia lebih sering mengunjungi rumahku.
Aku masih mengagumi usaha Tuan dan Nyonya Black untuk mempertahankan hubungan kami meskipun kedua orang tuaku mulai tidak menyetujui perjodohan ini setelah Sirius masuk ke Gryffindor, apalagi dengan banyaknya protes staf Hogwarts pada pasangan Black perihal ulah putra sulungnya di tahun ini.
Ibu berkata aku cocok mendapatkan yang lebih baik. Ibu hanya belum melihat bagaimana sikap Sirius jika tak ada orang lain. Bagaimana sikap Sirius yang hanya ia tujukan untukku.
2
Jarang bagi Sirius pulang saat libur natal, tapi di tahun kelima ia pulang. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumahnya. Seperti di rumahku atau Potter.
Di rumahku, ia bercerita tentang rumah para Potter. Mata abu-abunya berbinar ketika ia bercerita tentang makanan buatan Nyonya Potter, atau kegiatan memancing bersama Tuan Potter dan James.
1
Sirius selalu menyempatkan mampir ke rumahku dari kediaman Potter di Godric Hollows. Entah mengapa ia tak langsung pulang. Padahal kegiatannya di rumahku tak banyak. Paling-paling menemaniku yang tidak melakukan apa-apa sendirian. Aku tak bisa memberikan Sirius petualangan seperti James.
Sirius selalu mengiyakan semua yang ingin kulakukan bahkan sampai yang paling membosankan seperti membaca. Saat aku membaca, ia memintaku mengucapkan tiap katanya keras-keras. Ia akan memposisikan tubuhnya begitu nyaman. Duduk di sofa, berdiri di belakang kursiku dan meletakkan dagunya di kepalaku, atau serta merta merehatkan kepalanya di pangkuanku seolah itu hal biasa. Ia seharusnya tahu bahwa hal itu membuat jantungku berdebar. Ia seharusnya tidak melakukan ini jika ia tidak menyukaiku.
2
Terkadang aku berpikir betapa beruntung aku sampai Sirius berperilaku seperti ini. Gadis-gadis di Hogwarts rela mati demi mendapat lirikkan Sirius.
Aku ingat suatu hari, giliranku berkunjung ke rumah Keluarga Black. Seperti biasa, semuanya berakhir dengan Sirius adu mulut dengan kedua orang tuanya. Namun yang satu ini berbeda.....
"Lihatlah, Regulus! Kau seharusnya seperti dia!" Paman Orion membentak.
"Aku lebih baik dari Regulus karena tidak masuk ke dalam sirkus tengkorak itu!" Sirius balas berteriak.
"Jaga ucapanmu!" sekarang Bibi Walburga yang membentak.
"Fuck Death Eater! Fuck yo-"
Seruan Sirius terpotong oleh suara pukulan yang lebih keras dari teriakan Sirius. Mataku membelalak. Kupingku seolah berdenging di tengah keheningan.
Pipi Sirius memerah. Ia menundukkan kepalanya dalam. Rambutnya yang panjang menggantung, menutupi sebagian besar matanya.
Nyonya Walburga Black berdiri dengan napas berat. Matanya yang melotot berair entah karena amarah atau penyesalan.
Kali ini aku menyaksikannya langsung pertamakali bagaimana Sirius dipukul. Aku tak percaya bahwa Tuan Orion dan Nyonya Walburga benar-benar bermain tangan. Seharusnya aku sadar. Seharusnya aku mengerti.
Sirius mulai menatap ibunya berang. Ia tidak berkata apapun. Saat berbalik badan, mata abu-abunya beradu denganku. Terlihat jelas perbedaan warna antara pipi kiri dan kanannya. Aku sudah ingin menangis karena syok, terlebih melihat genangan air di mata Sirius.
Sirius lantas berlari menuju kamarnya. Aku mengikutinya. Tak sengaja melewati Regulus yang berdiri rapat di tembok dekat ruangan yang kami tempati tadi.
