Happy Reading
Aku terbangun dari tidur yang ku rasakan bermimpi sangat lama, aku mengerjapkan mata menyesuaikan cahaya mentari yang mengusik mata kemudian mengedarkan pandangan menatap langit-langit ruangan berwarna putih, ah tidak semuanya berwarna putih di ruangan ini.
Aroma khas obat menyeruak di penciumanku, aku mencoba mengenali siapa perempuan yang sedang tertidur dengan kepala bertumpu di ranjangku ini.
Menatap kemudian aku mencoba menggerakkan tubuhnya tapi rasa sakit menghantam kepalaku menciptakan lenguhan
"Engghh.."
Seorang wanita yang tertidur tadi segera terbangun karena merasa terusik. "Kamu sudah sadar?" tanyanya lalu wanita itu segera memanggil dokter.
Dokter disertai perawat itu masuk memeriksa keadaanku yang baru saja bangun, dokter mengatakan bahwa keadaan aku itu stabil dan akan segera membaik. Entahlah aku masih bingung dengan ini semua.
Wanita itu menghembuskan nafas seolah kabar itu menciptakan kelegaan di hati wanita itu. Namun dokter itu sedikit menjauh dan berbincang sedikit dengan wanita itu, lalu keluar. Entahlah aku tidak mengerti.
Selepas kepergian dokter tersebut, wanita itu duduk dan kembali bertanya padaku "Bagaimana? Sudah baikan?"
Aku menatap wanita itu sejenak sebelum menjawab "Kamu siapa?"
Aku benar-benar tidak mengenali siapa wanita itu dan bahkan aku tidak tahu siapa aku sebenarnya.
Aku menangkap raut wanita itu terkejut namun berusaha mengontrol emosinya "Aku Helena"
Aku berusaha mengingat tapi nihil tak kutemukan jawaban itu, bahkan siapa aku?
"Aku siapa?" tanyaku pada wanita yang baru ku ketahui bernama Helena, kurasa dia orang baik. Ia orang pertama yang aku lihat bahkan ia sampai tertidur hanya kepala saja yang bertumpu di ranjang. Pasti itu tidak menyenangkan.
"David. Ya namamu David" jawabnya
"Lalu kamu siapaku?" tanyaku yang bingung tidak mengerti kenapa dia bisa disini, semuanya terasa membingungkan.
"Aku... Aku tunangan kamu"
Aku tidak mengerti ada apa ini, aku butuh penjelasan "Aku tidak mengerti. Bisa tolong jelaskan semuanya padaku, Lena"
"Sudahlah, simpan pertanyaanmu nanti aku akan menjawabnya" lalu ku lihat Helena yang berkata bahwa ia tunanganku itu bangkit dari duduknya.
Dengan cepat aku menggapai tangannya "Mau kemana?" tanyaku, ia tersenyum kemudian mengusap kepalaku dan berkata "Aku akan membelikan makanan untukmu"
Dengan enggan aku melepaskannya dan ia pergi berlalu, sungguh ada banyak sekali rentetan pertanyaan bersarang dikepalaku. Aku ingin segera mengetahuinya.
Seminggu berlalu dengan cepat dan aku sudah diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit. Sehingga disinilah aku dengan tunanganku, Helena. Ia berkata ini adalah apartemenku dan benar terdapat bingkai fotoku disebuah ruangan yang Helena katakan tempatku menghabiskan waktu untuk bekerja.
Satu hal yang membuatku bingung, Helena masih bungkam tidak menyuarakan penjelasan padaku, ia berkilah akan menjelaskannya nanti menungguku sudah membaik.
Kami sedang duduk di depan tv, dengan Helena bersandar di bahuku dan sesekali menyuapkan buah padaku.
"Lena, aku ingin mendengar penjelasanmu. Ini sudah seminggu, dan kamu lihatkan bahwa keadaanku baik-baik saja" ucapku
Helena hendak bangkit menjauhkan kepalanya dari bahuku dengan cepat aku menahannya, "Tetap seperti ini" pintaku sambil menahan kepalanya, mengusap puncak kepalanya seolah tak ingin mengganggu hal yang disenanginya. Ia tunanganku bukan?
Kudengar ia berdehem singkat "Kamu tahu Dave, saat itu kamu bertengkar dengan seorang wanita di jalan. Saat menemaniku ke mini market di ujung jalan sana."
