Konon, jauh sebelum waktu mengenal namamu, hiduplah seorang perempuan renta di sebuah gubuk yang hampir menyerah pada usianya. Ia hanya ditemani seorang anak laki-laki—satu-satunya cahaya yang pernah dimilikinya. Anak itu, Lancang, tumbuh dengan tangan yang tak pernah berhenti bekerja, namun hatinya selalu ingin terbang lebih jauh dari tanah kelahirannya.
Pada suatu hari, keinginan itu pecah menjadi kata.
Ia meminta izin untuk pergi, meninggalkan pelukan ibunya, mengejar dunia yang lebih luas.
Sang ibu, meski hatinya remuk, hanya mampu melepas dengan doa—bahwa anaknya takkan melupakan akar yang membesarkannya.
Lancang pun pergi.
Hari berganti tahun, dan tahun berubah menjadi gemintang yang berulang.
Di negeri jauh, ia menjadi orang besar—hartanya bertumpuk, kapalnya pulang-pergi membawa kekayaan, dan perempuan-perempuan cantik memanggilnya suami.
Namun di kampungnya, sang ibu tetap hidup sederhana, menua dalam sepi, menggantungkan harapan pada kepulangan yang tak pernah pasti.
Suatu ketika, kapal megah itu kembali. Orang-orang berkumpul, memandangi lengkung emas yang menghiasinya. Kabar itu sampai pada si ibu—bahwa anaknya telah pulang. Dengan tenaga yang tersisa, ia berjalan, langkahnya goyah tapi hatinya penuh rindu.
Namun setibanya di pelabuhan, ia hanya disambut tatapan asing.
Lancang berdiri di atas geladak, dikelilingi istri-istrinya, wajahnya dingin seperti tak pernah mengenal perempuan yang melahirkannya.
“Dia bukan ibuku,” katanya.
Dan seketika dunia sang ibu runtuh tanpa suara.
Perempuan renta itu pulang dengan hati yang patah, hanya ditemani hujan yang seperti ikut bersedih.
Di rumahnya, ia meraih lesung pusaka—benda tua yang hanya disentuh saat doa tak lagi mampu menahan luka. Dengan air mata yang tak bisa ia sembunyikan, ia memohon agar Tuhan menunjukkan kebenaran kepada anak yang ia besarkan dengan kasih paling dalam.
Saat doa itu terucap, angin mendadak berubah arah.
Badai lahir dari langit yang kelam, menyambar kapal megah itu.
Suara petir menggulung namanya, dan kapal Lancang hancur diterjang gelombang Sungai Kampar. Jeritan penyesalan terdengar samar di antara debur air.
Setelah badai reda, hanya sisa-sisa kapal yang terdampar di berbagai penjuru: kain sutra yang menjadi lipatan tanah, gong yang berubah menjadi batu legenda, dan danau yang menjadi penanda kisah itu.
Sejak hari itu, orang-orang Kampar percaya bahwa luapan sungai bukan sekadar karena hujan, tetapi karena jejak kesedihan Lancang yang tak pernah tuntas—penyesalan seorang anak yang terlambat mengenali cintanya sendiri.