Shh.. Its Secret
Romance
02 Dec 2025 01 Dec 2025

Shh.. Its Secret

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (22).jpeg

download (22).jpeg

01 Dec 2025, 15:51

Dita Sylan, seorang gadis berumur 16 tahun sangat populer disekolahnya, ibunya bilang asal kata namanya dari Aphrodite yaitu dewa kecantikan. Seperti arti namanya ia cantik, ceria, dan memiliki senyum yang manis.

Dia jatuh hati pada seorang cowok bernama Jo Yusuf Anwar atau akrabnya Jya. Jya seumuran dengan Dita, ia berperawakan tinggi, badan atletis, berkacamata, dan memiliki sorot mata yang tegas. Jya juga populer di kalangan cewek-cewek sekolahnya. Awal pertemuan mereka setahun yang lalu saat masa orientasi siswa atau MOS.


Saat itu Dita yang alergi debu bersin-bersin tak henti-hentinya di barisan belakang. Tiba-tiba Jya muncul menghampirinya dan berkata, "gini cara berhentiin bersin." Sambil menahan hidung Dita dengan telunjuknya. Dita hanya bisa terpaku menatap sosok Jya yang begitu tampan dan baik hati.

"Tu yang dibelakang ngapain pacaran?!" Teriak senior mereka. Sontak membuat keduanya terkejut. "Maaf kak kami ga pacaran." Jawab Jya ketika senior mereka menghampiri. "Ga usah bohong, kalo ga pacaran terus ngapain tadi?!" Kata senior mereka dengan nada nyolot. "Kak tadi saya bersih-bersih dia cuma bantuin saya." Jawab Dita mencoba membela diri. "Gue ga mau tau, kalian bedua pushup 25 kali sekarang!" Jawab senior lainnya.

"Tapi kak saya alergi debu, tolong hukumannya yang lain kak." Kata Dita dengan wajah memelas berharap kemurahan hati senior mereka. "Alasan aja lu, 25 kali atau gue tambahin!" Bentak senior mereka. Mau tidak mau Dita menuruti perintah senior mereka, saat mengambil ancang-ancang untuk pushup.

Tangan Jya menghalangi badan Dita mengisyaratkan untuk berhenti. "Kak biar saya aja yang pushup." Kata Jya dengan tegas. "Oh lu mau sok pahlawan depan cewek lu?! Okay! Lu pushup 50kali!" Jawab senior mereka. "Kamu?!" Dita hanya bisa terkejut, ia bahkan tak tau namanya. Kenapa cowok ini sangat baik padanya?

Dari situlah Dita mulai menyukai sosok Jya. Setelah MOS ternyata mereka beda kelas. Dita terus saja memperhatikan Jya, yang sesekali saling bertukar senyum saat berpapasan. Setahun kemudian kenaikan kelas 2 SMA, ada rolling kelas. Dita sangat bahagia saat mendapati dirinya sekelas dengan orang yang ia sukai selama ini, Jya!

***

Hari ini, hari pertama Dita dikelas 2 SMA kelas dimana ia akan menghabiskan masa mudanya sekelas dengan Jya sang pujaan hati. Awalnya Dita sangat gugup bahkan semalam ia tak bisa tidur saking menantikannya hari ini.

"Pagi Dit!" Sapa temannya dikelas 1 SMA dulu, Hawa. "Pagi Wa!" Kata Dita sambil duduk disebelah gadis yang semalam ia telfon untuk janjian duduk bersama nya dikelas.

Mata Dita terus saja menyorot seisi kelas untuk menemukan sosok Jya. Beberapa menit kemudian yang ditunggu-tunggu tiba. Jya memakai jaket kain, sepatu adidas, headset ditelinga dan menggendong tas dengan satu tali saja. Gaya khas anak populer. Hampir semua cowok dikelas menyapanya dengan highfive. Tampaknya Jya tak hanya populer dikalangan cewek saja.

***

Saat istirahat meja Jya dipenuhi cewek-cewek yang ngantri ngajak dia buat makan bareng atau ke kantin bareng. Pemandangan itu membuat Dita jengkel karena tak bisa berbuat apa-apa. Ternyata saingannya banyak sekali. Ia sedikit lega karena Jya lebih milih buat pergi kekantin sendiri ketimbang gandeng cewek-cewek ganjen itu.

***

Hari-hari berlalu kegiatan Dita masih segitu-segitu aja, mentok jadi penguntitnya Jya. "Eh kita kan belum nentuin pengurus kelas." Kata Hawa pada Dita.

"Iya juga ya, aku sih males terlibat kayak gitu. Cuma buang-buang waktu." Jawabku. "Aku mau jadi ketua kelas!" Teriak Jya dari bangku nya.

Sontak membuat Dita berdiri dan mengacungkan tangan, "A-aku mau jadi wakil ketua."

"Lah katanya males-__-" kata Hawa. Dita cuma bisa nyengir-nyengir ga jelas. Akhirnya ditentukan Jya ketua kelas dan Dita sebagai wakilnya.

***

"Bapak dengar kalian sudah menentukan pengurus kelas, jadi ini tugas pertama kalian." Kata pak Bambang wali kelas mereka. Jya langsung berdiri dan diikuti Dita dibelakangnya. Tugas pertama mereka adalah membuat data seputar kelas dari daftar nama, fasilitas kelas dan pemilihan sisa pengurus kelas.

"Kita rapat kan pulang sekolah." Bisik Jya. Dita hanya bisa mengangguk gugup. "Muka kamu kok merah? Sakit?" Kata Hawa saat Dita kembali duduk. "Engh.. ga papa kok." Jawab Dita, rapat berdua bersama Jya? Astaga bagaimana jika ia membuat kesan pertama yang salah.

***

Pulang sekolah hanya mereka berdua dikelas, Dita tak sanggup menatap mata Jya yang tegas. "Nih kamu data fasilitas kelas."

"Ba-baik." Jawab Dita gugup. Ia segera mendata fasilitas kelas seperti unit bangku dan kursi, papan tulis, lcd, dan lain-lainnya.

"Jo aku udah selesai, ni datanya." Kata Dita menyerahkan selembar kertas itu pada Jya yang tampak pusing memilih pengurus kelas. "Hm." Jawabnya.

"Engh.. Jo aku boleh panggil kamu Jya ga? Biar kayak anak-anak yang lain." Tanya Dita sambil duduk didepan Jya. "Hm." Lagi-lagi Jya hanya bergumam.

"boleh ya? Ya? Ya? Ya?" Kata Dita dengan suara manis yang dibuat-buat. "Serah lu dah bawel amat." Jawab Jya, ini pertama kalinya Dita melihat Jya begitu kasar. Seketika Dita terdiam dan hanya terpelongo.

"Kalo udah selesai taruh di meja pak Bambang. Gue mau cabut." Jya beranjak pergi meninggalkan Dita yang masih saja tak bergeming.

***

Setelah menaruh data kelas di meja pak Bambang, Dita berjalan dengan lemas ke parkiran sepeda disamping ruang olahraga. Langkah kaki kecil nya terhenti ketika melihat Jya masuk ke ruang olahraga. Kira-kira apa yang akan ia lakukan? Dita bersembunyi dibalik pilar besar penyangga lorong.

Beberapa menit kemudian Jya keluar dengan bola basket di tangan nya. Dita baru ingat saat MOS Jya mewakili kontingennya untuk tanding basket.

Dita hanya memandangi Jya dari kejauhan dan menghela nafas panjang. "Jya kenapa kamu jutek banget? Mana sosokmu yang ramah itu?" Batinnya. "Mungkin dia lagi banyak pikiran, makanya jadi dingin. Besok aku harus berusaha akrab sama dia!" Kini semangatnya sudah memuncak lagi ia berlari menuju parkiran dan mengendarai sepedanya dengan cepat, ia berharap esok akan lebih akrab dengan Jya.

***

Keesokan harinya Dita berusaha untuk lebih dekat. "Jo kantin yuk." Ajak Dita. "Aku udah makan." Jawab Jya ketus. "Yaudah deh kalo gitu." Jadi gini rasanya cewek-cewek yang tiap hari ngantri buat ngajak Jya ke kantin? Tapi ditolak, benar-benar menyedihkan.

"Dit cepetan belanja nya!" Teriak Hawa yang telah lama menunggu Dita diluar kantin. Dita masih bingung mau belanja apa, ia sebenarnya tidak terlalu suka belanja di kantin. "Yuk ke kelas!" Kata Dita sambil menepuk pundak Hawa.

"Lama amat sih."

"Hehe sori-sori abis aku bingung makanannya ada banyak."

"Eh Jo sendiri aja, fans nya pada kemana?" Mendengar kata Hawa yang menyapa seseorang membuatnya terbelalak.

Katanya dia tadi sudah makan? Lalu apa yang ia lakukan disini?!

Dita yang naik pitam memilih untuk jalan cepat meninggalkan Hawa yang masih tegur sapa dengan Jya.

"Kok lu tinggal sih tadi?" Tanya Hawa sesampainya dikelas.

