Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi Abel, karena siang nanti dia akan pergi berkunjung ke tempat tinggal gurunya yang berada di puncak Himalaya. Ini merupakan kabar yang sangat menyenangkan, mengingat dia hanya bisa bertemu dengan gurunya setiap pertengahan bulan januari saja. Tapi, hari ini, di bulan november yang sangat dingin ini, gurunya tiba-tiba memanggil Abel juga ketiga saudaranya, untuk membicarakan tentang suatu hal.
Akan tetapi, ada satu bunga tidur yang datang dalam tidurnya semalam. Abel bermimpi tentang kenangan buruk yang seharusnya sudah ia lupakan. Setelah puluhan tahun, mimpi buruk itu kembali menghampiri Abel dan berhasil membuatnya merasa sangat gelisah sampai ke ubun-ubun.
Dalam mimpinya, Abel melihat nyala api.
Api itu membakar seluruh kota, dan mengubah para penduduknya menjadi abu dalam sekejap mata. Jeritan terdengar dimana-mana. Teriakan pria, wanita, juga tangisan anak-anak memenuhi pendengarannya. Dan yang berdiri di tengah-tengah lautan api itu adalah seekor binatang buas raksasa bersisik merah, dengan sayap berapi yang terbentang lebar di punggungnya.
"Jadi kenapa?" Tanya seorang gadis kecil berambut biru—Fira—yang sedang duduk di meja kasir sambil menonton televisi yang tergantung di langit-langit.
"Memangnya penting?" Tanya seorang gadis lainnya—Nita—yang berpakaian ketat serba hitam yang tengah mengatur bola-bola kaca aneh di atas rak.
"Itu cuma mimpi, kan? Nggak penting, ah." Ungkap gadis lainnya—Bella—yang duduk di samping gadis kecil berambut biru. Gadis berkacamata itu sedang menatap malas pada bola kaca di tangannya.
"Hey... Kalian nggak asik, ah." Ujar Abel tampak kecewa. Anak lelaki berambut merah gondrong dan bermata kuning keemasan itu menghela nafas dalam, dan hanya bisa pasrah dengan sikap teman-temannya yang tidak seperti yang diharapkan.
"Lagian, kita semua tahu, kok, kalau naga bersisik merah yang ada di dalam mimpimu itu, adalah kau. Jadi, nggak usah diceritain lagi, deh." Ujar Bella.
"Tapi... aku serius, lho." Kata Abel. Wajahnya kini terlihat tegang. "Aku sudah cukup lama nggak memimpikan itu. Jadi, kupikir itu semacam pertanda."
Teman-temannya yang lain langsung melirik Abel dengan tatapan penasaran. Itu mungkin karena Abel jarang terlihat serius seperti ini. Mengingat dia orangnya selalu tersenyum dan senang bercanda.
"Hey, hey, serius, itu cuma mimpi, lho." Nita berusaha untuk menenangkan Abel.
"Kan, empat tahun lalu kamu juga sempat memimpikan tentang kejadian itu, tapi, lihat, nggak terjadi apa-apa, kan, waktu itu." Ujar Fira sambil menyandarkan wajahnya di kedua telapak tangan.
"Nita dan Fira benar." Kata Bella yang kini tidak terlihat malas lagi. Dia menghela nafas dalam. "Lagi pula, sekarang kamu juga sudah bisa sedikit bersenang-senang, bukan? Kamu nggak perlu lagi berpindah-pindah tempat setiap tahun. Mungkin, ada baiknya jika kau menganggap kejadian di masa lalu itu sebagai mimpi saja mulai sekarang." Gadis itu menjelaskan. "Bukannya kami memintamu untuk melupakan kejadian itu, tapi, situasimu akan jadi lebih baik kalau kamu nggak mengungkit-ungkit soal kejadian itu lagi."
"Tapi, tetap saja perasaanku nggak enak..." bisik Abel.
"Ya, kita semua yang ada di sini tahu, kok, bagaimana rasanya hidup bukan sebagai manusia biasa." Kata Bella yang kembali menatap lamat-lamat pada bola kacanya. "Maksudku... nggak semua orang bisa mendapatkan kesempatan untuk menjalani semuanya dari awal lagi."
