Satriya terbangun saat mencium bau hangus tajam yang menusuk hidungnya. Seluruh hutan terbakar habis, dan entah kenapa Satriya sendiri tidak sadar sudah tertidur berapa lama. Hanya pohon beringin tempatnya bernaung saja yang masih kokoh, hijau dan rimbun.
Satriya lalu memutuskan untuk memanjat pohon itu sampai di puncak rantingnya.
Dari kejauhan, Satriya bisa melihat asap yang membumbung tinggi dari Gunung Merapi, serta lelehan lahar berwarna merah pijar yang masih mengalir di ceruk lekukan gunung.
"Apa... yang sebenarnya terjadi?" Tanya anak berkulit kecoklatan itu bertanya pada dirinya sendiri. Rambut gondrongnya yang hitam legam ditiup oleh angin yang terasa panas.
Satriya berusaha mengumpulkan kepingan memori, juga alasan kenapa dia bisa terbangun di tempat ini.
Namun, tiba-tiba Dada Satriya mulai terasa sesak, abu yang berterbangan dari tanah masuk ke paru-parunya. Satriya menutup hidung dengan baju. Tanpa alas kaki, dia berniat menapak tumpukan abu yang masih panas mengepul.
Di pikirannya hanya ada satu yang terpikirkan: keluar dari sini untuk mencari pertolongan.
Akan tetapi, saat kakinya menapak, ternyata ada angin yang menahannya, dedaunan dari pohon beringin itu rontok dan berterbangan membentuk suatu wujud. Wanita dari dedaunan.
"Satriya, apa kamu baik baik saja?"
"Eh... siapa kamu? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Hah... Mau bagaimana lagi... " Sosok itu mengambil nafas dalam. Entah dia punya hidung atau tidak. "Aku Centini. Aku ini adalah orang tua spiritual yang sudah merawatmu dari bayi. Sayangnya aku tidak bisa menjelaskan semua yang terjadi, kamu sudah lihat sendiri bencana alam ini, ini semua memang proses untuk membersihkan apa yang jahat dan menggantikannya dengan hal baru."
"Orang tua spiritual?" Satriya termangut-mangut, "berarti kamu ini ibuku, dong?"
"Ya, aku memang ibumu." Satriya seakan bisa melihat senyuman yang terbentuk di wajah sosok itu.
"Tapi, dimana orang tuaku yang asli? Dan kenapa aku bisa disini? Dan... kepalaku terasa sakit banget."
"Kurang asem... " Bisik Centini yang terdengar agak jengkel. "Mantra itu benar-benar sirna di saat yang tidak tepat, dan malah membuat ingatanmu jadi berantakan."
"Mantra? apa maksud Ibu?" Tanya Satriya keheranan.
"Sudah terlambat untuk menjelaskan semuanya sekarang. Yang penting saat ini kamu harus pergi dari sini secepat mungkin."
"Hah? Tapi bagaimana caranya? Aku saja nggak tahu lagi berada di mana."
Centini bersiul dengan keras, memanggil seekor naga putih yang muncul dari entah mana. Naga itu melesat ke angkasa, membumbung di atas awan. Naga yang sisiknya terdapat bulu-bulu lembut itu lantas melingkari badan Satriya dan membuatnya merasa nyaman.
"Nagapathi, bisakah kamu membawa Satriya ke tempat yang aman?" pinta Centini.
Naga itu mematuhi perintah Centini, dan dibawanya Satriya langsung ke tengkuk lehernya dengan kibasan ekornya.
"Terima kasih, dan sampai jumpa lagi... ibu." Satriya melambaikan tangan.
"Ya, sampai jumpa... putraku."
Centini tersenyum, lalu dirinya berubah menjadi sekumpulan daun yang hangus terbakar. Pohon beringin yang tadi kokoh berubah menjadi abu.
Nagapathi membawa Satriya ke atas langit, menembus awan kelabu. Satriya bisa merasakan angin yang berhembus kencang. Dia berpegangan pada bulu di leher Nagapathi agar tidak tertiup. Awan di bawah mulai jarang terlihat, ada beberapa pemukiman warga yang hancur, ada juga yang terkubur abu.