"Jo itu aneh ya tadi gue tawarin kekantin katanya udah makan. Eh nyatanya? Ga ngerti deh gue!"

"Elah lu kayak ga tau Jo aja. Dia kan emang dingin sama cewek, sampe-sampe ada gosip kalo dia maho, ngeri sih tapi kayaknya ga mungkin buktinya dia punya mantan."

"Ma-mantan?!"

"Lah lu ga tau? Itu kakak kelas ips, namanya Nina kalo ga salah." Bagaimana cara Nina sampai bisa mencairkan hati Jya yang beku? Harus diselidiki!

***

Hasil penyelidikan Dita,

Nama Kynina Rut biasa dipanggil Nina. Selain cantik ia sangat cerdas. Walau pun anak ips ia sangat berprestasi mungkin itu salah satu daya tariknya. Jika diukur dari kecerdasan Dita jauh dibawah Nina. Beberapa kali Dita berpapasan dengan Nina dan terasa jelas Dita mencium bau parfum Nina. Itu dia! Jya suka cewek yang wangi. (Yaiyalah)

***

"Aku pake parfum dua kali lebih banyak dari biasanya, pasti kecium sama hidungnya!" Ujar Dita dalam hati.

"Kenapa lu? Pagi-pagi nyengir-nyengir sendiri?" Tanya Hawa bingung.

"Engga kok cuma lagi seneng aja, hihi." Beberapa saat kemudian Jya masuk kelas dengan style kekiniannya. Segera Dita menghampirinya dan mencegahnya duduk dibangku yang dikerumbuni cewek-cewek ganjen, bisa-bisa bau parfum nya ga kecium lagi.

"Pagi Jo! Ada tugas buat wakil ga hari ini?" Sambut Dita dengan ramah.

"Engga ada." Jya melewati Dita begitu saja!

"Tunggu-" kata Jya dan berbalik. Ha! Ia pasti menyadari bau parfum Dita.

"Ya???" Mata Dita bersinar menunggu.

"Kamu pake parfum apa sih? Menyengat sekali! Kalo kayak gitu terus ozon bumi bisa benar-benar rusak tau." Kata Jya berlalu meninggalkan Dita yang masih terpaku mendengar respon Jya.

***

"Aku baru tau Jya ternyata begitu dingin tapi jadi begini rasanya di komentar pedas oleh orang yang kau suka? Rasanya sama seperti dicampakan! Bagaimana bisa ia menyukai Nina, tapi tidak menyukaiku? Okay Nina ya Nina. Aku ya aku. Mungkin ga seharusnya aku ngikutin Nina. Aku jadi males sama Jya, rasa suka ku ke dia mungkin cuma sebatas gara-gara dia pernah baik aja sama aku." Sore itu Dita habiskan dengan hobinya manjat tembok dan merenung sembari menatap langit jingga yang ditaburi kapas-kapas tipis.

***

Esoknya, esoknya, dan esoknya lagi Jya semakin dingin. Sepertinya ada yang salah dengannya. Mungkin sebenarnya ia sosok yang hangat, namun saat kecil kepalanya pernah terbentur jadi kepribadiannya berbalik. "Dit beritahu pengurus yang lain ada rapat kelas pulang sekolah." Tiba-tiba pak Bambang muncul, mengejutkan saja. "Si-siap pak."



"Jo pak bambang suruh kasi tau pengurus yang lain pulang sekolah ada rapat." Kata Dita saat bertemu Jya dikelas.

"Kamu kasi tau aja sendiri. Kan kamu yang disuruh." Apa-apaan ketua kelas ini?! Mentang-mentang jabatannya diatas ku! Dita sangat kesal, ia hanya bisa meremas roknya dan pergi untuk memberitahu pengurus yang lain.

***

"Bapak cuma mau kasi tau 2 bulan lagi ada festival. Jadi kelas kita harus buat sesuatu, emang sih masih lama. Bapak kasi tau sekarang biar punya banyak waktu buat mikirin idenya." Jelas pak Bambang.

"Gimana kalo cafe saja!" Ujar Dita semangat.

"Cafe sudah mainstream, orang-orang pasti bosan ke cafe anak SMA." Seperti biasa tanggapan Jya pada Dita selalu saja dingin, sampai-sampai Dita mulai terbiasa dengan komentarnya yang sangat pedas.

"Oke kalian diskusi nya lanjut saja, bapak ada urusan dirumah." Pak bambang meninggalkan kami setelah berpamitan. Aku yakin pak bambang tak sungguhan punya urusan penting dirumahnya, ia hanya tak ingin terlibat perdebatan anak kecil.

Hampir 2 jam kami tepatnya aku dan Jya habiskan dengan berdebat. Kami sama-sama punya ide dan prinsip yang kuat. Aku dengan ide cafe sedangkan Jya dengan ide pertunjukan akustiknya. "Apa bagusnya akustik? Yang ada nanti orang-orang tertidur!" Kataku sambil menyilangkan tangan.

"Sudah-sudah kita lanjutkan esok saja." Kata sekretaris kelas, Aditya.

"Bener kata Adit lanjutin aja besok ngocehnya." Ujar Jya.

"Yang ngoceh siapa?! Kamu juga dari tadi komen-komen ga jelas!" Dita semakin jengkel tapi ia tetap memasang senyuman.

***

"Jadi cowok kok gitu banget, ngidam apa tuh emaknya. Sok-sokan nama disingkat jadi Jya. Idih ganteng juga engga!" Perjalanan ke parkiran sepeda Dita habiskan dengan mengata-ngatai musuhnya Jya.

"Bukan aku yang kasi nama itu, tapi anak-anak yang nyingkat." Suara ini, Jya! Dita cepat-cepat menoleh, orang yang ia caci maki ada dibelakangnya.

"Se-sejak kapan?"

"Dari tadi." Kata Jya dan berlalu begitu saja melewati Dita. Jadi Jya dengar semuanya?

"Jo! Aku bisa jelasin, tadi aku bukan ngomongin kamu. Aku cuma.. engh..." Dita mencegat Jya dan berusaha mencari alasan.



"Cerewet banget sih! Dasar cewek centil." Apaaaa katanya?!!!?!

"Yang lu panggil cewek centil siapa?!"

"Siapa lagi kalo bukan lu?" Jya menyentuh pundak Dita dengan telunjuknya dan pergi begitu saja.

"Gue?! Bener-bener lu ya! Dasar engh.. Robot! Ya, dasar Robot!" Dita hanya bisa meneriaki Jya yang sudah berjalan menjauh.

***

"Apa-apaan tu cewek, berani-berani nya ngata-ngatain orang didepan orang nya langsung. Ga punya otak tu, ga punya malu, dasar! Atau dia sengaja? Kenapa gue ngatain dia ya tadi? Arrggggg bodo amat!" Pinta Jya dalam hatinya sambil mengayuh sepeda sportnya.

"Aku pulang~" Jya membuka pintu dan membuang tas nya begitu saja lalu beranjak ke dapur.

"Jya udah pulang? Aduh kok tasnya ditaro disini rapikan lah." Kata kakak Jya yang frustasi melihat tingkah adiknya.

Jya hanya tinggal berdua bersama kakak laki-lakinya yang bernama Adam. Orangtua mereka tinggal diluar negeri dan hanya menengok beberapa tahun sekali. Adam sangat memanjakan Jya namun Jya sedikit acuh pada kakaknya.

"Gimana sekolahnya? Belakangan ini kamu pulangnya agak telat terus." Tanya Adam saat makan malam.

"Biasa-biasa saja, sebentar lagi akan ada festival jadi sedikit sibuk." Jawab Jya sambil mengunyah makanannya.

"Wahh festival ya? Pasti akan sangat meriah. Hey jangan terlalu fokus pada pekerjaanmu bisa-bisa nanti sakit. Sebentar-sebentar bermain lah bersama sebayamu, dengan pacarmu mungkin?" Adam berusaha menggoda adik kecilnya yang manis.

"Pacaran hanya buang-buang waktu. Seharusnya kakak sadar kenapa kuliahnya ga kelar-kelar, itu kan karena kakak terlalu banyak membuang-buang waktu hanya untuk pacaran."

"Engh... ahahaha ter-ternyata adik kecilku sudah dewasa.." Adam sedikit terpojokkan dengan kata-kata adiknya.

***

Keesokan harinya mereka masih belum ketemu titik terang untuk festival sedangkan waktu terus berjalan. Jya makin frustasi saja ketika kakaknya tiba-tiba menelfon dan mengabari bahwa orangtua mereka berencana akan berkunjung dalam waktu dekat.

"Pokoknya kita pakai akustik." Kali ini Jya ga mau ngalah.

"Eh entar dulu yang lain kan belum tentu setuju.." kata Aditya.

"Bener kata Adit kita harus menyesuaikan juga sama keuangan." Kata bendahara kelas mereka.

"Waktunya tinggal beberapa minggu lagi kalo sampe sekarang ga tau mau buat apa yang ada nanti kita keteteran." Pernyataan Jya sedikit memancing amarah Dita.

