"Fely....." teriak salah satu pria dijalan sana.
"Fely.. Aku cinta kamu"
Aku menoleh ke sumber suara namun masih sama, aku masih tidak menemukan satu orangpun disana yang berulang kali meneriaki namaku.
Aku merapatkan jaketku, seraya mempercepat laju jalanku menelusuri malam yang kian larut. Semilir angin turun membelai helaian rambutku yang terurai, ditambah malam ini usia hujan.
Dibelakang sana, ku rasakan ada yang mengikutiku berjalan, aku menoleh ke belakang tetap sama tak ada satupun orang ku dapati disana.
Suara teriakan semakin terasa kuat di indra pendengaranku, peluh berjatuhan karena rasa debaran semakin kencang.
Sekali lagi aku menoleh ke belakang memastikan tak ada yang mengikutiku. Namun ketika aku menghadap depan, terlihat seorang pria bertubuh tegap menghadangku pria itu berhalut kaus hitam dan celana hitam, disertai kaca mata hitamnya.
Kalau diperhatikan, ia tampan. Tapi aku merutuki pikiranku kali ini disaat genting malah imanku melemah kala melihat pria tampan ini.
Aku memekik tertahan kala di belakang tubuhnya ada orang berjubah hitam sambil menggeret samurainya, wajahnya tak nampak karena jubah yang ia kenakan cukup menenggelamkan tubuhnya.
Pria itu berjalan semakn dekat, kearah ku yang mana di depanku masih berdiri pria itu. Suara decitan samurai dengan aspal yang dibawa pria berjubah hitam itu terdengar namun suaraku tertahan, tenggorokanku tercekat tak bisa menggumamkan kata apapun.
Hingga pada jarak beberapa meter pria berjubah itu berlari seraya mengangkat samurainya ke arah pria di hadapanku. Dari samping kami tak lama ada sebuah truk yang berkecepatan penuh menabrak tubuhku dan pria di hadapanku.
"Aaaaaaa.." teriakku sambil terduduk. Nafasku tersenggal-senggal, peluh membanjiri tubuhku.
Sial! Mimpi ini lagi. Dalam dua bulan terakhir ini sudah terhitung 9 kali lebih memimpikan pria itu selalu hadir dalam mimpiku. Kenapa harus tampan sih? Dan malam ini adalah yang kedua mimpi buruk itu menyapa.
Lagi, imanku goyah kalau sudah menyangkut pria tampan meski ia hanya hadir di mimpiku.
Dan aku menyebutnya dengan Black Shadow, klise memang hanya karena ia menggunakan busana serba hitam aku malah menyebutnya begitu.
Anehnya, pria itu selalu ada di dalam mimpiku, memimpikan pria yang sama dengan berbagai potongan adegan dalam mimpi. Apakah itu normal?
Namun bolehkah aku berharap ia membuka kaca matanya barang sebentar saja untuk memastikan bahwa ia memang tampan sungguhan. Aku terkikik geli kala mengingat imanku yang lemah ini.
Ku tatap jam yang bertengger manis di dinding, jarumnya masih mengarah di angka dua. Baiklah aku akan tidur lagi beberapa jam sebelum berangkat bekerja.
Pagi ini aku berangkat bekerja di perusahaan yang selama 2 tahun ini gajinya dapat memenuhi kebutuhan biaya hidupku seperti skincare.
Aku di Jakarta hidup sendirian sedangkan orang tuaku di Bandung. Masih satu pulau hanya saja, selama dua tahun ini aku lebih nyaman berada di kota ini dan memutuskan untuk bekerja di perusahaan ini, entah apa yang menuntunku nyaman berada di sini. Yang aku tahu, Ayahku juga memiliki perusahaan cukup besar.
Sesampai aku di kantor seluruh karyawan telah berkumpul, aku mengerutkan dahi. Apakah aku ketinggalan gosip?
Aku ini memang payah dalam urusan gosip, bersyukur di divisi keuangan ada mbak Sella yang selalu melancarkan berita terbarunya.
