Sifat orang tua akan menurun pada anak. Jadi, jangan salahkan anak jika dia memiliki sifat yang tidak orang tua sukai. Barangkali itu adalah sifat turunan. Terutama dari Ibu.
Seperti yang dialami Nana. Seorang gadis yang berparas cantik, berkulit putih, hidung mancung serta mata yang sedikit sipit dan selalu mengenakan kerudung penutup aurat jika berada di luar rumah. Ia tidak pernah menyangka akan menjalani kehidupan yang langka. Yaa, setidaknya itu menurut keluarga besarnya. Karena dalam keluarga besarnya, tidak ada seorang pun yang memiliki sifat sepertinya. Jika keluarga besar berkumpul, Nana tidak pernah lepas dari sorotan mereka.
Seperti saat ini, keluarga di luar sana sedang membicarakan dirinya. Nana hanya bisa mendengarkan dari dalam kamar, tanpa berani menampakkan diri. Hajatan keluarganya memang sudah selesai sejak kemarin. Namun, beberapa keluarga masih berada di rumahnya. Ia sama sekali tak pernah keluar dari dalam kamar selama beberapa hari ini. Makan pun ia enggan. Kalau ditanya kenapa tidak mau makan? Jawabannya cuma satu, MALU! Ia hanya mengisi perutnya dengan air dan roti yang memang sudah ia persiapkan sebelum hajatan. Dan beruntungnya ia, kamar mandi terhubung langsung dengan kamarnya. Jadi, ia tidak perlu keluar kamar untuk mandi ataupun berwudhu.
Nana seorang gadis pendiam dan pemalu. Jarang berinteraksi dengan orang lain, kecuali orang terdekat. Bukan tanpa alasan ia seperti itu, melainkan karena ia memiliki sifat turunan dari Bundanya. Bundanya pernah mengatakan kalau dirinya juga pernah mengalami hal seperti yang dialami Nana.
Pukul 13:00 Nana memilih tadarusan di dalam kamar dari pada harus keluar untuk berkumpul bersama keluarganya. Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan dari luar pintu kamarnya. Nana segera membuka pintu itu yang memang sengaja ia kunci, agar tidak sembarang orang masuk ke dalam kamarnya.
"Dek, yuk makan dulu. Makannya bareng-bareng sama keluarga di meja makan. Mereka semua udah mau makan di sana. Tinggal nunggu adek aja, yuk!" ajak Bunda setelah Nana membuka pintu.
"Bund, kan udah berkali-kali adek ngomong, kalau adek tuh malu ketemu sama mereka. Apalagi sampai makan bareng. Adek merasa nggak nyaman Bund. Udah yah, Bunda aja yang gabung sama mereka. Lagian adek nggak laper kok, udah makan roti tadi. Oh ya Bund, adek ijin ke pantai sore ini, boleh ya?" Nana memang sering pergi ke pantai. Tapi, biasanya bareng Bunda dan Ayah atau saudaranya yang lain.
"Ya sudah, kalau itu mau kamu. Tapi, pulangnya jangan menjelang magrib." Bunda memberi ijin lalu melangkah menuju meja makan meninggalkan Nana yang terlihat sangat senang karena mendapat ijin untuk pergi ke pantai.
***
Sore hari cuaca tampak mendung. Mungkin akan turun hujan. Tapi, tak masalah bagi Nana yang sedang menyusuri pantai, toh hujan belum turun, kan? Suasana pantai juga sudah mulai ramai. Alasan Nana tidak malu saat berada di tempat ramai seperti ini adalah orang-orang di sekelilingnya tidak mengenalinya. Dan yang pasti dirinya tidak menjadi pusat perhatian. Nana merasa bebas jika berada di tempat seperti ini.
Dari kejauhan Nana melihat om Budi yang sedang memasang payung pantai untuk seorang wanita bule yang tampak antusias memperhatikannya. Om Budi adalah adik dari Bundanya. Pekerjaannya berjualan berbagai peralatan pantai dan membantu pelanggan menyiapkan peralatan yang mereka butuhkan.
Selain keluarganya, Nana sering bertegur sapa hanya dengan keluarga om Budi. Nana cukup terbuka dengan mereka. Apalagi jika sudah bersama bang Jirwan anak bontot om Budi, Nana pasti banyak ngomong. Entahlah, mengapa Nana bisa merasa nyaman ngomong dengan sepupunya itu?
"Assalamu'alaikum, sore om." sapa Nana lalu salim dengan om Budi. Diciumnya tangan kekar itu.
