Saudara Tiri
Teen
27 Nov 2025

Saudara Tiri

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (40).jpeg

download (40).jpeg

27 Nov 2025, 14:07

Plak! Bruk! Bugh, bugh, bugh!

Namaku Jenika Santosa. Hidup dalam keluarga kaya bukan berarti aku harus menghadapi kehidupan yang bahagia, bukan? Aku terlahir dari ibu yang berbeda dari saudara tiriku. Bisa dibilang ini adalah kehidupan antara dua ibu yang bersaing mendapatkan cinta ayah. Ayah merantau jauh dari negara yang kutempati ini. Ibu tiri memukuliku ketika ibu sedang rapat. Ia tak menyukaiku yang selalu mendapatkan perhatian dari ayah. Di balik sibuknya ibu di perusahaan ayah, ia tidak peduli dengan kondisi Rasya—anak ibu tiri. Hal ini membuatku hanya bisa pasrah dengan kedua orang tuaku yang tidak mempedulikanku.

“Pergilah ke kamarmu! Jangan sampai kau keluar dengan darah di mana-mana.”

Ia melemparkan tongkat baseball ketika Reyna pulang. Aku menghindar dan keluar lewat pintu belakang dapur. Sedikit berlari kecil karena aku dilarang memberi tahu Reyna. Aku lega ketika Reyna tak melihatku dan langsung mengunci pintu. Bergegas aku melepas pakaianku dan membasuh darah dengan air hangat.

“Sshhh… sakit…” ucapku meringis.

Tok tok tok! Reyna memanggil namaku dari luar. Aku pun menyimpan pakaianku dan memakai baju baru lalu merapikan wajahku. Aku membuka pintu, ia tersenyum dan memelukku. Tanpa sadar ia melihat ke sekeliling, lalu melepaskan pelukannya.

Ia mengajakku masuk ke kamar. Setelah aku duduk, ia berjalan dan mengambil baju yang kusembunyikan di bawah meja. Ia berdiri di sebelah baskom dan menatapku dengan mata menyipit.

“Kau salah karena berbohong mengenai kondisi mu, Jen. Aku tidak bisa dibohongi, ini ulah mama kan?” ucap Reyna.

Aku menunduk tanpa berkata. Reyna memegang tanganku, “Aku akan menjagamu. Bertahanlah. Kelak ketika aku besar, tak akan ada yang berani mengganggumu.”

Aku mengangguk dan kami saling berpelukan. Sudah hampir sepuluh tahun aku terus berdamai diri ketika ibu tiri terus memukuliku. Aku berusaha mengingat kata-kata Reyna dan terus bersabar. Selama sabar itu masih ada, aku bertahan. Namun ketika aku memutuskan berjalan lurus ke sisi Tuhan, ibu tiriku tak terima dan kembali memukuliku, bahkan menarik-narik kerudungku.

Cukup! Aku memandangnya dengan tatapan melotot tidak suka.

“Kenapa kamu menatapku seperti itu? Kamu mau melawan saya? Hah! Kamu marah karena saya telah melepas kerudungmu itu?” katanya sinis.

“Ya!!” bentakku sambil menangis.

“Kau!”

“Kenapa? Sudah cukup kau terus menghajarku, Bu! Bahkan dengan bibirmu saja kau keluhkan bahwa aku memanggilmu ibu. Ayah memang membiarkanku bebas di rumah ini tapi tidak dengan kekuasaanmu. Walaupun aku mati, harta takkan berpindah ke tanganmu!” ucapku dengan dada berdebar.

“Sudahi pukulanmu, sekarang giliran ku.”

Ini diriku sekarang—air mata kering, hati rapuh yang terbelah menjadi dua. Dengan langkah pelan sambil menggenggam pisau, aku berjalan ke arahnya. Ia mundur sambil berteriak. Lalu…

Jlebbb!

Aku menusuk diriku sendiri tepat ketika Reyna datang.

“Jenika!!!” Reyna menjerit dan berlari ke arahku.

Bruk!

Aku terjatuh dengan napas tersengal, menunggu ajal. Reyna meletakkan tasnya dan memelukku.

“Jen… bangun!!” Reyna memukul pipiku pelan.

“Tak ada harapan lagi untukku, Rey…” jawabku lirih.

Reyna menangis histeris.

“Maafkan aku yang tidak sabar…” Aku merosot dan menutup mata perlahan.

Reyna mengguncang tubuhku. “Ini semua salah mama!” Ia menoleh pada ibu tiriku yang berdiri kaku.

“Bukan salah mama! Dia menusuk dirinya sendiri, kau lihat kan?” ujar ibu tiri.

“Ia! Aku lihat, dia bunuh diri karena mama! Mama tahu? Ia kena kanker ginjal karena tongkat baseball mama!” Reyna berteriak.

Deg!

“Jika ada apa-apa dengan Jenika, mama takkan tenang. Mama akan hidup dalam rasa bersalah selamanya,” ucap Reyna sambil memapahku keluar.

“I-ini semua bukan salahku…” ibu tiri mundur.

Reyna terus memanggil-manggilku. Nafasku semakin pendek di perjalanannya.

Aku merosot dengan kepala di pangkuan Reyna. Bibirku memutih.

Deg… deg… deg…

“Ini tak mungkin! Jenika!! Bangun hey! Aku sudah besar! Aku akan melindungi mu! Aku bersalah! Jenika bangun… aku akan menuruti semua permintaanmu!” Reyna histeris.

Harapanku hanya ingin mendapatkan kasih sayang dari seseorang di sekelilingku. Sejak kecil aku tidak punya teman selain Reyna. Aku tidak membencinya, aku menyayanginya. Ia selalu menolongku ketika ibunya jahat. Reyna adalah wanita pertama dan terakhir yang menyayangiku.

Tiga hari kemudian Reyna memutuskan berhenti sekolah. Ia fokus belajar kedokteran. Ia ingin menjadi dokter psikiater anak. Baginya semua berawal dari kondisi psikologi anak kecil—ketika anak bahagia, dunia akan lebih damai.

Sedangkan orang tuaku… Istri pertama ayah (ibu Reyna) dan ibu tiriku dipenjara karena terbukti melakukan penyiksaan terhadap anak kecil. Hukuman seumur hidup. Tertinggallah ibu tiri Reyna dengan ayah Jenika. Reyna memilih bekerja keras daripada tinggal bersama mereka yang membuatnya sakit setiap hari. Namun ia selalu menyempatkan datang menemuiku. Ketika aku sembuh, ibu Jenika sering mengunjungi Reyna sekedar menanyakan kabar.

Kembali ke Beranda