Pengalaman Pertama
Romance
04 Dec 2025 17 Dec 2025

Pengalaman Pertama

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (47).jpeg

download (47).jpeg

07 Dec 2025, 17:38

Menjadi penulis adalah keinginan terbesar dalam hidupku. Dan menjadi penulis adalah salah satu cara menyampaikan kebaikan tanpa bertemu secara langsung dengan orang lain. Maklum, aku orangnya tidak pd-an, menyampaikan kebaikan secara langsung kepada orang lain aku rasa itu sulit. Aku merasa minder untuk bicara di depan orang.

Menjadi seperti ini bukanlah pilihanku. Namun, takdir telah membawaku ke tahap ini. Sakit rasanya bila ingin merasakan hidup bebas seperti yang lainnya, punya teman ngobrol, berbagi cerita dan bercanda bersama, pasti menyenangkan. Namun takdir berkata lain.

Aku berada di tempat sepi. Tidak banyak orang yang sering ku temui. Hanya kehampaan yang selalu hadir di lembaran hidup ini. Menjelang sholat isya, aku diberikan tiket untuk acara bedah buku yang akan di diadakan di gedung pemuda. Aku rasa ini adalah momen langka yang terjadi padaku.

Di malam yang sepi ini, kupandangi cahaya rembulan dari balik jendela kamarku. Sejenak aku terkesima mengagumi ciptaan Tuhan yang indah ini. Di sekeliling rembulan, ada ribuan bahkan jutaan bintang yang tak kalah menarik untuk dikagumi. Betapa Maha Kuasa Tuhan dalam mengatur segala yang ada di dunia ini. Tak seorang pun yang mampu menandingi kekuasaan-Nya.

Kualihkan pandanganku ke arah meja belajar yang terbuat dari kayu jati yang dibuat sendiri oleh Ayahku. Rindu rasanya bila aku teringat dengan Ayah yang telah pergi untuk selamanya beberapa tahun yang lalu. Begitu banyak kenangan yang terlintas di memori ingatanku tentang Ayah. Tak terkecuali foto keluarga kecil yang dipotret saat lebaran terakhir bersama Ayah yang terbingkai indah di atas meja sana.

Tanpa kusadari ada air mata yang mengalir di pipiku, juga ada rasa rindu yang begitu menggebu di dalam hatiku. Rindu akan sosok Ayah yang selalu memberi motivasi dan mengajariku cara bersyukur atas segala sesuatu yang Tuhan berikan.

Malam semakin larut, kuhapus sisa air mata di pipiku lalu melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Kata Ayah "berwudhulah sebelum tidur, agar malaikat ada di dekatmu dan menjagamu hingga kamu terbangun."

Keesokan harinya saat di gedung pemuda.

Hidangan es campur yang ada di hadapan kami memang sangat cocok disaat cuaca panas seperti saat ini, aku dan beberapa peserta mulai menyantapnya. Beberapa peserta lain mulai berdatangan dan tersenyum ke arah kami.

Sementara di dalam ruangan panitia terlihat sibuk menyiapkan segala keperluan acara mulai dari mendekorasi ruangan sampai menyiapkan kursi untuk peserta.

Peserta yang datang kebanyakan dari kalangan remaja. Maklum temanya tentang cinta. Bicara tentang cinta tak akan pernah ada habisnya. Karena sejatinya cintalah yang bisa membuat bahagia. Mungkin hal ini yang membuat mereka tertarik untuk mengikuti acara ini.

"Assalamu'alaikum..." seorang peserta memberi salam saat tiba di dekat kami.

"Wa'alaikumsalam..." jawab kami kompak.

Dia lalu ikut bergabung bersama kami. Usianya kira-kira masih belasan tahun. Kerudung berwarna biru toska yang menutupi kepala hingga bagian dadanya tampak serasi dengan jilbab yang ia pakai. Membuatnya terlihat seperti muslimah salehah yang mempesona.

"Eee, nama Kakak siapa?" tanyanya dengan mata yang tertuju padaku. Dia membuka pembicaraan denganku karena melihat yang lain pada sibuk dengan hpnya masing-masing. Sementara aku hanya sibuk memainkan renda-renda yang menempel di lengan bajuku.

"Rini." Jawabu singkat.

"Saya Sinta, Kak." Lanjutnya sambil mengulurkan tangan. Kuterima uluran tangannya yang terasa begitu lembut dan hangat. Aku hanya tersenyum tipis.

Beberapa saat setelahnya, kakak panitia memanggil seluruh peserta untuk masuk ke dalam ruangan karena sebentar lagi acaranya akan dimulai.

"Ini Kak, tiketnya." Sinta yang ada di depanku menyodorkan selembar tiket kepada Kakak panitia.

"Silahkan ditulis dulu namanya siapa dan tinggal di mana." Kakak panitia memberikan sebuah pulpen dan selembar kertas setelah mengambil tiket dari Sinta. Begitupun denganku. Setelah selesai menulis nama dan alamat, aku bingung mau duduk di mana. Di tempat ini sangat ramai. Aku merasa takut berada di tengah keramaian ini. Baru pertama kali aku mengalami kejadian seperti ini.

"Duduk sama aku, yuk." Sinta mengajakku ke tempat duduk yang tidak terlalu jauh dari hadapan kami. Aku mengikuti langkahnya dari belakang.

Semua peserta terlihat antusias mendengarkan kata demi kata yang disampaikan oleh pemateri. Begitu juga denganku. Ini adalah pengalaman pertama yang begitu mengesankan bagiku.


Kembali ke Beranda