"Anggrietta, Aku tidak akan menggunakan sihirku padamu lagi."
"Lho! Tapi kenapa, Zelos?"
"Ingat kembali kenapa engkau mulai berdansa."
Ucapan yang dilontarkan Zelos saat latihan kemarin masih menghantui benaknya. Hal itu dilontarkan Zelos saat mereka sedang berselisih. Anggrietta tidak pernah bermaksud untuk melukai perasaan Zelos saat itu, hanya saja Anggrietta tidak bisa menahan emosinya.
"Kamu egois sekali, Anggrietta," ia menegur dirinya sendiri, "Padahal, Zelos adalah sosok yang membantumu sampai sejauh ini? Namun apa maksud dari ucapannya kemarin? Bukankah sudah jelas kalau aku berdansa agar memiliki uang untuk biaya perawatan ibuku di rumah sakit? Argh!"
Seketika Anggrietta menepuk kedua belah pipinya. Kemudian memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu saat ini.
"Fokus, Anggrietta! Fokus!"
Dengan musik yang tengah berputar, ia kembali berdiri.
Anggrietta pun mengatur nafasnya kembali. Perlahan mata birunya ia tutup. Kemudian kedua tangannya ia angkat dan meletakkannya di udara. Tangan kirinya sedikit ia lekukkan seolah sedang memeluk seseorang dan tangan kanannya ia julurkan panjang menggantung di udara. Terlihat begitu kokoh seolah kedua tangannya sedang bertumpu pada sesuatu. Kemudian tubuhnya ia lekukkan dan agak condong ke kiri. Posisi itu membuatnya terlihat sangat rapuh namun amat menawan.
Anggrietta pun mulai melangkahkan kaki kanannya. Kaki kirinya pun langsung mengikuti seolah tak ingin ketinggalan dalam irama dansa. Langkah-langkah itu beriringan dengan gerakan tubuhnya dan melahirkan sebuah keharmonisan. Memberikan kesan keanggunan dan keindahan yang luar biasa.
Setelah selesai dengan latihannya, Anggrietta pun segera pergi dari ruang latihan menuju kamarnya. Ia harus bersiap-siap untuk menghadapi kontes dansa siang ini. Akan tetapi, di atas meja riasnya, Ia melihat secarik kertas yang terlipat rapi. Ia membukanya. Sebuah tulisan tangan dari orang yang sangat ia kenal.
Aku akan menunjukkan sesuatu saat kontes akan dimulai. -Zelos
Saat itu Anggrietta masih beranggapan bahwa semuanya akan sama seperti biasanya. Namun hingga kontes akan dimulai, Zelos tidak muncul. Dan itu benar-benar membuatnya gusar. Ia terus melihat ke arah belakang dan berharap Zelos akan datang dan memberikannya mantra sihir agar dia bisa berdansa dengan maksimal seperti biasanya.
Sayangnya... Zelos tetap tidak muncul, bahkan setelah nomor pesertanya disebutkan oleh moderator. Sesaat ia melangkahkan kakinya menuju panggung, tepuk tangan penonton terdengar riuh. Dan sorakan-sorakan itu menggetarkan ruangan. Mata Anggrietta terbelalak saat menyaksikannya.
Jemari Anggrietta gemetaran. Bahkan yang menjadi pasangannya juga ikut khawatir.
"Mbak Anggrietta baik-baik saja?" bisik lelaki yang menjadi pasangannya.
"Eh! Iya. Aku baik-baik saja, Om Gilbert. Maaf membuat Anda khawatir."
"Pacar Mbak tidak hadir seperti biasanya. Kalian lagi berantem?"
"Bukan, Om Gilbert! Dia bukan pacar saya! Dan kami tidak sedang berantem!"
Reaksi Anggrietta mengundang tawa Gilbert. Sejak menjadi partner dansa, Gilbert memang terkadang suka usil. Namun dibalik keusilannya itu, Gilbert selalu memikirkan Anggrietta.
"Apa demam panggungmu sudah hilang, Mbak Anggrietta?"
"Sudah lebih baik. Terima kasih, Om Gilbert." ucapnya sambil tersenyum.
Walau Anggrietta sudah merasa baikan dari demam panggungnya, itu bukan yang jadi inti dari permasalahan kali ini. Kali ini ia mau tidak mau harus berdansa sendiri tanpa sihir dari Zelos. Hal itu membuatnya benar-benar takut. Ia takut akan kehilangan segalanya saat gerakannya menjadi kacau balau dan mengecewakan penonton dan juri. Saat ini Anggrietta tidak tahu harus berbuat apa.
