Siang ini matahari tertutup awan, tetapi tidak hujan. Abigail melenguh bosan. Dipandanginya barisan ikan mas yang hilir mudik tanpa kenal lelah di dalam kolam belakang kampus.
Sesekali ia melirik jam tangan mungil yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Hallo Abi cantik," sapa seseorang sembari menepuk ringan bahunya.
Abi menoleh tersenyum. Adelio Reynand teman seangkatannya berdiri sambil tersenyum manis ke arahnya.
"Kenapa sendirian aja?" tanya Adelio masih memasang senyum manisnya.
"Eh, Adelio. Biasa, nungguin Marcel," sahut Abi malas.
"Marcel? Marcello Evarado?" tanya Adelio memastikan.
"Iya, siapa lagi?"tanya Abi mengerutkan dahinya.
"Nama Marcel di kampus kita kan ada tiga," ujar Adelio membela diri.
Tiba-tiba smartphone ku berbunyi.
"Hallo?" aku membalas sapaan yang memanggil namaku di ujung sana.
"......"
"Kenapa lo gak ngabarin gue? Setidaknya gue gak perlu nungguin lo sampe karatan gini!"
"......"
" Iya iya! Udah ah, gue mau pulang! Capek tau!" Abi dengan ketus menyudahi pembicaraannya.
Kemudian ia tersadar bahwa sedari tadi Adelio memandanginya yang sedang marah-marah dengan ekspresi geli.
" Kamu kalo marah-marah begitu, lucu ya? Tambah cantik!" gumamnya yang didengar jelas oleh Abi.
"Ish apaan sih lo?" Abi mengelak jengah.
"Jangan suka marah-marah, nanti tambah cantik lho!" Abi tersedak mendengar ucapan Adelio.
Perempuan mana yang tidak tersanjung dengan pujian dan perhatian Adelio, seseorang yang menjadi idola di kampus ini? Banyak gadis-gadis yang berharap bisa dekat dengan laki-laki itu. Dan sekarang, Adelio menyapanya, memanggil namanya dan memujinya cantik.
"Abi? Abigail? Abigail Claretta?" Adelio menggoyangkan tangannya di muka Abi, membuat gadis itu tersentak dan tersipu.
"Uhm, sorry," Abi salah tingkah.
"Kenapa dengan Marcel?" dahi Adelio bertaut.
"Marcel sedang ada perlu. Penting katanya. Gak bisa antar gue pulang," sahut Abi malas.
"Ya udah, kamu pulang sama aku aja. Gimana? Gak apa-apa kan?" mata Abi melebar. Seorang Adelio Reynand menawarinya pulang bersamanya?
"Tapi tidak apa-apa lo nganter gue pulang?" tanya Abi gugup.
"Ya gak apa-apa, Abi cantik. Yuk, aku antar kamu pulang," ujar Adelio yang masih ngotot ber aku kamu.
Abi tertegun melihat senyum Adelio yang mengembang dengan manisnya. Terlebih saat Adelio meraih jemarinya dan menggandengnya menuju ke mobil sport Adelio.
Berani taruhan, Abi yakin banyak gadis yang saat ini tengah melihatnya digandeng Adelio dengan tatapan iri.
=====£=====
Malam belum larut benar. Abi membenarkan duduknya berselonjor di atas gazebo halaman samping rumahnya.
Abi tengah larut dengan novel yang dibacanya ketika tepukan seseorang membuatnya berjingkat kaget dan refleks menoleh.
"Marcel? Lo ngapain kemari?" Abi menatap galak pada laki-laki yang berdiri didepan nya dengan cengiran kudanya. Ia masih kesal dengan polah Marcel yang sudah membuatnya menunggu di kampus siang tadi.
"Gue mau minta maaf sama lo. Sorry banget ya Bi."
"Ya udah. Gak apa-apa," Abigail masih menjawab dengan ketus meskipun Marcel sudah meminta maaf padanya. Ya, Abi masih kesal.
"Gak apa-apa kok masih cemberut sih?" goda Marcel menowel pipi Abi.
"Ish apaan sih lo? Memang ada apa sih?" tanya Abi mengerutkan keningnya.
"Aku harus ke perpustakaan Bi. Buku itu cuma satu. Kata penjaga perpus nya kemarin buku itu balik. Jadi gue nungguin buku itu di balikin sama yang minjem," jawab Marcel dengan raut kesal mengingat ia harus menunggu lama gara-gara cewek yang meminjam buku itu ngaret datangnya.
