Rifki & Rifka
Romance
03 Dec 2025 17 Dec 2025

Rifki & Rifka

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (44).jpeg

download (44).jpeg

07 Dec 2025, 17:27

Waktu menunjukkan pukul 17:30. Seorang anak berjalan terseok-seok menuju ke sebuah rumah gubuk. Sepertinya dia mengalami cedera di bagian kaki, sehingga tak mampu untuk berjalan dengan sempurna. Dia adalah Rifki, seorang anak yang berusia 10 tahun yang bekerja sebagai seorang pemulung. Penghasilannya dalam sehari pun tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Dia hidup bersama dengan Ibundanya tercinta dan seorang adik perempuannya yang berusia 8 tahun. Ayahnya sudah lama meninggalkan mereka. Mereka dicampakkan begitu saja.

Ibunya lumpuh dan tidak bisa berbuat apa-apa. Saat Rifki berangkat kerja, adik perempuannya-lah yang merawat Ibunya, memandikan dan memakaikan baju untuknya. Mereka sama sekali tak pernah mengeluh dengan kehidupan yang serba terbatas. Justru mereka selalu istiqamah di jalan Allah Subhanahuwata'ala.

"Assalamu'alaikum..." kata Rifki sambil mengetuk pintu.

Adiknya segera berlari dari ruang dapur menuju ke pintu luar.

"Wa'alaikummussalam..." adiknya menjawab salam sambil membuka pintu. Adiknya bernama Rifka.

"Ikka, Ibu di mana?" tanya Rifki yang terlihat sedikit sumringah.

"Ibu di kamar ka'. Ada apa?" tanya Rifka.

Tanpa menjawab pertanyaan adiknya, Rifki segera melangkah menuju ke kamar di tempat di mana Ibunya berada.

"Ibu, lihat apa yang aku bawa." Kata Rifki sambil memperlihatkan sebuah kantongan besar yang berisi berbagai macam makanan.

"Ikki, darimana kamu mendapatkan semua makanan ini?" tanya Ibunya yang terlihat heran.

"Begini bu', tadi Aku jatuh saat hendak mengambil botol bekas di sungai. Dan ada seseorang yang menolongku. Dia bertanya kenapa aku bisa jatuh ke sungai, lalu kujelaskan sesuai kronologi yang terjadi." Kata Rifki panjang lebar.

"Terus apa hubungannya dengan makanan ini?" Tanya Ibu yang terlihat penasaran.

"Setelah orang tersebut mendengarkan ceritaku, mungkin Dia merasa kasihan padaku. Lalu orang tersebut mengajakku ke suatu tempat. Nah, di tempat itulah aku puas memilih makanan yang aku suka. Dia orang kaya bu', punya mobil mewah lagi." Kata Rifki sambil mengeluarkan satu per satu makanan yang ada di kantongan plastik.

"Terus apa yang terjadi selanjutnya? Ngga' mungkin kan kakak pergi begitu saja setelah mendapat makanan darinya." tanya Rifka yang sudah duluan menikmati makanan.

"Aku mengucapkan terima kasih banyak kepadanya. Kemudian Dia membawaku kembali ke tempat pertama kami ketemu. Kemudian Dia berpesan 'jangan pernah kamu meninggalkan Ibumu, dalam keadaan apapun itu. Kalau kamu membutuhkan bantuan, langsung saja kamu telepon Om.' Katanya sambil memberikan sebuah hp kepadaku." Kata Rifki memperlihatkan hp tersebut. Ibu dan adiknya hanya diam, tak berkomentar apa-apa.

Beberapa hari telah berlalu, Rifki tidak lagi bersusah payah mencari botol bekas, karena persediaan makanan masih banyak.

Suatu hari, di hari yang cerah. Ada sekelompok anak yang sebaya dengan Rifki datang berkunjung ke rumahnya. Mereka adalah teman Rifki yang pernah ia jumpai beberapa waktu lalu. Mereka bermaksud mengajak Rifki untuk bermain bola. Setelah pamit dengan Ibu, Rifki pun berangkat bersama dengan teman-temannya.

Ditengah asyiknya mereka bermain bola, tiba-tiba Rifka datang menghampiri kakaknya.

"Kak,, Ibu,,, Ibu,, kak" Kata Rifka yang masih terlihat terengah-engah.

"Ikka, ada apa? Ibu kenapa?" tanya Rifki.

"Ibu,, Ibu,,, pingsan kak." Kata Rifka sambil menangis. Keduanya pun segera berlari pulang.

"Ibu, bangun bu'." Kata Rifki. "Ikka apa yang terjadi sebelum Ibu pingsan?" tanya Rifki sambil terus memegangi tangan Ibunya.

"Tadi Ibu merasakan sakit di bagian kaki, setelah itu Ibu langsung pingsan. Apa yang harus kita lakukan sekarang kak?" tanya Ikka masih terus menangis.

