Aku mempercepat langkah kakiku. Hari ini cukup melelahkan untukku. Untung saja Profesor Harold berbaik hati menerima skripsiku setelah berpuluh-puluh kali aku harus melakukan revisi dan pengkajian ulang.
Setelah ini aku tinggal mempersiapkan ujian skripsiku dan wisuda di depan mata.
Rencanaku untuk mengambil S2 sebentar lagi terwujud.
Dengan langkah ringan, aku melompati beberapa genangan air.
Mungkin karena terlalu bersemangat dan fomus pada langkahku menghindari genangan - genangan air itu, aku tidak waspada dengan jalan di depanku.
BRUKK!
Benar saja, aku menubruk seseorang. Seketika tubuhku oleng dan nyaris terbanting ke tanah jika seseorang tidak menahan tubuhku dan menarikku berdiri.
"Eh maaf...maaf..." aku mendongak melihat orang itu.
"Kalo jalan hati-hati. Lihat depan!" ujarnya setengah menggerutu.
"Ah iya, sekali lagi maaf. Dan terimakasih udah nolongin," duh, kalo aja aku bisa menyembunyikan wajahku, pasti sudah akan kusembunyikan dari tatapan tajam laki-laki yang kini, berdiri dihadapanku ini.
"It's okay," ujarnya menatapku dengan mata menyipit.
"Eh kalau begitu, aku permisi duluan," kataku sambil membetulkan tasku yang melorot dari pundakku.
"Tunggu!" laki-laki itu mencekal lenganku. Duh, apalagi ini.
Aku menghentikan kakiku yang baru saja selangkah. Kupandang laki-laki itu dengan pandangan bertanya.
"Siapa namamu?" tanyanya menatap tajam ke arahku.
Aduh! Mau apa sih nanya-nanya namaku segala?
Apa dia gak tau kalau aku bisa meleleh kalau dia memegang tanganku terus seperti ini?
Gimana gak meleleh kalo tanganku digenggam oleh cowok yang wajahnya tampan luar biasa dengan tubuh tegap dan bidang begini? Duh mama, Pia gak sanggup!
"Heh! Ditanya malah bengong!" sekarang laki-laki itu menjentikkan jarinya didepan wajahku. Aku gelagapan.
"Oh... eh... tadi bapak nanya apa ya?" tanyaku dengan oon nya.
"Nama kamu siapa?" ulangnya sambil menarik nafas panjang. Apa dia kesal padaku ya? Duh, maaf deh. Soalnya kalo aku ngadepin orang cakep memang suka begini bawaannya.
"Eh namaku? Aku Steviana, Pak," jawabku tanpa menjabat tangannya. Ya bagaimana mau jabat tangan kalo dari tadi lenganku masih dicekalnya.
"Steviana," ulangnya manggut-manggut.
"Eh, maaf Pak, bisa tolong lepasin tangan saya?" tanyaku hati-hati. Pasalnya tidak ada tanda-tanda ia mau melepas pegangan tangan nya.
"Oh ya, bisa tidak kamu tidak panggil saya bapak? Saya kan bukan bapak kamu?" kudengar ia mendengus kesal.
"Baiklah Oom," kulihat ia mendelik melihatku. Duh, salah lagi kayaknya.
"Saya bukan Oom kamu!" ujarnya galak.
"Lalu saya harus panggil apa Paman?" tanyaku lagi menatap mata abu-abunya yang sekarang kembali melotot melihatku. Haisss... susah ngomong sama orang satu nih. Mana tanganku belum juga di lepas.
"Namaku Dion. Dan jangan panggil paman karena aku bukan pamanmu!" ujarnya sewot.
"Iya deh, terserah. Aku udah boleh pergi kan?" tanyaku melihat tanganku yang masih belum dilepasnya.
"Eh iya, sorry," dilepaskannya lenganku.
"Ya sudah, aku duluan. Bye," aku segera berlari kecil menuju parkiran, mengambil si mungil Brio milikku, hadiah dari papa dan mama saat aku berulang tahun kemarin.