"Eh, wa'alaikumsalam, sore Na. Udah keluar dari kandang? Sejak kapan?" Om Budi sedikit kaget melihat kehadiran Nana.
"Keluar dari kandang? Emang Nana binatang, om? Om samain Nana dengan binatang? Om tega banget sih!" Nana terlihat memonyongkan bibirnya, sedikit ngambek.
"Hahahah, om bercanda, maaf ya?" Om Budi tertawa melihat ekspresi Nana yang menggemaskan.
"Permintaan maaf om diterima. Nana baru aja keluar, bosen tinggal di kandang yang om bilang tadi heheh. Oh ya om, papan selancar adek mana? Om tidak menyewakan papan selancar adek ke orang lain, kan?" tanya Nana sambil memicingkan matanya ke sekeliling, kali aja penglihatannya tertuju pada papan selancar kesayangannya itu.
"Ya, nggak lah. Mana om tega menyewakan barang kesayangan adek ke orang lain. Sana gih, tanya abang kamu, kayaknya dia yang simpan deh." Om budi menunjuk ke arah toko, menyuruh Nana mencari benda kesayangannya di sana. Keluarga om Budi memang sering memanggil Nana 'adek'. Mungkin karena keseringan mendengar keluarganya kali ya, jadi ikutan juga memanggil Nana 'adek'.
Nana melangkah meninggalkan om Budi menuju ke tempat yang dimaksudnya tadi. Dari kejauhan Nana dapat melihat bang Jirwan yang sedang bersantai di kursi samping toko.
"Assalamu'alaikum,,, bang Jir." sapa Nana begitu sampai di samping Jirwan.
"Wa'alaikumsalam... Eh ada adek Nanah." Jirwan juga terlihat sedikit kaget melihat kehadiran Nana.
"Nanah, Nanah, bang Jir kan tahu kalau namaku Nana, enggak pakai H." Nana tak terima namanya diubah.
"Yaa, siapa suruh manggil aku bang Jir. Namaku kan Jirwan. Di mana-mana orang manggil aku Jirwan. No bangjir-bangjir." Jirwan terlihat sewot.
"Oke bang JIRWAN. Puas?" Tanya Nana.
"Nah gitu dong, jadi anak yang penurut." Jirwan mengusap pelan kepala Nana.
"Don't touch me." Nana menyingkirkan tangan Jirwan dari kepalanya.
"Dih, sok inggris lu."
"Biarin! Mm, bang Jirwan ada liat papan selancar nana, nggak?" tanya Nana mengalihkan topik pembicaraan.
"Ada, itu di samping pintu." Tunjuk Jirwan ke arah papan selancar Nana. "memangnya adek mau selancaran hari ini. Bentar lagi hujan loh." lanjutnya.
"Kan bentar lagi, artinya belum hujan, kan?" Tanya Nana sambil berjalan ke arah papan selancarnya. "Bang Jirwan mau nemenin Nana selancaran nggak? Temenin ya, please!" Pinta Nana.
"Nggak ah, mending aku main game. Yaa, kok lowbat sih." Jirwan sebel hpnya mengeluarkan peringatan baterai lemah. "Dek, aku pinjam hp kamu ya, hp aku lowbat."
"Boleh, tapi temenin selancar dulu. Kalau nggak mau, ya udah nggak jadi juga pinjamin hpnya." Nana memberi syarat.
"Oke. Tapi, nemeninnya di pinggir aja ya. Kan, sambil main game." Ujar Jirwan mengulurkan tangan untuk mengambil hp milik Nana.
"Ya udah deh, kalau nggak mau ikut selancar. Nih. Tapi, cuman main game, kan?" tanya Nana.
"Iya, iya. Bawel banget sih." Jirwan kembali mengusap kepala Nana.
Keduanya berjalan beriringan menuju pantai. Suasana pantai sudah sangat ramai. Ada yang selancaran, main pasir, juga berfoto ria. Nana memilih tempat tak jauh dari pinggir pantai untuk selancaran. Karena tidak ada yang menemaninya, jadi ia memilih tidak terlalu jauh ke tengah. Nana memang lumayan pandai berselancar. Selain ayahnya, om Budi dan bang Jirwan juga sering mengajarinya.
Jirwan terlihat serius memandangi layar hp milik Nana yang menampilkan sebuah voice note yang bertuliskan "Bunda, dengerin curhatku." Jirwan jadi penasaran, ia ingin mendengarkan isi dari voice note tersebut. Namun, sebelum ia memutar voice note itu, gerimis mulai turun. Ia terlihat kelimpungan mencari tempat berteduh. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat payung yang kosong ditinggalkan pemiliknya. Ia segera berlari-lari kecil menuju ke tempat itu.