"Terus lu mau kita nurutin gitu aja tanpa mempertimbangkan plus minus nya?" Jawab Dita tenang.

"Menurut gue ide cafe juga bagus tuh, secara keuntungannya udah pasti." Kata Aditya sambil tersenyum kearah Dita.

"Nyiahaha asik gue dapet pendukung." Ujar Dita dalam hati.

"Tapi kan akustik juga bagus." Kata anggota pengurus yang lain.

"Pasti deh mereka udah disogok sama Jya buat dukung dia, cih licik!" Ujar Dita lagi dalam hati.

"Kalo gitu gimana kalo kita gabung? Cafe dan live akustik kan belum pernah di SMA kita." Cetus Aditya

"Engga engga engga gue ga setuju! Akustik ya akustik. Cafe ya cafe." Respon Jya sangat mengejutkan ia tiba-tiba berdiri dan sedikit berteriak.

"Ih sante dong jangan nge-gas. Yang mau idenya digabung juga siapa?" Jawab Dita sambil menyilangkan tangan.

"Terserah deh sama kalian pokoknya gue tetep akustik!" Jya pergi begitu saja meninggalkan anggotanya yang kebingungan.

"Idih lebay banget deh.." kata pengurus-pengurus yang lain.

"Udah-udah kita bubar aja deh mending, mungkin Jya lagi banyak masalah." Tutur Aditya.

"Iya lagi PMS tu anak." Celetuk Dita yang membuat semuanya tertawa.

***

"Kalo dipikir-pikir emang aneh sih. Kenapa Jya kekeh banget sama idenya emang yang main akustik nya siapa?" Ujar Dita dalam hati.

Dita berjalan kearah parkiran sepeda dengan hati yang terasa hampa dulu rasanya tak begini. Apakah ia masih menyukai Jya? "Tentu saja tidak! Siapa yang mau sama cowok robot kayak gitu!" Kata Dita sambil menghentak-hentakkan kakinya.

Beberapa menit kemudian titik-titik air jatuh dari langit, hujan gerimis dan disusul hujan deras yang memaksa Dita berteduh diemperan ruang olahraga.

"Hadeh ga bawa payung lagi, sial." Gerutu Dita sambil membersihkan bintik-bintik air di seragamnya.

Tiba-tiba suara sesuatu jatuh ke lantai dari ruang olahraga yang membuat jantung Dita rasanya mau copot.

"Ha-halo apa ada orang?" Suara Dita bergetar karena ketakutan. Tidak ada jawaban, Dita pun memberanikan diri membuka perlahan pintu ruang olahraga yang besar.

*krieeetttttt*

Sangat gelap dan tiba-tiba sesosok manusia keluar dan berlari sangat kencangnya menerobos hujan deras. "Orang itu pasti benar-benar gila menerobos hujan deras seperti ini, dasar idiot." Kata Dita.

Tapi apa yang orang itu lakukan diruang olahraga, karena penasaran Dita menyalakan lampunya. Tidak ada yang aneh, tapi ada payung tergeletak dilantai. "Mungkin orang itu menjatuhkannya, tapi kenapa ia lebih memilih menerobos hujan dari pada menggunakan payung itu, benar-benar idiot!" Kata Dita sambil menghela nafas.

Ia memutuskan untuk menggunakan payung itu untuk pulang dan akan mengembalikan nya keesokan harinya.

Saat perjalanan pulang Dita tak henti-hentinya memikirkan sosok misterius itu, payung yang ia jatuhkan ukurannya hanya cukup untuk satu orang, berwarna terang dan bertuliskan huruf asing sepertinya huruf jepang. Dita tak bisa membacanya, mungkin pemiliknya adalah seorang otaku .

***

Keesokan harinya Dita sudah memutuskan untuk melupakan perasaannya pada Jya ia lebih memilih hidup tenang dari pada harus menyukai orang seperti Jya yang susah ditebak.

Hari itu berjalan cepat Dita bahkan tidak sadar kalau Jya tidak masuk karena sakit, pak Bambang menugaskan Dita untuk mengantarkan tugas dan pr kerumah Jya sebagai wakil ketua kelas yang bertanggungjawab ia sanggup mengemban tugas ini sendiri walau itu memaksanya kerumah musuhnya.

"Si robot itu pasti hujan-hujan an kemarin, seperti orang yang meninggalkan payung ini hanya untuk menerobos hujan. Mereka sama-sama bodoh!" Kata Dita sambil berjalan di lorong kearah ruang olahraga.

"Eh Dita kamu mau ke ruang olahraga?" Sapa Aditya yang berlari dari arah belakang Dita dan kini mereka sejajar.

"Oh ini mau balik in payung orang, kamu tau ga ini punya siapa?" Tanya Dita sambil menunjukan payung otaku itu.

"Oh ini sepertinya punya Jya, aku melihatnya membawa payung ini beberapa kali."

Dita sedikit terkejut jadi orang bodoh itu si robot! "Okay makasi dit!" Dita langsung berlari begitu saja meninggalkan Aditya.

"Baik lurus sedikit lagi, rumah nya nomor 14.." Dita memperhatikan denah rumah Jya yang diberikan pak Bambang dengan seksama.

"Ah ketemu!" Seru nya ketika menemukan rumah sedang bernomor 14 dengan tulisan 'ANWAR' dibawah nomor rumahnya.

Dita mengetuk beberapa kali pintu coklat rumah Jya. "Sebentar..." suara pria dewasa dari balik pintu membuat Dita sedikit terkejut.

"Halo ada yang bisa dibantu?" Sosok pria berusia kisaran 20-an membuka pintu dengan senyuman yang familiar.

"E-e.. ini mau bawain tugas buat Jo." Dita sedikit gugup.

"Wah jarang sekali teman perempuannya kerumah, masuklah." Dalam hati Dita bertanya-tanya siapa pria ini? Ia sangat ramah berbeda dengan Jya.

Dita masuk dan membuka sepatunya dan menatapnya dengan rapi.

"Aku kakak Jya, panggil saja Adam. Naik aja langsung Jya ada dikamarnya." Dita sedikit tidak percaya kalau pria ini adalah kakak kandung Jya si robot.

"Ba-baiklah." Apa tidak apa-apa perempuan masuk ke kamar seorang anak laki-laki?

Sampailah Dita didepan pintu dengan stiker basket dan poster pemain basket yang besar, ia sangat yakin itu kamar Jya. Dita mengetuk beberapa kali namun tak ada jawaban, "jangan-jangan Jya pingsan didalam tapi ga ada yang tau?!" Ujar Dita dalam hati karena ia tak kunjung mendapat jawaban. Akhirnya ia memberanikan diri membuka pintu kamar Jya.

Betapa terkejutnya ia melihat kamar laki-laki itu, ekspektasi nya sangat berbanding terbalik dengan kenyataan yang ia lihat. Kamar Jya sangat rapi dan bersih bahkan kamarnya kalah rapi. Didominasi warna putih membuat kamarnya begitu terang dan menyegarkan.

*tingnongggg"

"He? Suara apaitu?" Gumam Dita. "kayaknya dari sini." Lanjutnya, Dita menghampiri laptop yang masih hidup dengan tanda notifikasi di layarnya bertuliskan ' anda mendapat pesan '

Dengan polosnya Dita membuka pesan itu, dan sepertinya pesan itu mengantarkannya pada sebuah dinding akun didunia maya. "Akun apa ini?" Dita memeriksa akun itu beberapa saat dan menemukan ID nya. "Hm ini akun bahas apa ya? Ga ngerti." Akhirnya Dita menyerah dan memilih untuk meninggalkan laptop itu.

Dita beranjak dan sibuk melihat-lihat, kini ia berada ditengah-tengah kamar seorang laki-laki yang ia benci, jujur ia merasa sedikit kalah. Ia sangat semua interior nya namun ada satu objek yang mengganggu matanya, sebuah rak buku dengan warna mencolok yang bahkan Dita pun tak tau warna apa itu karena susah di deskripsi kan.

Dita berjalan mendekati rak buku besar itu, isinya sangat full bahkan tak sedikit bukunya yang melimpah ruah dibawah dekat rak itu. "Sepertinya ia begitu menyukai buku ini." Dita menarik satu buku itu dan membukanya, dan ternyata itu sebuah komik. "Bagaimana bisa robot itu ternyata seorang kolektor komik. Eh? Apa ini?" Katanya dan menemukan kertas terselip di komik itu, bertuliskan 'aku sangat suka adegan ini, sampai-sampai terbawa mimpi. Aku harap kelanjutannya sesuai ekspektasi ku, i <3 shoujo manga'

Dita tak bisa menahan tawanya saat sadar kalau itu adalah tulisan Jya! "Buset lucu banget!! Harus diabadikan ini." Dita memotret beberapa foto dengan hpnya sambil menahan tawa.

Tiba-tiba terdengar suara orang membuka kunci pintu, Dita segera menoleh. Sosok itu membuat matanya terbelalak, itu Jya! Ia hanya menggunakan handuk untuk membalut bagian tubuh bawahnya.

"Astaga!" Dita cepat-cepat menutup matanya, ini sangat memalukan.