"Toh, sudah lima tahun kau tinggal di toko ini, dan nggak ada masalah, kan?" kata Nita. "Lagi pula, kami bertiga juga datang menemanimu setiap musim dingin."
"Ya... kalian benar juga, sih... cuma...."
Meski begitu, perasaan gelisah itu masih menggumpal di dalam diri Abel.
"Ya sudah, ah. Mendingan aku cari udara segar di luar." Abel akhirnya mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan berjalan-jalan keluar ke luar toko.
Sesampainya di luar, Abel langsung disuguhkan dengan pemandangan hujan kepingan-kepingan putih salju yang tak terhitung jumlahnya yang berhamburan dari angkasa. Udaranya juga terasa dingin, sejuk, sekaligus menusuk. Namun, walau Abel tidak bisa merasakan panas ataupun dingin, tapi anehnya, dia selalu merasa lebih nyaman dengan cuaca yang dingin seperti ini.
"Hah... Sepertinya memang benar kalau tahun ini bakal jadi lebih dingin daripada tahun kemarin." Keluh Abel yang tersenyum kecut. "Aku jadi kangen sama Indonesia."
Abel lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Sejauh mata hanya salju saja yang bisa dilihatnya. Tak ada satupun pejalan kaki yang terlihat. Jalan raya di depannya bahkan kosong melompong bagai kuburan. Tapi, saat dia menoleh ke belakang dan memandang toko miliknya, Abel jadi merasa rindu dengan masa lalunya.
"Toko Sihir Astaroth. Menawarkan barang dan jasa." Abel membaca hiasan tulisan berkelap-kelip yang menempel di dinding kaca di bagian depan. "Syukurlah, sudah lima tahun sejak aku membuka toko ini, dan sampai sekarang nggak ada keluhan apapun." Nafasnya mengepul di udara.
Rasanya, dunia ini terasa sangat tenang. Padahal, sejak kejadian beribu-ribu tahun lalu, Abel sama sekali tidak menyangka kalau dia bisa merasakan ketenangan seperti ini lagi. Orang seperti dirinya, yang pernah melenyapkan jutaan manusia dalam satu malam, ternyata malah diberikan kesempatan kedua oleh sang Pencipta.
Sampai sekarang, Abel masih tidak tahu alasan mengapa Tuhan memberikan hadiah megah semacam ini kepada Abel.
"Ya... Tuhan memang bertindak dengan cara yang terlalu aneh, bahkan bagi seorang Crystalian sepertiku... seekor Naga... " Gumam Abel sambil memasang senyuman kecil. "Mereka benar. Aku nggak akan membiarkan mimpi itu membuat usahaku lima tahun ini menjadi sia-sia."
"Permisi, Nak." Sapa seorang pria yang tiba-tiba muncul di depan Abel tanpa dia sadari.
"Eh? Ada apa, Om?" Tanya Abel sedikit terkejut.
"Kalau Om boleh tahu, apa sebenarnya barang yang dijual di dalam toko itu?" Tanya si pria sambil menunjuk ke arah toko Abel.
"Oh, toko ini menjual alat-alat yang berhubungan dengan dunia magis, Om. Seperti bola peramal, kartu tarot, jimat, dan benda-benda aneh lainnya." Jawab Abel sambil memandang heran pria itu. "Dan kebetulan saya pemilik toko ini, Om."
"Kamu pemilik toko ini?" Tanya si pria tampak terkejut. "Wah... hebat juga. Padahal kamu masih sangat muda."
"Eh... Kalau boleh tahu, Om ini asalnya dari mana, ya? Kok, bahasa indonesia om fasih banget?"
"Ya, karena saya memang warga negara Indonesia, Nak." Jawab pria misterius itu sambil tersenyum kecil. Lalu, pria itu kembali melihat toko Abel dengan tatapan kagum. "Bagaimana dengan keaslian barang-barang yang kamu jual di toko ini?"
"Seratus persen asli, sih, Om. Tapi, kami selalu memberikan syarat khusus kepada para pelanggan yang ingin membeli barang-barang kami atau menyewa jasa kami, agar lebih aman."