======♡======
"Piaaaa," suara mama terdengar melengking tinggi.
"Iya Ma, sebentar. Sudah hampir selesai kok," sahutku tak kalah melengking.
Malam ini Papa dan Mama kedatangan sahabat lamanya. Sahabat sejak mereka masih SD dulu. Mereka pisah waktu Papa memperoleh beasiswa dan harus meneruskan sekolah di Melbourne.
Aku meneruskan mematut diri di depan cermin. Oke, sudah cantik. Ooops... kenapa aku merasa ada yang kurang ya? Kuteliti lagi penampilanku.
Astaga! Duh, mama.... anakmu hampir saja nempermalukanmu!
Aku masih mengenakan celana pendek baby doll ku yang warnanya sudah absurd banget.
Cepat-cepat kuganti dengan rok model A di atas lutut dan bergegas turun. Mamaku sudah memanggilku kembali dan memberitahu bahwa tamu mereka sudah datang.
"Naaah... Ini lho anakku. Namanya Steviana. Ayo Pia, kasih salam sama Om David dan Tante Vela. Dan ini anak Om David. Namanya Albert Alvadion Wijaya," aku menyalami mereka satu persatu, dan OMG, bukannya ini cowok yang tadi siang ketemu di kampus?
"Lho Om? Eh, Pak? Eh?" aku tidak menyangka ternyata dia anak Om David dan Tante Vela?
"Lho kalian sudah kenal?" tanya Tante Vela takjub.
"Wah, kalo gini urusan jadi gampang kan Vid?" kata papa tertawa yang langsung disambut kekehan tawa Om David, Tante Vela dan Mama.
Aku tidak mengerti dengan mereka. Ada apa sih sebenarnya?
Aku menoleh pada anak Om David. Eh, dia malah cengar cengir gak jelas. Ada apa sih?
"Sini Pia sayang," panggil Papa menepuk-nepuk sofa disebelahnya. Aku menurut.
"Begini Pia, Om David ini kan sahabat lama Papa, dan kami sudah sepakat untuk menjadikan persahabatan kami menjadi persaudaraan. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menjodohkan kamu dengan Dion. Lagipula Dion juga sudah setuju," sahut Papa diangguki seluruh yang hadir kecuali aku dan Si Om yang hanya menatapku penuh intimidasi.
Aku menelan ludah dengan susah payah. Mana mungkin? Oke, aku memang belum punya pacar. Tapi aku kan lagi pedekate dengan kakak seniorku yang sekarang sedang mempersiapkan skripsi sama denganku.
Ya meskipun umurku dibawahnya dua tahun karena otakku yang lumayan cespleng sehingga aku bisa menyelesaikan kuliahku lebih cepat. Sehingga di usiaku yang ke 20 ini aku sudah bisa mengajukan skripsi.
"Jadi besok kita bisa mulai mempersiapkan pernikahannya. Dan Pia, besok kamu ikut mama untuk memilih model gaun pengantinnya," bahkan mereka tidak menanyakan kesediaanku sama sekali.
"Ma," aku ingin protes.
"Tenang saja, Pia. Mama sama Tante Vela yang akan mengurus semuanya. Mama tau kamu lagi fokus dengan ujian skripsi kamu. Semua biar kami yang atur," kata Mama antusias.
Aku menatap Mama dan Papa bergantian dengan sebal.
"Maaf Tante, Om, Pa, Ma. Bisa aku ngobrol berdua dengan Pia?" idih si Om kenapa sok akrab memanggilku Pia? Kecuali Papa dan Mama tidak ada yang memanggilku Pia.
"Wah udah pengen berduaan aja si Dion?" goda Tante Vela tertawa sumringah membuat wajah si Om sedikit memerah.
"Tuh Pia, temenin Dion nya," mama menarik-narik tanganku agar berdiri, sementara papa mendorong-dorong punggungku. Kedua orang tuaku benar-benar kompak kalau begini.
Dengan memasang muka malas aku mengikuti Dion ke taman disamping rumah, menuju gazebo yang biasa kugunakan saat teman-temanku main ke rumahku.
