Ibukota masih saja setia dengan padatnya kendaraan. Sahutan klakson kendaraan turut menemani sinar mentari pagi menjelang siang ini.
Sesekali suara pengendara umum terdengar berteriak untuk memanggil penumpang. Sesekali juga terdengar tawa pejalan kaki.
Hari yang indah. Tapi tidak denganku, kakiku bergerak gelisah dibawah sana sesekali mataku melirik arloji.
"Pak, bisa cepat sedikit tidak?" ucapku pada supir taksi yang ku tumpangi.
"Maaf mbak, ini sudah cepat tapi jalanan macet"
Aku terus saja menggerutu dalam hati, apakah ini adalah akhir dari kisahku dengannya?
Mataku menelisik sekali lagi pada surat dan arloji di tangan. Tidak akan ku biarkan dia meninggalkan ku begitu saja. Tidakkah dia tahu aku begitu teramat mencintainya?
Menghembuskan nafas dengan segala pertimbangan, aku mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar tagihan argo pada taksi dan segera meninggalkan taksi itu.
Aku mempercepat langkahku agar segera sampai pada tempat yang ku tuju.
Hingga aku tiba di depan gerbang rumah bernuansa klasik itu
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya..."
Kakiku melemas, telingaku berdenging tak kuasa mendengar suara itu. Lekaki yang begitu teramat ku cintai meninggalkanku?
Aku terduduk di halaman itu, tak sadar air mataku menetes tanpa bisa di cegah. Meremas surat yang ia berikan berisi surat perpisahan
"Kamu penipu, Arlan" lirihku.
Ini adalah akhir dari kisah yang sudah kita bangun Arlan, kamu menghancurkan itu.
Ya, hari ini adalah hari pernikahan Arlan dengan wanita yang ku tahu adalah pacarnya itu. Jangan salah sangka, aku adalah pacarnya juga. Maksudku, pacar dalam arti sebenar-benarnya.
Ia dengan wanita itu yang ku ketahui bernama Mela, dengan nama panjang Melati merupakan wanita yang sengaja di kenalkan oleh orang tuanya.
Dan aku? Tentu saja aku adalah wanita yang dicintainya. Ah.. Masih bolehkah aku berkata sombong setelah ditinggalkan olehnya?
Rasanya aku ingin tertawa sekaligus menangis.
"Mbak, jangan duduk disitu. Ayo masuk saja"
Intrupsi suara asing yang mengganggu drama sedihku ini. Aku mendongak, sejenak mata kami bertemu.
Gilaa... Tampan sekali.
Aku segera menggelengkan kepalaku, tetap saja aku cintanya dengan Arlan.
Ia mengulurkan tangannya padaku "Ayo, mbak. Saya bantu. Mau masuk tidak? Ada beberapa makanan."
Tunggu, dia kira aku ini pengemis apa?
"Hari ini keluarga kami sedang berbahagia. Adik saya menikah dengan..."
Belum sempat ia menyelesaikan perkataannya aku segera bangkit, menatapnya dengan nyalang tak lupa menyeka air mata dan hidungku sebab menangisi pria tak tahu malu itu.
Aku membalikkan badan tanpa menghiraukan panggilan pria itu dan meninggalkan rumah itu dengan menaiki taksi yang kebetulan berhenti menurunkan seorang wanita.
4 tahun kemudian
"Dil, dipanggil pak bos tu" seru teman satu divisiku, dengan wajahnya yang cantik tapi mulut lambe turahnya.
"Ngapain?"
"Tau dah. Naksir mungkin"
Nahkan.. Begitu, selalu begitu. Rautnya tampak tidak suka padaku.
Aku segera berlalu menuju ke ruang pak bos, dia ini sungguh tampan. Ah.. Lucu sekali pertemuanku dengannya.
Saat itu, aku melamar kerja di salah satu perusahaan. Dan aku nyaris terkena serangan jantung karena yang menginterview ku adalah pria yang saat itu pernah menghentikan drama tangisku ditinggal Arlan. Nuga.
Mimpi terburukku.
Aku segera mengetuk pintu ruangan itu sebanyak 3 kali, tidak jangan berpikir anjuran agama. Tapi ini perintahnya, jika tidak ada intrupsi maka harus balik kanan. Sama seperti ini tidak ada sahutan, aku memutar tumit kakiku tapi pintu itu terbuka menampilkan pak bosku yang super tampan.
