Maafkan Aku
Teen
05 Dec 2025

Maafkan Aku

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (3).jpeg

download (3).jpeg

05 Dec 2025, 12:12

Aku Lara seorang gadis yang tidak pernah membayangkan akan menjalani hidup serumit ini. Ibuku sudah lama meninggal. Aku tinggal bersama kakak dan Ayahku. Ayah jarang tinggal di rumah. Aku tidak tahu persis mengapa Ayah meninggalkan anak-anaknya.

Keluarga kami sederhana, tidak kaya juga tidak miskin. Alhamdulillah, selama aku hidup, aku merasa tidak pernah kekurangan kebutuhan hidup. Seperti gadis remaja lainnya, aku juga menuntut ilmu di salah satu SMAN yang ada di kota ini.

“Kak, aku berangkat ke sekolah dulu.” Kataku agak sedikit berteriak.

“Oke,, hati-hati di jalan.” Kata kakak yang baru keluar dari kamar dan masih kelihatan mengantuk.

Beberapa menit kemudian, akhirnya aku sampai di sekolah. Bel berbunyi saat aku masih di pintu gerbang sekolah. Aku berlari secepat mungkin agar bisa berada di dalam kelas sebelum guru masuk mengajar. Karena satu detik saja siswa terlambat datang saat guru sudah ada di dalam kelas, siswa tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran tersebut.

Setelah selesai berdoa, kini giliran guru yang berbicara.

“Sekarang kumpul tugas kalian.” Kata Ibu guru.

'Astagfirullah!! Ternyata ada tugas yang belum aku kerjakan.' Gumamku dalam hati.

“Bagi siswa yang tidak mengerjakan tugas, silahkan maju ke depan.” Ucap Ibu guru setelah semua buku terkumpul. Aku segera maju ke depan bersama teman-teman yang lain, tapi mereka semua laki-laki, hanya aku yang perempuan.

“Apa alasan kalian tidak mengerjakan PR?” tanya Ibu guru.

“Saya lupa Bu’.” Kataku. Dan semua alasan kami sama.

“Berarti kalian sekarang ketahuan, tidak pernah belajar di rumah, ya kan?” tanyanya lagi.

“Mmm,,, Bisa dikatakan seperti itu Bu’.” Jawab teman yang ada di sampingku.

“Ouw,, jadi seperti itu. Kalau begitu kalian lari keliling lapangan sampai jam pelajaran Ibu selesai. Keluar sekarang!!” Katanya agak sedikit membentak. Kami semua segera keluar dan mulai berlari.

Sudah hampir satu jam kami berlari, terasa kaki ini mau patah. Namun bel belum juga berbunyi.

“Ah,,, ampun deh…” kataku sambil menjatuhkan tubuhku di pinggir lapangan. Teman-teman yang lain masih semangat berlari.

“Ra… bangun sebelum ketahuan. Tinggal sebentar lagi bel akan berbunyi.” Kata Imran setelah melihatku duduk di pinggir lapangan.

“Iya Ra, jangan menyerah!! jangan putus asa!! Sebentar lagi kita akan segera sampai ke garis finis. Kalau kamu menyerah sekarang, hukumannya akan tambah parah!!” Kata Ifand menyemangatiku. Segera ku bangkit dengan tenaga yang tersisa.

Tak lama kemudian bel berbunyi. Kulihat Ifand dan Imran berhenti di depan kelas dan Ibu guru sedang berdiri di depan mereka.

“Oke, sekarang tulis surat pernyataan bahwa kalian tidak akan mengulanginya lagi. Kumpul sebelum bel masuk berbunyi.” Kata Ibu guru seakan tidak tahu apa yang sedang kami rasakan. Kami segera menulis surat permintaan maaf itu lalu menyetornya.

***

Hari-hari kujalani, hingga tak terasa sudah 4 bulan semenjak kejadian itu. Aku mendengar kabar dari kakak bahwa sebentar lagi dia akan segera menikah. Betapa senangnya hatiku. Sebelum hari pernikahan kakakku, Ayah datang ke rumah dan mengatakan bahwa dia menyetujui pernikahan tersebut dan menyerahkan rumah ini kepada kakak. Aku jadi bingung, kenapa Ayah menyerahkan rumah ini pada kakak?

Pada hari pernikahan kakakku, perasaanku bercampur baur antara senang, sedih, dan takut. Senang melihat kakak sedang bersanding dengan wanita pujaannya. Sedih melihat keluarga baru Ayah yang terlihat begitu bahagia. Ternyata alasan Ayah memberikan rumah ini untuk kakak karena dia sudah punya tempat lain untuk pulang selain di rumah ini. Entah sejak kapan Ayah menikah lagi. Dia bahkan tidak pernah menceritakan padaku kalau dia sudah punya keluarga baru. Seperti inilah kehidupanku. Sangat jarang berkomunikasi dengan Ayah. Sampai-sampai Ayah sudah menikah lagi pun aku tidak mengetahuinya. Entah mengapa kali ini aku sedih melihat Ayah bahagia. Dan yang membuatku takut adalah ketika nanti aku harus hidup dengan ayah, ibu tiri dan saudara tiri.

Aku bingung perasaan yang bagaimana harus aku tampakkan kepada orang lain saat ini. Haruskah aku tersenyum walau hatiku sedih. Aku benar-benar bingung.

Beberapa saat kemudian Ayah datang mendekatiku.

