Untuk pertama kali dalam hidupnya, Galang sampai tidak bisa tidur semalaman hanya karena suatu buku cerita. Yah, cerita dalam buku itu memang menarik, jadi bukankah itu wajar? Ditambah lagi, bukunya juga lumayan tipis.
Buku itu menceritakan kisah tentang dua orang yang disebut sebagai Yang Terpilih dan Yang Tak Terlihat, yang berkelana menyusuri suatu dunia yang penuh sihir dan keajaiban, demi menemukan jalan menuju ke dunia manusia.
Di buku itu diceritakan kalau kedua orang itu sebenarnya sangat mendambakan kehidupan yang normal dan biasa-biasa saja, tapi karena kenyataan dunia mereka sangatlah berbeda, akhirnya mereka berdua pun memulai perjalanan yang mengharuskan mereka untuk melawan takdir demi menggapai mimpi itu.
Benar-benar kisah yang sangat menarik, dan Galang juga sudah hampir sampai di bagian akhir dari cerita itu. Hatinya berdebar-debar karena membayangkan akhir dari cerita itu.
"Hah... " Anak bertubuh agak gemuk, berkulit putih cerah dan berambut gondrong rapi itu mengalihkan pandangannya dari lembaran kertas, ke arah jam dinding yang tergantung di atas pintu kamar. Meski waktu sudah menunjukkan pukul lima dini hari, anehnya Galang sama sekali tidak merasa lelah, padahal dia belum beristirahat sejak tiba di sini.
Galang mengucek-ucek matanya sambil mengedarkan pandangannya menyusuri kamarnya yang masih lumayan gelap.
Kamar yang sangat luas itu dilengkapi dengan berbagai perabotan lengkap dan tampak masih baru. Bahkan ranjang tempat tidurnya pun seharusnya muat untuk empat orang atau lebih. Yah, gampangnya, bisa dikatakan kalau kamar ini sangatlah mewah, atau tepatnya rumah ini.
"Eh... Liel?"
Galang memanggil nama itu dan berharap ada yang menanggapinya, tapi dia sadar kalau pemilik nama itu jelas masih belum bangun saat ini.
Galang turun dari ranjang, dan dengan langkah yang ringan dan senyap, dia berjalan menghampiri sofa panjang yang terletak di samping pintu. Di sofa itu terbaring seorang remaja bertubuh lumayan gemuk yang berbalut jaket berwarna abu-abu gelap.
Entah kenapa Galang merasa sangat aneh waktu memandang wajah orang itu.
Faktanya, Galang sebenarnya tidak mengenal remaja ini sama sekali. Bahkan Galang memang hampir tidak mengingat apa-apa. Ingatannya menjadi kacau, dan tiap kali dia berusaha untuk menelusuri memorinya, kepalanya malah langsung terasa sangat sakit dan serasa akan meledak kapan saja.
Kemarin, tepat pukul enam sore, Galang terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya sudah berada di suatu tempat yang asing dengan kepala yang terasa berdenyut-denyut. Tapi. satu-satunya yang ada di sini waktu itu adalah remaja bertubuh gemuk ini. Orang yang memiliki kekuatan sihir yang nyata.
Mungkin Galang seharusnya mengamuk, panik, atau menangis, karena kejadian gaib yang dialaminya sekarang. Namun, untuk saat ini Galang lebih memilih tetap bertahan di sini karena suatu alasan.
"Kau mewarisi bakat dan berkatnya, Galang." Kata Liel kemarin sore saat kondisi Galang sudah agak membaik. "Kau mewarisi Bakat Jiwa- nya untuk menjadi penguasa kegelapan, dan juga berkat miliknya yaitu, Seni Dunia: Salju Hitam . Itulah sebabnya aku membawamu kesini, karena aku ingin membantumu menguasai kekuatan itu. Aku akan mengajarimu di sini selama tujuh hari. Dan, kalau semuanya sudah selesai, aku akan mengantarmu kembali ke tempat asalmu, oke?"
Kekuatan, itulah alasan yang membuat Galang memutuskan untuk tinggal di sini. Perkataan Liel jelas-jelas menyatakan kalau Galang memiliki kekuatan dalam dirinya. Meski Galang masih belum mendapatkan kembali ingatan masa lalunya—ingatan tentang siapa dirinya sebenarnya—tapi dia tetap memiliki ingatan tentang dunia asalnya, yaitu dunia manusia. Dunia yang tidak memiliki keajaiban setitikpun.
Yah, mungkin itulah yang terjadi pada Galang sekarang.
