Keajiban Peri Keemasan
Fantasy
12 Dec 2025

Keajiban Peri Keemasan

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (20).jfif

download (20).jfif

12 Dec 2025, 16:42

Kalian percaya pada sebuah keajaiban? Kepada Peri yang bisa mengabulkan permohonan? Peri itu bersemayam di sebuah air terjun dekat dengan Desa Tebing Linggahara. Hanya saja tidak pernah ada yang menyaksikan secara langsung wujud peri itu. Sehingga semua orang di desa menganggap itu sekedar mitos belaka.

Namun tidak dengan Reihan. Reihan yang berusia tujuh tahun diselamatkan oleh peri itu saat dia terjatuh dari puncak air terjun. Reihan yang tidak bisa berenang, hampir tenggelam bersama arus air. Saat nyaris tidak sadarkan diri, Reihan merasakan kehangatan yang begitu lembut menyelimuti tubuhnya.

"Wahai anak manusia, kisahmu masih belum berakhir. Hiduplah sebagai bagian dari diriku." ucap sosok yang berkilauan itu.

Saat itu, sang peri menyelamatkan hidupnya. Peri itu "mengorbankan" dirinya sendiri. Mungkin akan lebih tepat jika dikatakan bahwa Reihan telah membunuh sang peri karena kecerobohannya. Itu adalah sebuah fakta yang tidak diketahui orang lain.

Hasilnya, Reihan mendapatkan sebuah keajaiban dan kutukan disaat bersamaan. Keajaiban yang Reihan dapatkan membuat dirinya mampu mengabulkan sebuah permohonan yang benar-benar dia inginkan. Hanya saja kutukan yang diterimanya membuat Reihan tidak memiliki hasrat untuk menggunakannya. Benar-benar ironis. Namun itu menjelaskan kenapa banyak sekali peri yang punya keajaiban namun mereka tidak menggunakannya sembarangan.

Entah mengapa Reihan malah mengingat kenangan yang seharusnya ia lupakan. Ah! Benar juga, Reihan teringat hal itu karena surat yang dikirimkan Anggita. Anggita tidak menuliskan banyak hal di dalam suratnya.

Reihan kawanku.

Aku akan kembali.

Anggita.

Hanya tiga kalimat.

Sebagai orang yang telah lama mengenalnya, Reihan pasti merasa senang akan kedatangan Anggita. Hanya saja Reihan tidak bisa mengabaikan kemungkinan lain. Sebuah firasat buruk yang tiba-tiba menyelimuti batinnya. Yang dia ketahui, Anggita pergi dari desa untuk melakukan pengobatan terhadap penyakit yang dideritanya. Apakah dia telah sembuh atau tidak? Reihan tidak mengetahuinya sama sekali. Karena surat itu adalah surat pertama yang diterimanya sejak mereka berpisah.

Pagi ini dia akan tiba di halte yang tidak jauh dari desa. Reihan telah menantinya di sana. Dengan mengenakan kaos dan celana panjang, dia duduk sambil membaca sebuah buku. Tidak lama setelah itu, bis pun terlihat dari kejauhan. Reihan menutup buku dan berdiri. Melihat bis itu semakin dekat ke arahnya, semakin bergejolak pula keresahan di dadanya. Sebuah firasat yang tidak bisa dienyahkan dari hatinya.

Tak berselang lama, seorang gadis akhirnya turun dari dalam bis. Dengan mengenakan rok, topi kupluk, baju lengan panjang, dan tas sandang, ia berdiri di hadapan Reihan. Sebuah senyuman pun muncul dari wajah wanita itu. Senyuman yang selalu menghangatkan sanubari.

"Reihan."

"Anggita ..."

Wanita itu langsung lompat dan memeluk Reihan erat-erat.

"Selamat datang kembali... Anggita."

Anggita melepaskan pelukannya. Ia menatap Reihan sesaat lalu menggenggam jemarinya, dan menariknya untuk berlari bersamanya. Setiap langkah kakinya yang terdengar oleh Reihan, membuat Reihan merasa sangat bahagia.

Setelah lima menit, mereka pun berhenti berlari.

"Hah... Aku tidak kuat lari lagi..." keluh Anggita sembari menghela nafas.

"Tentu saja. Perjalanan dari kota ke desa sangat jauh. Dan lihat dirimu, masih pagi tapi sudah keringatan segitu banyaknya." celetuk Reihan.

Anggita tertawa. Ia berbalik dan tersenyum lebar.

