Dia Pasti Setia
Teen
04 Dec 2025 17 Dec 2025

Dia Pasti Setia

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download.jpeg

download.jpeg

05 Dec 2025, 11:42

Gerimis turun perlahan, disertai angin kencang yang menggoyangkan dedaunan, hingga berguguran satu per satu. Aku dan Ibu berjalan menuju ke sebuah bangunan kumuh untuk berteduh. Meskipun bangunan tersebut terlihat kumuh, namun cukup membuat aku dan Ibu tidak basah akibat air hujan yang sudah mulai deras. Kami buru-buru mendekati bangunan tersebut.

Kami benar-benar tidak menyangka kalau hari ini akan turun hujan, pasalnya tadi saat di bus, cuaca terlihat sangat cerah. Bahkan tak segelintir pun awan yang berani mendekati matahari. Ini membuktikan bahwa perubahan dapat terjadi dalam waktu yang sangat singkat sekalipun.

Dua langkah aku mendahului ibu menuju ke bangunan tersebut. Habis, ibu jalannya lelet! Selalunya begitu! Aku paling nggak suka jalan sama ibu. Tapi aku harus bagaimana lagi? aku tak sanggup pisah dari ibu.

"Hujan kok tiba-tiba turun ya? Tanpa permisi! Kalau tau begini, tadi ibu siapkan payung sebelum berangkat!" Ibu mengomel.

Aku menoleh kearah Ibu. "Maksud Ibu apa?"

"Maksud Ibu, tanda-tanda sebelum hujan turun." Jawabnya tanpa menoleh kearahku.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba aku mendengar suara dari arah belakang, aku menoleh. Kulihat seorang anak perempuan yang seusia denganku dengan berpakaian lusuh. Ibu pun ikut menoleh, ikut menyaksikan apa yang aku saksikan. Kami ngobrol dengannya. Katanya namanya Nina. Dia selalu datang ke tempat ini bila hujan turun dan bila malam sudah menjelang. Dia tinggal sendiri selama beberapa hari terakhir ini, tanpa perasaan takut sama sekali. Nina lari dari panti, setelah teman-teman di panti sering membully dia. Meskipun dia tidak tahu harus pergi kemana. Ibu tidak tega melihat keadaan Nina yang begitu memprihatinkan. Akhirnya Ibu mengangkatnya sebagai anak angkat.

***

Sembilan tahun kemudian. Aku dan Nina sekarang duduk di kelas XII. Aku senang punya saudara perempuan, meskipun saudara angkat. Namun, ada satu hal yang aku tidak suka dalam diri Nina. Nina selalu menceramahiku. Katanya suatu hari padaku saat aku sedang main game.

"Min, aku mau ngomong sesuatu, tapi jangan marah, ya?"

"Ngomong apaan?"

"Tapi, janji jangan marah, oke?" tanyanya.

"Oke". Jawabku singkat.

"Aku pengen kamu nggak pacaran. Pacaran itu dilarang, dan yang jelas pacaran itu hanya akan menambah pundi-pundi dosa yang akan mengantar ke Neraka." Ujarnya sambil menatapku.

Aku terdiam sejenak.

"Niin, aku terlanjur jatuh cinta. Bagiku melupakan itu susah. Apalagi Ayah dan Ibu jarang di rumah. Jarang memberikan kita kasih sayang yang sebenarnya sangat kita butuhkan. Kamu tahu itu, kan?" tanyaku kepadanya.

"Ayah dan Ibu jarang di rumah karena mereka kerja. Mereka kerja untuk kita, untuk masa depan kita." Katanya membela Ayah dan Ibu yang menurutku tak pantas untuk dibela. Ayah dan Ibu mengabaikan tanggung jawab dalam keluarga. Mereka lebih mementingkan kerja daripada meluangkan waktu untuk anak-anaknya.

***

Bel berbunyi tanda istirahat. Siswa dan siswi dengan girang meninggalkan ruang kelas. Ada yang menuju kantin, perpustakaan dan ada pula yang menuju lapangan sepak bola. Meskipun bukan pelajaran olahraga, mereka selalu bermain sepakbola. Aku dan Nina memilih ngobrol di depan kelas.

"Hay, boleh ikut ngobrol?" tanya Ifand, ketua kelas XII C. Orangnya gagah dan cukup disiplin.

"Ee, boleh. Silahkan." Kataku mempersilahkan dia duduk di dekat kami.

Kami akhirnya ngobrol bareng, berbagi canda tawa. Tiba-tiba Ifand beralih topic.

