Aku duduk di sudut cafe bergaya klasik ditemani secangkir coklat hangat, ku lihat diluar sana sedang rintik padahal waktu masih menunjukkan pukul 1 siang. Di cafe ini, menu andalannya adalah kopi. Ya begitulah, ku alihkan pandangku pada sang barista yang dengan gerakan seksi meracik kopinya.
Lamat-lamat ku pandangi wajahnya,Matanya yang tajam bak elang, hidung yang mancung dibingkai dengan rahang yang tegas. Ditambah kulit yang putih, tinggi dan tubuh yang atletis. Aku yakin Tuhan sedang bahagia saat menciptakannya.
Ini merupakan kegiatan rutin yang kulakukan setiap 2 kali dalam seminggu, pada hari kamis dan hari minggu. Dan tebak ini hari apa? Ini adalah hari minggu karena itulah aku berada di cafe ini.
Lama aku memandangnya, ia menyerahkan kopi hasil racikannya pada pelayannya lalu tatapannya teralih padaku manik mata kami bertemu, ia tersenyum menenangkan.
Oh senyumannya sungguh memabukkan. Sudah lama aku menyukai barista ini, namun tampaknya ia tak pernah peduli padaku. Pernah sekali aku agresif padanya mengatakan bahwa aku adalah pacarnya kepada teman dekat wanitanya namun ia menepisnya dengan kata bahwa aku adalah adik sepupunya.
Oh! Sungguh beruntung sekali yang mendapatkannya. Tidak hanya tampan, ia berkarisma dan juga mandiri. Sebenarnya usaha ini yang membiayai ayahnya.
Ku alihkan tatapanku pada band lokal di depan sana, setiap hari minggu akan ada band lokal yang manggung di cafe ini. Tiba-tiba seorang lelaki datang langsung duduk di hadapanku
"Hai, Keyra!" Ucapnya dengan senyuman
Aku mendengus kenapa harus lelaki ini yang duduk dihadapanku, kenapa tidak dia saja? Ah itu tidak mungkin.
"Kembalilah pada teman-temanmu, Sen" acuhku
Aku tahu pria ini memiliki perasaan padaku, ia juga tahu bahwa aku akan ke cafe ini setiap minggunya.
"Aku tidak bersama temanku" jawabnya sambil mengedarkan pandangan "Aku kesini hanya untuk menemuimu"
"Baiklah, lakukan semaumu tapi jangan berisik" ketusku
Ku alihkan tatapanku pada barista tadi tapi ku lihat ia sudah tidak ada. Ah kemana dia?
"Apa kau tidak lelah, Key" ucap Arsen
"Maksudmu?"
"Aku tahu kau menyukai barista itukan? Tapi bahkan ia tidak pernah peduli padamu"
Benar, ucapan Arsen menohok sekali. Aku sudah menyukainya sejak lama dan sudah 3 bulan lamanya aku mencoba mengejarnya, jangankan untuk diacuhkan, ia bahkan saat itu pernah menyuruhku pulang. Atas dasar itu, aku hanya berani memandanginya dibalik meja sudut ini.
Semua rasa itu berawal dari aku pertama kali masuk universitas, dia adalah Mahasiswa tingkat akhir yang sedang bimbingan kala itu. Aku yang dulu adalah gadis cupu, dia membantuku membebaskanku dari bahan bully. Dan lagi ia yang membantuku berubah menjadi gadis seperti ini, gadis yang bergaya modern juga percaya diri. Hanya sebulan memang, waktu yang cukup singkat namun mau bagaimana jika perasaan itu tumbuh.
Awalnya aku memang tidak berani, jangankan untuk berbicara banyak,memandang wajahnya saja aku tidak berani karena jantung ini seperti mau terbang. Dan Lambat laun aku mulai berani untuk mengejar cintanya karena saat itu, tepatnya 3 bulan yang lalu ia putus dengan pacarnya. Aku terus mengejarnya karena seperti ucapan pepatah jawa yang mengatakan bahwa Witing Tresno Jalaran Suko Kulino.
"Key, aku bisa membantumu" lanjut Arsen menarikku dari pusaran khayalan.
Aku manaikkan alisku tanda bertanya "Apa maksudnya?"
"Ayo kita pacaran!" ucap Arsen dengan lantang
Aku tertawa "Jangan bercanda, Arsen. Kau ini mengajak aku pacaran atau mengajak aku membeli kerupuk"
Arsen menjambak rambutnya tampak frustasi "Ayolah, Keyra. Bukankah kau tahu aku sudah berulang kali menyatakan cinta padamu"
Aku menghela nafas dalam-dalam, beginilah semenjak pria barista itu mengubah penampilanku banyak pria yang mengejarku namun mau bagaimana jika hatiku hanya terpaku padanya.
Kalau dilihat Arsen ini juga tampan, dan mau sampai kapan aku mengejar pria yang bahkan menoleh saja tidak. Ia hanya menganggapku seorang adik perempuan, ia memang sering tersenyum padaku. Aku akui hal itu namun untuk lebih sama sekali tidak.
