"Kak, kau dimana? Kenta, Aku takut" gumamku yang lirih namun ternyata cukup didengar oleh pria berbadan kekar itu.
Aku takut, takut sekali. Jika saja tadi aku tidak menolak ketika Kenta ingin mengantarku pulang pasti aku tidak akan berada di sini. Dan aku juga tidak akan berada disini jika saja aku mengiyakan ucapan kakakku saat ia ingin menjemputku.
Aku tidak akan disekap di gedung tua kumuh serta jelek ini. Tadi aku marah pada Kenta, ya dia adalah pacarku. Tidak sengaja aku melihatnya berpelukan dengan sahabatku, ia berkata salah paham tapi aku cukup keras untuk tak mudah mempercayainya.
Pria berbadan kekar tadi ini berjalan mendekat ke arahku, melemparkan sebungkus nasi untukku.
Cih mereka menyekapku tapi memberiku makan, untuk apa?
"Ingin aku hidup, huh?" sarkasku.Tangan dan kakiku memanglah terikat tapi tidak dengan mulutku.
"Diam! Dan makanlah. Jangan buat aku marah" ucap pria itu yang ku kedengar dari percakapan dengan temannya namanya Jeck.
"Cih! Bagaimana aku bisa makan jika tanganku terikat, bodoh!" pekikku.
Sebenarnya aku takut, tapi ini adalah cara dari ayahku untuk melawan mereka dan jangan memperlihatkan ketakutan kita, jika kita ingin menang. Dan kali ini akan aku lakukan. Terima kasih, Ayah! Kau memang cinta pertama tiada tara.
Author POV
Di sisi lain, seorang pria menghubungi bawahannya untuk mencari adik tercintanya.
"Aku tidak ingin mendengar apapun! Sudah 2 hari adikku hilang. Cepat lacak keberadaannya" lalu mematikan sambungan teleponnya.
Andai adiknya itu sedikit menurut, tidak terlalu keras kepala maka tidak akan begini kejadiannya.
"Kenta" geramnya
Apa ini karena pria itu? Pikir Calvin karena Kenta karena terakhir kali ia bertemu dengan Kenta di cafe dekat kantornya.
Masih saja Calvin ingin menghubungi Kenta, namun tampaknya mereka memiliki insting yang sama. Sehingga Calvin tak perlu repot untuk menghubungi Kenta karena Kenta sudah datang menemuinya.
"Bagaimana? Kau sudah menemukan Aleta." ucap Kenta dengan raut wajah yang panik.
Tanpa diduga Calvin menonjok muka tampan Kenta hingga Kenta terjatuh karena tak siap menerima pukulan itu "Dengar, Kenta! Kau memang temanku tapi aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu yang buruk pada adikku."
Kenta meringis menahan sakit lalu berujar "Mana mungkin aku membiarkan Aleta menghadapi sesuatu yang buruk. Kau tahu bahwa aku sangat mencintai Aleta!" teriak frustasi Kenta.
Kenta hanya tak ingin sang pujaan hatinya dalam situasi buruk terlepas dari kesalahpahamannya. Sudah 2 hari gadis itu hilang dan belum ditemukan.
Kemarin sebelum Aleta diculik mereka berjanji bertemu di cafe dekat kantor Calvin. Namun ketika Kenta masih membaca menu sambil menunggu Aleta datang, seorang wanita bernama Mika memeluknya dari belakang dengan erat sehingga lengan Mika melingkar erat di leher Kenta. Kenta tahu bahwa Mika ini adalah sahabat Aleta dan juga menyimpan perasaan padanya. Sedangkan Aleta tak tahu bahwa Mika menyukai Kenta itulah yang ada dipikiran Kenta karena selama ini Aleta bersikap baik pada Mika.
Saat Mika memeluknya, Aleta masuk ke dalam cafe itu. Ia terkejut saat melihat posisi tersebut ditambah Kenta memegang lengan Mika, ia berfikir itu adalah Aleta.
Namun ketika mata Kenta menatap pintu ia melihat Aleta yang berdiri mematung dan menyadari bahwa yang memeluknya adalah Mika bukan Aleta ia langsung menyentakkan lengan itu dari lehernya.
Namun yang Aleta lakukan bukan kabur melainkan duduk di depan Kenta dengan tatapan sinis dan Kenta berusaha menjelaskan.
