Mahkota Raja Ramah
Fantasy
30 Nov 2025 27 Nov 2025

Mahkota Raja Ramah

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (9).jpeg

download (9).jpeg

26 Nov 2025, 15:06

Rara selalu bertanya-tanya pada hati kecilnya, mengapa orang-orang kerap memandang keanehan dunia ini sebagai sesuatu yang mengerikan? Padahal, semua keanehan-keanehan itu, bagaikan batu permata yang amat mengkilap di mata Rara.

Bagi Rara, keganjilan adalah hal yang paling megah di dunia ini, sama seperti mahkota emas yang pernah muncul di masa lalunya. Sebuah mahkota emas yang ukurannya menyerupai gelang, dan memancarkan cahaya yang terang benderang dan hangat layaknya sinar mentari, hingga mampu mengusir angkasa yang gelap gulita.

"Ya... orang-orang memang aneh... " Ujar Angga yang duduk di samping Rara. Mata pemuda itu terbuka lebar karena kagum dengan keberadaan sebuah ponsel yang melayang-layang tepat di depan matanya. "Tapi... kita juga orang kan?"

Siang ini adalah siang terpanas yang pernah dirasakan Rara seumur hidupnya. Bahkan, karena saking panasnya, tak ada satupun pelanggan yang belanja di grosirnya sejak pukul sebelas tadi—saat dimana matahari mulai memancarkan sinar yang begitu menyengat.

Waktu itu, Rara dan Angga sedang duduk di meja kasir yang berada di dekat pintu masuk. Di tokonya, rak-rak tersusun rapi dengan berbagai macam dagangan yang tertata di atasnya, sedangkan di bagian paling dalam juga ada begitu banyak susunan kotak kardus dengan berbagai ukuran dan isinya.

Yah, meskipun toko Rara terbilang besar, tapi sayangnya dia hanya memasang satu buah AC saja, dan sekarang Rara menyesal karena tidak memasang dua pendingin ruangan.

"Hah... kau benar-benar beruntung Angga. Padahal ini baru hari pertamamu bekerja di sini, tapi sekarang grosirku malah sepi begini... " Ujar Rara. Wajahnya yang biasanya terlihat cantik dan penuh semangat, kini terlihat murung dan hampa. "Seandainya saja nggak panas kayak begini, pasti kau nggak akan bisa bernafas karena saking banyaknya pembeli... "

"Eh... tapi kan, tugasku cuma di meja kasir doang... " Gumam Angga.

"Heh... iya juga, ya?" Rara lalu menatap Angga dengan heran. Entah kenapa rasanya sulit sekali bagi Rara untuk percaya dengan semua yang baru terjadi akhir-akhir ini. Angga yang merupakan anak dari keluarga kaya, dan juga teman Rara sedari kecil, yang beberapa tahun silam pergi keluar kota untuk melanjutkan pendidikannya, minggu lalu tiba-tiba datang ke hadapan Rara dan menawarkan diri untuk menjadi karyawannya.

Benar-benar tak bisa dipercaya.

"Jujur lho, sejak aku balik ke kota ini, aku selalu penasaran dengan tokomu, karena tiap kali aku lewat, tokomu pasti ramai banget... Bahkan orang luar kota pun pasti datang ke sini untuk belanja, sampai-sampai tokomu ini malah terlihat lebih ramai daripada mall di kota." Angga bergumam, tapi matanya masih tertuju pada ponsel yang mengambang-ngambang di depannya itu. "Dan... sekarang aku tahu penyebabnya... "

"Yah... aku perhatikan, kamu kayaknya memang sering lewat jalan sini deh, tapi kamu sama sekali nggak pernah singgah belanja di sini... " Rara menatap curiga pada Angga, tapi pemuda itu masih terpaku pada ponsel yang melayang. "Memangnya kamu biasanya ngapain ke sini? Setidaknya, kalau kamu lewat sini, kamu belanja minum gitu kek. Kita sudah berteman dari kecil loh—"

"Eh, Ra, kamu kok bisa punya kekuatan kayak begini sih? Bagaimana ceritanya coba? Dan sejak kapan?" Ujar Angga yang akhirnya berhasil memalingkan pandangannya dari ponsel itu. Dari mukanya, siapapun bisa tahu akan betapa penasarannya dia sekarang.

Rara hanya mampu memasang wajah datar setelah mendengar perkataan Angga. Dia bahkan tidak memedulikan semua yang telah dikatakan Rara beberapa detik lalu. Namun, pada akhirnya Rara hanya bisa menghela nafas dalam, lalu ia pun mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Angga.

