"What! Kok aku sih?" pekikku histeris kala mendengar ocehan salah seorang gadis yang duduk di seberang kursiku, Lala.
Dua orang gadis dan satu pria duduk menghadap dihadapanku dengan kalimat yang membuatku rasanya ingin terbakar.
"Ayolah, Dita. Cuma rencana untuk party" balasnya dengan raut memohon padaku.
Saat ini aku sedang duduk di kantin kampus sambil menunggu jam kuliah berikutnya yang akan dimulai satu jam lagi dan mereka datang di depanku.
Aku yang mendengkus tidak suka mendengar usulan itu, lalu menyeruput ice coffe hingga berbunyi menandakan habis dari cupnya.
"Kalian gila?" tanyaku lagi masih tidak percaya.
Mereka menggeleng dengan tegas, kecuali pria itu, bagaimana tidak? Salah satu teman dari teman mereka akan berulang tahun sebulan lagi. Dan mereka mengajakku turut membantu rencana yang telah mereka susun.
Tidak ada yang aneh sampai disana. Yang aneh adalah aku disuruh menjadi perempuan penggoda untuk menggoda pacar dari lelaki gadis yang akan berulang tahun itu.
Lebih tepatnya, pacar pura-para pria dihadapanku ini, Maxim. Ide gila.
Setidaknya aku punya harga diri, tahu! Bagaimana pemikiran orang lain. Aku akan disebut pelakor, begitukah?
"Bantulah kami. Hanya kau perempuan yang tepat" bujuk mereka
"Aku punya pacar, bagaimana ka.."
"Halah.. Pacarmu tidak disini" potong gadis rambut pendek bernama Aira itu, dia memang gadis yang galak.
"Kalian juga gak bisa maksa dong, hanya karena aku tidak mudah untuk di tindas bukan berarti aku akan melakukannya"
Lala memegang tanganku "Kami juga ingin tahu, Maxim setia atau tidak." bisiknya yang membuatku sepontan menatap pria itu yang kini juga menatapku dengan alis terangkat.
Aku akui, dia sungguh tampan.
"Lalu bagaimana jika Maxim baper sama aku, aku tidak bisa mempertanggung jawabkan perasaannya. Aku sudah punya pacar" jelasku
Mereka kompak mengangguk kecuali Maxim yang ku dengar berdecih "Hanya seminggu, Dita. Ayolah" timpal Aira.
"Okay. Seminggu. See you" ucap Maxim datar
Memang aku mengatakan setuju? Tidak adakan.
Maxim adalah senior kami, dia seorang presma. Sosok wajahnya yang rupawan dan juga berkantung tebal membuat perempuan mana saja akan suka rela mencintainya, setidaknya itu yang aku tahu.
Aku tidak pernah berharap akan mendapatkan hatinya, huh kalau bukan karena ucapan yang cukup menggoyahkanku.
Aku ingin tahu , apakah Angel mencintaiku . Bisik Maxim saat itu yang membuatku berteriak bodo amat, tentu hanya dalam hati. Mana berani aku, tatapannya saja tajam mengintimidasi.
Ia menjauhkan wajahnya sambil menyeringai, yang mana kata-kata selanjutnya yang membuatku pasrah dan terjebak di tempat ini bersamanya.
Satu minggu 50 juta , semudah itu hanya dengan dekat denganku .
Saat ini aku duduk diluar ruangan saat presma beserta teamnya sedang rapat. Lagipula apa hubungannya sih. Seharian aku disuruh menunggunya, tidak ada kegiatan apapun.
Ia keluar ruangan "Beliin air mineral gih" titahnya sambil menyerahkan uang seratus ribu.
"Kok aku merasa jadi kacung ya?" protesku dihiraukan saat ia tanpa perasaan meninggalkanku masuk ke dalam ruangan itu lagi.
Seharian ini harusnya aku rebahan, karena tidak ada jadwal kuliah. Mulutku ini sih berkhianat harus setuju saat itu.
Bahkan hari ini aku sudah 5 kali bersamaan ia menyuruhku membeli minum ini. Dari mulai fotocopy, membeli spidol, membeli kopi, mencari kuota dan terakhir membeli air mineral. Aku yakin dia pasti sedang mengerjaiku.