Sama seperti orang Yang Terpilih dalam buku cerita yang dibaca Galang. Yang Terpilih sebenarnya hanyalah manusia biasa, maka dari itu Tuhan membawanya ke dunia lain agar dia bisa menikmati keajaiban tangan Tuhan dan menjalani takdirnya sebagai Yang Terpilih.
"Yah... setidaknya aku masih ingat namaku sendiri... " Bisik Galang sambil tersenyum kecut, sampai-sampai pipinya jadi terlihat lebih tembem dari sebelumnya.
Lagi pula, Liel juga telah menjelaskan hal-hal penting yang harus diketahui Galang kemarin sore, termasuk fakta kalau mereka berdua sebenarnya sudah saling mengenal sebelumnya, juga kenyataan bahwa dialah yang membuat ingatan Galang menjadi kacau.
"Sihir... ya?" Tanya Galang pada dirinya sendiri. Semua keanehan ini, jelas-jelas karena sihir.
Namun, ada hal lain yang harus Galang lakukan saat ini. Sudah seharian dia menahannya dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengeluarkannya. Apa yang dibutuhkannya sekarang adalah, toilet.
"Tapi... rumah ini kayaknya besar banget, deh..." Beberapa menit telah berlalu sejak Galang meninggalkan kamarnya untuk mencari toilet. Dia telah melewati banyak ruangan seperti ruang keluarga, ruang yang penuh dengan rak buku, juga ruang yang dihiasi dengan senjata-senjata yang tergantung di dinding, dan berbagai ruangan lainnya. Namun, pada akhirnya dia tetap tidak menemukan toilet dan malah berakhir di dapur.
Lampu langsung menyala begitu Galang melangkahkan kakinya memasuki dapur. Tapi, betapa terkejutnya Galang waktu dia mendapati keberadaan orang lain di situ.
"Oh? Dik Galang, ya?" Tanya gadis berhijab oranye itu. Dia mungkin sudah berada di sini sejak tadi. Gadis itu tengah menikmati secangkir kopi hangat sambil mengamati pemandangan melalui jendela yang berada di antara kabinet. Dari tampangnya, gadis ini pastilah seorang mahasiswi yang masih duduk di bangku kuliah.
"Eh... " Galang yang tak mengenal gadis itu ikut mengarahkan pandangannya ke arah jendela. Di luar sana masih gelap, dan langitnya yang suram memancarkan warna kelabu dan membuat pemandangannya terkesan terasa dingin menusuk.
"Namaku Afizah, tapi aku lebih suka dipanggil Afi," katanya seraya meletakkan cangkirnya di meja.
"Ugh!" Perasaan yang tidak menyenangkan itu akhirnya muncul lagi di dalam diri Galang. Dia sudah berada di ujung tanduk dan tak mampu menahannya lebih lama lagi. "K-kak... kalau boleh tahu, to-toiletnya ada di mana, ya? Soalnya a-aku mau pipis." Tanya Galang. Wajahnya pucat pasi.
"Wajahmu benar-benar lucu, loh, Dik." Afizah yang menyadari situasi Galang saat ini, langsung tersenyum sambil menunjuk ke arah pintu kuning yang berada di seberang ruangan, tepat di depan Galang. "Tuh."
"Ah! Terima kasih, Kak!" Ucap Galang ketus sambil melesat masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah Galang menyelesaikan urusannya dengan toilet hingga tuntas, dia pun keluar dari kamar mandi dan berniat kembali ke kamar untuk menyelesaikan buku cerita itu. Akan tetapi, ketika Galang melangkahkan kakinya melewati ambang pintu kamar mandi, tiba-tiba saja, Afizah langsung menyodorkan satu pertanyaan kepada Galang.
"Kenapa kau membaca buku itu?"
"Ah... Karena sampulnya menarik, kurasa." Galang terlihat bingung.
"Yah, karena sampulnya menarik." Afizah terlihat sedang berusaha untuk menahan tawanya saat mengulangi kata-kata Galang. "Sebenarnya sudah menjadi tugas Liel untuk menjelaskan semuanya kepadamu. Tapi, aku yakin dia lelah karena semua persiapan itu, jadi aku akan mengambil sedikit bagiannya."
"Maksud Kakak?"
"Sebenarnya, buku yang sedang kau baca dikamar itu disebut sebagai, Kitab Tragedi ."
"Hah? Kitab Tragedi ?" Tanya Galang tak percaya. Pipinya terlihat agak memerah karena suhu dingin kala itu.
"Yah, sebenarnya kitab itu bisa membangkitkan kekuatan tersembunyi yang ada dalam dirimu secara paksa. Jadi kau tak perlu latihan atau melakukan apapun. Tepat setelah kau membaca huruf pertama dalam lembar pertama buku itu, maka kekuatan yang ada di dalam jiwamu bisa dipastikan sudah bangun."