Sihir yang digunakan oleh Zelos kepadanya membuat dirinya mampu menari dengan sangat baik. Seolah tubuhnya digerakkan oleh sesuatu dan pikirannya hanya tinggal mengikuti saja.
Saat ini Anggrietta sendirian. Ia tidak akan bisa menari seperti yang sebelumnya. Mengingat kontes dansa ini tidaklah sebentar, Ia hanya bisa berharap kalau Zelos akan datang disela-sela pertandingan.
Setelah semua peserta masuk ke panggung, hiruk-pikuk penonton pun mulai reda. Suasana mulai hening dan para peserta sedang mengatur posisi masing-masing.
Gaun berkilau yang ia kenakan sangat cocok dengan kulitnya yang putih bersih. Ditambah rambut hitam yang ia sanggul rapi membuatnya terlihat sangat cantik dan mempesona. Anggrietta Sang Primadona. Begitulah para fans menyebutnya.
Musik pun telah diputar, dan kontes dansa pun dimulai. Semua peserta memulai dance routine mereka masing-masing.
Begitu juga dengan Anggrietta, walau tanpa sihir, ia harus tetap berdansa. Di dalam kepalanya terus mengingat-ingat gerakan mereka dan berusaha sekuat mungkin untuk tetap konsentrasi agar dansa mereka sinergi dan penyatuannya sempurna. Gilbert menyadari keanehan itu dari raut wajahnya yang terlalu tegang. Walau Anggrietta menyembunyikannya dengan senyuman.
Mereka terus berdansa dan berdansa. Menyelesaikan Waltz disusul dengan Quick-Step di babak selanjutnya. Dan kembali ke Waltz di ronde terakhir. Stamina para pedansa pasti terkuras. Namun tidak satu pun dari mereka berhenti menggerakkan tubuhnya. Terus dan terus bergerak, hingga panggung itu terlihat seperti bingkai dengan bunga-bunga yang bermekaran di tengahnya.
Lalu, seiring dengan berjalannya waktu, kontes dansa pun berakhir. Para pedansa dengan keringat bercucuran itu kemudian berbondong-bondong keluar dari panggung.
Gilbert yang sedari tadi merasakan keanehan itu hendak menyampaikan sesuatu pada Anggrietta.
"Maaf, Gilbert," ucap Anggrietta, "Maafkan atas penampilanku yang tidak bagus hari ini."
Gilbert tidak bisa berkata apa pun.
Anggrietta dengan langkah yang cepat berjalan menuju koridor. Di saat ia hendak masuk ke ruang ganti, Zelos terlihat di sana. Disampingnya terdapat seorang wanita tua yang duduk di kursi roda. Wanita tua itu sambil tersenyum lebar dan berkata kepada Anggrietta,
"Gerakanmu benar-benar indah, Anggrietta. Ibu... sangat bahagia." air matanya pun meleleh.
Tangis Anggrietta meledak. Ia langsung berlari seperti anak kecil sambil menangis histeris. Tangannya meraih tubuh sang ibu dan memeluknya erat. Sang Ibu hanya bisa mengelus kepala anak perempuannya dengan lembut. Dan setelah tangisan anaknya mulai reda, sang ibu pun menyeka air matanya.
"Sudah... sudah... nanti kecantikanmu akan hilang jika menangis terus." ujar Ibu.
"Maafkan Anggrietta, Bu. Hari ini... Anggrietta tidak berdansa dengan baik." ucapnya terbata-bata diselingi isakan tangis.
"Yang menilai bagus atau tidaknya sebuah dansa bukanlah pedansa itu sendiri, tapi dewan juri," sela Zelos, "Kontes belum selesai sampai mereka mengumumkan siapa pemenangnya. Sekarang kembalilah dan temui Gilbert. Apapun hasilnya, hadapi dengan dada yang membusung."
Ucapan Zelos bagaikan cahaya yang memberikan harapan di dalam hati Anggrietta. Namun ia tidak ingin berpisah dengan ibu nya saat ini.
"Pergilah Anakku. Ibu baik-baik saja."
Namun, perkataan sang ibu membulatkan tekad anak perempuannya itu. Anggrietta kembali menemui Gilbert sambil menanti pengumuman pemenangnya.
Tak lama kemudian, Moderator pun mulai mengumumkan pemenang kontes dansa yang digelar saat ini. Pengumuman pemenang di mulai dari peringkat terakhir. Nomor peserta terus disebut satu persatu. Namun nomor urut mereka belum juga disebutkan. Anggrietta hanya bisa pasrah mengingat penampilannya yang tidak seperti biasanya.
