Sebuah gedung yang mengarah ke jalan raya dengan tulisan Madrasah Aliyah Negeri yang terpampang jelas di bagian depan gedung itu tampak sunyi. Hanya suara guru yang sedang mengajar terdengar sekilas. Wardah dan seorang staf berjalan pelan menuju ruang kelas XI C yang akan menjadi tempat baru bagi Wardah untuk menuntut ilmu, setelah kemarin seharian mengurus surat pindah di sekolahnya yang dulu.
Tidak ada yang salah dengan sekolah Wardah yang dulu. Hanya saja Ayah Wardah yang pindah bekerja ke kota yang di juluki kota idaman itu. Sehingga mengharuskan Wardah ikut pindah ke kota itu juga. Wardah merasa berat hati meninggalkan sekolahnya yang dulu. Meninggalkan teman-teman seperjuangannya dan juga para guru yang dengan ikhlas membagi ilmu dengannya. Namun apalah daya, Wardah hanyalah seorang anak yang ikut kemana orang tuanya pergi.
Kebetulan pagi ini yang mengajar di kelas XI C adalah pak Jarno selaku wali kelas. Jadi sekalian Wardah bisa memperkenalkan diri di hadapan pak Jarno dan teman-teman sekelasnya. Menurut Wardah, siswa-siswi di sini cukup baik, hanya satu dua orang yang menjengkelkan. Baru beberapa menit mereka berkenalan dengan Wardah, mereka dengan spontan mengikuti logat bicara Wardah. Membuat Wardah terlihat sedikit jengkel.
Beberapa saat setelah Wardah memperkenalkan diri, salah seorang siswi menyarankan Wardah untuk duduk sebangku dengannya. Kebetulan teman sebangkunya sudah berhenti sekolah.
Setelah pelajaran pertama selesai. Dengan penasaran Wardah bertanya tentang Kamila, siswi yang baru berhenti sekolah beberapa minggu yang lalu itu.
"Mm... ngomong-ngomong kenapa Kamila berhenti sekolah?" Tanya Wardah ke teman-teman yang sedang berkerumun di dekatnya. Maklum, mereka ingin tahu banyak tentang identitas Wardah.
Salah seorang di antara mereka menjawab pertanyaan Wardah,
"Kamila dijodohkan dengan pria pilihan orang tuanya."
Mendengar jawaban itu, Wardah langsung terdiam. 'Bagaimana jika Ayah yang berbuat seperti itu padaku? Itu pasti sangat menyakitkan.' Wardah bermonolog.
Wardah ikut prihatin setelah mendengar banyak hal tentang Kamila. Siswi nomor satu di kelas itu yang memiliki wajah cantik harus rela memendam semua cita-cita mulianya, demi untuk menunaikan bakti kepada ayahnya tercinta.
Beberapa hari kemudian. Pernikahan Kamila pun dilangsungkan. Teman sekelasnya semua diundang tanpa terkecuali. Namun hanya beberapa yang bisa hadir. Wardah benar-benar terpesona saat melihat wajah cantik Kamila. Apalagi tentang perilakunya yang luar biasa mulia. Dengan senyuman indah yang selalu hadir di setiap saat. Seakan menunjukkan bahwa tidak ada masalah yang terjadi dalam hidupnya.
"Terima kasih ya, teman-temanku semuanya sudah menyempatkan waktu untuk hadir di hari pernikahanku ini." Begitu kata Kamila sambil memeluk satu per satu teman-temannya. Termasuk Wardah yang baru pertama kali Kamila lihat.
"Oh ya, kenalin ini Wardah teman baru kita yang baru pindah beberapa hari yang lalu." Tasya mengenalkan Wardah pada Kamila saat Wardah ikut menjabat tangan dan memeluk Kamila.
"Selamat ya, atas pernikahannya. Semoga SAMAWA." Ucap Wardah sesaat setelah melepas pelukan dari Kamila.
"Aamiin. Terima kasih." Kata Kamila sambil tersenyum.
Wardah melihat penampilan Kamila begitu sederhana. Namun di sisi lain Kamila terlihat begitu mempesona. Mungkin karena kecantikan yang di milikinya, sehingga siapa pun yang melihatnya akan terpesona dengan penampilannya.
***
Sebulan berlalu setelah mengadiri pernikahan Kamila, Wardah memutuskan untuk mengikuti rohis bersama temannya yang lain. Barangkali dengan keikutsertaan Wardah dalam organisasi rohis tersebut, Wardah bisa mengikuti jejak Kamila yang memiliki perilaku yang mulia. Di sana juga banyak ilmu yang bisa Wardah dapat. Termasuk ilmu tentang menutup aurat. Sebagai seorang perempuan yang paling diutamakan adalah menutup aurat. Sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Qur'an surah An-Nur ayat 31.
Dan saat itulah Wardah memutuskan untuk memakai kerudung panjang yang menutupi kepala hingga bagian lutut. Meski yang di perintahkan adalah menutup kepala hingga bagian dada saja, namun Wardah merasa lebih tenang bila memakai kerudung panjang yang menutupi setengah bagian dari tubuhnya. Wardah merasa dirinya terlindungi dengan pakaian kerudung yang ia kenakan. Begitu juga dengan teman-teman Wardah yang lain. Ada yang mengambil keputusan memakai kerudung panjang sama seperti Wardah, namun ada juga yang masih stay dengan kerudung yang menutupi kepala hingga bagian dada saja seperti yang diperintahkan dalam agama.