"Penting banget ya?" tanya Abi.
"Iya Bi. Kalo gak penting banget, gue pilih nganterin lo pulang,"sahut Marcel tersenyum melihat Abi sudah tidak jutek lagi.
"Ya udah. Gak apa-apa. Lagian gue kemarin dianterin pulang sama Adelio kok, "ujar Abigail tersenyum - senyum jengah.
"Adelio?"Abi mengangguk. Senyumnya masih terkembang manis, membuat jantung Marcel serasa berhenti berdetak.
"Iya, Adelio. Dia baik banget ya Cel. Seandainya..."
"Seandainya apa, Bi?" potong Marcel cepat. Perasaannya mengatakan ini adalah hal buruk yang akan ia dengar.
"Seandainya saja Adelio suka sama gue..."
"Lo suka sama Adelio, Bi?" potong Marcel lagi. Perasaannya benar-benar tidak nyaman melihat Abigail menyunggingkan senyum seperti seorang yang sedang jatuh cinta.
Abi menoleh tersenyum, lalu mengangguk perlahan.
Jantung Marcel serasa berhenti berdetak. Ia merasa seolah ada batu besar menghantam dadanya.
" Eh, sorry Bi, gue lupa ada tugas dari Miss Farah yang belum gue kerjakan. Gue cabut dulu ya Bi, " ujar Marcel dengan hati patah.
Ia berbalik dan bergegas berlalu dari hadapan Abi.
Abi menatap kepergian Marcel dengan bingung. Tapi sesaat kemudian ia mengedikkan bahunya, lalu kembali menekuri novel di tangannya.
=====£=====
MARCELLO EVARADO POV
Sudah hampir sebulan aku fokus pada skripsi ku. Profesor Hino sudah menyetujui skripsi yang kuajukan. Aku tinggal fokus pada ujian skripsi ku saja. Sebenarnya semua yang kulakukan ini karena aku tidak tau lagi harus melakukan apa agar aku bisa melupakan kenyataan bahwa Abigail sahabatku, gadis yang dekat denganku dan bahkan diam-diam kucintai amat sangat itu ternyata menyukai Adelio.
Yah, siapa sih yang tidak menyukai seorang Adelio Reynand? Teman seangkatan Abigail itu sangat populer. Aku tidak mungkin bisa menyaingi Adelio. Aku bukan apa-apa dibandingkan dengan Adelio.
Adelio yang tampan, Adelio yang ramah, Adelio yang baik dan sopan, kaya raya, pintar, tidak sombong, dan masih banyak lagi alasan kenapa para gadis di kampusku bahkan mungkin semua gadis yang mengenalnya akan menyukainya.
Aku menghela nafas panjang, mencoba mengurangi rasa sesak yang muncul setiap kali melihat kedekatan Abi dengan Adelio yang makin hari makin lengket.
Aku harus menjauh dari Abi dan memfokuskan diriku pada skripsiku. Aku tidak bisa melihat kebersamaan Abi dengan orang lain. Hatiku sakit. Tapi bisa apa aku? Statusku hanyalah sahabat buat Abi. Dan buatku, yang terpenting adalah Abi senang dan bahagia. Itu sudah cukup buatku meskipun aku tidak akan tahan melihatnya bersama laki-laki lain. Karena itu aku memutuskan untuk mengambil S2 ku di Jerman. Papa dan Mama sempat curiga dengan keputusan yang kuambil karena mereka tau pasti bahwa aku tidak bisa jauh-jauh dari Abigail. Tapi menurutku, keputusan ini sudah tepat.
"Melamun lagi?" aku menoleh melihat ke arah orang yang menepuk bahuku. Devian mengambil duduk di sebelahku. Aku menunduk lagi, mencoba untuk kembali fokus pada bacaanku.
"Gue mau ke Jerman. Munster tepatnya," gumamku membuat Devian menoleh cepat kearahku.
" Jauh amat? Lo mau nerusin S2 atau mau melarikan diri? " Devian menatapku tajam.
"Ya nerusin S2 lah Sob," aku tersenyum pahit membalas tatapan tajamnya.
"Kenapa perasaan gue bilang sebaliknya ya? Lo sudah bilang ke Abi soal rencana lo ini?" tanya Devian membuatku menghela nafas lagi.
"Gak. Belum."
"Kenapa lo gak bilang aja terus terang sama Abi kalo lo suka sama dia?"
"Gue belum ketemu Abi lagi setelah kita ketemu dia di cafe dua minggu lalu," Marcel menutup bukunya dan memasukkan ke dalam tas nya.
