Apa memimpikan lelaki lain ketika sudah menikah itu termasuk selingkuh?
Sejak terbangun Subuh tadi aku terus merutuki kekonyolanku. Ya, dengan sekonyong-konyong bunga tidurku dimasuki oleh sosok pria yang jelas bukan suamiku. Tidak tanggung-tanggung, seseorang yang wajahnya begitu familier itu terus menghantui sejak tiga malam terakhir.
Jangan dipikir aku menyukai lelaki jangkung berkulit sawo matang itu. Tidak. Aku tipikal istri setia. Pun dengan hatiku. Aku justru heran mengapa lelaki itu selalu hadir dalam mimpiku. Aku akui, parasnya memang lumayan dengan hidung sedang--tidak mancung juga tidak pesek--alis yang tebal, rahang yang tegas dan badan proporsional. Tapi, sekali lagi kutegaskan, aku benar-benar tidak memiliki perasaan apa pun dengannya.
Sebelum dipersunting suamiku dua bulan lalu, aku bahkan belum sekali pun menyukai seseorang hingga mengakar ke dalam relung hati. Saat kuliah dulu, aku adalah aktivis dakwah kampus. Soal menjaga hati, sudah pasti tidak perlu diragukan lagi. Aku memang keukeuh hanya akan mencintai satu lelaki dalam hidupku. Dialah suamiku. Maman Surahman.
Bunyi alarm mobil membuyarkan lamunanku. Sedari tadi aku hanya mematung di ambang pintu gerbang yang terbuka sebagian. Tubuh mungilku mendadak membeku saat menyadari aku hendak ke rumah lelaki itu.
"Mau ke kantor ya, Den?" Itu suara Mas Maman. Manik mataku justru terkunci ke arah lelaki yang kini sudah membuka pintu mobil SUV berwarna putih. Aku seolah hilang ingatan jika pandangan kedua itu akan dihitung dosa. Seharusnya aku segera menundukkan pandangan. Bukan malah terus menerus terpaku kepadanya.
Lelaki itu menoleh. "Iya, Mas. Nanti keburu ada meeting , jadi berangkat agak pagi," jawabnya dengan senyum yang lebar. Lelaki itu memang selalu memanggil Mas Maman dengan sapaan "Mas" karena usianya hanya terpaut 3 tahun.
Sudah dua tahun ini Mas Maman bekerja sebagai tukang kebun paruh waktu di tempat lelaki itu. Sebetulnya, suamiku di sini merangkap kerja apa saja. Saat sang majikan pergi ke kantor, Mas Maman yang akan menjaga rumah besar berlantai dua itu. Aku sendiri sebagai istri ikut membantu pekerjaan suamiku. Mbok Tiyem, asisten rumah tangga yang sudah bekerja lama terpaksa harus pulang kampung karena anaknya meminta untuk beristirahat di rumah lantaran usia yang sudah memasuki senja. Jadi, akulah yang sekarang menggantikan segala macam tugas domestik.
"Saya pergi dulu, Mas. Assalamu'alaikum," pamit lelaki itu tanpa sedikit pun menggubris keberadaanku.
Setelah menjawab salam, Mas Maman segera berlari kecil menuju pintu gerbang, membukanya lebar-lebar agar mobil bisa lewat dengan sempurna. Aku menghela napas panjang begitu lelaki itu sudah menghilang saat mobilnya berbelok ke arah kanan. Kutatap punggung sedikit terkulai dari pria yang tengah menutup kembali pintu gerbang itu sayu. Ada segepok perasaan bersalah yang menimpuk hati saat memandang tubuh tinggi kurus itu.
"Apa aku kurang bersyukur sama keadaan Mas Maman sampai-sampai aku malah memimpikan majikan suamiku sendiri?" batinku gusar. Ya, mungkin saja aku terganggu dengan omongan para tetangga atas lelaki pilihanku. Bagaimana tidak? Aku adalah seorang sarjana lulusan Ilmu Komunikasi di Universitas Padjadjaran. Memilih menikah dengan lelaki yang hanya lulusan SMA dan bekerja sebagai tukang kebun, tentu akan dianggap aneh oleh sebagian besar orang.
Aku tidak malu dengan kondisi suamiku. Aku memilihnya karena Allah. Dia lelaki sholeh yang rajin ke masjid. Aku terkesima dengannya ketika dia dengan telaten merawat ibunya yang hanya terbaring tak berdaya di atas kasur bertahun-tahun lamanya-sebelum akhirnya dipanggil Allah setahun yang lalu. Ah, apa mungkin hatiku belum sepenuhnya ikhlas memilih Mas Maman?
***
Aku memimpikan lelaki itu lagi. Erfan Syahreza, majikan suamiku. Ini benar-benar konyol. Padahal aku berusaha keras selalu membayangkan suamiku seharian kemarin. Nyatanya itu tak cukup mampu melenyapkan Erfan dari mimpiku. Mungkin ada yang salah dengan alam bawah sadarku. Aku sampai merasa malu bila harus berhadapan dengan lelaki itu.
Tanganku sontak gemetar saat hendak meraih kemeja berwarna biru navy yang teronggok di dalam keranjang bagian atas. Ini baju yang dikenakan Erfan hari kemarin. Baju yang sama yang dipakainya ketika kumimpikan tadi malam. Aku menelan ludah begitu mengingat mimpi konyol itu.
