Tak Sempat Ku Ungkapkan
Romance
30 Nov 2025 30 Nov 2025

Tak Sempat Ku Ungkapkan

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (22).jpeg

download (22).jpeg

30 Nov 2025, 16:48

Aku selalu merasa kesal setiap kali melihat senyum itu. Senyum yang selalu diarahkan padaku, padahal aku bahkan tidak mengenalnya. Anehnya, ia terus saja tersenyum setiap kali bertemu, memandangku tanpa lelah, dan tingkahnya selalu membuatku kebingungan.

Dia adalah Beny, anak kelas IPA 3, sedangkan aku dari IPA 1. Pertama kali aku mengenalnya ketika kami terkunci di luar gerbang sekolah. Aku nekat memanjat gerbang itu, dan ia sempat menertawaiku saat rokku tersangkut. Sejak saat itu, entah mengapa, senyumnya tidak pernah berhenti muncul setiap kali kami berpapasan.

Empat bulan berlalu sejak pertemuan pertama kami. Aku tidak pernah memperkenalkan diri, tetapi entah bagaimana Beny selalu tahu namaku. Suatu ketika seseorang memanggilku dari jendela kelas—dan kebetulan kelas kami memang bersebelahan. Sejak itu aku sadar dari mana ia mengetahui namaku.

Waktu berlalu begitu cepat. Kini kami sudah duduk di kelas 2 SMA, dan perasaanku mulai berubah. Aku mulai salah tingkah setiap kali Beny memperhatikanku. Sepertinya, aku mulai menyukainya. Tapi aku tidak pernah berani menceritakan perasaan ini kepada siapa pun. Aku berharap ia tidak menyadarinya, jadi aku bersikap seperti biasanya, seolah aku tidak pernah menaruh hati padanya.

Tujuh bulan berlalu. Aku mulai terbiasa memperhatikannya secara diam-diam—hingga suatu hari, bangkunya tampak kosong. Aku bertanya pada Oyem, sahabatnya, dan ia mengatakan bahwa Beny sedang berada di UKS. Aku pun pergi ke sana dengan alasan pura-pura sakit kepala. Saat aku hampir terlelap, aku mendengar seseorang menyingkap tirai pembatas. Ternyata itu Beny. Ia berkata agar aku minum obat di loker nomor empat. Aku langsung terkejut dan jantungku berdebar, namun aku mencoba bersikap biasa.

Tanpa kusadari, kini kami sudah kelas 3 SMA. Beny tetap menjadi sosok yang kukagumi, meski aku tak pernah mengungkapkan apa pun. Perasaanku hanya kutuliskan di selembar kertas dan kusimpan dalam sebuah kotak kecil.

Menjelang kelulusan, suatu hari aku berjalan ke kelas Beny. Aku duduk di bangkunya dan tak sengaja menyentuh tumpukan kertas di sana. Salah satu kertas itu terlipat rapi dan terselip di lacinya. Saat kubuka perlahan, hatiku langsung tersentuh. Di sana tertulis curhat Beny—kata-kata yang selama ini diam-diam ia simpan.

Salah satu kalimat yang paling kuingat adalah,

“Pasir merindukan ombak, tanah merindukan air, angin merindukan hujan, dan aku merindukanmu.”

Hari kelulusan tiba. Ini hari terakhir aku melihat Beny sebagai siswa SMA. Aku melihat wajahnya yang penuh kebahagiaan saat acara pelepasan, dan tanpa sadar aku ikut tersenyum. Aku merasa itu adalah senyum perpisahan kami.

Setelah semua siswa pulang, aku berjalan seorang diri menyusuri sekolah. Aku kembali ke kelas Beny dan duduk di bangkunya untuk terakhir kali. Di sana kutemukan selembar surat lain yang tertinggal di laci bangkunya. Aku membukanya dengan tangan bergetar.

Dalam surat itu, Beny menulis bahwa ia mengagumiku tanpa kata. Ia selalu membisu setiap kali ingin mengungkapkan perasaannya. Ia menuliskan bagaimana napasnya berhenti, jantungnya berdebar, dan pikirannya membeku setiap kali aku berada di dekatnya. Ia berterima kasih karena aku pernah memberinya perhatian kecil, dan ia tahu bahwa aku sering memandanginya diam-diam dari jendela.

Di akhir surat, ia menuliskan,

“Aku menunggumu, bidadari IPA 1 — Tias A.”

Setelah membaca itu, air mataku menetes. Aku berbisik pelan pada diri sendiri bahwa aku mencintainya juga, meskipun aku tidak sempat mengatakannya padanya.

Aku berlari menuju gerbang sekolah. Rasanya sangat sepi. Aku berharap suatu saat kami dipertemukan kembali. Meski aku tak sempat mengungkapkan rasa ini, aku tetap bahagia karena pernah mengenalnya.

Kembali ke Beranda