"Menurut gue, sebaiknya lo ungkapin perasaan lo ke Abi. Paling nggak lo tau gimana perasaan Abi ke elo. Paling nggak lo sudah nyata in perasaan lo. Paling nggak lo jujur sama diri lo sendiri. Paling nggak..."
"Stop! Stop! Cukup Dev. Gue tambah pusing dengerin lo," potong Marcel cepat.
"Terserah lo lah Sob. Hidup hidup lo. Lo yang jalanin. Lo yang ngerasain. Gue cuma bisa berharap, lo gak nyesel dengan keputusan yang lo ambil," Devian menepuk pundakku pelan dan beranjak meninggalkanku.
"Lo mau kemana?" tanyaku setengah berteriak bertanya pada Devian yang mulai berjalan menjauh. Ia tidak menjawab, hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh padaku.
Aku menggeleng pelan sambil tersenyum getir. Hanya Devian lah yang tau semua rahasia perasaanku terhadap Abi.
"Marcello," sebuah suara bariton terdengar ditelingaku membuatku menoleh. Kudapati Profesor Hino berdiri menjulang dibelakangku.
"Ya Prof?" bergegas aku bangkit berdiri.
"Kamu ikut saya. Ada yang harus di bicarakan mengenai keberangkatanmu ke Munster," Profesor Hino berbalik setelah memberi isyarat padaku untuk mengikutinya.
=====£=====
ABIGAIL CLARETTA POV
Aku menatap Adelio dari kejauhan. Tanpa sadar aku tersenyum. Sudah dua bulan kedekatanku dengan Adelio. Ia tetap baik dan perhatian. Senyumnya tetap mengembang dengan manisnya. Tapi aku tau, itu dilakukan dandiberikannya untuk semua orang. Seperti saat ini. Apa yang kulihat di hadapanku adalah Adelio tengah tersenyum manis pada Cilla, membantunya membawa setumpuk buku ke perpustakaan. Sebelumnya, aku melihatnya mengantar Kania ke toko buku. Lalu kemarinnya lagi aku melihatnya tergesa-gesa menuju ruang kesehatan ketika mendengar Una terluka saat basket. Dan masih banyak lagi yang tidak mungkin bisa kusebut satu persatu.
Adelio memang sangat baik.
Aku tidak sakit hati. Bahkan aku tidak patah hati. Dulu kupikir aku punya perasaan khusus dengannya. Tapi setelah mengetahui semua ini, aku sadar bahwa aku hanya kagum pada kharisma Adelio. Dan aku kini yakin, itu bukanlah perasaan cinta!
"Abigail!" suara seseorang memanggilku membuatku memutar leherku.
"Jen? Kenapa ngos-ngosan gitu?" kulihat Jeny terengah-engah menghampiriku dan duduk di sampingku.
"Sudah dengar kabar gembira?" Jeny melempar senyum padaku.
"Kabar gembira? Kabar gembira apa?" tanyaku mengerutkan kening.
"Akhirnya Marcel lolos beasiswa ke Jerman," Jen memekik antusias.
"Marcel? Ke Jerman?" aku tercenung.
"Lo belum dengar kalau Marcel lolos beasiswa ke Jerman?" tanya Jen yang bingung dengan reaksiku.
Aku menggeleng pelan.
"Lo tau dari siapa?" aku menjerit tertahan. Aku sama sekali tidak tau menau dengan rencana Marcel.
Sedetik kemudian aku terhenyak. Dua bulan terakhir ini aku sudah mengabaikan Marcel. Aku terlalu sibuk dengan perhatian Adelio yang salah kuartikan. Marcel sahabatku, yang selalu ada setiap aku membutuhkan. Yang selalu mendengarkan semua keluh kesahku. Yang menemaniku saat aku jenuh dengan rutinitas. Sahabat macam apa aku yang tidak tau apa-apa tentang kepergian Marcel ke Jerman?
"Jen, gue pergi dulu," aku buru-buru berdiri dan setengah berlari menuju ke parkiran.
"Woi Bi! Lo gak ikut kuliah Pak Tara?" teriak Jeny melihatku berlari seperti dikejar setan.
"Gue nitip absen aja sama lo!" teriakku hampir menjerit. Aku harus menemui Marcel. Aku harus menanyakan kebenaran berita ini pada Marcel. Juga menanyakan kenapa Marcel tidak menberitahukanku tentang rencana kepergiannya.