Ia duduk di gazebo itu sementara aku duduk di ayunan di depannya.
"Kenapa disitu? Jauh amat? Sini dong," si Om melambai menyuruhku duduk di dekatnya.
"Mau ngobrol apaan sih Om? Kenapa gak ngomong di dalam aja?" tanyaku sebal. Tanpa kupedulikan tatapan tajamnya, aku mulai mengayun ayunan yang kududuki pelan.
"Aku sudah bilang jangan panggil aku Om! Memang aku setua itu apa?" gerutunya galak.
"Aku harus panggil apa? Bapak? Paman?" ujarku tak peduli pelototannya.
"Panggil namaku aja bisa kan?" pintanya.
"Gak mau ah! Gak sopan panggil nama aja ke orang yang lebih tua," tolakku tanpa melihat kearahnya.
"Kalau begitu, panggil aku Kakak! Atau Mas juga boleh," tawarnya mengedipkan sebelah matanya.
Aku tertawa geli.
"Enak juga panggil Om. Lebih pas dan enak dilidah," sahutku enteng.
Tiba-tiba saja ia sudah berdiri di hadapanku menghentikan ayunan yang kududuki.
Tubuhnya membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan wajahku.
Aku panik. Bagaimana tidak. Wajahnya begitu dekat dengan wajahku sehingga aku dapat merasakan hangat nafasnya di wajahku.
"Baiklah, kita buktikan. Apa benar panggilanmu terhadapku enak dilidah?" tanpa aba-aba, ia sudah mencium bibirku dengan tangannya yang satu menekan tengkukku agar wajahku tetap menghadapnya, dan tangannya yang sebelah lagi memegang tanganku yang masih berpegangan pada besi ayunan.
Tubuhku kaku tidak bisa bergerak. Keterkejutanku membuatku seperti manekin yang diam saja saat ia makin memperdalam ciumannya dengan menggigit kecil bibir bawahku.
Huaaaaaaaa mamaaaa...... ia mengambil first kiss ku!
Cukup lama ia mengulum bibirku hingga aku tak bisa bernafas. Perlahan ia melepaskan ciumannya dan sedikit menjauhkan wajahnya. Catat ya, hanya sedikit! Bibirnya hanya berjarak sesenti dari bibirku. Sedikit saja aku bergerak, sudah pasti langsung nempel ke bibirnya lagi.
"Bagaimana? Enak dilidah?" tanyanya pelan dengan suara serak.
Aku melotot menatapnya. Ih, kenapa ia mesum sekali? Tapi, kenapa jantungku dag dig dug begini?
"Mau lagi?" tanyanya lagi sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.
Aku menggeleng pelan dengan wajah yang bisa kupastikan merah padam.
Ia tersenyum penuh kemenangan, lalu menegakkan tubuhnya, menarikku agar ikut berdiri bersamanya.
"Jadi Pia, jangan sekali-kali berani menolak perjodohan ini, mengerti?" suara si Om terdengar penuh ancaman. Aku bergidik mendengarnya.
"Tapi Om, eh..."
Belum selesai aku bicara, si Om sudah mendekat padaku lagi. Dan aku kesal dengan keadaanku. Bagaimana tidak, aku tidak bisa mundur karena dibelakangku ada ayunan. Kedua lengannya mengunci tubuhku. Nafasnya menyapu wajahku.
"Kenapa? Mau menolak?" desisnya kembali mengancamku.
Aku menggeleng takut-takut. Kenapa Mama dan Papa tidak ada satupun yang keluar menolongku? Kenapa mereka menjodohkanku dengan laki-laki ini? Cakep sih, tapi aku kan belum mengenalnya. Aku sama sekali asing dengannya, tapi kenapa dia sudah berani menciumku? Parahnya lagi, ia mengambil first kiss ku!
Ia terkekeh senang, lalu menarikku menuju ke tempat di mana papa, mama dan kedua orang tuanya berada.
"Nah, ini mereka. Bagaimana Dion? Kalian sudah tentukan harinya?" tanya Om David tersenyum melihat kami berdua. Tepatnya melihatku tidak berdaya dengan cekalan tangan si Om mesum di lenganku.