Ia menghela nafas "Saat aku melihatmu, aku ingin menghampirimu namun ada mobil yang melaju kencang. Aku pikir kamu tidak melihatku tapi ternyata kamu menyelamatkanku. Dan..." ia menghela nafas sebelum melanjutkan "Maafkan aku, karena aku kamu begini"
"Sstt... Sudahlah. Terpenting aku masih berada disini" jawabku "Tapi siapa perempuan itu?" tanyaku lagi
"Aku.. Aku tidak tahu siapa perempuan itu. Ia langsung pergi meninggalkanmu saat itu"
Aku mengangguk singkat tapi sejak kapan dan bagaimana aku kisahku dengan Helena sehingga kami bisa bertunangan
"Boleh ceritakan kisah kita, sayang?" tanyaku memunculkan rona merah di pipinya, apa ada yang salah. Aku melihat beberapa pasangan menyebutkan kata 'sayang' pada kekasihnya
"Kisah kita?"
Aku mengangguk "Seperti awal pertemuan kita" balasku
Saat ini kami sudah duduk saling berhadapan, ia tersenyum dan pandangannya seakan menerawang "Pertemuan kita di Bandara, Bandara ngurah rai. Saat itu aku sedang menunggu taksi dan kamu dengan baik hati menawarkan tumpanganmu, padahal kamu tahu Dave? Di pesawat kita bertengkar, ada saja hal yang kita perdebatkan. Kita duduk bersebelahan saat itu." Helena tertawa kecil seoalah memori itu begitu indah untuknya
"Lalu lama kelamaan kita dekat dan yaa menjalin hubungan dan akhirnya kamu..."
Baiklah aku mengerti, aku tahu bahwa ia akan mengungkapkan aku kecelekaan hingga amnesia. Segera ku rengkuh tubuhnya mengusap surai hitamnya.
Aku merasa bersalah tidak mengingat moment indah kami "Maafkan aku tidak mengingatnya. Andai aku mengingatnya pasti akan menyenangkan" ucapku.
Helena menggeleng " Tidak apa, ayo kita buat kenangan baru dan lebih banyak lagi" ucapnya dengan tersenyum sambil menyeka air matanya
Aku mengangguk membantunya mengusap ait matanya " As your wish , Honey "
----
Pagi ini aku terbangun karena mendengar suara di dapur, membuka pintu aku langsung menghirup aroma masakan.
Aku berjalan ke arah dapur, tersenyum singkat ternyata tunanganku sedang menyiapkan sesuatu untukku.
Aku berjalan mendekatinya, memeluk tubuhnya dari belakang serta menumpukan kepalaku di bahunya.
"Sudah bangun?" tanyanya yang hanya ku angguki.
"Tumben pagi sekali sudah datang. Masak apa?"
"Hari ini kamu check up, ingat?" tanyanya padaku menghiraukan pertanyaanku sebelumnya
"Iya aku ingat" jawabku, ia mematikan kompor dan berbalik ke arahku.
Tangannya ia kalungkan di leherku, ekspresinya sungguh menggemaskan. Aku mendekatkan wajahku berniat mengecupnya sedikit tapi ia sudah berkata "Tidak boleh" seraya jarinya menutup mulutku dan ku balas dengan gigitan di jarinya
"Ewuh.. Dave" protesnya
Aku menggenggam jarinya menatap kejanggalan yang ada disana "Sayang, dimana cincin pertunangan kita?"
Helena tampak terkejut, apakah pertanyaanku aneh? Wajarkan jika aku bertanya padanya
"Aku.. Aku lupa meletakkannya dimana" balasnya,
"Nanti aku akan mencarinya" tambahnya.
aku memandang raut wajahnya. Enggan bertanya lebih, takut menyakiti hatinya.
"Mmm.. Dave, aku.."
Aku menatapnya sepertinya ada yang ingin dikatakannya namun ia ragu, "Ada apa? Katakan saja"
ku lihat ia menggeleng lalu berkata "Yasudah.. Ayo kita sarapan. Setelah itu mandi lalu kita berangkat" ucapnya yang langsung ku turuti sepertinya ia mengalihkan topik, sudahlah biarkan saja.
Seperti rencana, kami sudah melakukan chek up. Dokter mengatakan bahwa keadaanku semakin membaik. Aku bersyukur memiliki tunangan seperti Helena.
