Kehilanganmu
Romance
06 Dec 2025 17 Dec 2025

Kehilanganmu

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

A_realistic_cinematic_202512090051 (1).jpeg

A_realistic_cinematic_202512090051 (1).jpeg

08 Dec 2025, 17:51

Oh, begini rasanya kehilangan dirimu, kekasih

Tak pernah 'ku bayangkan sakitnya akan seperti ini

Kau telah pergi dari hidupku

Oh, mengapakah kau tinggalkan aku seperti ini?

Saat aku masih berharap

Cinta ini masih bertahan untuk kita

Oh, mengapakah kau membawa semua kenangan indah bersama kita dulu?

Kini berakhir untuk selamanya

🎵 Judika - Tak Mungkin Bersama ðŸŽµ

💔💔💔

Aku meraih pigura foto yang terletak di atas nakas. Pigura berukuran sedang itu menampilkan sosok rupawan dengan senyum manis terukir di wajahnya. Perlahan, jariku menyusuri wajah di pigura foto itu. Bergerak lambat, seakan wajahmu yang aku elus saat ini.

Mataku terpaku melihat senyummu yang begitu lebar. Senyum yang sampai hingga ke mata, membuktikan betapa tulus dan bahagianya senyuman ini. Senyuman yang selalu aku rindukan.

I miss you so much. Kenapa kamu tega ngelakuin ini semua ke aku, Ben?"

"Sayang, air rebusan kamu udah mendidih nih," teriak Beni, suamiku. Aku yang sedang mencari buku anakku yang ntah terletak dimana berdecak kesal.

"Masukin mienya, Ben. Aku lagi bantu Rudi nyari bukunya," balasku juga berteriak. Tidak ku dengar lagi balasannya darinya. Mungkin dia sudah melakukannya. Aku kembali fokus mencari buku anakku yang ntah nyempil dimana.

"Bukunya kamu taruh dimana sih?" Tanyaku pada Rudi. Rudi menggeleng polos.

"Rudi lupa, Bu." Aku menghela napas pelan. Anakku ini sangat pelupa, persis seperti ayahnya. Dia bisa lupa dimana meletakkan buku yang tadi dia pakai, sama seperti Beni yang suka lupa dimana letak pensilnya setelah menggambar desain bangunan padahal pensil itu terselip antara kepala dan telinganya.

"Coba liat di bawah meja belajarnya. Siapa tahu jatuh." Rudi mengangguk lalu menundukkan tubuh kecilnya agar bisa masuk ke kolong meja. Saat aku hendak menyusul Rudi, Beni muncul dengan cengiran khasnya.

"Sayang."

"Kenapa, Ben? Mienya udah masak?" Beni memasuki kamar Rudi lalu menatapku polos. Aku heran melihat tingkah anehnya ini. "Kenapa?"

"Masakin mie dong."

"Lah kan udah. Mienya udah kamu rebuskan?" Beni menggeleng. Aku membelalak melihat gelengannya itu. Bukankah tadi aku menyuruhnya memasukan mie ke air yang sudah mendidih?

"Kompornya aku matiin. Mienya belum aku masukin."

"Loh loh. Katanya kamu mau makan mie," kataku heran.

"Iya. Tapi buatan kamu," renggutnya. Astaga suamiku ini.

"Kan udah aku buatin, Ben. Kamu cuma masukin mienya ke air karena aku lagi bantu Rudi," kataku gemas. Beni tetap menggeleng. Lalu dia memelukku manja, menempatkan dagunya di bahuku.

"Maunya kamu yang masakin dari awal sampai akhir. Harus kamu doang. Nggak boleh orang lain apalagi aku," katanya manja. Aku mendesah pelan. Suamiku ini kadang memang kelewatan manjanya. Semua harus aku, tidak boleh orang lain.

"Tapikan aku lagi bantu Rudi, Ben," kataku pelan. Aku mengelus lengannya yang melingkar di tubuhku. Aku bisa merasakan Beni menggeleng.

"Ibu, bukunya ketemu!" Seruan Rudi membuyarkan fokusku pada Beni. Aku sampai lupa harus membantu putraku. "Ih Ayah kok peluk-peluk Ibu?"

"Ayahkan sayang sama Ibu makanya Ayah peluk Ibu. Emangnya Rudi yang nggak sayang sama Ibu," cibir Beni bercanda yang mendapat teriakan dari Rudi.