"Yah, pada dasarnya sih, ada banyak hal yang telah terjadi sejak kau memutuskan untuk SMA di Makassar... Dan... soal kekuatan ini, aku mendapatkannya sehari setelah kau berangkat." Rara menjelaskan sambil tersenyum kecil. Namun, entah kenapa kini dia bisa merasakan rasa pahit yang amat pekat di lidahnya. Perasaannya tiba-tiba bergejolak.

"Hah? Yang benar? Tapi, bagaimana bisa? Bagaimana caranya?"

Tubuh Rara tersentak saat mendengar pertanyaan itu. Hatinya terasa semakin terombang-ambing tanpa sebab yang pasti.

"Ah... kayaknya nggak perlu aku ceritain deh... " Rara mengangkat tangan kanannya agak tinggi, dan ponsel itu pun juga bergerak naik ke atas mengikuti gerakkan tangan Rara, atau mungkin juga hatinya. Sungguh kekuatan yang sangat aneh. Sudah tiga tahun Rara memiliki keganjilan ini di dalam dirinya, tapi dia tetap saja kebingungan dengannya.

Kekuatannya itu adalah satu-satunya keganjilan yang bisa membuat hati Rara menjadi bimbang.

Apakah dia harus memandang keganjilan—kekuatan—ini sebagai sesuatu yang mengerikan, atau sebagai sesuatu yang indah bak permata?

"Kok?" Pekik Anga. "Hey, Ra, kita ini sudah berteman dari kecil loh, masa iya kamu nggak mau menceritakan aku hal sepenting itu."

"Yah, kita memang sudah kenal dari kecil, dan kau bahkan mengetahui semua rahasiaku. Tapi, apa kau tahu? Aku sama sekali nggak tahu apa-apa tentangmu loh... selain namamu, hobimu, dan keluargamu... sisanya, aku sama sekali nggak tahu."

"Hey, hey... aku bahas apa, kamu bahas apa..."

"Tapi—"

"Ayolah! Ceritakan semuanya padaku, Ra!"

Rara kembali menghela nafas. "Sebenarnya... Aku... " Rara berhenti sejenak. Matanya sedikit bergetar. Dia merasa dicekik. Walau ingatan itu masih terlalu jelas dalam benaknya, tapi Rara sudah memutuskan untuk tidak mengungkit lagi tragedi mengerikan yang terjadi pada hari itu. "Maaf... kayaknya aku memang nggak bisa deh... "

"Eh...? Apaan sih?" Angga terlihat kecewa. "Hmm... tadi katamu, kau mendapatkan kekuatan ini sehari setelah aku pindah ke Makassar... Dan kalau nggak salah... hari itu adalah hari di mana panti asuhan terbakar kan?"

Dunia di sekitar mereka tiba-tiba berguncang, sampai-sampai ada beberapa barang di sekitar mereka yang jatuh dari rak. Mata Rara terbuka sangat lebar. Keringat dinginnya bercucuran. Dia merasa seolah baru saja jatuh dari langit. Tapi, Rara buru-buru mengontrol napasnya dan berusaha menenangkan dirinya.

"Barusan... apaan?" Angga bergumam heran.

"Eh, demi apa... Kok kamu berpikir sampai kesitu?" Senyuman Rara ikut bergetar.

"Lagian kamu nggak mau ceritain juga," Kata Angga cemberut.

"Hah... "

"Yah, kalau kamu tetap nggak cerita, aku bisa cari sendiri kok." Kata Angga sok seraya mendongak menatap ponsel yang mengambang tinggi itu. "Hari ini, aku akan mengetahui kebenarannya... "

"Eh? Maksudmu?"

"Ah, nggak ada apa-apa kok," Jawab Angga sambil tersenyum manis. "Oh iya, kau ingat nggak dengan ucapan yang sering dikatakan Kakek Johan tiap kali kita berkunjung ke panti?"

"Ah, aku masih ingat."

"Ada satu kekuatan lahiriah yang amat menjengkelkan yang melekat pada manusia, dan itu adalah kemampuan mereka untuk mengecewakan orang lain." Angga mengulangi kembali kata-kata bijak yang selalu dikatakan oleh almarhum Kakek Johan. Meski wajahnya tampak sedih, tapi senyumannya tidak raib dari bibirnya.