"Jadi... itu artinya aku benar-benar punya kekuatan sungguhan, kan?"
Siapapun bisa melihat betapa bahagianya Galang sekarang hanya dari tatapan matanya. Kebenaran itu, kenyataan itu, adalah hal yang sudah Galang nanti-nantikan sejak masih kecil. Dia selalu berpikir akan betapa hebatnya jika dirinya memiliki kekuatan yang tidak dimiliki orang lain, dan sekarang dia tahu kalau dia memiliki kekuatan itu.
"Ja-jadi! Bagaimana caranya menggunakan kekuatan itu, Kak!?" Tanya Galang dengan semangat yang berapi-api.
"Liel berkata kalau kau memiliki dua macam kekuatan, dan kedua kekuatan itu berhubungan dengan unsur kegelapan, jadi coba kamu bayangkan sesuatu, misalnya membuat sebuah pedang dari kegelapan?"
Anak itu tanpa basa-basi langsung mengikuti instruksi Afizah. Dia berusaha untuk fokus dan mencoba untuk membuat sesuatu dari unsur kegelapan. Galang menjerit-jerit dalam hati akan betapa mengagumkannya nasibnya saat ini.
Keringat mulai mengalir dari pelipis Galang dan tubuhnya sedikit bergetar. Anak itu mengeraskan badannya. Galang terus membayangkan untuk membuat sesuatu di tangannya.
"Aku bisa!"
Mata Galang terbuka sangat-sangat lebar waktu menyadari keberadaan sesuatu seperti api membara berwarna hitam yang muncul di atas telapak tangannya. Galang merasakannya. Dia merasa seperti sedang memegang sesuatu di tangannya. Namun di saat yang sama, entah kenapa dia juga merasa seolah-olah dia sedang mengangkat batu yang sangat besar dan amat berat.
"Lihat! Lihat ini, Kak! Aku bisa menggunakan sihir!" Pekik Galang yang sebenarnya sangat ingin melompat-lompat karena saking senangnya.
"Aku lihat, kok." Kata Afizah sambil tersenyum kecil.
Akan tetapi, tepat ketika Galang merayakan keberhasilannya, pada saat itu pula api hitam itu lenyap dari tangannya, dan beban yang berat itu pun ikut hilang.
"Loh! Kok begitu, sih?" Kekecewaan yang besar terpancar dari wajah Galang waktu itu. Tapi, dia tidak menyerah. Dia kembali mencoba untuk memunculkan api hitam itu dengan cara yang sama seperti yang sebelumnya. Meski begitu, beberapa menit telah berlalu, dan tidak ada tanda-tanda bahwa api hitam itu akan muncul lagi. Lalu, dia memutuskan untuk mencoba dengan cara lain, seperti mengatur nafasnya atau membuat badannya menjadi lebih keras. Akan tetapi, pada akhirnya, api hitam itu tetap tak keluar.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Kak?"
Waktu Galang memandang sekitarnya, ternyata tanpa dia sadari dunia ini sudah menjadi lebih terang dibanding beberapa saat lalu. Matahari hampir menunjukkan dirinya di ufuk timur, dan atmosfernya juga sudah tidak sedingin sebelumnya. Entah berapa lama waktu yang digunakan Galang dalam percobaannya tadi, sampai-sampai dia tidak sadar kalau pagi sudah berada di depan mata.
Afizah sedang memasak sesuatu saat itu.
"Minum dulu tehnya." Afizah menyuruh Galang untuk meminum teh yang sudah dia siapkan di atas meja. "Sekarang kau santai saja dulu. Mending tunggu sampai Liel bangun, baru dia akan mengajarkanmu cara menggunakan kekuatan itu."
Galang menjatuhkan dirinya ke kursi, kemudian ia minum teh itu dengan perlahan. Tehnya masih hangat, membuatnya merasa nyaman dan tenang. Rasa lelahnya bahkan hilang begitu saja ketika teh itu mengalir masuk ke dalam kerongkongannya.
"Hah... " Nafas Galang mengepul di udara, memisahkan diri dari hawa dingin di sekitar. "Oh, iya, kalau boleh tahu kekuatan seperti apa yang Kakak miliki?" Tanya Galang yang tampak sangat tertarik.
"Kalau aku sih nggak punya kekuatan. lagi pula aku juga nggak terlalu memerlukan sihir-sihir semacam itu." Afizah menjawab dengan santai.
"Loh! Kok begitu, sih?"