Sementara itu, walau gerimis sudah mulai turun, Nana tetap asyik berselancar. Ia terlihat lihai mengikuti arus ombak dengan papan selancarnya. Ia tak peduli walau gerimis mulai sedikit deras. Namun, ia tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari papan selancarnya.
***
Voice note : Bunda, dengerin curhatku
Sebuah Kata Maaf:
Bunda, adek minta maaf jika selama ini adek jarang menuruti perintah Bunda. Apalagi jika mengharuskan adek bersosialisasi dengan orang. Adek tidak bisa! Adek tidak tahu harus bagaimana lagi? Adek udah berusaha, tapi tetap aja tidak bisa. Bunda pernah bilang bahwa Bunda juga pernah mengalami hal yang seperti adek alami. Jadi, Bunda pasti paham kan, apa yang adek rasakan? Perasaan adek tuh seperti yang Bunda rasain dulu. Sekali lagi adek minta maaf ya, Bunda! Adek nggak bisa seperti anak-anak Bunda yang lain. Maaf, Bunda!
Dan Terima kasih:
Bunda, terima kasih karena telah berjuang mengandung adek selama sembilan bulan lebih, berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan adek ke dunia. Terima kasih atas kasih sayang dan perhatian Bunda, sejak kecil hingga sekarang Bunda sudah merawat dan menjaga adek, menjadi madrasatul 'ula buat adek. Hidup memang tak selalu indah. Tapi, bersama Bunda adek merasa bahagia. Bunda, terima kasih sudah menjadi orang yang sangat luar biasa. Bunda adalah yang terhebat di dunia. Semoga Bunda selalu sehat dan bahagia, di dunia dan akhirat. Aamiin.
Jirwan terlihat berkaca-kaca setelah mendengar voice note dari hp Nana. Ia jadi heran, mengapa dengan orang lain Nana malu untuk ngobrol/berbicara sedangkan dengan dirinya Nana sangat bawel. Bahkan kata bundanya, Nana kalau di rumah juga jarang ngomong. Dia ngomong seperlunya saja. Jirwan jadi curiga, jangan-jangan voice note ini belum disampaikan langsung ke bundanya.
"Oh iya, apa aku nanya ke Nana aja ya, soal voice note ini udah disampaikan secara langsung ke bundanya atau belum?" Jirwan tampak berpikir. Ia baru tersadar, ternyata gerimis sudah berubah jadi hujan yang lumayan deras. Ia mengedarkan pandangan mencari Nana. "Kok tidak ada, ya. Apa dia udah balik. Tapi nggak mungkin juga sih dia balik nggak ngomong-ngomong." ia bergumam.
Jirwan akhirnya menerobos hujan yang semakin deras. Dia tidak peduli dengan dirinya yang sudah basah akibat air hujan. Yang ada di fikirannya sekarang adalah bertemu dengan Nana.
"Nanaaa,,, dek kamu di mana?" Jirwan teriak memanggil Nana. Namun, tak ada respon yang ia dengar. Ia mulai khawatir. Ia benar-benar ceroboh karena tidak memperhatikan adik sepupunya itu. "Bagaimana kalau dia terjatuh lalu tenggelam?" pikiran negatif mulai muncul di kepalanya. "Tapi, nggak mungkin, dia kan pintar berenang." lanjutnya mencoba menenangkan diri.
Jirwan masih terus mencari keberadaan Nana. Pandangannya tertuju ke arah barat, ia melihat ada beberapa orang di sana. Segera ia berjalan mendekat.
"Tadi ee tangannya dia e angkat seperti ini." seorang bule perempuan tampak menjelaskan kejadian yang dia lihat. "Aku pikir e dia berenang. Karena papan selancarnya e ada di dekatnya. Tapi, lama-lama e tangannya perlahan menghilang. Saat itu aku e langsung datang untuk menolongnya." bule perempuan yang sempat berpapasan dengan Nana saat baru sampai di pantai tadi terdengar belum lancar berbahasa Indonesia.
Jirwan yang ikut mendengar penjelasan perempuan tadi mengalihkan pandangannya ke arah perempuan berkerudung yang tergeletak di atas pasir. Ia terlihat kesulitan bernafas.
"Nana!" sedikit berteriak, Jirwan mendekat ke samping Nana yang mencoba bangun dengan kondisi tubuh sedikit lemah. Orang yang ada di sekitarnya mulai meninggalkan mereka setelah melihat Nana baik-baik saja.