Keheningan menelan setiap sudut ruangan setelah suara Angga hilang dibawa oleh waktu. Rara hanya diam waktu itu. Kata-kata Angga terasa seperti bilah pisau yang menusuk dada Rara.

"Selamat siang, Rara!"

Namun, keheningan itu lenyap begitu saja saat rombongan ibu-ibu tiba-tiba masuk ke dalam toko tanpa disadari. Ada beberapa yang langsung mengantri di depan meja kasir, sedangkan yang lainnya memilih untuk masuk lebih dalam dan melihat-lihat isi toko untuk menambahkan barang-barang lain dalam daftar belanja mereka.

"Nih, Ra, tolong ya." Salah seorang ibu memberikan secarik kertas pada Rara, dan di kertas itu sudah tertulis daftar barang yang ingin dibeli oleh ibu itu.

"Siap, Bu!" Kata Rara penuh semangat seraya membaca daftar belanja itu. "Yah, kebetulan semuanya ada, dan kalau nggak ada tambahan, jadi langsung saja ya?"

Setelah membaca semuanya, mata Rara tiba-tiba mulai bersinar memancarkan cahaya keemasan, lalu Rara mengangkat tangan kanannya dan menjentikkan jarinya, dan pada saat itu pula, ada beberapa barang dari rak, dan juga barang-barang di ruang belakang, serta kardus kosong di pojok yang tiba-tiba mulai bergerak sendiri, kemudian melayang dan berkumpul di udara di atas meja Rara.

"Hey... Ra... kok matamu jadi kayak senter loh..." Bisik Angga keheranan.

Sungguh suatu pemandangan yang benar-benar berhasil merusak kenyataan dunia.

Akan tetapi, anehnya para pelanggan setia Rara, maupun orang-orang yang baru pertama kali datang ke toko ini, pasti akan langsung tahu dengan satu peraturan yang harus dipatuhi selama mereka belanja di sini.

Hanya satu peraturan, dan itu adalah; para pelanggan tidak boleh membeberkan kejadian-kejadian ajaib yang terjadi di sini pada orang-orang yang tidak berkepentingan sama sekali.

Rara juga tidak tahu persis bagaimana hal itu bisa terjadi, tapi sepertinya itu hanyalah salah satu dampak dari kekuatannya.

Semua barang-barang itu meluncur masuk ke dalam kardus kosong, dan kemudian tali yang ada di meja Rara juga ikut terulur dengan sendirinya, lalu mengikat kardus itu dengan erat. Dan saat semuanya selesai, kardus yang berisi barang-barang pesanan si Ibu pun mendarat dengan mulus di atas meja.

"Hah... " Rara menghela nafas dalam seraya menengok ke arah Angga yang takjub dengan apa yang baru saja dilakukan Rara. "Nih, buruan kamu hitung semuanya." Ujar Rara sambil menyodorkan kertas itu pada Angga.

"Eh?" Angga menoleh ke arah Rara dengan ekspresi tolol yang terpampang di wajahnya. "Oh! Iya! Cepat siniin." Namun Angga berhasil sadar, dan dia dengan cekatan mulai menjumlahkan harga keseluruhan dari semua barang belanja ibu itu.

Ya, suasana siang yang sibuk itu begitu menyenangkan bagi Rara. Dia dan Angga bekerja dengan penuh semangat, walau cuacanya sangat panas. Namun, bagi Rara, momen ini sangatlah mahal, apalagi Angga juga merupakan salah satu orang paling berarti dalam hidupnya.

Namun, dosa adalah dosa. Dan seperti kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat pasti akan jatuh juga, jadi, kejahatan Rara, mau tak mau kelak tentu saja akan terbongkar, dan dia harus menerima kenyataan itu. Begitulah hukum dunia.

Dan beberapa jam kemudian, saat langit memancarkan cahaya oranye yang hangat dan membuat dunia terasa damai, akhirnya saat itu pun tiba.

"BERHENTI WOY! ANGGA!"

Tampak ada ratusan garis cahaya yang melesat dari langit, dan bergerak dengan kecepatan kilat menuju ke arah Rara. Meski begitu, anehnya Rara sama sekali tidak merasa terancam dengan cahaya-cahaya kemerahan itu, dan dia tetap berdiri tegak di langit.

Rara memantapkan pikirannya, hingga membuat cahaya keemasan meledak dari dalam dirinya, dan menciptakan semacam pelindung untuk Rara untuk menahan cahaya-cahaya kemerahan itu.

