Lomba Lari
Teen
09 Dec 2025

Lomba Lari

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

A_realistic_cinematic_202512091250.jpeg

A_realistic_cinematic_202512091250.jpeg

09 Dec 2025, 05:51

Aku Nana. Seorang siswi yang cukup pendiam jika dibandingkan dengan teman-temanku yang hebohnya minta ampun. Ingin rasanya seperti mereka yang seakan tak ada beban hidup yang terlintas dalam pikirannya. Namun, rasa tidak pd berlebihan yang kumiliki memaksaku hanya terdiam menyaksikan keseruan mereka.

Aku terkadang ingin memaksakan diri berbaur bersama mereka, namun ada rasa takut yang aku rasakan. Rasa takut bila nanti mereka mengabaikanku disaat aku berbicara, rasa takut bila mereka tidak nyaman dengan keberadaanku. Selalu itu yang terlintas dalam pikiranku. Hal inilah yang membuatku selalu menyendiri di dalam kelas.

Hari ini kami siswa/i kelas VIIIA akan melakukan praktek olahraga lari yang nantinya akan dinilai oleh guru olahraga kami. Aku dan teman-teman berjalan menuju ke lapangan olahraga. Kemudian memulainya dengan pemanasan untuk merenggangkan otot-otot lalu dilanjutkan lari mengelilingi lapangan. Cukup menguras energi memang, namun inilah peraturan yang harus dilakukan sebelum melakukan olahraga inti.

Pemanasan pertama dimulai dengan posisi kedua tangan diangkat ke atas dilanjutkan dengan pemanasan berikutnya. Aku mengikuti pemanasan ini dengan sungguh-sungguh. Agar nanti saat praktek dan pengambilan nilai hasilnya bisa maksimal. Pak Ikmal selaku guru olahraga memulai praktek dengan mengabsen satu persatu siswa yang akan mengikuti olahraga lari ini.

Praktek kali ini sekaligus merupakan lomba. Pelari tercepat akan mendapatkan nilai tertinggi. Meskipun badanku pendek dan kecil, namun kecepatan lariku lumayanlah, heheh...

Kartika, siswi yang berbadan tinggi dan sedikit kurus itu menjadi lawanku. Kalau dilihat dari segi postur sih, memang tidak sebanding. Tapi, aku harus berusaha melakukannya dengan maksimal.

Aku dan Kartika berada di tempat yang sejajar dengan posisi jongkok.

"Bersedia, siap, priiitt!" Aba-aba dan suara pluit pak Ikmal berbunyi bersamaan dengan itu aku dan Kartika berlari sekuat tenaga, sekitar sepuluh meter dari garis star, aku dan Kartika masih berada pada posisi yang sejajar. Namun, setelah itu Kartika tiba-tiba melesat dengan cepat meninggalkanku yang mulai ngos-ngosan. Aku terus berlari, meski dalam hati mulai pasrah.

Alhasil, aku harus mengakui keunggulan Kartika yang tampak tersenyum penuh kemenangan. Sementara aku masih berusaha mengatur nafas yang masih ngos-ngosan. Ya sudahlah, mungkin ini bukan keberuntunganku.

Tapi, ini bukan hasil akhir, masih ada kesempatan kedua untuk menjadi yang terbaik kedua. Siswa yang menang akan melawan siswa yang menang lainnya untuk memperebutkan posisi pertama. Sementara siswa yang kalah akan memperebutkan posisi pelari tercepat kedua. Kesempatan yang bisa aku raih adalah menjadi pelari tercepat urutan kedua. Semua siswa yang kalah mengambil posisi star secara bersamaan.

Saat ini aku berada di posisi kedua dari depan. Yap! Aku harus berusaha melewati Sari yang berada sekitar lima langkah dari hadapanku jika aku ingin menjadi pelari tercepat dengan nilai tertinggi kedua ini terwujud.

Garis finis sudah semakin dekat. Sekitar dua langkah lagi aku bisa sejajar dengan Sari.

"Sari, percepat larimu..." Teriak salah seorang kakak kelas saat menyaksikan kami yang sedang berjuang mencapai garis finis. Kulihat sekilas, ternyata kakak kelas itu adalah tetangga Sari sekaligus teman akrabnya. Tanpa menoleh, Sari langsung mempercepat larinya setelah tahu aku sudah ada di dekatnya.

Aku yang tidak pernah menyangka akan ada kejadian yang seperti ini tiba-tiba merasa lemas, semangat juangku hilang seketika. Lenyap sudah kesempatanku meraih posisi pelari tercepat kedua.

Sari berhasil sampai ke garis finis dan otomatis meraih posisi kedua pelari tercepat dan mendapat nilai tertinggi kedua. Lalu, bagamana denganku? Entahlah! Aku juga tidak tahu. Yang ada dalam fikiranku saat ini adalah aku sudah gagal dalam perjuangan yang sudah aku lakukan dengan semaksimal mungkin, namun hasilnya yang tidak maksimal.

Meski aku kalah, tak apa. Jangan menyerah! Jangan putus asa! Semangat untukku.

Kembali ke Beranda