Iyalah, mana mungkin ia dengan cuma-cuma memberiku 50 juta begitu saja, iyakan?
Ini masih hari pertama, segera aku membeli air mineral di kantin kampus dan kembali ke ruangan itu
Aku masuk memberikan sebotol air mineral tanpa memberikan kembalian itu.
"Ini sudah sore banget sebentar lagi malam, Max. Sorry. Aku balik duluan" ucapku menahan amarah.
Ia menahan lenganku, "Besok aku jemput jam 10 pagi" ucapnya.
Sialan! Kirain nahan lengan bakalan mau nganterin pulang. Ternyata besok ada lanjutannya. Mendengkus aku meninggalkannya.
---
Tidak sesuai dugaan, aku masih baru selesai mandi dan dia sudah mengetuk pintu kamarku, ku lihat jam yang menggantung di dinding. Ini masih pukul 9, kenapa dia tidak sabaran sekali sih.
Aku tidak heran kenapa dia bisa mengetuk pintu kamarku dan menyerukan namaku, karena aku hanya tinggal dengan ART di rumah ini, papa dan mama sedang perjalanan bisnis atau malah honey moon untuk yang kesekian kali.
Tapi Aku jadi memikirkan Angel, kasihan gadis itu. Biarpun dia sungguh menyebalkan tapi tetap saja aku merasa kasihan padanya.
Mungkin karena kami mantan teman. Oh adakah sebutan lain untuk itu? Ini juga yang membuatku ada ketertarikan untuk membantu misi mereka. Sesekali jahat bolehkah?
Menghela nafas, hanya seminggu, semangat Dita. 50 juta dalam seminggu. Kapan lagi?
Dan kini aku sedang di toko perhiasan membantunya mencari hadiah, ia menggenggam tanganku. Aku berusaha menariknya tapi ia malah mempererat genggamannya.
Bukan apa-apa aku hanya takut aku goyah.
"Yang mana?" tanyanya padaku, kali ini ia melepaskan genggamannya dan menunjuk 2 kalung yang bagus untuk Angel, satu bermainan mawar dan infinity.
Mataku berbinar saat melihat kalung berbandul infinity tapi posisinya ini saran untuk Angel, bukan aku.
"Mm.. Ini, Angelkan suka sekali dengan mawar jadi lebih baik yang ini" saranku sambil menunjuk berbandul mawar, aku tahu Angel itu perempuan cantik yang glamor, gaya hidup setara dengan kekayaan orang tuanya.
"Sepertinya kau sangat mengenal Angel" balasnya dengan fokus menatap kalung itu
Aku menghendikan bahu "Kebetulan saja"
Maxim mengangguk singkat. "Kau boleh menunggu di restoran seberang sana. Kita makan dulu" perintahnya yang membuat aku mendengkus.
Sabar Anandita yang cantik, demi 50 juta.
Aku menghela nafas lalu keluar menuju restoran yang di depan sana. Aku masuk langsung memanggil waitres s memesan pesananku tanpa menunggu pria menyebalkan itu.
Sekarang aku mengerti, Maxim dan Angel mereka memiliki karakter yang sama. Sama-sama menyebalkan.
Tak lama pesananku datang, aku langsung memotong steak tersebut. Baru saja aku menyuapkan potongan pertama, Maxim datang
"Kenapa tidak menungguku?"
Aku hanya diam saja, malas ah jawabnya. Masih dengan santai aku mengunyah dan memotong steak tersebut
"Akukan menyuruhmu menungguku disini, maksudnya kita makan bersama"
Aku menyodorkan potongan steakku padanya, sungguh dia cerewet sekali, diluar dugaan ia malah menerima suapan dariku.
"Enak" jawabnya ringan, kulihat ia mengangkat tangan memesan menu yang ku pilih ini. Aku tahu restoran ini, sering kukunjungi bersama Angel.
Uhuk..uhuk..
Aku tersedak. Aku baru saja memikirkan Angel tapi gadis itu panjang umur sudah muncul begitu saja.
Maxim mengangsurkan minuman padaku dan langsung ku terima.
Bagaimana ini jika aku disebut perusak hubungannya?
