Dia adalah cowok paling tampan, paling manis, paling cute, paling lucu diangkatan Una, bahkan mungkin di seluruh kampus. Ngomongnya, kerlingannya, kagetnya, tatapannya, semuanya bikin orang betah lama-lama menatap wajahnya bahkan hanya dengan melihat diamnya.
Bian, teman satu kelasnya yang selalu bikin Una deg-degan tiap ia dekat dengan Bian, dan Bian itu ramah jadi dia tak segan mendekat, mengobrol dan bergabung dengan siapapun dimanapun.
"Hai Na."
"Bi..."
"Kantin yu, laper banget aku gak sarapan tadi pagi."
"Ko ngajak aku, Teddy mana?"
"Kenapa? memang kamu gak laper, kamu tadi pagi datang telat lo, dan aku yakin kamu belum sarapan, jadi gak boleh nolak, ayo!"
Santai, Bian menempatkan tangannya di bahu Una, seperti memeluknya. Apakah dia biasa aja dengan perlakuan seperti ini? Dan apakah Una yakin akan selamat sampai kantin dengan tangan Bian melingkari bahunya dan Una menahan nafasnya, sementara sepanjang jalan semua perempuan yang mereka lewati berbinar karena sekali lagi Bian itu ramah jadi selama itu ia terus menebar senyum menawannya.
"Mau pesen apa, biar aku ambilin!"
"Gak usah aku ambil sendi..."
"Duduk aja, biar aku yang ambil, jaga meja oke!"
Una diam, ia mulai bertanya kenapa Bian mengajaknya ke kantin, kemana Teddy, bukannya ia biasa bersama Teddy, kenapa harus berdua?
"Caramel Mochiatto dan Cheese Cake."
Bian datang dengan pesanan mereka berdua, dan kalau Una tak salah ingat ia belum menyebutkan pesanannya pada Bian, tapi Bian datang dengan makanan favoritnya.
"Benarkan itu makanan kesukaan kamu?"
"Yep, ko tau?" Bian Diam, Una seperti salah bicara, "Kamu cenayang ya Bi?"
Bian terkekeh pelan, "Tak perlu jadi cenayang untuk tau makanan yang setiap hari kamu pesan Na."
Masalahnya ia jarang sekali makan bareng Bian di kantin biarpun itu rame-rame, bisa dihitung dengan jari, jadi gak aneh kalau Una bilang Bian cenayang.
"Jangan bengong, entar ayam tetangga mati lo."
Una makin bengong, dan kali ini Bian tertawa.
Una heran, "Apa yang lucu sih Bi?"
"Aku suka deh kamu manggil aku Bi."
"Dari pada Yan, entar dikiranya aku manggil Yanto satpam kampus."
Bian tertawa lagi, keras. "Kamu lucu banget sih Na". Dia mengatakan itu sambil mengacak rambut Una, gemas. Dan Una semakin merasa aneh dengan tingkah Bian.
"Aku minjem buku kalkulus dong, aku belum nyatet materi yang kemarin."
"Gak aku bawa, ada di kosan."
"Entar aku ambil." Jawab Bian santai, dan Una sekali lagi merasa heran. Apa Bian akan benar-benar mengambilnya ke kosan, sementara dia bisa meminjamnya kepada siapa aja disini yang bahkan pasti rela menyalinkan untuk Bian.
"Ayo..." Bian menunggu Una bangkit dari duduknya, membawa Una keluar kantin. Sama seperti tadi Bian setia berjalan disamping Una meski banyak yang menyapa tapi ia enggan berhenti walau untuk sekedar basa-basi.
"Una!!!" Teriakan Rengga menghentikan langkah mereka berdua. Dia datang dengan wajah sumringah, menyapa Bian sebentar dan menatap Una.
"Ada apa Ngga?"
"Entar pulang bareng ya, kita mampir dulu ke toko kue, oke?"
Baru Una hendak menjawab tapi keburu disela oleh Bian.
"Una pulang bareng gue?"
Bukan hanya Una yang terkejut tapi Rengga juga, keanehan Una menular juga pada Rengga, Rengga melihat sorot tidak suka dari Bian, tajam, sesuatu yang siapapun tak pernah mereka lihat dari wajahnya.