"Yah, waktu masih kecil dulu, aku juga sebenarnya ingin memiliki kekuatan sihir seperti itu. Tapi... karena aku tidak pernah mendapatkannya, jadi aku terpaksa menjalani masa laluku, dengan diriku sendiri. Dan lihat, akhirnya aku berhasil melaluinya. Sekarang aku sudah tiba di masa depan, bersama dengan diriku yang dulu." Jelas Afizah.
"Eh... aku nggak paham, Kak." Jawab Galang yang sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataan Afizah.
"Yah, aku sudah menduganya... lagi pula kau masih SMP." Ujar Afizah sambil tersenyum kecut. "Tapi, intinya jangan berhenti berusaha. Teruslah hidup dan teruslah melangkah, percaya deh, kau pasti akan bertahan sampai akhir walau nggak punya kekuatan sihir."
Galang terdiam seribu bahasa mendengar nasehat Afizah. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
Afizah mematikan kompornya, lalu dia pun mulai menata berbagai jenis makanan di atas meja. Aroma yang harum menyeruak masuk menembus hidung Galang. Seluruh ruangan dipenuhi oleh wangi dari masakan Afizah.
"Hmm... kenapa Liel membawaku kesini, Kak?" Tanya Galang tiba-tiba.
Afizah terhenti seketika waktu mendengar pertanyaan Galang. Namun, setelah dia selesai menghidangkan semua makanan itu, gadis itu pun ikut duduk di samping Galang.
"Liel... adalah orang yang dikutuk untuk menderita, Galang." Ujar Afizah.
Walau Galang tidak terlalu mengerti maksud dari perkataannya, namun Galang tahu kalau maksudnya itu adalah sesuatu yang sangat buruk.
"Gampangnya, Liel akan terus merasakan rasa sakit selama dia masih hidup dan bernafas. Dia akan terus menderita setiap hari, dari pagi sampai pagi lagi."
"Hah...? Kok kedengaranya dia seperti hidup di neraka, ya?"
"Yah, memang seperti itulah kehidupan Liel." Afizah memegang cangkir kopinya dengan erat. "Dunia ini... tidak... kehidupan ini, baginya adalah sebuah neraka tanpa akhir."
Galang merinding mendengarnya.
"Hanya ada segelintir orang di dunia yang ini diizinkan Tuhan untuk menjalani takdir menyedihkan semacam itu. Orang-orang yang dikutuk untuk menderita. Tapi anehnya mereka malah tetap memilih untuk terus hidup. Apa kau tahu kenapa? Ya, karena mereka semua tahu akan betapa mahalnya harga dari nafas kehidupan."
"Eh... Tapi, aku masih tidak mengerti alasan dia membawaku kemari."
"Yah, karena kamu sebenarnya sangat mirip dengan almarhum adiknya yang sudah meninggal bertahun-tahun silam. Bahkan, kau mewarisi kekuatannya. Maka dari itu dia membawamu ke sini. Dia menganggapmu sebagai adiknya. Dia menganggapmu sebagai bagian dari kehidupannya."
"Hah? Tapi—"
"Dia tidak akan peduli meskipun kamu tidak mau menganggapnya sebagai seorang Kakak." Afizah menjelaskan sembari bangkit berdiri. "Permintaanku hanya satu; turuti saja segala permintaannya. Sudah lama aku ingin melihat dia bahagia. Meskipun hanya sedetik, itu tidak akan jadi masalah. Asalkan, dia tahu bagaimana rasanya kebahagiaan itu. Kumohon... jadilah jejaknya... Kumohon... jadilah keluarganya..."
"Jejak...?"
"Ya, jejak... Kau adalah bukti bahwa Liel pernah hidup." Ujarnya. "Ya sudah, aku mau siap-siap dulu buat ke kampus. Tunggu sampai Liel bangun, baru kalian makan, oke?" Gadis itu kemudian pergi meninggalkan Galang sendirian di meja makan.
Galang meletakkan tangan kanannya di atas meja, lalu membuka telapak tangannya lebar-lebar sambil membayangkan api hitam hitam muncul di situ. "Atau tepatnya... Salju Hitam."
Galang sama sekali tidak mengerti dengan situasinya saat ini. Rasanya mengerikan dan menyedihkan. Dia tetap tidak mengerti. Meskipun kini ada bola-bola berwarna hitam pekat yang melayang di atas telapak tangannya, anak itu tetap tak merasakan apa-apa lagi. Yang ada dalam dirinya saat ini, hanyalah ketidakpastian.
"Lho, Afi kemana?" Tanya Liel yang tiba-tiba saja sudah muncul di belakang Galang. Pemuda gemuk itu mengalihkan pandangannya ke arah meja yang sudah dihiasi oleh makanan.
