Cinta Untuk Gadis Buta
Romance
27 Nov 2025

Cinta Untuk Gadis Buta

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (33).jpeg

download (33).jpeg

27 Nov 2025, 13:48

“Aruna! Ayo sekolah!” ucap Mamanya.

“Enggak! Aruna nggak mau sekolah, Ma!” bantahnya.

“Kenapa, Sayang? Tuh, Satya sudah menunggu kamu di depan pintu,” ujar Mamanya.

“Aruna malu, Ma! Orang-orang meledek aku tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan bergurau dan lainnya yang bikin hati Aru menjadi sakit!” bantahnya.

Mama Aruna terdiam. Netranya kini berkaca-kaca, mungkin merasa sedih mendengar ungkapan putri semata wayangnya yang dia besarkan penuh kasih sayang.

Aru mendekati Anjani, wanita paruh baya yang tak lain orang yang turut membesarkan Aruna. Aku memegang bahunya dan aku menunjukkan senyum terbaik di sana.

“Sabar ya, Tan?” ucapku sambil bersicep kecil padanya.

Anjani lantas mengangguk, sembari mengusap pipinya dan kemudian mencubit pipiku. Sudah biasa hal seperti itu. Kami amat akrab, mungkin mengingatkan aku ke sekolah khusus.

Aku melihat Aruna.

“Aru mau sekolah?” tanyaku.

Aku mengangguk.

Aruna makin menunduk mengenaliku, setelah ia melihat aku tersenyum semangat, sangat lelah bersama dirinya dan perlahan aku mengusap pipinya.

“Satya, tunggu! Aku mau sekolah,” ujarnya sambil menahan tangis.

Aku berjalan menjauh darinya. Percuma juga kalau dipaksa.

“Sekolah yuk, Ar?” ajakku padanya.

Ia menggeleng, dengan bola mata yang bergerak ke sana kemari tanda bisa fokus ke suatu titik.

“Karena ledekan orang?” ujarku padanya.

Aruna mengangguk.

“Tidak usah mendengarkan kata orang, katanya kamu mau menjadi guru?”

Aru mengingatkan.

“Iya, tapi aku sakit hati mendengar ledekan dari mereka. Bukan cuma sekali, Satya! Mereka seperti tidak hargai aku,” lirihnya marah.

“Ar, sekolahmu mau sekolah gak?”

“ENGGAK!” serunya dengan lantang.

“Ya sudah, lain waktu, pasti akan ada banyak orang seperti itu.”

“Maksudnya?”

“Orang itu memang tidak mudah baca! Kau marah bukan hal itu membuatmu tadi? Kamu ‘kan sudah biasa baca? Ah, biarlah! Itu bukan hal yang perlu, Aru ke sekolah.”

Hening.

“Satya, tunggu! Aku mau sekolah,” ujarnya sambil mengejar langkahku.

“Gitu, dong!”

Aku mencubit hidung mancungnya.

“Aduh… Sakit, Satya!”

Aruna mengusap pelan hidung mancung itu.

Kami pun berangkat ke sekolah menaiki sepeda motor.

Aruna merupakan seorang tuna netra. Papanya pun telah meninggal dunia ketika Aruna masih ada dalam kandungan.

Tapi warisan Aruna cukup banyak dari sang Papa. Semasa hidup, Papa Aruna adalah pengusaha bidang pertambangan.

“Satya? Mau-maunya diboncengin orang buta?” ujar tetanggaku.

“Mending boncengin orang matanya buta, dari pada yang hatinya buta!”

Aku memacu motorku dengan kecepatan sedang agar tak terlalu terguncang, terlebih kecelakaan adalah sesuatu yang Aruna sangat kubenci.

Tanganku memeluk dirinya dari belakang, mungkin agar tak hal yang membuat sesuatu tersandung di trop. Aruna pun memegang bahuku dari belakang. Aku mengurangi kecepatan dan ia makin membenarkan jarak kami.

“Sorry, Ar!”

“Iya, gak papa. Jangan ngebut lagi, ya. Aku takut!” pintanya.

Aku hanya diam tidak menjawab. Karena aku merasa jengkel dengan sikap-sikap orang seperti itu. Pantas saja, Aruna marah. Aku saja yang tidak disinggungnya merasa marah dengan ledekan seperti itu.

Hal itu terjadi lima tahun silam. Kini, baik aku dan Aruna sudah selesai sekolah dan kami sudah bekerja.