"Apa yang kau lakukan di kamar ku?!" Bentak Jya.

"A-aku hanya mengantar tugas tapi kakak mu menyuruhku ke kamar mu." Kata Dita masih menutup matanya dengan tangannya.

"Kenapa tak tunggu diluar saja!" Jya cepat-cepat mengambil baju semacam kimono untuk mandi dan memakainya lalu menghampiri Dita.

"Abis nya kamu ga jawab sih aku kira kamu kenapa-napa di dalem jadi aku masuk buat mastiin!" Dita tak menutup matanya lagi dan sedikit kaget karena mendapati Jya sudah berdiri di depan nya. Bisa dibilang sangat dekat karena Dita bisa mencium bau shampoo Jya dengan jelas.

"Apa yang kau lakukan dengan itu?" Suara Jya sedikit menakutkan walau pelan, ia juga menunjuk komik yang Dita pegang. Sontak Dita meletakkan nya kembali dan mengunci layar hpnya.

"Kamu habis ngapain tadi pake hp?" Tanya Jya lagi. Dita sangat benci nada suaranya terdengar sangat mengerikan.

"Bu-bukan apa-apa." Dita menyembunyikan hpnya dibelakang punggung nya.

"Jangan bohong kemarikan hp mu." Tangan Jya yang panjang hampir sanggup menggapai hp Dita. Dita cepat-cepat berkelit namun Jya semakin lincah saja mengikuti gerakan Dita.

"Jya hentikan!" Tiba-tiba Dita tersandung dan tak dapat menahan keseimbangan, ia jatuh ke belakang dan Jya yang mengejarnya tak bisa berhenti tiba-tiba akibatnya ia pun terjatuh juga.

Mereka berdua terdiam di posisi yang sangat canggung ini, Dita tergeletak dilantai kamar Jya dan Jya menahan tubuhnya diatas Dita dengan kedua tangannya berusaha sekeras mungkin untuk tak menindih Dita.

*tok tok*

"Kenapa kalian ga turun-turun?" Suara itu! Adam membuka pintu setelah mengetuk nya dan hanya terdiam saja mendapati adiknya yang pertama kali dapat kunjungan dari seorang perempuan, adik kecilnya yang kini sudah benar-benar dewasa.

"Maaf sepertinya aku mengganggu, si-silahkan lanjutkan. Hehe-" Adam menutup pintunya perlahan. Jya langsung bangun dan keluar kamar dengan membanting pintu.

"Astaga tuhan apa yang baru saja terjadi, jantung kuberdetak sangat kencang, perutku rasanya aneh, dadaku sangat sesak. Aku kenapa??" Dita memegangi pipinya yang merah padam.

Beberapa saat setelah menenangkan diri Dita berusaha menuruni anak tangga dengan lemas. Ia mendapati Adam dan Jya saling berhadapan dengan wajah serius mereka, "aku akan kena masalah besar!" Batin Dita. Jya berbalik dan melewati Dita begitu saja.

"Nama kamu Dita kan? Pasti kamu syok banget, maaf tadi aku sedikit salah paham. Tapi tenang Jya udah jelasin semuanya kok." Jelas Adam dengan senyuman yang sangat familiar.

"Iya kak, aku pamit pulang ya." Dita tak punya apa-apa untuk dijelaskan ia hanya ingin pulang.

"Eh? Padahal aku sudah masak banyak, tinggalah untuk makan malam ya sebagai permintaan maaf ku." Adam membuat ekspresi kecewa yang membuat Dita semakin tidak enak, akhirnya ia setuju untuk makan malam disana.

***

"Wah hebat ya Dita jadi wakil ketua!" Puji Adam saat makan malam. Jya tak banyak bicara ia hanya diam dan mengunyah makanan ya dengan tenang.

"Ah biasa aja kak." Dita masih sedikit tak percaya kalau Jya dan kak Adam itu saudara kandung.

"Kamu lahir tanggal berapa?" Tanya kak Adam.

"Tanggal 24 Desember" jawab Dita.

"Pas sekali kamu lebih besar dari pada Jya." Mendengar kata kakaknya Jya sedikit terkejut dan berhenti mengunyah.

"Maksud kakak?" Tanya Dita heran.

"Jadi waktu kecil Jya kira aku ini perempuan karena saat aku SD rambutku sedikit panjang dan mama suka jepit rambut ku. Saat beranjak ke SMP aku harus memotong rapi rambutku, tapi tiba-tiba saja Jya menangis dan tak mengenaliku. Rasanya sangat sedih melihat wajah manisnya yang berlinang air mata, ia bahkan memaksaku menggunakan rok saat dirumah. Apa boleh buat? Aku sangat sayang adik kecilku jadi aku menurutinya. Tapi sekarang sudah ada Dita yang bisa Jya anggap kakak perempuan sungguhan. Haha-" mendengarnya Dita hanya bisa terdiam dan tak menyangka Jya yang begitu dingin dan dewasa ternyata begitu manis.

"Kakak hentikan kau membuatku malu!" Jya tampak marah karena ia berdiri dan langsung pergi ke kamar nya.

"Haahhh.. Jya memang seperti itu, susah diajak bercanda. Tapi sebenarnya ia orangnya sangat perhatian. Kata Adam. Dita jadi ingat kejadian kemarin Jya meninggalkan payungnya diruang olahraga begitu saja atau sengaja meninggalkan nya untuk Dita?

***

Setelah membantu beres-beres sedikit Dita pun pamit namun Adam menyuruh Jya untuk mengantar Dita karena sudah malam.

Hampir sampai rumah Dita, mereka berdua tak bicara sama sekali. Jelas ini sangat mengganggu Dita apalagi mengingat apa yang terjadi dikamar Jya membuat jantungnya berdetak kencang lagi.

"makasi udah nganter aku pulang." Kata Dita didepan rumahnya.

"Hm." Jya hanya menjawabnya dengan gumaman dan pergi.

***

"Astaga kepala ku rasanya mau meledak!" Kata Jya sambil mengacak-acak rambutnya saat perjalanan pulang. Ia sangat frustasi ketika tiba-tiba muncul sosok Dita di pikirannya. Terlebih lagi kejadian di kamar nya.

Jya sedikit memperlambat langkahnya saat melewati sebuah cafe kecil didekat rumahnya. Melihat pengunjung yang terus berdatangan dan pelayan-pelayan yang sibuk. Orang-orang tertawa bersama dan berbincang dengan asiknya didepan secangkir minuman dan beberapa kue kecil. "Mungkin ide cafe tak terlalu buruk.." ujar Jya dalam hati. Ia kembali melanjutkan langkah nya.

***

Keesokan harinya Dita menghampiri Jya yang sedang duduk sendiri di bangku nya sambil mendengarkan lagu dari hpnya.

"Bisa kita bicara diatap sekarang?" Kata Dita setelah membuka paksa headset Jya dari telinganya dan kemudian pergi begitu saja.

"Apa-apaan dia?!" Ujar Jya dalam hati sambil menghela nafas kesal. Jya pun menyusul Dita ke atap gedung sekolah.

Sesampainnya terlihat sosok Dita bediri dan melihat kearah langit yang sangat cerah hari itu. "Kenapa?" Tanya Jya.

"Aku mau buat perjanjian." Jawab Dita. Ia punya rencana yang sudah dipikirkannya semalam suntuk.

"Perjanjian apa?"

"Ingat ini?" Dita menunjukan foto di hpnya. Itu foto catatan kecil dikomik Jya.

"Cepat hapus itu!" Jya mulai gelisah.

"Tenang aja aku ga akan sebar, asal kamu mau jadi budakku selama SMA. Gimana?" Dita kini tersenyum, senyuman itu senyum kemenangan.

"Kamu gila ya?! Sini in hp kamu sekarang!"

"Eittts.. kalo kamu berontak aku siap sebar kegrup kelas sekarang. Kamu ga mau kan?" Kata-kata Dita ada benarnya.

"Budak?! Aku ga mau jadi budakmu!"

"kamu cuma perlu nurutin apa yang aku mau aja kok, susah amat ya? Pertama ini masalah ide festival, aku mau kamu setuju pake ide cafe. Kedua kamu ga boleh dingin sama aku. Ketiga... aku belum pikirin pokoknya kalo ngebantah aku sebar aib kamu." Jelas Dita. Jya sangat bingung apa yang harus ia lakukan? Jadi budak? Yang benar saja! Tentu saja tidak. Tapi bagaimana dengan foto catatannya itu?

Jya menarik nafasnya dalam-dalam dan memegangi kepalanya yang berkeringat lalu berkata, "baiklah."

"Wah?! Serius?? Asik!! Okay pokoknya sekarang aku panggil kamu Jya. Karena kita sudah deal, dan tanpa sepengetahuan mu aku udah rekam sejak tadi. Kita resmi jadi budak dan majikan. Ayo kita balik kekelas! Hahaha-" Dita tampak sangat puas dan sepanjang jalan kekelas ia hanya tertawa sedangkan Jya berusaha menyusun rencana untuk mencuri hp Dita, tapi mustahil karena Dita menaruhnya disaku bajunya.

