Kepahitan Hidup yang Telah Lewat
Fantasy
15 Dec 2025

Kepahitan Hidup yang Telah Lewat

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (36).jfif

download (36).jfif

15 Dec 2025, 15:34

Saat Jaka melihat anak itu menangis, Jaka bisa merasakan sesuatu yang amat menyakitkan dalam dirinya. Suatu perasaan yang tidak dapat dimengerti dan gelap.

Jaka memang tidak tahu apa yang telah dilewati oleh anak itu, tapi Jaka yakin, kalau anak itu telah melalui dunia yang teramat sangat berat. Seakan-akan, anak yang masih berusia enam tahun itu, tampak seolah baru saja kembali dari medan peperangan.

Waktu masih menandakan pukul empat subuh saat Jaka mendengar suara bising yang berasal dari luar kamar. Mungkin dari ruang keluarga.

Hal seperti ini tentu saja jarang terjadi di rumah ini. Tapi sekalinya kejadian berarti Tante Roslia sudah pulang dari kegiatan misteriusnya yang selalu dilakukannya sekali tiap beberapa bulan, dari tengah malam hingga subuh.

"Apa itu Tante?" Tanya Rian.

Jaka menyalakan lampu dan memperhatikan keenam teman sekamarnya sekilas. Kenyataannya, semua orang yang ada di dalam kamar ini adalah anak-anak yang dipungut oleh Tante Roslia dari jalanan, termasuk Jaka.

"Ya." Jawab Jaka sambil menilik pintu yang masih tertutup di pojok. Ada sesuatu yang mengganggu benaknya saat ini. "Tapi... kali ini agak berbeda... "

"Iya, sepertinya begitu." Ujar Ilham.

"Jadi, bagaimana?" Tanya Beni.

"Kita tungguin saja dulu." Jelas Jaka. "Sudah mau pagi juga, kan?"

Keenam anak lainnya mengangguk mengikuti perkataan Jaka, dan mereka semua pun sepakat untuk tetap terjaga hingga waktu sarapan tiba.

Sambil menunggu, Jaka menoleh memandang jendela yang tergantung di dinding. Di luar sana masih gelap, dan langit memancarkan warna kelabu yang agak menyeramkan, tapi, entah kenapa Jaka selalu menyukai pemandangan seperti ini. Rasanya asing sekaligus nyaman.

Jaka lalu mengalihkan pandangannya dan memandang berkeliling sembari memastikan keadaan adik-adiknya satu demi satu.

Diantara mereka semua, Jaka adalah yang tertua, Dia juga sudah menempuh pendidikan hingga ke universitas ternama di Jogjakarta. Dan semua itu berkat Tante Roslia pastinya. Sementara saudara-saudaranya yang lain masih berada di bangku SMA, SMP, bahkan SD.

Jaka tidak tahu betul dari mana uang Tante Roslia berasal, tapi pada dasarnya, dia itu sangatlah kaya. Rumah yang mereka tempati saat ini saja sangatlah mewah, dan ada pula empat pembantu yang selalu siap untuk melayani mereka.

Waktu demi waktu berlalu, dan sekarang sudah pukul lima lewat tiga puluh menit. Waktunya untuk sarapan bersama.

Semua orang kini berkumpul di ruang makan, namun kali ini situasinya agak berbeda karena keberadaan seorang anak tak dikenal yang berdiri di samping Tante Roslia.

Akan tetapi, Jaka dan semua saudaranya tampak sangat tercengang dengan sosok bocah berusia enam tahun itu. Mata mereka membuka lebar, dan nafas mereka tertahan. Bukan karena dia orang asing, tapi karena bekas-bekas luka yang tertoreh di kulitnya.

"Apa-apaan... "

Tangan, kaki, leher, dagu, muka. Hampir seluruh bagian tubuhnya dipenuhi luka, dan itu bukanlah jenis luka yang disebabkan oleh semacam penyiksaan. Luka-luka yang melekat di kulit anak itu sangatlah berbeda dari luka yang pernah dilihat Jaka selama dia hidup. Dan dia sama sekali tidak bisa membayangkan luka seperti apa yang tersembunyi di balik bajunya.

"Itu... bajuku... " Gumam Aska sambil memasang wajah kosong.

"Itu... pedang?" Mata Jaka tertuju pada pedang hitam dengan corak ungu yang digenggam erat oleh bocah itu. Mau dilihat dari sisi manapun, pedang itu pastilah sungguhan, bahkan ada batu pertama ungu yang melekat di ujung gagangnya. Tapi, kenapa anak itu memiliki pedang?

"Hey! Semuanya sudah bangun rupanya!" Seru Tante Roslia penuh semangat. "Oh iya!" Tante Roslia berdiri di belakang anak itu, dan memegang kedua pundaknya. "Perkenalkan, anak ini namanya Kakak—Eh! Maksudku Armarto, dan mulai sekarang, dia juga akan menjadi adik kalian! Ayo! Mana tepuk tangan kalian!"

Mau tak mau, Jaka dan yang lainnya pun bertepuk tangan dengan wajah bego sambil mengikuti perintah Tante Roslia. Bahkan para pembantu juga yang tampak berwibawa seperti biasa.