"Rudi sayang sama Ibu." Rudi menyerbu memelukku. Lengan kecilnya memeluk pahaku.

"Iya iya. Ibu juga sayang sama Rudi sama Ayah."

Air mataku yang sudah bersusah payahku tahan sejak tadi akhirnya merembes keluar saat mengingat kenangan yang kami miliki. Setitik demi setitik, kelamaan makin deras hingga membasahi kaca pelindung pigura ini. Aku bergegas menyeka pipiku yang makin basah karena aku tahu dia tidak suka melihatku menangis. Tapi apa daya, air mata ini terlalu deras hingga aku sendiri tidak sanggup lagi untuk menyekanya.

"Sayang, maaf. Aku nggak bisa nepatin janjiku. Aku nggak bisa nggak nangis ketika kamu pergi," lirihku pilu. Pigura itu ku peluk erat di dadaku. Tangisku kian mengencang seiring dengan sesak yang makin menyiksa di dadaku ini.

Aku selalu begini. Selalu menangis pilu jika mengingat sosoknya. Apalagi ketika kejadian malam terakhir itu terlintas di otakku. Aku tidak bisa menahan tangisku.

Hujan deras mengguyur kota kelahiranku sejak tadi sore. Hingga malam menjemput, hujan ini tidak kunjung reda. Petir masih setia menyambar membuatku takut menghidupkan barang elektronik.

Rudi baru saja tertidur karena anakku itu memang gampang mengantuk jika cuaca dingin seperti ini. Sedangkan Beni sedang asik selonjoran di kasur dengan buku di tangannya.

"Baca apa sih?" Tanyaku penasaran. Aku mendekatinya. Beni yang selalu memprioritaskanku diatas apapun segera meletakan bukunya di nakas lalu meraupku dalam pelukannya.

"Aku jawabpun kamu nggak akan paham," ledeknya. Dia mengusel-usel hidungnya di puncak kepalaku, kebiasannya dari dulu.

"Ih jahat banget ngatain istrinya bodoh." Aku memukul pelan dadanya yang disambut kekehan oleh Beni.

"Rudi udah tidur?"

"Udah. Anak kamu itukan gampang banget tidur kalau hujan gini. Dikira suara hujan itu lullaby tidurnya kali."

"Bagus dong. Dari pada dia ketakutan."

"Hm." Aku berdehem membenarkan. Aku menyandarkan kepalaku di dada bidangnya. Meresapi kenyamanan yang selalu dia suguhkan.

"Yang, aku mau nanya."

"Biasanya juga langsung nanya tanpa minta izin," cibirku. Beni terkekeh. "Mau nanya apa? Serius banget kayaknya sampai minta izin gitu?"

Aku mendongak menatap wajah tampannya. Tapi Beni segera menarik kepalaku agar menempel kembali dengan dadanya. "Senderan aja. Jangan jauh-jauh."

"Suka banget sih aku templokin." Lagi-lagi Beni terkekeh. Tangannya bergerak lembut membelai punggungku, membuatku semakin nyaman.

"Kamu jangan nangis ya kalau aku pergi suatu saat nanti." Aku terkejut mendengar perkataannya. Beni tidak pernah mengatakan hal mengerikan seperti ini sebelumnya. Aku hendak melepaskan pelukanku padanya dan protes pada kalimatnya itu. Tapi Beni segera mengunciku dalam pelukannya.

"Dibilang senderan aja."

"Kamu ngomong apa sih? Aku nggak suka."

"Aku cuma bilang aja, Sayang. Kamu tahu sendiri kalau aku paling nggak suka lihat kamu nangis, apalagi karena aku. Jadi kamu harus janji nggak akan nangis jika suatu saat aku pergi." Beni mencium puncak kepalaku. Tiba-tiba aku diserang ketakutan. Aku tidak pernah membayangkan bagaimana hidupku tanpa Beni dan tidak pernah mau merasakannya.

"Kamu nggak boleh kemana-mana. Kamu harus selalu disini. Nemenin aku sama Rudi," kataku. Aku mengeratkan pelukanku pada tubuhnya. Berusaha mencari ketenangan karena rasa takut menyelimuti hatiku. Beni tidak mengatakan apapun. Dia hanya terus-terusan mencium puncak kepalaku dan mengelus punggungku. Tanpa sadar aku jatuh tertidur dalam pelukannya karena usapan lembutnya di punggungku ditambah cuaca dingin seperti ini.