=====£=====
Marcel masih menelusuri rangkaian huruf di hadapannya ketika Devian datang dan duduk di sebelahnya.
"Urusan administrasi lo udah beres?" tanya Devian melirik buku yang sedang dibaca Marcel.
"Udah. Begitu lulus ujian skripsi, gue tinggal prepare buat ke Munster. Katanya sih ada pelatihan bahasa dulu," Marcel menutup bukunya dan memasukkan ke dalam tas nya.
"Lo tetep gak mau ngomong ke Abi soal kepergian lo ini?" gerakan Marcel terhenti.
Ia tercenung, melihat ke arah Devian, lalu menggeleng pelan.
"Gue gak ngerti sama lo Sob. Kalo lo memang cinta sama Abi, ngapain lo takut nyatain? Lo takut dengan pikiran lo sendiri," cibir Devian geram dengan kekeras kepalaanku.
Wajah geram Devian berganti senyum lebar ketika pandangannya terarah pada sesosok gadis dengan rambut panjangnya yang di ikat ekor kuda.
"Hai Yang, udah selesai kuliahnya?" sambut Devian memeluk dan mencium puncak kepala gadisnya yang menghambur kepadanya.
Gadis itu mengangguk sambil tersenyum manja.
"Ckckck... pantas aja anak-anak kampus menjuluki kalian pasangan ter-romantis sepanjang masa," Marcel mencibir sambil menggelengkan kepalanya.
"Sirik aja lo!" cetus Jeny balas mencibir.
"Maklum, Yang. Dia kan jomblo," Devian terkekeh menggoda Marcel yang langsung meringis mendengarnya.
"Kampret lo!" sembur Marcel.
"Makanya kalo suka bilang suka. Sana cepetan ngomong! Keburu di sambar orang lain, lo gigit jari deh," omel Devian sambil cengengesan.
"Huh! Dosa apa gue punya temen kaya lo gini?" keluh Marcel memasang raut muka menyesal yang langsung di sambut tawa geli Devian, sementara Jeny menatap keduanya bergantian dengan bingung.
"Kalian ngomongin apa sih? Marcel suka sama siapa? Gue kenal sama orangnya gak? Apa perlu bantuan dicomblangin? Siapa sih target lo?" Devian tertawa keras mendengar kata-kata kekasihnya yang membuat Marcel melotot kesal padanya.
"Lo berdua memang cocok! Gue cabut dulu. Jangan berduaan mulu! Awas setan lewat," ejek Marcel.
"LO SETAN NYA!" teriak Devian dan Jeny barengan.
Marcel tertawa meninggalkan keduanya.
=====£=====
Marcel menghentikan langkahnya. Ia menatap lurus pada gadis mungil yang menghadangnya.
"Abi?"
"Lo hutang penjelasan ke gue, Cel!" gadis itu berkacak pinggang di hadapan Marcel.
"Ada apa, Bi?" Marcel memandang wajah cantik Abi lurus-lurus. Hatinya berdebar.
"Lo tega ninggalin gue? Kenapa lo gak ngabarin gue? Kenapa lo gak bilang kalo lo mau nerusin kuliah di Jerman? Apa lo udah gak nganggep gue sahabat lo lagi? Apa salah gue? Lo jahat, Cel! Kalo gue ada salah sama lo, lo ngomong ke gue. Bukan gini caranya. Gue salah apa? Sampai-sampai lo gak mau cerita ke gue soal kepergian lo ambil S2 ke Jerman?" Abi meluapkan emosinya, kemarahannya menyadari bahwa ia mengetahui kepergian Marcel dari orang lain.
"Maaf, Bi," bisik Marcel.
"Kenapa lo gak bilang kalo lo mau nerusin S2 ke Jerman?" Abi terisak. Bulir-bulir air mata menetes di pipi Abi. Hati Marcel serasa tersayat. Abi menangis. Biasanya ia yang akan menenangkan Abi. Tapi kali ini dia penyebabnya.
"Bukan seperti itu maksud gue, Bi.Lo sangat penting buat gue," Marcel mengusap wajahnya frustrasi.
"Nggak! Gue nggak penting buat lo! Persahabatan kita selama ini ternyata gak penting buat lo! Gue bukan apa-apa buat lo! Selama ini lo selalu menjadi orang pertama yang tau setiap masalah atau apapun tentang gue. Tapi gak dengan lo!" sembur Abi sambil mengusap air matanya kasar.
Perlahan Marcel mendekati Abi, merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukannya.
