CEO Itu Menabrakku… Lalu Menjadikan Aku Pacarnya
Teen
15 Dec 2025

CEO Itu Menabrakku… Lalu Menjadikan Aku Pacarnya

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (40).jfif

download (40).jfif

15 Dec 2025, 15:50

Hari itu pada tengah hari di hari Jumat terjadi kecelakaan beruntun di jalan utama dalam kota karena seorang pengemudi tak bertanggung jawab yang mengemudi dalam keadaan mabuk, tengah hari. Kecelakaan beruntun itu memiliki dampak sampai 500 meter dibelakangnya, sehingga seorang gadis yang sedang berjalan kaki tersenggol motor karena ngerem mendadak. Membuat siempunya motor buru-buru turun dan menghampiri gadis itu.

Terlihat gadis itu meringis sambil memegangi betisnya tapi tak lama dia langsung berdiri dengan sedikit tertatih.

"Kamu gak papa?".

Gadis itu berbalik dan menatap pria tersebut. "Gak papa ko, cuma lecet dikit". Jawabnya masih menyeimbangkan kakinya.

"Mau ke rumah sakit? Mungkin butuh penanganan lebih lanjut?".

"Its oke gak papa, lagian saya lagi buru-buru, tuh liat saya masih bisa jalan kan". Jawabnya sembari mencoba melangkahkan kakinya.

Namun pria dihadapannya masih terlihat khawatir.

"Saya duluan ya udah telat". Gadis itu masih meyakinkan pria dihadapannya kalau dia memang tidak apa-apa. Tapi kemudian pria itu mengentikan langkahnya.

"Tunggu, Saya Miller". Lalu dia membuka dompet dan mengeluarkan uang sebagai kompensasi yang langsung di tolak oleh gadis tersebut. "Oke, jika kamu menolak uang saya seenggaknya kamu pegang kartu nama saya kalau ada apa-apa sama kaki kamu, kamu bisa hubungi nomor yang tertera disana".

Tak mau urusannya makin lama gadis itu buru-buru mengambil kartu nama tersebut dan langsung berlalu pergi.

Miller membaca tulisan yang ada di punggung gadis tersebut lalu tersenyum miring.

'Universitas Garuda Bangsa'

---

"Rafael Aldern Miller, CEO R-Sport Company".

Gumam Anin membaca nama yang tertera disana.

"Wow, padahal kelihatannya masih sangat muda tapi udah jadi CEO".

"Serius masih muda?". Tanya Zeline teman Anin yang sedang menemaninya makan di kantin Fakultas Ekonomi.

"Ia kelihatannya usianya sekitar 26 atau 27 tahunan lah".

"Ganteng gak?".

"Banget". Jawab Anin sambil tertawa membuat Zellin makin penasaran. "Dan seperti yang tertera di kartu namanya kalau dia CEO R-Sport penampilannya sesuailah, dia tinggi dan badannya keliatan banget kalau dia rajin olahraga".

"Gak boleh dilewatkan dong Nin kalau yang boyfriend material gitu, lo minta tanggung jawab aja sama dia"

"Tanggung jawab gimana orang gue gak papa ko cuma lecet dikit pake plester juga sembuh". Jawab Anin sambil melirik betisnya yang sudah di pasangi plester.

"Tapi Nin gara-gara dia lo jadi gak bisa bimbingan sama Mr. Robert karena lo telat dan gantinya lo harus jadwal ulang bimbingan di akhir pekan which is yang harusnya lo pake buat tiduran".

Anin hanya mengendikan bahu menanggapi ucapan Zellin, mau gimana lagi udah kejadian, mau gak mau dia besok harus mengunjungi rumah Mr. Robert untuk bimbingan skripsi bab terakhirya.

---

Miller baru saja bangun dari tidurnya pukul 11 siang, seperti biasa kalau weekend dia akan menginap di rumah orangtuanya, kalau weekday dia akan berada di apartemennya. Begitu turun dia mendapati mamanya di dapur sedang menyiapkan makan siang.

"Mam". Miller menghampirinya lalu mencium kedua pipi mamanya.

"Baru bangun sayang, mau kopi?". Tanya mamanya yang sudah mengambil cangkir untuk Miller.

"Boleh, papa lagi ada tamu?". Tanya Miller ketika mendengar papanya sedang mengobrol diruang tamu.

"Lagi bimbingan sama mahasiswanya, mungkin sebentar lagi selesai udah dari jam 9 soalnya". Mamanya meletakan kopi tanpa gula dihadapan Miller.

"Hari sabtu banget? biasanya papa gak suka kalau weekendnya di ganggu sama mahasiswa".

"Iya tapi kata papa alasan mahasiswanya bisa di terima kenapa kemarin dia telat bimbingan, jadi memperbolehkan datang kerumah.

Tiba-tiba Miller teringat dengan gadis yang hampir dia srempet kemarin, nama kampus di jaket yang di pakainya sama dengan kampus dimana papanya mengajar.

"Ma, Anin mau pamit pulang". Terdengar ucapan papanya dari ruang tamu membuat mamanya ikut menghampiri mereka kesana. Tak ayal Miller pun ikut mengintip ke ruang tamu dan dia sedikit terkejut ketika melihat mahasiswa yang dibimbing papanya adalah gadis yang di temuinya kemarin. Gadis itu terlihat sedang menyalami papa dan mamanya kemudian dia pergi setelah mengucapkan terimaksih.

"Siapa pa?". Miller menghampiri papanya yang sedang membereskan kertas-kertas di mejanya.