***

Bel istirahat terdengar seperti angin segar ditelinga siang itu, tapi tidak begitu pada Jya. Ia sangat sibuk mengurus data pengumpulan tugas teman-temannya.

"Jya kantin yuk?" Ajak teman akrab Jya, Doni.

"Ga bisa, ada urusan." Jawab Jya tenang.

"Oke deh."

Kemudian Doni meninggalkan Jya sendirian.

"Aneh si Jya tumben ga mao gue ajak ke kantin, apa dia marah sama gue? Atau jangan-jangan dia punya temen baru?" Batin Doni seperjalanan ke kantin sendirian.

Semantara itu dikelas, Dita menghampiri Jya dan berkata, "Jyaaa? Kantin yuk!"

"Gue ga bisa, lagi sibuk." Jawabnya ketus. Dita udah tau Jya bakal lupa kalo dia budaknya sekarang jadi Dita udah siapin kejutan buat Jya.

"Anterin atau gue sebar?" Dita mengeluarkan sesuatu dari sakunya, bukan hp melainkan sebuah foto.

"Lu niat banget ya sampe dicetak segala. Lu pikir gue bakal takut?"

"Oh kamu mau aku sebar? Okay, ehhh... semua wakil ketua punya pengu-" Sorak Dita.

Sontak membuat Jya panik dan menutup mulut Dita dengan tangan besarnya. "Oke gue anter ke kantin." Ujar Jya pelan kemudian melepas tangannya.

"gitu dong dari tadi." Dita berhasil menyeret Jya ke kantin bersamanya. Di perjalanan Dita tertawa puas melihat ekspresi fans-fans Jya yang kecewa, dan banyak juga cowok-cowok yang naksir Dita seketika mundur setelah menyimpulkan bahwa saingan mereka adalah seorang Jya.

***

Pulang sekolah mereka berdua menghadiri rapat pengurus untuk menentukan ide festival beberapa minggu lagi. "Aku tetep cafe, ketua kelas gimana?" Kata Dita sambil mengedipkan mata pada Jya.

"Baiklah kita gunakan ide Aditya saja." Jawab Jya. Karena itu satu-satunya cara untuk menegakan keadilan.

Akhirnya konsep festival sudah diputuskan.

***

Lama kelamaan Jya mulai terbiasa dengan rutinitasnya bersama Dita. "Pr Kimia belum buat lagi, astaga!" Kata Dita sambil menepuk jidatnya. "Lu sibuk banget ya sama rencana festivalnya?" Respon Hawa.

"Ya gitu deh, tapi gue tenang tinggal suruh Jya aja yang ngerjain nyiahaha." Jawab Dita sambil mencari buku Pr nya ditas.

"Eh! Buku Pr gue kemana?! Lu ada ngambil ga?" Tanya Dita sambil mengguncang bahu Hawa.

"Eh buset Dit. Cari yang bener dulu baru nuduh."

"Eh sumpah ga lucu ya Wa!"

"Gue ga ada ngambil tau!"

Beberapa saat kemudian Jya datang menghampiri Dita dan Hawa yang sibuk celingak-celinguk mencari-cari sesuatu.

"Kalian ngapain?" Tanya Jya sambil membenahi posisi kacamatanya dengan telunjuk.

"Jya... buku pr gue ilang." Kata Dita dengan ekspresi sedih.

Jya memukul pelan kepala Dita dengan sebuah buku tipis dan berkata, "nih buku lu."

"wah bener! Makasi ya Jya! Lu emang penyelamat gue!" Jawab Dita girang sedangkan Hawa yang merasa dirugikan pergi meninggalkan mereka berdua.

"Sekalian kerjain Prnya dong. Oiya lu ketemu dimana?" Lanjut Dita.

"Gue ambil ditas lo tadi. Udah gue kerjain kok." Jya menepuk kepala Dita pelan dan kemudian berlalu.

"tumben-tumbennya dia ada inisiatif, biasanya juga disuruh dulu baru dikerjain. Tapi gapapa, ya lumayan hemat tenaga." Ujar Dita dalam hati.

***

Sepulang sekolah Jya langsung mengantar Dita pulang dan kembali lagi kesekolah untuk bermain basket bersama rekan satu tim nya. Kebetulan Doni juga rekan satu timnya dibasket.

"Lu belakangan ini sibuk banget ya?" Tanya Doni sambil mengipas-ngipas tubuhnya yang berkeringat.

"Gara-gara festival udah deket."

"Festival aja?"

"Maksudnya?"

"Ya siapa tau ada hal lain yang buat lu sibuk. Cewek mungkin?"

"Gue lagi ga pengen nyari cewek Don."

"Apa?! Lu lagi pengen nyari cowok dong? Plis jangan gue!"

"Paan sih!? Maksudnya gue lagi ga pengen pacaran."

"Oh gue kirain mau banting stir."

"Yagalah gue masih normal ga kayak lo menyimpang." Jya langsung berdiri dan merebut bola dari pemain lain lalu melakukan shoot three poin nya.

"Entah kenapa gue makin curiga." Batin Doni.

***

"Jyaaaa bangun!!" Adam berusaha membangunkan adiknya yang masih tertidur pulas.

"Kak ini hari minggu!" Bentak Jya setelah beberapa saat sebelumnya tarik menarik selimut dengan Adam.

"Kamu dicariin tuh sama Dita, cepet cuci muka sana."

"Mau apa lagi tuh cewek?!" Ujar Jya dalam hati nya yang panas pagi itu. Jya berdiri kemudian beranjak kekamar mandi. Sedangkan Adam membereskan tempat tidur adik kesayangannya.

"Mau apa?" Tanya Jya pada Dita yang terduduk dibangku taman belakang.

"Pagi Jya!" Dita menoleh kebelakang dan tersenyum. Jya tampak terpelongo melihat senyuman Dita, mungkin karena ini pertama kalinya Jya melihat Dita benar-benar tersenyum kearahnya.

"Lu mau apa kesini?" Kata Jya setelah hening beberapa saat.

"Pagi?" Dita memiringkan kepalanya kekanan dengan ekspresi yang sangat manis.

"Iya-iya pagi. Kenapa pagi-pagi kesini?"

"Hihi engga cuma mau ngajak kamu jalan-jalan aja kok. Belakangan ini aku liat kamu kayaknya kecapekan banget."

"Kamu seharusnya tau kenapa aku capek."

"Aku tau kok festival udah deket. Tapi kamu juga perlu yang namanya refreshing."

Jya berjalan pelan mendekati Dita dan duduk disebelahnya. Menatap Dita dengan tajam dan menepuk kedua pundaknya dan berkata, "dasar ga tau diri."

"A-apa?" Wajah Dita memerah karena Jya yang sangat tidak terduga.

"Akh.. emang nya kamu mau ajak aku kemana?" Jya melepas tangannya lalu berdiri dan sedikit melakukan peregangan pada tangannya.

"Tadi maunya aku ajak kamu ke cafe sekalian nyari referensi dekor festival nanti. Tapi kalo kamu ga bisa gapapa kok." Dita akhirnya sadar sebenarnya yang membuat Jya lelah bukan hanya pekerjaannya sebagai ketua kelas melainkan permintaannya selama ini.

Mungkin ia sedikit kejam selama ini, bayangkan saja hanya karena cinta tak dibalas. Dita sampai-sampai mengancam Jya dengan barang pribadinya sendiri.

"Aku free kok." Jya menatap Dita dengan senyuman, mata mereka bertemu dan seakaan ada sihir yang membuat Dita enggan melepas pandangannya pada bola mata Jya yang sedikit terhalang biasan cahaya kaca matanya.

***

"Aku mau pulang." Kata Jya setelah melihat antrean pengunjung didepan sebuat cafe terkenal.

"Ehh? Baru aja sampe."

"Kalo sepanjang ini, kapan masuknya? Cari cafe lain saja." Jya meninggalkan barisannya dan Dita yang tampak kesal.

"Kita mau kemana sih?" Keluh Dita yang tertinggal dibelakang Jya yang berjalan sangat cepat.

"Ga usah banyak omong, ikutin aja." Seperti biasa Jya sedikit kasar pada Dita.

Mereka akhirnya sampai disebuah cafe kecil dekat rumah Jya. Interiornya sangat sederhana dan ringan, walau sangat sederhana namun terkesan classic. Sangat cocok dengan tema cafe mereka kali ini.

Dita memesan pake lunch dan Jya hanya memesan ocha. Dita baru tau ternyata Jya tidak terlalu suka makan diluar. Ia sangat menghargai kakaknya yang setiap hari memasak untuknya.

Selagi menunggu pesanan mereka datang, Jya membicarakan seputar akustik band yang akan tampil saat festival nanti.

Tanpa disengaja Doni lewat didepan cafe itu dan melihat Jya sedang asik mengobrol dengan seorang perempuan.

Doni yang hendak kerumah Jya, jelas mengurungkan niatnya dan berencana memata-matai mereka. Doni memasuki cafe itu dan duduk agak jauh dari Jya namun ia masih bisa melihat jelas sahabatnya itu.