Aku rasa tak ada perkembangan di hubungan kami ini. Dan apakah ini pantas disebut dengan hubungan?
"Beri aku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta padaku" Ucap Arsen sambil memegang tanganku
Seorang pria berjalan lalu berdehem di sampingku lalu melepaskan tautan tanganku pada Arsen.
"Keyra sudah punya janji dengan saya" ucap pria ini
Aku mendongak melihat suara yang familiar ditelingaku. Sungguh keajaiban, aku mengingat apakah aku memang ada janji dengan pria ini. Rasa-rasanya aku tidak memiliki janji apapun padanya atau pada siapapun. Tapi siapa yang peduli, seketika aku tertawa jahat dalam hati.
"Ayo" ajak pria ini
"Eh, tunggu tapi, kak?" gantian dong ya. Biasanya dia yang selalu begitu
"Ayo, Keyra!" tekannya lalu menarik tanganku mengikuti langkah lebarnya aku yakin pasti ini akan memerahnya.
"Arsen aku duluan ya" ucapku sambil berlalu. Aku sempat melihat Arsen akan protes namun ia urungkan kala melihat pria yang menarikku ini.
Pria ini membukakan pintu mobilnya dan menyuruhkan masuk ke mobilnya. Aku heran, tentu saja. Ia makan apa sih tadi? Kok mendadak seperti ini. Ini kali pertamanya ia begini padaku. Aku mengusap pergelangan tanganku yang memerah akibat tarikannya tadi.
Ia masuk ke dalam mobil lalu berkata "Kemana kita, Key?' tanyanya datar
Aku tak menjawab masih mengusap pergelangan tanganku yang memerah.
Pria ini menghela nafas, menarik pergelangan tanganku lalu dikecupnya "Maaf" ucapnya
Aku membeku seketika, tapi aku mendadak jadi takut. Ada 3 pilihan atas perubahan sikapnya yang pertama, dia mulai sadar bahwa ia mencintaiku tapi sepertinya ini cukup mustahil mengingat ia yang ketus sekaligus manis bersamaa. Yang kedua,dia punya sakit parah jadi dia berbuat kebaikan tapi jika dilihat ia sehat dan terakhir dia iseng karena banyak waktu luang dan merasa bosan.
"Melamun huh?" tanyanya dengan ketus
Aku tersenyum kikuk, nah ini baru dia yang ku kenal ketus dan galak "Mau jalan atau aku balik masuk ni?" lanjutnya
"Eh iya, kak Arga. Sabar dong kan aku lagi berpikir mau kemana. Coba kasih pilihan" ini momen langka tidak boleh di sia-siakan dong
"Nonton atau makan?"
"Nonton, selesai itu kita makan." jawabku cepat.
Ia mendengus "Ck. Kebiasaan!"
Bodo amat kak, bodo amat yang penting aku happy.
Ia mendekat kearahku, bahkan wajahnya hanya beberapa inci dengan wajahku. Aku menahan nafas kala nafasnya juga turut menerpa wajahku
Klik
"Kamu mikir jorok, ya?" ucap Arga memicingkan matanya dan ia juga mulai menjalankan mobilnya.
Aku tersadar ternyata arti dari kata kebiasaan yang ia ucapkan itu karena aku lupa memakai sabuk pengaman.
"Enggak, kak" jawabku sekenanya sambil menahan malu
"Laki-laki tadi?" tanyanya dengan tatapan fokus ke jalan
"Dia Arsen dan teman sefakultas kalau kakak lupa"
"Jauhin, aku tidak suka."
"Kenapa?"
"Pokoknya tidak suka!"
Aku lebih baik diam tak ingin menjawabnya, takut ia memutar setir mobik ke arah cafenya lagi. Biar bagaimanapun selama 3 bulan ini baru kali ini dia mengajakku jalan.
Terakhir kali ya dulu ketika aku masih cupu dan tidak percaya diri, itu juga dia mengajakku untuk membenahi diri seperti pergi ke salon salah satunya.
Ia yang dulu selalu berkata "Kamu itu cantik, jangan hanya karena ucapan orang kamu langsung minder," "Kecantikan akan hadir ketika kamu punya rasa percaya diri" Dan kata terakhirnya adalah "Dan jika kamu sudah percaya diri, maka kamu juga harus cerdas"
Makanya sekarang aku berubah percaya diri begini, kelewatan malah sampai berani mengejar lelaki ini.
"Kamu mau di mobil aja?" tanyanya dengan sarkas. Aku bakan tidak sadar bahwa telah sampai.
Aku menggeleng dan langsung keluar dari mobilnya, ku dengar ia tertawa kecil melihat tingkahku. Beginilah kak Arga, dia itu ketus tapi hatinya hangat. Ah aku jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada pria ini.
Selepas turun ia mengaitkan tanganku dengan tangannya sambil berjalan menuju ke bioskop.
Aku menatap tangannya yang menggandeng tanganku. Mimpi apa tadi malam aku Tuhan? Oh atau jangan-jangan ini mimpi ya.