"Merapi sepertinya murka pada manusia, ya. Sebenarnya apa salah mereka sampai hal ini terjadi?" Satriya bergumam.
Lalu setelah pemukiman warga, terlihat juga beberapa tenda yang jaraknya tidak terlalu jauh. Rupanya disana berkumpul orang-orang yang masih berusaha untuk mengambil harta benda yang tersisa. Entah bagaimana bisa, mata Satriya bisa melihat mereka semua dengan sangat jelas.
Satriya menarik bulu Nagapathi.
Ingin sekali Satriya membantu manusia-manusia itu, karena mungkin saja mereka bisa memberitahu Satriya tentang mencari jati dirinya. Namun Nagapathi nampaknya menolak, dia hanya terbang lurus entah kemana.
Lalu, cukup jauh di sana, ada juga pepohonan yang masih berdiri kokoh, meskipun daunnya kering. Lalu ada sekawanan orang yang mengendarai sepeda motor dan mobil. Mereka tampak terburu-buru, takut gunung itu akan meletus lagi. Satriya teringat kalau lahar masih saja meleleh dari kawahnya.
Nagapathi mulai terbang rendah, dia mencari sebuah tempat untuk mendarat. Dia memilih sebuah rumah kosong di pinggir hutan bambu. Dengan lihai dia mengalihkan perhatian menggunakan hembusan awan dari hidungnya, lalu menyelimuti seluruh badannya.
Satriya turun di rumah itu, lalu Nagapathi menghilang begitu saja tanpa jejak.
"Lho... aku, kan, belum mengucapkan terima kasih... " Kata Satriya kecewa sambil berusaha mencari keberadaan Nagapathi di sekitarnya. Tapi, anehnya naga itu sama sekali tidak terlihat dimanapun.
Satriya melangkah menuju ke rumah itu, lalu membuka pintunya yang sudah lapuk, atap rumah itu sudah ambles sebagian, bahkan ada yang jebol. Daun-daun berserakan dalam rumah. Ada dua ruang tidur serta satu tempat tidur bambu yang masih utuh, juga dapur yang dipenuhi kendhil berserakan, serta kamar mandi yang masih menggunakan air dari sumur.
Entah kenapa, kepingan memori Satriya terbuka disini. Satriya mengambil salah satu kendhil dan mengamati isinya yang ternyata adalah makanan.
Tiba-tiba, Satriya teringat dengan sosok seorang gadis kecil yang dulu pernah menjadi teman mainnya. Tapi dia tidak bisa mengingat namanya. Hanya wajahnya yang cantik serta rambutnya yang kuning panjang saja yang masih terbayang jelas dalam benaknya.
"Sebenarnya siapa aku ini sebelumnya?"
Satriya duduk di kasur bambu, berharap ada sekelebat memori yang terbuka lagi. Namun, setelah beberapa saat, tidak ada yang terjadi, hingga akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari rumah itu.
Melihat arah matahari yang agak condong ke barat, Satriya menyadari kalau dia harus mencari tempat perlindungan yang lebih layak. Dia berusaha mengingat-ingat ke arah mana kerumunan orang tadi.
Menyusuri hutan bambu, mencari jalan setapak, melewati sungai kecil, dan ia akhirnya berhasil keluar dari hutan dan tengah menuju ke suatu daerah pemukiman. Disana ada beberapa tenda yang berdiri di lapangan desa. Beberapa perawat memasang posko darurat, lantas dia mendatangi mereka.
Mereka tertegun melihat keadaan Satriya. Dia langsung dirawat oleh mereka, diberi obat-obatan, luka-lukanya juga dibersihkan dan dibalut dengan perban. Dia lalu digiring ke salah satu tenda yang penuh dengan orang-orang yang tengah tertidur dan beristirahat.
Akan tetapi, orang-orang di sana menatap Satriya dengan tatapan aneh. Mereka melihat Satriya seolah-olah dia itu bukan manusia. Namun, Satriya menghiraukan mereka dan memilih untuk tidur di tempat yang tidak terlalu sesak, yang hanya beralaskan tikar.
