Kartini yang Salah
Fantasy
06 Dec 2025

Kartini yang Salah

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (8).jpeg

download (8).jpeg

06 Dec 2025, 12:57

Langkah berisik dari badan jalan benar-benar mengganggu. Bau rokok di mana-mana, tatapan mata yang menghujani lorong-lorong sempit perumahan kumuh. Aku marah, kesal dan segala jenis peluapan emosi negatif. Negeri ini amat busuk, sampah-sampah berserakan di jajaran lantai panggung. Panggung akademik, sosial, budaya hingga politik. Tak adakah kata yang lebih dari sarkastis lagi?

Telepon genggamku berdering. Tampilan layar berubah, tertulis sebuah nama di sana. Aku langsung menjawab. "Ada apa?" pertanyaanku tak disambut.

Sang penelepon menghujaniku dengan kalimat perintah. "Tak bisakah kau memulai dengan ucapan Assalamualaikum ?" aku tak menganggap itu pertanyaan. Jelas-jelas adalah sebuah kalimat perintah.

Aku melakukan perintahnya. Lalu dia menjawab, " waalaikumsalam ." Aku menghela napas lega.

Segala tentang konflik dan pertikaian aku selalu menghindarinya. Menjadi orang yang memiliki beberapa teman, tidak begitu pendiam dan tidak begitu mencolok adalah pilihan yang tepat. Aku ingin masa-masa sekolahku tak bermasalah. Hanya itu.

"Besok aku ke rumahmu. Dan aku harap kau sedikitnya menyingkirkan barang-barang menyeramkan yang menutup semua ventilasi udara," perintahnya sekali lagi. Jelas dia berucap tenang dan tidak memerintah, namun aku sangat peka terhadap ucapannya. Perintah lagi.

Entah apa yang membuatnya menjadi begitu ikut campur akan tentangku.

Aku menggeretakkan gigi-gigiku. Kesal. Rahangku bertautan. "Jangan memerintahku. Kau tidak paham tentang kesukaanku!"

Percakapanku berlanjut dengan debat kecil tak bermakna. Entah bagaimana aku meladeni orang sepertinya. Merepotkan. Dan aku sampai di depan rumahku. Rumah biasa yang tidak istimewa. Gerbang kecil yang hanya cukup jalan untuk sebuah motor, taman dengan ukuran empat kali sepuluh meter dan selain itu tidak ada yang istimewa. Rumah tua dengan dinding terkelupas berwarna biru kusam hampir putih kecokelatan.

"Barang-barang menyeramkan yang menutup ventilasi udara? Ha! Yang benar saja!" gerutuku memerhatikan jejeran lukisan, foto dan beberapa jenis bingkai foto yang seluruhnya adalah tentang Raden Ajeng Kartini. Aku tersenyum. Aku mengaguminya.

Purnama yang kelam lama-lama pudar dipunggungi oleh fajar. Fajar yang merah keperakan mengintip dari balik celah-celah jendela. Matanya riuh menerpa gorden. Silau. Aku perlu membersihkan diri, tindakan jaga-jaga kalau benar gadis itu datang. Rana. Ajeng Kirana. Teman kelasku itu tak pernah jera. Aku tak membencinya. Namun, aku hanya tidak ingin ada yang terlalu memedulikanku, aku tak cukup mampu menampung beberapa kebisingan dalam duniaku lagi.

"Saat di kelas sepuluh kau tidak seperti ini. Berjalan beriringan dengan teman-teman, membicarakan tentang pelajaran dengan antusias dan lebih ceria. Bukankah begitu?"

Rana bicara terus. Benar-benar gadis yang tidak mau menyerah, bukan?

Aku diam. Memerhatikan secangkir teh yang baru saja aku buat. Tak ada yang bisa menyuguhkan hidangan selain aku sendiri. Ayah telah lama meninggal dan ibu selalu bekerja pagi dan pulang larut malam. Setiap hari aku sendirian. Bahkan untuk hari Minggu seperti ini. Ya, selalu seperti. Seperti yang kubilang, tak ada yang istimewa. Kecuali rumah tua bersama bingkai-bingkai menawanku.

"Ini hidup bukan permainan Kartini-Kartini-an, Ni!" selalu seperti ini. Sikapnya yang sok dewasa. Aku lama-lama kesal.