Tidak.. Bukankah aku dibayar untuk itu? Baiklah sepertinya aku harus memulai adegan itu sekarang.
Maxim memegang tanganku mungkin aku terlihat pucat kali ya. Ku lihat Angel tidak menatap ke arahku, tapi tidak apa-apa mana tau ia melihat.
Kamu pasti bisa Dita.
"Hei. Are you okay?" aku membalas genggaman tangannya sepertinya dia terkejut akan perlakuanku ini
Aku tersenyum dan mengangguk, tapi senyumanku luntur kala Angel keluar dari restoran ini. Itu artinya gagalkan?
Aku menarik tanganku, mengubah ekspresiku menjadi datar kembali. Aku sudah selesai makan, sepertinya jalan-jalan ke wahana bermain akan seru.
Ia melemparkan paper bag ke arahku, aku mengenyit menatapnya yang melahap makanannya dengan tenang.
Aku membuka paper bag itu dan aku melihatnya dengan binar kebahagiaan.
"Max.. Kok tahu?"
"Aku sedang tidak menggombal" sahutnya
Aku terkikik atas jawabannya, benar juga. Kata-kata itu sering digunakan sebagai balasan ketika pria menanyakan pertanyaan bermaksud menggombalin wanita.
Aku tersenyum manis ke arahnya, "Terima kasih, Max" ucapku tulus yang di balas deheman olehnya.
Tidak dapat ku pungkiri, aku senang menerima kalung ini.
"Kamu tahu, Max? Kalung infinity ini memiliki makna" tuturku seraya memerhatikan kalung ini dengan lekat.
Ia menyudahi makanannya dan beralih menatapku, aku membalas tatapannya sebelum berucap
"Kalung ini bermakna Abadi" kami masih saling menatap menyelami manik masing-masing.
Aku takut, karena biar bagaimanapun aku... Aku pernah menyukainya.
Aku yang saat itu maba, pada masa perpeloncoan, aku nyaris terlambat akibat kemacetan.
Saat aku dengan tergesa memasuki kampus, topi terbuat dari kertas kartoon yang dirancang khusus masa maba terbang. Aku kelimpungan, masih menunduk malah tas terbuat dari karungku juga turut jatuh.
Saat aku mulai mengutip peralatanku perlahan, ada seseorang yang membantuku.
Awalnya ia tanpa ekspresi memberikan topi itu padaku, hingga detik berikutnya ia tersenyum. Manis sekali, bukan hanya itu namun sangat meneduhkan jiwa.
Aku menerima topi itu lalu ia berkata "Remember me?" tukasnya saat itu, aku yang masih terpana belum mengucap apapun, ia tertawa dan berlalu begitu saja.
Sejak saat itu, aku menyukainya.
"Apa pacarmu tidak pernah membelikan apapun?" tanyanya yang menarikku dari kisah itu.
Aku menghendikan bahuku tanda acuh, "Lagipula ia sedang sibuk studi di luar nege..." ucapanku tertahan karena sosok yang amat ku kenali masuk ke dalam resto tempatku makan ini.
Maxim menaikkan alisnya tanda bertanya kenapa aku berhenti.
Aku masih menatap ke arah sepasang kekasih duduk di sudut sana. Bahkan ku lihat perempuan itu mengecup singkat pipi lelaki di sampingnya.
Aku bangkit, menghiraukan perkataan Maxim. Melangkah mendekati meja sudut tersebut.
Aku duduk di hadapan mereka, tampak wajah pria itu amat terkejut.
"Bisa jelaskan padaku, Tuan Leano?"
Ia terdiam, gadis itu menatap heran ke arahku. Aku tersenyum sambil berucap "Terima kasih atas waktunya, aku.. Ah sudahlah. Sampai jumpa" ucapku lagi, aku berusaha kuat.
Aku mulai bangkit, ia menarikku ke arah tempat yang sedikit tidak ramai "Maafkan aku. Aku.. Khilaf. Aku tidak bermaksud begi..."
Plak!!
Satu tamparan yang mungkin belum memuaskan hatiku yang bercokol karena perlakuannya tapi sudahlah.
"Kita sampai disini saja" namun ia menggeleng dengan tegas.