Tuan Black memanggilku. Aku tak mendengarkan. Seumur hidupku, aku tak pernah dipukul oleh orang tuaku sendiri.
"Sirius!"
Aku mengetuk pintu kamarnya yang terkunci. Ia tak membuka pintu maupun menjawabku. Hanya isakkan yang kudengar. Aku merasa ingin ikut menangis dengannya.
Pada akhirnya Paman Orion membujukku untuk pulang. Ketika aku keluar Grimmauld Place, kulihat Bibi Walburga terduduk dengan kepala menggantung. Kuharap beliau menyesal.
Memori paling indahku dengan Sirius adalah kala aku tengah duduk di tepian air mancur belakang rumahku. Sirius datang dengan apparition seperti biasa.
"Sehabis dari rumah James?" tanyaku .
Sirius tersenyun lebar. Napasnya begitu berat sembari berjalan mendekat. Mungkin lelah karena bermain entah apa itu dengan James.
"Ya! Tadi sangat hebat!" Sirius duduk di sebelahku dan bercerita mengenai petualangan ajaibnya dengan James.
Aku tersenyum mendengarkan Sirius. Sampai akhirnya ia bertanya apakah aku memiliki cerita untuknya.
Aku tidak terlalu sering ke luar rumah dan sedang tak membawa buku, namun aku tahu beberapa hal tentang mitologi Yunani. Melihat air dan pantulan wajah Sirius di kolam air mancur, aku mengingat Narcissus. Aku yakin Sirius sudah mengetahui tentang kisah ini. Ia bukanlah lelaki bodoh. Namun ia tetap mendengarkan ocehanku dengan saksama sampai kisahku selesai. Sebenarnya aku lebih seperti bergosip tentang orang-orang di zaman Yunani Kuno daripada bercerita.
"Apa menurutmu Narcissa seperti Narcissus?" tanya Sirius. Ia memilih untuk berjongkok di atas rumput, melipat tangannya di atas pinggiran air mancur, dan menonton pantulan kami di air.
Aku tertawa menunduk ke Sirius. "Memang ia narsis?"
"Well, her name is Narcissa." Sirius mendongak dengan seringaian.
Aku terkekeh sampai Sirius mencelupkan tangannya ke dalam air, menyentuh pantulan wajahku.
"Jika Narcissus memiliki wajah sepertimu, aku tahu mengapa ia terjun ke dalam air," tutur Sirius.
Aku bersumpah dapat merasakan kupu-kupu terbang dari perut sampai paru-paruku.
Sirius pasti mengatakan itu tanpa berpikir, karena pemuda itu menceburkan diri ke dalam air mancur. Airnya terciprat kepadaku. Aku sedikit khawatir apakah Sirius terbentur marmer karena air mancurku tidak dalam, namun saat wajahnya muncul di permukaan, ia terbahak. Aku pun turut tertawa.
Wajah Sirius yang basah, pipinya yang merah, sinar mentari siang hari yang mengguyurnya, membuat parasnya semakin rupawan.
"Kau tak ingin ikut? Jarang-jarang Inggris panas, dan kau sudah terciprat air," tuturnya mengulurkan tangan padaku.
"Tidak," balasku singkat.
Sirius terlihat seperti anak-anak. Ia bermain-main dengan air sambil terus membujukku untuk bergabung dengannya.
Tak bisa membujukku ia datang mendekat. Ia meletakkan dagunya di atas pinggiran air mancur dan mendongak padaku, menunjukkan tatapan seperti anak anjing. Tetesan air jatuh dari bulu matanya, helaian rambut gondrongnya yang tidak turut disisir ke belakang sedikit menutupi wajah.
"Apa kau marah padaku?" tanya Sirius.
Apa aku terlihat marah? Aku menolak ajakan Sirius karena tak ingin basah kuyup dan demam. Aku mudah sakit.
Tangan Sirius terulur untuk menangkup pipi kiriku. "Maafkan aku," katanya.
