Rini berjalan pelan menuju ke ruang perpustakaan sekolah bersama Nindi sahabatnya. Mereka termasuk siswa yang pandai memanfaatkan waktu luang. Saat jam istirahat tiba, mereka memanfaatkannya untuk membaca buku di perpustakaan.
Nindi terlihat membawa sebuah buku yang dipinjamnya dari perpustakaan seminggu yang lalu. Dan waktu pengembaliannya adalah hari ini. Jika ditunda, maka ia akan terkena denda. Meski Nindi belum selesai membaca buku itu, ia tetap harus mengembalikannya. Jika masih ingin membacanya, maka ia harus memperpanjang masa pinjamannya selama seminggu ke depan.
Mereka berjalan beriringan memasuki ruang perpustakaan. Rak-rak buku berjejer rapi, begitu pun buku-buku yang tersusun terlihat begitu memanjakan mata. Ruang perpus itu begitu luas, hingga bisa menampung banyak orang juga dilengkapi dengan pendingin ruangan, sehingga siapa pun yang berada di ruangan itu akan merasa adem dan nyaman.
Nindi terus berjalan menuju meja staf untuk memperpanjang masa pinjaman buku yang dipinjamnya. Sementara Rini mencari buku yang menarik untuk dibaca. Dia terlihat membaca satu per satu judul buku yang tersusun rapi itu. Menurut Rini, buku yang menarik untuk dibaca itu bisa dilihat dari judulnya. Jika judulnya menarik, maka besar kemungkinan isi dari buku tersebut juga menarik untuk dibaca.
Mulut Rini terlihat komat-kamit membaca judul buku yang ada di depannya. Sepertinya judul buku yang dibaca itu membuatnya tertarik. Diambilnya dengan pelan buku itu agar buku yang lainnya tidak berserakan. Lalu ia melangkah menuju ke salah satu kursi yang berjejer memanjang dan mulai membaca buku. Nindi yang sudah selesai memperpanjang bukunya berjalan ke arah Rini lalu duduk di sampingnya.
"Nin, kamu sudah selesai?" tanya Rini setelah ia menyadari kalau Nindi sudah duduk di sampingnya.
"Sudah. Tapi jam istirahat masih lama. Aku mau lanjut baca buku." Nindi membuka buku dan mulai membacanya.
"Yaa masih lama sih. Tapi barusan Andi kirim pesan katanya dia mau bagi hadiah lagi. Seperti tahun lalu. Libur semester kemarin dia liburan ke AS. Memangnya kamu nggak baca pesan di grup?" tanya Rini menunjukkan pesan yang ada di handphonenya ke Nindi.
"Nggak." Nindi menggelengkan kepalanya.
Mereka segera berjalan menuju kantin. Kantin yang selalu terlihat bersih setiap saat itu merupakan salah satu kantin yang diminati para siswa di setiap jam istirahat. Aneka jajanan ringan terlihat memenuhi ruang bagian depan kantin. Membuat siswa puas memilih jajanan yang mereka suka. Termasuk Rini dan Nindi, coklat belgia tebal yang menjadi kesukaan mereka. Mereka segera membeli makanan kesukaannya itu setelah akhirnya pandangan mereka tertuju ke arah Andi yang sedang ngobrol bareng sahabat-sahabatnya di kantin sebelah, yang khusus untuk makanan berat seperti bakso, mie goreng, nasi goreng dll.
"Rin, kamu yakin mau gabung bareng mereka? Di sana kebanyakan cowok. Nanti aja ke sananya, ya." Nindi merasa tidak nyaman bila di sekitarnya kebanyakan cowok.
"Yakin lah. Ngapain harus malu. Kamu kayak nggak tau aja, paling sebentar lagi para siswi berdatangan." Kata Rini.
"Aku memang nggak tahu kok. Kamu kan nggak pernah ngajakin aku kalau si Andi siswa paling kaya itu bagi-bagi hadiah." Nindi terlihat kesal.
