Karena masih rempong, saya bagikan cerpen-cerpen dulu, ya. Vote jangan lupa. Tengkyu. 😘
***
“Bisakah Mas Adi bertahan untuk anak-anak?”
Aku masih mengingat malam itu. Malam ketika di luar sana hujan turun dengan lebatnya. Suara air yang jatuh mengenai genteng seakan menikam hatiku berkali-kali. Tikamannya terasa begitu kuat dan keras. Andai luka itu berwujud, mungkin darah segar itu sudah membanjiri lantai, lalu sebagiannya membercak ke dinding.
“Aku nggak mengapa kalau Mas Adi menikahinya. Aku mohon, tolong pikirkan sekali lagi. Demi anak-anak kita.”
Bak seorang pengemis, aku meminta sedikit belas kasihan kepadanya. Demi kedua anakku yang masih kecil, aku rela seperti ini. Mengemis pada seorang pria yang sudah menyakiti hatiku begitu dalam. Luka perihnya bahkan tak kuhiraukan bagaimana rasanya.
“Sudah kubilang, kita sudah nggak ada kecocokan lagi. Soal anak-anak, kamu nggak perlu khawatir karena aku tetap memberikan nafkah untuk mereka,” kata pria itu sembari memasukkan baju-baju ke dalam koper.
Aku tahu siapa yang membuat suamiku berubah seperti ini. Wanita itu. Ya, wanita muda berambut lurus sepunggung yang menjadi sekretarisnya selama setahun ini. Aku mulai mencium hubungan mereka sejak enam bulan yang lalu. Hubungan mereka terlalu berlebihan jika masih dikatakan sebagai bos dan sekretaris. Sekretaris macam apa yang tiap malam selalu menelepon bosnya selama satu jam? Seolah itu seperti nyanyian sebagai pengantar tidur. Wajah Mas Adi mendadak bersinar cerah dengan senyum yang tercetak jelas saat dia berjalan menuju ranjang, lalu berbaring memunggungiku. Selalu saja begitu. Dia tak sedikit pun ada keinginan untuk menyentuhku, bahkan sekadar bertegur sapa pun enggan.
Tiga bulan berlalu, Mas Adi malah tak pernah lagi tidur di rumah. Entah dia bermalam di mana. Hatiku serasa tercabik-cabik membayangkan jika dia tidur di rumah wanita itu.
Selama tiga bulan itu, dia masih berperan sebagai sosok ayah bagi kedua putraku. Menjelang Maghrib, dia akan pulang ke rumah. Setelah anak-anak tertidur, dia bergegas melajukan mobil, entah mau ke mana. Lalu, pagi hari, pria itu kembali ke rumah untuk mengantar Farel, sulung kami yang sudah duduk di kelas satu.
“Aku sudah mendaftarkan gugatan cerai ke pengadilan. Kuharap kamu bisa kooperatif biar proses perceraiannya lebih cepat.”
Kalimat itu terdengar seperti bom yang mengenai kepala. Dia bahkan sudah mengurus gugatan perceraian ke pengadilan tanpa sepengetahuanku. Rasanya—hampir-hampir—aku tak memercayai jika yang mengatakan itu adalah pria yang sama yang tak berhenti mengejarku ketika kami masih kuliah dulu. Pria itu bahkan butuh waktu tiga tahun untuk meluluhkan hatiku karena dia terkenal play boy di kampus.
Tubuhku meluruh di lantai kala itu. Betapa pun aku menahannya, dia tetap nekat memacu mobilnya, menerabas derasnya air hujan yang mengguyur Ibu Kota.
Sejak malam itu, dia tak sekalipun menengok anak-anak. Devan, bungsuku yang baru berumur tiga tahun selalu menangis menanyakan di mana ayahnya. Saat ponselnya kuhubungi, selalu operator yang menjawab. Aku makin tidak tega tiap kali melihat Devan yang menunggu penuh rindu di teras rumah saat sore hari tiba.
“Adek nunggu Ayah pulang, Bun. Ayah nanti pulang, kan?” tanyanya dengan raut memelas.