Dia cantik, mandiri juga tegas. Dan sikapnya bisa berubah manja sekaligus padaku.
"Dengan dibantu mengingatkannya pada hal-hal kecil itu akan membantu saudara Dave" itulah yang dikatakan oleh dokter, aku tidak khawatir karena aku memiliki Helena.
Kami berjalan sambil bergandengan tangan keluar menuju parkiran, setiba di parkiran yang tak jauh dari letak mobil kami berada langkah Helena terhenti dan ia juga melepaskan tautan tangan kami, yang otomatis langkahku juga terhenti dan menatapnya.
Baru saja aku ingin bertanya pada Helena namun suara lirihan orang lain terdengar
"Sam.." lirih seorang wanita disana, aku mengernyitkan dahi. Kenapa dia memanggilku Sam.
Lalu ia mendekat mencoba meraih tanganku yang langsung ku hindari "Maaf, kamu siapa?" tanyaku, ku dengar ia menangis sesenggukan, apa ada yang salah
"Sam, ini aku.. Arlita"
"Aku David, bukan Sam" ucapku
"Ya, David Samudra. Kamu lebih suka di panggil Sam" jelas wanita itu yang semakin membuatku bingung.
"Sam, aku tunangan kamu, Arlita. Bagaimana mungkin kamu menghilang begitu saja dan apa ini"
Tunangan katanya?
Aku menggeleng "Saya tidak mengerti" hanya itu yang mampu ku ucapkan.
Aku menoleh menatap Helena yang hanya diam. Apa dia marah? Tidak ingin menyakiti hati Helena akupun merangkulnya mengajaknya pergi dari sana.
"Ayo Sayang" ucapku yang diikuti Helena
"Tunggu" ucap wanita itu. Kami berhenti dan wanita itu mendekati
kami dan menampar pipi Helena membuat kami terkesiap. Aku membantu Helena dengan tetap merangkulnya
"Dasar tidak tahu malu!" teriaknya
"Sam, kamu harus tahu. Dia perempuan yang membuat kita bertengkar. Aku tunangan kamu, kita bahkan sudah bersama sejak SMA" Jelasnya lagi yang membuatku bingung
"Ayo Sam, ingatlah kenangan kita"
Aku berusaha mengingatnya, tapi yang ku dapat hanyalah sakit yang begitu mendera. Aku memegang kepalaku kuat-kuat rasanya sungguh sakit sekali.
Ku lihat Arlita mendekat tapi aku semakin mundur. Aku tidak mengerti penjelasan itu, Helena selalu menceritakan bagaimana aku yang ketus dan lebih suka dipanggil David olehnya dan lain-lain. Itu membuatku pusing.
Aku memegang pergelangan tangan Helena, dengan sigap ia memapahku memasuki mobil dan meninggalkan pelataran rumah sakit.
Entah bagaimana kesadaranku raib seketika dan menggelab setelah sebelumnya aku mendengar gumaman Helena mengatakan "Maafkan aku, Dave"
Kilasan aneh saat aku terpejam begitu tercetak di mimpiku, kilasan pertemuanku dengan Helena di pesawat meski aku tidak terlalu jelas tapi itu memanglah wajah Helena.
Perlahan aku membuka mata meringis merasakan sakit di kepalaku.
"Dave.. Sudah sadar" ucap pertama kali aku membuka mata, selalu Helena. Aku semakin yakin bahwa ia tunanganku, dan bahkan yang kurasakan aku mencintainya. Entahlah tapi rasa tak ingin kehilangan begitu kental di hatiku.
"Helena, aku mencintaimu."
Helena hanya diam namun ia tersenyum dan mengangguk sambil terus menggenggam jemariku.
"Kamu mencintaikukan?" tanyaku padanya
"Tentu saja"
"Terlepas dari masa lalu sebelum aku amnesia, tetaplah bersamaku. Aku memanglah tidak tahu apa yang terjadi di masa itu tapi saat ini aku yakin bahwa aku begitu sangat mencintaimu" ucapku tulus dengan bersungguh-sungguh padanya.
Aku tidak perduli ada apa dan mengapa tapi hanya Helena, aku ingin selalu dia berada di sisiku.
Setetes air mata menetes di wajahnya, aku mengusapnya. Menggeleng seraya mengatakan "Jangan menangis, sayang. Stay with me , okay " ia mengangguk meskipun masih menangis.