Aku bekerja sebagai staf di kantor dan Aruna menjadi guru tunanetra sesuai cita-citanya. Impian yang kini telah menjadi nyata.

Kebetulan minggu ini merupakan malam minggu, aku memutuskan ingin mengajak Aruna dari kejenuhan bekerja.

“Ar, jalan, yuk?” ajakku.

“Enggak bisa, Sat. Nanti malam, Mama akan mengenalkan seseorang padaku. Katanya besok pria itu akan datang untuk bertemu. Papa saja aku suka.”

Aku bingung, “Orangnya yang ganteng dan cantik, ya?”

Bibir Aruna tampak meruncing.

“Siapa laki-laki itu? Untuk apa pertemuan itu? Ah… Tapi itu bukan hal betul, Sat! Kamu ‘kan dekat dengan keluargamu! Sudah biasa aku pertemuan seperti itu.”

Aku hanya bisa mengangguk dalam diam dan sangat merasa ada yang tak beres. Terlebih Aruna memeluk tubuhku dan mengusap ekspresi kekhawatiranku.

Aku merasa bingung.

Aku tampak sedang duduk di kursi rias. Tapi, bukan berhias yang ia lakukan. Ia malah terus menerus menyeka netra itu.

“Aruna menangis?”

Aku ke luar dari kamar lewat jendela dan mendekat ke jendela kamarnya.

Aku telbak waktu menunjuk pukul sepuluh malam ketika Aruna masih terlihat menangis di depan meja riasnya.

Tok… Tok… Tok…

Aku mengetuk jendela kaca kamar. Sepertinya Aruna mendengar, ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati jendela.

“Siapa?” terdengar sayup suara Aruna bertanya.

“Aku, Satya!” ujarku setengah berbisik takut mengganggu orang lain.

Ceklek!

Jendela kamar Aruna terbuka.

“Ngapain malam-malam ke sini?” tanya Aruna dengan mata yang masih merah.

“Kamu nangis lagi? Ada apa? Mama jodohin kamu? Kamu nangis? Kenapa?”

“Iya, Sat. Mau apa? Pulanglah, tidak enak sama tetangga kalau lihat kita seperti ini,” ujar Aruna.

“Biar saja. Palingan kita dinikahin!” jawabku spontan.

Aruna tersenyum kecil mendengar ucapanku yang mungkin baginya seperti bualan semata.

“Gak mungkin ada yang mau sama perempuan buta seperti, Sat!”

Aruna mendongakkan wajahnya ke langit.

Aku terdiam. Sepertinya Aruna sedang sedih.

“Lelaki tadi pun bicara seperti itu,” sambungnya.

“Lelaki? Siapa?”

“Yang tadi dikenalin sama Mama padaku. Ia berbiskik, apa Sat! Seetah itu, aku minta Mama membawaku ke dalam kamar. Kant telah apa yang Sat seperti itu! Aku malu, melihat perakuan lelaki itu, tapi apa? Mama bilang kalau itu pria baik arahnya ke aku,” ujar Aruna.

Aku menghembuskan napas berat dan memegang tangannya.

“Kamu nggak marah sama aku?”

“Kenapa aku marah? Itu bukan salahmu.”

Aruna tersendu. “Ada apa yang tadi perempuanmu buta?” Dia mengacak rambutku dan menahan gelak tawa. Hari ini pun kami diam saja mendengar ledekan semacam itu. Aru! Aku akan selalu mendampingimu, merangkul dirimu, meraih Aru dari keadaan apa saja, aku akan selalu untukmu, Aruna!”

Aruna tersenyum.

Aku mengusap ringan tangannya, dan menatap netra yang menyedihkan dirindukan.

Wajah yang sedang mendongak ke langit seketika menunduk, melengkungkan senyuman.

“Kamu gak usah menghibur aku, Sat!”

“Aku serius! Entah dari kapan aku mulai menyayangimu, aku sangat mencintaimu, Ar!”

“Sudahlah, Sat. Lebih baik kamu pulang, besok kamu kerja ‘kan? Selamat malam!” Aruna memindahkan tanganku sebelum ia menutup pelan jendela kamarnya.

Pagi ini aku sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Rumah Aruna masih tampak sepi, aku tidak telah mengendarai motor.

Tiba-tiba jantungku berdebar, aku mendengar kabar dari yang barusan melihatnya. Aku mendapat pesan dari wanita cantik, buntang yang aku idamkan hati aku.