"Masuklah..." aku bergidik. Pasalnya jika suara ia lembut begini aku takut. Takut diberi proyek yang letaknya jauh dan mengharuskanku ke luar kota hingga berhari-hari.
Tapi biarlah.. Aku akan mengerjakan 1 proyek lagi sebelum pengunduran diriku.
Ya sudah 3 tahun aku bekerja di perusahaan ini, bagiku bekerja disini adalah pelarianku untuk melupakan rasa sakit hatiku.
Nyatanya, hatiku terlalu ringkih untuk dipulihkan. Setelah ditinggalkan olehnya bukan membencinya melainkan semakin mencintainya. Aku berani bertaruh mereka pasti sudah bahagia dengan buah hatinya.
Ibuku selalu bersikeukeh untuk aku segera menikah, tentu saja usia 27 tahunku sudah cukup matang untuk menikah. Ia juga menyuruhku untuk berhenti bekerja dan mengikuti aturannya dengan pergi kencan buta dengan salah satu anak dari sahabatnya.
Kalau sudah begitu, aku bisa apa? Lagipula aku tidak punya kandidat yang tepat untuk di bawa pulang. Jadi ku pikir tidak ada salahnya mengikuti perintah kanjeng ratu.
Sebelum ia mengatakan apapun, dengan sigap aku mengeluarkan amplop putih surat pengunduran diriku padanya.
Kulihat ia menaikkan alisnya, "Saya ingin mengundurkan diri, pak" ujarku
"Saya memanggil kamu bukan untuk itu. Saya in..."
"Iya saya akan mengerjakan proyek itu sebelum mengundurkan diri, tentu saja, pak"
"Bisa jangan di potong?"
Aku mengangguk cepat, dia menghela nafas dengan berat. Lalu menumpukan tangannya di atas meja kerjanya.
"Begini, adik saya baru saja kembali dari Jepang tetapi tidak ada yang menjemputnya. Karena Suaminya tidak bisa ikut pulang dengannya dan saya juga sedang ada rapat penting besok. Bisa kamu menjemputnya?" jelasnya padaku
Apa maksud dari perkataannya, tidakkah dia tahu bahwa adiknya adalah penyebab perpisahanku dengan Arlan juga drama tangisku di halaman rumahnya saat itu?
Ah sekelibat ide muncul, bagaimana jika aku rusak saja wajah cantik adiknya itu dengan kuku indahku ini?
Tidak, aku tidak sejahat itu.
Tapi tetap saja, aku tidak sudi menjemputnya.
"Maaf, pak Nuga yang terhormat. Bukankah bapak orang kaya yang bisa saja menyuruh supir untuk menjemputnya." ucapku dengan nada kesal.
"Saya permisi. Dan ini surat pengunduran diri saya" lanjutku seraya mendorong amplop putih itu.
------
Sudah seminggu ini kerjaanku hanya rebahan dan maraton drama korea ataupun drama thailand.
Sudah seminggu pula, aku berhenti bekerja. Ibuku masih tetap sama, mengingatkan kandidat untuk dinikahin.
Akukan wanita? Kenapa harus sibuk mencari.
Pintu kamarku diketuk lalu ibuku masuk duduk di pinggir ranjangku
"Ingatkan nanti siang ke Rumah Sakit untuk menemui Bian, kan?"
Aku menghela nafas sejenak sebelum mengangguk "Bian pria tampan juga baik.. Kamu pasti menyukainya. Ibu juga sudah menyiapkan makanan untuknya, nanti sekalian kamu bawa ya. Malam itu melihat kalian berdua ibu rasa kalian cocok"
Aku mengangguk merasa pasrah tak memiliki kalimat pembelaan yang tepat untuk diriku sendiri.
Aku memang sudah pernah bertemu dengannya, lebih tepatnya tiga hari yang lalu ia datang menyambangi rumah kami mengantarkan makanan yang katanya masakan ibunya dan berbincang sedikit.
Namanya Arbian, pria itu berprofesi sebagai dokter. Yang ku ketahui ia seorang dokter bedah. Orangnya cukup tampan, sopan dan juga supel. Tapi entahlah, ia belum mampu menggetarkan hatiku. Masih tetap Arlan di hati.
Dengan begitu aku segera bangkit bersiap untuk menuju rumah sakit menemui Bian.
Aku berjalan menelusuri koridor rumah sakit sambil menenteng paper bag berisikan makanan. Aku sudah memberitahu Bian bahwa aku akan mengunjunginya, ya sedikit seperti pacar yang membawakan makan siang. Ia mengatakan bahwa ia sedang ada pasien untuk dibedah, uhh mendengarnya saja aku bergidik. Dan ia menyuruhku menunggu di dalam ruang kerjanya.