"Bahkan setelah lama tidak bertemu, kamu tetap saja tidak pernah berubah."

"Eh? Kamu juga tidak berubah, Anggita. Masih saja memaksakan diri seperti itu."

"Ini semangat di pagi hari!" ucapnya sembari menggembungkan pipinya. "Olahraga di pagi hari itu menyehatkan, lho!"

"Ya, ya, ya. Kalau begitu kita temui dulu kepada desa buat mengambil kunci rumahmu yang dulu."

"Oke!" sahutnya cepat.

Desa Tebing Linggahara merupakan desa yang masih permai. Sawah padi yang membentang luas di sisi jalan menuju desa membuat siapapun terkesima. Kebun sayuran warna-warni juga menghiasi daerah perbukitannya. Lingkungan di desa ini sangat bersih, sampai parit di depan rumah penduduk saja jernih sekali. Saat mereka masuk ke dalam desa, udara sejuk itu begitu nikmat dihirup.

"Baiklah, ayo masuk. Pak Kades pasti bakalan senang melihatmu lagi." Kata Reihan setibanya mereka di depan halaman rumah pak Kepala Desa.

Mereka pun masuk ke rumah kepala desa. Setelah bersilaturahmi dengan pak Kades, dan juga menerima kunci rumah Anggita, mereka pun bergegas pergi ke sebuah rumah yang Anggita tempati dulu. Rumah itu cukup jauh. Letaknya di ujung jalan setapak. Rumah bernomor enam belas itulah yang menjadi tempat tinggal Anggita dahulu. Sesampainya disana, mereka tanpa ragu mulai membersihkan rumah itu.

"Gila... banyak banget debunya!" keluhnya.

Akan tetapi, entah kenapa Anggita tiba-tiba berhenti bergerak. Dia mematung dan tubuhnya sedikit gemetar, walau Reihan tak menyadarinya.

"Aku mungkin akan mati besok, Reihan." bisik Anggita dengan suara datar. Dia menggigit bibirnya dengan keras tanpa alasan yang jelas.

"Hey... Berhentilah bercanda."

Ia menggelengkan kepalanya. Senyuman yang selalu ia pasang kini telah raib.

"Aku tidak bercanda... Reihan."

Perkataan Anggita seolah menusuk dada Reihan bagaikan bilah pisau yang teramat sangat tajam.

"Kalau begitu, kenapa kamu tidak menghabiskan saat terakhirmu bersama ayah dan ibumu di sana? Mereka pasti—"

"Karena aku memilihmu, Reihan. Aku ingin menghabiskan waktu terakhirku bersamamu."

Reihan pun berhenti membersihkan lantai. Tanpa menatap Anggita, Reihan mengatakan sesuatu yang kasar.

"Kalau begitu kamu tidak perlu datang kemari."

Keheningan pun menyelimuti ruangan.

"Apa maksudmu, Rei!?" Anggita kesal.

"Bukankah kamu harus menghabiskan waktumu bersama orang-orang yang berharga untukmu? Aku cuma temanmu. Tidak lebih." jelas Reihan yang masih tak mampu menatap Anggita. Perasaan yang amat mengerikan merasuk ke dalam dirinya. Dia menatap kosong pada lantai di bawah kakinya

Reihan benar-benar tidak menyangka, bahwa dia akan mendengar hal menggusarkan sanubarinya itu di pagi ini. Semuanya terlalu tiba-tiba, sehingga rasanya Reihan seakan baru saja jatuh ke dalam jurang tanpa dasar.

"Kau tahu, kan? kalau kamu adalah temanku yang sangat berharga," lirihnya.

Ucapan Anggita itu berhasil mengetuk kembali hati Reihan. Menyadarkannya kembali akan betapa berharganya sosok Anggita di dalam hidupnya. Wanita yang dulu memberi dirinya motivasi untuk melakukan sesuatu. Wanita yang mengajarkannya untuk bersemangat dalam setiap hal. Wanita yang berhasil membuatnya mengerti betapa indahnya hidup di dunia.

"Lho, kok kamu malah nangis, sih?"

Anggita menyeka air matanya. Reihan tidak bisa menjawab pertanyaan Anggita.

"Karena aku telah memilihmu, itu artinya kamu harus mengabulkan seratus keinginanku hari ini!"

"Tunggu—Apa!?"

Anggita membalas dengan senyuman.

Setelah selesai membersihkan, Anggita mengajak paksa Reihan untuk keluar dari rumah. Gadis itu lalu mengeluarkan sebuah buku dari sakunya.

