Nikah yuk, Om!
Romance
10 Dec 2025 17 Dec 2025

Nikah yuk, Om!

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (77).jpeg

download (77).jpeg

12 Dec 2025, 04:30

Selain voment, boleh banget kalau mau follow akun ini. Anggap aja rasa menghargai, gratis pastinya.

Dan boleh banget kalau mau recomended cerita ini sama teman yang lain yaa Hihi Terimakasih

Maaf jika cerita tidak menarik

Happy Reading

Aku duduk melamun di depan toko yang menyediakan bangku, bukan melamunkan apa-apa melainkan aku teringat kekasihku.

Huh! Sudah setahun lamanya ia meninggalkanku bukan karena berselingkuh namun meninggalkanku ke alam yang berbeda.

Dan aku juga tahu, obat terampuh dalam menyembuhkan ini adalah pasangan baru. Tapi aku belum sanggup, aku sungguh mencintainya.

Ipta Antasena, senior di kampus yang begitu mempesona. Lelaki pekerja keras yang cerdas dan mampu membolak balik hatiku. Banyak kisah yang kami lalui, dia banyak mengajarkanku untuk menjadi wanita yang kuat namun feminim juga manja.

Ya sedikit rahasia, aku ini dulu tomboy. Itu dulu sebelum masuk kuliah sekarang sudah feminim dan manja, sedikit.

Ipta Antasena, lelaki pertama yang mengajarkanku arti cinta. Namun dia lebih memilih meninggalkanku dengan cinta yang kian hari membesar.

Ia yang selalu mengingatkanku kalau harus selalu memberi kabar walau sesibuk apapun, ia juga yang selalu memberiku semangat ditengah-tengah dosen killer dengan setumpuk tugas.

Ah Ipta....

Aku menatap orang berlalu lalang tampak begitu bahagia tapi aku tidak bisa begini terus.

Temanku, Ariska selalu mengingatkanku untuk mencari pasangan baru dan meyakinkanku bahwa Ipta akan bangga jika aku mampu melalui ini semua.

Aku mohon Ipta, jika kamu merestuiku berikan aku satu lelaki yang memang pantas untuk ku temui.

Hari ini juga Ipta...

Aku memejamkan mataku, merapalkan kalimat Ipta, jika kamu mengizinkan dan atas restu Tuhan juga ketika aku membuka mata nanti hadirkan satu lelaki yang harus ku miliki ya, Ipta.

Aku menghela nafas, perlahan membuka mata. Lalu menahan nafas.

Ipta, apakah itu dia?

Di penglihatanku, terdapat pria tinggi berparas tampan. Tangan kiri memegang gelas kopi khas merk tertentu dan tangan kanannya membaca tab nya, fokus matanya di tab tersebut.

Tapi jika dilihat dia lebih dewasa daripada aku.

Oh.. Ipta, itukah yang kamu pilih menggantikanmu?

Baiklah, aku akan menghampirinya lalu mulai bangkit perlahan menghampirinya.

BRUKK

Bukan, ini bukan adegan dimana kalian jatuh saling tatap layaknya film, bukan pula adegan romansa yang jatuh saling sentuhan tangan hingga bertatapan.

Tapi ini ini benar-benar bertabrakan akibat aku berhenti di depannya sedangkan ia tetap lanjut berjalan dengan mata fokus pada layar tabnya, akibatnya aku sedikit terhuyung sedangkan ia, kopinya jatuh tumpah dan tab nya ikut jatuh.

"Ma.. Maaf, pak" cicitku karena ia masih memungut tab dan mulai mengeceknya kembali, gerakannya terhenti lalu mendongak menatapku.

"Pak?" tanyanya dengan ekspresi tak percaya

"Eh, om" ralatku cepat

"Om?" tanyanya lagi dengan alis terangkat membuatku tergagap seketika.

"Saya tidak sengaja, om. Om sih jalan tidak lihat-lihat ke depan" kilahku mulai membela diri

Ia tampak menghembuskan nafasnya perlahan "Okay, lupakan saya buru-buru" lanjutnya sambil berlalu meninggalkanku.