"Tu kan bener Jya punya kecengan." Ujar Doni.

"Selamat siang mau pesan apa?" Seorang pelayan menghampiri Doni dengan ramah.

"Mbak itu pelanggan yang disana mereka pacaran ya?" Entah apa yang Doni pikirkan. Ia hanya penasaran setengah mati.

"Engh.. saya rasa begitu."

"Apa mereka sering kesini?" Gerak-gerik Doni sudah seperti seorang detektif saja.

"Saya kurang tau, jadi mau pesan apa?"

"Nanti saja.." Pelayan itu tampak kecewa lalu beranjak.

***

"Wahh ini enak sekali!" Kata Dita setelah mencicipi pesanannya. Jya nampak sangat menikmati teh nya, sedangkan Doni masih memata-matai mereka berdua dan sesekali berpindah tempat.

"Jya kamu harus coba ini."

"Iya kapan-kapan."

"Nih coba deh dikit." Dita menyendok makanannya dan hendak menyuapi Jya.

"Engga usah."

"Dikit aja, ayo aaa.."

Jya akhirnya menyuapnya dan mengunyah dengan sangat pelan. "Gimana enak kan?"

"Hm enak sekali." Dita bisa melihat jelas raut wajah Jya yang malu-malu tapi mau untuk mengungkapkan jika makanan ini memang enak.

Doni tampak sangat tak percaya apa yang ia lihat barusan. Doni kemudian ingat Jya pernah bilang bahwa ia sedang tak ingin pacaran. "Dasar munafik!!" Kata Doni yang sedang menahan amarahnya dengan mengepalkan tangannya.

"Apakah anda ingin memesan sekarang?" Pelayan yang tadi datang lagi menghampiri Doni yang berpindah-pindah tempat.

"Enggak!" Bentak Doni kemudian pergi keluar cafe itu.

***

Doni terduduk sendirian disebuah taman dekat kompleks rumahnya. "Gue ga nyangka Jya udah pinter boong sekarang." Mulai terdengar isakan Doni, ia merasa sangat dihianati oleh sahabatnya.

"Padahal kalo gue ada apa-apa, pasti ceritanya kedia. Kenapa dia engga? Jangan-jangan dia ga anggep gue sabagai sahabatnya dari dulu." Doni mengusap air matanya dan mengacak-ngacak rambutnya frustasi.

Sementara itu..

Dita dan Jya sudah selesai dengan urusannya di cafe itu, dan memutuskan untuk pulang. Jya mengantar Dita sampai didepan rumahnya.

"Makasi ya udah nganterin." Kata Dita dengan senyuman.

"Hm."

Dita berbalik dan membuka pintu rumahnya, namun ia tak kunjung masuk. Jya masih menunggunya untuk masuk kerumah. Dita menutup kembali pintu rumahnya dan kembali menatap Jya.

"Hei.. menurut kamu aku itu gimana sih?" Dita memberanikan dirinya untuk menatap Jya.

"Eng-"

"Stop! Ga usah dijawab, ga jadi!" Cegat Dita kemudian ia berbalik, masuk kedalam rumah dengan terburu-buru, dan membanting pintu.

Jya hanya terdiam dan melangkahkan kakinya menjauhi rumah Dita.

***

Keesokan harinya saat pulang sekolah Jya sudah standby didepan kelas menunggu Dita yang masih beres-beres didalam kelas.

"Eh sebelum pulang aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Kata Dita saat mereka sudah berjalan berdampingan.

"Ngomong apa?"

"Kita ke atap yuk."

"Yaudah."

Akhirnya mereka berdua berjalan ke atap tanpa berbicara sepatah kata pun. Sesampainya disana mereka berdiri berhadap-hadapan, tampak jelas ekspresi gugup diwajah Dita. Jya hanya bersender malas pada pintu atap.

"Emm.. Jya pertama gue mau minta maaf. Gue sadar selama ini gue terlalu kekanak-kanakan. Ga seharusnya gue ngancem-ngancem lo kayak gini, gue bener-bener minta maaf. Gue harap lo mau maafin gue, gue juga bakal hapus semua aib lo. Sebenernya dari dulu gue pengen akrab sama lo, gue-"

Belum selesai Dita mengungkapkan semuanya, tiba-tiba Jya menarik tangannya dan menekan bahu Dita, mengarahkannya kepintu atap. Kini mereka bertukar posisi.

Jya menatap mata Dita sekejap lalu dengan cepat mencium bibir tipis Dita. Ciuman mereka hanya bertahan beberapa detik, karena Dita mendorong Jya menjauh.

Wajah Dita memerah dan ia tampak terkejut setengah mati, Dita hanya menutupi mulutnya dengan tangan lalu membuka pintu atap dan bergegas menuruni anak tangga.

"Kenapa Jya cium gue?! Kenapa dia udah berani cium gue?! Dasar cowok bejat! Dasar!" Ujar Dita dalam hati, ia berlari sekuat-kuatnya sekencang-kencangnya. Ia tak ingin ada yang melihatnya menangis.

Sementara itu Jya yang melihat ekspresi Dita langsung terduduk lemas. "Tadi kenapa gue cium dia?" Jya memegangi kepalanya kemudian kembali bangkit dan berusaha agar tidak pingsan saat menuruni anak tangga.

***

Kak aku pulang.." kata Jya saat sampai dirumah.

"Jya cepet sini kakak lagi skype-an sama mama." Jawab Adam dari ruang tamu.

"Kakak aja aku lagi capek." Jya melempar tasnya kelantai dan berjalan sempoyongan menuju kamarnya.

Adam segera mengakhiri panggilannya dan memeriksa adiknya yang terdengar sangat lesu. "Astaga Jya! Kamu kenapa!" Adam mendapati adiknya terduduk didepan pintu kamarnya dengan wajah pucat.

"Aku gapapa kok."

"Ga papa apanya? Kenapa kamu lemes gini sih?" Adam membantu adiknya berdiri dan masuk kekamar.

"Aku juga ga tau sebenernya aku kenapa."

"Gimana bisa ga tau kan kamu yang bawa badannya. Disekolah kamu main basket sama superman?" Adam menggoda adiknya yang berusaha mengganti bajunya.

"Kak aku bener-bener ga tau. Intinya aku capek banget hari ini." Jya menyerah membuka kancing bajunya karena kepalanya sudah pusing dan matanya kunang-kunang. Ia terduduk lemas dikasurnya.

Adam kemudian duduk disebelahnya dan membukakan kancing baju adiknya dan berkata, "kakak udah sering bilang jangan capek-capek. Sekali-sekali kamu tu harus istirahat, besok kamu jangan sekolah aja ya? Papa mama juga mau pulang besok. Kita sekeluarga dirumah aja, oiya gimana kalo kita undang Dita buat makan malam lagi?"

"Engga!" Jya mencengkram tangan kakaknya yang sedang membuka kancing baju sekolahnya. "Maksudku jangan dulu kak, Dita pasti punya kesibukan juga." lanjut Jya yang cengkramannya mulai melemas.

"kalian berantem ya?" Tanya Adam yang awalnya sangat terkejut.

"Enggak lah."

Setelah membuka semua kancing baju adiknya, Adam menatap Jya lalu tersenyum dan mengusap rambut adiknya. "Kalian lucu banget." Lalu berjalan keluar kamar Jya.

***

"Dit kok lu diem aja dari tadi pagi?" Tanya Hawa yang merasa janggal dengan sikap temannya.

"Wa, kalo ada cowok yang cium kamu tanpa alasan itu artinya apa?"

"Hah?! Lu ciuman sama siapa?!"

"Engga bukan gue, kan cuma nanya."

"Oke deh oke. Menurut gue tu cowok nafsuan."

"Nafsu???"

"Eh engga deh becanda, pasti ada alasannya ga mungkin banget tiba-tiba nyium tapi ga tau kenapa."

"Kira-kira kenapa ya?"

"Nah itu nafsu mungkin salah satunya."

"Hawa!"

"Ahahaha becanda-becanda. Terus abis dicium reaksi lu gimana?"

"Gue langsung dorong dia."

"Tukan lu yang ciuman, lol."

Dita menutup mulutnya dengan tangan dan menatap Hawa yang berhasil membongkar semuanya. Hawa tersenyum jahat dan mau tidak mau Dita menceritakan semuanya.

"Oke gue ambil kesimpulan dari cerita dramatis dan bertele-tele tadi. Ada dua kemungkinan, pertama dia suka sama lo yang kedua dia nafsu sama lo."

"Gue ga abis pikir deh, dan sekarang orangnya malah ga masuk. Dasar ga gentle."

"Jadi sekarang lu maunya apa? Lanjutin ciuman yang tertunda itu?"

"Apaan sih ya engga lah. Dia harus minta maaf."

"Abisnya lu kayaknya nyariin dia banget, tadi gue nanya Doni katanya Jya izin soalnya nyokap bokapnya mau pulang."

"Bodoamat deh Wa, yang penting tu robot harus minta maaf sama gue!"