Ledakan bertubi-tubi terjadi tepat di depan mata Rara. Ledakan yang seharusnya menghancurkan sebuah kota hingga rata dengan tanah, bahkan tidak bisa membuat Rara tergores.

Itu semua berkat mahkota emas kecil yang melayang rendah di atas kepalanya.

"Kenapa kau tidak menyelamatkan mereka!" Teriak suara Angga yang terdengar dari langit. Awalnya tidak terlihat apa-apa di atas sana, tapi tak lama kemudian, dari balik awan-awan akhirnya Angga muncul dengan menunggangi seekor naga raksasa bersisik ungu bercahaya.

"A-aku bahkan hampir tidak bisa berbuat apa-apa saat itu! Semuanya terjadi begitu saja! Dan apa yang kau harapkan!" Balas Rara. Emosinya bercampur aduk. Alisnya berkerut sedih.

"Dasar bodoh! Orang-orang di panti itu sudah seperti keluarga kita! Dan kau bertanya apa yang aku harapkan!? Apa-apaan kau, Rara!" Angga berteriak murka dengan Air mata yang mengalir di wajah. "Dengan kekuatanmu! Kau seharusnya bisa menyelamatkan mereka! Tapi kenapa kau hanya menyelamatkan Sari!?"

"Tapi... semuanya sudah terjadi... " Rara berbisik pelan sambil menoleh ke belakang, dan memandang seorang gadis kecil yang berdiri jauh dibawah sana. "Semuanya sudah terjadi! Dan itu nggak bisa dirubah lagi!"

"Memang sudah terjadi... tapi aku juga sudah terlanjur kecewa, Ra." Kata Angga. "Bagiku, kematian mereka adalah sebuah kesalahan, dan Sari yang bertahan hidup, juga merupakan suatu kesalahan... " Sayap naga itu tiba-tiba terbentang lebar dan membuat angin berguncang, tanda bahwa mereka siap untuk bertempur. "Berkatmu, semua ingatan itu sekarang sudah tak ada artinya lagi."

Rara menggigit bibir. "Nggak ada yang tergantikan di dunia ini! Semuanya berarti!"

Rara masih tak tahu harus berbuat apa sekarang. Sahabatnya tetap tak mau sadar. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana caranya mengakhiri ini? Rara kehabisan kata-kata. Satu-satunya yang mampu dilakukannya saat ini, adalah membuat langit dipenuhi oleh cahaya keemasan yang berasal dari dalam dirinya.

+

"Bunuh tukang bacot itu... Barbatheos.""Hah? Yang benar? Tapi, bagaimana bisa? Bagaimana caranya?"

Tubuh Rara tersentak saat mendengar pertanyaan itu. Hatinya terasa semakin terombang-ambing tanpa sebab yang pasti.

"Ah... kayaknya nggak perlu aku ceritain deh... " Rara mengangkat tangan kanannya agak tinggi, dan ponsel itu pun juga bergerak naik ke atas mengikuti gerakkan tangan Rara, atau mungkin juga hatinya. Sungguh kekuatan yang sangat aneh. Sudah tiga tahun Rara memiliki keganjilan ini di dalam dirinya, tapi dia tetap saja kebingungan dengannya.

Kekuatannya itu adalah satu-satunya keganjilan yang bisa membuat hati Rara menjadi bimbang.

Apakah dia harus memandang keganjilan—kekuatan—ini sebagai sesuatu yang mengerikan, atau sebagai sesuatu yang indah bak permata?

"Kok?" Pekik Anga. "Hey, Ra, kita ini sudah berteman dari kecil loh, masa iya kamu nggak mau menceritakan aku hal sepenting itu."

"Yah, kita memang sudah kenal dari kecil, dan kau bahkan mengetahui semua rahasiaku. Tapi, apa kau tahu? Aku sama sekali nggak tahu apa-apa tentangmu loh... selain namamu, hobimu, dan keluargamu... sisanya, aku sama sekali nggak tahu."

"Hey, hey... aku bahas apa, kamu bahas apa..."

"Tapi—"

"Ayolah! Ceritakan semuanya padaku, Ra!"

Rara kembali menghela nafas. "Sebenarnya... Aku... " Rara berhenti sejenak. Matanya sedikit bergetar. Dia merasa dicekik. Walau ingatan itu masih terlalu jelas dalam benaknya, tapi Rara sudah memutuskan untuk tidak mengungkit lagi tragedi mengerikan yang terjadi pada hari itu. "Maaf... kayaknya aku memang nggak bisa deh... "

"Eh...? Apaan sih?" Angga terlihat kecewa. "Hmm... tadi katamu, kau mendapatkan kekuatan ini sehari setelah aku pindah ke Makassar... Dan kalau nggak salah... hari itu adalah hari di mana panti asuhan terbakar kan?"