"Bi, lo penting banget buat gue. Lo sahabat terbaik gue. Maaf, gue gak bisa jadi sahabat lo lagi. Gue harus pergi. Selamat tinggal Abigail, " Marcel melepaskan pelukannya, mengusap air mata di pipi Abi dengan sayang, lalu mengecup pucuk kepala Abi dengan lembut sebelum ia melangkah meninggalkan Abi yang masih terpaku dengan debaran jantungnya yang semakin keras menerima pelukan dan kecupan Abi di puncak kepalanya.
=====£=====
University of Munster, Jerman.
Marcel memandang kampus tempatnya menimba pengetahuan selama dua tahun ini. Gedung yang berdiri kokoh, menjulang dengan arsitektur yang melambangkan kemegahan dan nama besar universitas itu.
Universitas yang terletak di kota Munster, Rhine-Westphalia Utara, Jerman. Universitas yang berbasis riset dan menjadi salah satu universitas terbesar di Jerman.
Sudah dua tahun Marcel menjadi salah satu mahasiswa di sini. Hari-harinya disibukkan dengan belajar, belajar dan belajar.
"Wie viele Kurse heute? (Berapa mata kuliah hari ini?) " Marcel menoleh saat merasa bahunya ditepuk seseorang.
Dilihatnya Audric, teman seangkatannya berdiri di sampingnya dengan cengiran khas nya.
"Drei (tiga) ," jawab Marcel tersenyum.
Audric mengangguk, menepuk ringan bahu Marcel dan berjalan mendahuluinya.
Marcel mengedarkan pandangannya menyapu halaman kampus.
Sesekali dibalasnya sapaan teman-teman nya dengan senyum lebar.
"Leider konnten administrative Raum zu zeigen? (Maaf, bisa tunjukkan ruang administrasi?) " Marcel menghentikan langkahnya. Di hadapannya berdiri seorang gadis sedang menunduk sambil membawa berkas-berkas administrasi.
"Natürlich. Sie neu hier? (Tentu saja. Kamu baru di sini?) " tanya Marcel agak membungkuk, mencoba melihat wajah gadis di hadapannya.
Gadis itu mendongak dan tersenyum padanya.
"ABI?" mata Marcel membeliak takjub antara percaya dan tidak.
Bagaimana tidak jika gadis yang berdiri di hadapannya sekarang adalah Abigail Claretta, sahabatnya yang sangat dicintainya?
"Hai," sapa Abi dengan senyum manisnya.
"Bagaimana lo bisa ada di sini?" tanya Marcel pelan. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Melanjutkan kuliah tentu saja," sahut Abi tanpa melepaskan senyumnya.
"Tapi bagaimana bisa? Ini beneran lo kan, Bi? Ini bukan halusinasi gue kan?" Marcel mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Memang siapa lagi? Gue kan gak punya sodara kembar," jawab Abigail meringis.
Marcel menelan ludah. Dicubitnya lengannya sendiri. Sakit! Ia tidak bermimpi. Ini nyata. Ada Abigail di hadapannya sekarang. Gadis yang tidak pernah bisa beranjak dari hati dan pikirannya barang sedetikpun.
=====£=====
Marcel menyandarkan sepedanya pada batang sebuah pohon yang cukup rindang di sebuah taman dekat apartemen tempat ia tinggal.
Penduduk di Munster memang lebih suka naik sepeda.
"Ceritakan sama gue, bagaimana lo bisa berada di sini dan tinggal di apartemen yang satu gedung sama gue!" tuntut Marcel setelah ia dan Abi duduk bersebelahan di bangku taman.
"Devian," ucap Abi. Satu nama yang mewakili ratusan kata atas jawaban dari pertanyaan yang akan dilontarkan Marcel.
"Huh! Dasar kaleng rombeng!" dengus Marcel kesal. Memang selama ini hanya Devian satu-satunya teman yang tau dengan pasti dimana dia berada.
"Kenapa lo gak mau bilang ke gue?" tanya Abi setelah sesaat mereka terdiam.
"Bilang apa? Oh... soal kepergian gue? Gue cuma gak mau liat lo sedih dan membuat gue membatalkan beasiswa yang sudah susah payah gue dapet," sahut Marcel membuang muka.
"Itu bukan alasan utama lo kan?" tanya Abi lagi menohok perasaan Marcel.
"Lo mau alasan yang mana? Itu memang alasan gue," jawab Marcel pelan.