Air mataku berkabut. Ibu mana yang merasa baik-baik saja ketika menatap sorot redup itu begitu mendamba ayahnya pulang? Dia bahkan tak mau beranjak dari kursi itu sampai suara azan berkumandang.
Aku terkadang sulit memercayai jika Mas Adi sudah berubah banyak seperti itu—bahkan tidak bisa kukenali lagi. Dia boleh membenciku hingga tidak mau bertemu lagi denganku. Tapi, dengan darah dagingnya sendiri? Tegakah dia pada mereka?
Karena si bungsu terus menanyakan ayahnya, aku beranikan mendatangi kantor Mas Adi. Sesampainya di sana, ternyata dia tidak berada di kantor. Sialnya, aku malah bertemu dengan wanita itu. Wanita yang mengenakan blazer hitam dengan rok sepan di atas lutut itu berdiri seraya bersedekap. Dia memiringkan bibir berwarna merah itu ke arahku.
“Aku yang meminta Mas Adi nggak menemui anak-anakmu.” Wanita itu bersuara setelah dia mengajakku ke kafe tak jauh dari kantor. Suaranya terdengar enteng sekali. Seolah dia tengah bersiul merayakan kemenangan besar.
Aku mengetatkan rahang kuat-kuat. Gigi geligi bergemeletuk. Sementara, tangan ini mengepal erat-erat untuk meluapkan amarah.
Wanita tersenyum mengejek. “Mas Adi sudah pasti akan menuruti permintaanku karena dia mencintaiku.” Wanita itu memajukan tubuh semampainya. “Dia-hanya-mencintaiku,” katanya dengan nada penuh penekanan.
Kupikir, tokoh antagonis di sinetron itu hanya mengada-ada. Aku baru meyakini jika dia bukan sosok fiktif belaka setelah berhadapan dengan wanita turunan medusa ini.
“Mas Adi sudah menikahku sejak tiga bulan yang lalu.”
Penasaranku terjawab sudah. Pantas saja sejak saat itu, Mas Adi tidak pernah lagi tidur di rumah. Rupanya ada “santapan” yang jauh lebih menggiurkan di rumahnya yang lain.
Emosiku menggelegak ketika mengetahui kenyataan itu. Mungkin sudah sampai di tenggorokan. Namun, aku masih berusaha menahannya.
“Setelah kalian resmi bercerai nanti, Mas Adi akan menikahiku secara resmi. Aku yang akan menjadi istri sahnya.” Dia lagi-lagi mencondongkan tubuhnya. “Istri-sahnya. Tolong dicatat baik-baik dalam otakmu, karena kamu bukan siapa-siapa lagi baginya.”
Aku mengeratkan kepalan tangan. Inginnya aku menjambak rambut yang hitam bercahaya itu seperti dalam sebuah adegan di sinetron. Namun, aku—lagi-lagi—memilih menahannya.
Aku memundurkan kursi. Tanpa sepatah kata pun, aku berdiri lalu berlalu darinya. Baru lima langkah berjalan, aku berhenti. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu berbalik menuju meja wanita itu. Secepat kilat kusambar cangkir kopi hitam yang sudah dingin, lalu kusiram hingga mengenai kepala wanita itu.
“Kau?!” Wanita itu memelotot. Air mukanya seakan hendak menerkamku. Wajahnya yang jelita itu hampir dipenuhi ampas kopi Arabika.
“Aku pernah baca kalau bubuk kopi itu bisa menghilangkan bau nggak sedap, bahkan bau busuk sekalipun. Hidungku mencium bau nggak sedap di tubuhmu. Sepertinya kamu butuh kopi dalam jumlah banyak untuk menghilangkannya,” kataku datar.
“Apa katamu?!” geramnya dengan mata masih memelotot.
Tanpa menghiraukannya lagi, aku lekas berbalik. Kedua tanganku mendadak gemetar. Entah kekuatan dari mana yang membuatku berani melakukan itu. Mungkin karena kedua putraku yang ditinggalkan ayahnya demi seorang wanita seperti dia.
“Aku nggak akan tinggal diam. Tunggu pembalasanku nanti. Kamu akan menyesal karena telah melakukan ini padaku,” ancam wanita itu sebelum aku keluar dari kafe.