"Keinginan pertama telah selesai," gumamnya sambil mencoret sebuah kalimat di dalamnya.

"Lho, kenapa berhenti?" tanya Reihan.

"Tidak perlu! Membersihkan kamarku itu saja sudah cukup. Kita tidak punya banyak waktu!" Anggita menarik Reihan lagi.

"Setidaknya pakaianmu diganti dulu, Anggita."

"Tidak perlu! Kita sekarang harus mencari es krim!"

"Hah?"

"Itu keinginanku yang kedua." Jawabnya sambil melemparkan senyuman.

Ia tahu sekali cara memaksa Reihan untuk ikut dengannya. Benar-benar wanita yang egois. Namun keegoisannya lah yang membuat Reihan jadi seperti ini. Reihan benar-benar berterima kasih atasnya.

Setibanya di sebuah kedai, dia langsung membeli dua buah es krim. Satu untuknya dan satu untuk Reihan. Mereka pun duduk di bangku dekat kedai itu.

Setelah tuntas melumat habis es krim mereka, Anggita langsung membuka bukunya dan mencoret satu kalimat lagi di baris kedua.

"Jadi, apa lagi keinginanmu itu?" tanya Reihan.

"Keinginanku yang ketiga adalah... teng, teng teng! Makan udang bakar!" sorak Anggita.

"Kalau begitu kita pergi ke tempat Pak Somat." Kata Reihan.

"Siap!"

Di sepanjang perjalanan, Anggita terus bersenandung ria. Dia benar-benar tampak bahagia, dan Reihan sangat bersyukur melihatnya. Tapi, kenyataan bahwa sesuatu yang sangat buruk akan terjadi besok, membuat Reihan sangat ketakutan. Jauh di dalam hatinya, Reihan menjerit sangat keras. Namun, dia tetap berusaha untuk tegar, demi Anggita.

"Wah! Udangnya enak banget!" teriakan Anggita menggelora saat memakan satu ekor udang bakar Pak Somat.

"Hahaha! Ini udang spesial buat Mbak Anggita! Udang gala bakar rasa spesial!" seru Pak Somat. "Ngomong-ngomong, ini gratis! Anggap saja hadiah kepulangan buat Mbak."

"Wah! Terima kasih banyak, Pak Somat!" Anggita terus melahap udang bakarnya.

Mereka berdua ngobrol sangat akrab sekali. Reihan bahkan tidak ingin mengganggu momen ini. Dahulu Anggita adalah sosok anak kecil yang sangat disayangi di desa. Sekarang ia telah tumbuh menjadi wanita yang begitu cantik dan ceria. Reihan yakin rasa bangga dan bahagia juga tumbuh di benak Pak Somat.

"Baiklah, selanjutnya kita akan pergi ke kebun tomat Pak Saleh!" celetuk Anggita.

"Hah... terserah kau saja, deh, Anggita. Tapi... kebun itu cukup jauh, lho."

"Tenang saja! Aku ini sangat kuat!" celetuknya.

"Kuat makan doang kamu!" ejek Reihan.

"Karena aku masih dalam pertumbuhan!" ujarnya dengan percaya diri.

Setelah berjalan cukup jauh, mereka pun tiba di kebun Pak Saleh.

Melihat kebun tomat Pak Saleh tidak berbuah, Anggita menggeram.

"Kenapa kamu tidak bilang kalau ini belum masanya panen?" cibirnya.

"Kau yang benar saja, aku bukan petani tomat, lho."

"Gagal, deh, makan tomat Pak Saleh ..."

Rasanya cukup kesal jika harus melihat gadis cantik seperti Anggita makan terlalu lahap tanpa memikirkan kondisinya sendiri. Tapi, begitulah Anggita.

Anggita terlihat sedang memikirkan sesuatu. Reihan melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Sudah empat jam berlalu sejak Anggita tiba di desa.

"Kamu mau jalan-jalan ke SD, nggak?" usul Reihan.

"Ah! Ide bagus! Ayo!" sahutnya secepat kilat.

Jarak sekolah dasar dengan kebun Pak Saleh tidak jauh. Selang beberapa menit kemudian, mereka sudah tiba di tempat dimana mereka dulu belajar bersama.

Melihat anak-anak yang berlarian saat jam istirahat membuat Reihan teringat masa lalu. Itu adalah masa-masa yang menyenangkan bersama Anggita. Sebuah kenangan saat Anggita masih tinggal di desa ini.