Namun bukan berhenti aku mulai mengikutinya berjalan, "Saya Karina, Om siapa?" tanyaku sambil menyejajarkan langkah kakiku padanya

Ia menghentikan langkahnya yang otomatis langkahku juga terhenti.

"Ngapain?" tanyanya

"Apa?" jawabku polos

Dia mendecakkan lidahnya "Ngapain kamu ngikutin saya?"

Aku meringis "Nama om siapa?"

"Zein, sekarang silahkan pergi jangan ikutin saya" ketusnya lalu pergi begitu saja.

Aku tertawa pelan dengan berujar, Oh Ipta.. Dia lucu deh. Aku suka.

Aku menghendikan bahu berjalan pulang ke rumah. Sepertinya besok aku akan kembali ke tempat ini dan semoga menemukan dia, siapa tadi namanya?

Ah iya, Zein.

Keesokan harinya aku kembali ke tempat semalam, menunggu selama beberapa jam sepulang dari kampus setelah menemui dosen untuk bimbingan skripsi namun tak menemukannya kembali.

Ah andai Ipta masih ada, pasti dia akan membantuku membuat skripsi ini.

Aku berulang kali ke tempat saat bertemu dengan Om Zein itu, namun sudah sebulan ini tapi tetap tak membuahkan hasil.

Lihat saja, jika aku bertemu kembali aku akan mengajaknya menikah. Aku tertawa kecil lalu bergumam, bolehkan, Ipta?

Menghela nafas aku berbalik menuju cafe yang memiliki wifi untuk membantuku mengerjakan revisi skripsi mencari beberapa jurnal untuk referensi, rasanya bosan jika harus selalu mengerjakannya di rumah.

Aku duduk di salah satu kursi yang ternyata sudah ada Ariska disana, ya ini cafe tempat favorit kami.

"Hey, zeyengku." sapaku kelewat ceria saat sudah duduk di hadapannya.

Iapun tak kalah kelewatan dalam membalas sapaanku "Uy, zeyengcu" lalu kami tertawa sebentar

"Bentar, tumben bahagia sekali? Ada apa gerangan" tanyanya sambil mengetik

Aku membuka laptopku dan menjawab "Sepertinya aku jatuh cinta"

"Uh.. Akhirnya. Siapa pria tidak beruntung itu?"

"Sialan." makiku

"Okay. Maaf. Siapa pria itu yang berhasil meruntuhkan Ipta di dalam hati?" tanyanya kembali kali ini dengan serius karena ia menghentikan ketikannya dan juga menatapku.

"Tidak meruntuhkan Ipta juga, malahan sepertinya Ipta yang sedang menuntunku ke arahnya atas seizin Tuhan juga pastinya" balasku menggebu-gebu

"Yeee" ucapnya sambil mendorong kepalaku dengan jari telunjuknya.

Kami melanjutkan aktivitas kembali, mengetik naskah skripsi.

Dentingan lonceng yang ada di pintu menandakan adanya pelanggan masuk, membuatku otomatis menolehkan kepalaku karena bosan menatap monitor yang tak terasa sudah 2 jam lamanya.

"Om Zein" lirihku

Kurasakan tanganku di senggol oleh Ariska, "Please, jangan om-om" bisiknya

"Om yang ini beda" Jawabku sambil tertawa lalu segera bergegas membereskan barang-barangku dan mulai menghampiri Zein menghiraukan panggiln Ariska.

"Hallo, om" sapaku setelah duduk di depannya, ia mengernyitkan alisnya sepertinya dia lupa, tak apa aku akan bersabar.

"Karina, kalau om lupa"

"Bisa tidak, jangan manggil om. Saya tidak nikah sama tante kamu" balasnya cuek. Aku terkikik geli atas jawabannya.

Baru saja aku akan membuka suara tapi ternyata suara lain menghentikanku dan membuat aku terbatuk seketika,

"Ayah..." teriak gadis kecil yang menggemaskan tapi membuatku membulatkan mata.

"Sayangnya ayah, gimana jalan-jalannya sama mama Rara?" ucapnya sambil mengangkat gadis itu ke pangkuannya.

