Hari kamis telah tiba, seperti biasa malam ini kita akan menelusuri suatu rumah kosong yang terkenal cukup angker di pinggir kota. “Bella, Tiara, seperti biasa nanti malam kita menelusuri rumah angker di pinggir kota." kata Vanya. “Siap.” sahut Bella dan Tiara.
Malam pun tiba, mereka sampai di rumah tersebut. Satu per satu mereka telusuri kamar yang berada di rumah tersebut. Pada akhirnya, mereka sampai di kamar Nina. Nina adalah salah satu anak dari pemilik rumah ini. Rumah ini tidak ditempati karena ada kasus pembunuhan Nina, yang pada saat itu dibunuh di kamarnya. Namun sayangnya, belum diketahui pelaku atas pembunuhan Nina.
Saat memasuki kamar Nina, mata Vanya tertuju pada sebuah buku yang bertuliskan “Nina Diary”. Lalu Vanya mengambil buku itu dan berkata, “Nina Diary, kisah tentang Nina mungkin semuanya ada di sini.”
Satu per satu halaman tersebut dibuka, namun belum dibaca, sampai pada akhirnya ia melihat tulisan di akhir halaman buku itu. Tulisan tersebut adalah:
“Jangan ambil buku ini, jangan baca buku ini, atau kamu akan merasakan akibatnya.”
Vanya, Bella, dan Tiara membaca tulisan di akhir halaman itu.
Vanya berkata, “Sudah, ayo kita pergi dari tempat ini dan ambil buku ini.”
Bella menjawab, “Bukankah kita tidak diperbolehkan untuk mengambil buku ini? Mengapa kau ambil buku ini?”
Tiara berkata, “Kembalikan bukunya, Vanya! Jika terjadi sesuatu pada kita atau salah satu dari kita, bagaimana?”
“Ck, gitu aja dipercayai. Dah lah pulang yu,”
Bella dan Tiara hanya bisa saling tatap-tatapan dengan wajah ketakutan dan cemas tentang hal ini. Mereka pun kembali ke rumah masing-masing.
Saat sampai di rumah, Vanya membaca sebagian buku Diary Nina. Lalu Vanya sampai pada halaman tepat 1 hari sebelum Nina dibunuh. Vanya membaca halaman tersebut, yang bertuliskan:
“Hari ini kucingku Miaw mati. Miaw kucing yang lucu dan pintar.
Miaw memiliki bulu berwarna hitam, mempunyai mata merah, dan telinga yang besar.”
Sampai pada akhirnya, Vanya membaca tepat saat hari pembunuhan Nina. Di buku Diary itu Nina menulis:
“Hari ini aku mimpi, bahwa kucingku Miaw mati. Pada saat itu aku melihat jam menunjukkan pukul 23:47.
Lalu aku merasa seperti ada seseorang di depan pintu. Saat itu hatiku sangat penasaran untuk melihat siapa yang di situ.
Maka kubuka pintu itu dan tiba-tiba aku melihat teman papaku.
Dan dengan cepat menusukkan sesuatu yang sangat tajam di tubuhku."
Aku terbangun sangat kaget pada saat itu. Aku melihat sekarang adalah jam 21:29, aku takut jika terjadi apa-apa maka aku putuskan untuk tidak tidur untuk semalaman, lagian besok juga libur.”
Vanya membalikkan halaman Diary selanjutnya. Vanya pun melanjutkan membaca cerita yang dituliskan Nina:
“Jam pun menunjukkan 23:47, aku benar-benar merasa bahwa ada seseorang di depan pintu.
Aku takut membuka pintu itu, dan aku lupa mengunci pintu itu.
Aku takut bahwa ada orang jahat, maka sekarang aku sedang sembunyi di selimut.
Orang itu pun membuka pintuku, dia berkata ‘Keluar Nina’ berkali-kali.
Aku melihat dia membawa senjata tajam, tolong dia sudah menemukanku.”
Vanya yang membaca cerita itu langsung merinding ketakutan. Ia langsung membuang buku itu ke arah meja belajarnya.
Tiga hari pun berlalu, Vanya ingin bersantai di depan rumah sekaligus mencari udara segar. Tiba-tiba ada 1 ekor kucing lucu, berwarna hitam, memiliki mata warna merah, dan telinga yang besar.
Vanya pun ingin memelihara kucing tersebut, “Sekarang namamu Nia yaa, ayo masuk ke dalam rumahku, Nia.”
Kucing tersebut diberi nama Nia, dia sangat begitu sayang dengan Nia.
Saat malam, Nia tertidur di samping Vanya. Vanya tidak mengetahui bahwa kucing itu adalah Nina.
Iya, kucing berwarna hitam, memiliki mata merah, dan telinga yang besar adalah ciri dari Miaw, kucing Nina.
Saat Vanya tertidur, kucing tersebut berubah menjadi Nina, dan menaruh buku Diary Nina di bawah kolong kasur.
Vanya terbangun karena terdapat suara di bawah kolong kasur. Vanya segera melihat apa yang ada di bawah kolong kasur. Saat melihat apa yang di bawah kasur, dia melihat Nina yang sembari memegang buku Diary-nya.
Vanya melihat itu lari ketakutan memojok di sudut kamarnya. Nina mulai berjalan ke arah Vanya, lalu berkata:
“Sudah kubilang jangan ambil buku ini, jangan baca buku ini, atau kamu akan merasakan akibatnya.”
Vanya tidak bisa berkata dan bergerak, sampai pada akhirnya Vanya melihat Nina membawa senjata tajam, dan…
“… Tolongg…”