Aku mulai diliputi rasa cemas. Bagaimana jika Mas Adi tidak memberikan nafkah pada anak-anak? Sejak menikah dengan Mas Adi, aku sudah tidak bekerja lagi. Hanya sebagai ibu rumah tangga yang fokus mengurus keluarga. Jika Mas Adi mau saja menuruti permintaan wanita itu untuk tidak menemui anak-anak, besar kemungkinan dia akan mengingkari janjinya karena wanita itu, bukan?
Benar saja. Sejak palu perceraian diketuk, nafkah yang dijanjikan itu tak pernah ada. Lima hari kemudian, kami bahkan diusir dari rumah oleh orang-orang yang tidak kami kenal. Katanya, rumah sudah dijual oleh pemiliknya.
Mas Adi memang tidak terang-terangan menyerahkan rumah itu kepada kami. Rumah masih atas nama Mas Adi sebagai pemiliknya. Dengan dia yang memilih pergi dari rumah, itu sudah cukup menggambarkan jika dia tidak akan mengusir kami dari rumah. Namun, mendapati rumah itu sudah dijual, sepertinya aku terlalu percaya diri. Aku benar-benar kecewa dengan Mas Adi. Demi wanita itu, kenapa dia bisa setega itu pada darah dagingnya sendiri?
Sore itu, dengan berbekal baju seadanya, kami terpaksa keluar dari rumah besar itu. Aku berencana ke rumah Nita, adikku yang tinggal di Depok. Orang tuaku sudah lama meninggal. Dan Nita adalah satu-satunya saudaraku.
Saat tahu kondisiku, Nita tidak ada hentinya merutuki Mas Adi. Dia bahkan ingin menemui Mas Adi, meminta pertanggungjawaban darinya. Namun, aku melarangnya.
“Untuk apa? Semuanya sudah berakhir, kan? Toh, dia sudah memutus semuanya.” Rasanya nyeri sekali ketika aku mengatakan itu. Sulit memercayai jika Mas Adi bisa setega itu kepada kami.
Aku tersenyum kecil ketika mengingat itu. Kejadian lima belas tahun yang lalu itu mungkin menorehkan luka yang begitu dalam di hatiku. Namun, luka itu kini sudah sembuh. Bahkan, bekasnya pun sudah tak ada lagi.
Farel dan Devan-lah yang menjadi penguatku. Aku bersyukur karena Allah menganugerahi putra seperti mereka.
Aku selalu berkaca-kaca tiap kali mengingat ketika Farel memberiku hadiah satu set gamis beserta khimarnya, dua tahun lalu.
“Ini untuk Bunda. Aku pengin Bunda menutup aurat seperti yang dituntunkan dalam Alquran.”
Air mataku jatuh saat itu juga. Ibu mana yang tidak menangis saat menerima hadiah istimewa seperti itu? Di balik hadiah itu tersimpan harapan yang tulus dari sulungku. Bagaimana aku tidak tersentuh? Saat itu juga, aku—yang sebelumnya selalu ragu—mantap mengenakan jilbab seperti yang diperintahkan Allah dalam Alquran.
Kini, usia Farel sudah 22 tahun. Sedang Devan, seminggu yang lalu genap berumur 18 tahun. Aku masih mengingat dengan jelas ketika bungsuku itu selalu memanggil-manggil ayahnya saat terlelap di malam hari. Kebiasaan itu baru hilang setelah empat bulan kepindahan kami ke Depok.
Jika mengingat masa-masa itu, rasanya berat sekali. Aku yang semula hanya menjadi ibu rumah tangga biasa harus mencari pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan kami. Selama bekerja, aku bahkan terpaksa meninggalkan Devan bersama Nita di rumahnya.
Dua tahun menjalani profesi sebagai wanita karier, pada akhirnya aku menyerah. Pekerjaanku sebagai staf marketing di bidang properti itu benar-benar menyita waktu. Dengan tekad yang kuat, aku memulai usaha kecil-kecilan dengan membuat kue-kue tradisional yang resepnya kudapat dari almarhum Ibu.