"Untuk peringkat kedua, Beri sorak gembira kepada Nomor urut sepuluh, Erix Reyes dan Armita!" lanjutnya, "Dan untuk peringkat pertama, Berikan selamat kepada nomor urut delapan, Gilbert dan Anggrietta!"
"Tunggu... Kita... menang?" ucap Anggrietta tidak percaya, "Bagaimana mungkin?"
Gilbert langsung mencubit pipi gadis yang menjadi pasangannya.
"Apa yang kamu bicarakan, Mbak Anggrietta? Hari ini adalah penampilan terbaikmu. Saya bahkan sampai terkagum-kagum melihat betapa sempurnanya gerakanmu hari ini."
Anggrietta yang tidak menyangka hal ini, jatuh dalam kebahagiaan yang tidak bisa ia bayangkan. Air matanya deras mengalir. Padahal bukan sekali saja ia memenangkan kejuaraan dansa. Entah mengapa kejuaraan kali ini sangat memberikan kesan yang luar biasa bagi dirinya.
"Mbak Anggrietta." Gilbert pun mengulurkan tangannya kepada Anggrietta bak pangeran yang menyambut putri kerajaan. "Ini adalah hasil yang sesuai dengan firasat saya hari ini."
Mereka pun bergandengan tangan berjalan menuju barisan para pemenang. Sorak sorai penonton menjadi liar setelah primadona mereka berhasil memenangkan kejuaraan. Ucapan-ucapan selamat terus bertebaran tanpa henti kepada para pemenang khususnya kepada peringkat pertama.
Dan kejuaraan kali ini pun berakhir.
Setelah selesai dengan urusan kejuaraan itu, Gilbert pergi karena ada suatu urusan. Sementara Anggrietta kembali menemui ibunya. Setibanya di sana, ia tidak melihat Zelos.
"Ibu..." Anggrietta memeluk ibunya sebentar, "Di mana lelaki yang bersamamu tadi?"
"Ini..." Sang Ibu menyerahkan sebuah karangan bunga dengan sepucuk surat berada di atasnya.
Setelah menerima karangan bunga itu, Anggrietta langsung membuka amplop dan membaca suratnya.
Untukmu, Anggrietta,
Selamat atas kemenanganmu hari ini.
Aku tidak pernah menyangka kalau gadis super introvert dan sangat pemalu dahulu, kini menjadi gadis yang bersinar sangat terang di panggung dansa. Bahkan telah menjadi pedansa yang terkenal di kotanya sendiri. Sifatnya yang kikuk dan kaku kini sangat luwes dan anggun. Kini, tidak akan ada lelaki yang bisa menertawakannya lagi. Padahal aku sangat merindukan momen-momen saat dirinya dijahili oleh lelaki sebayanya. Hehehe.
Tapi, bersamaan dengan surat ini aku ingin menyampaikan dua hal kepadamu.
Pertama, aku ingin meminta maaf. Sihir yang aku gunakan padamu bukanlah sebuah sihir yang bisa membuatmu berdansa lebih baik atau semacamnya. Itu hanya sebuah sihir yang menimbulkan percikan cahaya yang silau. Tidak lebih. Maaf karena selama ini aku memanfaatkanmu untuk kesenanganku pribadi. Membuatmu membelikan burger setiap hari untukku atau membawaku ke tempat karaoke yang sangat berisik itu.
Awalnya aku hanya ingin memanfaatkanmu saja. Tidak lebih. Karena keberadaanmu sebagai manusia sangat singkat dan rapuh. Sehingga bagi Selestial seperti diriku, hal itu tidak memberikan keuntungan apa-apa. Namun itu adalah diriku yang dulu. Setelah bersamamu selama ini, (walau aku menipumu sampai saat ini) aku merasakan dedikasi dan semangat yang menjalar sampai ke dalam ragaku. Dan yang membuatku sampai seperti ini adalah sebuah perkataanmu saat itu. Apakah kamu ingat? Di malam yang penuh dengan salju, kamu dengan polosnya berkata saat itu tentang alasanmu berdansa.
"Aku akan berdansa sepenuh hati! Dan dengan dansa, aku berharap Ibuku akan sembuh secepatnya!"
Saat itu aku membalas ucapanmu dengan asal.
"Memangnya ada apa dengan dansa?"
Dengan senyuman yang sangat lebar itu, kau dengan sangat percaya diri menjawabnya.
"Karena dansa adalah caraku berdoa kepada para dewa agar mereka mengabulkan permintaanku."