Aku menghampiri mbak Sella yang sudah memasang telinga disertai wajah yang cukup serius.
"Mbak, ada apa sih?"
"Fely.. CEO kita pensiun dan akan di gantikan sama anaknya yang super uhuy" ucapnya dengan antusias.
Tuhkan dia biang gosip.
"Mbak tahu dari mana kalau anaknya uhuy?" tanyaku lagi, dikehidupan realistis jangan terlalu bermimpi nanti jatuh sakit.
Lalu kami di hela oleh orang asisten CEO yang ada disini, untuk menuju aula.
Sesampainya kami di aula, masuklah 3 orang. Antaranya 2 orang lelaki dan 1 orang wanita yang tak lain adalah istri tercinta sang CEO yang kabarnya akan pensiun.
Aku masih tak melihat wajah dari pengganti itu, setelah sampai di atas podium ia berbalik.
Pria itu sungguh tidaklah asing, setelan jasnya hitam dan kaca matanya hitam. Ia tampan, dan dimana aku pernah melihatnya.
Ah aku menutup mulutku karena pria itu ternyata orang yang mirip di mimpiku, lagi-lagi aku kebanyakan mimpi.
Pria itu membuka kaca matanya dengan gerakan seksi lalu mengenalkan dirinya pada kami semua sebagai CEO yang baru.
Sungguh rasanya de javu
"Hallo.. Saya Dewangga Pradipta, CEO baru kalian yang menggantikan papa saya. Dan semoga kita bisa bekerja sama dengan baik"
Namun entah mengapa netra hitamnya selalu memperhatikanku lekat-lekat.
Ia kembali berkata "Dan hari ini aku akan mencari sekretaris pribadi untukku"
"Saat ini juga" tambahnya
Seluruh suara mendadak ricuh mempercantik diri agar terpilih. Tentu ini karena paras yang tampan dan kekayaan Dewa.
Dewa berjalan ke arahku, namun wanita disebelahku berkata "Jangan bilang ia mau pilih aku."
Namun ia malah berhenti tepat di bangkuku, aku yang masih syok begitu pasrah di tariknya menuju podium.
"Dia, Felycia Ningtias. Yang akan menjadi sekretaris saya" ucapnya tegas tak terbantahkan.
Aku masih ingin membuka suara menanyakan dari mana ia tahu namaku? Namun ku urungkan kala ingat bagaimana tugasku di divisi keuangan.
Ia berjalan dengan menarik tanganku seolah aku akan kabur, aku sempat melirik ke arah orang tua Dewa. Dan mereka hanya tersenyum? Entahlah
Sesampainya di ruangannya aku langsung mengeluarkan protesku.
"Maaf sebelumnya, pak. Bagaimana tugas saya di divisi keuangan?"
Ia menatap netraku dengan lekat, entah mengapa saat aku menatap bola matanya seakan aku tenggelam dalam pusaran itu. Seperti mengingatkanku akan sesuatu hal.
"Buatkan aku kopi, gulanya satu sendok" pria itu mengabaikan pertanyaanku. Sial sekali
"Tapi..."
"10 menit dari sekarang"
Aku mendengkus sebal dan berbalik menuju meja pantry untuk membuatkannya kopi.
Lalu aku menyerahkannya kopi tersebut, matanya masih fokus pada layar seraya menyesap kopi itu lalu ia berkata "Terlalu manis, sendok apa?"
Lah pertanyaan ambigu sekali ya
"Sendok makan" jawabku dengan bingung.
"Seharusnya sendok teh saja."
Tunggu sepertinya aku pernah mengalami hal ini. Tapi apa?
"Aku heran kenapa kamu harus lupa" gumamnya yang masih ku dengar.
"Maaf, bagaimana, pak?" tanyaku
"Tidak. Kamu boleh keluar. Tapi tidak di divisi keuangan. Dan diluar ruangan ini ada meja kamu" ucapnya sambil tetap fokus ke arah monitornya.