Di awal-awal berjuang memang masih mengalami jatuh bangun. Namun, seiring berjalannya waktu, usahaku perlahan mengalami kemajuan. Pelanggan semakin bertambah. Kini, aku bahkan sudah memiliki tiga karyawan yang membantu di dapur dan dua karyawan yang berjaga di toko. Sejak enam tahun yang lalu, kami akhirnya bisa pindah ke rumah tipe 36 setelah bertahun-tahun tinggal di rumah kontrakan.
Dulu, aku tak bisa membayangkan jika aku bisa bangkit, hingga bisa berdiri tegak seperti ini. Sesuai janji Allah, selalu ada kemudahan di balik kesulitan. Janji Allah itu nyata karena Dia tidak pernah mengingkarinya. Dan terbukti, hidupku bersama kedua putraku kini sudah bahagia karena limpahan rahmat-Nya.
“Bundaaa!” Panggilan seseorang yang suaranya begitu familier menyadarkan lamunan panjangku. Farel sudah berdiri sejarak tiga meter di depanku. Toga yang dikenakan sulungku itu membuatnya terlihat elegan. Mataku hanya terpaku ke arahnya. Para wisudawan-wisudawati yang keluar dari pintu auditorium bahkan tak mengalihkan perhatianku pada putra sulungku itu.
Senyum Farel terkembang sempurna. Membuat lesung pipit di pipi kanannya tercetak jelas. Kakinya yang panjang melangkah cepat mendekatiku.
“Ini medali wisuda buat Bunda.” Mataku memanas saat Farel mengalungkan medali itu ke leherku yang terbalut jilbab. Meski IPK Farel tidak termasuk Cum Laude , tapi aku sudah sangat bangga dengannya.
Ah, bagaimana aku tidak bangga jika kini dia sudah menjadi sarjana teknik sipil di sebuah universitas terbaik di Indonesia?
“Dan aku dari tadi ditinggalin sendirian?” Devan tiba-tiba sudah berdiri di sebelahku. Dia memang tidak ikut masuk ke auditorium karena undangan hanya untuk dua orang. Satu untuk wisudawan dan satu lagi untuk orangtua wisudawan.
“Tunggu lima tahun lagi, Van. Nanti kamu juga akan dapat undangan sendiri,” celetuk Farel yang disusul tawa mereka.
Aku hanya tersenyum melihat kedua putraku yang kini sudah tumbuh besar. Senyum itu perlahan melenyap ketika mataku tertumbuk pada sesosok pria paruh baya yang berdiri tak jauh dari kami.
Aku jelas masih mengingat wajah itu, meski kini pipinya sedikit tirus. Cekungan di bawah matanya mungkin menunjukkan dia kurang tidur. Rambut pria itu setengah beruban. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari yang dulu. Dia tampak lebih tua dari usia sebenarnya.
Sejak perpisahan itu, aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Terakhir yang kudengar, perusahaan di bidang jasa periklanan yang dirintisnya itu bangkrut. Aku juga tidak tahu apakah wanita itu masih bersamanya. Mengingat sifat licik wanita itu, aku sangsi jika dia masih setia mendampingi suaminya.
Aku masih bergeming. Sorot mata pria itu menatapku sayu. Dia memang pernah menyakitiku begitu dalam. Namun, aku tak pernah menyimpan dendam dengannya. Semua sudah kurelakan. Nyatanya, dengan mengikhlaskan apa yang sudah terlepas itu justru mampu membuatku bangkit lagi. Kini, perasaanku padanya sudah hilang. Bahkan, setitik pun tak ada.
Lama terpaku, pria itu perlahan membalikkan tubuh tingginya tanpa menegur kami. Bahu pria itu tidak setegap dulu. Pundaknya sedikit turun seakan menggambarkan beban hidupnya yang berat. Entahlah. Aku tidak mau menduga-duga bagaimana kehidupannya sekarang. Kepalaku hanya dipenuhi oleh rasa penasaran akan satu hal. Satu hal yang membuatku ingin bertanya kepadanya, “Apa ... kamu pernah menyesal karena telah meninggalkan kami?”
---Selesai---