AKU, KAU, DAN HUJAN
Romance
28 Nov 2025

AKU, KAU, DAN HUJAN

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (64).jpeg

download (64).jpeg

28 Nov 2025, 16:03

Orang bilang, hujan itu membawa lagu yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang sedang rindu. Ada juga yang beranggapan kalau hujan adalah waktu yang pas untuk mengenang masa lalu.

Hingga sekarang, aku tidak tahu siapa yang pertama kali menyimpulkan hal tersebut. Sebagian besar memang benar sih. Mungkin karena situasi mendukung—udara yang sedikit lembab, harum petrichor yang menyeruak, ditambah tetesan air hujan yang jatuh bagai keping kenangan yang berhamburan dan menghipnotis pikiran.

Apa pun alasannya, aku tetap suka hujan. Aku suka aromanya, mataku tak bisa lepas menatap butiran air yang menyentak dedaunan, menimbulkan suara gemericik yang indah saat beradu dengan tanah dan atap rumah.

Hujan mengajarkanku banyak hal—

Tentang kenangan.

Harapan.

Dan tentang? Seseorang.

Ketika itu, aku sedang duduk di dekat jendela kelas, memperhatikan teman-teman yang asik main hujan. Saat itulah kau datang menghampiri.

“Hei, Gunung Es.” Sapamu santai.

Aku yang tak ingin diganggu langsung menatapmu jengkel.

“Just leave me alone!” Usirku dalam hati.

Tapi kau malah terkikik geli. Tanganmu sigap menarik kursi lalu duduk di hadapanku.

“Enggak terasa masa SMA kita akan berakhir.” Raut wajahmu mendadak berubah sendu, manik cokelat muda yang biasa bersinar itu meredup seakan kehilangan energi.

“Ya,” jawabku singkat, melempar pandangan ke arahmu.

Nih orang kenapa sih?

Kau membalas lewat senyum yang dipaksakan,

“itu artinya kamu akan bebas karena aku nggak akan mengusik lagi.”

Kedua sudut bibirku tertarik ke samping,

“baguslah kalau gitu.”

Hari-hari akan kulalui dengan nyaman.

Tidak ada panggilan “Gunung Es” lagi,

Tidak ada ocehan menyebalkan,

Tidak ada yang akan menggeser posisiku di peringkat kelas.

Tidak ada lagi? Dirimu.

Harusnya aku lega, tapi entah mengapa justru setitik kesedihan merambat di hati. Semakin banyak seiring lebatnya hujan di luar sana.

Kau tertawa hambar lalu diam beberapa detik untuk mempertemukan pandangan dengananku.

Mulutmu mulai berceloteh lagi,

“tau nggak kenapa aku selalu gangguin kamu?”

Aneh, nada bicaramu terdengar sangat serius dan tatapanmu seperti tak sabar menunggu jawaban.

“Karena aku aneh.” Jawabku asal.

Kepalamu menggeleng mantap, jari telunjuk dan tengah menaikkan frame kacamata yang menghiasi wajah tampanmu.

“Karena aku ingin melihat ekspresimu. Tiap hari, kamu selalu memasang wajah datar. Jujur saja, aku lebih suka kamu marah atau tersenyum dan tertawa lepas karena ulahku. Itu membuatmu terlihat jauh lebih ‘hidup’... Asik bukan menjalani hidup tanpa topeng? Jadilah diri sendiri, karena ada seseorang yang selalu menganggapmu berharga,” ucapmu panjang lebar dengan gaya khasmu.

Aku tak tahu harus senang atau marah. Tapi ada sesuatu di dadaku yang hangat, mengalir perlahan ke pipi yang mendadak memanas.

“Mungkin ini terdengar konyol, tapi… boleh aku minta satu hal?” tanyamu kikuk.

“Apa itu?”

Tanyaku sambil menahan perasaan yang tak bisa dijelaskan.

“Jangan lupakan aku. Dan… bisakah kamu menunggu sampai waktunya tiba?”

Katamu tanpa ragu.

Aku tersedak napas sendiri.

Oke, ini membingungkan. Sangat.

Tapi… kenapa aku mengangguk?

Shit. Apa yang kulakukan?!

Aku menunduk dalam, berusaha menenangkan jantungku yang memburu cepat.

Aira, sadar! Dia itu musuhmu!

Ya, musuh yang tak pernah bisa kubenci.

Kau tersenyum samar lalu manikmu melirik keluar,

“udah reda. Ayo pulang!” Katamu sambil mengambil tas dan berjalan pergi.

“Bagas! T-terima kasih banyak,” akhirnya aku bersuara setelah mengumpulkan keberanian—mengabaikan debar luar biasa di dadaku.

Langkahmu terhenti tepat di pintu. Bayang tubuh jangkung itu begitu kontras saat diterpa cahaya senja.

Kau tak berbalik, tapi aku tahu kau sedang tersenyum lebar sekarang.

Tangan kananmu terangkat, membentuk isyarat “OK”.

Kemudian langkahmu menjauh perlahan.

Aku hanya terkekeh sambil meraba pipi yang panas.

(Berakhir dengan ilustrasi gadis menatap hujan)

Kembali ke Beranda