Aku tidak tahu pukul berapa ketika Beni membangunkanku pelan. Dia izin ingin menuju kantornya yang katanya kemalingan malam itu.

"Besok aja, Ben. Udah malam banget. Di luar masih hujan pula. Aku yakin udah banyak yang kesana," larangku. Aku terlalu khawatir membiarkannya pergi malam ini. Entah karena faktor perkataan Beni sebelum aku tidur tadi atau ada yang lain. Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya tidak ingin melepasnya malam ini.

"Nggak enak, Sayang. Aku harus tetap cek. Sandi sama Wildan udah disana." Beni mendirikan perusahaan arsitektur bersama dua sahabatnya di bangku perkuliahan. Mereka merintis perusahaan itu dari nol hingga sukses seperti sekarang. Aku maklum jika Beni sekhawatir ini ketika kantornya kemalingan. Tapi ini sudah terlalu larut malam dan hujan deras masih mengguyur di luar sana. Aku yakin d ua sahabat Beni sudah bisa menyelesaikan urusan ini tanpa Beni.

"Jangan pergi, Ben. Besok aja. Aku mohon." Mataku berkaca-kaca, berharap ini bisa menahannya. Tapi nyatanya Beni tidak bisa dibantah. Dia tetap ngotot pergi dengan segala bujuk rayunya. Akhirnya aku mengiyakan karena tidak bisa lagi melarangnya. Dadaku terasa begitu sesak melihatnya menukar pakaian.

Sebelum pergi, Beni menyempatkan menuju kamar Rudi. Dia mencium lama dahi anak kami lalu mengelus rambutnya lembut. Tidak biasanya Beni seperti ini. Aku semakin khawatir.

"Aku pergi dulu, ya. Pintu jangan lupa di kunci. Aku bawa kunci duplikat," pesannya.

"Jangan lama-lama. Cepat pulang ya," kataku. Aku memegang erat lengannya. Tidak rela melepasnya pergi.

"Iya. Kamu sama Rudi baik-baik disini ya. Jaga diri. Aku sayang sama kalian." Beni mencium dahiku lama. Aku meremas kuat jaket yang dia pakai, berusaha menahan air mata yang ntah kenapa ingin meluncur. "Bye Sayang."

Aku tidak pernah tahu jika Bye Sayang yang diucapkan Beni merupakan kalimat sekaligus perpisahan terakhir yang dia ucapkan padaku. Aku tidak pernah tahu jika malam itu saat terakhir dia mencium dahiku dan Rudi. Aku tidak pernah tahu jika malam itu saat terakhir aku merasakan pelukannya. Aku tidak pernah tahu...

Jika aku tahu malam itu dia akan meninggalkanku dan Rudi selamanya, aku tidak akan pernah mengizinkannya keluar dari apartemen kami. Aku akan menahannya di kamar, kalau perlu mengikatnya agar dia tidak bisa pergi kemana-mana. Sayangnya itu hanya pengandaian. Nyatanya malam itu Beni tetap pergi dan meninggalkan aku dan Rudi.

Beni mengalami kecelakaan pada malam ditemani hujan lebat itu. Kata polisi yang menghubungiku, mobil Beni tergelincir jalanan yang licin saat dia menghindari lobang besar yang sedang diperbaiki dan malah menabrak truk yang melaju dari arah berlawanan. Mobilnya hancur mengakibatkan Beni harus meregang nyawa pada saat itu juga. Hanya itu yang aku tahu karena aku tidak sanggup mendengar penjelasan lainnya. Hidupku rasanya hancur saat melihat tubuh kaku Beni yang diselimuti kain putih di bankar rumah sakit.

Kepergian Beni merupakan luka besar di hidupku. Berhari-hari aku menangisi kepergiannya hingga jatuh pingsan. Saat pemakamannya aku bahkan hampir saja meloncat ingin ikut masuk jika saja tidak ditahan oleh abangku. Kewarasanku memang sudah hilang seiring dengan menghilangnya sosok Beni di hidupku.