Satriya bertanya-tanya dalam hati, apakah dia bisa bertemu lagi dengan Centini dan Nagapathi suatu saat nanti? Rasanya terlalu menyakitkan jika Satriya harus berpisah dengan orang yang merawatnya selama ini tanpa membawa kenangan apa-apa. Rasanya sangat hambar dan kosong.
Sekitar pukul sembilan malam, Satriya dibangunkan oleh seorang anak kecil yang terus menusuk-nusuk pipi Satriya dengan jemarinya.
"Hey, dia sudah bangun!" Anak lelaki itu memberitahu seseorang begitu Satriya membuka matanya lebar-lebar. Satriya memandang berkeliling kala itu, dan mendapati tenda yang sudah hampir kosong melompong dan hanya diterangi oleh lampu yang juga tidak terlalu terang.
Setelah teman perempuannya datang, anak yang membangunkan Satriya langsung melontarkan pertanyaan yang terdengar sedikit menyebalkan, sampai membuat wajah Satriya berubah masam.
"Nama Kakak siapa? Dan kenapa mata Kakak berwarna kuning? Kakak dari mana? Kayaknya Kakak nggak berasal dari sini, deh."
"Eh... Aku Satriya... " Satriya menjawab, tapi entah kenapa rasanya hanya itu saja yang mampu dia katakan.
"Oh, Kak Satriya, ya." Tanggap anak lelaki itu seraya menarik tangan Satriya dan mengajaknya keluar dari tenda. "Ayo, Kak, mereka sedang membagikan makanan sekarang. Kalau nggak cepat-cepat, nanti makanannya bisa habis!"
Anak itu berjalan dengan cepat di atas kaki mungilnya, sementara si anak perempuan itu mengikuti mereka berdua dari belakang. Jika dilihat dari tinggi badan mereka, kedua anak ini mungkin masih berusia enam atau tujuh tahun.
Kegelapan malam, juga suara teriakkan yang lantang dan gagah, serta suara-suara dari mesin yang entah apa langsung menyambut mereka saat tiba di luar, dan tampak pula orang-orang yang sedang mengantri di depan sebuah mobil truk yang membagikan bungkusan berisi makanan.
Jujur, Satriyas sebenarnya sangat senang karena bisa berada ditengah-tengah keramaian seperti ini. Meski ingatannya tentang hari-hari sebelumnya masih buram, Satriya yakin kalau hanya Centini dan Nagapathi saja yang menemaninya sejak dia lahir. Hanya mereka berdua yang tahu tentang keberadaan Satriya.
Akan tetapi, Satriya merasa seakan tidak mampu memasang senyuman di bibirnya setelah dia melihat wajah orang-orang yang ada di sana. Nestapa, rasa takut, kekecewaan, dan keputusasaan menghiasi wajah seluruh warga pengungsi.
Malam sudah semakin larut ketika Satriya dan kedua anak itu berhasil mendapatkan makanan. Satriya membuka bungkusan itu dan memandang nasi dan juga sayur tumis serta tempe tahu goreng yang ada di dalamnya.
"Ngomong-ngomong siapa nama kalian?" Tanya Satriya yang masih menatap makanannya dengan tatapan kosong.
"Ah, aku Jaka, Kak, dan ini Kiki." Jawab anak lelaki yang bernama Jaka itu. "Kami kembar lho."
"Yah, terlihat jelas, kok." Jawab Satriya sambil tersenyum masam, sementara matanya tengah mengamati luka-luka yang ada di sekujur tubuh kedua anak itu.
Kedua anak itu makan dengan lahap. Dan yang paling mengejutkan lagi, mereka berdua tetap tidak berhenti tersenyum sejak tadi. Setelah mengantri cukup lama, Satriya memang menyadari bahwa hampir semua anak-anak yang ada di sini masih tidak kehilangan senyum mereka.
Saat Satriya mengarahkan pandangannya ke arah Kiki, mata Satriya tanpa sengaja menangkap pemandangan lain yang berada tak jauh di belakang gadis kecil itu; yaitu setangkai bunga dengan kelopak berwarna putih yang tumbuh subur sendirian di antara rerumputan, di tengah-tengah lautan manusia.
"Oh iya, kalau dipikir-pikir, kok, kalian nggak makan bersama dengan ayah dan ibu kalian?" Tanya Satriya yang juga mulai melahap makanannya.