"Min, kamu cantik. Aku suka kamu. Dari dulu aku menyimpan perasaan ini, namun baru sekarang aku berani mengungkapkannya. Bagaimana denganmu?" tanya Ifand. Mukanya serius kali ini.

Aku dan Nina saling pandang. Nina mengangkat kedua keningnya. Kubalas dengan mengangkat kedua bahuku.

"Mm,, gimana ya?" tanyaku. Nina mencoba memberikan pendapatnya.

"Min, jangan mudah percaya dengan kata-katanya kalau kau tidak ingin sakit hati. Sudah berapa kali aku bilang pacaran itu dilarang." Kata Nina berharap aku bisa mendengarnya dan mengikuti arahannya kali ini. Aku hanya diam. Namun, lelaki itu tetap bersikeras mengeluarkan segala rayuan yang dia miliki.

"Min, aku janji padamu, aku akan selalu setia mencintaimu, kapan pun dan di mana pun itu. Percayalah!" Kata Ifand merayu.

Aku mulai sedikit tertarik dengan rayuannya. Namun aku tetap diam.

"Kalau kamu nggak bisa jawab sekarang, nggak apa-apa. Kamu bisa jawab kapan aja. Aku duluan, ya." Ucap lelaki tersebut lalu pergi.

"Jangan percaya kata-katanya, Min." Kata Nina sekali lagi, memberikanku solusi. Nina tak ingin aku sakit hati.

"Tapi, kamu dengar sendiri kan, dia berjanji untuk setia. Aku yakin, dia pasti setia." Ucapku tanpa mempertimbangkan kata-katanya.

***

Bel tanda pulang telah berdentang. Kami diperingatkan oleh staff untuk langsung pulang ke rumah, kecuali siswa yang mengikuti organisasi. Di perjalanan pulang, aku nggak nyangka kejadian ini akan terjadi. Awalnya aku dan Nina berjalan di belakang mereka. Kami mengikuti jejak langkah mereka. Kami mendengar semua perbincangannya mulai dari awal hingga akhir. Ada yang aneh! Kata-kata yang dikeluarkan lelaki tersebut sama persis dengan kata-kata yang diucapkan Ifand pagi tadi di hadapan kami.

Dengan perasaan yang menggebu-gebu, aku melangkah mendahului mereka. Aku pengen memastikan siapakah lelaki itu yang meng-copy-paste dengan sempurna kata-kata yang aku dengar pagi tadi? Aku melihatnya dari arah depan. Daaan......

DDOORR!!!

Bagai tembakan pistol yang 99,99% hampir mengenai batinku. Seperti itulah perasaanku saat ini.

"Ifand! Kamukah ini? Kamu yang berjanji untuk setia pada setiap perempuan?" ucapku tanpa mengedipkan mata. Nina hanya berdiri mematung di sampingku. Nina tak tahu harus berbuat apa. Sementara Ifand kaget, melihatku yang tiba-tiba muncul di depannya.

"Mina, aku hanya..."

"Hanya apa? Hanya berjanji pada perempuan itu untuk setia padanya, lalu pergi mencari mangsa lain, iya? Tega kamu Fand! Fand, kamu fikir hanya kamu yang punya perasaan, aku juga punya perasaan Fand! Punya perasaan!!" kataku sambil terus menatapnya.

Ifand diam kali ini. Tak tahu harus ngomong apa. Beberapa menit hening. Hanya suara kendaraan yang lalu lalang terdengar. Nina tiba-tiba menarik lenganku, mengajak untuk pergi.

"Mina, mungkin ini adalah teguran yang Allah subhanahuwata'ala berikan padamu. Aku ingin kau menyadarinya! Aku ingin kau berubah! Aku ingin kita sama-sama menjaga agama Allah, bukan malah mengotorinya." Kata Nina mengingatkanku untuk yang kesekian kalinya.

Entah apa yang terjadi, tiba-tiba aku tertarik dengan kata-katanya kali ini. Berubah!! Ya, aku ingin berubah, berubah agar tak mudah jatuh cinta.

Waktu terus berlalu, tak terasa kami sudah di penghujung kelas menengah atas. Ujian nasional sudah di depan mata. Kali ini aku serius belajar, tak ada lagi kata pacaran dalam hidupku. Tak ada lagi bujuk rayuan yang pernah aku dengar. Sekarang aku benar-benar serius untuk berubah dalam menjalani hidup yang penuh makna.


Kembali ke Beranda