"Terus, sekarang aku nggak ngajakin kamu, gitu?"
"Tapi kan, baru kali ini." Nindi masih terlihat sedikit kesal.
Rini tak menghiraukan sahabatnya itu. Dia langsung melangkah ke arah kantin sebelah. Disusul Nindi.
"Good morning, guys." Sapa Rini sesaat setelah tiba di dekat Andi yang sedang menikmati semangkuk bakso.
"Good morning too, guys." Sapa Riska and the geng tak kalah hebohnya.
"Tumben Rin, kamu barengan sama mereka?" tanya Andi setelah menelan bakso yang baru saja dia kunyah.
"Siapa yang barengan, aku yang tiba lebih dulu kalii..." Rini terlihat tak mau kalah dari Riska and the geng.
"Sebenarnya ada apa sih Rin? Kok jadi debat kayak gini?" tanya Nindi heran.
"Kamu tau kan, kalau si Andi orang tajir?" tanya Rini
"Tau, terus?" Nindi terlihat mengangguk.
"Hari ini dia mau bagi hadiah lagi seperti yang aku bilang tadi. Kalau tahun lalu hadiahnya berupa gantungan kunci dari paris katanya. Tapi, yang dapat hadiahnya tergantung siapa yang beruntung. Tahun lalu aku nggak beruntung. Semua hadiahnya Riska and the geng yang dapat. Makanya kali ini aku nggak boleh kalah dari mereka." Rini agak berbisik ke arah Nindi.
"Maksudnya?" tanya Nindi.
"Pakai peraturan."
"Kali ini peraturannya beda, ya. Karena hadiahnya mewah. Peraturannya adalah tes kekompakan. Satu tim terdiri dari dua orang. Setiap tim diberi kesempatan satu kali main. Jawabannya harus kompak, ya. Biar bisa dapat hadiah." Andi menjelaskan peraturan untuk mendapat hadiah darinya.
"Nin, bareng aku ya. Please! Aku mau banget dapat hadiah itu." Bujuk Rini. Nindi hanya mengangguk. Sementara Andi terlihat membagikan brosur kepada siswa.
"Di brosur ini ada tiga pertanyaan. Jawabannya harus kompak dengan partnernya, ya. Tapi, tidak boleh nyontek. Pengumuman siapa yang berhasil dapat hadiah akan diumumin besok." Kata Andi sambil terus membagikan brosur.
"Kenapa harus pakai peraturan sih? Kalau mau bagi-bagi hadiah, bagi sama rata aja kali." Nindi berbisik ke telinga Rini.
"Biar kelihatan lebih seru gitu. Soalnya hadiahnya terbatas. Kalau dibagikan satu persatu kan nggak seru." Kata Rini.
Nindi berdengus.
Mereka segera duduk di kursi yang sedikit berjauhan.
"Nin, ingat, jawabannya harus kompak." Kata Rini agak berbisik ke Nindi yang sudah bersiap mencontreng jawaban pilihannya.
"Mana aku tau jawaban kamu apa." Nindi jadi bingung.
"Pakai feeling, pakai feeling." Rini menyentuh kepalanya menggunakan jari telunjuk.
"Ssstt, dilarang bisik-bisik." Kata Rio teman Andi yang menjadi pengawas.
Keesokan harinya.
Rini dan Nindi serta beberapa siswa yang ikutan bagi-bagi hadiah kemarin terlihat cemas menanti pengumuman siapa yang akan dapat hadiah kali ini. Mereka berharap bisa pulang membawa hadiah yang mereka inginkan. Alhasil, mereka yang beruntung berhasil membawa pulang hadiah mewah berupa jam tangan dari AS. Termasuk Rini dan Nindi. Mereka mengucapkan terima kasih kepada Andi. Meski pun Andi orang kaya, namun ia tidak sombong. Justru ia suka berbagi hadiah kepada orang lain.