"Huh? Mama?" lirihku terkikuk, jadi dia punya istri, aku terdiam disitu menatap interaksi ayah dan anak itu.

"Seruu banget, yah." ucap gadis itu sambil berekspresi terlihat senang.

Lalu ku lihat ia mendekati telinga ayahnya bermaksud berbisik tapi bisikannya kuat sehingga aku mendengarnya "Yah, kakak itu siapa?"

Ah aku punya ide dengan senyuman manis, aku berucap "Hallo, sayang. Kakak calon mama kamu" ucapku yang membuat Zein itu terkejut. Uh lucu sekali, boleh juga mengerjainya.

Tapi gadis itu malah menggeleng yang membuat Zein tertawa dan aku mendengkus sebal.

"Mama aku ya mama Rara" jawabnya

"Zein" sapa wanita cantik sekali dan suaranya itu merdu dan manja natural, aku yakin wanita itu tidak tahu kalau ia mempesona.

"Hai, Ra." Zein bangkit lalu sekilas memeluknya

"Lama banget, Ra. Dari mana aja?" tanya Zein ketika wanita itu duduk di sampingku, aku yakin pasti wanita ini bernama Rara mengingat Zein memanggil penggalan namanya dan gadis kecil itu langsung berhambur pada wanita itu.

Duh. Kok aku jadi terjebak di kisah asmara mereka sih?

Ipta... Gimana ni? Aku uda mulai tertarik sama pria itu.

"Teman kamu ya, Zein atau siapa?" tanyanya aku memutar bola mata, kemana aja baru tahu.

"Kamu gak ke kantor?" tanya Zein Mengalihkannya. Aku sih diam aja mau merhatikan dulu, dan aku juga gak berniat beranjak dari sini. Aku melirik Ariska dan ternyata ia sudah tidak duduk di sana mungkin sudah pulang.

"Enggak, aku malas." ucap wanita itu sambil tertawa, ah manis sekali beda sekali denganku. Bahkan untuk tertawa saja ia terlihat anggun.

"Ah iya, kenalin. Aku Lyra, tapi mereka panggil aku Rara jadi jangan bingung" ucapnya padaku sambil mengulurkan tangan, akhirnya aku di anggap juga.

Ku balas uluran tangannya dan menjawab "Aku Karina, mm..."

"Kakak, sepertinya aku lebih tua" balasnya sambil tersenyum membuatku tertular akan senyumannya.

"Ma, nanti kita main sama papa Rey, ya?" yang du balas anggukan dan kecupan di pipi gadis kecil itu oleh Lyra.

Eh tunggu kok dia sebut papa Rey, aku tidak salah dengarkan? Apa jangan-jangan mereka bercerai atau gimana sih. Tidak asing namanya ya

Tapi bodo amatlah, siapa peduli. Lagipula anaknya juga gemesin dan Zein ini mukanya ganteng pake banget. Aku terkekeh geli akan ingatanku ini.

"Pacar kamu lucu deh, Zein. Aku setuju"

"Jangan mulai, Ra" balas Zein

Perkataan itu artinya Zein jomblo dong yaa. Yes!

"Mm.. Kakak bukan istrinya Om Zein?" tanyaku polos, aku sungguh gatal ingin menanyakan hal ini sedari tadi.

Tapi wanita bernama Lyra itu malah terbahak "Rencananya sih dulu begitu"

Jawaban apa itu, ambigu sekali. Tapi lagi-lagi suaraku tertahan karena ada suara lain yang menambah pusing akan ada apa ini.

"Lama ya, sayang?" ucapnya sambil mengecup kening Lyra dan menyapa Zein dan mengusap kepala gadis kecil itu dan berucap "Hallo, Feya" dan dibalas pelukan oleh gadis kecil yang baru ku ketahui namanya Feya.

"Loh, Ina bukan?" tanyanya setelah duduk di hadapan Lyra.

Ya ampun sempit sekali dunia ini "Kak Reyhan" ucapku antusias.

"Kamu kenal, kak?" tanya Lyra

"Ini Ina loh sayang, masak kamu lupa sih. Ini dulu waktu kamu SMP kita pernah main ke rumahnya bentar sih cuma antar titipan mamaku aja" jawabnya

Ya ampun sungguh dunia ini sempit sekali dan aku juga lupa maklumlah ya kan sudah lama.