Tapi kurasa aku perlu ke kantin untuk membeli minuman untuk melegakan kerongkonganku yang terasa gatal.
Tapi saat aku tiba disana, langkahku terhenti sistem saraf kerjaku melambat melihat sosok yang sedang duduk disana yang kini juga menatapku.
Tuhan... Ada apa lagi ini? Setelah sekian lama aku menghindarinya haruskah aku bertemu kembali.
Bagaimana hati ini bisa move on. Pria itu, Arlan. Sosok pria yang sampai saat ini masih kucintai, kini ia semakin tampan mengenakan jas snelinya.
Ah.. Apakah itu artinya cita-citanya tercapai? Aku turut senang.
Tampaknya ia bersungguh-sungguh saat mengucapkan ingin menjadi dokter. Akan tetapi dokter apa?
Melihatnya bangkit dari kursi dan berjalan ke arahku semakin membuat degub jantungku semakin kencang. Ia masih sama, bahkan lebih tampan.
Tunggu.. Jika ia berjalan ke arahku harusnya aku menghindarkan? Tapi terlambat ia sudah terlebih dahulu mencekal pergelangan tanganku seraya berkata "Kita perlu bicara" dan menarikku pergi meninggalkan kantin rumah sakit.
Kini disini, aku duduk di dalam ruang kerjanya. Sudah 20 menit kami diam tanpa suara, hanya dentingan jam yang terdengar ataupun orang yang berlalu lalang di luar sana.
"Dila, aku merindukanmu"
Aku tertawa singkat "Omong kosong apalagi ini, Arlan?"
Raut wajah Arlan sulit dijabarkan, ia menatapku dengan tatapan yang akupun tak mengerti. Seolah-olah akulah yang salah disini.
"Harusnya itu yang aku tanyakan padamu 4 tahun yang lalu, Dila."
Aku tertawa singkat seraya menggelengkan kepala, "Sudahlah, Arlan. Aku ada janji"
"Tunggu.. Aku belum selesai"
"Tapi aku sudah selesai" Arlan melihatku menenteng paper bag dan mulai menggapainya dari tanganku.
"Untuk siapa?" tanyanya namun aku diam tak menjawab
"Erdila Novia, untuk siapa?" tanyanya lagi. Kini aku takut dengannya, syarat akan kekesalannya jika memanggil nama lengkapku.
"Bian" lirihku
"Apa kamu mencintainya?"
Kenapa ia harus bertanya seperti itu. Apa kalimat yang tepat untuk jawaban pertanyaannya. Sadarlah Dilla, ia sudah menikah.
"Ya, aku mencintainya" jawaban itu meluncur begitu saja.
Ku lihat ia mengumpat tertahan, entahlah.. Bukankah ia sudah memiliki istri mengapa begitu.
"Apakah kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" tanyanya
Aku diam. Aku bahkan masih begitu teramat mencintainya, tapi mana mungkin aku tega menghancurkan istana orang lain demi kebahagaiaan ku.
"Sudahlah, Arlan" putusku pada akhirnya.
Diluar dugaan, ia bangkit menepiskan berkas pada meja kerjanya kemudian ia mengangkatku lalu mendudukkanku di atas meja kerjanya.
Tangannya menahan tanganku dengan tubuhnya berada di antara kakiku. Ia menciumku, melumatnya hingga menggigit bibirku terasa kasar dan tergesa-gesa isyarat penuh kerinduan.
Sebisa mungkin aku menghindar yang pada akhirnya itu terasa sia-sia. Faktanya, hatiku kembali luluh pada euforia kebahagian kami dahulu. Kilasan-kilasan balik momen kami terasa berputar memenuhi isi kepalaku.
Betapa bahagianya aku saat itu, sebelum surat itu sampai mengatakan bahwa ia pergi meninggalkanku dengan wanita lain.
Ia melepaskan pagutannya, menyatukan keningku dengan keningnya seraya berbisik yang membuat kulitku meremang
"Kamu masih mencintaiku, begitu sangat mencintaiku, Dilla. Kamu tidak bisa menipuku."
Aku hanya diam menikmati hal yang mungkin akan menjadi terakhir kalinya. Setelah ini aku akan pergi dan melupakannya.