"Wah... aku jadi ingin kembali ke SD lagi." ungkap Anggita.

"Kenapa nggak coba jadi guru saja?" tanya Reihan.

"Jadi guru itu merepotkan. Mendidik anak kecil itu susah banget!"

"Ya, lupakanlah kalau begitu." ujar Reihan dengan tawa kecil.

Anggita menatap Reihan sebentar, kesal. Lalu tawa kecilnya terlepas begitu saja.

"Ternyata berada di sini malah membuatku teringat dengan masa lalu yang indah itu.... Aku... benar-benar merindukan saat-saat itu." Ungkap Anggita. Wajahnya terlihat sangat damai. Saat ini.

"Bagaimana denganmu, Reihan?"

Reihan memilih untuk tidak menjawabnya.

Dia menatap Reihan yang membisu sebentar. Kemudian memutuskan untuk berkeliling sebelum pergi ke tujuan selanjutnya.

Reihan memang sudah menebaknya, tapi tetap saja itu mengejutkannya.

"Wah! Bakso Pak Bejo memang paling top dah di dunia!"

"Mbak Gita bisa aja deh!" Kata pria baya itu.

"Tidak-tidak! Aku serius Pak Bejo! Coba kalau Pak Bejo jualan di kota, pasti bakal laris manis baksonya!"

"Hahaha! Jualan di sini aja sudah cukup, Mbak!" Kata pria baya itu malu-malu. "Tapi, Abang masih kaget banget, lho, soalnya kamu tiba-tiba saja nongol kayak nggak ada apa-apa."

Orang-orang di desa tidak mengetahui alasan Anggita dan keluarganya pindah ke kota. Itu karena permintaan Anggita yang tidak ingin membuat semuanya khawatir. Anggita benar-benar menyukai orang-orang di desa. Maka dari itu orang-orang di desa bisa tersenyum bahagia saat melihatnya kembali tanpa mengkhawatirkan apapun.

Namun tidak bagi Reihan. Dia masih sadar akan kenyataan itu. Baginya ini adalah mimpi yang awalnya terlihat bahagia, namun pada akhirnya... akan menjadi sebuah mimpi buruk—mimpi yang teramat sangat buruk. Bahkan Reihan masih berharap apa yang dikatakan oleh Anggita sebelumnya hanyalah gurauan belaka.

Setelah selesai makan bakso, Anggita pun menarik Reihan pergi—lagi—menuju ke sebuah toko. Di sana dia membeli kembang api yang ukuran kecil. Lalu dia menyuruh Reihan untuk membawanya.

Tiap kali Anggita berjalan melintasi orang yang menjual makanan, dia pasti akan membelinya. Di saat ia melihat baju yang dijual di toko, dia juga membelinya. Di saat dia melihat hal hal yang menarik baginya, dia akan langsung menuju ke sana. Ia terlihat begitu bebas bagai tidak memiliki beban hidup apapun. Wajahnya yang terus terlihat bahagia itu membuat Reihan sedikit khawatir.

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat hingga senja mulai menyapa.

"Anggita, kamu tidak lelah?"

"Heh! Aku tadi sudah bilang kalau aku ini wanita yang kuat!" ujarnya sambil menulis sesuatu di dalam bukunya. "Baru empat puluh dari seratus keinginan yang sudah terwujud. Kita tidak punya banyak waktu!"

"Tapi... sebelum itu, kita mungkin harus membawa semua barang-barang ini pulang ke rumah dulu, deh." Reihan memperlihatkan beragam kantong plastik yang sedari tadi dibawanya. Syukur Reihan cukup kuat untuk menahan semua beban itu.

"Ah, maaf aku lupa."

Reihan menghempaskan nafas panjang. Kegiatan ini membuatnya cukup lelah.

Sepanjang perjalanan pulang, mereka tidak berbicara sepatah kata pun. Anggita berjalan di samping Reihan dengan tenang. Tanpa membuka buku dan hanya menatap ke jalanan yang panjang. Reihan tidak ingin bertanya apa yang sedang Anggita pikirkan.

Sesampainya di rumah, Reihan menaruh semua barang belanjaan itu di dalam kamar Anggita. Namun, saat dia keluar dari rumah itu lagi, Reihan melihat Anggita berdiri diam sambil menatap langit. Reihan mendekatinya. Lalu Anggita menoleh saat mendengar langkahnya.

"Sudah selesai? Yuk kita lanjut lagi!"