Bukan Aleta namanya jika langsung percaya, ia gadis yang keras kepala. Usai menampar Mika, Aleta bangkit dan pergi ingin pulang. Namun Kenta menahan ingin mengantarkannya.
Ia juga menelepon kakaknya mengatakan tidak akan kembali ke kantor hari ini bahkan kakaknya ingin mengantar tapi juga ia tolak.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya pria parubaya yang melihat dua pemuda itu.
"Apa dengan kau menonjoknya adikmu akan pulang?" tambah pria parubaya itu bernama Niko
"Dan kau! Kau bilang cinta pada Aleta maka kau harus menemukannya" ucap pria itu pada Kenta
"Aku sudah menyuruh mereka mencarinya tapi tetap tidak ketemu, pa!" jawab Calvin pada ayahnya
"Aku juga, om" balas Kenta
"Ck. Apa perlu pria tua ini yang harus turun tangan" ucap Niko dengan sarkas.
"Ayo kita berangkat. Aku sudah tahu dimana Aleta" ucap pria Niko pada Calvin dan Kenta
"Apa? Papa sudah tahu kenapa tidak mengatakannya" Dengus Calvin
"Tunggu!" ucap Kenta
"Kita harus membuat rencana agar Aleta juga aman" lanjutnya
"Kalian hanya perlu mengikuti skenario yang telahku susun" ucap Niko dengan seringaiannya.
Kepala Aleta ditutup kain hitam, ia di dudukkan disebuah kursi yang dihadapannya terdapat meja. Dengan di atasnya tersedia lampu kecil menggantung sehingga menciptakan cahaya remang.
Tadi Aleta digiring ke sudut ruangan lain yang masih ada di dalam gedung itu hanya beda lantai saja.
Aleta masih meronta, namun pria bernama Jeck itu menarik kepala Aleta hingga rasanya rambutnya ingin lepas.
Pria itu membuka kain penutup kepala Aleta. Sinar lampu dari depan tubuhnya sudah menyala, ia mengerjabkan mata karena silau saat sorot lampu menyorot tepat di wajahnya.
Bau anyir menusuk hidungnya. Sebenarnya tempat apa ini?
Suara tepukan dibelakang lampu menyadarkan Aleta, ia mengernyit.
"Kau ingat suaraku?" tanya pria itu.
Sial! Aleta tak dapat melihat wajahnya akibat sorotan lampu.
Aleta memasang wajah angkuhnya, jangan tanyakan ia dapat ini dari mana. Sekali lagi! Ini dari ayahnya
"Apa maumu?" desisnya
"Aw.. Aku? Tentu dirimu, nona."
Aleta tertawa mengejek "Sebegitu terpesonanya padaku, tuan?" masih dengan tatapan angkuh dan tenang namun tetap saja hatinya takut.
"Tidak takut padaku, nona?"
Namun Jeck menjambak rambut Aleta hingga Aleta nyaris membungkuk ke belakang, ia meringis merasakan sakitnya.
"Tunggu sampai papa dan kakakku datang! Kalian akan menyesal" teriaknya lagi
Pria di depan sana tertawa mengejek "Uh.. Aku menantinya, Nona." ucap pria di depan tadi sambil mengarahkan pistol pada kepala Aleta.
Bahaya, Aleta memutar otaknya agar mengulur waktu. Ia yakin kakak dan ayahnya pasti menolongnya, juga pacarnya mungkin.
"Ada kata-kata terakhir, Nona?"
"Tunggu! Setidaknya kau harus memberikanku alasan kenapa kau membunuhku?" ucapnya
Pria itu menyeringai, memasang ekspresi yang sangat menyebalkan bagi Aleta. Tak sampai disitu, pria itu juga menurunkan pistolnya. Aleta tersenyum dalam hatinya.
"Apa keuntungan untukku jika memberitahukannya padamu?" tanyanya sambil menautkan alisnya
"Setidaknya aku tidak menjadi arwah penasaran, mungkin"
Pria itu mematikan lampunya sehingga nampak jelas raut wajahnya. Ia tertawa atas jawaban Aleta. Lalu ia duduk di atas meja yang ada di hadapan Aleta.
"Remember me?" Tanya pria itu
"Ronal" ucap Aleta
"Ya, kau terbaik dalam mengingat."