“Ada apa, Aruna?” aku menerima pangilan telepon Aruna.

“Ari? Aruna! panggilanku?”

Aku menutup telepon itu.

“Sial! Nomornya tidak aktif!”

Mau tidak mau, aku harus menunggu jam pulang kerja untuk mendatangi rumah Aruna.

Setelah jam kantor usai, aku melesat menggunakan sepeda motor ke rumah Aruna. Kuburan memang dekat. Tetapi tampakkan aku baru saja lumasir pertemuan keluarga.

“Kamu gak usah menghibur aku, Sat!”

“Aku serius! Entah dari kapan aku mulai menyayangimu, aku sangat mencintaimu, Ar!”

“Sudahlah, Sat. Lebih baik kamu pulang, besok kamu kerja ‘kan? Selamat malam!” Aruna memindahkan tanganku sebelum ia menutup pelan jendela kamarnya.

Pagi ini aku sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Rumah Aruna masih tampak sepi, aku tidak telah mengendarai motor.

Tiba-tiba jantungku berdebar, aku mendengar kabar dari yang barusan melihatnya. Aku mendapat pesan dari wanita cantik, buntang yang aku idamkan hati aku.

“Ada apa, Aruna?” aku menerima pangilan telepon Aruna.

“Ari? Aruna! panggilanku?”

Aku menutup telepon itu.

“Sial! Nomornya tidak aktif!”

Mau tidak mau, aku harus menunggu jam pulang kerja untuk mendatangi rumah Aruna.

Setelah jam kantor usai, aku melesat menggunakan sepeda motor ke rumah Aruna. Kuburan memang dekat. Tetapi tampakkan aku baru saja lumasir pertemuan keluarga.Aruna menyentuh wajahku, “Satya?”

“Iya, ini aku, Ar. Tadi kamu dijodohkan lagi?”

Aruna mengangguk. Lagi, air mata itu kembali menetes.

“Malam ini pun, Mama mau mengenalkanku pada lelaki lain, Sat!” ujarnya dengan air mata yang masih berlinang.

“Dengan siapa?”

“Entah. Apa mereka akan menerimaku, Sat?” ujar Aruna dengan netra sendu.

Aku terdiam.

“Makamemu ke mana, Ar?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Ke pasar. Mama mau memasak banyak untuk nanti malam sepertinya.”

“Ya sudah aku pamit, Ar, urus buy!”

Aku bergegas meleset ke sepam jalingan untuk menghadang Mama Aruna.

Akhirnya, mobil Tante Anjani terlihat. Akhirnya dari mobil itu keluar mobil dari dalam mobil.

“Satya? Ada apa ini?” tanya Tante Anjani.

“Tan, Satya mau menjadi pendamping hidup untuk Aruna.”

“Dari mana ucapanmu tadi?” sepontan terdengar kekaguman.

“Tapi, Sat! Malam ini Tante akan mengenalkan calon untuk suami Aruna.”Seketikanya, langit terasa runtuh menimpaku. Dada terasa sakit, aku seolah mati saat itu.

“Permisi, Sat! Tante buru-buru.”

Tante Anjani pun melesat pergi meninggalkanku yang sedang mematung tanpa arti.

Malam pun tiba. Aku hanya dapat berdiri di dalam jendela kamar. Mengamati keadaan di rumah Aruna yang baru cukup ramai. Hingga aku melihat, tamu-tamu mereka telah pulang.

Aku menunggu Aruna masuk dalam kamar. Setengah jam aku menunggu namun aku masih tidak melihat Aruna. Setelah satu jam berlalu, kamar itu pun masih gelap setelah Aruna berpaling di depan kamar menuju ke ruang keluarga. Dua jam berlalu, tampak kamar Aruna jendelanya.

Aku mulai memegangi jendela dan mengetuk perlahan untuk segera turun ke kamar Aruna.

“Ar! Aruna!” ucapanku nampak sambil mengedarkan pandangan.

Aruna sepertinya mendengar, ia langsung bangkit dan membuka gorden kaca jendelanya.

“Kamu siapa?”

Sengaja aku diam. Aku hanya menggenggam tangannya.

Dari netranya yang kosong kutemukan seluruh cuapanan dari engan dari jarinya, hidung, bibir dan rambutku.

“Satya?”


Aruna menyentuh wajahku, “Satya?”

“Iya, ini aku, Ar. Tadi kamu dijodohkan lagi?”