Bohong kalau Abel tidak curiga dengan pria ini. Abel sama sekali tidak bisa merasakan apa-apa dari pria itu. Benar-benar tidak ada apa-apa. Tidak ada aura, karisma atau semacamnya. Tapi, Abel tahu kalau orang ini hanya manusia biasa. Hanya saja, memang ada sesuatu yang aneh dari orang ini. Dan itu membuat Abel menjadi awas.
"Om boleh tidak menyewa jasamu saja?"
"Ah, ya, tentu saja, Om." Jawab Abel spontan sambil tersenyum lebar. Rasa curiganya tadi telah sirnah, karena sekarang ini adalah urusan bisnis. "Tapi, jasa seperti apa yang ingin om pakai?"
"Begini." Ujar pria itu seraya melepas sarung tangannya. "Tolong baca garis tangan Om, dan beritahu Om tentang jati diri Om yang sebenarnya. Jujur saja, terkadang Om sendiri bahkan tidak mengenal siapa diri Om yang sebenarnya."
"Ya, Om tenang saja. Manusia memang sering begitu, kok." Abel kemudian dengan perlahan menggapai tangan kanan pria itu, lalu meraba-raba bagian telapaknya. Dan tiba-tiba saja, kedua mata Abel mulai berpendar memancarkan cahaya merah temaram, saat ia memandang lekat-lekat telapak tangan pria itu.
"Wah, matamu menyala. Apa itu semacam trik?" Tanya si pria.
"Nggak Om." Kata Abel yang masih fokus menelisik telapak tangan si pria. "Mataku memang bisa jadi seperti ini kalau aku menggunakan kekuatanku." Ujar Abel hampir berbisik.
Akhirnya, setelah Abel selesai membaca sifat dan karakter pria itu melalui media telapak tangan, Abel pun menutup matanya sejenak dan saat ia membuka kelopaknya kembali, sinar di matanya sudah padam begitu saja.
Abel mendapati kenyataan yang cukup menyeramkan dari pria itu. Tapi, seharusnya itu bukan ancaman bagi orang seperti Abel.
"Eh... Mungkin ini agak mengejutkan, tapi sifat om sendiri... bisa dibilang cukup buruk." Jelas Abel ragu-ragu.
"Heh... kamu memang benar." Katanya, "Ayo, lanjutkan saja, kamu tidak perlu takut."
"Om orangnya pemarah, agak anti sosial juga. Senang memukul... selalu bisa memulai konflik, atau memperbesar masalah tepatnya. Dan tidak cocok menjadi kepala keluarga karena sifat Om yang ingin selalu berada di atas dan memerintah. Juga, om tidak suka ada yang menentang keputusan Om. Terus, Om juga tidak suka minum kopi, dan suka pilih-pilih makanan. Lalu... " Abel berusaha mengingat-ingat apa yang tadi dibacanya. "Dan Om... berduka."
"Hebat, hebat. Sungguh berbakat kamu, Nak. Seumur-umur aku tidak pernah melihat orang yang bisa membaca garis tangan dengan sangat mudah seperti dirimu." Kata si pria yang terdengar kagum. "Semua yang kau katakan itu benar sekali, Nak. Ya, walau ada beberapa yang kurang, tapi semua yang kamu bilang tadi itu seratus persen benar."
Meski jati dirinya yang bisa dibilang buruk sudah diketahui oleh Abel, tapi pria itu terlihat sangat kalem. Atau mungkin, memang seperti itulah ciri-ciri orang dewasa.
"Hehehe... makasih, Om." Kata Abel yang masih tersenyum lebar. "Tarifnya lima dolar, Om, untuk pembacaan tadi. Silahkan menuju ke meja kasir untuk membayar jasa yang telah Om pakai."
Pria itu tertawa dengan suara yang agak keras. "Baiklah, baiklah."
Setelah mereka berdua masuk ke dalam toko, Fira langsung menyambut pria itu dengan riang. Sementara Bella yang berada di sebelah Fira masih memandangi bola kacanya, dan Nita masih menyusun barang-barang jualan di rak.
"Selamat datang di Toko Sihir Astaroth!" Seru Fira. "Kami menjual—"
"Om ini sudah menyewa jasa membaca telapak tangan waktu di luar tadi, sekarang tinggal di bayar saja." Potong Abel.
"Oh, baiklah. Berarti semuanya lima dolar, Om."
