Senja: Indah atau Luka?
Teen
30 Nov 2025

Senja: Indah atau Luka?

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (28).jpeg

download (28).jpeg

30 Nov 2025, 17:06

Waktu sudah menunjukkan pukul 16:42 WIB. Namun, aku juga belum beranjak dari tempat ini. Tempat di mana terakhir kali aku melihatmu. Tempat di mana kamu memintaku untuk terus menunggumu di sini. Aku selalu berharap Tuhan mempertemukan kita bukan hanya untuk sekedar bertemu, tetapi saling melengkapi dan bersama di dalam hubungan ikatan suci pernikahan.

Beberapa orang mulai meninggalkan tempat ini, hari semakin sore dan cuaca hari ini juga sedang tidak bagus. Langit semakin gelap, dan aku masih enggan untuk beranjak dari tempat ini. Setiap aku kembali ke tempat ini, aku selalu berharap aku akan bertemu denganmu lagi. Perlahan, aku kembali mengingat hari-hari di mana kita sebelum berpisah.

FLASHBACK, Juni 2010

“Reinaaa! Reii!” suara itu sampai terdengar ke kamarku.

“Reii, itu ada tamu. Buka pintunya gih nak, masakan mama gak bisa ditinggal nih.” seru mama dari dapur.

“Iya mah,” jawabku malas.

“Siapa sih yang datang siang-siang begini?” gerutuku pelan sambil berjalan ke arah pintu. Sebelum aku membuka pintu, aku melihat dari jendela siapa yang datang. Dan ternyata…

“APAH? AZIZ?” aku terkejut mendapati fakta bahwa orang yang bertamu adalah Aziz. Aku pusing tujuh keliling.

Aku tidak tahu harus apa, “Kenapa dia gak SMS atau nelepon dulu kalau mau ke sini, biar aku bisa siap-siap,” gerutuku pelan.

Setelah beberapa lama kemudian, dengan hati yang harus siap aku membuka pintunya. Perlahan terlihat wajah tampan dan senyum manis yang dibalik pintu itu.

“Hai Rei,” sapanya.

“A.. aa..hh, hai. Ada a..apa ziz?” tanyaku terbata-bata.

“Kamu sibuk? Mama kamu di rumah Rei?” tanyanya.

“Eeeh? Mama?” aku tidak percaya apa yang ia katakan. Sejenak aku terdiam.

Dia tertawa kecil melihat ekspresi kaget dariku. “Cute,” ucapnya pelan.

“Siapa yang datang, Rei? Kok gak disuruh masuk tamunya?” tanya mama sambil berjalan ke arah pintu.

“Aaahh ini mah teman Rei datang,” jawabku.

“Assalamualaikum bu, saya Aziz teman sekelas Reina, saya mau ngajak Reina ke pesta ulang tahun teman kita Yola bu. Boleh?” tanpa basa-basi Aziz langsung mengatakan tujuannya pada mama.

Aku tertegun mendengar ia bicara dengan mama, padahal yang aku tahu selama ini, ia jarang sekali bicara dan datang ke rumah wanita. Bahkan menurut penuturan temannya sejak kecil, ia bahkan tidak pernah naik motor berdua dengan wanita selain ibunya. Ia juga bertanya pada mama apakah aku boleh ikut atau tidak.

Mama awalnya ragu memberi izin, namun mama ingat ia adalah salah satu siswa populer dan berprestasi di sekolah. Jadi mama mempercayakan aku padanya. Lalu, mama menyuruhku untuk siap-siap sedangkan Aziz dan mama bicara berdua di ruang tamu.

15 menit kemudian…

“Reii, kenapa belum siap juga? Nanti kalian telat ke acaranya. Kasihan tuh Aziz nunggu lama,” tanya mama.

“Iya mah, ini udah selesai,” jawabku.

Aku melihat Aziz yang menatap ke arahku, dia seolah terheran melihatku. Dan aku pun mulai merasa salah kostum. Sebelum pergi, aku sempat bertanya pada mama bagaimana penampilanku. Mama bilang bagus dan cantik. Setelah berpamitan dengan mama, kami langsung pergi ke tempat tujuan kami.

Sepanjang jalan, tidak satu pun dari kami yang membuka pembicaraan, sampai pada akhirnya aku merasa ada sesuatu yang aneh…

“Ziz, ini kan bukan jalan ke rumah Yola?” tanyaku.

“Memang bukan,” jawabnya santai.