"Dengarkan aku! Kapan aku bilang ini permainan? Aku hanya memberi pelajaran pada wanita-wanita busuk yang tidak pernah menghargai Ibu Kartini! Emansipasi yang bertahun-tahun diperjuangkannya, pendidikan yang diraihnya mati-matian dan kesetaraan derajat dengan lelaki dicampuradukkan seenaknya! Mereka pikir hidup mereka akan seperti apa tanpa Ibu Kartini yang dulu? Ha?!" suaraku parau. Napasku tersengal-sengal. Aku tahu dia tidak akan paham.

Sepasang bola mata yang terfokus pada tatapanku terlihat berbinar, bulir bening menetes perlahan mendobrak pertahanan yang selama ini dibendung. Aku tidak bisa menyakiti sahabat baikku itu. Dia pertama yang kukenal di SMA, dia pun yang selalu menemaniku ketika yang lain acuh. Namun, aku telah menyakiti perasaannya. Kau tahu? Nada tinggi tidak akan menyelesaikan masalah. Dan, benar.

"Dengan pulang malam dan meneror teman-teman kita seperti itu?" kali ini Rana benar-benar mengajukan pertanyaan. Pertanyaan atau pernyataan? Aku hampir tak bisa membedakannya. Ironis.

Aku tersenyum sinis. "Kami berikhtiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup sendiri. Menolong diri sendiri. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula."

Rana bangkit dari kursinya. Dia tersenyum. Senyum yang tidak aku kenal. Sebuah senyum dipaksakan.

Kursi rotan itu kini kosong. Tak ada yang tertinggal di sana. Hanya mataku yang masih mengingat dengan jelas bagaimana wajah muram dan mata indahnya meneteskan air mata. Tak ada ingatan lain selain itu. Tak ada. Cukup rasa bersalah yang membuatku ingin tenggelam lebih dalam atas kebencianku.

Seperti malam biasanya, bising dan bau-bau khas. Selalu ada wanita-wanita busuk yang membuat negeri ini menjadi penuh tumpukan sampah. Ucapan-ucapan yang berbisa dan lebih beracun dari bisa ular kobra. Lidah yang tajam menusuk-nusuk hingga menghancurkan tulang-tulang. Sikap yang kotor, bau busuk dan tak mampu dibersihkan meskipun berbulan-bulan. Negeri ini akan hancur. Terlalu sarkasme memang.

"Benar-benar konyol. Kalau saja tidak ada Kartini di masa lalu, aku tidak akan melihat lembar soal ini! Benar-benar menyebalkan. Aku benci sekolah!" Ucapan dari salah seorang gadis di kelas, memulai riuh tawa di tengah-tengah ujian.

Aku mendapati lirikan Rana kepadaku. Dia benar-benar tak bisa berhenti mencampuri urusanku. Aku memalingkan pandanganku. Berusaha tenang dan mengendalikan emosiku. Bagaimana kau menahan emosimu ketika seseorang mencemooh idolamu? Aku sungguh tak mampu.

Dunia yang busuk. Seharusnya dia berpikir, bagaimana hidupnya sekarang tanpa Ibu Kartini. Apa dia akan mampu melangkahkan kaki keluar rumah? Ha! Aku selesai memberinya pelajaran. Kuharap dunia akan lebih baik.

"Apa yang kau lakukan kali ini? Apa dia benar-benar keterlaluan? Dia hanya bercanda!" sudah kuduga, dia memerhatikanku. Dia tidak benar-benar pulang sekolah.

Aku tersenyum sinis. "Menguntit? Aku hanya ingin menolongmu." Dia benar-benar Rana yang selalu ikut campur.

Headset kupautkan pada kedua lubang telingaku. Mengenakan tas punggung dan kemudian berlalu pulang seperti biasanya. Sangat biasa dan tak ada yang spesial. Suara dengungan dari musik yang aku putar terus menggema di telingaku. Mataku menatap jalanan yang selalu ingin kupalingkan. Namun, ini negeriku. Aku tak bisa keluar atau harus pindah. Ke mana? Aku hanya harus membersihkan sampah-sampah yang bertumpuk dan lama-lama mungkin akan menyebarkan banyak penyakit.