Aku tertawa hambar sebelum berucap "Kamu tidak akan bisa berdiri di atas dua perahu sekaligus"
"Aku akan memutuskan Laila"
Aku mengangguk singkat "Namanya Laila. Tapi aku tidak bisa melanjutkan ini"
Lalu beranjak keluar restoran, hingga sampai di luar restoran tanganku ditarik, "Ayo aku antar pulang" ucap Maxim
Aku yang sudah tidak memiliki tenaga karena takut tumpah ruah air mataku langsung ikut masuk kedalam mobilnya
Sampai dalam mobil tangisku pecah tak lagi mampu membendung air mataku biar bagaimanapun kami sudah menjalin hubungan hampir dua tahun lamanya
Kurasakan ada sebuah pelukan yang memeluk tubuhku sambil mengucapkan "it's okay"
Apa yang membuat dia selingkuh di belakangku, aku sungguh memepercayainya. Ia berkata melanjutkan pendidikan di luar beberapa bulan yang lalu tapi aku salah.
Maxim mengusap bahuku "Percayalah, dia akan menyesalinya nanti"
Aku semakin menenggelamkan wajahku di dadanya, seolah mencari ketenangan dan perlindungan.Maafkan aku Angel, hari ini saja aku memeluknya.
Aku bahkan merasakan ia mengecup puncak kepalaku. Lalu ia mengurai pelukannya, "Maaf" lirihku
Ia mengambil sesuatu dari sakunya, ku sadari itu adalah kalung pemberiannya yang mungkin aku lupa membawanya tadi.
Lalu ia memakaikannya padaku seraya tersenyum, aku masih menatapnya dalam diam.
"Makna kalung ini, abadi bukan?" tanyanya yang ku balas anggukan
"Kalau begitu jadilah pribadi yang ceria dan kuat yang akan tetap abadi" tambahnya
---
Selanghari itu, kini sudah hari keempat, semalam seharian penuh aku di rumah tak ingin keluar.
Bukan karena meratapi kesedihan melainkan ingin menenangkan hati saja. Karena sebenarnya aku tidak terlalu mencintainya hanya nyaman, pacaran kami hanyalah jalur atau langkah awal perjodohan yang akan berlangsung.
Sebenarnya tidak sepenuhnya juga salahnya, aku mengerti. Kalimat apapun yang diungkapkan khilaf baginya menurutku tidak salah, aku hanya sedikit kecewa karena memercayai ucapan bahwa ia mencintaiku namun berjalan dengan wanita lain.
Aku juga sudah menceritakan ayahku lewat telepon tentunya, beliau mengehela nafas dan menyerahkan keputusan penuh pada diriku kerena kekhilafan itu.
Aku cukup senang akan kebijakan ayahku kali ini.
Kali ini aku sudah berjalan memasuki pelataran kampusku, seingatku jam kelas berlangsung 45 menit lagi. Aku akan menghabiskannya di kantin.
Tak lama ada yang merangkul bahuku yang membuatku monolehkan, sedang ia masih berjalan tenang sambil tersenyum hangat padaku
" Better ?"
"Tentu" jawabku singkat "Bisa tidak jangan merangkul begini?" tambahku acuh
"Kamu kan pacarku"
"Pura-pura" balasku cepat.
Hingga sampai di kantin ia baru melepaskan rangkulannya dan pergi memesankan minuman atas perintahku.
Tunggu.. Kok dia jadi senrimo begitu?
Aku tahu bagaimana keseharian Maxim, sedikit tak percaya ia mau saja ku suruh padahal aku mengusirnya secara halus karena tatapan para pengunjung kantin ini.
Beberapa saat ku lihat Maxim berjalan ke arahku sambil membawa nampan. Untuk kesekian kalinya ia tersenyum, seakan tertular akupun tersenyum sesaat
Plakk!
"Bitch" umpatnya
Ini seperti de javu bagiku
Aku mendengkus kesal, ku lihat ternyata itu Angel. Aku tertawa miris sedikit melupakan peranku dan terhanyut oleh Maxim.