Setelah mendengar pertanyaan itu, senyum Jaka dan Kiki seketika raib begitu saja dan mereka lalu diam bagaikan patung. Namun, tak sampai hitungan detik, tiba-tiba senyum mereka kembali terbentuk di bibir, dan malahan sekarang senyum mereka lebih lebar dibanding sebelumnya.
"Ibu kami meninggal waktu kami masih kecil, Kak. Dan ayah jatuh ke dalam tanah saat Merapi meletus tadi pagi." Jelas Jaka.
"Jatuh ke dalam tanah?"
"Iya, Kak! Waktu itu, tanah di bawah kami tiba-tiba terbelah dan terbuka seperti mulut yang mau makan, Kak!" Ujar Kiki heboh.
"Dan kami bertiga hampir jatuh tadi, tapi untungnya ayah mendorong kami dan dia juga sempat berteriak menyuruh kami pergi jauh-jauh dari sana." Jaka mengakhiri ceritanya dan kembali makan.
"Saat kami sampai di sini dan menceritakannya pada polisi-polisi itu, mereka malahan menyuruh kami masuk ke tenda dan beristirahat." Tambah Kiki. "Oh! Tadi Kakak ingat, kan? Dengan polisi perempuan yang memeluk kita waktu kita mau masuk ke tenda?"
"Ah, aku ingat, kok." Kata Jaka. "Mbak polisi itu tadi menangis, nggak tau kenapa."
Polwan yang mereka bahas pasti menangis karena mendengar cerita Jaka dan Kiki, pikir Satriya. Sungguh kenyataan yang mengenaskan. Mata Satriya sampai terbelalak lebar karena saking terkejutnya. Tapi, fakta bahwa kedua anak ini masih bisa tertawa riang seakan tidak terjadi apa-apa, malah membuat Satriya jadi tambah bingung.
"Tolong... "
Suatu suara tiba-tiba terdengar dalam benak Satriya. Gambaran anak gadis berambut pirang yang ada dalam ingatannya pun ikut muncul bersamaan dengan datangnya bisikan yang lembut itu. Suara lemah seorang gadis kecil yang menggema dalam diri Satriya.
"BERHENTI!" Teriak Satriya membahana hingga membuat dunia di sekitarnya menjadi hening seketika. Semua mata yang kebingungan kini tertuju padanya.
Satriya bangkit berdiri dengan perlahan, lalu dia mulai melangkah melewati Kiki dan Jaka. Dia terus melangkah, di tengah-tengah kesunyian itu, sampai akhirnya dia berhenti di hadapan seorang tentara, yang sebelah kakinya masih dalam posisi terangkat.
"Kenapa Paman ingin menginjak bunga ini?" Tanya Satriya dengan nada mengancam.
Pria berseragam loreng dan berwajah garang itu tentu saja terkejut dengan tindakkan Satriya. "Apa katamu—"
"Kutanya sekali lagi." Suara Satriya terdengar semakin tajam. "Kenapa Paman ingin menginjak bunga ini? Kupikir suaraku sangat jelas."
Pria itu tampak sangat marah sekarang. Dia kemudian menurunkan kakinya ke tanah, tapi jarak sepatunya dan bunga itu sangat dekat.
"Apa kau tidak pernah diajari sopan santun, bocah tengik!" Pria itu langsung melayangkan tinjunya tepat ke arah wajah Satriya, namun, tiba-tiba saja daratan mulai berguncang hebat sebelum tangan pria itu menyentuh kulit wajah Satriya. Jeritan ketakutan seketika terdengar dari segala penjuru, dan semua orang langsung terjatuh di atas pantat mereka pada saat itu juga.
"Cih... gara-gara orang-orang seperti pamanlah, sang Gunung jadi murka!"
Gempa itu bahkan berhenti sedetik kemudian. Dan satu-satunya manusia yang masih berdiri di sana hanyalah Satriya seorang. Dia masih berdiri kokoh dan menatap geram pada tentara itu.
"Ugh!" Satriya jatuh berlutut. Kepalanya tiba-tiba terasa sangat nyeri bukan kepalang. Rasanya seperti kepala Satriya baru saja dilempar batu berkali-kali. Dia mencengkram kepalanya dengan keras. "Sakit banget! Ada apa ini! Argh!"