"Aku mau ikut Beni. Aku mau sama Beni," rontaku dipelukan bang Yuda. Aku ingin lepas dari pelukannya dan masuk ke dalam pelukan Beni. Aku ingin menamani Beni didalam sana. Dia pasti akan kesepian jika tidak aku temani. Aku tidak mau membiarkan Beni sendirian. Beni tidak pernah suka tanpa aku.

"Istighfar, Dek. Kamu nggak boleh gini. Beni nggak akan suka lihat kamu yang kayak gini," lirih bang Yuda dengan suara tercekat. Aku memukul dadanya, tidak peduli dengan apa yang dia katakan. Aku hanya ingin bersama Beni. Aku tidak ingin dipisahkan dengan suamiku.

"Lepasin aku, Bang. Aku mau suamiku. Aku mau Beni. Lepas!" Bentakku. Aku berusaha mendorong badannya namun tidak berhasil karena aku tidak ada tenaga sama sekali. Akhirnya yang aku bisa hanya menangis pilu di dada abangku itu.

"Mending kita pulang kalau kamu kayak gini terus," kata bang Yuda. Aku menggeleng tidak mau. Aku mau bersama Beni.

"Nggak mau. Aku mau sama Beni. Aku mau liat Beni," rintihku pilu.

"Kalau kamu masih mau disini, jangan lakuin tindakan bodoh. Beni nggak suka kamu yang kayak gini, Dek." Akhirnya aku tidak meronta lagi tapi bang Yuda tetap memelukku. Aku terus menangis seiring tubuh suamiku dikebumikan.

"Ben, jangan tinggalin aku."

"Ibu." Aku tersentak begitu merasakan elusan lembut di bahuku. Aku menoleh ke belakang, mendapati Rudi yang menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Ibu kangen sama Ayah ya?"

"Harusnya ayahmu ada disini. Dia nemenin kamu pengajian malam ini sebelum besok melihatmu menikah dengan Diana," kataku tercekat. Malam ini adalah malam pengajian sebelum akad nikah anak semata wayang kami besok. Momen sakral seperti ini yang selalu membuatku mengingat Beni terlalu dalam walaupun sudah belasan tahun berlalu.

"Rudi juga kangen Ayah. Rudi juga pengen Ayah ada disini sekarang. Ngeliat Rudi nikah dengan Diana besok." Rudi ikut mengelus pigura foto yang menampilkan wajah tampan Beni disana. "Tapi Rudi tahu, Rudi harus ikhlas ngejalanin semua ini tanpa Ayah. Rudi tahu Ayah akan sangat sedih di atas sana jika melihat kita bersedih seperti ini."

Rudi membawaku masuk ke dalam pelukannya. Tangisku kembali pecah dalam pelukan anakku. Pelukan Rudi mengingatkanku pada pelukan Beni. Hangat dan membuat nyaman.

"Ibu jangan sedih lagi. Kita udah janji bakal bahagia sama Ayah, walaupun nggak bakal sebahagia kalau ada Ayah disini. Rudi akan merasa sangat bersalah sama Ayah kalau biarin Ibu nangis terus. Rudi udah janji di makam Ayah akan selalu bahagiain Ibu."

Ben, anak kita sekarang udah besar. Dia udah mau nikah. Dia juga udah tahu cara bagaimana cara menghiburku setiap kali aku sedih pas ingat kamu. Dia udah jadi sosok yang dewasa, Ben. Dia udah jadi sosok yang persis seperti kamu.

Ben, aku kangen banget sama kamu. Belasan tahun tidak akan pernah bisa nyembuhin luka yang aku rasain karena kehilangan kamu. Belasan tahun tidak juga membuatku tidak menangis ketika mengingat kamu. Air mata ini selalu bebas meluncur ketika aku mengingat kamu.

Ben, maafin aku yang nggak bisa nepatin banyak janjiku sama kamu. Maafin aku yang selalu nangis ketika ingat kamu. Maafin aku yang nggak bisa jadi orang yang kuat setelah kamu tinggalkan. Maafin aku yang sampai saat ini masih butuh kamu. Maafin aku, Ben.

Ben, tunggu aku disana ya. Aku bakal nyusulin kamu disana. Meskipun tidak tahu kapan, aku bakal menemani kamu. Aku tahu kamu pasti kesepian tanpa aku. Aku tahu kamu juga rindu aku, persis seperti aku yang selalu rindu sama kamu.

Beni, I love you so much .

Kembali ke Beranda