Anak Baru Itu Terlalu Berbahaya… Aku Jatuh Cinta Tanpa Siap
Teen
16 Dec 2025

Anak Baru Itu Terlalu Berbahaya… Aku Jatuh Cinta Tanpa Siap

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (43).jfif

download (43).jfif

16 Dec 2025, 00:14

download (2).jfif

download (2).jfif

16 Dec 2025, 00:14

"Hei apa lo udah liat anak baru yang rambutnya pirang itu?".

"Anak baru, memangnya boleh kalau rambutnya di warnai, eh atau itu memang rambut aslinya?"

"Gak tau juga sih, tapi gue lihat dia di ruang guru saat gue nganterin buku tugas dari Bu Indah dan dia itu cakep bangeeeet Re".

"Masa? Secakep itu sampe 'banget' lo panjang banget".

"Serius cakep, cute juga sih, kaya opa-opa kesukaan gue itu lho, atau gue ngefans ke dia aja kali ya secara dia kan ada di depan mata gitu".

"Ck ada-ada aja deh lo".

"Gue penasaran kira-kira dia masuk kelas mana ya, semoga aja masuk kelas kita, biar kegantengan cowok-cowok di kelas kita terupgrade biar gue betah diem di kelas dan semangat pergi sekolah".

Aku hanya bedecih tak heran melihat antusias Andin tiap liat cowok gantengan dikit, tapi aku di buat penasaran juga karena Andin jarang muji cowok pake 'ganteng banget' gitu.

Suara ribut-ribut di kelas tiba-tiba hening, digantikan dengan suara kasak kusuk anak-anak perempuan, juga sikutan Andin pada lenganku.

"Itu anak barunya, alhamdulilah dia masuk kelas kita". Ujarnya dengan luapan kegirangan yang tertahan.

Gak salah memang kalau Andin bilang dia itu 'ganteng bangeeet' dia ganteng, putih, manis dan terlihat sangat cute, aku rasa beberapa perempuan akan kalah cute dari pada dia, dan dia jangkung, matanya tajam, dan matanya berwarna abu-abu.

"Noah silahkan duduk di sana, di sebelah Bagas".

Sepanjang dia memperkenalkan diri tak pernah sedikitpun senyum tampak di wajahnya, dia terlihat cuek tapi tidak juga terlihat mengabaikan mungkin itu efek dari wajah cutenya, kecuali kalau dia menatapmu tajam, matanya terlihat dingin. Seperti saat ini dia yang sedang menatapku menuju kursi di sebelah Bagas yang sama persis juga di sebelahku, begitu dia duduk aroma colognya tercium kuat dalam indraku, membuat aku penasaran parfum apa yang dia pakai, yang pasti bukan parfum murah yang biasa ada dalam iklan-iklan TV, dan kalau di perhatikan lagi sepertinya semua yang dia kenakan juga bukan barang murah, pasti dia orang berada. Mudah-mudahan aja dia gak sombong dan arogan seperti orang-orang kaya kebanyakan, tapi walaupun demikian apa masalahnya?.

Ketika bel istirahat berbunyi nyaring, kelas kembali riuh terutama bangku sebelahku, anak-anak mencoba berkenalan dengan Noah termasuk Andin yang sudah melesat memperkenalkan diri dan ternyata Noah cukup baik menaggapi perkenalan mereka, yah ternyata dia bukan orang kaya yang sombong.

Kelas tenang kembali karena para penghuninya telah berburu makanan ke kantin hanya menyisakan sebagian orang disini.

"Kamu gak ngajakin aku kenalan?". Ternyata Noah sedang melihat ke arahku dengan sedikit senyum samar di wajahnya.

"Tadi masih rame". Jawabku apa adanya.

Dia menyodorkan tangannya kearahku. "Noah".

Aku menerima ulurannya. "Aretha".

"Kamu gak ke kantin?"

"Enggak, aku mau ke perpus dulu balikin buku". Jawabku sambil menumpuk buku yang akan ku kembalikan ke perpustakaan.

"Boleh aku ikut, jujur aku belum tau denah sekolah ini".

Aku melihat sekeliling mencari Bagas, dan ternyata dia sudah tak ada. 'Apaan dia kenapa gak ngajakin Noah ke kantin'.

"Boleh, tapi apa kamu gak lapar?". Dia tak menjawab hanya menapilkan ekspresi bingung di wajahnya. "Oh, yaudah nanti abis dari perpus kita ke kantin".

