Tujuh Tahun Lalu Aku Diusir, Hari Ini Anakku Memanggilnya Ayah
"Pergi jauh kamu dari anakku"
"Kamu menghancurkan masa depannya"
"Kamu menghancurkan harapan kami"
"Saya mohon, saya akan berlutut di kaki kamu agar kamu meninggalkan Raydan, Kirana"
Mimpi buruk itu masih terus datang, meskipun sudah tujuh tahun berselang, dan rasa sesak juga sakitnya tak pernah berkurang apalagi menghilang.
Mereka tidak sadar bukan hanya anaknya yang kehilangan masa depan, bukan hanya anaknya saja yang hancur, dirinya kehilangan lebih daripada siapapun.
Di tampar sang ibu dan di usir sang ayah, malam itu ia hendak mengadu pada Raydan, tentang bayinya tentang pengusirannya, namun yang ia dapat ternyata lebih pedih daripada keluarganya, bukan Raydan yang ia temukan namun pengusiran dan penghinaan kembali yang ia peroleh.
Gadis 18 tahun yang kehilangan segalanya karena mengandung bayi berusia 5 minggu, kesalahan karena terlalu bebas berpacaran, terlena karena rayuan hingga akhirnya dia ditinggalkan.
"Mami... Bangun mami."
Sebuah gedoran terdengar di pintu kamarnya, melihat jam di nakas baru pukul 05.30 pagi tapi pasti si kecil Kimi tengah menagih susu hangatnya di pagi ini.
Kimora, gadis kecil berusia 6 tahun yang baru memasuki sekolah dasar, gadis kecil yang tujuh tahun lalu orang-orang meminta untuk melenyapkannya, malu katanya, mencoreng nama baik keluarga, dan menghancurkan masa depan.
"Anak mami masih pagi udah berisik aja."
"Ayam udah berkokok mami, matahari juga sudah mau keluar." Rengeknya dengan wajah cemberut lucu membuat Kirana tak tahan untuk menghujami wajah kecilnya dengan ciuman. "Mami berhenti, kalau enggak aku ngambek."
Kirana tertawa mendengar ancamannya, entah bagaimana jika ia tujuh tahun lalu menuruti orang-orang untuk menggugurkannya, karena Kimi saat ini adalah dunianya, sumber kebahagiaannya, segalanya.
"Kimi mandi dulu ya, mami siapin susu cokelat sama sarapan pagi buat Kimi, oke!"
"Siap mami, Kimi sayaaaaang mami."
Begitulah ia mengawali harinya, teriakan Kimi adalah penyemangatnya untuk berkutat dengan bakery yang telah dikelolanya selama tiga tahun, toko kue yang mengedepankan pesanan khusus kue-kue untuk pesta.
"Mbak Kiran, Bu Andini mengundang anda langsung untuk hadir dalam acara ulang tahun keponakanya."
"Oke, berarti yang nganterin langsung saya aja ya Li, biar kamu gak bolak-balik."
"Apa Kimi akan ikut?"
"Enggak, Kimi gak saya bawa, di rumah ada Omnya saya titip ke dia, lagi pula saya gak akan lama, saya datang hanya untuk menghormati undangan Bu Andini saja, diakan pelanggan tetap Bakery kita, setelah saya berangkat kamu langsung pulang aja Li."
Hello Bakery, adalah toko kue yang dikelola Kirana, milik seorang nenek baik hati yang hidup sebatang kara, toko kue yang sepi pembeli sebelum Kirana bekerja disana, hingga sang nenek mewariskan toko padanya sebelum dia meninggal.
Kirana sampai di tempat acara pukul tiga sore, sengaja dia datang lebih awal untuk memastikan kuenya terpajang sempurna, perayaan ulang tahun ke 3 seorang anak perempuan yang bernama Sheika Ramia Alezander, dia tahu karena Kirana sendiri yang menulis nama itu dalam kue ulang tahunnya, satu nama terakhir membuatnya berdesir merasakan sakit yang masih sama sesaknya. Hanya sebuah nama yang sama pikirnya. Namun semua tidak hanya sebuah nama saat Andini mengenalkannya pada Tuan yang punya acara.
"Kiran, makasih ya udah mau datang, sini aku kenalin sama yang punya acara, mana ya..." Andini mengedarkan pandangannya menyapu ruangan mencari keberadaan seseorang. "Ray... Ray... sini!"
Sebuah nama yang membuat Kirana membeku, ngilu, dan rasa yang sudah lama ia berusaha kubur selama tujuh tahun kini seolah percuma, memohon pada tuhan supaya dia bukanlah orang yang sama, berdoa sekuat hati agar hanya namanya saja yang sama, ia tak ingin bertemu lagi dengan sumber kedukaan dan kehancurannya, ia sekuat tenaga memohon namun ia tau tuhan tak mengabulkannya kali ini saat yang datang menghampirinya benar adalah dia, Raydan Bright Alezander. Pangerannya, hidupnya, planetnya, kebahagiaanya, dulu.