"Jadi apa maumu? Maksudku, beri tahu aku kenapa kau ingin membunuhku"
"Cinta mungkin" jawabnya
"Kau harus membebaskanku jika kau ingin aku cintai" jawab angkuh Aleta
Seperti biasa, Wanita ini cerdas pikir pria itu.
"Kau mencoba bernegosiasi terhadapku untuk mengulur waktu sehingga ayahmu akan menemukan aku. Bukankah begitu, Nona?"
Sial! Pria ini tahu.
Mata Aleta menangkap sesuatu dilaci bawah meja itu, terdapat pistol disana. Yaa Aleta akan mengambilnya, lalu bagaimana caranya sedangkan Ronal masih duduk di atas meja hadapannya.
Aleta mengangkat dagunya, masih menunjukkan keangkuhannya tak peduli akan ketakutan yang ia alami.
"Ayolah, Ronal. Kau ini sungguh tampan. Aku bisa jatuh cinta padamu"
"Harusnya itu yang kau katakan padaku 3 bulan lalu"
"Hei, bukankah kau tahu aku memiliki kekasih?"
"Dan kekasihmu kemarin bermesraan dengan sahabatmu di cafe, kalau kau lupa" balas Ronal
"Shiitt" Aleta mengumpat kala ingat momen itu
Ronal mendekat tangannya mencengkram pipi Aleta "Bibir ini tidak boleh mengumpat, sayang"
Kesempatan baik, Aleta mengambil pistol yang ada di laci bawah meja lalu mengarahkan pistol itu tepat pada kepala Ronal.
Ronal tertawa "You are smart, honey"
Aleta menekankan pistol itu "Bersabarlah, kau akan mencintaiku bukan jika aku membebaskanmu" ucap Ronal dengan santai
"In your dream!"
Aleta menarik kuat platuknya dan
Dor...Dor...Dor
Suara tembakanpun terjadi namun bukan dari pistol Aleta melainkan dari luar.
Ronal lagi-lagi tertawa pada Aleta dan berkata "Kau memanglah pintar tapi aku lebih pintar. Kau pikir, siapa yang meletakkan pistol itu di bawah sana?" sarkasnya
Suara tembakan dan hantaman yang berasal dari luar semakin memekakan gendang telinga.
"Oh Shitt.. Jeck periksa luar"
Jeckpun segera keluar memeriksa kekacauan yang ada sedangkan Ronal melihat situasi dari jendela samping yang ada di ruangan itu.
"Menarik" gumamnya
Aleta tersenyum sinis "Lihat! Papaku pasti datang."
"Lalu?"
Aleta berdecih
Suara berdentum semakin besar diluar sana. Jeck kembali dengan peluh diwajahnya
"Tuan, ada kekacauan di luar sana"
Ronal mendengus dan meminta Jeck menjaga Aleta di ruangan itu.
Dengan langkah lebarnya ia keluar dari ruangan itu, ia melihat dua lelaki dengan cekatan menghajar anak buahnya.
Ronal menepuk tangannya melihat kejadian itu "Wow.. Siapakah pahlawan yang datang ini?" ucap Ronal
Seketika gerakan Calvin dan Kenta terhenti, mata tajam mereka menghunus manik Ronal. Namun tampaknya pria itu cukup tenang disana.
Calvin dan Kenta saling tatap seakan memberi kode lalu keduanya serempak ingin menghajar Ronal. Namun masih 2 langkah mereka berjalan Ronal kembali berujar
"Santai, man " ia memutar matanya jengah "Jeck, bawa kekasih cantikku itu!" tambahnya sedikit berteriak.
Tak lama Aleta sudah ada dihadapan mereka dengan kungkungan Ronal. Satu tangan Ronal memegang tangan Aleta sedang tangan kanannya memegang pistol yang mengarahkan pada kepala Aleta.
"Brengsek!" pekik Calvin
"Apa maumu?" Desis Kenta
"Wah.. Lihatlah tuan selingkuh ini menanyakan padaku"
Aleta terlihat mendengkus sebenarnya ia tidak marah pada Kenta, ia hanya sedikit sebal karena tingkah Mika pada Kenta itu meskipun ia tahu bahwa Kenta sangatlah mencintai Aleta. Ia tahu akan hal itu.
"Dia setia" ujar Aleta protes
Aleta melihat binar bahagia di mata Kenta.
"Diamlah!" sentak Ronal.