"Mengapa kau meminta maaf?"
"Karena perlakuanku padamu di Hogwarts itu tidak adil. Aku tahu selama ini kau pasti marah karena itu."
1
Aku terdiam sangat lama. Aku tak pernah mempermasalahkan itu. Lagipula aku juga bersikap dingin padanya di Hogwarts. Namun setelah dipikir lagi, apa yang Sirius lakukan jauh dari kata tak adil, ia benar-benar jahat, tetapi aku terlalu menyukai Sirius untuk membencinya.
"Aku menyukaimu," tuturnya. Dengan cepat ia menambahi, "Rumahmu. Maksudku rumahmu. Suasana rumahmu lebih nyaman daripada rumahku. Aku tidak tahu jika itu masih pantas disebut rumah."
Kali ini aku yang menangkup pipi basah Sirius, mengelus-elusnya pelan. Tangan Sirius berpindah menggenggam tanganku yang menangkup pipinya.
"Kita akan menjadi keluarga, rumah ini akan menjadi rumahmu," kataku.
"Rumah ini akan menjadi rumah kakakmu," koreksi Sirius sembari terkekeh.
"Aku yakin pintunya terbuka lebar untuk kita."
Sirius tersenyum lebar. Dengan cepat ia menarik wajahku mendekatinya dan mengecup bibirku cepat.
4
Aku menegang. Otakku memproses tindakan Sirius. Pemuda ini benar-benar digerakkan oleh impuls.
Wajah Sirius masih berada satu senti di depanku. Ia membisikkan maaf di depan bibirku lalu menciumku lagi. Lebih pelan dan lebih lembut. Pada saat itu aku memutuskan untuk ikut memceburkan diri ke dalam air dengan Sirius.
Seperti Narcissus meraih cintanya.
Tapi seperti kisah Narcissus, kisahku dan Sirius juga berakhir.
4
Sirius kabur ke kediaman Potter. Potter yang dianggap pengkhianat karena membela muggle.
Keluargaku tak mau Sirius menginjakkan kaki di rumahku, jika mereka tahu Sirius ber-apparate di sini, mereka bahkan tak segan menyeretnya keluar. Pada akhirnya Keluarga Black mengabulkan permintaan orang tuaku dan membatalkan perjodohan kami.
"Berapa harga dirimu jika kau menikah dengan Sirius?" gerutu Ibu setelah Bibi Walburga pulang ke rumahnya. Ibu nampak puas Sirius bukanlah jodohku.
1
Mengapa aku sakit hati dengan ucapan Ibu? Aku mungkin telah mencintai Sirius semenjak ciuman itu. Aku berharap jika Sirius tak kembali pulang, ia akan tetap menemuiku seperti kisah cinta yang orang ceritakan, namun tidak. Ia tidak pernah datang menemuiku.
Sekarang di sini lah aku. Duduk di kursi kereta. Kini aku benar-benar melihat Sirius. Ia bersenda gurau, merangkul Remus dan Peter. James berada di depannya berjalan mundur menceritakan sesuatu dengan gerak tubuh yang dilebih-lebihkan.
Kukira aku dan dirinya akan menjadi keluarga, namun mereka bertiga lah keluarga pilihan Sirius.
Aku bersumpah telah melupakan perasaanku pada Sirius. Tak ada alasan bagiku untuk berbalik bahkan sekedar menoleh pada Sirius Black. Hanya saja aku membayangkan bagaimana jika...
...Sirius tidak terlalu pemberani sampai disortir di Grydfindor...
...Sirius masih menjaga hubungan pertemanannya dengaku...
...Sirius tidak kabur...
...dan Sirius menjelaskan hubungan yang kami miliki setelah ciuman itu, karena teman tak asal bertindak.
Aku penasaran jika satu hal yang kusebutkan tadi nyata, apakah semuanya akan berakhir seperti ini?
Aku tersenyum menatap Sirius yang tertawa melihat James menabrak sekumpulan Slytherin.