“Lalu ini mau ke mana? Apa rumah Yola sudah pindah?” tanyaku lagi.

“Enggak juga,” jawabnya tetap santai.

Aku memilih berhenti bertanya, meskipun hatiku terus bertanya—akan ke mana Aziz membawaku.

Tak lama kemudian, aku melihat papan bertuliskan SELAMAT DATANG DI PANTAI BUNGA, BATU BARA.

“Acara Yola di pantai ya, Ziz?” tanyaku penasaran.

“Eengh? Enggak,” jawabnya.

“Lalu kita ke sini ngapain?” tanyaku lagi.

“………….”

Ia tidak menjawab pertanyaanku. Kami masuk ke area pantai. Setelah memarkirkan motornya, kami menuju tempat berteduh dekat pantai, di mana dari tempat itu kami bisa menikmati angin sepoi-sepoi dan melihat laut terbentang luas tanpa penghalang.

Ketika aku menikmati pemandangan pantai, dia mengambil fotoku tanpa izin. Terdengar suara klik, aku langsung menoleh.

“Ya! Apa yang kamu lakukan?” kataku sambil merebut smartphonenya.

“Kamu cantik hari ini. Aku suka,” jawabnya sambil tersenyum dan menatap mataku.

“Aku rasa semua wanita cantik. Kamu juga menyukai mereka?” tanyaku lagi.

“Aku gak bilang mereka. Aku bilang kamu. R E I N A,” jawabnya sambil mengeja namaku.

“Udah ah.” Jawabku sambil tersenyum kecil.

Lalu ia mengajakku berjalan ke arah barat, untuk melihat senja. Ya, dia penyuka senja.

“Setidaknya sebelum hari itu tiba, aku sudah melihat senja bersamamu,” ucapnya pelan sekali, sambil melihat ke arahku.

“Haa? Kamu bilang apa?” tanyaku.

“Aku bilang, selain indah, senja itu juga baik. Kenapa? Karena senja tahu cara berpamitan ketika ia akan pergi. Ia seakan-akan tersenyum ke arah kita dan mengucapkan selamat tinggal.”

“Meskipun indah, ia tetap tenggelam dan hilang,” jawabku.

“Kamu benar!” katanya.

Ia terus menatap senja dengan penuh perasaan. Saat itu aku menyadari, ada sebagian dari dirinya yang ikut tenggelam bersama senja. Ia seperti memikirkan sesuatu.

Kemudian…

“Kamu akan menungguku, kan?” tanyanya tiba-tiba sambil menatapku dalam-dalam.

“Haaa?” aku terpaku.

“Jika kamu mau menungguku, kembalilah ke tempat ini 7 tahun lagi. Pergilah ke tempat di mana kita berteduh,” jawabnya sambil menunjuk tempat teduh tadi.

“Tetapi jika tidak, tetaplah datang ke tempat ini dan perkenalkan aku dengan lelaki yang membuat luluh hatimu. Aku ingin mengenalnya,” lanjutnya sambil tersenyum.

Aku terdiam. Hatinya seperti akan pergi jauh. Aku melihat matanya berkaca-kaca.

FLASHBACK END

Sejak hari itu, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Kami tidak pernah berkomunikasi, bukan karena aku tidak memulainya, tetapi karena aku sudah kehilangan kontak dengannya. Saat itu ia mengganti nomor ponsel dan segala kontak yang sebelumnya kami miliki.

Aku tidak tahu apa itu disengaja atau tidak. Aku tidak tahu bahwa hari itu adalah hari terakhir aku bertemu dengannya. Jika aku tahu lebih awal, aku tidak akan membiarkan banyak waktu terbuang sia-sia.

Kini sudah 7 tahun sejak hari itu.

Aku menyesal tidak menjawab bahwa aku akan menunggunya.

Sejak ia pergi, aku masih ke tempat ini. Menunggu. Melihat senja. Merasakan hadirmu, dan terus berharap.

Kini pukul 18:12. Hari semakin gelap, orang-orang mulai pulang. Aku bangkit dengan putus asa. Mataku mulai berkaca-kaca. Aku mengambil foto senja untuk terakhir kalinya hari ini.

Aku berjalan dengan penuh rasa putus asa. Aku masih berharap dia akan datang. Aku masih menunggunya. Aku masih ingin menemui senjaku yang hilang.

Namun kenyataannya:

SENJAKU TIDAK KEMBALI.

Selesai.

Kembali ke Beranda