"Sudah Pa. Pernikahan kami bulan depan. Dan minggu depan Pia maunya kita tunangan dulu," ujarnya santai.
Heh? Apa-apaan ini? Kenapa jadi aku? Dan apa yang dia bilang? Tunangan? Nikah? Kenapa dia seenaknya memutuskan semuanya tanpa persetujuanku terlebih dulu?
"Wah, jadi kamu sudah setuju Pia?" kali ini Mama dengan senyum bahagianya memandangku.
Tidak! Aku tidak mau! Ini hidupku! Mereka tidak berhak menentukan hidupku! Ya, aku harus menolak!
"Tentu saja Pia setuju, Tante. Ya kan sayang?" si Om menarikku ke dalam pelukannya dan menatapku dengan pandangan mengancam. Sementara tangannya masih mengunci erat tubuhku.
"Baiklah. Karena Pia sudah setuju, kita bisa segera mempersiapkan semuanya," kudengar Tante Vela tertawa lega.
Kenapa jadi seperti ini?
Bahkan ketika pertemuan itu selesai, Mama dan Papa malah ikut keluar bersama keluarga si Om mesum dan meninggalkanku sendiri di rumah. Bahkan aku tidak tau jam berapa mereka pulang.
======♡======
Setelah kejadian itu, keesokan harinya, si Om mesum Dion itu pagi-pagi sudah standby di rumahku sebelum aku bangun. Bayangkan! Bagaimana bisa dia dengan tidak sopannya berkeliaran di rumahku seolah-olah rumahnya sendiri.
Dan sepertinya Papa dan Mama senang senang saja melihatnya.
Aku sama sekali tidak berkesempatan untuk menyuarakan protesku pada mereka.
Seperti sekarang ini, dengan seenaknya si Om mesum Dion itu membawaku ke kantornya, hanya untuk menjadi pajangan ruangannya.
Bagaimana tidak, setelah acara fitting baju pengantin, ia menyeretku untuk ikut dengannya. Dan disinilah aku sekarang. Hampir mati kebosanan menunggunya memeriksa laporan yang bertumpuk di meja besarnya.
"Om, kenapa Om ngajak aku kesini? Bosen Om. Mendingan Om kerja yang bener, aku mau pulang," ujarku kesal. Emang enak dijadikan pajangan gini?
Si Om mengangkat wajahnya dari lembaran-lembaran berkas yang bertebaran di mejanya dan menoleh kearahku.
"Kamu bosan? Sini, kamu gak akan bosan kalau di sini," ia menepuk-nepuk pahanya sambil senyum - senyum aneh.
Apalagi ini? Dia nyuruh aku duduk di pangkuannya? Emangnya aku cewek apaan? Atau dia sudah terbiasa ya kayak gitu dengan cewek-cewek?
Aduh Maaaaa.... gimana nasibku nanti?
"Pia? Katanya bosan? Sini, aku jamin kamu bakal keenakan deh," katanya langsung kuhadiahi pelototan garang.
"Aku mau pulang!" cetusku lalu berjalan keluar tanpa mempedulikannya.
Tidak kugubris teriakannya yang memanggilku. Setengah berlari aku masuk lift dan menuju ke lobby, lalu bergegas keluar dari kantor si Om Dion.
Baru saja aku hendak memanggil taksi yang lewat, kurasakan lenganku ditarik dan diseret masuk ke sebuah mobil yang berhenti di dekatku entah sejak kapan.
"Jalan Pak!" perintah suara berat yang akhir-akhir ini akrab ditelingaku. Aku menatapnya sewot.
Ya, siapa lagi kalau bukan Dion si Om mesum itu.
"Apa sih mau Om sebenarnya? Kenapa Om mau aja dijodohkan? Bukannya kita gak saling kenal sebelumnya?" cecarku dengan emosi yang meluap-luap. Bagaimana tidak kalau dia selalu semena-mena.
"Terus saja kamu panggil Om," desisnya galak. Ia bergeser hingga kami duduk berhimpitan.