Dan aku sangat jengah sepanjang kelas-perpusatakaan-kantin semua mata tertuju pada kami pada Noah tepatnya, dia jalan biasa aja udah kaya jalan diatas catwalk seperti sedang memamerkan segala aksesoris yang dia kenakan, padahal dia jalan biasa aja dengan sesekali bertanya padaku tentang ruangan yang kami lewati. Ketika kami sudah sampai dikantin aku melihat keberadaan Bagas dan langsung mengajaknya ke meja Bagas dan yang lain.

"Kamu sama Bagas ya". Noah terlihat bingung.

"Kamu gak makan?"

"Euhhh-- aku mencari keberadaan Andin--- aku kesana makan sama Andin". Akupun berlalu pergi meninggalkannya bersama Bagas, serius takut aku dilihatin sama orang-orang terus kalau sama dia.

***

Sudah satu minggu Noah berada disekolah kami, dan aku tau dari Andin kalau dalam waktu seminggu itu sudah ada yang namanya Noah fans, ya beberapa kali memang ada adik kelas yang menitipkan beberapa hadiah padaku untuk Noah yang selalu dia bilang "Buat kamu aja, atau Makan aja" tapi aku yang gak mau akhirnya selalu di tampung sama Bagas, kesenengan banget dia bisa jadi temen sebangkunya Noah.

"Buat kamu harus eksklusif ya baru mau di terima". Ucapnya pada suatu hari, ketika aku memeberikan cokelat titipan dari salah satu fansnya.

Ya gimana ya, itu kan dari orang, cewek lagi buat Noah aneh aja kalau aku yang makan.

Hari ini adalah jadwal kelas kami olahraga, dan OMG apa mereka pada gak masuk kelas banyak banget yang nonton.

Aku yang sedang istirahat di pinggir lapangan setelah sepuluh kali mengelilingi lapangan basket, sambil melihat cowok-cowok yang sedang tanding basket yang membuat penonton menjerit heboh kalau Noah berhasil memasukan bola ke ring, Ck ya ampun gara-gara Noah penontonnya ampe bejibun gini. Tapi ya Noah memang selalu terlihat menarik sih apalagi sekarang setelah olahraga dengan headband hitam di kepalanya dia terlihat seperti model brand pakaian olahraga, juga badannya yang berkeringat membuat ototnya tercetak jelas dari balik kaosnya. Lalu dia berlari ke pinggir lapangan, dan-- apa di kesini.

"Re minum dong!". Dia mengulurkan tangan meminta botolku yang tinggal setengahnya.

"Tapi---".

Dia segera meraih botolku dan segera meneguknya. "Aus".

Ya ampun kita minum dari botol yang sama, entah pikiran tolol dari mana tapi tiba-tiba ucapan Andin menyeruak di kepalaku tentang ciuman tidak langsung melaui botol atau gelas, aku menggelengkan kepala mengenyahkan pikiran tololku gak mungkin Noah peduli dengan hal-hal seperti it---.

"Ciuman pertama gue".

Ucapnya dengan senyum jailnya membuat dadaku bergemuruh dan panas menyerang pipiku. 'Oh my god apa dia bilang barusan, ciuman pertama'. Sementara aku masih membeku dipinggir lapangan Noah sudah kembali ke tengah lapangan dan tengah mencetak angka. Ketika aku melihatnya dia sedang mengedipkan matanya padaku. 'Ya tuhan aku mau pingsan aja rasanya'.

***

Minggu siang ketika aku sedang berleha-leha di dalam kamar dengan santainya mamah menyuruhku untuk mengambil pesana Skincarenya di salon langganan mamah.

"Mah... suruh kak Aldo aja sih, aku males banget keluar panas-panas gini". Gerutuku menolak permintaan Mama.

"Gak bisa, Aldo mau Mama ajak kondangan, jadi kamu aja ya sayang ajak Andin sekalian jalan-jalan".

"Andin lagi ada acara sama keluarganya Mah, aku gak mau pergi sendiri".

"Ayolah Re nanti mamah kasih uang buat kamu nyalon deh, udah lama juga kan kamu gak perawatan, gih sana mungpung hari minggu apa ke nonton jangan ngedekem aja di kamar".

Akhirnya walaupun terpaksa tapi karena embel-embel uang tambahan buat nyalon aku berangkat juga, lumayan uangnya bisa buat beli buku atau sepatu lucu incaranku.

Setelah mengambil pesenan Mamah aku seperti melihat orang yang familiar, tapi meragu ketika melihat warna rambutnya yang berbeda, tapi begitu dia berbalik aku yakin kalau itu dia.