"Ya... Kemana kita malam ini? Aku tidak mau makan lagi."

Dia kaget seolah Reihan bisa membaca pikirannya.

"Kamu ini seperti dukun ya? Tahu aja apa yang sedang kupikirkan," cibirnya.

"Itu hanya perasaanmu saja," balas Reihan, "Lalu kemana kita selanjutnya?"

"Hmmm..." Anggita tampak ragu-ragu, "Aku... ingin pergi ke air terjun."

"Ditolak." balasnya cepat.

"Eh?! Kenapa?"

"Kau tahu kalau tempat itu dilarang untuk dimasuki oleh siapapun. Lagian sekarang sudah gelap. Sangat sulit pergi ke sana dalam kondisi seperti ini."

Anggita tersenyum licik. Ia pergi ke dalam rumah sebentar dan setelah beberapa saat, dia akhirnya keluar membawa dua senter dan satu lentera.

"Benar-benar penuh persiapan." Reihan terkagum melihat kematangan rencananya.

"Walau ada senter dan lentera, tempat itu tetap saja tidak boleh dikunjungi oleh siapapun, Anggita."

"Kita bukan anak kecil lagi, Reihan!"

"Nggak bisa! Tidak boleh pokoknya!"

"Kalau begitu aku pergi sendiri." Wanita itu pun berlari.

Reihan tidak punya pilihan selain mengejarnya. Namun entah mengapa ia tidak bisa menghentikan langkah Anggita.

"Halo." Sapa seseorang yang tiba-tiba muncul di depan mereka.

Anggita hampir melompat karena saking terkejutnya.

"Eh... halo?" Reihan membalas sapaannya dengan ragu.

"Eh... maaf, kalau aku membuat kalian terkejut. Tapi aku ingin bertanya, boleh nggak?" Jelas sosok itu, yang ternyata hanya seorang anak yang mungkin masih berusia dua belas tahunan. Anak itu berkulit kecoklatan dan memiliki mata kuning yang agak mengkilap.

"Wah... " Anggita tampak kagum dengan warna mata anak itu. Ya, karena memang sangat jarang ada orang yang memiliki warna mata seperti itu di Indonesia. "Tadi kamu mau tanya apa memangnya?"

"Oh, iya. Bisa nggak kalian memberitahuku jalan menuju ke Air Terjun Linggahara?"

"Eh? Air Terjun? Kamu ingin ke sana? Kebetulan kami berdua sedang menuju kesana sekarang. Kamu mau ikut?" Anggita menawarkan.

"Maaf sebelumnya." Kata Reihan tiba-tiba. Dia memandang curiga anak itu. "Kalau boleh tahu, kamu mau ngapain kesana malam-malam begini? Dan kamu juga jelas-jelas bukan warga desa ini."

"Aku memang bukan orang sini, sih, Kak. Aku datang ke sini karena aku ingin bertemu dengan peri yang tinggal di sana." Jawab anak itu sambil tersenyum kecil. Bahkan, kalau diperhatikan, anak itu sejak tadi memang terus memandang ke arah Reihan.

"Jarang, lho, ada orang luar desa yang tahu tentang cerita itu." Bisik Anggita heran.

Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Ada cahaya hijau yang tiba-tiba terpancar dari salah satu kantong celana anak itu. Mata Reihan dan Anggita langsung terbelalak saat menyadarinya.

"Cahaya apa itu...?"

"Hmm?" Anak itu memandang cahaya itu cukup lama, lalu kembali angkat bicara dengan santai setelah beberapa saat. "Oh, sepertinya aku nggak jadi kesana, deh. Kalau begitu, sekarang aku akan kembali ke penginapan. Terima kasih, ya, Kakak-kakak sekalian. Aku pergi dulu. Dadah." Anak itu dengan cepat melangkah pergi dari sana meninggalkan Reihan dan Anggita begitu saja.

"Hmm... sungguh aneh... " Gumam Reihan dan Anggita dengan wajah datar.

Anggita pun melanjutkan perjalanannya. Reihan tetap mengekor di belakang gadis itu. Beberapa menit telah berlalu, dan Anggita bersama dengan Reihan akhirnya tiba di pintu masuk menuju air terjun tersebut. Tanpa dipandu, Anggita memasuki jalan menuju air terjun. Dia masih ingat betul jalan menuju ke sana. Meski sudah bertahun-tahun.

"Sudah lama sekali, bukan?"

"Hah?" ucapannya membuyarkan lamunan Reihan.

