Pagi yang indah bersama mentari yang menghangatkan jiwa. Bahagia! Seperti itulah gambaran yang kami rasakan saat ini. Berbaris rapi di tengah lapangan, menunggu aba-aba dari sang komandan. Aku tidak tahu persis mengapa mereka menyebutku sebagai komandan? Padahal usia kami sama, 15 tahun. Yang membedakan hanyalah statusku sebagai ketua kelas bagi mereka. Mungkin itulah alasan mereka memanggilku komandan. Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai gurauan mereka.
Seperti biasanya, setiap hari sabtu jadwal mata pelajaran kami adalah olahraga. Banyak siswa yang menggemari pelajaran olahraga, termasuk aku. Bisa dikatakan aku hampir menguasai semua materi tentang olahraga yang sudah pernah guru ajarkan. Termasuk hari ini, materi tentang bela diri adalah materi yang paling aku sukai.
Hari ini kami belajar tentang bagaimana cara kita tetap bisa berdiri tegap disaat orang-orang berusaha untuk menjatuhkan kita. Yah! Walaupun kita pernah melakukan kesalahan, setidaknya berusahalah untuk belajar dari kesalahan yang pernah kita perbuat. Percayalah bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Sehebat apapun diri mereka.
Sekarang giliranku untuk menunjukkan kebolehanku dalam ilmu seni bela diri. Yang harus aku lakukan adalah fokus dan konsentrasi. Daaan pertarungan dimulai.
Hiyaaakk!!
Uhh!! Awal yang bagus. Lawanku menggunakan kekuatan lengan untuk menyerangku. Kucoba untuk menangkisnya. Alhasil lawanku kembali ke posisi semula dan tidak berhasil menjatuhkanku.
Memasuki tahap kedua, kini giliranku untuk menyerang. Meskipun lawan yang kuhadapi saat ini adalah sahabatku sendiri, tapi di posisi saat ini dia adalah lawanku. Di permainan ini lawan punya tiga pilihan, mengalah, bertahan dan mengalahkan lawan. Strategi yang kugunakan adalah menggunakan kedua lengan dan satu kakiku untuk menyerang. Alhasil, dia tak mampu untuk bertahan. Permainan telah usai. Tapi, Tiba-tiba dia kembali menyerangku dengan meninju bagian wajahku. Aku yang tidak siap dengan serangan itu dengan spontan menutup wajahku menggunakan telapak tangan, lalu pamit ke guru olahraga kami. Mereka semua tidak boleh tahu tentang kelemahanku.
Bel istirahat telah berbunyi. Sementara aku masih di ruang ganti. Aku sama sekali tidak berani untuk keluar dari tempat ini. Darah segar masih saja terus mengalir dari kedua lubang hidungku. Yah, inilah kelemahanku, selalu mimisan disaat hidungku dipukul, apalagi saat ditonjok seperti tadi. Uhh! Aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa? Yang tahu dan yang selalu memahamiku di saat situasi seperti ini adalah Kevin. Yah, sahabatku yang tadi menonjokku. Entah mengapa hari ini dia berubah.
Sebelum teman-teman datang ke ruangan ini, aku harus keluar ke tempat yang sepi. Di mana lagi kalau bukan di toilet. Sekalian untuk membersihkan darah yang terus mengalir dari kedua lubang hidungku. Di saat aku sedang membersihkan darah di bawah hidung, di saat itu pula aku teringat semua kenangan bersama Kevin. Kevinlah yang selama ini selalu menjadi partnerku dalam hal apapun selama di sekolah.
Beberapa menit berselang, aku mendengar suara beberapa orang yang sedang ngobrol. Sepertinya suara itu tidak asing lagi di telingaku. Itu sepertinya suara dari orang yang aku kenal. Ternyata dugaanku benar. Dia adalah Ronald kelas IX A. Ronald terkenal dengan kemampuannya yang jago bela diri. Namun, dipertandingan beladiri antar kelas tahun lalu aku mampu mengalahkannya. Raut kekesalan di wajahnya pun tampak jelas saat aku mengalahkannya di depan banyak orang kala itu. Dan sampai saat ini kekesalan dan dendamlah yang selalu ia tampakkan di kala ia berjumpa denganku.
Darah telah berhenti mengalir dari ke dua lubang hidungku dan Alhamdulillah perasaanku sudah agak enakan. Namun, setelah aku keluar dari toilet, Ronald dan kawan-kawan sudah berdiri rapi tepat di hadapanku. Entah mereka sengaja menghampiriku atau cuma kebetulan. Yang jelas akhir-akhir ini mereka selalu menatapku dengan ekspresi penuh dendam.