"Wah, tempat yang nyaman." Kata pria itu sambil memandang berkeliling. "Dan... sudah kuduga, kalau kalian semua yang ada di sini... adalah Rakyat Dunia Lain. Para Crystalian... "
"Eh... " Suara kecil itu bukan hanya keluar dari mulut Abel saja, tapi juga dari mulut Fira, Nita dan Bella.
Suasana di dalam toko menjadi tegang seketika.
"Siapa kau... ?" Tanya Abel dengan nada dingin.
Mereka semua sekarang memandang pria misterius itu dengan tatapan yang tajam.
Pria itu mulai berjalan melihat-lihat barang-barang yang ada di sana. "Apa kalian pernah mendengar NOX?"
"NOX... itu bukannya organisasi yang memburu para Crystalian?" Tanya Nita.
Pria itu lalu berhenti melangkah, dan memandang Abel sambil tersenyum tipis. "Ya, dan kebetulan aku adalah pendiri NOX."
Perkataan si pria langsung membuat Nita, Fira, dan Bella tersentak kaget. Tapi, tidak dengan Abel. Bibir anak itu malah membentuk senyuman simpul.
"Kalian tahu? Aku membangun organisasi itu setelah anakku meninggal dua belas tahun lalu." Pria itu menjelaskan. "Aku ingat betul, malam itu, ada sesosok makhluk raksasa bertubuh hitam pekat yang terlihat di langit. Aku dan istriku sempat mengira kalau itu hanya imajinasi kami saja, tapi ternyata semua orang yang ada di perumahan kami juga bisa melihat makhluk mengerikan itu. Namun, setelah beberapa menit, tiba-tiba makhluk itu jatuh ke daratan lalu... meledak seperti bom."
"Tunggu... aku pernah mendengar cerita itu. Kalau nggak salah, tragedi itu terjadi di Medan." Kata Nita.
"Benar sekali." Ungkap pria itu. "Ratusan orang di perumahan kami meninggal malam itu juga, termasuk anakku. Sementara aku dan istriku adalah satu-satunya korban yang selamat."
"Tapi... Makhluk hitam yang Om lihat dilangit itu adalah Dosa... " Jelas Fira yang tampak takut sambil menoleh memandang Bella dengan tatapan cemas. "Dan... tidak mungkin Dosa bisa menyebabkan hal seperti itu. Mereka bahkan tidak memiliki fisik."
"Hmm... sudah kuduga kalau kalian juga berpikir begitu. Tapi... sayangnya, kami sendiri yang mengalaminya." Katanya santai. "Oh, dan sayangnya lagi... tempat ini sudah dikepung oleh pasukanku."
"Hah!? Yang benar!?" Pekik Fira panik.
"Ya, dia tidak bohong." Bisik Bella.
"Nah, kalau begitu, ada bagusnya jika kalian menyerahkan diri sekarang, karena kami memiliki alat yang mampu menetralkan kekuatan aneh kalian."
"Kalau boleh tahu, apa saja, sih, yang Om ketahui soal kami? Rakyat Dunia Lain—Crystalian?" Tanya Abel yang juga tampak santai.
"Ya, intinya kalian semua itu adalah sampah yang seharusnya tidak ada di dunia ini." Jelas pria itu. "Tapi, aku juga sebenarnya tahu cara membedakan mana yang lemah dan mana yang kuat. Dan kamu, Nak," dia menunjuk Abel. "Kau sepertinya kuat... sangat kuat. Baru pertama kali aku melihat yang sepertimu. Itulah sebabnya aku mengambil langkah aman untuk menangkap kalian."
"Ya, Om memang benar. Aku sangat kuat, lho. Tapi, kalau soal pengalaman, mungkin Nita adalah yang paling hebat di sini. Soalnya dia sudah berperang dua kali." Abel menunjuk ke arah Nita yang masih berada di depan rak. "Namun, ada satu hal penting yang harus Om ketahui tentang kami. Di antara seluruh Crystalian, ada satu kaum yang bisa dibilang terlalu kuat karena tidak memiliki batasan apapun. Dan, karenanya, kaum itu dianggap sebagai entitas yang sama dengan sang Pencipta. Mereka disebut Selestial, atau anak-anak bintang. Dan... sayangnya, aku adalah Selestial, Om."