"Ish, sempit nih," aku mendorong-dorong tubuhnya yang sama sekali tidak bergeser sesenti pun.
"Jangan bilang aku tidak pernah memperingatkanmu, Pia! Atau memang kamu sengaja ingin kucium?" suaranya terdengar ditelingaku disertai hembusan nafasnya.
Aku menggeleng kuat-kuat. Tubuhku bergidik, memejamkan mataku takut. Jantungku berulah.
Kurasakan tanganku ditarik dan diseret lagi. Duh, sebenarnya aku mau dibawa kemana sih?
Astaga! Astaga! Astaga! Bukannya ini Apartemen? Tapi apartemen siapa?
Dion membuka pintu dan mendorongku masuk.
"Om mau ngapain? Jangan macam-macam Om!" aku benar-benar panik. Apalagi melihatnya Perlahan-lahan maju mendekatiku yang terus mundur hingga membentur pinggiran sofa dan kehilangan keseimbanganku.
Tak ayal lagi aku jatuh telentang di atas sofa hitam milik Dion.
Dion tersenyum miring. Perlahan ia terus mendekat hingga tubuhnya sekarang berada di atasku.
"Bagaimana? Mau diteruskan?" tanyanya dengan mata berkilat.
"Jangan Om eh Pak eh Di...Dion.." aku berusaha mendorong tubuhnya.
"Panggil aku dengan mesra dulu! Baru kamu kulepaskan, Pia," ujarnya masih dengan senyum miringnya.
"Eh...mesra? Seperti apa?"
"Ya mesra. Sayang? Honey? Sweetheart? Terserah kamu manggilnya apa?"
Duh, apa ya? Otakku benar-benar buntu!
"Ayo cepat!" wajahnya makin dekat, membuatku makin panik.
"Eh i...iya... Kak Dion," sahutku cepat.
Gerakannya terhenti sejenak. Lalu ia menyeringai.
"Kak Dion? Hmm...aku suka!" huuuufftt leganya....
"Tapi gak! Kurang mesra!" Nah lo! Aduh pusing 'pala Barbie niiihhh.
"I...iya... Hon... Honey," kataku terbata-bata.
Tiba-tiba ia terkekeh, mengacak poniku dan mengecup singkat pipiku, lalu menarikku hingga aku duduk di pangkuannya. Ia mengusap-usap punggungku dengan sebelah tangannya, dan tangannya yang lain menggenggam tanganku yang diletakkannya di atas pahaku.
"Bagus! Ingat ya Pia, kalau kamu memanggilku dengan sebutan Pak atau Om lagi, kamu akan kucium habis-habisan !" ancamnya membuatku mengangguk pasrah. Dadaku berdebar dan wajahku terasa panas menyadari betapa intimnya posisi kami sekarang.
======♡======
Aku memandang ke tengah ruangan. Mama, Papa, Om David dan Tante Vela tampak tertawa bahagia. Mereka asyik bercengkerama dengan para tamu undangan.
Wajah mereka tampak gembira dan lega. Hari ini aku menikah. Pernikahan tanpa cinta. Hmm... cinta? Aku tidak tau bagaimana perasaanku. Hanya saja setiap Dion mendekat, jantungku selalu berdetak kencang. Atau ada yang salah dengan jantungku?
Para undangan masih saja mengular mengantri memberi selamat padaku dan Dion.
"Waaah pinter juga lo nyembunyiin cewek secantik ini. Pantas aja lo nolak Alika," suara berat seseorang membuatku menoleh.
Kulihat seorang laki-laki gagah tengah memeluk Dion.
"Kenalin dong," laki-laki itu menyikut lengan Dion sambil menaik-naikkan sebelah alis tebalnya.
"Hahaha...kenalin ini istri gue, Steviana. Sayang, kenalin ini sahabat aku, Mario," aku tersenyum menyambut uluran tangan Mario yang tersenyum manis padaku. Apa dia bilang? Sayang?
"Ish! Jangan lama-lama pegangannya!" Dion menepis tangan Mario sambil melotot galak.