"Lihatlah, aku kini sudah menjadi dokter spesialis jantung seperti keingininanmu, bukan?" ia menghela nafasnya
Aku tertegun, ia masih mengingat itu. Ya saat ayahku sakit aku memang mengutarakan nya untuk mengambil spesialis jantung agar ia bisa menangani ayahku nantinya.
"Aku tidak mengerti mengapa kamu menghindariku, aku sudah kembali dan tidak akan melepaskanmu begitu saja. Aku hanya pergi untuk pendidikan ini, Dilla. Aku sungguh mencintaimu."
Tunggu apa katanya? Ia masih tidak ingin mengakui kesalahannya.
Aku mendorong tubuhnya, menegakkan badanku dan tak lupa dengan tatapan nyalang. Tanganku meraih paper bag kemudian meninggalkan ruangan itu sebelum berkata "Sudah cukup, Arlan. Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu lagi"
Aku menutup pintu ruangan Arlan dan membalikkan badan berniat pergi sebelum sebuah suara masuk ke indra pendengaranku
"Dila.. Sudah lama? Tapi Itu bukan ruanganku"
"Eh.. Aku"
Ya, Bian ada di belakangku memandangku dengan raut bingung
"Salah ruangan ya.. Yasudah ayo" ajaknya seraya meraih tanganku untuk digenggam. Terlihat dari sudut mataku, Arlan melihat kami.
Biarlah mungkin ini lebih baik.
"Bian, aku membawa makanan untukmu. Sudah laparkan?" tanyaku
-------
Saat ini aku sedang menunggu Bian di taman, memandang sepasang cincin yang melingkari jariku.
Aku menghela nafas, semoga memang ini yang terbaik. Sudah terhitung sebulan berlalu sejak kejadian aku bertemu Arlan kembali, malamnya Bian melamarku yang lebih tepatnya masih hanya kami berdua yang tahu. Setidaknya ia berniat serius padaku.
Awalnya aku ingin menjawab tidak namun terlintas wajah Arlan disertai ucapan janji suci pernikahannya beberapa tahun yang lalu, aku membencinya sekaligus mencintainya.
Jujur saja, saat ini aku bimbang harus melakukan apa dan bagaimana.
"Cincin yang bagus" celetuk suara disampingku yang membuatku menoleh.
"Arlan.." lirihku
Ia mengangguk lalu duduk disampingku tanpa dipinta, ia menghela nafas berat seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
Apakah ia sedang banyak pekerjaan? Atau ia bertengkar dengan istrinya.
Kalau bukan, lalu apa yang menganggu pikirannya sehingga wajahnya tampak kalut.
"Aku pikir kamu bohong saat itu" aku kembali menatapnya tak mengerti
"Saat mengatakan sudah tidak mencintaku lagi, maaf aku menciummu tanpa izin tapi melihatmu menggunakan cincin itu, aku sadar. Kamu sudah tidak mencintaiku lagi" jelasnya
Kamu salah Arlan, aku bahkan ingin sekali rasanya berteriak mengatakan pada dunia kalau aku masih terlalu mencintaimu. Tapi kita tidak bisa begini, Aku tidak sejahat itu hingga merusak rumah tanggamu bersama Mela.
"Tidak apa-apa" hanya itu yang mampu ku katakan.
"Tapi sebelum itu, boleh aku bertanya?"
Aku mengerutkan glabelaku, tapi juga mengangguk. Aku rasa ini adalah akhir sebelum aku benar-benar melepaskannya.
"4 tahun yang lalu. Kamu kemana? Kenapa menghindariku"
Aku tertawa sumbang mendengar itu "Arlan, tidakkah kamu ingat kamu mengirim surat perpisahan untukku? Kamu meninggalkan aku demi perempuan lain" ucapku dengan kesal kulihat ia mengerutkan dahinya, ah sekalian saja ku tumpahkan ini yang sudah sesak di dada
"Kamu penipu, Arlan. Kamu bilang kamu tidak akan pernah meninggalkanku tapi faktanya apa? Kamu menikah dengan Mela. Sadarlah, Arlan kamu sudah menikah untuk apa menemuiku lagi" semburku tanpa cela
Tapi Arlan tertawa bahkan sangat kencang, apa itu terlihat lucu untuknya?
"Astaga, Dilla." ucapnya setelah tawanya mereda.
"Otak cantikmu itu selalu saja menyimpulkan sesuatu dengan sesukamu"
Aku menyipitkan mata, jangan-jangan dia mau menipuku dengan berkata batal menikah atau apa. Jelas-jelas tempo hari yang lalu mantan bosku sekaligus kakak dari Mela menyuruhku menjemput adiknya karena suaminya tak bisa mengantarnya.