"Dulu kita sering kemari, bukan? Saat itu benar-benar menyenangkan."

"Tapi... itu sudah lama banget."

"Ya memang. Aku masih ingat sekali saat itu, saat-saat kita masih takut dengan apapun. Aku merindukan perasaan seperti itu. Perasaan yang bebas tanpa terkekang oleh apapun."

"Waktu tidak bisa diputar kembali, kau tahu."

"Tentu. Hanya saja, aku tetap ingin kembali ke masa-masa itu. Aneh sekali, bukan? Padahal aku jelas-jelas sudah dewasa sekarang."

Reihan merasa kalau Anggita sedang menangis saat mengatakan hal itu. Walau gelapnya malam ini tidak mengizinkannya untuk melihat air mata Anggita, dan Reihan cukup peka untuk tidak mengarahkan cahaya senternya ke arah wajah Anggita.

Suara riak air mulai terdengar. Mereka sudah hampir tiba di tempat itu.

Saat menembus semak yang ada di depan, terlihat sebuah pemandangan yang sangat merindukan.

Air yang deras jatuh dengan bebasnya hingga menimbulkan suara yang amat berisik. Suara jangkrik dan lolongan anjing yang berirama menambah kesan kerinduan di dalam hati.

Sudah berapa lama dia tidak ke sini? Batin Reihan.

"Lihat!" Anggita menariknya menuju tepian. "Bulannya terpantul di air!"

"Harus dijelaskan, ya?" celetuk Reihan.

Tawa Anggita pun meledak. Kenangan masa kecil dulu mengalir bagaikan sungai di dalam kepalanya. Tanpa sadar, Reihan pun terhanyut dalam perbincangan itu.

"Tapi coba lihat... air terjun ini terlihat lebih pendek sekarang."

"Bukan Anggita. Air terjun itu tidak bisa mengubah ukurannya sekalipun. Kitalah yang telah berubah. Air terjun yang tingginya tidak sampai sepuluh meter ini, dulu memang terlihat tinggi. Waktu itu, kita, kan, masih bocah."

Anggita malah terpingkal-pingkal.

"Heh, apanya yang lucu?"

Ia menggelengkan kepala sambil menahan tawanya. Anggita perlahan mengatur nafasnya, lalu menatap mata Reihan.

"Kamu benar-benar sudah berubah ya, Reihan. Sekarang kamu tidak kaku dan membosankan seperti yang dulu."

"Ya, itu kan gara-gara kamu, Anggita." Reihan menggaruk kepalanya dengan gelisah. "Tapi, terima kasih banyak, deh, karena telah mengubah hidupku."

"Ya... Aku juga," Anggita menggenggam erat tangan Reihan, "Aku sangat berterima kasih karena kamu mau menemaniku saat itu dan saat ini juga, Reihan."

Setelah itu, mereka pun menyalakan kembang api yang telah dibeli sebelumnya. Berlarian sambil memegang kembang api itu terlihat kekanak-kanakan menurut Reihan. Namun Anggita tidak peduli dengan tanggapan seperti itu. Dia berlarian bebas ke sana ke mari, sedangkan Reihan memilih untuk berjalan dengan santai. Wajah Anggita yang terlihat sangat bahagia membuat rasa senang membingkai hati sang lelaki. Namun tetap saja, ini adalah waktu terakhirnya.

Saat semua kembang apinya telah habis, Reihan mengajaknya untuk pulang.

"Pulang yuk, Anggita—"

"Reihan, kamu masih ingat tidak tentang Peri di air terjun ini?" sela Anggita tiba-tiba.

Reihan memperhatikan air terjun itu.

"Cerita itu sudah seperti bagian dari kita semua yang tinggal di desa ini. Jadi... pertanyaanmu agak konyol lho.

"Ya... aku sudah tidak terlalu mengingatnya, sih."

"Hah... " Reihan menghela nafas. "Konon katanya peri itu terlihat seperti gadis bertubuh kecil yang memiliki sayap berkilauan. Ada juga yang mengatakan kalau bentuknya seperti kakek tua yang mengerikan." Reihan menghela nafas sebentar, "Aku nggak nyangka kalau kamu masih tertarik pada mitos seperti itu."

"Hmm... Itu bukan mitos, Reihan. Bukankah kamu yang mengatakannya waktu itu? Kalau peri itu sudah menyelamatkan hidupmu?"

"Ya Tuhan... waktu itu kita masih SD."

