Ramadhan Tanpa Ayah
Teen
05 Dec 2025

Ramadhan Tanpa Ayah

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (4).jpeg

download (4).jpeg

05 Dec 2025, 12:36

Bulan suci Ramadhan menjadi bulan yang paling dinanti dan dirindukan oleh umat muslim di seluruh dunia. Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa diantara bulan yang lainnya. Ada banyak keutamaan yang bisa kita raih selama bulan puasa. Salah satunya bulan penuh pengampunan. Dengan berpuasa pada bulan Ramadhan, maka bisa menghapus dosa yang telah kita lakukan. Sesuai dengan hadist Nabi Muhammad Shallallahu'alaihiwasallam yang artinya, "barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Subhanahuwata'ala, maka diampuni dosanya yang telah lalu" (HR. Bukhari dan Muslim)

Bulan mulia penuh berkah kali ini merupakan bulan puasa yang ke-7 sejak kepergian Ayah dari gadis sederhana yang berusia 20 tahun itu. Ya, Ayah dari gadis yang memiliki nama lengkap Imna Ramadhani itu telah meninggal sejak 7 tahun yang lalu. Namun ia seakan merasa baru kemarin kejadian naas itu menimpa ia dan keluarganya.

Meski sudah beberapa tahun ia menjalani bulan puasa tanpa Ayah tercinta, namun tahun ini gadis itu merasa sangat merindukan sosok Ayah untuk menemaninya melewati hari-hari di bulan mulia penuh berkah ini.

Ia tahu keinginannya itu mustahil untuk menjadi kenyataan. Karena ia yakin sang Ayah pasti sudah tenang di alam sana. Keinginan yang menggebu dari dalam hatinya harus ia redam sebelum berlarut dalam kesedihan.

Sebelum memasuki bulan Ramadhan, ia kembali teringat kenangan masa lalu saat ia, Ibu dan Ayah sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang saat itu ternyata menjadi Ramadhan terakhirnya bersama Ayah tercinta.

Imna yang saat itu sibuk memilah pakaian yang akan digunakan selama bulan Ramadhan. Mukenah pemberian Ibu tahun lalu sepertinya masih sangat layak pakai. Ia lalu menyatukan mukenah itu dengan beberapa sejadah yang sudah ia siapkan untuk kemudian dicuci lalu diberi wewangian.

Sementara Ayah bersiap untuk memotong ayam kampung yang akan dijadikan lauk di hari pertama sahur. Beberapa tahun terakhir memang selalu seperti itu. Selesai penyembelihan, ayam itu berpindah alih ke tangan Ibu yang selanjutnya akan diolah menjadi lauk yang lezat.

Selesai shalat magrib, Ibu kembali melanjutkan rutinitas memasaknya yang tadi tertunda. Sementara Ayah sedang menonton siaran langsung berjalannya sidang isbat yang akan menentukan hari pertama puasa. Imna yang ikut membantu Ibu sesekali menoleh ke layar televisi yang tak jauh dari ruang dapur. Namun ia dengan sigap saat ditegur Ibu agar lebih cepat membersihkan segala peralatan dapur yang sudah terpakai. Ibu tidak ingin melihat semuanya masih berantakan sebelum berangkat ke Masjid untuk melaksanakan shalat tarawih berjama'ah.

"Ibu, Imna, penentuan puasa pertama jatuh pada esok hari. Segera bersiap untuk shalat tarawih berjama'ah di Masjid," dengan suara yang sedikit berteriak Ayah memberitahukan bahwa malam pertama shalat tarawih jatuh pada malam ini.

Ibu bergegas mengambil air wudhu setelah mendengar murottal Al-Qur'an yang berasal dari Masjid sudah berbunyi. Imna menyusul kemudian Ayah yang terakhir.

Mereka berangkat lebih awal karena perjalanan akan memakan waktu sekitar 15 menit dengan berjalan kaki. Menggunakan senter untuk menerangi perjalanan sudah Ayah persiapkan beberapa hari sebelumnya. Dengan pelan Ibu berjalan, disusul Imna dan Ayah. Mereka melangkah menyusuri jalan menuju Masjid.

Di tengah perjalanan, mereka dikagetkan dengan suara anjing yang tiba-tiba menggonggong dari salah satu halaman rumah warga.

"Astaghfirullahal'adzim..." sontak Imna langsung mengucap istighfar dengan suara yang sedikit keras. "Ih, serem, bikin aku merinding," lanjut Imna.

"Kata orang kalau ada anjing yang menggonggong itu tandanya anjing itu sedang melihat makhluk ghaib. Bener nggak sih, Yah?" dengan perasaan takut Imna memeluk diri sendiri.

"Bisa jadi itu benar. Tapi Imna nggak usah takut, kan Imna nggak sendiri. Ada Ayah dan Ibu di sini, nggak ada yang perlu ditakutkan. Ada Allah juga yang selalu menjaga kita." Ayah mencoba menenangkan suasana. Sementara Ibu masih terus berjalan tanpa mengucap sepatah kata pun.

"Imnaaa..." teriakan Ibu sontak membuat Imna kaget dan membuyarkan ingatan itu yang tampak nyata dalam bayangan fikiran Imna.

"Iya, bu..." sedikit berteriak Imna menjawab panggilan Ibu.

"Segera bersiap untuk shalat tarawih berjama'ah di Masjid." Ibu yang sibuk membereskan peralatan dapur kali ini memelankan suaranya ketika melihat Imna mendekat.

Hari pertama bulan puasa Ramadhan tahun ini jatuh pada esok hari. Imna yang selesai mengambil air wudhu bergegas menuju ke kamar untuk mempersiapkan diri.

"Aku rindu Ayah! Aku ingin ada Ayah di sini. Menemani aku dan Ibu seperti dulu. Aku tahu ini mustahil untuk menjadi kenyataan. Tapi rasa rindu ini sangat sulit untuk kupendam. Entah bagaimana caranya agar rasa rindu ini bisa redam dan... menghilang!" Lirih Imna sambil memandangi foto Ayah yang tersenyum merekah. Bersama air mata ia melangkah membawa rindu yang membuncah.

Kembali ke Beranda