"Hoh, begitu, ya? Tanpa batas katamu?" Pria itu tiba-tiba melihat arlojinya. "Aku ada acara makan malam hari ini, jadi cepat putuskan apa pilihan kalian."
"Oh, iya, terima kasih karena sudah memberikan kami waktu untuk melarikan diri." Ujar Nita sambil nyengir lebar.
"Tunggu, Apa!?" Pria itu terkejut setengah mati kala mendengarnya.
"Lubuntur Defuid... " Setelah Nita membisikkan kalimat itu, tiba-tiba saja terdengar suara guntur menggelegar serta kilat hijau yang turun dari langit-langit, dan langsung menyambar Bella, Fira, juga Nita, dan membuat ketiga gadis itu lenyap entah kemana, meninggalkan Abel sendirian di sana.
"TIDAK! TIDAK! TIDAK!" Pria itu mengamuk karena telah kehilangan tiga mangsa yang berharga. Dan Abel yakin, pria ini menganggap Nita sebagai target yang paling berharga karena pengalamannya itu. Dia kini terlihat sangat marah. "Bocah keparat...!"
Tiba-tiba, ada suatu cahaya merah yang terpancar dari balik mantel pria itu, lalu, tak lama kemudian, pakaiannya perlahan-lahan mulai bertukar menjadi sebuah baju baja atau mungkin perlengkapan robot atau semacamnya, hingga menutupi seluruh tubuh pria itu dan membungkusnya.
Dalam balutan zirahnya, sekarang pria itu terlihat dua kali lebih besar dan kekar dibanding sebelumnya. Cahaya-cahaya merah juga terpancar dari sekujur tubuhnya. Mungkin itu semacam urat atau aliran energi yang memberikan tenaga pada zirahnya. Namun, secara keseluruhan, wujud dari zirah itu persis menyerupai iblis. Ada dua tanduk yang mencuat di atas kepala, dan pada bagian wajahnya juga ada empat itik kecil yang mengeluarkan cahaya semerah darah, sehingga membuat penampilannya menjadi amat mengerikan.
"Kau akan membayar semuanya bocah sialan!" Ujar pria itu. Suaranya juga telah berubah jadi lebih dalam, keras, dan menggema.
"Hmm? Tidak, bukan aku yang akan membayarnya. Tapi Om." Abel melangkah maju dengan pelan, namun anehnya, kakinya ternyata sama sekali tidak menyentuh tanah, dia berjalan di udara. Tangannya dalam sekejap mata menggapai leher pria itu dan mencengkeramnya keras-keras hingga menembus permukaan zirahnya. "Om lah yang harus membayar semuanya. Karena Om sudah mengancam aku dan teman-temanku, dan Om juga belum membayar jasa yang Om pakai tadi."
"Ugh! Apa-apaan! Cepat Lepaskan!"
Dengan gerakan yang ringan, Abel melempar pria itu ke atas bagaikan melempar sebutir kelereng hingga menembus langit-langit. Pria itu terus terlontar jauh—sangat-sangat jauh—tinggi ke angkasa hingga tak terlihat lagi.
Abel kemudian ikut melompat melewati lubang di langit-langit tokonya. Akan tetapi, begitu Abel terlihat di tempat terbuka, pada saat itu pula, para prajurit yang tadinya sudah mengepung toko langsung menyerbu Abel dengan tembakkan senapan mesin. Tapi sayangnya peluru mereka sama sekali tidak bisa mengenai Abel karena dia terbang dengan kecepatan tinggi.
Nyala api membara muncul membungkus tubuh Abel. Api itu semakin besar dan besar, membuat Abel terlihat seperti matahari yang melaju ke atas. Namun, setelah beberapa detik, bola api raksasa itu akhirnya mulai padam, lalu seekor naga raksasa bersisik merah dan bersayap api muncul dari baliknya menggantikan keberadaan Abel. Itulah wujud Abel yang sebenarnya. sang Naga Merah, salah satu dari Empat Naga Berwarna.
"TIDAK MUNGKIN!" Pria itu menjerit ketakutan. "SEEKOR NAGA!?"
"Dengan ini, aku anggap semuanya sudah lunas!" Teriak Abel dengan suara yang amat keras dan menggelegar. Abel yang berada dalam wujud naganya membuka rahangnya lebar-lebar, dan bersiap menelan bulat-bulat pria itu.