"Kau tahukan Maxim berpacaran denganku? Oh ayolah Dita, tidak cukupkah Fero bersamamu saat itu"
Aku menggelengkan kepala, ku lihat Lala dan Aira menatapku khawatir juga beberapa sorot pasang mata menatapku seperti menghina?
Dan aku tahu siapa itu Fero, pria yang dicintainya semasa SMA dahulu dan itu membuat hubungan persahabatan kami retak. Ia salah paham terhadapku, itu lebih tepatnya.
Oh Tuhan.. Aku sudah membayangkan hal seperti ini akan terjadi tapi kenapa secepat ini dan terasa sakit yaa.
Aku diam sesaat, sepertinya rencana mereka sukses! Ya, mempermalukan aku.
Aku bangkit dari kursiku tak memerdulikan ucapan Maxim. Berjalan secepat mungkin, ini tak seperti ekpetasiku.
Aku mulai melangkahkan kaki keluar karena tatapan mereka yang tampak menghina, tidak seperti ini perjanjiannya yang aku ingat.
Bahkan sampai diluar gedung kampus, hal yang tak terduga adalah aku diguyur air oleh beberapa orang yang sepertinya fans Angel.
Mantan sahabatku itu memang terkenal, ia adalah model.
Aku tertawa miris memerhatikan diriku ini, Maxim datang menarik tanganku melindungiku di belakang tubuhnya
"I hate you, Max!" umpatku
Max menoleh ke arah belakang ingin menjawabku tapi keduluan dengan suara lain
"Hei, Maxim. Kau berselingkuh dengannya?" ucap Angel tertawa menyebalkan "Kau sungguh jahat. Beberapa hari lagi aku berulang tahun dan kau memberi kejutan ini?" sarkasnya lagi
"Dan kau! Mantan sahabat tidak cukupkah kau mengambil pria itu dahulu padaku?" tanyanya dengan pandangan meremehkan.
Aku melongokkan kepalaku ke depan, menatapnya lalu berujar "Fero tak pernah mencintaimu! Dia takkan mencintai gadis bar-bar" ucapku dengan lantang.
Sudah terlanjur jadi pusat perhatian maka aku melangkah maju, akan mulai melanjutkan penjelasan yang sempat tertunda "Kau salah paham padaku, dan aku... Aaaa" teriakku kala ia menjambak rambut saat aku belum selesai memberinya penjelasan yang belum usai.
Terserahlah! Aku sudah tidak peduli akan ia salah paham atau tidaknya. Angel memang keras kepala.
Dan langsung ku balas dengan jambakan kembali di rambutnya, kami saling menjambak dan melempar caci.
Maxim berusaha memisahkan kami yang saling memaki dan hingga akhirnya ia berhasil menyentak tangan kami, tubuhku yang limbung langsung terjatuh dengan tubuh yang setengah basah akibat diguyur air dan rambut yang acak-acakan.
Mataku berkaca-kaca, kenapa Max sampai mendorongku? Aku malu.
Tentu saja, ia mana mungkin sampai mendorong Angel. Aku sadar aku salah mengambil pilihan ini.
Maxim berucap "Maaf" dan berusaha membantuku tapi langsung ku tepis.
Dengan sisa keberanianku ku tatap tajam matanya, "Jangan pernah temuiku lagi"
"Tapi Dit.."
"Lupakan perjanjian itu" aku bangkit dan mulai pergi dari sana sambil memeluk tubuhku sendiri.
Yaa aku sudah tidak peduli uang itu. Harga diriku lebih penting.
Kamu jahat Maxim, kenapa aku dahulu menyukaimu. Sangat. Bahkan tak menampik aku juga masih menyukaimu saat ini.
Sejak hari itu mereka tidak pernah lagi menemuiku, lebih tepatnya aku menghindari mereka. Maxim berulang kali datang kerumahku tapi selalu ku katakan aku tidak ada di rumah.
Ini sudah malam dan hari ke 10, itu artinya hari ulang tahun Angel sudah lewat. Aku tersenyum mengingat kenangan dahulu namun hanya karena Fero, kami jadi saling memusuhi. Padahal aku sama sekali tak menyukainya hanya sebatas teman.