"Kak Satriya! Kakak kenapa!?" Jaka dan Kiki langsung menghampiri Satriya yang masih meringkuk di tanah.
"Anak ini...! Gempa tadi terjadi gara-gara anak ini!" Teriak si tentara yang kini sudah kembali bangkit berdiri. Dia terlalu panik hingga membuat pikirannya menjadi tak jernih. "Semua pasukan! Tangkap anak ini!"
"Hah!? Itu nggak mungkin!" Jaka berusaha melindungi Satriya.
"Iya... mungkin saja itu benar... " Bisik seorang warga.
"Gempa yang tadi itu bukan gempa yang seperti biasanya... "
"Anak itu pasti menggunakan ilmu hitam... "
Semua warga pengungsi serta pasukan-pasukan keamanan yang ada di sana ternyata menelan bulat-bulat kebohongan pria itu. Mereka menaruh keyakinan pada hal yang jelas-jelas tidak masuk akal dan terlalu jauh dari nalar manusia.
Para polisi dan tentara langsung mengambil langkah seribu untuk mengepung Satriya, Jaka dan Kiki. Mereka mengarahkan senjata mereka ke arah ketiga anak itu tanpa ragu.
"Hey! Kalian nggak boleh melukai Kak Satriya!" Teriak Kiki ketakutan. Air matanya mengalir deras di pipinya.
"Menyingkir dari situ! Atau kalian juga akan kami tembak!" Raung seorang polisi.
"Cepat laporkan semuanya pada Komandan!"
"Aku sudah menduganya! sejak awal aku memang sudah curiga pada anak itu! Dia bahkan memiliki mata kuning yang kelihatan bersinar!"
"Yang benar!?"
"Segera laporkan!"
Rasa nyeri yang dirasakan Satriya tiba-tiba lenyap begitu saja. Matanya yang kuning kini berpendar dan terpaku pada bunga putih yang berada tepat di bawahnya. Tapi, di saat itu pula, ada satu kepingan ingatan yang muncul dalam pandangan Satriya.
Di dalam kenangan itu, Satriya melihat sosok Centini yang tengah melangkah ke arahnya bersama dengan seorang gadis kecil berambut pirang, panjang dan amat lebat, sampai-sampai Satriya bisa merasakan kelembutannya hanya dengan melihatnya.
"Satriya, kemarilah. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, nih." Panggil Centini. "Satriya, perkenalkan, anak ini adalah Merapi. Dia adalah jiwa dari gunung ini."
"Hay, Satriya! Salam kenal, ya! Seperti kata Mbak Centini, namaku Merapi. Tapi kamu boleh memanggilku Mera, kok." Ujar anak yang periang itu. "Oh iya! Kamu mau nggak jadi temanku?" Gadis itu tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya ke arah Satriya.
"Ya, tentu saja." Tangan Satriya perlahan menyambut uluran tangan gadis itu.
Saat jemari Satriya bertaut dengan jari Mera, sesuatu yang aneh tiba-tiba terjadi, dan bayang-bayang masa lalu itu pun akhirnya pudar. Satriya ditarik kembali ke kenyataan masa kini. Namun, anehnya Satriya bisa mendengar satu suara yang berasal dari bunga mungil itu.
"Panggil namaku jika kamu membutuhkanku, Satriya... "
Suara itu, perkataan itu, seketika melenyapkan semua perasaan benci yang ada di dalam diri Satriya. Kebenciannya pada manusia telah hilang begitu saja. Satriya tidak tahu apakah perasaan bencinya terhadap manusia hanya hilang untuk sementara atau selamanya, tapi yang pasti, tubuh, pikiran, dan hatinya saat ini sudah terasa lebih baik dari sebelumnya.
Satria membulatkan tekadnya, kemudian dia berbisik pelan. "Baiklah... Jawablah panggilanku, Merapi."
"TEMBAK!"
"TIDAK!"
Sekonyong-konyong, timbul hembusan, atau mungkin ledakan angin yang amat kencang, sampai menghempaskan banyak orang ke belakang, termasuk para pasukan itu. Angin kencang itu berasal dari arah Satriya, seakan-akan dialah yang membuat hal itu terjadi.