"Menyontek? Apa kau pikir orang tuamu menyekolahkanmu hanya untuk ini? Mereka mencari uang siang dan malam hanya untuk membuatmu belajar dan tahu banyak hal! Dan yang membawamu ke sini. Raden Ajeng Kartini. Aku rasa dia akan malu, memperjuangkan kaum untuk bisa menuntut ilmu namun menyalahgunakannya. Kaum yang diperjuangkannya seperti sampah busuk yang harusnya dibuang!" seisi kelas menjadi riuh dan bising. Jelas aku gagal menjadi gadis biasa yang tidak mencolok.

Wanita di hadapanku bersungut-sungut. "Ha! Lelucon macam apa ini?!" teriaknya tepat di depan wajahku. Ada beberapa percik air yang mengguyur wajahku.

"Ucapanmu benar-benar kasar! Untuk seorang yang sangat mencintai Kartini, apakah pantas menyakiti perasaan kaum wanita yang lain?" Rana menimpaliku.

Sesaat semuanya gelap, tak ada suara aneh selain sorakan dan hardikan. Aku hanya bisa berlari dan meninggalkan kelas. Pengalaman mengesankan. Jika ini adalah sebuah panggung teater, kurasa banyak yang akan berdiri dan bertepuk tangan.

Ingatan itu muncul kembali.

Sejak kejadian itu, aku tak memiliki teman satu pun. Semuanya menganggapku aneh, kasar dan psikopat. Meskipun anggapan mereka tidak salah. Aku duduk di ruang baca Perpustakaan. Tak ada yang mendekatiku. Untuk sebuah sekolah khusus wanita, tentu wajar untuk perjalanan gosip yang lebih cepat dari kecepatan cahaya. Meskipun itu bukan gosip, jelas-jelas adalah fakta.

"Apa kau tahu rasanya dicambuk berdarah-darah? Itulah harga dari pelecehan atas sikap terpuji Kartini." Suara itu kubuat berulang dengan nada suara berbeda. Musik pengiring pun aku sisipkan dengan lagu-lagu penyiksaan. Membayangkannya saja aku sudah ngeri. Aku tak ingin memutarnya ulang. Kemudian aku kirim ke pembuat masalah.

Esok paginya sudah bisa kubayangkan. Tak ada kabar beredar. Ancamanku sempurna. Seusai dipermalukan, pengumuman bahwa sang pembuat masalah itu pindah sekolah adalah kabar bahagia bagi kami. Lebih tepatnya bagiku. Untuk membuat sebuah negeri bebas sampah, harus dimulai dari lingkungan yang kupijak dahulu. Aku yakin, aku berhasil. Agar benar-benar bersih, kau harus membuangnya satu persatu terlebih dahulu.

"Nanti malam aku akan berdandan paling cantik. Aku yakin, dia akan meninggalkan kekasihnya yang buruk rupa itu! Bagaimana bisa dia menolakku dan memilih seorang gadis buruk rupa?!" dunia benar-benar busuk.

Mataku memejam sesaat kemudian kutemukan ide bagus. Aku melanjutkan membaca bukuku. Tak akan ada lagi sampah yang berserakan. Sampah harus dibuang pada tempatnya.

Purnama berada di pusat langit. Tampak berbintang dan menyilaukan. Sangat indah. Aku menyukai keadaan ini. Seperti diperhatikan oleh banyak hal, walaupun itu hanya alam. Jika alam mendukung, bagaimana manusia-manusianya tidak? Aku hidup di masa dalam asa yang tak kunjung nyata. Angan-angan itu selalu memburuku, membuatku terus bekerja keras menyapu bersih deretan sampah-sampah. Aku pun membenci ibuku. Untuk seorang wanita yang emansipasinya diperjuangkan Ibu Kartini, mengapa dia melupakan kewajibannya sebagai seorang ibu? Menghabiskan waktunya untuk berhura-hura.

Bagaimana pun aku paham, pekerjaannya tak selarut yang aku lihat. Banyak sampah di mana-mana. Aku perlu menyingkirkannya. Darahku mendidih, menyumbat paru-paru bersama tekanan darah yang terus berpacu dengan cepat. Aku marah. Kesal. Kecewa.

"Dia di Rumah Sakit, wajahnya iritasi. Kata dokter, make up yang dia pakai mengandung obat-obatan berbahaya." Kabar bahagia sekali lagi. Dan, topik ini membawa aku pada harapan yang lain. Kadang ujian adalah hal yang dapat membuat orang sadar. Kurasa inilah balasan untuk orang-orang yang tidak menghargai perjuangan Ibu Kartini.