"Bilangnya ga peduli tapi dicariin, hadehhh." Ujar Hawa dalam hatinya.

***

Jya hanya berbaring dikasur panjangnya yang terbalut sprai putih bersih, dikelilingi bantal-bantal kecil yang membuatnya nyaman sementara kakaknya sibuk membersihkan rumah dan menyiapkan makan siang.

Jya terus saja ingat kejadian kemarin, ciuman pertamanya yang sangat memalukan. Bagaimana tidak memalukan? Ciuman pertamanya ditolak dan itu membuatnya demam sekarang. Ditambah lagi, entah apa yang mengerakkannya kemarin sehingga mencium bibir Dita cewek centil yang telah memperbudaknya. Sangat tidak masuk akal.

Jya tak tahan lagi dan memutuskan untuk curhat pada Doni, ia meminta Doni datang kerumahnya pulang sekolah.

Dengan tangan kecilnya Doni mengetuk pintu rumah Jya, Adam segera membukanya dan mempersilahkan Doni untuk masuk.

"Bukannya bantuin kak Ad, lu malah males-malesan dimari." Celetuk Doni sambil ikut berbaring dikasur Jya.

"Gue ga enak badan."

"Terus yang jemput nyokap bokap lu siapa?"

"Mereka naik taksi, entar malem sampenya. Eh Don gue mau cerita sesuatu, tapi lu jangan manfaatin gue ya."

"Maksudnya manfaatin lu apa?"

"Ya misal gue udah ceritain ni, lu malah pake buat bahan anceman terus meres gue."

"Ni cerita pasti lucu banget."

"Ga lucu banget sih cuma agak 18+"

"Wah lu mimpi basahnya parah ya tadi malem makanya sampe ga masuk? Siapa ceweknya? Siapa?" Doni mulai bersemangat.

"Engga bukan, ini bukan mimpi. Janji dulu ga cerita ke siapa-siapa."

"Iye-iye janji, cowok sejati tak ingkar janji."

Jya menceritakan semuanya pada Doni yang sangat fokus menyimak setiap penggalan cerita Jya dan sesekali membayangkannya.

"Menurut analisis dan sedikit pengalaman gue sama cewek. Kalo reaksi Dita kayak gitu, ada dua kemungkinan. Pertama nafas lu bau, kedua dia malu soalnya lu bego banget ga bisa nyari timing yang pas. Segitu nafsunya lu sama dia."

"Gue lagi stres, bisa ga stop ceramahin gue. Oke-oke gue yang salah, tapi gue bener-bener ga tau kenapa gue cium Dita pa-" belum selesai Jya berbicara tiba-tiba Adam masuk dan berteriak, "apaaaaa?! Kamu cium Dita?!"

Sontak membuat Doni dan Jya terkejut dan saling tatap-tatapan, kemudian Doni langsung berdiri dan pamit meninggalkan Jya dan Adam.

"Coba jelasin ke kakak sebenernya apa yang terjadi diantara kalian?"

"Ga ada apa-apa kak, aku cuma-" lagi-lagi kalimat Jya dipotong

"Apa? Cuma apa? Siapa yang ngajarin kamu cium-cium anak orang? Inget kamu itu masih kecil!" Mungkin ini kali pertamanya Jya melihat kakaknya begitu marah padanya.

"Aku tau, aku sadar, iya aku salah aku minta maaf. Tapi kakak masak ga pernah nyium cewek tanpa alasan?"

"Jangan kamu lempar pertanyaan sama kakak, itu memang salah kamu. Kamu harus minta maaf tapi bukan sama kakak tapi sama Dita." Adam keluar kamar Jya dengan sedikit membanting pintu.

Jya memutuskan untuk meminta maaf pada Dita sore itu juga, ia bergegas bersiap-siap dan keluar rumah lewat akses rahasia nya yaitu keluar lewat jendela kamarnya dan berjalan perlahan diatas genteng rumahnya dan melompat bebas dihalaman samping lalu memanjat tembok untuk keluar.

Ia berlari dengan kencang ditemani dinginnya udara senja. Sesampainya didepan rumah Dita, Jya menarik nafas panjang dan meneriakkan nama Dita. Beberapa detik kemudian jendela lantai dua sebelah kanan terbuka, itu Dita dengan ekspresi terkejut melihat Jya didepan rumahnya melambaikan tangan dengan keringat yang tumpah ruah. Dita segera turun dan menemui Jya.

"Kamu ngapain disini?!"

"Aku mau ketemu kamu." Nafas Jya masih gak beraturan

"Iya mau ngapain? Mau mesum lagi?"

"Iya masalah mesum itu, aku bener-bener minta maaf. Aku ga bermaksud, aku tau pasti kamu sekarang berfikir kalo aku ini brengsek bejat atau apalah. Aku berani sumpah, aku juga ga tau kenapa aku pas itu cium kamu. Maaf ya?"

"Kamu pikir aku bakal langsung maafin kamu setelah apa yang terjadi kemaren dan kamu baru sekarang minta maafnya?"

"Kamu mau aku jadi budak kamu lagi aku gapapa, please Dita maafin aku."

"Jya aku ga ngerti sekarang sama kamu, dulu kamu tu kayaknya benci banget sama aku sekarang kamu malah mohon-mohon. Aku kira km cium aku cuma buat ngancurin harga diri aku ternyata kamu bener-bener pengen ciuman ya pas itu."

Jya hanya terdiam mendengar kata-kata Dita. Memang benar apa yang Dita katakan, itu semua seharusnya benar namun ada bagian yang keliru masalah menciumnya untuk menghancurkan harga diri semata.

Dita meraih lengan baju kanan Jya dan berkata, "Jya kamu suka ya sama aku?"

Rasanya seperti ada sebuah panah yang menusuk hati Jya, entah apa jawabannya tapi perasaannya menyatakan itu lah yang selama ini ia rasakan. Mengapa ia baru sadar sekarang?

Dita cewek berparas cantik itu sebenarnya sudah menarik perhatiannya saat MOS namun perasaannya terkikis sedikit demi sedikit karena melihat saingannya yang begiu banyak dan ternyata sifat Dita yang sangat centil.

"Hey jawab.." lanjut Dita sambil menarik-narik lengan baju Jya.

"Aku...















Suka sama kamu."

"Iya aku suka sama kamu dari dulu, maaf baru bisa bilang sekarang, maaf selama ini aku bersikap seolah-olah benci sama kamu. Kamu mau kan maafin aku?"

Dita tersenyum lebar dan tanpa ia sadari, Dita menangis tersedu-sedu dan berkata, "iya aku maafin kamu, walaupun kamu jahat banget sama aku selama ini."

Jya menarik Dita untuk jatuh kepelukannya, mereka berpelukan diudara sore yang dingin dan tidak menghiraukan yang terjadi disekitar mereka. Dunia serasa milik berdua.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Berusaha untuk tenang itu sangat sulit, bagaimana tidak sulit? Orang yang sangat-sangat kau sukai menyatakan cinta padamu bahkan sekarang ia ada didepanmu dengan wajah yang sendu hampir menangis meminta maaf padamu.

Jya aku benar- benar menyukai mu, bahkan sampai sekarang. Setelah semuanya yang kau lakukan padaku, kini aku sadar ciuman mu waktu itu mungkin saja mengisyaratkan sesuatu.

Maaf kan aku juga terlalu cepat menyimpulkan sesuatu. Yang bisa ku lakukan sekarang hanya berusaha tenang dan membalah pernyataanmu.

.................................................................................................................

*Stt...* It's Secret

(Bagian dua)

"Hari ini aku ga mau pulang!" Kata Dita semangat. Pegangan tangan mereka tak putus-putus dari kelas hingga parkiran sepeda.

"Lah kenapa?" Tanya Jya heran dan sontak menghentikan langkahnya dan mempererat genggaman tangannya.

"Aku mau nonton kamu main basket aja, abis bosan dirumah."

"Eh ga boleh gitu dong nanti mama kamu curiga." Entah sejak kapan tepatnya namun sikap Jya mulai berubah sedikit demi sedikit. Dita pikir sikap dingin Jya memang bawaan dari lahir, ternyata tidak.

"Kalo gitu aku mau main dirumahmu aja, sekalian ketemu kak Dam."

"Engga bisa Ditaku, mama papa aku lagi dirumah sekarang. Kalo kamu dateng nanti pasti ditanya macem-macem." Jya mencubit pipi Dita dan menjelaskannya secara detail, Jya belum siap memperkenalkan Dita dengan orangtuanya karena hubungan mereka belum berlangsung lama.

Dita hanya cemberut dan mereka melanjutkan peejalanan. Tiba-tiba handphone Jya berdering dan itu panggilan dari Adam.

"Kenapa kak?.... Oh..... Apaaa?!?! Ga bisa gitu dong! Apa-apaan sih!...... Tapikan....... okedeh." Jya tampak kesal dan kebingungan.

"Dari kak Dam? Apa katanya? Kepo nihh." Dita berusaha menggali informasi.