Kupikir akan sangat menyenangkan jika Sirius Black ada di sini, di sampingku, menganggapku sebagai keluarga atau calonnya, atau jika Sirius menjadi orang itu yang selama ini selalu kubayangkan.
"Permisi, bisakah kau berpindah tempat? Aku ingin di dekat jendela," tutur Betty. Adik kelas Ravenclaw yang cantik. Tidak ada yang tidak mengenal gadis ini.
Tubuhku sangat berat untuk digerakkan dan Sirius masih tertawa dengan manis di ujung mataku. Aku tak ingin pindah dari tempat ini.
"Oh, ya! Tidak masalah."
Shit!
"Terimakasih," tutur Betty pada kakak kelas Slytherin yang berkenan untuk bertukar tempat duduk dengannya. Kakak kelas itu gadis yang amat cantik. Ia seperti bayangan Betty pada Helen dari Sparta.
Betty menanggalkan kardigan yang ia kenakan dan duduk melihat ke luar jendela. Bisa saja bagi Betty untuk masuk ke salah satu kompartemen dengan mata terpejam dan menemukan teman-temannya, namun Betty tidak yakin jika mereka benar-benar teman. Betty hanya dapat berbagi suka pada mereka. Betty tak dapat menyuarakan uneg-unegnya tentang James pada siapapun.
Tidak. Bukan James Potter kakak kelas yang keren itu. Yang berada di seberang jendela saat ini, menertawakan segerombolan Slytherin lalu berlari pergi. James yang itu begitu setia pada Lily Evans. Betty sempat berpikir bahwa Jamesnya juga seperti itu.
Betty bertemu James di pesta yang diadakan Gryffindor. Saat itu Halloween dan Betty mengenakan kostum Wendy Darling, sedangkan James menjadi Peter Pan. Tidak lama bagi mereka untuk menyadari kostum satu sama lain, dan tidak lama pula bagi mereka untuk saling mengenal dengan baik.
2
"Kau cukup sering berada di pesta," tutur James.
"Cukup banyak yang mengundangku. Aku tidak enak untuk menolak. Lagipula aku masih muda. Carpe diem, they said," timpal Betty.
2
James terkekeh. "Apa kau tidak bosan?"
Betty menatap James yang tersenyum padanya dan Betty balas tersenyum. "Sedikit."
"Then..." James meletakkan minumannya serta milik Betty lalu menggenggam tangan pemudi itu. "c'mon!"
Betty tergelak, sedikit kebingungan, namun tetap mengikuti kemana James membawanya. "Where do we going?"
"The Neverland!" seru James setelah ia membawa Betty ke luar ruangan. Para lukisan mengomel pada James karena suaranya yang keras.
Betty dan James tidak pergi jauh. Mereka pergi ke menara astronomi. Melihat second star to the right. Melihat Neverland.
"Menurutmu, mana Neverland?" tanya James mendekatkan dirinya pada Betty. Gadis itu dapat merasakan suara James begitu jelas di telinganya.
"Tidak ada, James. Peter Pan lelaki yang suka bicara seenaknya." Ucapan Betty membuat James menautkan alisnya dan itu menggelikan bagi Betty. "Mungkin itu." Betty menunjuk bintang paling terang di langit. "Kurasa itu Saturnus. Dan yang sebelah kiri adalah Jupiter. Mereka yang paling terang dan paling dekat dengan cakrawala di bulan ini, jadi mungkin itu adalah Neverland. Tapi itu tidak penting. Seperti yang kukatakan, Peter Pan suka bicara apa saja, mungkin bintang kedua dari kanan bukan Neverland yang sebenarnya."
"Perempuan memang banyak bicara," tutur James diikuti kekehan.
Betty langsung menutup mulutnya rapat. Menyesali celotehannya.
"Namun aku suka kau bicara. Aku suka mendengar cerita," kata James.
Dan itu cukup untuk membuat Betty tersenyum kembali.