"Wah.. Kamu makin cantik. Maaf ya aku gak tahu cuma sekali atau dua kali gitu sih jumpa kamu" balas Lyra

"Iyaa aku juga lupa, kak." ringisku lalu menatap ke Reyhan "Jadi dia kakak ipar aku, kak?" tanyaku dengan binar bahagia, ada peluang dong ya. Di balas anggukan oleh kak Reyhan, jawaban yang memuaskan untuk saat ini.

Aku kembali menghadap Lyra "Maaf, setahun yang lalu saat pernikahan kalian aku tidak hadir, karena ada duka" ucapku dengan tatapan meminta maaf, setahun lalu Ipta, ah sudahlah..

"Jadi kamu kemarin nelpon aku ngomongin laki-laki ini?" goda kak Reyhan yang memang benar. Seminggu yang lalu aku menelponnya menanyakan pria ini tapi aku tidak sebutkan namanya.

Aku ini sepupu kak Reyhan, anak dari adik ibunya hanya jarang bertemu mungkin karena usia terpaut lumayan jauh dan aku akan menghubunginya jika ada keperluan selebihnya aku banyak melupakannya. Hehe

Lalu kak Reyhan juga istrinya itu yang baru aku ketahui hari ini beranjak dari cafe, bisa-bisanya aku tidak ingat. Andai saja kak Reyhan tidak datang mungkin aku akan selalu bertanya-tanya.

Tapi sepulang ini aku akan mencecar kak Reyhan untuk menanyakan pria ini.

Kini tinggallah kami bertiga, Zein tampak sibuk menyuapi puding pada Feya.

"Om" panggilku

"Ck. Aku bukan om kamu" balasnya

"Jadi panggil apa dong? Sayang boleh?" godaku lagi

"Kakak" singkatnya

"Okay. Kak, nikah yuk?" ajakku yang sudah malas berpacaran aku tidak peduli dia punya buntut, toh Ipta yang mengenalkannya.

"Sudah gila emang" sahutnya menggeleng

"Mm.. Tapi Feya mau kok punya bunda kayak kakak itu, yah"

Wah lampu hijau dari anaknya yang membuatku tersenyum penuh kemenangan

----

Hari ini aku sudah berada di depan kantornya, Kak Zein. Tentu saja, setelah aku membombardir Kak Reyhan itu sampai istrinya gemas sendiri denganku.

Biarlah! Aku akan memintanya untuk menikahiku, bodo amat dia bilang aku gila.

Lagipula ayah dan ibuku sudah membolehkan aku menikah jugakan.

Sambil menenteng paper bag yang berisikan makanan yang tentunya favorit kak Zein, aku melangkah.

Oh jangan tanyakan aku tahu dari mana, sudah jelas dari kak Lyra. Sebenarnya aku penasaran bagaimana hubungan Kak Lyra dengan Kak Zein itu tapi seolah mereka menutup rapat dariku baik kak Reyhan maunpun Kak Lyra

Sudahlah, bukan itu fokusku. Persetan dengan hubungan mereka yang penting aku padamu, kak Zein.

Aku melangkahkan kaki ke dalam kantor Kak Zein dengan kartu akses milik Kak Lyra tentu saja, dengan begitu aku tidak perlu banyak dipertanyakan di resepsionis.

Setelah aku menunjukkan akses dan beberapa kata aku langsung di antarkan ke ruangan Kak Zein, tanpa mengetuk aku langsung masuk saja.

Ketika ku buka pintu tersebut terlihat Kak Zein sedang berkutat di depan mejanya dengan setumpuk berkas dan secangkir kopi disana.

Aku meletakkan paper bag dan juga tasku ke sofa yang ada di ruangan itu. Dan mulai melangkahkan kaki mulai menyapanya.

"Hallo calon suami" sapaku, ku lihat ia menghentikan gerakannya lalu menatapku, menopangkan dagu lalu berkata "Lain kali ketuk pintu"

"Akukan calon istrimu" jawabku cepat dia mendengkus

"Apa aku ada menyetujuinya?" tanyanya menghunus ke mataku sambil berjalan ke arahku, aku gelagapan ditatap begini.