"Ya ampun Dion, santai aja Bro! Gue gak mungkin nikung sahabat sendiri," Mario terkekeh melihat wajah garang Dion.
"By the way, selamat buat kalian ya. Dan Stev, hati-hati sama Dion! Fans nya banyak! Hahaha..." Mario mengerling padaku, lalu menepuk bahuku sekilas sebelum melenggang turun bergabung dengan tamu yang lain.
"Diooon, Ih.... kamu kok nikah duluan sih? Kamu kan tau aku nungguin kamu,"nada cempreng itu membuatku refleks mencari sumber suara.
Cewek ganjen itu melekat erat di tubuh Dion. Lengannya dilingkarkan ke lengan Dion.
Kulirik Dion yang terlihat risih dan tidak nyaman.
Aku mencibir kesal. Apa-apaan ini? Sudah tau ada aku disini, beraninya cewek itu nempel-nempel Dion.
Dan hei? Kenapa aku jadi sewot dan merasa tidak suka melihat cewek itu gelendotan di lengan Dion?
"Pelukannya bisa ditunda nanti aja gak? Tuh yang dibelakang udah pada ngantri," kataku ketus sambil menunjuk antrian di belakang cewek ganjen itu dengan daguku.
"Eh, iya tuh San. Lo mending gabung sama yang lain deh,"ujar Dion melepaskan pelukan cewek ganjen itu.
"Ya udah deh, Sani kesana dulu ya Dion, nanti kita ketemu lagi," cewek bernama Sani itu tersenyum pada Dion dan melengos saat melewatiku.
Huh! Emang lo penting apa? Aku menggerutu dalam hati.
"Dioooooonn, kok kamu tega sih ninggalin Sasya," nah, mahluk apa lagi nih?
"Eh, Sasya? Kamu dateng juga?" kudengar Dion bertanya heran.
Heh? Apa maksudnya tuh?
"Sasya pasti dateng dong, Dion. Sasya pengen liat seperti apa sih istri Dion? Cantik mana sama Sasya? Eh, ternyata cuma anak kecil gini! Kok lo mau sih sama anak kecil gitu, Baby?" Hadeeeeh... kayaknya bakalan makan ati nih kalo gini. Tadi Sani, sekarang Sasya. Setelah ini siapa lagi?
"Bebeb Diooon, gak pa pa deh lo nikah, yang penting gue tetep cinta sama Bebeb," nih satu lagi fans si Om. Lama-lama kesel juga! Hatiku sudah mendidih. Tinggal dicampur kopi deh. Lho? Maksudnya tinggal disiramin ke muka si Om mesum aja!
======♡======
Sengaja aku berlama-lama di kamar mandi. Aku masih kesal dengan Dion dan antrian fans ganjennya. Kenapa barisan ceweknya diundang semua sih? Apa dia mau nunjukin kalo dia laku? Apa dia mau pamer kalo aku gak ada apa-apa nya sama deretan cewek-cewek nya itu?
Kalo memang dia punya segudang cewek, kenapa dia menyetujui perjodohan ini? Dia kan bisa menolak! Tapi kenapa malah dia melarangku untuk menolak?
Suara ketukan pada pintu kamar mandi berubah menjadi gedoran saat kuabaikan.
Dengan kesal aku membuka pintu.
"Kenapa sih? Aku nggak tuli, Om!" semburku galak.
"Kamu panggil aku apa?" tanya nya menatapku tajam.
Ups! Aku lupa kalau dia gak mau kupanggil Om. Tapi masa bodoh lah. Dia sudah membuat mood ku hancur.
"Kalo iya kenapa? Bukannya Om memang sudah tua ya?" jawabku ketus.
"Umurku baru dua puluh tujuh, Pia. Aku belum tua. Sepertinya kamu ingin merasakan ciumanku ya?" Dion mulai mengancamku lagi. Kali ini aku tidak takut. Aku benar-benar kesal dan marah padanya.
"Jangan coba-coba, Om! Aku gak mau punya suami yang pacarnya banyak! Jadi jauh-jauh dari aku!" hardikku marah.