Satriya bangkit berdiri.
Tanah di bawah Satriya tiba-tiba berguncang, dan tak lama kemudian tanah itu mulai terangkat ke atas membawa serta merta Satriya, Jaka, dan Kiki di atasnya. Tanah itu terus naik sangat tinggi ke langit, hingga terlihat seperti sebuah pilar atau batang pohon yang teramat sangat panjang.
Orang-orang yang ada di sana terperangah melihat pemandangan itu. Kejadian yang terlalu mustahil untuk terjadi dan tak dapat dicerna oleh akal orang biasa. Dari pada disebut malapetaka, pemandangan itu malah lebih terlihat seperti suatu keajaiban.
Setelah beberapa saat, pilar tanah itu akhirnya berhenti naik. Mungkin tingginya kira-kira dua ratus meter di atas permukaan tanah.
"A-apa yang terjadi, Kak!?" Jerit Jaka yang tampak sangat panik, sementara wajah Kiki dibanjiri oleh air mata. Kedua anak itu memeluk erat pinggang Satriya, karena tanah tempat mereka berpijak tidak bisa dibilang lebar.
"Kak! A-aku takut!" Cicit Kiki.
"Kalian tenang saja, aku akan melindungi kalian, kok." Kata Satriya.
"Halo, Satriya."
Seorang gadis berambut pirang keemasan tiba-tiba muncul di depan Satriya. Dia melayang di udara. Senyuman terbentuk di bibir menghiasi wajahnya yang cantik jelita.
Satriya melirik ke arah Jaka dan Kiki. Mata mereka tertutup rapat karena saking takutnya, sampai-sampai mereka tidak menyadari kedatangan gadis itu.
"Mera... " Wajah Satriya menjadi tenang. Dia benar-benar merasa sangat bahagia karena bisa bertemu dengan sahabatnya lagi setelah sekian lama. Dan, Satriya juga baru sadar kalau ingatannya ternyata telah kembali seperti semula. "Bagaimana kabarmu, Mera—"
Padahal Satriya berniat berbincang-bincang sebentar dengan Mera, tapi gadis itu langsung memotong perkataan Satriya.
"Aku senang karena kamu membutuhkanku, Satriya. Dan aku juga senang karena kamu telah memanggilku. Sudah lama banget, yah? Tapi... untuk saat ini, akan lebih baik kalau kita menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu, oke?"
"Ya... Aku paham..." Wajah Satriya berubah murung. "Aku juga baru kehilangan ingatanku tadi pagi, cuma sekarang ingatanku sudah kembali lagi. Tapi... rasanya... sangat lama... seolah-olah ingatanku memang sudah hilang selama bertahun-tahun... dan—"
"Setelah ini selesai, aku janji, aku tidak akan meninggalkanmu lagi seperti dulu." Kata Mera penuh tekad. "Hidupmu baru dimulai hari ini, Satriya. Kau masih ingat, kan? janji yang kita buat hari itu?"
Satriya menganggukan kepala pada pertanyaan Mera. "Kita akan mencari tempat baru untuk hidup bersama-sama seperti orang biasa. Aku, kamu, Centini, dan Nagapathi. Kita berempat... dan juga mereka yang membutuhkan kehidupan."
"Nah, karena waktumu sudah diulang kembali hari ini, jadi, ayo kita laksanakan rencana itu sesegera mungkin!"
Satriya tersenyum lega. "Baiklah kalau begitu. Ayo kita selesaikan dengan cepat."
Mera turun dari udara dan berpijak di tanah tempat Satriya berada.
Satriya menghentakan kakinya dengan pelan, dan pada saat itu pula pilar tanah itu langsung bergerak turun mengantarkan mereka kembali ke tempat semula. Orang-orang semakin terkejut karena mereka mendapati keberadaan Mera yang berdiri di samping Satriya.
"TEMBAK! TEMBAK! TEMBAK!" Teriakan barbar itu terdengar lagi, dan rentetan hujan peluru dalam sekejap menyerbu dari segala arah.
Namun, Mera mengangkat tangannya ke depan, dan tanah di sekitar mereka terangkat ke atas dan menangkis peluru-peluru itu.