"Mm.. Aku.. Iyaa" sial aku terbata,

"Yasudah, Nikah yuk, Om?" godaku lagi berusaha menahan gugupku. Namun ia tetap melangkah ke arahku semakin mendekat.

Ia mengangguk singkat saat sudah beberapa langkah di hadapanku, "Oke, jadi calon istriku..." ucapnya menggantungkan kata, berjalan ke arahku hingga tak terasa punggungku sudah menempel di pintu.

Aduh Ya Allah, Ipta.. Bagaimana ini?

Biar bagaimanapun aku masih perawan tahu, jadi aku sedikit takut.

Ia semakin merapatkan tubuhnya ke arahku, nafasnya bahkan sudah berhembus ke wajahku aroma mint begitu kentara.

Ia meniup telingaku membuatku bergidik. Seketika itu tanpa sadar aku menahan nafasku.

"Relax, Karina. Bukankah aku sudah menyatakan iya" ucapnya dengan seringaian.

Aku memilin ujung bajuku, tangannya terangkat mengurung diriku, memenjarakan tubuhku.

Tanpa aba-aba ia mendekatkan wajahnya ke wajahku membuatku menundukkan wajah.

Namun kejadian selanjutnya membuatku membulatkan mataku seketika, ia mengecup bibirku. Hanya sebuah kecupan, kecupan yang berujung aku menamparnya.

Ya aku menamparnya, mungkin itu cukup kencang.

Rasanya aku seperti dilecehkan! Aku tahu mungkin aku sedikit agresif tapi bukan berarti aku, ah sudahlah..

Segera ku dorong tubuhnya, mengambil tas yang sempat aku letakkan di sofa itu, bergegas keluar sebelum aku mengucapkan

"Saya kesini hanya mengantarkan makan siang untuk, Om. Bukan untuk diperlakukan seperti ini" lalu aku pergi begitu saja tanpa ingin melihatnya maupun mendengar responnya.

---

Sejak kejadian itu, tepatnya sudah 6 bulan berlalu aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Anehnya aku selalu merindukannya hingga rasanya sesak. Apakah ini namanya cinta?

Bahkan jujur, aku tidak tahu jelas apa perasaanku saat ini.

Aku bimbang.

Bukan, lebih tepatnya aku tidak mengerti perasaan apa ini yang jelas saat itu aku meminta izin pada Ipta dan Tuhan untuk mendapati penggantinya ketika buka mata dan dia pria yang ku lihat.

Dan lebih tepatnya lagi, tidak ada yang bisa menggantikan Ipta karena dia sudah memiliki posisinya sendiri.

Banyak melamun, pintu kamarku diketuk seperti bunda akan mengomeliku karena belum berpakaian rapi mengingat enam puluh menit yang lalu beliau memintaku sedikit berdandan.

Huh! Lucu sekali.

Nenekku sedang di bawah, sudah sebulan ini dia menerorku untuk membawa pacar dengan ancaman apabila tidak ada maka ia akan mengenalkan seseorang menjadi pendampingku.

Demi Tuhan, aku baru wisuda sebulan yang lalu!

"Inaa.. Cepat keluar. Tamunya sudah hadir"

Tamu? Siapa? Aku tidak salah dengar kan ya.

"Iyaa, Bunda. Sebentar" teriakku lalu bergegas berpakaian rapi dan momoles sedikit make up di wajahku, daripada kena sembur sama bunda dan nenek nantinya.

Akupun keluar dan mulai melangkahkan kaki menuju bawah, kulihat ada pria di bawah sana berkumpul bersama keluargaku.

Wajahnya tak terlihat karena ia membelakangiku, baiklah mungkin ini adalah pria yang dipilihkan nenekku untukku karena aku tak kunjung membawa pria lain kehadapan mereka.

Itu sih pemikiranku, faktanya kala ia membalikkan tubuhnya aku mematung bahkan kaki ini rasanya sulit digerakkan, nafasku seakan tercekat dan mataku turut terbelalak tanpa kusadari.

