Awali pagi dengan senyuman. Barangkali itu bisa membuat harimu menjadi lebih menyenangkan. Meski banyak rintangan kehidupan yang akan kau dapatkan, setidaknya dengan tersenyum bisa membuatmu merasa lebih nyaman.
Sama seperti persahabatan Tasya, Kamila, Sari dan Fadhil. Meski persahabatan mereka sudah terjalin selama kurang dari 3 tahun, tapi tak membuat mereka jenuh satu sama lain. Mereka selalu kompak dalam segala hal. Termasuk dalam hal melakukan kebaikan.
Karena yang menjadi prinsip mereka adalah sebuah hadist yang berbunyi, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni). Kalimat itulah yang selalu mereka ingat. Ketika salah satu dari mereka melakukan kesalahan, maka yang lain saling memberikan arahan agar sang sahabat tidak terperangkap dalam lubang kehinaan.
Pagi ini, Tasya datang ke sekolah lebih awal dari biasanya. Dia harus segera bertemu dengan Fadhil dan membahas tentang storynya yang diposting pagi ini. Dia merasa Fadhil telah mengingkari kesepakatan yang mereka buat seminggu yang lalu. Pasalnya, story yang diposting beberapa menit yang lalu itu sangat bertentangan dengan kesepakatan yang telah mereka buat.
Saat tiba di sekolah, ternyata kedua sahabatnya, Kamila dan Sari sudah sampai lebih dulu. Kamila yang memakai kerudung abu-abu dan memakai tas ransel hitam itu tak berhenti memandangi layar handphonenya. Begitu pun dengan Sari. Mereka membaca berulang-ulang story yang terpampang nyata di handphone mereka. Dengan langkah terburu-buru, Tasya menghampiri kedua sahabatnya yang terlihat cemas.
"Assalamu'alaikum... Kamila, Sari, udah pada liat, kan?" dengan hebohnya Tasya bertanya pada kedua sahabatnya. Keduanya terlihat sedikit kaget. Tapi kemudian meresponnya dengan kehebohan yang sama.
"Wa'alaikumsalam..." Jawab Kamila dan Sari bersamaan.
"Udah. Fadhil benar-benar keterlaluan, ya." Kamila terlihat begitu kesal.
"Benar banget. Dasar laki-laki tidak bisa dipercaya!!!" Sari menimpali.
"Tapi, tidak kah kita terlalu berlebihan?" tanya Tasya.
"Maksudmu?" Sari balik bertanya.
"Yaa aku merasa sedikit berlebihan aja, sih. Apa yang aku lakukan hari ini terlalu lebay nggak, sih? Kalian nggak ngerasa gitu?" Tasya terlihat bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba over protektif terhadap sahabatnya.
"Ya nggak lah. Apa yang kita lakukan tuh demi menyelamatkan Fadhil, agar dia nggak salah arah dalam melangkah. Kita kan udah sepakat untuk saling mengingatkan." Kamila justru lebih santai dibanding Tasya yang bingung sendiri dengan sikapnya.
***
Di era modern seperti saat ini, sangat mudah bagi kita untuk berinteraksi dengan banyak orang. Kebaikan bisa kita lakukan di mana pun dan kapan pun kita mau melalui media sosial. Setiap hari, media sosial menjadi menu utama bagi penduduk bumi. Bahkan kita bisa mengetahui kejadian apa saja yang terjadi di berbagai belahan bumi.
Jam istirahat tiba. Tasya, Kamila, dan Sari terlihat asyik ngobrol di kantin. Mereka ngobrol tentang hal yang lumrah terjadi di kalangan remaja saat ini. Ya,,, tentang pacaran!!! Zaman sekarang, jarang kita menemukan remaja yang tidak pacaran. Hubungan mereka yang pacaran semakin erat dengan adanya media sosial. Mereka setiap hari saling mengabari satu sama lain. Mereka seakan tidak peduli dengan hubungan yang mereka jalani. Dalam islam dijelaskan bahwa "janganlah kamu mendekati zina..." (QS. Al Isra' Ayat:32). Sedangkan pacaran itu jelas termasuk zina, seperti zina mata yaitu memandang lawan jenis yang jelas bukan muhrimnya.
Sementara di tempat lain, seorang siswa dengan pakaian yang terlihat rapi, memakai topi dan jam tangan yang melekat di lengan kirinya terlihat keren dan memukau beberapa pasang mata yang mengarah padanya. Ia adalah Fadhil. Siswa yang terkenal dengan kehebatannya dalam bermain basket. Beberapa penghargaan yang pernah Fadhil dkk raih dalam berbagai perlombaan. Salah satunya lomba basket antar sekolah sekabupaten yang diselenggarakan beberapa hari yang lalu. Mereka mendapat juara satu dan membawa pulang piala kejuaraan. Hal itu tak membuat Fadhil mengumbar-umbar kehebatannya (sombong). Justru hal itu membuatnya bertambah semangat dan terus berlatih agar kemampuan yang dimilikinya tetap terjaga.
"Wan, ke kantin yuk,,," Ajak Fadhil saat berpapasan dengan Ridwan dalam perjalanan ke kantin.