"Bang Jirwan, hiks hiks, Nana takut banget." Nana menangis sambil memeluk lengan kanan Jirwan.
"Tenang, oke. Sekarang adek baik-baik aja kan? Atau ada yang sakit?" Jirwan mencoba menenangkan Nana sambil mengusap pelan punggungnya.
"Nggak ada yang sakit kok, cuman takut aja." Nana menggeleng. "Bang Jirwan janji jangan bilang ke Bunda, oke?" tanyanya dengan mengangkat jari kelingking.
"Janji nggak bilang soal apa? Soal voice note?" Jirwan menaik-turunkan alisnya menjahili Nana yang terlihat melotot setelah mendengar kalimat yang dikatakan Jirwan.
"Bang Jirwan dengerin voice note itu? Katanya tadi mau main game. Bang Jir jahat banget sih!" Nana memukul pelan lengan Jirwan.
"Tadi, niatnya sih mau main game. Tapi pas liat layar langsung tertuju ke voice note itu, kan aku jadi penasaran, terus aku dengerin deh. Tapi, seriusan nggak mau kasih tahu langsung ke Bunda?" tanya Jirwan.
"Nggak. Nana malu tau kalau ngomong langsung ke Bunda. Kejadian tadi juga, jangan sampai bunda tahu. Bisa kena marah aku kalau bunda sampai tahu." Nana menutup wajahnya menggunakan telapak tangan.
"Ya udah, beri tau pakai voice note ini aja. Masa tulisannya 'Bunda, dengerin curhatku' tapi Bunda nggak diberi tau. Bunda mana bisa dengerin sih, dek." Jirwan di buat geleng-geleng dengan kelakuan Nana.
Nana mengambil ponselnya dari tangan Jirwan kemudian berdiri. Jirwan ikut berdiri.
"Kan, Nana nggak pernah mau beri tau voice note ini ke orang lain. Biar Nana aja yang tau sendiri, tapi abang malah dengerin. Sedih banget aku tuh! Aku nggak mau Bunda tau."
"Tau tentang apa?" Bunda yang memakai payung tiba-tiba muncul dari belakang mereka. Hujan sudah reda, namun masih menyisakan gerimis.
"Eh, Bunda." Nana kaget melihat kehadiran Bundanya.
"Adek kenapa nggak pulang? Kan tadi hujannya deras banget. Dan tadi, apa yang nggak boleh Bunda tau?" Bunda menginterogasi.
Nana yang takut kena marah mencoba berlindung di belakang Jirwan.
"Adek?" Panggil Bunda pada Nana.
"Anu, tadi adek main hujan, iya main hujan bareng bang Jirwan. Iya kan, bang?" Nana mendongak melihat wajah Jirwan berharap ia mau membantunya.
"Ee, iya tante. Tante jangan marah sama Nana ya." Jirwan memposisikan Nana ke sampingnya.
"Iya, Bunda nggak marah kok. Tapi, jangan sering-sering ya main hujannya, nanti bisa demam loh. Terus, yang nggak boleh Bunda tau apa?" tanya Bunda penasaran.
"Kan, nggak boleh Bunda tau, berarti nggak boleh dikasih tau dong. Bunda gimana sih." Nana mencari alasan agar voice note itu tidak sampai ke telinga Bundanya. Tapi...
"Ini nih tante, dengerin deh." Jirwan malah merebut ponsel milik Nana dan langsung memutar voice note itu dengan volume yang tinggi. Nana yang tidak siap dengan kejadian ini, langsung kembali mundur ke belakang Jirwan.
Sepanjang voice note itu terputar, Nana hanya bisa memilin ujung kerudung sambil menunduk. Ia malu! Ia tidak tau harus bersikap bagaimana sekarang. Setelah voice note itu berakhir, Jirwan langsung memposisikan Nana tepat di hadapan Bundanya. Sementara Nana masih menunduk.
"Bunda menerima ucapan rasa terima kasih juga permintaan maaf dari adek. Adek, Bunda juga mau minta maaf ya, karena selama ini Bunda selalu ngebandingin adek dengan orang lain. Adek mau kan, maafin Bunda?" Bunda mengusap pelan pundak Nana.
"Adek juga udah maafin Bunda. Sekali lagi terima kasih Bunda atas segalanya." Nana meraih tangan Bundanya lalu menciumnya.
Bunda memeluk Nana dan Jirwan sambil berbisik, "kalian nikah aja, ya?"
"HAH." Suara histeris itu berasal dari mereka berdua. Sontak keduanya langsung melepaskan pelukan dari Bunda.