"Mbak Sofi, baju kotornya belum dimasukin ke mesin cuci, kan?"
Aku berjengit saat suara bariton milik lelaki itu muncul tergesa dari balik pintu.
"Alhamdulillah ... ternyata belum dimasukin ke mesin cuci."
Lututku mendadak lemas ketika Erfan berjalan mendekat. Aku hanya berdiri menegang. Mataku mengerling penasaran saat lelaki itu merogoh saku celana bahan yang juga ikut tertumpuk di keranjang baju. Aku tak mengacuhkan apa isi lipatan kertas yang baru saja diambilnya. Pupilku justru tertumbuk pada punggung tangan kukuh yang kemarin malam terus menggenggam jemariku erat.
Aku cepat-cepat membuang pandangan ketika pikiranku mulai berkelebat mengingat bayangan romantis yang ada dalam mimpi tadi malam. Bibir tipisku kontan komat-kamit menggumamkan kalimat istighfar berkali-kali.
Hatiku sontak mencelus saat aku menangkap bayangan lelaki tinggi kurus dengan punggung sedikit terkulai tengah membersihkan kolam ikan di belakang rumah. Mataku memanas. Seharusnya aku tidak membandingkan keadaan suamiku dengan lelaki lain yang kondisinya jauh lebih mapan. Suamiku adalah suamiku. Betapa pun saat ini dia hanya mampu mencukupi kebutuhan pokok keluarga, tapi dia lelaki terhebat yang dipilihkan Allah untukku. Aku harus mensyukurinya bagaimana pun keadaannya.
"Maafkan aku, suamiku....," gumamku seraya mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi putihku.
***
" Honey , bangun. Kita udah sampai di rumah nih." Tepukan pelan di pipiku membuat mataku mengerjap-ngerjap.
Kudengar seseorang yang membangunkanku itu berdecak. "Kamu tidurnya nyenyak banget, sih? Apa mau aku gendong? Tapi, jangan nuntut aku kalau besok pipimu kayak kepiting rebus," katanya disusul dengan kekehan lirih.
Aku mulai memicingkan mata. Seraut wajah yang begitu familier tertangkap oleh mataku. Aku spontan menegakkan punggung. Manik coklatku menatap tajam ke arah lelaki yang merunduk menyejajariku-yang masih duduk di jok mobil. Meski wajahnya tersapu sinar temaram lampu taman, aku bisa yakin jika sosok di depanku ini adalah majikan suamiku. Erfan Syahreza.
"Aku memimpikan dia lagi?" gumamku pelan.
Alis tebal lelaki itu terangkat sebelah. "Memimpikan dia? Memangnya kamu lagi mimpiin siapa, sih? Jangan bilang lelaki lain selain aku."
"Kenapa Den Erfan selalu ada dalam mimpiku?"
Kening lelaki itu semakin berkerut heran. "Den ...?"
Tangan lelaki itu malah mengacak kepalaku yang terbungkus khimar, gemas. "Sepertinya kesadaranmu belum pulih. Aku yakin kamu tadi lagi mimpiin sinetron hidayah yang jadi favorit Mama."
Lelaki itu mendengus sedikit kesal. Tubuhnya mendekat. Aku sontak menahan napas karena jarak kami begitu dekat. Parfum beraroma lavender menguar memasuki indera penciuman. Bau parfum yang begitu kukenal sejak dua bulan yang lalu.
"Udah aku bilang jangan ikut perhatiin waktu Mama ngajakin nonton Tivi. Kalau nggak enak nolak, kan, kamu bisa baca e-book di HP," ujarnya sembari membuka seat belt.
Aku tersentak saat lelaki itu tiba-tiba menggendongku ala bridal style . Tanganku spontan memegang punggung kukuhnya. Entahlah, pikiranku masih belum meyakini jika ini bukan mimpi.
"Apa kamu mimpiin aku jadi majikanmu? Judulnya Suamiku adalah Majikanku. Atau ... Aku Jadi Pembantu di Rumah Suamiku." Tawa lelaki itu bertambah lebar. Mendengar tawanya yang khas, kesadaranku perlahan mulai pulih.
Jadi, semua hanyalah mimpi? Aku sontak merutuki kekonyolanku begitu menyadari sesuatu. Kenapa aku malah memimpikan Kang Maman, tukang kebun di rumah Mama-ibu mertuaku-yang jadi suamiku? Ah, mungkin karena aku terlalu terbawa emosi saat Mama menceritakan kisah hidup Kang Maman yang rela merawat istrinya yang lumpuh selama 5 tahun ini.
Dua hari di rumah Mama, aku memang dicekoki dengan tontonan FTV hidayah yang biasa menjamur di jam siang. Betapa konyolnya jika alur cerita semacam itu justru menular hingga memasuki alam mimpiku. Aku seperti tengah bermain menjadi tokoh utama dalam sinetelevisi berjudul "Suami yang Tertukar". Sudut bibirku berkedut begitu mengingat suamiku, Erfan Syahreza, tertukar dengan Kang Maman Surahman. Oh my ... . Entah mukaku harus ditaruh di mana jika suamiku sampai tahu mimpi aneh itu.
---selesai---