"Tapi... sejak dulu aku memang selalu percaya pada ucapanmu. Hingga saat ini juga masih seperti itu."

"Kalau begitu ayo kita pulang. Sudah gelap banget, lho, sekarang. Dan aku juga mulai merinding, nih."

"Aku... tidak mau pulang." Mata Anggita berkaca-kaca, "Aku ingin tetap di sini."

Reihan pun tidak bisa lagi memaksanya. Sorot mata itu membuatnya gentar.

Suasana mulai hening. Hanya suara riak air dan suara jangkrik yang terdengar.

"Reihan..." suara Anggita memecah kesunyian, "Mati di tempat seperti ini tidak buruk, bukan?"

Pertanyaan itu membuat dadanya bergetar hebat.

"Anggita... kalau boleh tahu, kenapa, sih, kau memaksakan diri untuk datang ke desa lagi?"

"Hmph! Kan sudah aku bilang kalau aku ingin menghabiskan waktu terakhirku bersamamu."

"Jangan beralasan! Apa kau pikir aku tidak melihat semua obat-obatan yang kau bawa di dalam tasmu?" Pekik Reihan. Dia berusaha menahan amarahnya.

Anggita tidak terlihat terkejut.

"Jika saja kau tidak memaksakan diri, pasti kau bisa sembuh. Paling tidak... kau bisa hidup lebih lama..."

"Hidup lebih lama, kah?" Anggita berjalan menghampiri Reihan, "Kamu kira nggak bosan apa, tiduran di rumah sakit seharian? Bau obat-obatan itu juga membuatku mual. Saat aku mendengar vonis dokter tentang hidupku yang tidak lama lagi, aku pun memutuskan untuk kemari. Bertemu denganmu di sini, membicarakan masa lalu dan melakukan hal-hal yang menyenangkan bersamamu. Reihan... memangnya yang aku lakukan ini salah, ya?"

Reihan berusaha menahan gejolak yang menderu di dalam jiwanya.

"Aku... tidak tahu..."

"Oh ya! Aku masih ada lima puluh sembilan keinginan lagi!" seru Anggita.

"Hey! ini sudah malam! Kamu sadar apa nggak, sih?"

"Aku tidak bilang kalau kita akan keliling seperti tadi." Anggita memberikan isyarat agar Reihan duduk di dekatnya.

Saat duduk, Anggita langsung meletakkan kepalanya di pangkuan Reihan.

"Dengan begini keinginanku tinggal lima puluh delapan lagi."

Reihan duduk sambil memandangi angkasa malam berbintang.

"Ya... sepertinya aku tidak bisa mewujudkan semua keinginanku yang tersisa. Tapi, sebagai gantinya, Reihan... kamu mau nggak mendengarkan keinginan-keinginanku yang tersisa itu?"

"Ya... aku mau, kok."

"Elus kepalaku, Reihan."

Sesuai dengan permintaannya, Reihan pun mengelus kepalanya.

Kemudian Anggita pun memberitahukan satu persatu keinginannya yang tidak bisa dilakukan lagi. Setiap kali ia mengatakan keinginannya itu, suaranya terdengar semakin pelan. Seolah tenaganya terus terkuras setiap ia menyebutkannya.

"Sudah ke berapa... ya?" tanya Anggita pelan.

"Sudah ke sembilan puluh sembilan. Tinggal satu keinginan lagi." jawab Rehan sambil terus mengelus kepala sang wanita.

Anggita tersenyum lemas. Badannya mulai gemetaran.

"Kalau begitu... yang terakhir aku berikan untukmu, Reihan. Apa keinginanmu?"

Reihan jatuh dalam ketakutannya sendiri. Rasa sedih yang bercampur aduk dengan rasa sakit yang ia rasakan, membuatnya menitiskan air matanya.

"Kenapa kamu menangis lagi, Reihan? Dasar anak kecil." ucap Anggita sambil menyeka air matanya.

"Aku... aku hanya ingin..."

"Apa... kamu bilang apa, Reihan...? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Aku... sangat mengantuk. Reihan... cepat beritahu apa keinginanmu...?"

Suaranya lambat laun memudar. Anggita pun menutup matanya perlahan. Tangannya terkulai lemas. Tidak bergerak.

Dia... telah pergi.

"Apa-apaan...?"

Air mata Reihan mengalir deras membasahi wajah Anggita yang tak lagi tersenyum itu. Reihan menggenggam tangannya dan bermunajat kepada segala yang bisa mendengarkan permohonannya.