"TIDAK! TUNGGU! TOLONG AMPUNI AKU!"
Namun, ketika jarak gigi-gigi Abel dengan tubuh pria itu tinggal beberapa jengkal saja, tiba-tiba saja ada satu suara yang berbisik di dalam benak Abel. Suara itu berhasil membuat rahang Abel menutup rapat, dan membuat hatinya merasa sangat tenang.
Abel mematung di angkasa. Dia benar-benar menghiraukan si pria yang kini sudah berada jauh di bawahnya. Padahal dia tadi sempat emosi karena tingkah pria itu.
"Abel?" Tanya suara tak bertuan itu. Suara seorang sendu dan menenangkan. Suara seorang wanita, tentu saja.
"Guru... "
"Abel, kamu di mana? Semuanya sudah ada di sini, lho."
"Baik... aku akan kesana sekarang, Guru." Abel mengibaskan sayapnya dengan sangat kuat hingga membuat angin di sekitarnya mengamuk, kemudian ia terbang dengan kecepatan tinggi menuju ke arah barat, menembus hujan salju.
Ia terus terbang dengan sangat cepat, dan setelah beberapa waktu berlalu, Abel akhirnya berhasil keluar dari langit yang bersalju, dan terbang di bawah langit yang memancarkan cahaya mentari keemasan nan hangat.
Namun, perjalanan Abel belum usai. Dia tetap mengepakkan sayapnya dan terus melaju dengan kecepatan kilat, sampai dia tiba lagi di langit bersalju yang berbeda.
Meski dia hampir tak bisa melihat apa-apa dari atas sana, tapi Abel tetap tahu dimana gurunya berada. Dia bisa menciumnya, dan juga merasakannya. Dia tidak perlu mata untuk menemukan seorang yang berharga baginya.
Sebelum turun dari langit, Abel memutuskan untuk berubah kembali menjadi wujud kanak-kanaknya. Kulit serta sisiknya yang lebih keras dibanding baja mulai berubah menjadi api, dan sedikit demi sedikit, sosok naga itu pun lenyap dan digantikan oleh siluet seorang anak berambut merah dengan wajah yang tampak dingin.
Abel mendarat di suatu tempat yang merupakan puncak paling tinggi di pegunungan Himalaya. Di sana Abel disambut oleh tiga orang anak lainnya yang wajahnya begitu mirip dengan Abel.
Ada anak lelaki berambut hijau pendek cepak, serta anak lelaki berambut biru gelap yang tersisir rapi, dan seorang anak gadis yang tampangnya paling aneh di antara mereka berempat. Rambut gadis itu memiliki dua warna yang berbeda; yaitu warna hitam di rambut bagian kanan, dan warna putih di bagian kiri. Kedua warna itu benar-benar terbelah tepat di bagian tengah rambutnya. Bahkan, dia juga memiliki dua bola mata yang berbeda, senada dengan warna rambutnya.
Namun, Abel menghiraukan ketiga saudaranya, lalu berjalan melewati mereka dan menghampiri sebuah bunga yang tumbuh di tengah puncak itu.
Bagi Abel, bunga itu adalah bunga paling indah yang ada di dunia ini. Kelopaknya sendiri berupa permata yang berpendar dengan warna biru temaram, dan mahkotanya pun juga adalah permata yang memancarkan warna biru cerah dan terang. Jika dilihat lebih dekat, Abel seakan bisa bola-bola cahaya yang menari-nari di dalam mahkotanya.
Itulah Guru Abel.
Abel jatuh di atas kedua lututnya saat ia sampai di hadapan bunga itu. Kepalanya tertunduk sangat dalam.
"Maaf aku terlambat... Guru... " Bisik Abel.
"Aku melihat apa yang kamu lakukan, Abel." Ujar suara wanita itu. "Tapi, syukurlah aku juga tepat waktu, jadi kau sama sekali belum melanggar janji kita. Hanya hampir, kok."
"Ya... terima kasih karena telah mencegahku, Guru." Kata Abel sambil mengangkat kepalanya kembali dan tersenyum kecil.
"Namun, hari ini aku ingin bertanya pada kalian semua."
Ketiga saudara Abel yang lain juga langsung menaruh perhatian mereka secara penuh kepada bunga itu.