"Sungguh manusia yang tak tahu diuntung." Mera mengibaskan tangannya, dan bersamaan dengan itu, dari dalam tanah muncul tanaman-tanaman sulur yang terlihat hidup. Sulur-sulur itu menyerang para tentara dan polisi yang menembak tadi. Satu per satu mereka dihempaskan dengan sekali pukulan, hingga pingsan.
"Sudah lebih ratusan tahun aku terus bertahan menghadapi siksaan kalian para manusia. Kalian membakarku, menebangku, dan menghancurkanku. Ya, aku memang hanya sebuah gunung. Tapi, kalian kadang terlalu bodoh untuk menyadari bahwa orang paling sabar sekalipun memiliki amarah dalam diri mereka. Dan seperti kata pepatah, malapetaka adalah nama lain dari murka orang yang sabar. Oh, maaf, maksudku gunung yang sabar." Mera tersenyum kecil.
Orang-orang di sekitar mereka diam bagai patung setelah melihat apa yang bisa dilakukan oleh gadis yang berdiri di samping Satriya. Mata mereka semakin terbuka lebar, dan beberapa bahkan jatuh berlutut.
Untuk sesaat suasana menjadi senyap setelahnya, namun keheningan dengan cepat dipecah oleh suara yang berasal dari angkasa. Jauh di langit, terlihat ada banyak helikopter yang sedang menuju ke tempat mereka.
"Hmm... sepertinya kau agak keterlaluan, Mera." Kata Satriya yang tersenyum pahit.
"Yah aku juga terpaksa." Jawab Mera seraya berbalik menatap para warga di sekitar. "Tapi sepertinya berita tentang hal-hal aneh yang terjadi di sini sudah sampai di telinga Pak Presiden, jadi situasinya mungkin bakal agak lebih panas sekarang."
"Hmm... Yah baiklah." Satriya masih mengamati keberadaan helikopter yang semakin dekat. "Tapi, tolong jangan bunuh mereka, Mera."
"Kamu tenang saja. Sudah terlalu banyak nyawa manusia yang melayang hari ini, dan semua itu karena ulahku. Lagi pula, aku juga nggak mau berurusan dengan Dewan." Jelas Mera. "Setelah tertidur selama sepuluh abad, aku akhirnya terbangun karena merasakan kedatanganmu. Namun, setelah kita bertemu, aku malah tertidur lagi karena ikatan itu. Benar-benar membosankan."
Satriya bertanya dalam benaknya, bagaimana rasanya tidur selama itu?
Mera menarik nafas dalam-dalam lalu dia pun menjelaskan banyak hal pada orang-orang. Mulai dari penjelasan mengenai dirinya sendiri yang merupakan jiwa dari Gunung Merapi, dan juga tentang bencana hari ini yang terjadi karena murkanya pada manusia.
Banyak yang memasang wajah bingung saat mendengar penjelasan Mera, tapi tampaknya mereka berusaha untuk menerima kenyataan itu setelah semua yang terjadi di beberapa menit terakhir. Kekuatan-kekuatan aneh yang ditunjukkan Satriya dan Mera rupanya sudah lebih dari cukup untuk dijadikan sebagai bukti.
Kemudian, Mera memerintahkan pada semua orang untuk pergi sejauh mungkin dari daerah Gunung Merapi. Dia bahkan terang-terangan menyatakan kepada mereka kalau sebentar lagi akan terjadi perang di sini.
Namun, tanpa keraguan sedikitpun, orang-orang langsung segera bersiap-siap untuk meninggalkan gunung ini. Para polisi dan tentara yang cukup waras juga membantu melancarkan proses evakuasi itu dan memastikan tak ada satupun orang yang tertinggal, termasuk orang-orang yang dibuat pingsan oleh Mera.
"Untuk saat ini, lebih baik jika kalian mengikuti mereka." Pinta Satriya pada Jaka dan Kiki.
"Tapi, Kak, kami sudah tidak punya siapa-siapa lagi... " Bisik Jaka sedih.
"Kami nggak punya keluarga di kota." Tambah Kiki.
Satriya bersyukur bisa bertemu dengan kedua anak ini. Meski baru beberapa jam saja, tapi Satriya merasa bahwa dia bisa menganggap kedua anak ini lebih dari hanya sekedar kenalan.