Pria itu tersenyum teduh yang menghangatkan hatiku.

Tapi untuk apa dia kesini? Aku menetralisirkan perasaan ini dan mulai melangkahkan kaki kembali.

Ayahku tersenyum lalu mengusap puncak kepalaku seraya berkata "Kamu sudah besar, sayang"

"Ayo lebih baik kita makan malam dahulu" instruksi ayahku lagi. Dan kami menurutinya.

"Jadi Bagaimana, pak?" ucap pria itu pada ayahku yang kini kami sudah selesai makan dan duduk di ruang keluarga.

"Kalau saya bagaimana Karinanya saja, nak Zein"

"Bagaimana, Ina?" tanya Ayahku mengalihkan fokus mataku pada tautan tangan

Iyaa, pria itu adalah Zein, huh aku gugup, dilema bagaimana ini?

Apakah aku bisa menerimanya? Bukan, lebih tepatnya apa aku sudah mulai mencintainya? Banyak sekali uraian pertanyaan yang harus ku temukan jawabannya.

Ku lihat kak Zein menatapku dalam sebelum berucap

"Saya tahu, umur saya 29 tahun kita memang terpaut 6 tahun, saya juga seorang duda beranak satu yang umurnya sudah 4 tahun. Dan mungkin akan ada lelaki yang lebih baik dari saya tentunya namun saya tidak dapat membohongi perasaan saya lebih jauh, jadi maukah kamu..."

"Bisa kita berbicara berdua terlebih dahulu, sudah lama tidak bertemu" potongku dengan cepat, ia menatap ayahku dan ayahku tersenyum lalu mengangguk.

Akupun langsung berdiri dan menuju taman belakang rumahku.

"Sebenarnya apa maksud kedatangan, Om?" tanyaku saat ia sudah duduk di sampingku

"Ah tidak maksudku, apa yang mengubah pikiran kakak untuk kerumahku dan melamarku bukankah saat itu kakak menolak?" ralatku dengan cepat karena panggilan om terhadapnya dan rasa ingin tahu yang menghantarkan ia kesini setelah 6 bulan yang lamanya tak bertemu

Ia mengangguk singkat "Sebenarnya aku sudah lama ingin melamarmu tapi sepupumu yang bernama Reyhan itu menyebalkan ia menyuruhku menunggumu wisuda. Dan saat itu aku tidak menolakmu, awalnya aku menolak. Terlebih setelah kamu menamparku, aku sadar aku sudah tertarik padamu" jelasnya

"Benar? Bukan rasa bersalah" tanyaku, bisa sajakan setelah insiden itu ia jadi begini karena rasa bersalah. Aku tidak menginginkan rasa kasihan itu.

Ia menggeleng dengan tegas " Tidak. Aku mencintaimu" tegasnya

Aku menautkan tanganku, menggigit bibir bawahku. Bagaimana ini? Aku harus jawab apa yaaa

Alih-alih ingin menyanggah tapi bibirku seakan berkhianat malah mengucapkan kalimat "Nikah yuk, om?"

Ia tertawa "Meskipun kamu pernah berkata begitu namun harusnya malam ini itu kalimatku" ucapnya

Baiklah, aku kalah.

"Jadi?" tanyaku lagi dengan polos

Ia mengacak singkat rambutku "Iyaa tentu saja kita akan menikah. Itu tujuanku ke sini. Artinya kamu setujukan?"

Aku mendengkus akan perbincangan ini, tentu saja akukan sudah berucap begitu sedangkan ia memelukku dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku.

Nafasnya mulai menerpa kulit wajahku, aroma mint. Refleks aku menutup mata kala hidungnya nyaris menyentuh hidungku

"Wah, sepertinya harus segera dilangsungkan pernikahannya"

Itu suara Ayahku, mati!

Dengan cepat aku menjauhkan tubuhku darinya dan menatap ayah dengan malu.

Ku lihat Zein menggaruk tengkuknya dan tersenyum cangguh ke ayahku, ia mengalihkan pandangannya padaku dan mengedipkan matanya.

Dasar mesum!


End


Kembali ke Beranda