Ya biarlah begitu.
-----
Sudah 2 bulan selepas kejadian itu. Hubunganku dengan Helena juga semakin membaik seiring berjalannya waktu.
Aku bahkan sudah dapat mengingat sedikit demi sedikit.
Kini aku duduk di cafe tempat janji temu dengan Helena, aku tidak sabar bertemu dengannya.
Tiba-tiba di sisi kiri mejaku ada anak kecil mungkin usianya sekitar setahun hendak terpleset aku berusaha menolongnya namun entah bagaimana kepalaku malah terbentur nampan pelayan yang sedang lewat.
Ah ini seperti pernah terjadi, "Hei, hati-hati boy." ucapku pada anak itu yang tak lama ibunya datang dan megucapkan terima kasih telah menolong anaknya.
Aku duduk termenung, ingin sekali rasanya aku mengingat semuanya. Akupun berusaha mengingat, sakit sungguh sakit sekali rasanya. Namun aneh, kilasan balik semua tercetak jelas. Bahkan kejadian terbentur nampan pernah ku rasakan, dan wajah Helena yang muncul disana bukan Arlita yang mengaku tunanganku tempo hari lalu.
Tapi kilasan itu juga jelas bahwa ada Arlita disana. Menghembuskan nafas aku mengontrol diriku.
Lama aku menanti, seorang wanita yang pernah aku temui di pelataran rumah sakit datang dan duduk di hadapanku, ya dia Arlita.
"Hallo, Sam" sapanya
"David. Bukan Sam" balasku, wanita bernama Arlita itu terseyum mengangguk
"Baiklah, David. Aku ingin berbicara padamu sebentar saja"
Aku melihat ke arloji, aku takut jika Helena tiba dan salah paham atas pertemuanku dengan Arlita ini. Bagaimanapun hati perempuan itu begitukan? Mengaku tidak apa-apa padahal jelas terjadi apa-apa.
"Baiklah, cepat katakan" putusku yang memang ku akui penasaran.
"Dave, aku ini tuna.."
"Tunanganku, benar?" potongku
Ia diam mengangguk "Dave, maafkan aku. Awalnya aku tidak tahu jika kamu kecelakaan selepas kita bertengkar"
Tunggu jadi ia yang dikatakan Helena saat itu "Sebenarnya siapa kamu ini Arlita?" tanyaku
Ia menghembuskan nafas lelah "Aku tunangan kamu, lihat ini cincin yang pernah kamu berikan padaku" sambil memperlihatkan cincinnya sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Saat kamu koma di hari ketiga, kamu sadar dan selalu menyebutkan nama Helena namun kamu kembali koma hingga dokter menyarankan Helena disisimu. Entahlah aku juga tidak mengerti. Tapi aku mohon ingatlah kenangan kita, Dave"
Aku memejamkan mataku, kembali.. Kilasan itu bergerak sangat cepat kepalaku semakin berdengung sakit. Kurasakan tangan Arlita menyentuh bahuku wajahnya tampak khawatir. Aku ingat, aku ingat...
Aku memerintahkan ia duduk kembali kala sakit dikepalaku sedikit mereda "Lanjutkan ceritamu" pintaku
Ia diam sejenak menatapku "Ini kesalahanku, aku memberikannya password apartemenmu bermaksud ia akan menebus kesalahannya itu yang dikatakan padanya. Aku pikir ia akan membantu kita ternyata ia egois. Ia lebih mementingkan cintanya terhadapmu."
Fakta baru yang membuat aku tidak mampu mengatakan apapun "Lihat Dave, ini foto moment kita saat bersama" ia memberikan ponselnya padaku memperlihatkan segala foto dengan kami berdua.
Lalu bagaimana ini? Arlita yang memang tunanganku tapi aku mencintai Helena.
Yaa aku sudah mengingatnya sekarang disertai bukti yang diberikan Arlita.
Tetap saja, aku tidak menerima kebohongan atas Helena lakukan. Aku mengedarkan pandangan dan menangkap sosok Helena berdiri di depan pintu cafe, pandangannya sendu menatapku.
Aku bangkit ke arahnya "Kenapa Helena?" tanyaku.
"Dave.. Aku" aku menggeleng enggan mendengar penjelasannya. Andai saja, ia tidak berbohong sedari awal.