Aku lantas mengangguk patuh meskipun dalam hati keadaan berkecamuk. Bagaimana tidak, dalam sehari pekerjaanku berubah begitu saja.
Hari ini aku lalui dengan baik karena Pak Arkan, asisten CEO yang lama banyak mengajariku mengenai urusan yang tentunya bukan urusanku.
Aku berjalan menapaki tangga apartemen tempatku bernaung selama dua tahun ini, ketika aku membuka pintunya aku sudah dihadapkan dengan seorang lelaki berbaju hitam dan berkaca mata hitam sambil menggenggam sebuket bunga.
Pria itu, membuka kaca matanya, sungguh pria yang tampan dan ia tersenyum lalu berkata "Happy Anniversarry, sayang"
Ia merentangkan tangannya lalu aku berlari memeluknya, menghirup aroma tubuhnya yang beraroma mint seakan mencari kenyamanan yang sangat ku sukai.
Pria itu lantas mencecap bibirku, dan semuanya seakan gelap.
Aku terperanjat, nafasku memburu disertai degup jantung yang tak beraturan.
Mimpi aneh ini lagi, dan mimpi kali ini pria itu membuka kaca matanya.
Aku mengingat wajah pria tampan di mimpi itu sungguh tidak asing, yaa wajahnya mengingatkanku pada CEO baru di kantorku, Dewangga Pradipta.
Ku lihat jam di nakas, ternyata sudah pukul 5 pagi. Aku bergegas bersiap untuk ke kantor, yang aku ketahui tidak ada tolerir untuk keterlambatan.
Sesampainya aku di kantor aku langsung membuatkan kopi untuk Pak Dewa, dengan takaran gula satu sendok teh.
Pria itu lantas tersenyum manis sekali setelah menyesap kopinya. Aku tidak tahu, mengapa pertemuanku dengan Dewa ini membuat sudut hatiku berbeda apalagi setelah melihat senyumannya. Seperti Warm and joy, maybe?
Aku ikut tersenyum melihatnya tersenyum, dia menatapku dengan intens.
"Apa kamu mengingat sesuatu?" tanyanya
Belum sempat aku menjawabnya seorang gadis yang sangat menawan masuk ke dalam ruangan itu tanpa mengetuk pintu, mungkin ia pacarnya.
Aku segera undur diri tidak ingin mengganggu aktivitas sepasang kekasih ini.
Namun ketika aku ingin membuka pintu, wanita itu berkata dengan lantangnya.
"Hei. Kenapa keluar begitu saja? Kau tidak merindukan aku"
Aw! Pekik gadis itu sepertinya ia dipukul pak Dewa.
Aku berbalik, menautkan alisku sarat akan kebingungan. Tak mengerti maksud dari gadis itu.
Ia mendekat mengulurkan tangannya "Aku Dwina" sambil tersenyum manis padaku.
Aku balas uluran tangannya "Felycia"
"Oke, Felycia. Kita akan sering bertemu dan nanti siang kau harus menemaniku berjalan-jalan" ucapnya lagi, aku menatap Pak Dewa seakan menanyakan bagaimana ini dan di balas anggukan dan senyuman khas pak Dewa.
"Baiklah, nona" ucapku sopan pada Dwina.
"Hei, biasa kau memanggilku in.."
"Ekhem. Ada apa kau kemari sepagi ini?" ucap Pak Dewa memotong perkataan Dwina.
"Panggil aku Dwina saja" ucapnya sambil berlalu menghampiri pak Dewa dan aku segera pamit keluar.
Seperti ucapannya gadis bernama Dwina itu, kini aku duduk berhadapan dengannya di cafe yang tak jauh dari kantor. Ia berkata bahwa harus mengisi tangki terlebih dahulu baru bisa berjalan.
Entahlah, perkataannya seperti de javu.
Tiba-tiba ia menggebrak meja yang membuat aku terkejut Bahkan pelayan yang sedang mencatat menu kamipun terkejut dan bingung
Dwina tersenyum lebar menampilkam deretan giginya yang rapi, "Tidak ada, aku minta teh madu namun dicampur dengan lemon" ucapnya.