"Dengarkan aku kalian berdua." Satriya berusaha meyakinkan mereka. "Besok pagi aku berencana pergi bersama Ibuku dan juga Mera untuk memulai kehidupan yang baru, dan aku juga berniat untuk mengajak kalian berdua bersamaku."
Mata Jaka dan Kiki terbuka lebar mendengarnya.
"Jadi? Nanti kalian mau ikut denganku, kan?"
Jaka dan Kiki bertukar pandang, lalu berkata dengan mantap, "Kami mau, Kak!"
Mobil-mobil truk itu perlahan melaju pergi meninggalkan Satriya dan Mera sendirian di tengah lapangan. Namun, Satriya masih bisa melihat dengan jelas sosok Jaka dan Kiki yang berdiri sambil melambaikan tangan.
"Jadi, kau berniat menjalin ikatan dengan kedua anak itu?" Tanya Mera yang tersenyum simpul.
"Yah... besok mereka berdua resmi menjadi keluargaku," Satriya menoleh menatap Mera. "Dan juga keluargamu tentu saja."
"Baguslah kalau begitu. Lebih banyak orang artinya lebih seru, bukan? Jadi petualangan kita juga nggak akan membosankan." Mera dan Satriya bersama-sama mengalihkan pandangan ke arah kumpulan helikopter yang kini telah berada di atas mereka. "Petualangan untuk menemukan kehidupan yang lebih baik."
"Yah, kehidupan yang lebih baik." Bisik Satriya. Mata kuningnya menyala terang.
"Baiklah. Aku menjawab panggilanmu, Satriya." Tiba-tiba saja, seluruh tubuh Mera memancarkan cahaya yang amat terang benderang hingga berhasil mengusir kegelapan malam.
Sosok itu memiliki tubuh yang sangat besar hingga menjulang tinggi ke angkasa. Sosok raksasa yang bangkit dan lahir dari tanah itu bahkan menyerang kendaraan-kendaraan yang melayang di udara dengan membabi buta. Yah, pada dasarnya, raksasa itu baru mulai mengamuk setelah dihujani bom oleh helikopter-helikopter milik pasukan militer itu.
Semua penumpang di truk tak mampu berkata-kata saat melihat pemandangan yang ajaib sekaligus amat mengerikan itu. Mata semua orang terbuka lebar. Namun, untung saja mereka sekarang sudah berada cukup dari daerah Gunung Merapi, jadi seharusnya tak ada apapun yang perlu dikhawatirkan lagi untuk saat ini.
Tapi anehnya, di antara semua penumpang itu, hanya Jaka dan Kiki saja yang tidak terlihat risau atau tegang. Mereka berdua tersenyum, dan tampak cahaya harapan dalam pandangan mata mereka.
Ingatan tentang saat-saat dimana Satriya mengajak mereka untuk hidup bersama masih berputar dalam benak mereka berdua. Setelah sekian lama, mimpi mereka untuk bebas akhirnya terwujud.
Kenyataannya, Jaka dan Kiki benar-benar sangat membenci ayahnya, karena setelah ibu mereka meninggal, ayah mereka menjadi agak sinting dan selalu menyiksa mereka serta menyalahkan mereka berdua atas tragedi yang menimpa ibu mereka.
"Tapi, Kak, kok rasanya aku kayak sudah nggak membenci Ayah lagi, ya?" Kiki tiba-tiba angkat bicara.
Perkataan sang Adik malah membuat Jaka teringat kembali dengan saat-saat dimana Ayahnya mendorong mereka berdua waktu tanah terbuka dan hampir menelan mereka. Jaka ingat betul wajah marah ayahnya saat menyuruh mereka lari. Tapi, meski begitu, Jaka juga tidak bisa menyangkal, kalau bukan karena ayahnya mereka berdua pasti sudah tidak akan hidup lagi sampai detik ini.
"Yah, aku nggak terlalu mengerti, sih. Tapi... aku juga sudah nggak membenci Ayah lagi, kok." Jaka tersenyum lebar. "Entah kenapa aku merasa sangat bahagia sekarang. Kita hidup..."