Dia masih sama, tinggi, tampan dan sorot matanya yang selalu bisa meluluhkan siapapun, dia baik-baik saja, tentu saja dia baik-baik saja, hidupnya sempurna, tak seperti dirinya yang harus terlunta-lunta di jalan mencari perlindungan, tak seperti dirinya yang harus memulai hidup dari titik minus bahkan hingga dia bisa berdiri lagi saat ini.
"Ray ini Kiran, dan Kiran ini Raydan adik ipar aku."
Suara Andini seolah mengilang, beku semuanya beku. Raydan terpaku memandang seseorang didepannya, seseorang yang tak pernah dilihatnya selama tujuh tahun, meskipun ia telah berusaha setengah mati untuk menemukannya, seratus kali ia menyerah dan seratus satu kali lagi ia terus kembali mencobanya. Kini ia di hadapannya, Kirananya baik-baik saja, dia cantik dan semakin dewasa, sungguh ia setengah mati merindukan wanita ini, wanita yang terpaku dengan mata berkaca-kaca, tapi bukan sorot mata bahagia melainkan terluka.
"Ray, Shei mau potong kue sama kamu katanya." Seorang wanita paruh baya menghentikan apapun yang sedang merajai pikiran mereka, Ibunya Raydan dengan Sheika, gadis kecil di gendongannya.
Wanita itu, yang memohon agar ia pergi meninggalkan Raydan, ia yang juga terlihat pias melihat wanita dihadapannya, wajah tuanya terlihat sedih, terpaku melihat Kirana. Rengekan Sheika, teguran Andini tak ada yang bisa menyadarkan mereka, mereka menatap wanita yang sama, Kirana.
Satu tetes air mata jatuh dipipi Kirana, membuatnya tersadar bahwa ia harus segera pergi dari sana, melihat kebahagian mereka, kesempurnaan hidup Rayden membuat semuanya terasa semakin sakit, hanya ia yang berjuang sendirian, hanya ia yang terluka sendirian. Ia berlari sekuat tenaga, keluar dari venue acara tanpa menghiraukan seruan Andini yang kebingaungan, ia hanya ingin pergi, harus pergi jauh lagi.
Raydan tersadar, saat Kirana yang dipandanginya pergi dari hadapannya, namun ia seperti tersihir dengan airmata mengalir dipipinya.
"Ma... Dia Kirana kan, dia Ranakan? Dia Rananya Ray kan Ma."
Ibunya Tiara memeluknya, sama-sama menangis. "Ia Ray, dia Rana, Rana nya kamu, maafin mama sayang, maafin mama." Ia tersedu sedan penuh penyesalan, kesalahan yang ia lakukan telah merenggut kebahagiaan Raydan, ia telah kehilangan putranya meskipun Raydan ada dihadapannya. "Kejar dia sayang, kejar dia, jangan sampai dia pergi lagi."
Seolah tersadar, ia berlari mengejar Kirana, memanggil namanya, berteriak seperti kesetanan, namun apakah ia terlambat lagi seperti waktu itu, tidak ia tidak akan terlambat untuk kedua kalinya, ia akan menemukannya, ia harus menemukannya.
"Kirana! Diamana kamu Kirana, Rana."
Raydan terduduk, menangis, begitupun Kirana, ia tersedu di balik pilar, mereka sama-sama menangis membiarkan kesakitan menguasai mereka, mencoba melepaskan semua duka, tangis yang sama-sama mereka pendam selama tujuh tahun, kini jebol seolah mewakilkan semua rasa mereka, sakit, luka, cinta, rindu semua menyatu.
***
Kirana tau cepat atau lambat Raydan akan menemukannya, hanya tentang waktu. Ia memeluk Kimi erat, seakan tak ada hari esok.
"Mami kenapa, kenapa mami terlihat sedih?"
Mata hitamnya adalah mata Rayden, rambut cokelatnya adalah rambut Rayden, hidung bangirnya adalah hidung Rayden, dia memang anak Rayden terlihat dari sekali pandang. Namun, bagaimana kalau Rayden juga sudah memiliki keluarga, bahkan seorang putri juga.
"Gak apa-apa sayang, mami hanya sedang ingat papa kamu."
"Papa? Bukannya papa sedang pergi jauh? Kata mami kalau Kimi rindu papa, Kimi hanya harus berdoa pada tuhan agar papa datang dalam mimpi Kimi."
"Ia sayang, apa papa suka datang dalam mimpi Kimi?"
Kimi tersenyum sumringah. "Ia mami, kalau Kimi merindukan papa, terus Kimi berdoa sama tuhan, maka papa akan datang dalam mimpi Kimi dan memeluk Kimi tidur, tapi..." wajahnya berubah sedih. "Tapi begitu Kimi bangun papa sudah gak ada."
Kirana memeluk erat Kimi, menciumnya bertubi. "Mami minta maaf, maafin mami."
"Kenapa mami minta maaf, mami gak ada salah sama Kimi."
