MISTERI KADO SEBUAH BONEKA
Horror
28 Nov 2025

MISTERI KADO SEBUAH BONEKA

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (62).jpeg

download (62).jpeg

28 Nov 2025, 13:34

Kado ulang tahun menumpuk rapi di atas meja. Di sampingnya sudah siap kue tart dilingkari dua puluh satu lilin. Hari ini ulang tahunku. Dari jumlah lilin yang disematkan pada kue tart, pasti sudah dapat mengira umurku kini dua puluh satu tahun. Bukan umur yang muda lagi, namun juga bukanlah umur yang sudah tua. Karena aku masih bisa berkarya dan melakukan sesuatu untuk keluarga, nusa, dan bangsa.

Pukul tujuh malam pesta ulang tahunku dimulai. Kawan-kawan dengan membawa kado masing-masing sudah datang sejak tadi. Di sinilah kami berada, di ruang tamu yang berukuran tujuh kali enam meter ini. Ruang yang cukup luas untuk menampung kurang lebih dua puluh orang yang meramaikan pesta ulang tahunku.

Suasananya cukup meriah, dentuman lagu pop membahana ke seluruh sudut ruangan. Ayah, ibu, dan kedua adik perempuanku ikut meramaikan pesta ini. Lampu-lampu hias berwarna-warni menambah gemerlapnya malam. Pesta ulang tahun yang meriah. Kami bersenda gurau. Dan… tibalah saat aku harus meniup lingkaran lilin di atas kue tart.

“Selamat ulang tahun kami ucapkan…” Iringan lagu membuat hasratku terus membuncah ingin segera meniup lingkaran lilin kecil itu.

“… Selamat panjang umur dan bahagia! Tiup lilinnya… tiup lilinnya, tiup lilinnya… sekarang juga…”

Aku berdo’a di dalam hati sebelum ku tiup lilin. Dan inilah saatnya!

“Sekarang juga… sekarang… juga… !”

Pet…

Seketika lampu mati serentak setelah lilin ku tiup. Sontak semua berteriak, tak terkecuali aku. Bagaimana tidak kaget, jika tiba-tiba saja ruangan sebelumnya begitu terang dengan gemerlapnya lampu pesta seketika padam, begitu pula dengan lilin yang ku tiup.

“Ayah cek sekring di luar dulu…” ujar ayahku sedikit cemas.

“Wah gelap banget nih…” ujar Ayana, salah satu temanku.

“Iya, nih… nakutin!”

Tak ingin kawan-kawanku kecewa, aku menyusul ayah yang sibuk mengecek sekring di depan. “Aku susul ayah dulu, ya! Siapa tahu butuh bantuanku.”

Adik perempuanku menarik tanganku. “Jangan, Mbak. Biar aku saja. Kan, mbak sedang ulang tahun. Jadi, mbak diam saja di sini.”

Aku menyetujuinya. Dan, aku kini menemani kawan-kawanku yang mulai ribut sendiri. Lima menit berlalu, ayah dan adikku belum juga kembali. Kami terpaksa menyalakan kembali lilin-lilin di kue tart ku, agar ada sedikit cahaya yang melegakan pupil mata kami.

Puk!

Ada yang menepuk pundak kiriku. Sontak aku menoleh. Heran, tidak ada siapa-siapa. Aku agak merinding karena suasana gelap gulita. Aku merapat pada Inna yang duduk di samping kananku. Tak lama kemudian, ayah dan ibuku datang membawa nyala api dari korek api.

“Sekringnya terbakar, enggak bisa dibetulkan. Biar ayah panggil tukang listrik saja.”

“Aduh, kalau panggil tukang listrik, masih lama dong?” Aku agak sedih. Mengapa ulang tahunku jadi begini?

Salah satu kawanku, Hendra, mengusulkan, “Bagaimana kalau kita rayakan ulang tahunmu dengan suasana lilin saja?”

“Benar kata Hendra, Mila!” Serentak lainnya menyetujui.

Aku mengangguk. “Ya sudah, kalau begitu, kita potong kuenya!”

Ibu berdiri. “Oke, ibu carikan lilin yang lebih banyak lagi di dapur.”

Pukul 00.30 WIB. Listrik sudah menyala dan kawan-kawan pulang semua. Saatnya aku membuka kado dari mereka. Dua puluh orang dengan lima belas kado. Ada yang berpatungan. Tak apa, penting sudah hadir.

Satu per satu aku membuka kado. Ada jam tangan, tas, bantal lucu, hingga boneka yang memiliki tatapan dingin dan menyeramkan!

Rambutnya pirang kusut dan kumal. Bajunya kumal. Warna kainnya memudar kekuningan. Kedua tangannya dari plastik dan rapuh. Tangan dan kakinya bisa ditekuk. Wajahnya… pucat kekuningan dengan bibir merah mencolok. Senyumnya tegas dan mengerikan. Matanya bulat biru, seperti menatapku… ingin mencengkeramku.

Aku bergidik. Tengah malam di kamar, aku membuka kado terakhir. Bungkusnya merah legam dengan pita hitam. Ada kartu ucapan:

“Selamat ulang tahun Mila. Hari ini adalah harimu! Kau akan mendapatkan keinginanmu.”

Tanpa nama.

Aku cocokkan semua kartu ucapan dari undangan yang hadir, tak ada yang terlewat. Semua yang hadir sudah tercatat.

Lalu, dari siapa kado tadi?

Lelah memikirkan, aku meletakkan boneka itu ke kotaknya, memasukkannya ke kolong tempat tidur. Lainnya ku letakkan di meja.

Aku mengantuk. Menutup mata.

Kakiku bergerak-gerak. “Nanti dululah… capek nih…”

Namun, guncangan semakin keras. Dingin. Seperti tangan seseorang menyentuh kakiku. Aku bangun—jempolku TIBA-TIBA DITARIK sangat kuat! Sampai persendiannya bunyi.

“Aduh! Siapa sih!”

Aku membuka mata.

Gelap.

Jam menunjukkan pukul satu kurang lima menit.

Tak ada siapa-siapa. Tapi jempol kakiku masih ngilu…

Aku mencoba tidur lagi. Tapi insomnia menyerang. Baru saja selimut ketarik!

Ya Tuhan!

Aku tak berani membuka selimut. Kupikir hanya mimpi… tapi ngilu jempolku nyata…

Pagi.

Aku bangun karena rasa perih di lenganku. Darah mengering. Ada goresan panjang membiru.

“Astagaaa, Mila!”

Ibuku menangis.

Adikku memberikan cermin.

Wajahku… BERUBAH.

Aku menjadi… seperti boneka yang ku dapat tadi malam! Lipstik merah menyala, kulit pucat kekuningan.

Aku mencari boneka itu. Kotaknya terbuka. Kosong.

Aku menangis. Aku tampak muda! Sangat muda! Bahkan nyaris seperti gadis kecil berwujud boneka.

Apa ini jawaban doaku semalam? Bahwa kuingin tetap muda seperti gadis kecil.

Dan kini…?

TAMAT

Kembali ke Beranda