Aruna mengangguk. Lagi, air mata itu kembali menetes.

“Malam ini pun, Mama mau mengenalkanku pada lelaki lain, Sat!” ujarnya dengan air mata yang masih berlinang.

“Dengan siapa?”

“Entah. Apa mereka akan menerimaku, Sat?” ujar Aruna dengan netra sendu.

Aku terdiam.

“Makamemu ke mana, Ar?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Ke pasar. Mama mau memasak banyak untuk nanti malam sepertinya.”

“Ya sudah aku pamit, Ar, urus buy!”

Aku bergegas meleset ke sepam jalingan untuk menghadang Mama Aruna.

Akhirnya, mobil Tante Anjani terlihat. Akhirnya dari mobil itu keluar mobil dari dalam mobil.

“Satya? Ada apa ini?” tanya Tante Anjani.

“Tan, Satya mau menjadi pendamping hidup untuk Aruna.”

“Dari mana ucapanmu tadi?” sepontan terdengar kekaguman.

“Tapi, Sat! Malam ini Tante akan mengenalkan calon untuk suami Aruna.”

Seketikanya, langit terasa runtuh menimpaku. Dada terasa sakit, aku seolah mati saat itu.

“Permisi, Sat! Tante buru-buru.”

Tante Anjani pun melesat pergi meninggalkanku yang sedang mematung tanpa arti.

Malam pun tiba. Aku hanya dapat berdiri di dalam jendela kamar. Mengamati keadaan di rumah Aruna yang baru cukup ramai. Hingga aku melihat, tamu-tamu mereka telah pulang.

Aku menunggu Aruna masuk dalam kamar. Setengah jam aku menunggu namun aku masih tidak melihat Aruna. Setelah satu jam berlalu, kamar itu pun masih gelap setelah Aruna berpaling di depan kamar menuju ke ruang keluarga. Dua jam berlalu, tampak kamar Aruna jendelanya.

Aku mulai memegangi jendela dan mengetuk perlahan untuk segera turun ke kamar Aruna.

“Ar! Aruna!” ucapanku nampak sambil mengedarkan pandangan.

Aruna sepertinya mendengar, ia langsung bangkit dan membuka gorden kaca jendelanya.

“Kamu siapa?”

Sengaja aku diam. Aku hanya menggenggam tangannya.

Dari netranya yang kosong kutemukan seluruh cuapanan dari engan dari jarinya, hidung, bibir dan rambutku.

“Satya?”


Aku mengangguk.

“Kamu kenal aku, Ar?”

Aruna menggeleng, “Batal.” Ia tersenyum.

Aku tahu, itu merupakan senyum kesedihan untuknya.

“Tunggu saatnya tiba, ya, Ar?”

“Kapan?”

“Secepatnya! Kamu tidurlah. Tunggu, akan ada yang melamarmu!”

“Siapa?”

“Kamu akan mengenalnya, Ar.”

Aku menyuruhnya untuk tidur, menutup jendela kamarnya dan segera kembali ke kamarku.

Aku berunding pada orang tuaku. Meminta izin untuk memberikan lamaran pada Aruna. Aku berusaha mencurahkan keberanian ayahku hingga akhirya menerima restu.

Aku pun menemuinya. Sesudah aku meminta izin pada Tante Anjani untuk melamar Aruna. Ia tampak antusias. Walau awalnya ragu, akhirnya Beliau memberi restu untuk padaku.

Aku dan keluarga sudah ada di rumah Aruna. Sengaja kami berkumpul, berharap jadi surprise untuk Aruna.

“Ar, Mama mau mengenalkan kamu pada seorang pria yang ingin mengenalkan kamu.” ujar Tante Anjani.

“Ah… Lupakan saja, Mal!” elak Aruna.

“Tapi, kamu mengenalnya!” ujar Tante Anjani.

“Mengenalnya?”

Aku meraih tangannya dan kembali mengarahkan ke wajahku agar ia bisa merabanya.

“Satya?”

Aku mengangguk.

Seketika air bening itu menetes di pipinya.

“Aku sudah janji, akan selalu ada untukmu. Inilah janjiku, Ar! Aku akan menghabiskan sisa umurku bersamamu.”

Aruna tersenyum walau matanya masih saja menitikkan air mata.

“Ar, will you marry me?”

Aruna tersenyum dan mengangguk sebagai jawabannya.

.End.


Kembali ke Beranda