Galang langsung tersentak karena kaget. "A-ah! Liel, Kak Afizah katanya mau bersiap-siap buat ke kampus sekarang." Galang memberitahu dengan gelisah.
"Oh? Begitu, ya?" Kata Liel sambil berjalan ke arah kursi yang berada di sisi lain meja, yang berhadapan dengan Galang. "Ngomong-ngomong gimana tidurmu semalam?" Liel menjentikkan jarinya, dan pada saat itu pula lemari yang ada di belakang Liel tiba-tiba terbuka, dan beberapa alat makan langsung melayang keluar dengan sendirinya. Dua piring, dua sendok dan dua garpu mendarat dengan pelan masing-masing di depan Liel dan Galang.
"Ah... Biasa saja, kok." Jawab Galang yang tampak sedikit takjub dengan apa yang baru saja terjadi.
"Yah, baguslah kalau begitu. Tapi, Galang, tolong ya jangan gunakan kekuatanmu kalau aku lagi nggak ada, soalnya di pulau ini kadar energi Animanya terlalu tinggi. Jadi, ada kemungkinan kalau kekuatanmu bisa lepas kendali." Liel mengingatkan sambil tersenyum kecil.
"Tunggu... kita berada pulau?"
"Yah, pulau buatanku. Pulau Avalon II."
Galang hanya bisa menunduk setelah mendengar penjelasan itu. Kenyataan itu terdengar sangat mengagumkan. Bagaimana bisa dia menciptakan sebuah pulau? Bukankah itu sudah terlalu tidak masuk di akal? Tapi sayangnya bukan itu yang membuatnya masih merasa bingung.
Saat ini, Galang harus membuat suatu keputusan.
Anak itu mengambil nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan sambil memantapkan keyakinannya. Lagi pula dia sudah tahu mana pilihan yang akan membuatnya rugi dan mana pilihan yang akan menguntungkannya. Dan, satu-satunya yang dibutuhkannya sekarang, adalah keberanian untuk berbicara.
"Eh... sebenarnya kekuatanmu... tidak, maksudku, kekuatan Kakak itu sebenarnya apa?" Tanya Galang dengan ekspresi yang sedikit panik.
Seulas senyuman terbentuk di bibir Liel kala itu.
"Jadi kamu sudah tahu, ya?" Tanya Liel.
"Iya... K-kak... "
"Sulit, bukan?"
"Maksud Kakak...?"
"Setelah mendengar cerita menyedihkan tentang diriku, kamu jadi merasa kasihan padaku dan malah memaksa dirimu sendiri untuk memanggilku dengan sebutan itu."
"H-hah?" Galang terkejut. "A-aku nggak bermaksud seperti itu, kok!" Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam karena saking paniknya.
"Ya, aku tahu kok." Liel bangkit berdiri lalu mengambil piring milik Galang, dan mengisinya dengan nasi dan berbagai macam lauk pauk hingga piring itu hampir penuh. "Kamu terlalu baik, Galang, dan apapun yang berlebihan itu bukan sesuatu yang baik. Tapi, aku memakluminya sih, soalnya kamu juga masih muda." Liel akhirnya mengembalikan piring Galang.
"Ah... terima kasih, Kak... " Jawab Galang ragu-ragu. Entah kenapa dia kini merasa telah melakukan kesalahan. Padahal, dia hanya berusaha.
"Tidak, aku yang harusnya berterima kasih padamu." Ujar Liel.
Galang yang bisa merasakan kebaikan dari perkataan Liel langsung mengangkat kepalanya dan menatap wajah pemuda itu dengan heran.
"A-apa...?"
"Rasa kasihan itu bukan sesuatu yang buruk kok, Galang. aku malah senang karena kamu sudah berusaha untuk menganggapku sebagai seorang Kakak,. Kenyataannya, aku ini hanya orang asing, lho. Meski begitu, kau berhasil menggunakan rasa kasihanmu itu untuk membuat suatu kemungkinan, dan kemungkinan yang kau hasilkan sekarang adalah sesuatu yang baik, dan aku sangat berterima kasih atas kebaikan itu."
Galang tidak mengerti maksud perkataan Liel. Dia sama sekali tidak mengerti.
"Kau benar-benar orang yang baik, Galang. Terima kasih, sudah mau menjadi jejakku." Liel kembali memasang senyuman di bibirnya. Tapi, senyumannya kali ini adalah senyuman yang sangat hangat dan tulus. "Ya sudah, makan dulu yuk."
"I-iya, Kak." Jawab Galang yang juga kembali tersenyum dengan gembira.
TAMAT