"Telefon Om, sekarang." Kata Rifki.

Rifka segera menelfon Om itu. Panggilan pertama tidak di jawab. Beberapa saat kemudian Om menelfon.

"Halo, Assalamu'alaikum,, Ada apa Rifki?" tanya Om di seberang sana.

"Om Ibu pingsan. Rifki harus bagaimana? Ini pertama kalinya Ibu pingsan." Kata Rifki dengan nada sedih.

"Rifki kamu tenang dulu. Begini, Om akan datang menjemput kalian. Siapkan segala sesuatu yang dibutuhkan, oke,,," kata Om.

Rifki kemudian menyiapkan gerobak yang akan digunakan untuk membawa Ibunya ke pinggir jalan raya.

"Ikka, kamu bisa kan, bantu kakak?" tanya Rifki. Rifka hanya mengangguk. Setelah semuanya siap, kedua kakak beradik tersebut segera mendorong Ibunya menggunakan gerobak yang sudah disiapkan tadi menuju ke pinggir jalan raya.

Mereka tidak peduli dengan rasa lelah yang mereka rasakan. Yang mereka inginkan sekarang adalah Ibunya segera sadar. Mereka tiba di pinggir jalan.

Beberapa menit kemudian, Om datang dan mereka langsung menuju ke rumah sakit.

"Dokter, pasien darurat." Kata Om sambil menggedong Ibu masuk ke ruangan. Rifki dan Rifka mengikuti Om dari belakang.

Beberapa menit kemudian.

"Apa yang akan terjadi dengan Ibu, Om?" tanya Rifka yang duduk di pangkuan Om.

"Ikka yang sabar ya, Ibu pasti akan segera sadar." Kata Om menenangkan Rifka yang masih menangis. Rifki hanya menunduk menatap lantai yang putih bersih.

Beberapa menit hening. Hanya menyisakan isak tangis Rifka. Sesaat kemudian dokter keluar dari ruangan.

"Dok, bagaimana keadaan Ibu?" tanya Rifki.

"Apa Ibu sudah sadar?" pertanyaan Rifka menyusul.

Lama Dokter tidak menjawab.

"Apa yang terjadi dengan Ibu, Dok?" kini Om yang bertanya.

"Kami minta maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi pasien tidak dapat diselamatkan. Penyakitnya sangat parah." Kata Dokter.

Rifki dan Rifka segera berlari menuju ke ruangan Ibunya.

"Ibu,, bangun Bu'." Rifki tidak dapat menahan air matanya. Ia menangis bersedu-sedu.

"Ibu,, jangan pergi bu', jangan tinggalin Ikka." Kata Rifka sambil menangis tersedu-sedu.

"Ikki, Ikka, yang sabar ya. Doakan semoga Ibu diterima disisi-Nya. " kata Om mencoba untuk menenangkan mereka.

"Ibu ngga' boleh pergi. Om bangunin Ibu." Kata Rifka sambil menatap Ibu. Om hanya menunduk. Tak bisa berbuat apa-apa.

Beberapa menit kemudian, jenazah Ibu pun dimandikan, dikafankan, dishalatkan, dan terakhir dikuburkan. Selama proses tersebut, kedua kakak beradik tersebut tak pernah berpisah sedetikpun dengan Ibundanya tercinta. Barulah setelah Ibu dikuburkan, keduanya pun harus rela berpisah dengan Ibu selama-lamanya.

4 tahun kemudian, tak terasa kedua kakak beradik tersebut tumbuh dengan cepat. Mereka sekarang tinggal bersama Om baik hati.

Di suatu pagi, saat hendak sarapan.

"Om, mau nanya nih, boleh ngga'?" tanya Rifka.

"Boleh. Mau nanya apa?" tanya Om yang sudah mulai sarapan.

"Sebenarnya,, Siapa sih nama Om?" tanya Rifka.

"Memangnya kak Rifki ngga' pernah beritahu soal nama Om?" pertanyaan Rifka tidak dijawab, Om justru balik nanya.

"Loh,, kak Rifki tahu soal nama Om?" tanyanya masih heran.

"Ikka,,, Ikka,, sudah 4 tahun kita bersama Om. Kamu masih belum tahu siapa nama Om yang sebenarnya." Kata Rifki tersenyum.

Rifka menggeleng.

"Soalnya selama ini hanya sebutan Om yang sering Ikka dengar." Kata Rifka.

"Oke,, kalau begitu perkenalkan nama Om, Rafli." Kata Om sambil mengulurkan tangannya. Rifka menyambut uluran tangan tersebut.

"Ohh,, Om Rafli. Unik ya Om, dalam satu rumah nama penghuninya mirip-mirip. Rafli, Rifki, Rifka." Kata Rifka dengan senyum manisnya. Rifki dan Om Rafli ikut tersenyum.

Kembali ke Beranda