"Ayo Na." Tanpa menunggu jawaban dari siapapun Bian menarik tangan Una, menjauhkannya dari Rengga, menjauhkannya dari tatapan siapapun.
"Masuk."
"Bi..."
"Masuk Na, aku anterin kamu pulang!"
Apakah Bian sedang marah, karena wajah cutenya kini hilang hanya tatapan tajam yang ada, membuat Una tak berani membantah.
Mobil Bian membelah jalanan Jakarta, menuju kosan Una, sekali lagi Bian tak bertanya dan Una tidak menyebutkan kosannya dimana tapi kini mereka telah sampai di depan gerbang kosannya.
Kebingungan semakin terlihat jelas di wajah Una. "Bi kamu ko..."
"Kamu gak akan mempersilahkan aku masuk?"
Pertanyaan Una terpotong, ia segera mempersilahkan Bian masuk, menyuruhnya duduk sementara ia mengambil buku kalkulusnya. Tapi sungguh ia sudah tak tahan dengan rasa penasaran, kaget, bingung dengan perlakuan Bian hari ini, ia bertekad untuk bertanya, harus!
"Ini." Una menyodorkan bukunya kehadapan Bian, dan Bian masih memperhatikan kamar Una, tepatnya ruang tamu kecil Una yang hanya ada dua sofa panjang, televisi dan rak buku.
"Thank you, besok aku balikin ya."
"Bi..." Una memberanikan diri.
"Hmm..." Bian menatap Una lekat, menyukai pemandangan di depannya saat ini, wajah memerah dan salah tingkah, sungguh lucu.
"Kamu ngerasa aneh banget gak hari ini."
"Aneh gimana?"
"Emhhh.. Anu, aneh aja!"
Bian terkekeh pelan menikmati kegugupan Una.
"Kenapa, ada yang mau kamu tanyain?"
"Kamu kenapa tiba-tiba ngajak aku ke kantin, tau makanan yang tiap hari aku pesen, bahkan kamu tau kosan aku tanpa kamu bertanya."
Bian hanya tersenyum, manis, sangat manis bahkan. "Mungkin aku cenayang seperti apa yang kamu bilang." Mendapatkan Una hanya diam, Bian memintanya pindah ke sampingnya. "Sini deh, duduknya deketan." Una masih bengong, membuat Bian akhirnya pindah duduk disamping Una.
"Ko bengong sih, aku cium nih kalau kamu masih bengong."
Dengan gerakan cepat Bian mencium pipi Una.
"Masih bengong juga?"
Una meraba pipi yang tadi dicium Bian. "Bi..."
"Kaget? Sini aku jelasin."
Una fokus menatap Bian begitupun sebaliknya.
"Aku suka sama kamu Na, sejak... Emm mungkin sejak saat kita kamping di Bogor, saat kamu ngambil ranting kayu terus kamu jatuh dan wajah kamu terkena tanah, tapi justru aku suka saat melihat itu."
"Masih bengong, aku cium lagi nih."
Namun kali ini Bian tidak hanya mencium pipi Una, tapi bibirnya, perlahan, lembut dan tidak menuntut, dan Una menyambut ciuman Bian, dia mengalungkan tangannya di leher Bian, mendapatkan persetujuan dari Una, Bian memperdalam ciumannya pada Una, membelitkan lidahnya saling mengeksplorasi mulut masing-masing, hingga mereka telah bergumul disofa kecil milik Una. Mereka mengentikan ciumannya saat sama-sama kehabisan nafas, hal pertama yang dilakukan Bian adalah tersenyum manis dan mencium kening Una sayang.
"Bi..."
"Hmmm..."
"Berat Bi..."
"Masa sih, aku enak ya posisi kaya gini."
Una memukul dada Bian pelan. "Bi... Beneran ini!"
"I love you Na, jangan deket sama cowok lain, jangan jalan sama cowok lain, jangan lirik cowok lain, deket, jalan, dan lirik aku aja."
"Idih, posesif."
"Biarin, kan cinta."
"Tapi aku enggak."
Wajah Bian serius membuat Una menghentikan senyumnya. "Bener?".
Una menggeleng.
Lalu tanpa ampun Bian menindih Una lagi menciumnya habis-habisan sampai Una menyerah dan mengaku cinta.
"I love You too, Fabian."