'Second star to the right and straight on 'til morning.'
Cahaya lembayung mulai muncul di cakrawala sebelum Betty menyadari bahwa dirinya mengantuk. Betty dan James berbagi cerita begitu banyak. Keduanya tak ingin cerita itu usai di situ saja. Dengan kecupan lembut di bibir, James berjanji pada Betty untuk menemuinya usai kelas.
+
"Nanti, ceritakan padaku tentang Kapten Hook," bisik James di depan bibir Betty sebelum ia menjauhkan diri dan mengantar Betty sampai depan pintu asrama Ravenclaw.
Menggelikan bagaimana pertemuan Betty dan James begitu sederhana namun amat bermakna. Seolah mereka memang ditakdirkan bertemu.
"Dia terdengar seperti lelaki baik padamu," tutur Inez saat sarapan.
"Dia baik sekali! Dia bahkan mengantarku sampai depan pintu asrama," ujar Betty. Matanya sedikit menyipit karena senyumannya begitu lebar.
"Aku ikut senang kau membuka dirimu pada laki-laki," kata Inez.
Betty terdiam cukup lama. Sekelebatan ingatan yang tak terlupakan muncul dalam angannya. "Aku juga," ucap Betty dengan senyum.
Betty dan James tidak terpisahkan. Mereka pergi ke The Three Broomstick bersama, pergi ke pesta bersama, duduk di satu kompartemen yang sama, dan memghabiskan waktu musim panas bersama-sama.
Pertengahan bulan Juni di musim panas, James berkunjung ke rumah Betty atas undangan ibunya untuk makan malam. James memutuskan untuk menginap seperti biasa. Betty dan James berbaring di atas ranjang. Kepala Betty beristirahat dengan nyaman di atas dada James. Starman dari David Bowie terdengar dari pemutar musik milik Betty.
4
"Kau hanya tinggal bersama ibumu?" tanya James.
Betty mengangguk. Ia menggambar bintang dan astronot di dada James dengan jari telunjuknya. "Orang tuaku sudah bercerai."
James bergumam, tidak bertanya lebih lanjut. Lelaki itu menggenggam tangan Betty dan mengecup pergelangannya. Ia meletakkan tangan Betty di dadanya dan menggenggamnya terus sampai mereka terlelap, terbang di pulau kapuk. Untuk kali pertama, Betty mendapatkan mimpi indah.
Betty tahu jika pemuda dan pemudi seumurannya kerap meremehkan hal kecil yang dapat menyeret mereka dalam masalah. Seperti halnya James yang berpikir bahwa Betty tidak terlalu pintar untuk menyadari perubahan di sikapnya. Bahkan Betty tahu penyebab dari hal itu.
"Aku ingin mengisi ulang minumanku," tutur James di pesta ulang tahun Mary Macdonald. Pesta terakhir yang didatangi Betty dan James bersama-sama.
Sesaat James pergi, Sirius dan Mary mendatangi Betty untuk menyapa. Mereka berdua mabuk. Jika bukan karena Peter Pettigrew, mungkin mereka sudah ambruk di depan Betty saat ini.
"Oh... Si cantik Betty dari Ravenclaw!" seru Mary. "Apa kau menikmati pestaku?"
Betty terkekeh san berkata, "Tidak ada yang lebih hebat dalam pesta selain Gryffindor."
"Kau memiliki jiwa Gryffindor." Sirius menepuk-nepuk pundak Betty. "Apa kau sendiri?"
"Aku bersama James," jawab Betty.
"James?" tanya Sirius.
"James adik kelas kita, Pads," ucap Peter.
Sirius menautkan alis, mencoba mengingat James selain James Potter sahabat karibnya.
"James pacar Betty, dungu!" seru Mary sambil memukul kepala Sirius cukup keras.
"Ah! James pacar Betty! Aku tahu dia. Dia yang sering membawa benda muggle itu... Benda... Itu... membawa stik besar beroda," ucap Sirius.