"Baiklah, karena perkenalannya sudah selesai, jadi ayo kita sarapan. Ayo, ayo, kita harus makan biar bisa beraktivitas hari ini!"

Setelah Tante Roslia duduk di kursi, Jaka dan yang lain pun ikut duduk. Sedangkan si anak baru itu duduk tepat di samping kiri Tante Roslia, yang berhadapan langsung dengan Jaka.

Ada banyak makanan yang tersaji di atas meja, dan semuanya benar-benar tampak sangat enak. Semua orang membalik piring mereka masing-masing, dan mulai mengambil hidangan yang telah disiapkan, hingga membuat suara dentingan memenuhi pendengaran.

Seperti biasa, Jaka selalu sarapan dengan sepiring nasi yang ditambah sayuran-sayuran tumis seperti kacang panjang dan buncis. Kemudian, setelah berdoa dia pun makan dengan lahap.

"Oh, iya. Tante bisa nggak bayarin baju praktekku? Soalnya sebentar lagi ujian, dan nanti kita diharuskan buat pakai baju praktek selama ujian." Tanya Ilham.

"Heh!? Tunggu, kenapa kamu baru minta sekarang!? Gila, padahal sudah mau ujian loh." Tanya Bibi Roslia yang terkejut setengah mati.

"Yah, cuma telat empat bulan nggak masalah, kok."

"Nggak masalah ginjal kau retak!" Pekik Tante Roslia jengkel. "Kan Tante selalu bilang, kalau kalian butuh uang buat urusan sekolah, lebih baik cepat dilunasi biar nggak merepotkan pihak sekolah."

"Hah... iya deh. Namanya juga lupa, Tante." Jawab Ilham kalem.

Tante Roslia menghela nafas dalam dan pasrah. Tapi, begitu dia menyadari bahwa si anak baru itu sama sekali belum membalik piringnya, Tante Roslia kembali heboh.

"Loh! Ar! Kenapa kamu belum makan! Ayo sini, Tante ambilin." Ujar Tante Roslia sembari mengambilkan makanan untuk Armarto. "Nih, makan yang banyak, ya." Katanya.

Jaka sadar, ada sesuatu yang aneh antara Tante Roslia dan si Armarto itu. Wajah Tante Roslia tampak sangat ganjil. Dia memang tersenyum seperti biasa, tapi bibirnya bergetar dan matanya pun terlihat seolah dia merasa sangat kesakitan. Seakan-akan Tante Roslia berusaha untuk tidak menangis.

Namun, lambat laun, anak itu pun akhirnya mengangkat sendok dan garpunya, kemudian, dengan tangan yang gemetaran, dia pun berhasil menyendok nasi dari piringnya, yang lalu dia masukkan ke dalam mulutnya. Dia mengunyah dengan teramat sangat pelan.

Jaka benar-benar kebingungan. Anak itu bertingkah seolah dia tidak pernah makan sebelumnya. Dan anehnya, Jaka percaya dengan kata hatinya itu.

Tapi, tiba-tiba saja air mata anak itu mulai jatuh membasahi wajahnya. Air matanya terus mengalir dan tampak seakan tidak akan pernah berhenti. Wajahnya kosong tak mengekspresikan apapun, namun dia tetap menangis dalam diam.

"Aku nggak pernah makan makanan kayak begini sebelumnya... " Gumam Armarta sambil kembali melanjutkan makannya. "Ini sangat enak... Sudah lama banget... nggak tahu sudah berapa tahun aku nggak makan."

Sementara itu, Bibi Roslia tiba-tiba meletakkan sendok dan garpunya di piring, lalu menutup wajah dengan tangannya, dan mulai menangis.

Kesunyian seketika memenuhi ruang makan. Tak ada yang bersuara sama sekali, semuanya terdiam seribu bahasa. Dunia bahkan terasa seolah sedang berhenti bergerak.

"Ya... pada akhirnya, dunia ini sebenarnya baik, kan?" Kata Armarta. "Itu berarti, perang telah berakhir, kan?" Air mata anak itu mengalir semakin kencang, dan dia pun makan lebih lahap.

Ini benar-benar pemandangan yang sangat menyakitkan untuk dilihat. Anak itu menangis hanya karena makanan. Jaka bertanya dalam hati, apa yang sebenarnya telah dilewati oleh anak itu? Kehidupan seperti apa yang telah ia lalui? Padahal, dia hanyalah seorang anak kecil.

Dulu, Jaka pernah hidup di jalanan tanpa punya apa-apa, dan kehidupannya waktu itu tentulah terlalu jauh dari kata mudah. Dan waktu itu, Jaka merasa bahwa dirinyalah yang paling menderita di dunia ini, sampai-sampai, setiap hari dia hanya memikirkan tentang indahnya rasa dari kematian.

Akan tetapi, setelah melihat keberadaan anak itu, Jaka tahu bahwa kehidupannya yang dulu, sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding dunia yang telah dilihat oleh anak itu.

Pemandangan ini, lebih dari cukup untuk menjelaskan betapa pahitnya kenyataan itu.

Kembali ke Beranda