"Yuk." Jawaban singkat Ridwan tak membuat mereka ngobrol lebih lama.
Mereka terus melangkah menyusuri jalan menuju ke kantin yang selalu ramai oleh para siswa dan siswi. Dari kejauhan penglihatan Fadhil langsung tertuju ke arah sahabatnya Tasya, Kamila dan Sari.
"Assalamu'alaikum... guys." Sapa Fadhil saat sampai di dekat sahabat-sahabatnya itu.
"Wa'alaikumsalam..." jawab mereka kompak.
"Kok tadi aku nggak di ajak ke kantin?" tanya Fadhil ke mereka dengan nada yang sedikit kesal.
"Tadi sih mau ngajak, tapi nggak jadi." Jawab Kamila singkat.
"Alasannya?"
"Yaa, nggak jadi aja." Kamila iseng mengulangi kata-katanya.
"Alasannya nggak jadi itu, kenapa?" Fadhil menjitak pelan kepala Kamila dengan sedikit emosi.
"aaa,,," Kamila kaget dan sedikit terganggu.
"Nggak usah emosi juga kali." Sari memakan potongan coklat yang masih tersisa di tangannya.
"Sya, ada apa sih?" Fadhil beralih ke Tasya yang tampak diam menyaksikan perdebatan mereka.
"Tadi kamu nggak ada di kelas. Jadi kami duluan ke kantin." Tasya memberi penjelasan.
"Dhil, aku balik ke kelas duluan, ya." Kata Ridwan setelah membeli air mineral.
"Ke sini dulu, kita ngobrol bareng." Ajak Fadhil ke Ridwan.
"Nggak ah, duluan ya." Ridwan melenggang pergi.
"Guys, perasaan tadi aku di kelas kok. Please!!! Jangan bohong, ada apa sih?" Fadhil tetap ngotot pengen tau kenapa sikap sahabat-sahabatnya jadi kaku begini.
"Kamu beneran nggak tau?" tanya Sari. Fadhil menggelengkan kepala.
"Nih,,," Tasya menyodorkan sebuah handphone ke Fadil.
"Maksud dari postingan kamu itu apa? Kamu pacaran sekarang? Bukannya minggu lalu kamu bilang nggak akan pernah pacaran?" Kamila mengingatkan kalimat yang pernah Fadhil katakan.
"Aku nggak pacaran, kok. Siapa bilang aku pacaran? Aku hanya iseng aja. Kebetulan kata-kata yang terlintas dalam fikiran aku ya kayak gini." Fadhil menjelaskan maksud dari postingannya.
"Dinginnya pagi ini, sedingin sikapmu padaku,,, #ea. Apa ini hanya iseng? Setiap postingan tuh punya makna tau." Kata Sari membaca ulang teks yang tertulis dalam postingan tersebut.
"Dan apa kamu tau makna dari kata-kata itu?" Sambung Tasya. Fadhil hanya menggeleng. Ia merasa sedang di interogasi saat ini.
"Maksud dari postingan ini tuh, seseorang yang sedang galau dengan sikap pacarnya. Tau nggak sih, kamu?" Kamila menjelaskan.
"Oke, oke. Kalian sudah selesai ngomong? Kalian kalau mencari makna dari sebuah postingan tuh, dibaca dan dimaknain dari awal kata sampai kata yang terakhir. Jangan memaknainnya hanya setengah-setengah. Faham!?" Kini giliran Fadhil yang mengeluarkan unek-uneknya.
"Maksud kamu?" Tanya Kamila, Sari dan Tasya kompak.
"Kalimat terakhir tuh ada #ea. Kalian tau makna dari kata itu? Makna #ea menunjukkan kalau kalimat sebelumnya itu hanya iseng saja." Fadhil menjelaskan makna postingan yang sudah menyebar luas di media sosial.
Ketiga sahabatnya tampak diam.
"Kenapa diam? Kalau kalian merasa risih dengan postingan itu, biar aku hapus saja." Fadhil mengambil handphone dari tangan Tasya.
"Nggak usah dihapus." Kata Kamila
"Lagian sudah menyebar luas, kan?" Sambung Sari.
Setahun yang lalu, mereka sepakat untuk membuat satu akun yang dimana mereka semua bisa mengakses dan membuat story di akun tersebut. Mereka berharap postingan mereka bisa bermanfaat bagi banyak orang.
Karena waktu istirahat masih ada, mereka memutuskan untuk live.
"Karena sudah terlanjur menyebar, kita live saja mumpung jam istirahat masih ada. Sekalian kita beri klarifikasi tentang postingan itu, agar tidak ada yang salah faham." Ajak Tasya sambil membuka akun mereka.
"Oke." Kata Kamila dan Sari. Fadhil hanya mengangguk.
Akun mereka memiliki followers yang lumayan banyak. The Millenial Squad adalah nama grup mereka. Mereka bersyukur bisa berbagi ilmu juga motivasi bagi banyak orang. Kebolehan mereka dalam menjawab persoalan hidup, terutama masalah remaja millenial seperti saat ini. Membuat mereka di sukai banyak orang. Tak jarang mereka diajak untuk kolaborasi dengan motivator terkenal untuk menyampaikan kebaikan.