"Skateboard," ucap Peter dan Betty hampir bersamaan.
"Ya! Itu-"
"Astaga! Marlene minum firewhisky! Ayo, Siri-sampai nanti Betty cantik!" Mary Macdonald berbicara. Kalimatnya bercampur menjadi satu. Ia menarik Sirius untuk mendekat dan berseru pada Marlene yang meminum satu botol firewhisky.
"Maafkan mereka," celetuk Peter.
"Pasti sedikit menyusahkan," kata Betty bersimpati.
Peter menatap teman-temannya yang bergerombol di satu meja. "Yah... Begitulah." Peter memandang Betty kembali sembari tersenyum. "Aku akan menjaga mereka lagi," pamit Peter.
Setelah Peter Pettigrew pergi, Betty tersadar bahwa James tidak segera kembali. Matanya mencari ke sana dan ke mari. Dan Betty melihat James dengan gelas yang setengah kosong berdiri dekat dengan seorang gadis Gryffindor lain. Betty tahu gadis itu. Augustine.
2
Betty tidak menghabiskan waktunya untuk mendekati James. Gadis itu berdiri mengamati sembari meneguk minumannya sedikit demi sedikit. Betty tahu James akan kembali.
Dan James kembali meski Betty harus menunggu dua puluh menit lebih lama. Betty tidak mengatakan apapun mengenai gadis itu saat James datang dengan gelas yang penuh dan kecupan di ujung kepalanya.
Semenjak malam itu, semua berubah. Betty tersadar, namun ia diam. Menunggu apakah James cukup pintar untuk menyadari bahwa yang menciptakan asap ini adalah Betty, bukan dirinya. Karena Betty dapat melihat semua, tidak seperti James.
Musim panas kemarin, James tidak mengangkat telepon rumahnya, selalu memberikan alasan ketika diundang makan malam, dan tidak memberikan kabar bahkan sekali. Maka ketika James berdiri di selasar rumah Betty di hari Sabtu, kecemasan di hati gadis itu berkurang sedikit.
Mereka menghabiskan waktu berjalan-jalan di sekitar taman kompleks rumah Betty. Melihat anjing berlarian dengan anak kecil, lansia duduk di bangku, dan tak sedikit orang duduk di atas rumput, fokus pada kegiatan masing-masing.
"Kau ke mana saja selama ini?" tanya Betty.
"Aku sedikit sibuk membantu orang tuaku," jawan James tanpa berpikir panjang.
Betty tahu itu bohong. Alasan itu tidak masuk akal di otak Betty, namun ia memilih tidak bertanya lebih lanjut.
Makan malam berlanjut seperti biasa, namun James tidak menginap. Betty duduk di sofa menatap James yang berdiri dan membungkuk untuk memberikannya kecupan di bibir dan dahi.
"Aku mencintaimu," katanya.
Tubuh James hilang di balik pintu. Ia tidak menunggu balasan dari Betty. Tidak berbalik tersenyum. Peris seperti ingatan Betty tentang Ayahnya di hari itu. Setidaknya Ayah Betty tidak menyiksanya dengan melakukan hal itu berulang kali.
Semester baru di Hogwarts datang. James tidak menjemput dan berangkat bersamanya ke King's Cross. Betty berangkat bersama Inez.
"Tumben sekali kau tidak bersama James," celetuk Inez di dalam taksi.
"Dia sepertinya sibuk. Aku tidak tahu." Betty mengangkat bahu dan bersender pada kursi taksi.
Inez menatap Betty lamat. Dan Betty tidak tahu harus bersyukur atau bersedih atas apa yang Inez ucapkan tentang James. Tentang bagaimana lelaki itu menghancurkan harapan Betty pada lelaki.
"Kau yakin, Inez?" tanya Betty. Tangan kirinya menggenggam erat tangan kanannya sendiri. Keduanya bergetar.
"Hanya Gryffindor yang berani melakukan hal seperti itu," tutur Inez.