"Apa kalian merasakan perasaan yang tidak mengenakkan itu?"
Abel terkejut mendengar pertanyaan itu.
"Ya, kami merasakannya, Guru." Kata si gadis lucu bertampang setengah-setengah.
"Kukira hanya aku saja yang merasakannya... " Bisik si Anak berambut biru.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Guru?" Tanya si Anak berambut hijau.
Abel terperangah. Padahal, dia sendiri sudah setuju untuk menganggap perasaan yang tidak mengenakkan itu sebagai angin lewat saja. Tapi, ternyata perasaan itu bukanlah sesuatu yang harus dihiraukan. Apalagi, kini gurunya sendiri juga sudah menyinggung tentang itu.
"Mimpi itu bahkan datang lagi tadi malam... " Bisik Abel takut-takut.
Tatapan semua orang sekarang tertuju pada Abel. Terlihat jelas dari raut wajah mereka, kalau mereka juga telah mendapatkan mimpi buruk yang sama.
"Manusia sudah berubah. Dunia sudah berubah." Guru menjelaskan. "Sesuatu yang besar akan datang tak lama lagi. Bencana, malapetaka, peperangan, dan... janji yang akan teringkari."
Keempat anak itu langsung tersentak kaget saat mendengar bagian yang terakhir.
"Beribu-ribu tahun lalu, kalian mengamuk dan hampir menenggelamkan seluruh Benua Eropa setelah melihatku dibakar hidup-hidup oleh penduduk desa yang sebenarnya tidak tahu apa-apa."
Abel dan ketiga saudaranya langsung menundukkan kepala saat gurunya mulai bercerita tentang masa lalu mereka yang amat mengerikan.
"Tapi untung saja sang Pemilik Dunia yang baru datang dari masa depan, dan dengan kekuatannya, dia menghidupkanku kembali menjadi seperti sekarang ini." Guru melanjutkan. "Aku memang bahagia. Tapi, sayangnya bara amarahku timbul saat aku tahu bahwa kalian sudah memusnahkan jutaan manusia, anak-anak, wanita, dan bahkan pria yang tak berdosa. Dan sejak saat itu, kalian berempat berjanji tidak akan pernah menyakiti manusia lagi. Akan tetapi... mulai hari ini... Kalian mungkin akan, dan pasti mengingkari janji itu."
Keempat anak itu berniat untuk menyela sang Guru. "Tapi, Guru! Kami tidak mungkin mengingkari janji—"
"Pasti, kalian akan mengingkari janji itu." Jelas sang Guru, ada nada final dalam suaranya. "Hanya tinggal menunggu waktu saja."
"Tidak mungkin! Kami tidak bisa melakukannya!" Teriak si anak biru.
"Janji itu adalah tali penyambung kehidupan Guru!" Saudara perempuan Abel mulai menangis.
"Jika kami melakukannya... maka Guru akan pergi... Untuk selama-lamanya... " Gumam Abel. "Aku tak bisa... aku belum siap."
Ketiga saudara Abel yang lain kini ikut berlutut di samping Abel. Mereka berusaha berada sedekat mungkin dengan bunga itu. Wajah mereka penuh nestapa. Kekecewaan mulai melahap nurani. Rasa takut yang amat besar telah melahap mereka.
"Kalian sudah siap." Jelas sang Guru. "Tapi, pastikan kali ini kalian tidak akan membuat kesalahan lagi."
"Tapi—"
"Kalian harus berjanji untuk tidak melanggar peraturan apapun. Meskipun nanti aku mati, aku berharap kalian tidak akan pernah melanggar janji itu."
"Tidak! Guru tidak boleh mati!" Mereka memekik bersamaan.
"Inilah takdir... "
Walau badai salju tengah mengamuk, keempat anak itu tetap tak beranjak dari sisi bunga itu, seakan mereka berusaha untuk menjaga agar bunga itu tidak terbang tertiup angin. Kenyataannya, penderitaan mereka lebih menyakitkan dibandingkan rasa sakit apapun yang ada di dunia ini. Namun, mereka tetap disana. Hingga akhirnya takdir terpaksa menyeret mereka ke dalam malapetaka yang lebih gelap dibandingkan kegelapan itu sendiri.