Bangku itu masih kosong sejak kepergian Rana dengan meninggalkanku bersama ucapan terakhir kalimat Kartini yang ditulis pada suratnya.

Kami berikhtiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup sendiri. Menolong diri sendiri. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula.

Tak seperti aku, dia hanya tahu dan tak begitu mencintai Kartini. Kehidupan nyaman, hedonis dan bersama jutaan spekulasi kemanusiaannya yang salah. Kemanusiaan macam apa yang mendukung wanita-wanita berbuat salah? Dan dari semua hal, dia tak pernah paham atas pemikiranku.

Alasan aku memasang bingkai-bingkai di dinding-dinding rumah. Aku hanya sekedar membuat ibuku paham. Bisakah ia menjadi seorang wanita seperti Kartini yang berbudi luhur dan mencintai keluarganya.

Suara-suara deru mesin kendaraan begitu khas. Suara bising hilir mudik bersama bunyi-bunyi klakson mobil dan motor. Seperti biasa. Maka, seperti biasa pula aku melangkahkan kaki menuju sekolah setiap jam enam hingga sampai ke sekolah jam enam tiga puluh pagi. Lagi-lagi tak ada yang istimewa, karena semuanya dapat melakukan apa yang kulakukan.

Sebuah kelas yang monoton dan tak menyenangkan. Namun, aku sedang menunggu kabar kemarin. Sesuatu yang aku letakkan di dalam laci meja wanita yang dengan beraninya melecehkan Kartini. Sedikitnya ini akan memberikan sesuatu yang menarik untuk hari ini.

"Seperti bau bangkai tikus." Ucapan salah seorang teman kelasku membuatku memalingkan wajah ke arah mereka karena penasaran. Rana. Lagi.

Sang pemilik meja hanya menggeleng seolah tak mencium bau apa pun. Aku benar-benar gagal. Akan kucoba lain kali. Atau aku perlu menyingkirkan sang pengganggu terlebih dahulu? Aku ingin melakukannya. Aku tak akan dapat membuang sampah ketika tempat sampah tertutup rapat dengan penutupnya.

"Aku harus menolongmu." Ucapannya setengah berbisik ketika jam pelajaran berlangsung, suaranya tergantung di kerongkongan. Matanya terlihat tulus. Namun, aku tidak sedang membutuhkan bantuan. "Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri." Dia mulai bersikap bak pujangga. Ocehan yang menyebalkan.

Riuh suasana kelas lebih ramai setelah bunyi bel berdentang. Aku tersenyum sinis. "Kau benar-benar pengkritik sekaligus penguntit." Aku bangkit dari tempat dudukku, memasukkan buku dan beberapa alat tulis di dalam tas.

"Jangan mengeluhkan hal-hal buruk yang datang dalam hidupmu. Tuhan tak pernah memberikannya, kamulah yang membiarkannya datang. Atas dua kalimat ini, aku perlu membersihkan hal-hal buruk itu," ujarnya. Setelah kalimat itu, tak ada lagi yang perlu dibicarakan.

Bola lampu kamarku berkedip-kedip, setelah beberapa lama terulang, lampu kamar padam. Benar-benar gelap total. Cahaya satu-satunya yang muncul adalah dari layar telepon genggam samping ranjangku. Kali ini sebuah nomor tidak dikenal.

"Apa?!" teriakanku menggema di seisi rumah beserta diikuti rasa dingin dari pipiku, terasa lembab dan basah. Kali pertama aku menangis bukan karena Kartini.

Jalanan koridor rumah sakit terasa lenggang. Tak banyak orang-orang yang berada di depan kamar inap. Jantungku berdegup dengan cepat, pipiku panas sekaligus dingin seiring air mata yang membanjiri. Peredaran darahku serasa tidak normal, jemariku gemetar bersamaan dengan gigi-gigi yang bergemeretak. Duduk di depan ruang IGD sedikit mengganggu, namun setelah itu aku merasa nyaman.

Assalamualaikum , Anak Baik." Sebuah suara halus bersama jemari yang lembut membelai rambutku dengan sangat nyaman. Senyum yang selalu kurindukan, wajah yang selalu kuimpikan, mata bening yang meneduhkan dan pelukan yang menenangkan.