“Ra, untuk sementara kamu tinggal di sini dulu. Ayah yakin kamu belum siap untuk berpisah dengan kakakmu. Nanti Ayah jemput kalau sudah waktunya.” Kata Ayah.

"Hanya itu yang ingin Ayah sampaikan?" tanyaku berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja.

"Maksud kamu?" Ayah bertanya balik.

"Keluarga baru Ayah. Apa Ayah tidak ingin mengenalkanku pada mereka atau menceritakan tentang mereka padaku?" mataku mulai berkaca-kaca sekarang.

Ayah terlihat heran.

"Apa kamu tidak mengetahuinya? Dulu waktu Ayah menikah kakakmu datang dan mengatakan kalau kamu tidak ikut karena sibuk dengan sekolahmu. Ayah pikir kamu sudah mengetahuinya dari kakakmu?" kata Ayah sambil melihat kakakku yang sedang berfoto bersama teman-temannya.

"Tidak, kakak tidak pernah mengatakan kalau Ayah sudah menikah." kataku dengan air mata yang sudah mengalir di pipi. Ayah memelukku dan mencoba untuk menenangkan aku agar berhenti menangis di tengah keramaian.

***

Beberapa bulan aku jalani kehidupanku bersama rumah tangga baru kakakku. Semuanya baik-baik saja, sampai suatu waktu kakak keluar kota beberapa hari untuk urusan bisnis. Kini hanya ada aku dan kakak ipar yang tinggal di rumah. Kakak iparku seorang guru dan akhir-akhir ini dia kebanyakan mengalami stress. Dan dia selalu melampiaskan stressnya padaku meskipun aku tidak melakukan kesalahan. Hingga suatu waktu sepulang dari sekolah.

“Lara!! Kenapa pulangnya terlambat?” tanyanya marah-marah.

“Maaf kak, tadi ada masalah di sekolah dan aku ikut terlibat.” Kataku.

“Kalau begitu, cepat bereskan semua ruangan.” Katanya lagi.

“Baik kak,” Kataku.

Beberapa jam kemudian.

“Lara! Sekarang sudah jam setengah enam, kenapa belum selesai juga?” tanyanya masih terus marah.

“Tunggu sebentar lagi kak.” Aku masih terus mengepel lantai.

“Ingat ya, setelah pekerjaanmu selesai, kamu harus pergi dari rumah ini!! Jangan pernah kembali, Aku bosan melihat mukamu!!” Katanya terus melototiku.

“Tapi kak, aku harus ke mana?” tanyaku mulai sedikit takut.

“Terserah kamu mau ke mana. Yang jelas, jangan di rumah ini.” Katanya lagi.

“Kalau kakak bosan melihat mukaku, aku akan masuk ke dalam kamar. Akan lebih baik seperti itu daripada keluar rumah.” Kataku memohon pada kakak ipar sambil menangis.

“Tidak!! Pokoknya kamu tidak boleh tinggal di rumah ini!” sepertinya dia tidak bisa menahan stess dan melampiaskannya padaku.

Beberapa menit kemudian, dia menyeretku keluar rumah.

“Aku salah apa kak? Maafkan aku kalau aku salah. Kak izinkan aku bermalam di sini untuk malam ini. Aku janji akan pergi dari rumah ini, tapi jangan malam ini kak.” Kataku sambil menangis. Tapi apa boleh buat, dia sudah menutup pintunya bahkan dia mungkin menguncinya. Aku segera bangkit dan meninggalkan rumah.

Beberapa menit kemudian, aku berhenti di depan sebuah Masjid dan ikut shalat berjamaah. Setelah selesai shalat, aku duduk di teras Masjid. Aku tidak tahu harus ke mana. Tanpa kusadari air mataku kembali menetes. Tak lama kemudian, ada dua gadis cilik berjilbab merah mendekatiku.

“Assalamu’alaikum kak.” Mereka serempak mengucap salam.

“Wa’alaikummussalam.” Jawabku.

“Kakak kenapa nangis?” tanya salah satu gadis cilik itu.

“Mm,, kakak diusir dari rumah dan kakak tidak tau harus ke mana.” Kataku masih terus menangis.

“Oo,, gitu. Kak kenalin kami dari panti asuhan An-Nur nama saya Lala dan ini teman saya Rara.” Katanya sambil mengulurkan tangan.

“Namaku Lara, dik.” Kataku sambil menyambut uluran tangannya satu per satu.

“Tadi kakak bilang tidak punya tempat tujuan, kan?” Tanya Lala. Aku hanya mengangguk.

“Kalau begitu kakak ikut dengan kami ke panti, daripada tinggal semalaman di sini, sendiri lagi.” Kata Rara sambil melihat di sekeliling lalu bergidik.

Aku sangat senang saat itu, aku fikir inilah malaikat kecil yang dikirim Allah Ta’ala untuk menyelamatkan hidupku. Akhirnya kami berangkat bersama-sama menuju panti.

Keesokan harinya Ayah datang untuk menjemputku dan meminta maaf atas kesalahannya karena tidak pernah peduli padaku selama ini. Setelah Ayah berbincang sebentar dan mengucapkan terima kasih kepada Ibu pengurus panti, kami segera pamit meninggalkan panti.

Hari-hari kujalani bersama keluarga baru Ayah, namun tidak seperti yang Aku bayangkan dulu. Mereka semua baik padaku. Maafkan Aku yang telah suudzhan kepada kalian semua.

Kembali ke Beranda