"Anindira, mahsiswa papa. Kemarin dia telat bimbingan dan papa keburu pulang, katanya dia telat karena hampir keserempet motor, jadi papa tawarin bimbingan dirumah". Setelah membereskan kertas-kertas dihadapannya Mr.Robert lalu meminum kopi dihadapannya.

"Tumben papa bolehin kerumah, biasanya kalau telat ya telat aja".

"Anindira itu salah satu mahasiswa kebanggaan papa, minggu depan dia udah sidang. Anaknya gak pernah macem-macem, jadi kalau dia gak bisa datang berarti memang terjadi sesuatu dan terbuktikan dia hampir keserempet".

Miller diam beberpa detik. "Sebenernya yang hampir nyerempet dia itu aku pa".

"Kamu? Ko bisa, tapi Anindira gak apa-apa kan? Udah kamu bawa ke rumah sakit?"

"Justru itu dia nolak, aku kasih uang dia nolak juga, terus aku kasih kartu nama tapi dia juga gak ada ngehubungin aku". Jawaban Miller membuat papanya tersenyum.

"Kan? dia emang anaknya gak macem-macem, kalau menurut dia emang gak butuh ya udah dia gak akan ambil, dia anaknya gak cari kesempatan dalam kesempitan". Mr. Robert kembali meminum kopi dihadapannya. "Tapi kalau kamu ketemu dia lagi minta maaf yang bener".

"Pasti pap". Jawab Miller mantap.

"Dia juga cantikkan?". Tanya Mr. Robert tersenyum penuh arti pada Miller. "Umur kamu udah mau 28, mulailah cari yang serius nak".

Ketika Miller berbaring di tempat tidurnya dia teringat ucapan papanya tadi.

Dia bergumam kecil. "Cantik. Dan namanya Anindira". Lalu pikirannya kembali pada hari kemarin saat dia bertemu dengan Anin. Wajah kecil dengan mata bulat dan bibir pink mungilnya, juga posturnya yang tinggi langsing, rambut panjangnya yang dikuncir asal-asalan. Miller akui dia masuk kriteria wanita idamannya, belum lagi kata papanya kalau dia anak baik-baik yang gak neko-neko. "Bisa dilihat sih kemarin dia gak nuntut apa-apa sama gue, disaat gadis lain mungkin akan pura-pura lumpuh agar gue mau bertanggung jawab". Seulas senyum terbit dibibir Miller.

----

"Zeliiiiinn... Gue lulus". Teriak Anin ketika dia keluar dari ruang sidang setelah di bantai habis-habisan disana. Merekapun berpelukan di dikoridor panjang tersebut, setelahnya teman-teman Anin memberi selamat disertai buket bunga-bunga cantik untuk Anin.

"Anindira". Anin berbalik pada suara yang memanggilnya, dan dia sungguh terkejut tentag siapa yang ada di hadapannya.

"Anda?".

Pria di hadapannya tersenyum melihat wajah kaget Anin.

"Miller, panggil aku Miller, selamat atas kelulusannya". Miller mengulurkan tangannya pada Anin, dan langsung dibalas oleh Anin. "Anindira, panggil saja Anin dan terimakasih".

Miller lalu menyerahkan buket bunga mawar putih yang di bawanya. "Thanks, gimana kamu tau aku hari ini sidang?".

Tak lama Mr. Robert keluar dari ruang sidang. "Itu, dari papa". Jawab Miller membuat Anin kaget untuk kedua kalinya.

"Mr. Albert itu papa kamu? Berarti waktu itu....".

"Iya aku tau kamu pas kamu ke rumahku waktu bimbingan sama papa". Anin hanya mengangguk menaggapi ucapan Miller, disamping dia gak tau harus merespon bagaimana dia juga merasa aneh karena menjadi pusat perhatian karena berbicara dengan Miller, yang semua mata dikoridor ini tertuju padanya.

"Butuh tumpangan untuk pulang?". Miller menawarkam Anin yang terlihat kesusahan membawa beberapa buket bunga juga beberapa buket snack dari teman-teman angkatannya.

"Gak usah, nanti aku pesen---"

"Pliss jangan nolak, anggap sebagai permintaan maafku untuk waktu itu".

"Emmm..."

"Pliss aku maksa". Tuturnya sambil tersenyum lebar. Membuat Anin terpaku pada wajah tampannya Miller.

"Oke". Jawab Anin sambil tersenyum setetelahnya Miller mengambil buket yang ada di pelukan Anin lalu menuntun menuju mobil sportnya.

Sepanjang kaki mereka melangkah, mereka jadi pusat perhatian ditambah tangan Miller yang menggandeng tangan Anin.

Terdengar kasak+kusuk di telinga Anin.

Pacarnya Anin ganteng banget sumpah"

"Waah beruntungnya Anin"

"Mobilnya keren gillaaa"

"Anin pantes sih dapat yang kaya gitu".

Dan kasak-kusuk lainnya yang tak hanya didengar oleh Anin tapi juga terdengar oleh Miller.

Sorry ya...". Begitu masuk mobil Anin meringis tak nyaman pada Miller tentang kasak-kusuk teman-temanya.

Its oke gak papa, mungkin omongan mereka bisa jadi kenyataan".

"Maksudnya". Anin tak mengerti maksud Miller.

"Tentang pacarnya Anin, May I be your boyfriend?

Hari apakah ini, kenapa Aku beruntung sekali ya tuhan, sidang lulus terus langsung dapat pacar, tentu saja langsung ku jawab Ya.

End



Kembali ke Beranda