"Okay, yang pertama aku minta maaf baru kembali setelah 4 tahun" ujarnya
Ia menghela nafas, " Dila, aku sungguh mencintaimu. Mana mungkin aku meninggalkanmu demi wanita lain. Perihal Mela, ia memang menikah tapi bukan denganku melainkan dengan kakakku, Erlangga."
Eh tunggu apa maksudnya sih ini? Kenapa begitu
"Tapi isi surat itu jelas mengatakan kamu menikah dengan Mela. Bahkan aku sempat pergi ke acara itu tapi terlambat" sahutku
Ia tersenyum geli "Dilla sayang, suratnya tertukar. Pantas saja aku menunggumu di bandara tapi kamu tidak datang"
Penjelasan apa itu? Dia kira aku mudah tertipu.
"Jangan menipuku, Arlan" ketusku
Ia mengeluarkan ponselnya menampilkan foto kakaknya bersanding dengan Mela juga seorang balita sekitar umur 2 tahunan.
"Masih tidak percaya, hm? Mereka saling mencintai, karena Mela sering curhat padaku orang tua kami menjodohkan kami. Tapi itu keliru, dan pada akhirnya mereka menikah."
"Tapi..."
"Andra kan yang mengantar surat itu. Dia keliru mengirimnya, bahkan jika kamu lebih lama sedikit akan bertemu dengan Linda yang mengamuk di resepsi itu. Erlan mencintai Mela. Ia tidak pernah mencintai Linda, itu hanya pelariannya saja. Sedikit kejam, tapi begitu"
Aku memegang kepalaku yang terasa berdenyut setelah mendengar rentetan penjelasannya. Jadi ini hanya salah paham? Bagaimana bisa.. Ah rasanya aku frustasi lalu bagaimana ini.
Dan sialnya aku mengingat wanita yang saat itu turun dari taksi yang aku tumpangi kejalan pulang dari acara itu.
Tapii...
"Kenapa kamu tidak menjelaskan itu padaku, Arlan?" tanyaku seakan tak puas akan penjelasannya itu
"Apakah kamu memberiku kesempatan, Dil? Bahkan saat aku libur mengetuk rumahmu terasa sia-sia karena untuk kesekian kalinya aku takkan bisa bertemu denganmu. Aku hanya pergi untuk menempuh gelar doker seperti impian kita saat itu dan sebulan yang lalu aku baru saja kembali, melihatmu membuatku semakin frustasi"
Aku menutup wajahku tidak tahu harus bagaimana, kurasakan Arlan memelukku.
"Jika aku masih memiliki tempat di hatimu, aku mohon. Kembalilah padaku, Dil" bisiknya di telingaku.
Aku menegakkan kembali punggungku menatapnya penuh keraguan, sebelum bibirku berucap. Suara orang lain terdengar lebih dahulu
"Kembalilah padanya, Dil" aku kembali menoleh kebelakang, ada Bian yang menatapku dengan sendu.
Ah bagaimana ini?
"Tidak apa-apa. Kamu harus bahagia, Dila." ucapnya padaku, lalu ia menatap Arlan "Jaga dia baik-baik, jika tidak aku akan mengambilnya kembali"
"Aku pastikan kau tidak akan pernah bisa mengambilnya dariku" tukas Arlan cepat.
Aku tersenyum haru kemudian menghampirinya seraya memberikan cincin itu padanya yang langsung diterima "Terima kasih, Bian. Semoga kamu mendapatkan perempuan yang lebih baik dariku" ucapku tulus dibalas dengan usapan lembut dipuncak kepalaku dan senyumannya.
Lalu Bian pergi dari tempat itu menyisakan aku, Arlan dan kenangan bodoh kami tapi mataku masih menatap punggungnya.
Bian lelaki baik. Pantas saja ibuku menjodohkanku dengannya.
"Besok kita nikah saja ya?" ucap Arlan di sampingku yang langsung ku hadiahi dengan tatapan kekesalan tapi juga rindu yang teramat.
Ia meringis merasakan pukulanku di bahunya tapi detik itu ia langsung merengkuh tubuhku.
Akhirnya aku bisa merasakan nyamannya pelukannya.
Sejauh apapun kita pergi, tetap saja akan kembali kerumah.
Ya, Arlan adalah rumahku untuk pulang.
The end