Negeri Cinta
Teen
30 Nov 2025

Negeri Cinta

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (25).jpeg

download (25).jpeg

30 Nov 2025, 17:01

Pernahkah kau merasakan hasrat yang begitu besar untuk memiliki suatu hal yang sangat kau inginkan?

Menginginkan sesuatu yang begitu sulit diraih padahal terletak tepat di depan mata?

Seperti ingin meraih matahari dan bulan lalu membawanya ke dalam genggaman?

Aku pun merasakan hal itu.

Hasrat ini terlalu kuat sampai-sampai terkadang aku tak bisa menahan diri untuk memilikinya.

Bahkan dia sangat lancang karena dengan beraninya dia selalu datang dan mendiamiku di dalam pikiranku tanpa permisi.

Berulang kali aku mencoba mengusirnya dari pikiranku yang telah terkontaminasi oleh virus cintanya.

Namun mengapa tatapan matanya—yang bak hamparan samudra itu—selalu berhasil membiusku?

Begitu dalam dan begitu luas.

Bahkan ikan-ikan pun akan sangat nyaman bermuara di sana.

Hidungnya yang tajam bahkan menyaingi runcingnya bambu yang digunakan untuk melawan penjajah.

Semua itu sangat memikatku.

Dan bibirnya… Ya Tuhan.

Lekukan indah itu tergambar begitu jelas di bibir menawannya.

Bibir merahnya seperti strawberry matang yang siap dilahap.

Terkadang aku curiga.

Apakah ini yang disebut malaikat?

Jika benar, bawalah aku terbang menuju tempat bernama Negeri Cinta.

Negeri yang hanya ada kita berdua di dalamnya.

Langit yang menampakkan senja merah, hamparan laut luas, gunung-gunung menjulang tinggi, bulan dan matahari yang berganti tanpa jeda.

Biarkan semuanya menjadi saksi bisu cinta kita berdua.

Namun semua itu hanya khayalan.

Seperti layang-layang putus yang terbang begitu jauh hingga tak mungkin kembali.

Aku harus belajar untuk tidak memaksakan kehendak.

Aku berusaha melawan semua amukan iblis di dalam diriku yang terus mempengaruhiku untuk memilikinya secara paksa.

Tapi cinta bukan soal memaksa.

Cinta adalah perasaan yang tumbuh tanpa paksaan.

Namun sampai kapan aku harus menahan semua ini?

Aku lelah.

Aku bukan air yang selalu mengalir tenang.

Aku bukan api yang selalu membara.

Aku hanyalah manusia biasa.

Namun bahkan aku yang biasa ini tetap ingin melantunkan isi hatiku…

Kau begitu sempurna.

Di mataku, kau begitu indah.

Kau membuatku selalu ingin memujamu.

Dalam setiap langkahku,

ku selalu memikirkan dirimu.

Tak bisa kubayangkan hidupku tanpamu.

Jangan tinggalkan aku.

Aku takkan mampu menghadapi dunia ini tanpa dirimu.

Hanya bersamamu aku bisa.

Kau adalah darahku,

kau adalah jantungku,

kau adalah hidupku…

melengkapi diriku.

Sayangku, kau begitu sempurna.

Ya, dia memang sempurna—untuk ukuran manusia.

Karena kesempurnaan yang sesungguhnya hanya milik Tuhan.

Oh Tuhan…

apakah ini ciptaan-Mu yang paling menakjubkan?

Suara, tawanya, kedipan mata indahnya—semua itu terlalu memanjakan mata dan telingaku.

Dan kau tahu apa yang paling kusukai darinya?

Cara dia minum.

Gerakan jakunnya, tetes peluh yang mengalir di pelipisnya…

semuanya membuatku tak mampu berkedip.

Meski hanya bisa melihat dari kejauhan, itu sudah cukup bagiku.

Lalu suatu malam, ia datang menghampiriku dengan setangkai mawar merah.

Aroma bunga itu sangat memabukkan.

Oh Tuhan…

beginikah rasa cinta yang terbalas?

Ini jauh lebih indah daripada memenangkan sebuah lotre rumah mewah.

Dan yang lebih mengejutkan…

dia berlutut di hadapanku.

Di tangannya, sebuah cincin putih berpermata yang memantulkan cahaya bulan.

Aku tak mampu berkata apa-apa.

Airmata mengalir begitu deras.

Lalu ia berkata:

Aku bukanlah sosok yang sempurna.

Tapi izinkan aku mengisi dan memiliki hatimu sepenuhnya.

Aku ingin menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini bersamamu.

Maukah kau menjadi pendampingku, ibu dari anak-anakku, dan masa depanku?

Sudikah kau menerima aku sebagai imam dan pemimpin keluargamu kelak?

Ya Tuhan…

suara itu.

Aku tak sanggup lagi.

Aku hanya mengangguk sambil menangis bahagia.

Dia menarikku ke dalam pelukannya.

Hangat.

Aroma tubuhnya memabukkan dan menenangkan seluruh indraku.

Tidak akan pergi, meski kau meminta,” katanya sambil memelukku lebih erat.

Kebahagiaan ini terlalu sempurna.

Teramat sempurna.

Tuhan… terima kasih.

Aku merasa seperti terbang menembus langit menuju Negeri Cinta.

Negeri di mana hanya ada kita berdua.

Negeri yang kutahu tidak akan pernah abadi—karena keabadian hanya milik Tuhan—tetapi aku berjanji menjaga semua pemberian-Nya ini.

Aku ingin hati itu, senyuman itu, tatapan penuh cinta itu…

menjadi milikku selamanya.

Ya, selamanya.

Kembali ke Beranda