Dunia di sekitar mereka tiba-tiba berguncang, sampai-sampai ada beberapa barang di sekitar mereka yang jatuh dari rak. Mata Rara terbuka sangat lebar. Keringat dinginnya bercucuran. Dia merasa seolah baru saja jatuh dari langit. Tapi, Rara buru-buru mengontrol napasnya dan berusaha menenangkan dirinya.

"Barusan... apaan?" Angga bergumam heran.

"Eh, demi apa... Kok kamu berpikir sampai kesitu?" Senyuman Rara ikut bergetar.

"Lagian kamu nggak mau ceritain juga," Kata Angga cemberut.

"Hah... "

"Yah, kalau kamu tetap nggak cerita, aku bisa cari sendiri kok." Kata Angga sok seraya mendongak menatap ponsel yang mengambang tinggi itu. "Hari ini, aku akan mengetahui kebenarannya... "

"Eh? Maksudmu?"

"Ah, nggak ada apa-apa kok," Jawab Angga sambil tersenyum manis. "Oh iya, kau ingat nggak dengan ucapan yang sering dikatakan Kakek Johan tiap kali kita berkunjung ke panti?"

"Ah, aku masih ingat."

"Ada satu kekuatan lahiriah yang amat menjengkelkan yang melekat pada manusia, dan itu adalah kemampuan mereka untuk mengecewakan orang lain." Angga mengulangi kembali kata-kata bijak yang selalu dikatakan oleh almarhum Kakek Johan. Meski wajahnya tampak sedih, tapi senyumannya tidak raib dari bibirnya.

Keheningan menelan setiap sudut ruangan setelah suara Angga hilang dibawa oleh waktu. Rara hanya diam waktu itu. Kata-kata Angga terasa seperti bilah pisau yang menusuk dada Rara.

"Selamat siang, Rara!"

Namun, keheningan itu lenyap begitu saja saat rombongan ibu-ibu tiba-tiba masuk ke dalam toko tanpa disadari. Ada beberapa yang langsung mengantri di depan meja kasir, sedangkan yang lainnya memilih untuk masuk lebih dalam dan melihat-lihat isi toko untuk menambahkan barang-barang lain dalam daftar belanja mereka.

"Nih, Ra, tolong ya." Salah seorang ibu memberikan secarik kertas pada Rara, dan di kertas itu sudah tertulis daftar barang yang ingin dibeli oleh ibu itu.

"Siap, Bu!" Kata Rara penuh semangat seraya membaca daftar belanja itu. "Yah, kebetulan semuanya ada, dan kalau nggak ada tambahan, jadi langsung saja ya?"

Setelah membaca semuanya, mata Rara tiba-tiba mulai bersinar memancarkan cahaya keemasan, lalu Rara mengangkat tangan kanannya dan menjentikkan jarinya, dan pada saat itu pula, ada beberapa barang dari rak, dan juga barang-barang di ruang belakang, serta kardus kosong di pojok yang tiba-tiba mulai bergerak sendiri, kemudian melayang dan berkumpul di udara di atas meja Rara.

"Hey... Ra... kok matamu jadi kayak senter loh..." Bisik Angga keheranan.

Sungguh suatu pemandangan yang benar-benar berhasil merusak kenyataan dunia.

Akan tetapi, anehnya para pelanggan setia Rara, maupun orang-orang yang baru pertama kali datang ke toko ini, pasti akan langsung tahu dengan satu peraturan yang harus dipatuhi selama mereka belanja di sini.

Hanya satu peraturan, dan itu adalah; para pelanggan tidak boleh membeberkan kejadian-kejadian ajaib yang terjadi di sini pada orang-orang yang tidak berkepentingan sama sekali.

Rara juga tidak tahu persis bagaimana hal itu bisa terjadi, tapi sepertinya itu hanyalah salah satu dampak dari kekuatannya.

Semua barang-barang itu meluncur masuk ke dalam kardus kosong, dan kemudian tali yang ada di meja Rara juga ikut terulur dengan sendirinya, lalu mengikat kardus itu dengan erat. Dan saat semuanya selesai, kardus yang berisi barang-barang pesanan si Ibu pun mendarat dengan mulus di atas meja.