"Noah!! rambut kamu?".

"Hai Re". Dia terlihat kaget. "Iya nih aku cat rambutku jadi item tempo hari wali kelas menegurku. Kamu ngapain?"

Aku mengangkat paperbag yang ku bawa. "Ini, titipan Mama".

Kami pun jalan bersama keluar dari salon.

"Sendiri Re, abis ini mau kemana?"

"Iya ini juga terpaksa keluar rumah Mama maksa, aku mau bei sepatu kemarin pas jalan sama Andin aku lihat ada yang lucu".

"Lucu ya kalian ini mendeskripsikan sesuatu". Noah terkekeh pelan.

"Maksudnya?"

"Iya kaya kalau cewek liat barang misalnya baju atau tas atau sepatu selalu bilang lucu, padahal.lucunya darimana coba emang bisa bikin ketawa".

"Iih... Maksudnya tuh ya lucu gitu lucu pengen beli". Akhirnya aku tertawa juga mengikuti Noah.

"Ayo... aku temenin".

"Beneran, kamu lagi nyantai banget nih?"

"Iya ayo... Toko sepatu yang mana yang kamu maksud?".

Akhirnya aku menerima ajakan Noah, gak bisa ngajak Andin dapet Noah sebagai partner tentu tidak buruk. Sesampainya di toko yang dimaksud aku langsung menuju etalase yang memajang sepatu incaranku.

"Lucu kan?". Aku memamerkan sepatu yang sedang ku coba padanya.

"Ya, langsung dipake aja Re, wedgesnya kamu simpan aja, aku mau ngajak kamu keliling dulu bolehkan?".

"Cie... Mau ngajak aku jalan ya". Godaku bercanda. "Boleh deh, tapi traktir ya nanti kalau ngajakin makan".

Iyalah dari pada bengong dirumah terus dapat gandengan ganteng kaya Noah, ya milih jalan bareng Noah lah.

"Siap, Re mau dapat sepatu itu dengan harga diskon gak?".

"Maulah gila, gimana caranya?". Siapa yang gak mau dapat diskon coba.

"Kamu tunggu dikasir bentar, nanti aku susul".

Dan ternyata yang dimaksud Noah adalah dia datang dengan memakai sepatu yang sama denganku. "Couple shoes" Gila.

"Kita jadi couple goal banget nih, kalau fans kamu pada tau aku bisa habis di babat sama mereka". Komentarku setelah kami keluar dari toko.

"Lumayankan dapat diskon 25%". Jawabnya santai. "Kamu mau kemana abis ini?".

"Makan aja yu, aku yang traktir deh ada sisaan dari uang belanja tadi".

Dia diam sebentar, lalu mengiyakan. Ketika kami sedang jalan ke salah satu foodcourt yang ada di mall itu terlihat seseorang yang terasa familiar menghampirinya.

"Noah!"

"Mom"

"Kamu belum pulang sayang? tadi katanya mau langsung pulang?".

"Emmh Noahnya ketemu temen Mom, kenalin ---dia menarik tanganku kesebelahnya Mom dia Aretha temen sekolah Noah".

Terlihat wajah antusias di wajah yang sepertinya mamahnha Noah.

"Oh.. Sayang temennya Noah, cantik banget". Dia memeluku hangat layaknya Mamah kalau ketemu Andin.

Akupun menyalami Mamah Noah "Aretha tante".

"Gimana Noah di sekolah dia gak bikin ulahkan?".

"Moomm---"

"Sayang Mami kan hanya basa basi saja".

Lalu datang seorang yang terlihat segan menghampiri Mamah Noah.

"Bu, tuan muda -- bu anda sudah ditunggu untuk rapat".

"Oh iya, Aretha kapan-kapan kita harus ketemu lagi buat makan bareng, Noah jangan lupa kapan-kapan ajak Aretha ke rumah, Mami pergi dulu".

Aku masi cengo berdiri di hadapan Noah. 'Apa katanya tadi Tuan muda'.

"Jangan bilang Mami kamu yang tadi itu Raya Maheswari Bramantyo".

"Kalau iya memang kenapa?". Jawabnya dengan wajah geli.

"Noah!! Kalo gitu kamu juga yang punga mall ini".

"Yang punga mall ini tuh Mami dab papi bukan aku Re".

"Tetep aja, pantesan pas masuk toko tadi pegwainya pada ngehormat gitu, aku kira pelayanannya emang kaya kerajaan-kerajaan gitu, ternyata karena ada kamu".

Kembali ke Beranda