"Kenapa lo gak mau jujur sama gue? Tentang isi hati lo, perasaan lo, alasan lo pergi, juga alasan kenapa lo gak bisa jadi sahabat gue lagi," kejar Abi menatap Marcel dalam-dalam.
Marcel memandang wajah cantik di depannya dengan pias. Apa yang sudah Devian ceritakan pada Abi? Apakah Abi marah? Apakah ia akan kehilangan Abi selamanya?
"Apa yang sudah Devian bilang ke lo?" Marcel menekan suaranya.
"Semuanya," sahut Abi masih tidak melepaskan tatapannya dari wajah pucat sahabatnya.
"Lalu? Apalagi yang mau lo dengar dari gue? Bukannya Devian sudah mengatakan semuanya?" Marcel menunduk, mengais rumput dengan ujung sepatunya.
"Kenapa gue selalu dengar dari orang lain? Gue mau memastikan kebenarannya dari mulut lo sendiri," ujar Abi mantap.
Marcel menelan ludahnya susah payah.
Baiklah kalau ini mau-mu, Bi, bisiknya dalam hati, menyerah dan pasrah apa yang akan terjadi.
"Gue gak bisa jadi sahabat lo lagi karena... karena gue...gue bukan sahabat yang baik buat lo. Seorang sahabat akan selalu mendukung dan men-support sahabatnya. Tapi itu tidak terjadi sama gue. Gue gak suka lo dekat dengan orang lain, pria lain. Gue bukan sahabat yang baik karena gue punya perasaan lain sama lo. Gue suka sama lo. Gue cinta sama lo. Dan gue gak mau perasaan gue menghalangi kebahagiaan lo. Itu sebabnya gue berusaha keras memperoleh beasiswa ini," Marcel melepaskan seluruh beban yang selama ini menghimpitnya. Ada perasaan lega dalam rongga dadanya, namun sebagian hatinya merasa takut dan was was dengan reaksi Abi.
Ragu-ragu ia melirik pada Abi. Dilihatnya gadis itu menunduk diam.
"Bi, maafin gue. Gue salah. Gak seharusnya gue punya perasaan seperti itu. Tapi Bi, gue gak bisa ngilangin perasaan itu. Maka dari itu gue pergi," Marcel menunduk.
" Ich liebe dich, Marcello Evarado," Marcel menoleh cepat menatap Abi yang juga tengah menatapnya dengan pipi merona merah.
"Können Sie das wiederholen? (Bisakah kamu ulangi?)" Marcel menggumam lirih.
"Marcello Evarado, Ich liebe dich, so wie du mich liebst," Marcel mengedip sekali, tatapannya lekat pada bibir gadis mungil yang baru saja mengatakan cinta padanya.
"Jangan mengejek, Abi! Gue tau lo cuma bercanda kan?"
"Gue gak pernah seserius ini,
Cel."
Marcel mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba mencari kesungguhan Abi. Dan ia menemukannya di mata bening Abigail.
"Katakan kalo gue gak sedang bermimpi, Bi," bisik Marcel masih dengan ketakjubannya.
"Lo gak mimpi, Marcel," Abi tertawa lirih.
Mendadak Marcel berdiri, lalu berteriak sambil melompat-lompat, lalu berlari mengitari bangku tempat Abi duduk.
"Akhirnya! Ini bukan mimpi! Ini bukan mimpi! Ini bukan mimpi!" Abi tertawa melihat kegilaan yang dilakukan Marcel.
Ia terus tertawa hingga Marcel kembali duduk di sisinya.
"Jadi kita gak sahabatan lagi dong," goda Abi melihat Marcel yang mengusap-usap tengkuknya salah tingkah.
"Iya, sekarang kita pacaran," jawab Marcel tertawa bahagia.
"Kita? Pacaran?" Abi masih menggoda Marcel.
"Iya! Gue sama lo pacaran," cengir Marcel.
"Kalo pacar masa panggilnya lo gue?"
Marcel tertegun menatap lekat wajah Abi. Sedetik kemudian ia tertawa. Di rengkuhnya tubuh mungil di hadapannya.
"Aku cinta mati sama kamu, Bi," ujarnya pelan di telinga Abi.
Abi tersenyum, memejamkan matanya sesaat menikmati dekapan hangat Marcel.
"Aku juga cinta mati sama kamu, Cel."
Marcel melepaskan pelukannya, menarik tangan Abi agar berdiri. Lalu di gendongnya gadis itu dan mereka berputar-putar sambil tertawa sarat dengan kebahagiaan.
SELESAI.