"Iya kak Adam tadi yang nelfon, dan katanya papa mau aku ngenalin kamu ini terkait tradisi keluarga." Jya berusaha menjelaskannya dengan tenang, walau sebelumnya ia tampak sangat emosi.

"Tradisi keluarga? Apakah itu semacam pemujaan?"

"Engga-engga. Ini tradisi konyol keluaragaku sampai-sampai kak Adam sempat kabur dari rumah dan membawaku bersamanya. Tapi kalau dipikir-pikir tradisi itu ada benarnya juga."

"Heyy cepat jelaskan tradisi macam apa itu? Kau membuatku ketakutan sekarang."

"Kau akan tau ketika kau sampai. Percayalah bersiap-siap untuk tertawa."

.

.

.

Dita tampak canggung dan anggun pada saat yang bersamaan. Dengan turtle neck long dress dan rambut yang terurai ia menghadiri makan malam formal dihotel bintang lima. Di lobby seorang pria dengan jas menyambutnya, "Dita Sylan?" Tanya pria itu. Dita balas dengan anggukan pelan, "ikut saya.." perlahan langkahnya mengikuti pria itu kesebuah ruang privat.

Disana tampak sepasang suami istri dan dua anak laki-lakinya tersenyum ke arah Dita seakan-akan ia lah bintang tamu yang sudah ditunggu-tunggu.

"Malam nona sylan." Kata pria yang terlalu muda untuk disebut ayah itu dibarengi sambutan tangan yang kokoh.

"Malam pak." Dita hanya membalas jabatan tangannya dan menjawab salam walau ia tak terlalu yakin memanghil ayah Jya dengan sebutan apa.

"Dita duduk sini ya, biar hadap-hadapan sana Jya." Kata wanita yang juga tampak muda, bahkan lebih muda sedikit dari ibu Dita.

Dita duduk ditengah diantara ibu Jya dan kursi kosong disisi kirinya, kursi kosong itu akan diisi ibu Dita yang sedang dalam perjalanan. Ia akan datang terlambat karena ada urusan dikantornya.

Beberapa menit mereka hanya mengobrol dan lebih mengenal satu sama lain, ayah Jya mendominasi peecakapan sedangkan Jya tak banyak bicara, tampaknya ia sama gugupnya dengan Dita.

Ini acara formal pertama Dita dan terlebih lagi pertama kalinya ia makan malam bersama dengan keluarga pacarnya, Dita hanya berdoa agar semuanya berjalan lancar dan ibunya segera datang.

"Wah Dita ini bener-bener tipe om deh, ga salah Jya milih kamu dari beribu cewek yang om tawarin." Untuk panggilan om terasa sangat aneh.

"Permisi, maaf menunggu lama. Saya ibunya Dita, salam kenal." Akhirnya ibu Dita datang dan memperkenalkan diri juga meminta maaf dengan sedikit bungkukan. Berjalan dengan tenang kearah kursi kosong dan merapikan tatanannya. Kemudian tersenyum kearah yang lain, namun tidak pada ayah Jya.

Mereka saling menatap untuk beberapa selang lalu kemudian ibu Dita kembali berdiri dan menarik tangan Dita, "ma ngapain narik aku?!" Kata Dita yang diseret kekuar ruangan, meninggalkan Jya dan yang lain kebingungan.

"Mama ga mau liat kamu sama mereka lagi!" Mereka memasuki taxi dan pergi meninggalkan hotel.

Sementara itu, "Jya kamu ga bisa sama Dita lagi." Kata ayah Jya tenang.

"Loh kenapa pa?!"

"Pokoknya jangan! Sepertinya rencana papa harus dimajukan, besok kamu ikut papa ke luar negeri!"

"Papa ni kenapa sih! Tadi bilang suka sama Dita sekarang aku malah disuruh ikut papa sama mama!" Jya yang emosi pun berdiri, tampak Adam berusaha menenangkan Jya.

"Gausah membantah kamu, kalau papa bilang pergi ya pergi!" Kini ayah Jya juga emosi dan berdiri menunjuk-nunjuk anaknya.

"Papa jelasin ke aku sebenernya ada apa?! Aku ini bukan boneka papa yang harus nurutin segalanya! Nikah mudalah, tradisi lah, atau apalah itu!"

"Dita itu saudari kamu! Dita itu anak haram papa! Puas kamu?!"

"Apa pa?! Anak haram? Jadi dulu papa selingkuh?! Papa benar-benar keterlaluan, aku ga sudi punya papa kayak papa!!!" Kini sebuah rahasia telah terkuak, Adam pun tampak sangat terkejut dan terpukul. Namun berbeda dengan ibu Jya, mungkin ia sudah tau kebenaran itu jadi ibu Jya hanya bersikap tenang.

"Kurang ajar kamu!" Sebuah tamparan keras melayang dipipi kiri Jya. Seisi ruangan hening sesaat, lalu Jya tanpa sepatah kata pun pergi dari ruangan itu dan menghilang semalaman.

.

.

.

Keesokan harinya Dita yang tidak tau apa yang terjadi hanya bisa meratapi makan malamnya berantakan karena ibunya yang tiba-tiba saja menyeretnya.

Lama Dita menunggu sosok Jya datang, ia hendak meminta maaf atas kekacauan kemarin. Namun tampaknya hari itu Jya tidak sekolah.

Sepulang sekolah Dita, Hawa dan Doni mencari kerumah Jya namun tampak kosong dan papan nama ditembok depannya hilang. Apa mungkin Jya pindah rumah begitu saja karena kejadian kemarin? Apa ia sangat marah pada Dita dan ibunya?

Dita terus menghubungi Jya namun nihil, tak satupun bisa dihubungi. Dita hanya bisa menerima keadaannya sekarang, dimana mentarinya menghilang dan menyisakan awan mendung dihari-harinya.

.

.

.

(12 tahun kemudian)

Sepatu mengkilat dengan setelan jas rapi dan tak ketinggalan rambut klimisnya Jya disambut kakak tercintanya bersama anak dan istrinya ditanah air.

"Gimana perjalanannya?" Tanya Adam sambil mengacak-ngacak rambut adik kesayangannya.

"Sedikit melelahkan, namun tak semelelahkan penantian panjangku untuk kembali ke Indonesia. Aku akan segera menemui pujaan hatiku, kakak bawa saja barang-barangku. Aku akan pakai taxi." Jya dengan semangat berlari kecil menghampiri sederet taxi-taxi yang menunggu penumpang.

"Baiklah hati-hati dijalan, kami akan menunggu dirumah!" Teriak Adam.

Jya tumbuh dengan baik dan sekarang ia sudah mapan, dan mantap menikah dengan satu-satunya kekasi pemilik hatinya, Dita. Ia hanya berharap Dita masih ada dikotanya, setelah bertahun-tahun berlalu mungkin saja ia sudah pindah rumah.

Tapi bagaimana dengan status keluarga? Ternyata selama diluar negeri Jya juga mengurusi status kekuarganya, penantian panjangnya berbuah manis. Akhirnya ia terlepas dari kekuarganya dan tidak menyandang status ayahnya lagi, selain tercoret dari daftar pewaris ia juga harus sedikit mengganti namanya dari Jo Yusuf Anwar menjadi Jonnatan Yusuf saja, namun julukan Jya masih ia pakai.

Kira-kira setengah jam berlalu ia kini sampai dirumah Dita, rumah yang merupakan saksi bisu pernyataan cinta Jya pada Dita dulu. Perlahan namun pasti Jya melangkahkan kakinya kedepan pintu dan menekan bel.

Beberapa saat kemudian seseorang membuka pintu, dan ia lah yang sedang ditunggu-tunggu. Jya masih dapat mengenalinya, dari matanya garis bibirnya persis seperti dulu. Kini pujaan hatinya sudah besar sama sepertinya, inilah saatnya Jya menyatakan semuanya.

Dita tampak terkejut dan hanya diam saja menatap tak percaya cinta masa SMA nya kembali menemuinya, persis saat ia ada dirumah. "J-jya?" Tanya Dita ragu.

"Iya ini Jya, aku sangat merindukanmu!" Bahasa keduanya menjadi baku karena sudah lama tak bertemu, Jya meraih tangan kekasihnya dan mengecupnya perlahan.

"Dita aku kembali kesini untuk menjemputmu, ikutlah bersamaku. Kini aku sudah memiliki semuanya, bahkan aku sudah membuang marga kekuargaku agar kita bisa bersama. Maukah kau-" belum selesai Jya mengucapkan kalimat pelamaran. Tiba-tiba seorang anak kecil menyelinap diantara kedua kaki Dita dan menatap tajam Jya.

"Mama, dia siapa?" Tanya anak itu, dan ia memanggil Dita dengan sebutan mama. Sontak Jya menatap Dita yang beraut wajah sedih. Perlahan Jya melepas genggamannya, dan berlutut agar ia sejajar dengan anak itu.

Air mata yang hangat mengalir perlahan dipipi Jya, ia tersenyum. Tersenyum sangat lebar dan mengusap kepala anak manis itu dan berkata,











"nak aku paman mu."






-The End-



Kembali ke Beranda