Ucapanmu saat itu benar-benar membuatku terdiam. Aku bahkan tidak bisa tertawa. Lalu dengan buruknya aku malah membodohimu dengan mengeluarkan sebuah sihir yang tidak diperlukan olehmu. Jadi, sebagai ganti rugi atas kebohonganku, Aku menggunakan kekuatanku untuk membangunkan Ibumu yang sedang koma. Semoga ini bisa membuatmu memaafkanku.
Dan karangan bunga itu adalah hal kedua yang ingin aku utarakan.
Aku akan pulang ke duniaku. Soalnya, semakin lama aku bersamamu, ternyata malah membuatku semakin sulit untuk berpisah denganmu. Entah sejak kapan hati ini mulai bersemi benih-benih cinta. Namun aku ini bukan manusia, aku ini Makhluk yang sejajar dengan bintang-bintang di langit, sementara engkau adalah manusia yang fana. Kita ditakdirkan untuk berpisah. Maka dari itu, lupakanlah aku dan tetaplah berdansa. Tapi, kamu tenang saja, aku pasti akan selalu menyaksikan dansamu yang mempesona itu.
Zelos. -Seorang Anak Bintang
Untuk kesekian kalinya, air mata Anggrietta menetes lagi. Ia berusaha menahan isakan tangisnya saat selesai membaca surat itu. Ia menggenggam erat pakaiannya dan tertunduk. Sang Ibu pun mengelus lembut kepala anaknya.
"Lelaki itu tadi mengatakan kalau dia akan berada di tempat kalian pertama kali bertemu untuk beberapa waktu."
"Eh...? Benarkah Ibu?"
Sang Ibu tersenyum bahagia.
"Temuilah lelaki yang sangat engkau cintai itu, Anggrietta."
Anggrietta menyeka air matanya. Lalu mencium kening ibunya.
"Anggrietta pergi dulu, Bu. Ibu jangan kemana-mana, ya." Ia pamit dan bergegas ke tempat itu. Anggrietta pun pergi meninggalkan ibunya.
Dari balik lorong, Gilbert muncul.
"Mari saya antar ke ruang ganti Anggrietta,." Kata Gilbert.
"Terima kasih banyak, Nak Gilbert." Jawab Ibu Anggrietta sambil tersenyum simpul.
Mentari pun terbenam dan rembulan mulai naik menggantikannya. Bintang-bintang juga ikut bertebaran di angkasa. Bersatu padu dalam harmoni dan gemerlap bagai debu berlian.
Di bawah langit itu, tepat di tengah taman yang ada di kota, sesosok lelaki yang berambut keperakkan berbaring di tanah. Kemudian sesosok cahaya datang menghampirinya.
"Tuan Zelos, Bagaimana perjalananmu di dunia manusia?"
Zelos menghempaskan nafas panjang. Sebuah senyuman tertoreh di wajahnya.
"Menyenangkan. Benar-benar menyenangkan." jawabnya. "Ini kunjunganku yang ke delapan di dunia ini, tapi, ya... dunia manusia benar-benar menarik." Zelos tersenyum kecil.
"Kalau begitu, sudah saatnya Tuan untuk kembali."
"Belum," sela Zelos, "Apa kau tidak mendengar langkahnya?"
"Langkah?"
Perhatian mereka berdua teralihkan oleh gemerlap cahaya yang bergerak dari kejauhan. Perlahan demi perlahan, langkah itu mulai terdengar jelas bagi telinga manusia. Hingga, perlahan-lahan tampaklah sosok manusia yang sedang berlari tersebut. Dia Anggrietta. Wanita yang memenangkan kontes dansa hari ini. Dengan perintah dari Zelos, sosok cahaya itu menghilang tanpa jejak.
"Zelos! Zelos! Zelos!" Teriakkan Anggrietta menggema.
Bahkan bagi entitas yang setara dengan para dewa sekalipun, saat namanya dipanggil seperti itu, mau tidak mau ia harus memperhatikan dengan seksama siapa yang menyebut namanya tersebut.
"Anggrietta..." ujar Zelos.
Anggrietta masih terengah-engah saat tiba di hadapannya. Wanita itu bahkan tidak sempat mengganti pakaiannya. Dan itu membuat Zelos terkagum dengan semangat yang dimilikinya.
"Zelos... kamu melupakan satu hal lagi di dalam suratmu."
Zelos menggaruk-garuk kepalanya. Kemudian tertawa kecil.
"Memangnya apa? Perasaan aku sudah menulis semua yang harus kukatakan, deh."