Dan malam ini aku sedang berdiri di jembatan taman yang berhias kemerlap lampu, tempat favoritku dan Angel jika sedang dalam masalah, sebenarnya ini adalah hari anniversary pertemananku dengan Angel. Meskipun terlihat saling membenci aku sayang padanya dan ini juga menjadi alasanku untuk menyetujui rencana itu, terlepas dari Maxim. Aku menginginkan Angel bersama dengan orang yang tepat.
Aku tersenyum miris, lagi-lagi ia berlaku demikian padaku. Angel tidakkah kamu tahu itu adalah hal kedua yang pernah kau lakukan padaku?
Dahulu, tepatnya tiga tahun yang lalu saat di kantin sekolah semasa SMA dan kini di kantin kampus.
"Kau tahu tidak ada hal yang paling menyebalkan dari orang yangku cintai ternyata tak mencintaiku?" ucap seorang gadis di sebelahku.
Aku menolehkan kepalaku menghadap ke arahnya, bahkan aku sudah ingin menangis saat ini.
Ia menghela nafas menatap ke arahku "Seorang sahabat yang tak pernah memahami perasaan sahabat lainnya" Jawabnya, matanya juga sudah berkaca-kaca
"Maafin aku, Dita" paraunya lalu meneteskan air matanya, aku menggeleng. Segera ku peluk tubuhnya.
"Harusnya aku tidak menamparmu, baik saat kemarin maupun saat 3 tahun yang lalu. Aku kelepasan. Maafin aku sudah membuatmu memilih perjodohan itu dan meninggalkan Fero hanya demi keegoisanku waktu itu. Karena aku kau harus bertemu dengan pria brengsek yang menyelingkuhimu"
Aku mengurai pelukan "Kau tahu dari mana?" tanyaku yang bingung kenapa dia begini
"Kemarin aku bertemu dengan Fero, dia menjelaskan semuanya ditambah penjelasan Maxim. Aku wanita jahat" ucapnya
"Ayo pukul aku" perintahnya sambil menarik tanganku
"No, Angel. Berhenti kekanakan. Yang sudah berlalu biarlah berlalu"
"Maafin aku ya?" pintanya yang ku balas anggukan. Begini akan lebih baik. Melupakan yang telah terjadi.
Ia memberikan aku secup es krim yang entah dari mana lalu berkata "Suapin aku es krim biar aku percaya" aku tertawa ini adalah kebiasaan kami sejak dahulu, jika ada yang salah dan cara memperbaikinya adalah menyuapkan es krim. Itu artinya sudah memaafkan.
Aku langsung membuka cup dan menyuapinya ia tersenyum, kamipun duduk di bangku yang tak jauh dari jembatan.
"Sebenarnya..." lirih Angel
"Ada apa?"
"Sebenarnya itu skenario kami" aku menautkan glabelaku arti tak mengerti arah pembicaraan kami
"Kau tahu? Aku sama Maxim dijodohkan hanya saja hati kami sudah menetapkan pilihan masing-masing. Maxim hanya tidak tahu cara mengungkapkannya padamu. Makanya ulang tahunku jadi alasan untuk mendekatimu." ia menghela nafas sejenak
Tunggu apa itu artinya Maxim? Ah tidak..tidak.
"Dan aku minta maaf, untuk tamparan dan hujatan itu diluar rencana. Aku hanya teringat saat SMA dan.."
"Itu salah paham" potongku
"I know, Dita. Dan Maxim akan melamarmu saat ulang tahunku. Itu seharusnya" balasnya lagi
"Kau mencintainyakan?" tanyanya
Aku terdiam sebentar lalu berjalan ke arah jembatan itu lagi "Iya, aku mencintainya" sambil menatap lurus menghadap hamparan pemandangan di jembatan ini.
Tak lama sebuah lengan melingkari perutku, memelukku dari belakang
"Aku juga mencintaimu, sangat. My Anand" ucap pria itu.
Anand? Ah aku ingat. Jadi Maxim itu adalah tetangga gendutku itu? Pantas saat bertemu saat itu ia bertanya 'Remember Me?' kok dia bisa jadi tampan begini
"Kamu bocah gendut tetanggaku dulu?" tanyaku tak percaya
Aku menoleh pada mereka, Maxim membalasku dengan mengecup pipiku dan Angel meringis meminta maaf sambil mengangkat tangan.