Teh madu dengan lemon, aku suka!
Sebuah suara dikepalaku muncul. Suara apa itu? Ya Tuhan, ada apa dengan diriku.
"Maaf, apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanyaku.
Dwina memegang tanganku dengan wajah berbinar "Apa kau mengingat aku atau sesuatu?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaanku
Aku menggeleng "Aku seperti pernah mengalami ini tapi mungkin perasaanku saja" jawabku.
"Coba ingat sekali lagi" desaknya. Apa sih maksud dia. Aku benar-benar tidak mengerti.
Dari arah belakangku Dewa datang mengecup puncak kepala Dwina dan duduk di sampingnya. Mengabaikan Dewa, ia kembali mendesakku dengan pertanyaan konyolnya "Coba kau pandang wajahku juga wajah Mas Dewa, barangkali itu membantumu" ucapnya misterius.
Aku mengikuti sarannya, memandang wajah mereka bergantian. Ya aku ingat wajah Dewa ada di mimpiku bahkan tadi malam ia menciumku.
Aku mengingat dengan keras namun yang ku dapatkan tak ada, semakin lama kepalaku sakit dan pusing.
"Aw!" ringisku kala sakit itu menyerang di kepalaku
"Cukup" ucap Dewa padaku
"Jangan terlalu memaksanya" ucapnya lagi pada Dwina
"Tapi mas..." Dewa menggeleng.
Kepalaku cukup pusing memikirkan ini, mengapa Dwina berbicara begitu. Ada apa sebenarnya padaku?
Demi Tuhan, aku baru beberapa hari pindah posisi menjadi sekretaris tapi kejadian aneh selalu hadir, entah itu melalui mimpi atau seperti kali ini, Dwina. Jika dia memanglah kekasih Dewa, mengapa dia bertanya begitu.
Aku meminta izin untuk pamit duluan, sepertinya aku butuh istirahat dan mereka mengizinkanku.
Aku merebahkan tubuhku di kamarku, mungkin tidur adalah pilihan yang baik.
Namun baru saja aku memejamkan mata, kilasan seperti potongan adegan terangkum di kepalaku.
Oh Tuhan... Ada apa ini? Siapa yang bisa memberi penjelasan ini padaku.
Satu nama muncul di kepalaku, Dwina. Iya, mungkin dia akan memberitahukan kejadian itu. Lalu kemana aku harus menemuinya.
Aku segera bersiap, lalu memesan ojol agar lebih efisien sampai di kantor.
Begitu sampai di kantor, aku berlari bahkan masuk ke dalam ruangan CEO menghilangkan rasa sopan santunku. Membuka pintu tanpa mengetuk memperlihatkan dua manusia berbeda jenis menghentikan aksi pelukannya.
Aku menghela nafas lega, melihat Dwina masih disana. Dewa menaikkan alisnya tanda bertanya namun tak satupun ucapan yang keluar dari mulut mereka atas kelancanganku ini.
Aku tidak memedulikan itu, karena langkahku kali ini mendekat pada Dwina lalu memeluknya dengan erat.
"Inaa..." isakku
Aku tahu Dwina pasti bingung namun ia tetap menepuk punggunggu, satu isakan lolos dari bibirku.
Karena potongan adegan tadi mengingatkan masa-masa indahku bersama Ina, dan satu hal yang paling ku ingat bahwa Ina adalah Adikku juga Adik Dewa.
"Tak apa, menangislah" ucapnya lirih.
Setelah cukup tenang, mereka menuntunku duduk di sofa yang ada di ruang itu.
"Apa kau mengingat sesuatu?" ucap Dwina padaku
"Siapa kalian sebenarnya?" hanya itu yang mampu ku katakan setelah potongan kilas balik di kepalaku muncul.
Dewa membuang nafas dalam-dalam dan beralih duduk di kursi kebesarannya lalu memijat pelipisnya.
"Kau siap mendengarkan semuanya?"