"Ingat nggak? waktu dulu, saat pertama kali kamu menepuk punggungku... kamu berkata, 'aku akan berdansa denganmu jika kau telah menjadi pedansa yang bermekaran'." Anggrietta mengulurkan tangannya, "Aku bukan lagi gadis kikuk dan kaku seperti robot. Jadi... Mau nggak kamu berdansa denganku sekarang?"
Hati Zelos berdesir keras. Seolah Anggrietta bisa melihat sesuatu dari dirinya dan memancing hasrat di dalamnya.
"Mungkin kah hal itu dilakukan oleh wanita seperti dirinya?"
Zelos sempat membatu. Namun melihat ini adalah kesempatan pertama dan terakhir yang ia miliki, ia tidak punya alasan untuk menolaknya.
"Dengan senang hati, Anggrietta."
Zelos pun menjetikkan jarinya, dan seketika sebuah musik yang entah dari mana terdengar oleh mereka.
Anggrietta tersenyum. Ia langsung merapatkan tubuhnya ke Zelos. Tangan kirinya ia letakkan di bahu sang lelaki. Dan tangan kanannya menggenggam erat jemari di tangan kiri nya. Mereka pun saling bertatapan.
"Baiklah, mari kita mulai, dansa pertama dan terakhir kita, Anggrietta." Zelos memulai langkahnya.
Mereka pun mulai berdansa.
Ini pertama kalinya mereka berdansa bersama namun gerakannya begitu harmonis. Seolah-olah tubuh mereka telah menyatu.
Alunan musik yang terus berputar membuat keduanya larut dalam dansa. Wajah mereka sangat cerah. Senyuman di wajah keduanya tidak bisa diredupkan oleh gelapnya malam. Langit, rembulan dan gemintang menjadi saksi atas indahnya dansa yang mereka tampilkan.
"Anggrietta... Aku akan menggunakan sihir istimewa kali ini." bisiknya sambil terus berdansa.
Zelos membacakan sebuah mantra sihir. Seiring mereka berdansa, posisi mereka terus naik ke angkasa. Seolah udara menjadi padat saat kaki mereka menyentuhnya. Tak hanya itu, Setiap langkah mereka akan mengeluarkan percikan cahaya yang gemerlapan. Dansa mereka bak cahaya yang sangat terang benderang menghiasi kesunyian malam. Percikan cahaya itu menyebar dan terus menyebar menjadi bintang-bintang kecil yang ikut memeriahkan suasana.
Itu benar-benar momen yang luar biasa bagi Anggrietta. Sebuah pemandangan indah yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Itu adalah dansa terhebat yang pernah ia lakukan.
Walau mereka terus menikmati setiap detik kebersamaan mereka malam itu, waktu tetap tidak bisa dihentikan.
"Anggrietta... waktuku telah tiba." Zelos tiba-tiba menghentikan tariannya.
Anggrietta terdiam. Lagi, ia mencoba menegarkan dirinya.
"Jangan pernah melupakan ucapanmu sendiri, Zelos," matanya mulai berkaca-kaca, "Aku... akan terus berdansa. Maka... Kamu juga, jangan pernah melepaskan pandanganmu dariku."
Spontan, Zelos mengecup kening wanita itu. Lalu memeluknya sangat erat.
"Aku janji. Aku akan tetap melihat dansamu sampai engkau tidak sanggup lagi untuk berdiri."
Perlahan mereka mulai turun dari angkasa dan musik pun berhenti. Kaki mereka pun sudah menginjak tanah kembali. Seluruh gemerlapan malam itu mulai menghilang.
Zelos melepaskan pelukannya dan menatap lekat-lekat mata Anggrietta. Melepaskan senyuman lebar dan air mata yang mengalir begitu saja.
"Selamat tinggal, Anggrietta."
Anggrietta mencoba menahan gejolak yang berusaha meledak dari dalam dirinya. Dengan bibir yang gemetaran, ia berusaha untuk tersenyum manis.
"Sampai jumpa lagi, Zelos. Terima kasih... untuk segalanya."
Tubuh Zelos perlahan demi perlahan menjadi bulir-bulir cahaya dan lenyap begitu saja. Saat semua itu telah berakhir, Anggrietta tak sanggup lagi menahannya. Tangisannya sangat keras sampai-sampai ia tidak bisa mendengarnya.
Malam itu adalah malam terakhirnya bersama lelaki yang ia cintai. Dan di malam itu dia sadar bahwa dansanya tidak hanya untuk membuat ibunya tersenyum bahagia. Tetapi juga untuk dirinya sendiri.
Perasaan yang ia terima di malam itu menjadi sebuah semangat baru dalam hidupnya. Bersama cinta yang tidak akan terbalaskan lagi.