"Ini tidak mimpi, Keyra." ucapnya lembut selembut sutra sambil tersenyum.
Oh Tuhan! Apakah pria ini cenayan yang bisa membaca pikiranku? Aku jadi bergidik ngeri.
"Mau nonton apa?" ucapnya ketika tiba di bioskop.
"Apa saja. Tapi Jeritan malam, boleh?" ucapku
Dia tertawa "Baiklah" lalu kamipun menonton film jeritan malam ini. Aku suka filmnya, film yang diadaptasi dari kisah nyata.
Selepas menonton film, kamipun makan. Dan suprisenya lagi ia memesankan makanan kesukaanku tanpa bertanya padaku.
Boleh tidak aku baper?
Makananpun datang dan Kak arga berkata "Makan yang banyak, kamu kurusan"
Ah aku jadi curiga kalau begini, barangkali ia mendadak begini karena kasihan melihatku yang kurusan begini.
Tak sadar aku memasang duck face ulah ucapannya "Aku tidak ingin kamu kurus"
"Dan kamu jelek pasang ekspresi begitu" lanjutnya sambil menumpukan tangan di meja.
"Arsen pasti tidak akan keberatan menerimaku jika aku kurus" ucapku dengan sebal.
"Jangan bicarakan pria brengsek itu lagi" ucap kak Arga penuh dengan tekanan
Aku masih ingin membantah ucapannya, setidaknya Arsen yang paling keras memperjuangkan aku. Tidak seperti pria ini, yang diperjuangkan tapi tidak mengerti.
Aku yang sudah merangkai kata-kata ingin menyangkal tiba-tiba ada suara lain yang menyapa telingaku
"Arga.."
"Tania" ucap Arga
"Pacar kamu?" tanya wanita bernama Tania itu
Ku lihat kak Arga menatapku, aku juga penasaran apa yang akan dikatakan kak Arga pada wanita ini "Dia.. Adik.." jawab Kak Arga
"Ingin bergabung" tambah kak Arga dan langsung disepakati oleh Tania
Aku tertawa mengejek, hilang sudah nafsu makanku serta menguap sudah bahagiaku sesaat kencan hari ini. Aku bahkan tidak yakin apakah ini kencan?
Baiklah aku sudah muak, aku memilih mundur. Aku tidak tahu siapa Tania ini tapi seketika aku menbencinya dan aku juga marah pada Kak Arga ternyata ia hanya menganggapku Adiknya.
Aku beranjak dari tempat itu meninggalkan mereka, ku dengar kak Arga memanggilku tapi tak ku hiraukan. Hati ini terlanjur patah terlalu dalam, harusnya aku sadar dari dulu kalau inilah yang terjadi.
Harusnya aku sadar kalau kak Arga hanya kasihan pada gadis sepertiku. Aku terus merutuki kebodohanku hingga sampai pada apartemenku.
Aku memang tinggal sendiri di kota ini, ayahku membelikan apartemen ini untukku karena aku kuliah di kota ini tentunya dan agar aku nyaman dan aman.
Aku masuk kamar dan aku menangis, tapi aku tidak boleh jatuh karena pria itu. Aku harus bangkit dan buktikan padanya bahwa aku bisa move on.
Walaupun aku tidak yakin!
Keesokan harinya aku duduk termenung di kantin kampus menghabiskan sarapanku sembari menunggu jam masuk kelas.
Setangkai mawar merah mengacung di wajahku. Ah pria ini lagi, maunya apa sih? Kenapa dia harus repot-repot mengunjungiku di sini.
Aku beranjak dari tempat itu, sudah lelah. Hey aku juga wanita yang ingin dimengerti.
Namun sepertinya pria ini tidak puas akan penolakan, ia menarik tanganku.
"Ada apa lagi, kak Arga?" tanyaku menatap tajam sorot matanya
"Aku mau masuk kelas" lanjutku ketus
"Sebentar"
"5 detik" ucapku namun dia menatap mataku dengan lekat tanpa sepatah katapun.
Aku mulai menghitung
"1"
"2"
"3"
"4" ku lihat ia masih menatapku dengan tenang
"5"
"Okay. Waktu habis!" ucapku lalu mulai melangkahkan kaki.
"Aku mencintaimu!" ucapnya dengan lantang
Eh bagaimana? Apa katanya
Aku segera berbalik menatapnya seakan tak percaya akan ucapannya
Dia menarikku ke dalam pelukannya lalu mengatakan "Aku mencintaimu, Keyra. Gadis cupu yang berubah jadi liar" ucapnya yang diakhiri dengan tawa renyahnya.
"Tapi kakak bilang aku cuma adik, itu kalau lupa" cibirku
Dia melepaskan pelukan kami lalu berkata "Makanya jangan salah sangka duluan, maksudku adik. Kamu adik ipar untuk Tania" kak Arga tersenyum manis sekali
Aku masih memikirkan maksud dari ucapannya. Tania itu wanita kemarin yang aku temui itukan?
Dia mendorong kepalaku dengan telunjuknya "Wanita kemarin yang bernama Tania itu kakakku, Keyra."