Seperti biasa setiap hari rabu siswa kelas XI C belajar penjaskes. Semua siswa berbaris di lapangan lima menit setelah bel berbunyi. Bagi yang terlambat hukumannya adalah lari keliling lapangan sebanyak lima kali untuk laki-laki dan tiga kali untuk perempuan. Terkadang siswa yang terlambat terlihat mendesah karena harus menjalani hukuman. Namun hukuman ini adalah pelajaran bagi mereka yang terlambat agar selanjutnya bisa disiplin dan mematuhi peraturan.
Selesai pemanasan, ketua kelas mengarahkan para siswa menuju ke lapangan lompat jauh. Karena Hari ini praktek, setelah minggu lalu pak guru menjelaskan materi tentang lompat jauh.
Praktek hari ini berjalan dengan lancar. Hampir semua siswa menguasai materi yang sudah dijelaskan sebelumnya. Pak guru terlihat puas dengan pencapaian para siswanya. Hanya memberi sedikit saran bagi siswa yang memiliki badan yang gemuk.
"Bagi yang merasa dirinya gemuk, besok-besok diet ya, supaya pas pengambilan nilai minggu depan hasil lompatannya bisa lebih memuaskan dari hari ini." Kata pak guru sedikit meledek.
"Paling dietnya cuma bisa sehari doang, setelah itu pasti makannya lebih lahap dari biasanya." Andri ikut meledek di ikuti gelak tawa sebagian siswa laki-laki.
"Ih, apaan sih." Kata Siska sambil melempar kerikil ke arah Andri dengan pelan. Siska yang memiliki badan gemuk itu merasa tersinggung.
"Ya sudah kalau begitu. Kalau memang nggak bisa diet, diusahain ya minggu depan hasilnya bisa lebih baik dari hari ini." Kata pak guru.
"Siap, pak." Kata Siska diikuti beberapa siswa lainnya.
"Untuk praktek hari ini cukup sampai di sini. Sekarang kalian boleh istirahat." Kata pak Jaka guru olahraga yang ditugaskan untuk mengajar khusus kelas XI itu menutup materi pelajaran hari ini lalu beranjak meninggalkan lapangan lompat jauh.
***
Seminggu kemudian...
Para siswa sudah bersiap di lapangan lompar jauh menunggu aba-aba dari sang guru. Pak Jaka memberikan aba-aba kepada para siswa agar menempati posisi masing-masing berdasarkan urutan absen kelas, namun siswa laki-laki dan perempuan dipisah saat melakukan praktek lompat jauh. Para siswa laki-laki disarankan melakukan lompatan terlebih dahulu oleh pak Jaka. Agar menjadi contoh kepada siswa perempuan. Karena siswa laki-laki rata-rata sudah melakukan lompatan yang sempurna pada saat praktek minggu kemarin.
Satu per satu siswa laki-laki melakukan lompatan. Memperlihatkan kemampuan yang mereka miliki. Mengambil ancang-ancang dari kejauhan lalu kemudian berlari secepat mungkin. Kemudian melakukan tumpuan pada papan kecil dengan salah satu kaki terkuat mereka lalu melakukan lompatan sejauh mungkin dengan pedaratan yang harus sempurna sesuai dengan materi yang sudah pak Jaka sampaikan minggu lalu.
Kini giliran siswa perempuan yang akan menunjukkan kebolehannya. Wardah menjadi siswa kedua dari terakhir yang akan melakukan lompatan. Namun ada yang beda saat Wardah akan melakukan lompatan. Wardah tetap memakai kaos kaki. Hal ini yang menyebabkan ia dipanggil oleh pak Jaka.
"Wardah, tolong kaos kakinya di lepas. Peraturan lompat jauh tidak diperbolehkan memakai kaos kaki." Pinta pak Jaka.
"Tapi pak, kaki saya termasuk aurat. Jadi, saya harus tetap memakai kaos kaki ini." Kata Wardah.
"Dalam peraturan lompat jauh, tidak diperbolehkan memakai alas kaki meskipun itu hanya kaos kaki." Sekali lagi pak Jaka memberi penjelasan kepada Wardah. Selanjutnya pak Jaka memanggil siswa terakhir.
Wardah terlihat menunduk. Ada rasa kecewa sekaligus sedih yang terlihat di wajahnya. Ia beranjak dari hadapan pak Jaka lalu melangkah menuju kelas setelah sebelumnya ia mengambil sepatu. Teman-temannya mengikuti langkah Wardah. Tasya terlihat merangkul Wardah sampai ke dalam ruang kelas.
Tangis Wardah pecah saat tiba di ruang kelas. Ia duduk di kursi lalu menundukkan kepalanya ke atas meja. Tasya terlihat mengusap pundak sahabatnya itu seraya menenangkan Wardah dari tangisnya.
"Wardah yang sabar ya, jangan menangis lagi. Nanti kita bicara dengan pak Jaka. Semoga pak Jaka bisa mengerti apa yang kita sampaikan." Kata Tasya.
Setelah jam istirahat tiba, Wardah bersama beberapa temannya menuju ke kantor untuk menemui pak Jaka. Mereka meminta ke pak Jaka agar memberikan keringanan untuk Wardah agar dia tetap mendapat nilai untuk materi lompat jauh. Alhasil, mereka berhasil membujuk pak Jaka. Wardah diberi tugas berupa soal-soal yang harus ia kerjakan dalam Waktu seminggu. Wardah harus menyetor tugas itu tepat waktu, agar Wardah bisa mendapat nilai sama seperti teman-temannya yang lain.