Kurangajar aku kena dua kali!.
POV Maxim
Sejak ikut pindah orang tuaku ke kota Medan kelas 6 SD lalu. Dan saat ini aku Kembali dan kuliah di Jakarta kembali. Berharap menemukan sosok teman kecil yang selalu menemaniku, saat aku pindah kembali ke rumah lamaku itu, tetanggaku sudah ganti bukan ia lagi, Anandita.
Setahun belakangan ini aku mencarinya, meskipun aku mengikuti Instagramnya tetap saja aku bukan lelaki pengumbar rayuan yang mudah dekat dengan wanita.
Tapi di gerbang itu saat aku membantu gadis yang barangnya berjatuhan aku melihatnya.
Hatiku bersorak " Remember me ?" ucapku namun dia hanya diam saja, sedikit menyebalkan namun dari matanya, aku menyadari bahwa aku jatuh cinta.
Dan ternyata ia juga dijodohkan, pada lelaki bernama Leano. Aku sempat frustasi.
Sambil memikirkan strategi untuk mendekatinya, orang tuaku mengadakan perjodohan dengan Angel, tentu aku marah. Dan kami sepakat untuk melakukan rencana pada Dita dengan kilah ulang tahun Angel. Karena Angle memiliki kekasih. Dan rencana ini semakin mudah saat aku menerima fakta Leano berselingkuh.
Ku akui aku sempat mengerjainya karena ia tak kunjung mengingatku.
Namun saat Angel menamparnya dan bertengkar pada Dita itu membuatku bingung sekaligus marah karena itu tak sesuai dengan skenario yang kami buat. Namun Angel bilang dia khilaf.
Hingga pada hari ulang tahun Angel aku sudah menyiapkan segalanya, termasuk cincin lamaran itu. Orang tua kami juga sepakat membebaskan kami untuk memilih, mereka hanya ingin yang terbaik untuk kami.
Lagi, aku marah pada Angel namun ia berjanji akan membantuku. Dan 3 hari kemudian Angel mengajakku untuk ikut ke tempat favoritnya dengan Dita. Aku tahu hubungan mereka karena Angel sempat menceritkannya.
Aku melihat Dita disana, rasanya aku ingin segera memeluknya. Namun Angel menahanku, "Bersabarlah, aku perlu meminta maaf padanya. Aku juga perlu memperbaiki hubungan kami" ucap Angel yang ku angguki.
Ku lihar mereka berbicara, lalu saling memeluk bahkan kantungan yang sempat ku lihat di bawa Angel tadi di sodorkan dan mereka saling menyuap.
Tak tahan, rasanya aku ingin memeluknya, aku mulai berjalan perlahan sampai ucapan Angel membuatku menahan nafas
"Kau mencintainyakan?" tanya Angel yang kudengar. Dan kulihat Dita bangkit dan melangkah.
Dengan lamban akupun ikut melangkah ingin mendengar jawabannya. Jawaban yang membuat akhir dari skenario yang kami buat
"Iya, aku mencintainya" jawabnya aku tersenyum atas jawabannya.
Merasa tak tahan lagi, aku langsung menyerbunya dengan memeluknya dari belakang dan berucap "Aku juga mencintaimu, sangat. My Anand"
Kurasakan ia terkejut akankah ia mengingatnya.
"Kamu bocah gendut tetanggaku?" tanyanya dengan kaget sambil menatapku dan Angel disana. Lagi aku bersorak senang, ia mengingatku. Eksperesi terkejutnya sangat menggemaskan di mataku.
Ku lihat Angel meringis sambil mengangkat tangan dan aku membalasnya dengan mengecup pipinya, kurasa itu cukup.
Saat Angel meninggalkan kamipun aku masih tetap memeluknya, nanti akan ku ceritakan semuanya.
Kecuali, rencana saat Dita memergoki Leano berkencan dengan selingkuhannya itu. Itu adalah rencanaku mengajak Dita datang ke restoran itu. Dan perihal Angel yang masuk ke dalam restoran itupun memang ku sengaja.
Biarlah itu tetap ku simpan.
End