Aku mengambil kotak beludru berisi cincin dari sakuku dan menyerahkan itu ketangannya "Aku sudah melupakan semuanya berniat hanya ingin denganmu tapi kebohonganmu.." aku menghembuskan nafas dan berlalu pergi dari hadapannya.
Aku berjalan keluar cafe, jika tidak salah diseberang jalan sana ada taman aku akan kesana untuk menenangkan hatiku serta mencari jawaban atas hatiku.
Namun baru saja aku sampai di trotoar seberang jalan, bunyi benturan kuat memekakan telingaku. Tunggu.. Apa itu? Aku segera membalik tubuhku mendapati Helena bersimbah darah, rasanya lututku lemas.
Berjalan perlahan menghampirinya "Helena.." lirihku, aku menumpukan kepalanya di pangkuanku, tidak ku hiraukan darah yang mengenai kemejaku. "Tolong..." teriakku frustasi
"Sayang, bertahanlah" ucapku lagi padanya. Ia terbatuk, aku menggelengkan kepalaku berharap ini hanya mimpi
"Dave, maafkan aku." ucapnya dengan parau tapi aku menggeleng "Kamu bilang tidak ingin berpisah denganku" ucapnya lagi sebelum terbatuk
"Iya sayang itu benar. Bertahanlah.." balasku
Ia menggeleng pelan "Aku tidak bisa, aku salah. Kembalilah bersama Arlita. Maafkan aku" gumamnya lagi sebelum matanya tertutup meninggalkanku dengan segala rasa frustasiku.
"PAPAAAAA!!" Teriakan pagi hari Aksa menyentakku dari lamunan itu, setiap pagi ia selalu memanggilku hanya untuk sarapan saja. Anakku sungguh pintar meski usianya sudah menginjak 5 tahun.
Aku segera bangkit dari ranjang menghampiri Aksa yang sedang duduk bercerita dengan ibunya.
"Ma, Aksa ingin bisa mengendarai pesawat. Aksa ingin jadi supir pesawat"
"Pilot. Supir pesawat disebut Pilot." selaku sambil mencium pipi jagoanku.
"Hari ini kamu tidak kerjakan" tanya istriku, aku tersenyum mengangguk.
"Mas, aku ingin memberikan surat ini" lalu ia mengulurkan surat itu padaku "Beberapa tahun lalu aku menemukannya di laci nakas. Maaf baru memberikannya sekarang"
Aku menghela nafas, sudah 7 tahun berlalu juga. "Tadinya aku sangat marah pada Helena tapi setelah membaca surat itu, aku mengerti"
"Arlita, sudahlah.."
"Kamu harus baca surat itu, mas. Setelah mengantar Aksa ke sekolah kita akan ke makam nya." balas Arlita.
Ya, kecelakaan itu merenggut nyawa Helena. Sudah 7 tahun berlalu, setiap tahunnya aku dan Arlita ke makamnya untuk berziarah di hari tepat kematiannya seperti hari ini.
Aku segera membuka surat itu
Hallo, David.
Yang pertama maaf aku berbohong. Niat awalku hanya ingin membantu kalian yang bertengkar karena aku.
Tapi aku juga berusaha ingin mempertemukan kalian suatu hari meski aku akan kehilanganmu.
Tapi kau tahu? Egoku menghancurkan itu. Alih-alih mengatakan aku temanmu tapi aku malah berkata tunanganmu.
Lucu sekali ya. Aku merasa bersalah tapi tidak memiliki kekuatan untuk menyampaikan itu semua makanya aku menulis surat.
Tolong.. Jangan marah padaku. Aku hanya orang dari salah satu korban cinta.
Dan mengenai pertemuan kita, benar saat kau memberikan tumpangan itu, aku mencintaimu. Dan kau tahu David? Perdebatan kecil kita di pesawat jugaku sengaja, karena saat melihatmu pertama kali aku sudah merasakan sesuatu yang aneh di hatiku. Dan kau juga harus tahu Dave, aku baru saja patah hati saat itu. Tapi melihatmu seketika aku lupa.
Hingga kau mengantarkan aku di minimarket, aku melihat kau bertengkar dengan seorang perempuan yang ternyata, Arlita tunanganmu. Niatku ingin meluruskan kesalahpahaman.
Tapi ternyata semakin memperburuk keadaan. Sekali lagi, maafkan aku.
The And