"Apapun itu." ucapku dengan mantap
"Dewa adalah suamimu" satu kalimat keluar dari mulut Dwina yang semakin membuat aku pusing.
"Bagaimana bisa?"
Dwina menghela nafas "Sebenarnya aku tu gemes, mau bilang itu tapi Mas Dewa selalu melarangku. Ia mengatakan tidak baik untuk kesehatanmu, kakak ipar."
"Ina.." suara Dewa mengintrupsi.
"Cukup, mas! Aku tahu seberapa besar cinta mas ke mbak Fely" jawabnya
"Kalian menikah sekitar 4 tahun yang lalu. Dan 3 tahun lalu mbak salah paham terhadap Dewa, malam itu mbak mengira mas Dewa sama Sulis berselingkuh padahal sama sekali tidak. Terus mbak melarikan diri dan mas Dewa berusaha mengejar mbak. Saat mas Dewa berhasil menghadang mbak kalian malah tertabrak truk." jelas Dwina dengan menggebu-gebu.
Aku menutup mulutku tak percaya akan fakta ini. Akhir cerita Dwina mengingatkanku pada mimpi, dimana aku tertabrak.
"Sebaiknya mas Dewa yang menjelaskan ini. Aku akan keluar" ucap Dwina sambil bangkit dan menatap tajam Dewa.
Dewa mendekat ke arahku, ia duduk di sampingku dan merangkum tanganku.
"Benar kamu suamiku?" tanyaku, ia mengangguk
"Saat itu kita tertabrak?" ia kembali mengangguk
"Benar saat itu aku salah paham?" tanyaku lagi dan aku benci saat dia mengangguk
Aku menangis tersedu-sedu kala fakta ini terungkap. Ia bangkit membuka laci dan mengeluarkan album foto.
"Ini foto pernikahan kita" ucapnya.
Aku membukanya dan aku kembali menangis, ia memelukku erat.
"Bagaimana bisa?" suaraku teredam akan tangisku
"Saat itu, kita sama-sama terancam karena musuh ayahku. Ditambah perusahaan yang terpuruk. Kamu salah paham dengan Sulis, dan lari begitu saja tanpa penjelasan hingga berhari-hari. Dan akhirnya pada malam itu kita tertabrak truk"
Ia menghela nafasnya "Karena kita kurang biaya aku menyetujui ucapan Ibumu yang memisahkan kita, ibumu marah padaku karena ia juga salah paham atas tindakanku pada Sulis. Dan rencana itu sempurna ketika kamu juga amnesia."
"Lalu pria itu?" kulihat Dewa menautkan alisnya
"Pria apa?" tanyanya
"Aku mimpi buruk mengenai kita tertabrak yang dibelakangmu ada pria berjubah hitam membawa pedang" jelasku
Dia membisu "Kamu melihatnya?" tanyanya dan aku sontak mengangguk
"Dia Will, Wilangga saudara kembarku yang juga mencintaimu"
Aku menutup mulutku "Maafkan aku, aku tidak tahu jika jadinya begini"
"Aku yang meminta maaf karena baru belakangan ini berani menemuimu. Aku sangat senang saat 2 tahun lalu itu kau melamar kerja di perusahaan ini.
"Tapi aku tidak bisa mengingat banyak" ucapku
Dia menggeleng "Aku akan berusaha untuk membantumu mengingatku lagi. Asal kamu juga berjanji akan selalu berada di sisiku" ucapnya dengan mantap.
"Lalu ibuku?" tanyaku yang pasti aku akan meyakininya nanti. Karena dia adalah Dewa, suamiku. Pantas saja aku merasa nyaman disini.
"Ayo kita berjuang untuk kedua kalinya, sayang"
Aku tersenyum "Memang ada yang pertama?" tanyaku lagi
Dia menganggukkan kepalanya "Tentu. Kamu dulu susah sekali dihadapi. Sekalinya kita menikah kamu malah salah paham"
Aku tertawa melihat sikapnya "Maafkan aku" ucapku tulus dan ia memelukku lagi dengan erat dan mencium keningku.
End