"Hah... " Rara menghela nafas dalam seraya menengok ke arah Angga yang takjub dengan apa yang baru saja dilakukan Rara. "Nih, buruan kamu hitung semuanya." Ujar Rara sambil menyodorkan kertas itu pada Angga.

"Eh?" Angga menoleh ke arah Rara dengan ekspresi tolol yang terpampang di wajahnya. "Oh! Iya! Cepat siniin." Namun Angga berhasil sadar, dan dia dengan cekatan mulai menjumlahkan harga keseluruhan dari semua barang belanja ibu itu.

Ya, suasana siang yang sibuk itu begitu menyenangkan bagi Rara. Dia dan Angga bekerja dengan penuh semangat, walau cuacanya sangat panas. Namun, bagi Rara, momen ini sangatlah mahal, apalagi Angga juga merupakan salah satu orang paling berarti dalam hidupnya.

Namun, dosa adalah dosa. Dan seperti kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat pasti akan jatuh juga, jadi, kejahatan Rara, mau tak mau kelak tentu saja akan terbongkar, dan dia harus menerima kenyataan itu. Begitulah hukum dunia.

Dan beberapa jam kemudian, saat langit memancarkan cahaya oranye yang hangat dan membuat dunia terasa damai, akhirnya saat itu pun tiba.

"BERHENTI WOY! ANGGA!"

Tampak ada ratusan garis cahaya yang melesat dari langit, dan bergerak dengan kecepatan kilat menuju ke arah Rara. Meski begitu, anehnya Rara sama sekali tidak merasa terancam dengan cahaya-cahaya kemerahan itu, dan dia tetap berdiri tegak di langit.

Rara memantapkan pikirannya, hingga membuat cahaya keemasan meledak dari dalam dirinya, dan menciptakan semacam pelindung untuk Rara untuk menahan cahaya-cahaya kemerahan itu.

Ledakan bertubi-tubi terjadi tepat di depan mata Rara. Ledakan yang seharusnya menghancurkan sebuah kota hingga rata dengan tanah, bahkan tidak bisa membuat Rara tergores.

Itu semua berkat mahkota emas kecil yang melayang rendah di atas kepalanya.

"Kenapa kau tidak menyelamatkan mereka!" Teriak suara Angga yang terdengar dari langit. Awalnya tidak terlihat apa-apa di atas sana, tapi tak lama kemudian, dari balik awan-awan akhirnya Angga muncul dengan menunggangi seekor naga raksasa bersisik ungu bercahaya.

"A-aku bahkan hampir tidak bisa berbuat apa-apa saat itu! Semuanya terjadi begitu saja! Dan apa yang kau harapkan!" Balas Rara. Emosinya bercampur aduk. Alisnya berkerut sedih.

"Dasar bodoh! Orang-orang di panti itu sudah seperti keluarga kita! Dan kau bertanya apa yang aku harapkan!? Apa-apaan kau, Rara!" Angga berteriak murka dengan Air mata yang mengalir di wajah. "Dengan kekuatanmu! Kau seharusnya bisa menyelamatkan mereka! Tapi kenapa kau hanya menyelamatkan Sari!?"

"Tapi... semuanya sudah terjadi... " Rara berbisik pelan sambil menoleh ke belakang, dan memandang seorang gadis kecil yang berdiri jauh dibawah sana. "Semuanya sudah terjadi! Dan itu nggak bisa dirubah lagi!"

"Memang sudah terjadi... tapi aku juga sudah terlanjur kecewa, Ra." Kata Angga. "Bagiku, kematian mereka adalah sebuah kesalahan, dan Sari yang bertahan hidup, juga merupakan suatu kesalahan... " Sayap naga itu tiba-tiba terbentang lebar dan membuat angin berguncang, tanda bahwa mereka siap untuk bertempur. "Berkatmu, semua ingatan itu sekarang sudah tak ada artinya lagi."

Rara menggigit bibir. "Nggak ada yang tergantikan di dunia ini! Semuanya berarti!"

Rara masih tak tahu harus berbuat apa sekarang. Sahabatnya tetap tak mau sadar. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana caranya mengakhiri ini? Rara kehabisan kata-kata. Satu-satunya yang mampu dilakukannya saat ini, adalah membuat langit dipenuhi oleh cahaya keemasan yang berasal dari dalam dirinya.

+

"Bunuh tukang bacot itu... Barbatheos."


Kembali ke Beranda