“Hai, Fadhil. How are you?” Sapa Ronald dengan wajah yang agak menakutkan menurutku.
“Hai, …” Jawabku sedikit gemetaran. Aku takut mereka akan melampiaskan kekesalan dan dendam yang sudah setahun mereka pendam. Kini tak ada lagi Kevin yang menemaniku.
“Hei, come on, jangan gemetar gitu, santai aja.” Katanya lagi sambil merangkul pundakku.
“Oh ya, aku dengar –dengar tadi kamu membuat kehebohan di luar sana. Kamu mempermalukan sahabatmu sendiri di hadapan teman-teman kamu? Bahkan di hadapan guru? Ya kan?’’ Tanyanya melotot padaku.
Aku harus berusaha pergi sebelum mereka memukuliku.
“Ee,,,, tadi itu praktek. Guru memberi nilai. Jadi, aku melakukan apa yang aku bisa." Jawabku.
“Ooh,,, jadi karena masalah nilai kamu melakukan semua itu pada sahabatmu sendiri.“ Ungkap teman yang ada di sampingnya.
"Mm maaf, aku permisi." Kataku lalu beranjak pergi.
Tapi sepertinya mereka tidak membiarkanku pergi. Dengan paksa Ronald menarik kerah bajuku lalu memukuliku hingga terjatuh di hadapan mereka.
"Hey, jangan lari dari masalah, kamu!" Kata Ronald melotot padaku.
Aku menutup kedua mataku. Aku tak mampu melihatnya yang terus melotot. Jujur, aku paling tidak suka melihat ada orang yang melotot, apalagi orang itu melihat ke arahku. Hal itu membuatku teringat masa lalu.
Aku sebenarnya tidak tega melihat diriku seperti ini. Aku merasa aku kembali ke masa lalu dimana saat aku dibentak oleh papa.
Dulu papa sangat tidak manusiawi dalam memperlakukan kami sebagai keluarganya. Kerjaannya main judi dan terus memeras mama. Jika mama tak punya uang, maka papa akan membentak mama bahkan sampai memukulinya. Aku yang menyaksikan mama disakiti, tidak tega rasanya bila hanya tinggal diam. Kala itu aku membela mama yang tidak mampu melakukan apa-apa. Aku mengatakan pada papa bahwa semua ini bukan salah mama. Mama tidak melakukan kesalahan sama sekali. Justru yang salah itu papa, yang terus menerus memeras mama. Tapi papa bukannya menyadari kesalahannya, malah aku yang ikut dibentak dan dipukuli. Akhirnya mama tidak tahan dengan keadaan yang terus membuatnya tersiksa dan minta cerai ke papa. Saat papa mendengar mama minta diceraikan, disitulah papa baru menyadari kesalahannya dan minta maaf pada mama. Tapi, apa boleh buat, mama terlanjur kecewa dan sakit hati karena perlakuan buruk papa. Dan pada akhirnya mereka bercerai.
Itulah alasan mengapa aku ingin menguasai ilmu bela diri dan selalu ingin menjadi juara di setiap perlombaan yang aku ikuti. Karena aku ingin melindungi mama di saat papa atau orang lain menyakiti mama. Aku ingin menjadi orang pertama yang melindungi mama. Aku tidak ingin melihat mama menderita lagi seperti dulu.
"Hey,,, jangan melamun kamu. Ayo lawan kami semua kalau kamu memang jagoan." Kata Ronald membuyarkan lamunanku.
Aku berdiri perlahan dan mencoba untuk menahan emosi.
"Maaf, bukannya tahun lalu aku sudah menunjukkan pada kalian kalau aku juga bisa menang melawan kalian? Maaf lagi nih, ya, bukannya aku sombong, tapi seharusnya kan masalahnya sudah selesai tahun lalu. Kalau memang kalian mau balas semua kekalahan kalian, kenapa harus ditunda sampai tahun ini, sih? Kenapa nggak menunjukkan kehebatan kalian pada perlombaan tahun lalu? Atau meminta perlombaan diulangi jika kalian tidak mau menerima kekalahan?" tanyaku dengan nafas yang terengah-engah.
Sinar mentari di luar sana begitu membara. Sama seperti emosi yang terlihat pada diri Ronald. Emosi yang terlihat pada dirinya mengingatkanku pada papa yang emosi ketika mama tak memenuhi keinginannya.