Bibirku bungkam. Mataku berkaca-kaca karena bahagia. Wanita di sampingku kini, benar-benar sangat menawan. Aku benar-benar menyayanginya.

Assalamualaikum , Anak Baik." Dia mengulang kalimatnya seolah menegaskan sekali lagi. Benar-benar suara merdu bak kicauan burung gereja di pagi hari.

Bibirku membentuk bulan sabit kecil. Aku benar-benar merasa sebagai orang paling beruntung di dunia seketika.

Waalaikumsalam , Bu," ujar wanita itu.

Wanita itu kembali membelai rambutku yang kusam. Tangan halusnya merambah hingga akar-akar rambut seolah memberikan energi positif pada akar-akar rambut, saraf-saraf rambut hingga ke otak. Sihir apa yang digunakannya?

"Dulu aku seperti kamu. Membenci mata yang melihat tak seronok, membenci badan yang dijajakan, membenci kaki yang salah berpijak dan membenci bibir yang bau busuk," ujarnya dengan suara-suara lembutnya.

Aku mendengarkan dengan saksama. Nada bicaranya tenang dan menenangkan. Aku masih mendengarkan tak mengalihkan pandangan sedikit pun.

"Kemudian aku sadar. Apa gunanya meminta orang lain menjadi berlian ketika aku sendiri hanya sebongkah besi berkarat?" dia berhenti bicara sebentar. "Apa gunanya meminta orang lain naik undakan ke lantai tujuh menggapai langit ketika aku sendiri merobohkan lantai-lantainya?" lanjutnya.

Mataku berbinar. Bukan terharu. Hanya menjadi sedikit sadar atas segala sikapku yang telah menyimpang terlalu jauh. Bahkan air mata ini pun seakan tak berguna lagi.

"Apa gunanya meminta orang lain membuat pelangi indah setelah hujan ketika aku sendiri menjadi mendung yang datang bersama petir menggelegar?" ucapannya yang halus dan sinis membuatku kembali terdiam dan membuat bulir bening turun perlahan.

Kurasakan belaiannya sekali lagi. Mata sayu yang membuatku rindu. Suara merdu yang merengkuh kalbu. Bibir merah membiru yang membuat rasaku haru.

"Ketika kau sangat mengagumiku, maka dekatlah denganku. Semut akan bergaul dengan semut, ular akan bergaul dengan ular dan kupu-kupu akan bergaul dengan kupu-kupu. Maka, di antaranya seharusnya tidak berkhianat. Kala kau mengagumiku, maka dekatlah denganku. Jangan membuat sikap yang membuatmu jauh," ujarnya lagi membuat air mataku deras membasahi pipi, entah berapa sudah berapa lama aku menangis.

Abu-abu. Semuanya menjadi pudar dan samar-samar. Mata sayu telah hilang dibawa kelam, suara merdu tak lagi terdengar dan pelukan hangat samar-samar direngkuh oleh gelap kemudian tenggelam. Wajah yang kurindukan kini hilang. Meninggalkanku bersama secercah harapan yang hampir tak tertinggal. Sebuah cahaya membangunkanku dari lelapku. Terlalu nyata untuk sebuah mimpi.

"Ibumu telah sadar dari pingsan. Tak seperti yang kau lihat. Perusahaan bos ibumu telah bangkrut setahun lalu. Ibumu kemudian menganggur dan bekerja dari pagi sampai malam di restoran ayahku. Dia memintaku tak membicarakan ini denganmu. Dia terlalu peduli padamu, tidak ingin membuatmu sedih kemudian memikirkan masalahnya. Dia hanya ingin kau terus bersekolah. Kau tahu? Dia sangat mencintai Kartini. Dia mengabadikannya pada namamu. Sempurna bukan?" Ucapan Rana membuatku bungkam.

Air mataku semakin deras mengucur. Tak mampu kutahan lagi bendungannya.

"Kurasa ucapanku tetap tak akan kau gubris. Hanya Kartini yang akan membuatmu sadar. Wanita itu cantik, bukan?" ucapan Rana membuatku terbelalak kaget, kemudian aku memeluk gadis itu erat.

Sepertinya tak ada yang perlu aku bahas lagi. Aku tak ingin berhenti. Akan kulanjutkan perjuangan Kartini. Bukan hanya kulanjutkan perjuangan Kartini, namun akan kulindungi harta berharganya, wanita Indonesia.


Kembali ke Beranda