Reihan jatuh dalam sendu yang menggerayangi jiwanya. Hanyut dalam kenangan dan rasa sakit yang mendalam. Bercampur aduk. Menggerakkan hatinya yang telah membeku oleh kutukan dari keajaiban Peri Tebing Linggahara. Seolah rantai yang mengekang hasratnya itu hancur, dan membuatnya mampu untuk mengucapkan sebuah permohonan. Permohonan yang begitu sederhana.

"Aku... hanya ingin dia bisa tersenyum setiap hari. Besok, dan besoknya lagi, dan besok harinya lagi. Aku hanya ingin hal itu! Kumohon dengarlah! Dengarlah keinginanku, Hey, Peri! Kalau memang kau nyata! Kumohon kabulkanlah permintaan ini! Kabulkanlah! Kabulkanlah! Kabulkanlah! Kumohon!" Reihan terus menjerit, meminta agar Anggita bisa tersenyum kembali esok hari.

Hingga akhirnya sesuatu terjadi.

Tiba-tiba tubuh Anggita mulai mengeluarkan cahaya keemasan yang amat terang benderang dan mengagumkan. Hal itu sempat membuat Reihan berhenti sebentar.

Ia terkejut melihat hal yang tidak masuk akal itu. Cahaya keemasan itu berubah bentuk menjadi gerombolan kupu-kupu cahaya yang menari-nari di angkasa. Kemudian gerombolan kupu-kupu itu turun dan menyelimuti tubuh Anggita yang mulai dingin. Kupu-kupu cahaya membungkus Anggita dengan benang-benang keemasan dan membentuk kepompong yang terbuat dari cahaya yang menyilaukan mata. Membuat dunia seperti di siang hari.

Angin kencang berhembus dan membuat Reihan terdorong ke pohon. Namun itu tidak menghentikan munajatnya. Ia memohon dengan segenap jiwanya kepada keajaiban yang bisa membawa senyuman Anggita kembali menghiasi dunianya. Lalu, kepompong cahaya itu pun pecah, mengeluarkan Anggita yang kini memakai sayap yang terbuat dari cahaya dan turun perlahan ke daratan. Reihan segera menghampiri dan menyambut Anggita dengan lembut.

Sebuah suara menggema di dalam kepala Reihan.

"Wahai pewaris Peri Tebing Linggahara, Reihan, Gunakanlah keajaiban yang kamu miliki dengan bijaksana."

"Tapi... Aku tidak menginginkan kekuatan ini! Yang aku inginkan hanyalah membuat Anggita bisa tersenyum lagi seperti hari ini! Aku mohon!"

Kemudian suara itu lenyap bersama sayap cahaya yang menempel di punggung Anggita. Debu-debu cahaya keemasan itu terangkat ke langit dan hilang tanpa jejak.

"Tunggu—"

"Reihan..."

Reihan terkejut setengah mati. Wanita yang harusnya sudah tidur dalam keabadian, tiba-tiba menyebut namanya.

"Anggita...?" Reihan langsung memeluk erat tubuh Anggita. Ia kembali menitiskan air mata.

"Rei...han... Apa... yang terjadi?"

"Syukurlah... Syukurlah!"

Anggita juga tidak mengerti. Harusnya ia telah mati. Namun ia masih bisa merasakan kehangatan dari sebuah pelukan. Air matanya pun menetes tanpa henti. Di dalam keheningan malam, mereka berdua tenggelam dalam kebahagiaan yang begitu besar.

Malam itu, mata Reihan akhirnya terbuka.

Padahal, selama bertahun-tahun, Reihan terus menyangkal keberadaan kekuatan yang bersemayam di dalam dirinya. Namun, Reihan juga tak bisa menyangkal, kalau Anggita kini bisa kembali bernafas lagi, itu semua berkat kutukan, sekaligus keajaiban itu.

Dalam hati Reihan mulai berpikir, apa yang akan terjadi jika orang-orang mengetahui tentang kekuatan yang dimilikinya? Ya, Reihan sendiri memang tidak tertarik dengan kekuatan itu karena kekuatan itu sendiri yang menjadikannya begitu. Tapi, bagaimana jika itu adalah orang lain?

Akan tetapi, semua itu tidak penting sekarang, karena Permohonan Reihan sekarang sudah terkabulkan.

"Apa, sih, yang kau pikirkan?" Tanya Anggita. Gadis itu kembali memasang senyum di bibirnya.

"Tersenyumlah... "

Kembali ke Beranda