"Ahh,,, banyak tanya kamu!!! Kamu jangan bawa masa lalu. Tidak ada gunanya!!!" Bentak Ronald dengan wajah yang terlihat semakin emosi.
"Loh, kenapa? Bukannya rasa dendam yang kamu miliki berawal dari masa lalu?" tanyaku santai meskipun sedikit grogi.
"Jangan banyak omong kamu!!!" Ronald meluapkan emosinya dengan meninju wajahku. Aku hanya bisa pasrah. Apalagi ditambah teman-temannya yang lain ikut memukuliku. Lengkap sudah penderitaan hidupku.
Tak ada seorang pun yang melihatku di sini. Bel berbunyi 5 menit yang lalu, namun tak mampu rasanya aku beranjak dari tempat ini. Air mataku dengan spontan menetes begitu saja. Aku memang lelaki, namun bila menghadapi masalah yang seperti ini, aku terlihat seperti perempuan yang tak mampu untuk mengendalikan perasaan.
Aku kembali teringat dengan masa laluku. Ini benar-benar membuatku galau.
"Fadhil, kok masih di sini? Kenapa tidak masuk belajar?" suara pak satpam mengagetkanku.
Aku mengarahkan pandangan ke arahnya.
"Fadhil, kamu kenapa? Kok bisa berdarah begini? Ini juga, kok bisa lebam?" tanya pak satpam sambil menyentuh pipiku.
"Aku habis ditojok, pak. Bapak sih, datangnya telat, jadinya begini deh." kataku sambil memegangi pipiku yang terasa perih.
"Kok malah nyalahin saya, sih?"
"Heheh, bercanda kok pak."
"Di saat kondisi seperti ini kamu masih bisa bercanda?"
"Maaf, pak"
"Ya, sudah. Kalau begitu ikut bapak ke UKS." Katanya lagi sambil membantuku berdiri.
"Terima kasih, pak."
"Sama-sama."
Setelah beberapa menit berobat di UKS, aku memutuskan untuk tetap mengikuti mata pelajaran yang sedang berlangsung di kelas. Meski aku telat, pak guru tetap mengizinkanku untuk mengikuti pelajaran yang sudah berlangsung 15 menit yang lalu.
***
Bel pulang telah berbunyi. Suasana di luar ruangan yang tadinya senyap, kini berubah menjadi ramai oleh sorak-sorai para siswa. Meski mereka berusia belasan tahun, namun mereka masih tetap seperti murid SD yang kegirangan saat bel berbunyi.
Saat aku beranjak meninggalkan ruang kelas, Kevin datang menghampiriku.
"Komandan, maafkan aku. Tadi aku dengan spontan memukulmu. Jujur saat emosiku memuncak, pasti ada saja hal spontan yang sulit aku kendalikan. Aku benar-benar minta maaf!" Ucapnya dengan wajah yang terlihat penuh sesal.
"Hmm, nggak apa-apa kok. Aku juga minta maaf kalau tindakanku tadi membuatmu emosi. Satu lagi nih, lain kali kalau mau menonjokku dengan spontan lagi, jangan terlalu keras, ya. Jangan sampai gigiku copot, heheh,,," Aku berusaha membuat suasana lebih santai.
"Ah, kamu bisa aja. Semoga saja hal seperti ini tidak terulang lagi. Sekali lagi aku minta maaf." Mukanya terlihat santai kali ini.
Aku hanya mengangguk.
"Ngomong-ngomong, kenapa sih kamu dan teman-teman yang lain selalu memanggilku komandan? Padahal menurutku gelar itu sama sekali tidak cocok untukku."
"Yaa, itu karena kamu adalah pemimpin kami. Biasanya yang selalu memimpin kan dipanggil komandan. Dan itu adalah kesepakatan kami semua." Ucapnya.
Beberapa saat kemudian aku dipanggil untuk menghadap ke kantor. Saat tiba di sana, aku melihat Ronald dan kawan-kawan yang sedang berhadapan dengan kepala sekolah. Sepertinya pak satpam melaporkan kejadian tadi ke kepala sekolah. Sungguh kejadian yang sangat memalukan.
Kepala sekolah meminta kepada Ronald dan kawan-kawan untuk minta maaf kepadaku dan menskorsnya selama 3 hari. Karena telah melakukan perkelahian di wilayah sekolah. Ini sebagai hukuman bagi mereka. Aku mengatakan ke kepala sekolah bahwa mereka tidak perlu diskors. Cukup mereka minta maaf dan menyesali perbuatannya saja. Tapi, kata kepala sekolah ini sudah menjadi peraturan sekolah dan tidak bisa dilanggar.