"Siapa yang pacarnya banyak? Maksudmu aku?" ia menunjuk hidungnya sendiri.
"Helloooooowh.... disini siapa yang punya pacar banyak?" seruku gusar. Apa gak ngerasa dia?
"Kenapa kamu jadi nuduh aku begitu?" si Om Dion tercengang. Ia seperti berpikir keras. Lalu tiba-tiba ia tersenyum miring.
"Kamu cemburu ya, Sayang?" tanya nya menjengkelkan.
"Ish, siapa yang cemburu? Enak aja!" sergahku kesal. Eh, tapi apa benar aku cemburu?
"Kamu marah sama aku karena cewek-cewek tadi?" tanya Dion tertawa geli.
"Gak ada yang lucu ya, Om! Kenapa Om mau dijodohin kalo Om punya banyak cewek yang lebih segala-galanya dari aku?" aku sudah tidak bisa mengontrol kata-kataku. Mataku terasa panas.
"Astaga Pia, Sayang. Mereka bukan siapa-siapaku. Memang sih banyak yang ngejar-ngejar aku. Ya maklumlah, suami kamu ini kan ganteng banget," katanya membuatku makin kesal. Ih, pede banget dia!
"Om bohong! Om jahat! Aku benci sama Om! Huuhuhuuuu," tangisku meledak sudah. Kemarahanku tidak bisa kutahan. Rasanya sesak.
Tiba-tiba Dion meraih tubuhku ke dalam pelukannya. Rasanya hangat dan nyaman. Tapi airmataku tidak mau berhenti.
"Pia sayang, udah dong nangisnya. Mereka bukan siapa-siapaku. Aku nggak cinta sama mereka. Kalo gak percaya tanya deh sama Mario, Papa atau Mama. Aku tuh cintanya sama kamu," Om Dion sibuk mengusap punggungku dan mengecupi pucuk kepalaku.
"Kalau bukan siapa-siapa kenapa mereka bersikap kayak gitu sama Om? Eh, apa Om bilang? Om cinta sama aku?" tangisku berhenti mendadak mendengar ucapannya.
"Iya Pia sayang. Awalnya aku menolak saat Papa bilang aku akan dijodohkan. Tapi Papa bukan orang yang mudah dibantah. Karenanya aku bertanya dengan siapa aku dijodohkan. Papa memberitahuku siapa namamu dan kamu kuliah dimana. Waktu kita ketemu di kampusmu dulu, itu aku sedang mencarimu. Aku ingin kamu juga menolak perjodohan itu. Tapi ternyata aku malah jatuh cinta padamu. Jatuh cinta pada pandangan pertama," si Om eh Kak Dion menjelaskan padaku sambil tak henti-hentinya mengusap bahu dan punggungku.
Aku mengerjapkan mataku takjub dengan penjelasannya.
"Kakak gak bohong? Lalu cewek-cewek itu?" tanpa sadar aku sudah mengganti panggilanku terhadapnya dan Dion menyadarinya. Ia tersenyum lembut padaku.
"Aku kan sudah bilang, mereka bukan siapa-siapaku. Mungkin mereka memang suka padaku, tapi sepanjang hidupku, aku hanya jatuh cinta sekali, dan itu denganmu, Pia," katanya lalu mengecup dahiku lembut. Duh mama.... kenapa jantungku kambuh paradenya?
"Jadi? Kamu percaya padaku kan sayang?" aku mengangguk kecil, dan kudengar helaan nafas lega Dion.
"Berarti kita jadi malam pertama kan?" duh, kenapa pertanyaannya seperti ini?
"Aku...aku..." aku benar-benar gugup sekarang.
"Pia sayang, gimana? Kamu mau kan?" tanya Dion lalu mulai menciumku dengan sangat lembut, membuatku serasa melayang.
Tanpa kusadari, ia sudah berada di atasku dan aku tidak mampu menghentikannya.
Dan malam ini menjadi malam pertama yang indah buat kami berdua.
Aku menyadari satu hal. Ya, tanpa sadar aku juga sudah jatuh cinta padanya.
SELESAI