Demi Kimi setidaknya Raydan harus tau kalau Kimi ada, meski nanti seperti apa status mereka setidaknya ia harus mempertemukan mereka. Namun apa ia akan kuat bertemu lagi dengan Raydan, memperkenalkan Kimi sebagai anaknya, bagaimana jika ia mengabaikan Kimi, bagaimana jika Kiminya tak diinginkan, bagaimana... Ia pasti akan merasakan sakit yang lebih parah, dan Kimi ia tak ingin membuat Kimi kecewa, hal terakhir yang ia inginkan adalah melihat kesedihan Kimi, ia tak ingin membuat Kiminya kecewa.
***
Hello Bekery milik Kirana, begitu yang ia tau dari Andini, ternyata begitu dekatnya ia dengan Kirana tapi ia tak dapat menemukannya, padahal setiap perayaan di keluarganya, Andini selalu memesannya kue dari sana. Kini ia berdiri di depan Hello Bakery, hanya tinggal selangkah lagi ia bisa menemui Rananya, namun kini ia merasa takut, ia gemetar, ia gentar setelah tujuh tahun penantiannya ia merasa sangat takut, takut Kirana lari, takut Kirananya pergi lagi.
"Om mau beli kue?"
Seorang gadis kecil berseragam putih merah dengan kuncir kuda membuyarkan lamunannya, ia terpaku, ia kembali membeku melihat anak kecil dihadapannya.
"Masuk Om, Om mau beli kue maminya Kimi?"
Mata bulatnya, bibir tipisnya mengingatkannya pada seseorang di dalam sana, tapi bukan hanya itu melainkan kenapa anak kecil ini sangat mirip dirinya.
"Lho kenapa Om nangis? Kemarin mami Kimi yang nangis, sekarang Om juga nangis, ayo Om masuk, Kimi kasih gratis deh kue maminya Kimi biar Om gak nangis lagi, biasanya mami kalau Kimi nangis selalu bikinin kue kesukaan Kimi."
Kimi menarik jemari Raydan, membuatnya tersentak, seperti ada aliran listrik, mengejutkan jantungnya, menghangatkan hatinya. Kimi menariknya masuk mempersilahkannya duduk di kursi dekat jendela.
"Ini meja favorit Kimi, Kimi biasanya bermain dan belajar disini." Kimi tersenyum pada Raydan memperlihatkan senyum yang mirip Kirana dan lesung pipit seperti miliknya.
"Nama Om siapa? Nama aku Kimi eh Kimberly tapi mami memanggilku Kimi yang artinya kuat, kalau sudah besar nanti Kimi akan kuat jagain mami."
Raydan mengusap airmatanya, menerima uluran tangan gadis kecil di hadapannya, tangannya mungil sehingga tenggelam dalam genggaman tangan kekarnya.
"Nama Om Ray, Kimi."
Raydan sangat enggan melepaskan genggaman tangannya pada Kimi, 'Kimi' menyebutkan namanya membuat hatinya menghangat, ia merasa bahagia, sesuatu yang terasa jauh darinya selama ini.
"Om Ray kenapa nangis, apa Om lapar, Kimi kalau lapar suka nangis."
"I..iya..."
"Tunggu sebentar ya Kimi minta kue ke mami, Kimi traktir."
Genggaman itu terlepas, membuat Raydan merasa kehilangan, gadis kecil itu berlari menuju pintu bertuliskan "Kitchen Area", dan tubuh kecilnya menghilang disana.
"Mami, Kimi boleh minta kuenya? Buat temen baru Kimi dia lagi nangis di depan."
Kirana yang sedang menghias kue mengalihakn pandangannya pada Kimi.
"Anak mami sudah pulang? Cium dulu dong maminya."
Kecupan mendarat di pipi Kirana. "Ia, dijemput Om Reyhan, tapi Om Reyhannya pulang, mana mami kuenya?"
"Minta sama tante Oli sayang kuenya, temen barunya Kimi gak di kenalin ke mami?"
"Ayo ikut Kimi kedepan kalau mami mau kenalan." Kimi berlalu dengan empat potong kue yang ia dapatkan dari Oli, karyawan Hello Bakery.
Kirana kembali tenggelam dalam pekerjaannya, setelah urusannya selesai ia segera mencari Kimi untuk mengganti seragamnya, namun apa yang dia lihat membuatnya terdiam, terenyuh, terharu.
Bagaimana bisa ia melihat pemandangan seindah ini, Raydan sedang menyuapi Kimi, mengelap cream yang menempel di bibir Kimi.
Kirana kembali menangis, setelah semalaman ia hampir tak tidur karena menangis.
"Mamiiii...."
Kimi turun dari kursinya berlari menghampiri Kirana, Kirana berjongkok menyambut Kimi dan memeluknya, menangis lagi. Raydan begitu iri melihat pemandangan didepannya, ia ingin bergabung disana, ia ingin memeluk mereka, ingin memeluk Rana dan Kimi.
Raydan turun dari kursinya, mengahampiri mereka dengan perasaan berkecamuk, ia ragu, ia takut.
"Ran...."
Kirana hanya mengangguk sebagai jawaban.