Betty bukanlah orang yang mudah percaya dengan gosip atau bahkan menilai seseorang dari asramanya. Ia lebih pintar dan lebih baik dari itu. Namun kali ini Betty tak dapat membela James. Karena seperti Betty, Inez pun tidak percaya dengan gosip.
Betty dapat melihat James di King's Cross. Lelaki itu berlari kecil ke arahnya. Ia memeluk Betty sejenak, tidak sadar akan postur Betty yang kaku.
Tahu akan tatapan yang Betty tujukan, Inez pergi meninggalkan keduanya tanpa berbasa-basi pada James.
"Aku merindukanmu," ucap James setelah melempar senyum yang tak dibalas oleh Inez.
Like hell, you do, batin Betty. Ia tidak menatap James atau bahkan mendengarkan celotehannya. Betty terlalu sibuk meladeni suara di kepalanya.
"Babe, kau sakit?" tanya James membuyarkan pikiran Betty.
"Apa itu benar?" tanya Betty tak menjawab pertanyaan James.
"Apanya?"
"Kau dan Augustine."
James membuka mulutnya, namun tak ada aksara yang diproduksinya. Betty menunggu sedikit lama. Memberikan James waktu dan ruang untuk membela diri. Namun James malah menutup mulutnya kembali.
"Jadi itu benar?" tanya Betty dengan kekehan kecut. "Sekarang sebutkan kesalahanku sampai kau melakukan hal seperti itu?"
James terdiam seperti orang bodoh di mata Betty.
"Tidak? Kau tak bisa menyebutkannya?"
"Aku mencintaimu," James mencicit.
"Simpan itu! Kau pasti mengatakan pada gadis itu hal yang sama! Kau tak bisa mengejar dua gadis, James!" Betty berbisik penuh penekanan. Ia tidak ingin orang-orang di sekitarnya mendengar. Itu akan memalukan.
James menggantungkan kepalanya, namun Betty tak ingin melihat bahkan sehelai rambut James. Betty meninggalkan James berdiri mematung. Bahkan ia tidak berusaha untuk mengejar Betty kembali.
Pertengkaran Betty dan James tak pernah berlangsung lama. Dua remaja itu mungkin akan berbaikan dengan satu ciuman di dalam mobil Betty atau The Three Broomstick. Tetapi Betty sudah muak bagaimana diamnya dianggap ketidaktahuan bagi James. Betty sudah muak kebaikannya dimanfaatkan.
Musim panas ini terlampau kejam pada Betty.
Dan tindakan James jauh dari kata kejam.
1
Betty meremas kardigan di tangannya ketika mengingat James. Ia bahkan selalu melirik ke luar jendela, seolah melihat James berdiri di sana dengan wajah seperti anak anjing yang dibuang, menunggu Betty untuk memaafkannya. Itu hanya angan Betty saja.
Namun Betty tahu James.
1
Betty tahu jikalau James tengah berpikir keras untuk memperbaiki keadaan.
Betty tahu James akan selalu terbang seperti Peter Pan di pikirannya. Menggodanya untuk tinggal bersamanya di Neverland.
1
Betty tahu jika James merindukannya di suatu titik ketika petualangannya mulai membosankan.
Betty masih enam belas tahun dan ia tahu semuanya.
1
Dan Betty tahu James akan kembali.
"Sapu tangan?" kakak kelas secantik Helen dari Sparta itu menyodorkan sapu tangan hitam bersih untuk Betty.
Betty tidak sadar bahwa ia tengah menitikkan air mata. Sedari pertengakarannya dengan James berlangsung, ia menahan semua emosinya. Fuck you, James. I hope you have miserable life, batin Betty.
1
Betty menerima sapu tangan itu dengan terima kasih dan menenggelamkan wajahnya sejenak lalu mengusap air matanya. Ketika ia melipat sapu tangan itu kembali, ia melihat bordiran bertuliskan Black dengan benang perak.