Awal adalah akhir, dan akhir adalah awal.
Segala sesuatu yang ada dalam dunia ini hanyalah tentang kehidupan. Ada yang berjuang mati-matian untuk terus bernafas, dan ada juga yang hanya duduk diam pun, tapi tetap bisa hidup dalam kebahagiaan.
Anak itu pun juga sangat mendambakan hidup. Seumur hidupnya, dia hanya ingin hidup seperti yang diinginkannya. Dia rela berjabat tangan dengan kutukan demi menggapai impiannya itu.
Namun, pada akhirnya, dunia ini terlalu keras padanya.
Di atas gunung, di antara ribuan mayat yang berhamburan, dan dihiasi oleh warna merah darah yang meneror jiwa, anak lelaki itu berdiri sendirian di sana, membiarkan dirinya diguyur hujan yang berjatuhan dari langit kelabu dengan diiringi suara guntur yang membahana.
Setelah melalui perjalanan panjang yang sangat melelahkan dan penuh dengan pertempuran, dia kini telah sampai di bukit Golgota, dan memutuskan untuk mengambil apa yang telah menjadi haknya. Namun, sayangnya dia sadar kalau hatinya terlalu ragu untuk memilih.
"Tuhan, aku percaya... Aku selalu percaya bahwa segala yang ada di dunia ini, adalah kehendak-Mu. Jadi... kumohon... biarkan aku hidup."
Setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya, air matanya pun mengalir membasahi pipi. Ia mengangkat tangan kanannya ke atas seakan ingin meraih angkasa, dan menerima berkat dari kegelapan dengan tangan dan hati yang terbuka lebar, karena terpaksa.
Akan tetapi, tiba-tiba saja terdengar suara teriakkan yang amat lantang dari kejauhan. Anak itu lantas menoleh dan melihat ada beberapa orang yang berdiri jauh di sana.
Sama seperti dirinya, keadaan mereka pun juga terlihat sangat buruk. Tubuh mereka dibalut luka, dan mereka juga tampak sangat-sangat kelelahan. Bahkan, ada dua orang di antara mereka yang baru saja jatuh berlutut karena mungkin sudah tak sanggup berdiri lebih lama lagi. Dan, salah satunya juga sedang dalam keadaan pingsan.
"Jangan lakukan itu! Jojo!"
Dengan sedikit kekuatan yang tersisa, mereka menjerit keras untuk memperingati Jojo agar tidak mengambil pilihan yang salah.
"Maafkan aku... semuanya... dan terima kasih. Terima kasih karena kalian telah bersedia menemaniku dalam semua penderitaan ini."
Meski suara yang keluar dari mulut Jojo hanyalah bisikkan, namun mereka semua bisa mendengarnya dengan sangat jelas, seolah-olah Jojo berbicara tepat di samping mereka.
"Walau ini mungkin adalah pilihan yang salah, tapi aku akan menjadikannya sebagai keputusan yang benar... Demi kebaikan kalian." Ucap Jojo. Sekali lagi, dia memasang senyuman manis di bibir. Matanya yang tadinya berwarna hijau zamrud, kini mulai berubah menjadi hitam.
Mereka semua mulai menangis saat melihat perubahan yang terjadi pada diri Jojo. Kekecewaan tergambar jelas di wajah mereka, dan rasa putus asa memenuhi raga.
"Sekali lagi, aku mengucapkan terima kasih... Jadi, tolong biarkan aku membalas semua kebaikan kalian." Jojo mengepalkan tangan kanannya sambil menguatkan tekadnya, dan pada saat itu pula, cahaya hitam turun dari langit melubangi awan-awan dan menelan Jojo. Angin bertiup keras, dunia terasa berguncang, dan terdengar pula suara jeritan yang amat menyeramkan.
Tangisan teman-temannya semakin menjadi-jadi menyaksikan pemandangan itu. Ada yang berteriak dengan penuh ketakutan, dan beberapa lagi hanya mampu diam membatu.
Lalu, ketika pilar cahaya yang turun dari angkasa itu padam, Jojo pun akhirnya telah terlahir kembali dengan jati diri yang sangat berbeda. Sangat gelap. Hitam. Tapi, benar.
Sang Raja Keputusasaan.