"Your mine, Aleta. Jika aku tidak bisa memilikimu maka tidak akan ada yang bisa memilikimu" desis Ronal
Calvin berjalan perlahan untuk menjangkau Aleta dan pergerakan itu terbaca oleh Ronal.
Pria itu menekankan pistol itu pada Aleta lalu berkata "Maju selangkah maka aku akan menembaknya"
Mereka mematung disana, Kenta dan Calvin saling melempar tatapan seakan membuat strategi.
Namun dimenit berikutnya seorang pria berjaket hitam dengan segala keahliannya yang melompat dari luar ke gedung itu dan dengan sigap menarik Aleta dari kungkungan Ronal.
Calvin dan Kenta menghela nafas dalam-dalam. Mereka tahu pria yang sialnya adalah Ayah Calvin juga Aleta yang pasti melakukannya.
"Target sudah saya amankan" ujar pria itu melalui telepon yang tersambung pada telinganya.
Aleta sudah berpindah alih, Calvin dan Kenta dapat menyerang Ronal kalau begitu. Takkan perlu khawatir mereka akan menyakiti Aleta. Namun pikiran itu terhenti akibat melihat tangan Ronal yang mengambil sebuah tombol dari saku celananya.
Shitt!
Umpatan serta merta keluar mulus dari bibir mereka berdua, mereka sangatlah tahu benda apa yang kini sedang berada di tangan Ronal. menyaksikan itu Ronal tertawa mengejek.
"Kalian pikir aku bodoh?" ucapnya dengan seringaian "Aku hanya perlu menekannya sedikit, dan kita akan blusshhh" ucapnya
"Kau gila? Kita akan mati bersama, bodoh" rutuk Aleta
"Oh sayang. Aku gila karenamu"
"Psiko!" maki Calvin
"Kau pasti hanya mengancam bukan?" dengus Kenta
"Barangkali dia akting" gerutu pria yang menyelamatkan Aleta
"Jadi kalian tidak percaya" Wajahnya menyeringai
Dan detik selanjutnya, semua orang disana memekik kala Ronal benar-benar menekan tombol itu.
Semuanya kelimpungan, suara berdebum begitu nyaring hingga meruntuhkan apa saja yang ada disana.
Suara dentuam disertai suara jeritan para makhluk yang berada disana memenuhi bangunan tua. Bangunan itu bergetar nyaris runtuh, puing-puing bangunan sempat berserak memenuhi sekitar. Seluruh manusia terangkat dari pijakan bangunan dan terjatuh dalam posisi telentang hingga telungkup. Aroma darahpun turut bercampur. Seketika hening melanda.
Semua para manusia itupun bangkit, berdiri dengan posisi beriring. Lalu tangan mereka saling menggenggam, menaikkan tangannya dan membungkukkan tubuh sebagai tanda penghormatan.
Tirai merahpun tertutup tanda berakhirnya cerita tersebut. Riuh tepukan terdengar menghiasi seluruh ruangan itu.
"What!! Apa-apaan ini?" suara pekikan seorang gadis tak terima
Namun seorang lelaki disebelahnya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya
"Ayo kita pulang, sayang"
"Rasanya aku ingin menuntut pemilik teater ini" ucapnya dengan menggebu-gebu
"Ini namanya seni, sayang. Dan aku pemiliknya kalau kamu lupa"
"Harusnya kamu gak menayangkan cerita seperti itu dong. Kita selama 3 jam menyaksikan adegan yang menggantung gitu saja?"
"Kan endingnya jelas, semuanya mati"
"Tapi tetap saja aku tuh, uh sakit hati"
Laki-laki itu tertawa terbahak menyaksikan ekspresi kekasihnya ini.
"Ih.. Adrian. Tahu gini aku gak mau kamu ajak nonton ini, akan lebih baik jika kita ke pantai tadi" gerutu gadis itu.
"Suruh siapa tadi gak mau bernegosiasi. Langsung mengangguk dengar ideku"
Gadis itu memasang ekspresi cemberut tanda ketidakpuasan akan drama teater tersebut.
Lalu lelaki bernama Adrian itu, mengacak rambut gadis itu lalu merangkulnya "Ayo, Amel sayang, aku antar pulang. Nanti kita makan es krim"
Kemudian terlihat binar bahagia dimata gadis itu setelah Adrian mengucapkan kata es krim.
"Ayo deh, kalau maksa"
Tamat