Telaga Bidadari
Folklore
27 Nov 2025

Telaga Bidadari

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (47).jpeg

download (47).jpeg

27 Nov 2025, 15:08

Dahulu kala, ada seorang pemuda tampan bernama Awang Sukma. Ia mengembara ke tengah-tengah hutan dan kagum melihat beragam kehidupan di dalamnya. Ia membangun rumah pohon di dahan pohon yang sangat besar. Dia tinggal di hutan dalam keharmonisan dan kedamaian.

Setelah lama tinggal di hutan, Awang Sukma diangkat menjadi penguasa daerah itu dan mendapat gelar “Datu”. Sebulan sekali, ia berkeliling wilayahnya, dan suatu hari ia tiba di sebuah danau yang jernih. Danau itu berada di bawah pohon rindang dengan banyak buah. Burung dan serangga hidup bahagia di sana.

“Hmm, betapa indahnya danau ini! Hutan ini memiliki keindahan luar biasa,” ucapnya.

Keesokan harinya, saat ia meniup serulingnya, ia mendengar suara ramai di danau. Dari sela-sela tumpukan batu yang pecah, Awang Sukma mengintip. Ia sangat terkejut melihat tujuh gadis cantik sedang bermain air.

“Mungkinkah mereka bidadari?” pikirnya.

Tujuh gadis cantik itu tidak sadar bahwa mereka sedang diawasi. Selendang mereka—yang digunakan sebagai alat untuk terbang—berserakan di sekitar danau. Salah satu selendang terletak paling dekat dengan Awang Sukma.

“Wah, ini kesempatan bagus!” gumamnya.

Ia mengambil selendang itu lalu berlari untuk bersembunyi. Namun tanpa sengaja ia menginjak ranting kering.

Krak!

Para gadis terkejut, segera mengambil selendang masing-masing, lalu terbang meninggalkan danau. Namun ada satu gadis yang tidak dapat menemukan selendangnya. Ia ditinggalkan oleh semua saudara perempuannya. Ia sangat ketakutan dan sedih.

Saat itulah Awang Sukma keluar dari persembunyian. Ia berpura-pura tidak sengaja lewat dan bertanya apa yang terjadi. Putri bungsu bidadari tersebut akhirnya bercerita dan mengakui bahwa ia kehilangan selendang terbang miliknya.

“Jangan khawatir, tuan putri. Aku akan membantumu, asal tuan putri tidak menolak untuk tinggal bersamaku,” pinta Awang Sukma.

Putri bungsu semula ragu, tapi karena tidak ada orang lain dan ia sangat ketakutan, ia menerima bantuan Awang Sukma. Datu Awang Sukma pun mengagumi kecantikan putri bungsu. Begitu pula putri bungsu yang mulai senang berada di dekat pemuda tampan itu.

Akhirnya mereka memutuskan untuk menikah dan menjadi suami istri. Setahun kemudian, lahirlah seorang bayi perempuan cantik bernama Kumalasari. Kehidupan mereka sangat bahagia.

Namun pada suatu hari, seekor ayam hitam naik ke gudang lalu menggaruk lumbung padi. Saat putri bungsu mengusir ayam itu, matanya tertuju pada tabung bambu di dalam lumbung. Ketika tabung itu dibuka, putri bungsu terkejut.

“Ini selendang saya!” serunya sambil menangis.

Selendang ajaib itu memeluknya seolah merindukannya. Putri bungsu merasa kecewa karena suaminya menyembunyikan selendang itu selama ini. Namun di sisi lain ia mencintai suami dan anaknya.

Setelah lama berpikir, putri bungsu memutuskan kembali ke Kahyangan.

“Sekarang saatnya aku harus kembali,” katanya lirih sambil menatap bayinya.

Ia mengenakan selendangnya sambil menggendong bayi kecilnya. Datu Awang Sukma terkejut melihat apa yang terjadi dan segera meminta maaf atas perbuatannya.

Namun putri bungsu tahu, perpisahan tidak bisa dihindari.

“Kanda, tolong jaga dinda Kumalasari dengan baik,” katanya pada suaminya.

“Jika anak kita merindukanku, ambil tujuh biji kemiri dan masukkan ke keranjang yang digoyang-goyang. Aku pasti akan datang menemuinya,” lanjutnya.

Setelah itu putri bungsu terbang kembali ke Kahyangan.

Datu Awang Sukma sedih, dan ia bersumpah bahwa keturunannya tidak boleh memelihara ayam hitam, karena dianggap membawa bencana.

Tempat mandi putri bungsu dan keenam saudara bidadarinya kemudian dikenal sebagai Telaga Bidadari.

Kembali ke Beranda